ARCHIVE

Default Thumbnail


Aku sangat menikmati hari ini
Hari berikutnya selalu aku maknai
Menkmati hari ini saja untuk hidup
Yah carpe diem, begitulah

Aku meyukai hidup seperti ini
Meniadakan ketiadaan seperti mereka
Tapi sering aku sadari bahwa aku menolaknya
karena aku merasa kehadirannya, dekat denganku

Momentu mori, seiring berjalannya waktu
Menciptakan sebuah tiang pembalasan
Yang aku jauhkan justru lebih dekat
Yang aku pandang mungkin menjadi terasa ngeri

Suatu saat kau akan merengkuhmu
Lebih dekat daripada nadi
Aku tak bisa abaikan mu
Meski dalam gelap, seram dan semapai.


“Semua akan terjadi bila waktunya sudah tepat” -The last barrier-
Menjelang esok hari aku teringat tentang masa yang telah berlalu, hari yang dimana sudah terkikis samar oleh waktu. Menunggu esok hari aku rasa juga menjadi jawaban atas semua asa yang pernah aku “iyakan” ketika belum pada waktunya pada seseorang yang ku kagumi. 

Seiring dengan waktu yang terus bergulir, semua sudah usai terasa keberadaannya. Keberadaan yang pernah aku sampaikan pada seseorang, beliau yang sekarang sedang terbaring sakit dan sedikit kemungkinan masih mengingat perihal sesuatu yang beliau selalu tanya padaku di masa lalu. 

Esok hari?. Emm yah tepat ketika aku memenuhi janji yang terasa sunyi kalau dirasa sekarang karena aku merindukan beliau yang dulu selalu mengajak aku bermain dengan motor kesayangannya, sedih dirasa. Setidaknya hari esok beliau masih bisa aku temui sebelum aku benar-benar berangkat dan memakai topi yang merupakan dambaan setiap orang, ditingkat awal. 

Mengingat dan merenungkan apa yang akan aku lalui esok hari serasa menjadi jembatan masa laluku, esok hari serasa seperti sebuah lilin yang mencair dari kebekuaannya, karena sedikit demi sedikit api akan mengikis sampai pada saatnya mungkin akan padam selamanya. Itu aku dapati ketika beliau selalu bertanya padaku perihal “jang iraha wisuda teh, ke jeung aki dibaturanna”, emm sedikit membuatku sedih. Pesannya selalu aku ingat ketika beliau mungkin sudah melupakannya, tapi aku berharap itu tidak akan terjadi.

Oleh karena itu aku bersama malaikat-malaikat disekitarku mendedikasikan penuh hari esok untuk beliau yang sedang terbaring sakit, semoga apa yang aku janjikan lalu sekarang Alhamdulillah bisa aku penuhi dan aku berharap aku masih akan terus menulis tulisan yang seperti ini untuk kedua kalinya dijenjang yang berbeda. 

Esok hari biarlah menjadi pengingat masa lalu, masa yang benar-benar selalu teringat ketika aku masih berada dalam genggaman tanganmu ketika aku kecil sampai seperti sekarang, esok hari sebelum aku tepat sampai ke tujuan aku akan singgah dan bercerita tentang semua ini.

Hari raya Ied di negara indonesia pasti mengenal dengan apa yang namanya mudik. Mudik bisa diartikan sebagai berpulangnya seseorang atau sekeluarga ke tempat asalnya untuk sekedar bersilaturahim dengan saudara2 yang masih berdomisili di kampung halaman ketika hari raya lebaran. 

Koq bisa yah mudik?. Iyah bisa, karena tidak sedikit orang-orang Indonesia yang beradu nasib di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan sebagainya. Orang-orang yang beradu nasib tersebut lama kelamaan menetap disana (kota tempat dia beradu nasib) karena mungkin pekerjaan yang memang menuntut mereka dan tidak memungkinkan mereka untuk pulang pergi.

Dan biasanya ketika hari raya lebaran, serentak mereka mendapat hari libur dan tambahan gaji yang lumayan buat beli keperluan lebaran. Ditambah lagi dengan rasa rindu kembali ke kampung halaman membuat mereka ingin mudik sebelum akhirnya mereka harus kembali kepada pekerjaannya masing-masing.

Aku mungkin termasuk orang yang tersebut, orang yang suka mudik ke tempat asal dan bersilaturahim untuk menjaga keharmonisan keluarga besar. Tapi aku tidak termasuk kebanyakan orang yang suka mudik ke luar kota, karena cukup bagiku untuk mudik ke satu kampung lagi koq hhe.

Asli Bandung tepatnya di Ujungberung. Kampung asal adalah Palintang (suatu perkampungan yang masih indah dan sejuk, berada pada ketinggian ... diatas laut). Setiap tahun aku berserta keluarga besar selalu menyempatkan waktu untuk singgah ke rumah saudara yang masih ada disana. Selain itu aku juga sekalian berziarah ke makam uyut dan kakek.

Pada sesi mudik kali ini aku dilanda beberapa ingatan yang membuatku sadar bahwa aku semakin tua, tempat tersebut serasa seperti pengingat bagiku sebagai jembatan masa lalu, ketika aku masih kecil yang masih belia dan masih digendong ke dua orang tua.

Sekarang aku sudah besar dan mungkin akan berubah peran seperti yang aku ingat tentang masa lalu. Demikianlah benar bahwa dunia itu berputar, kita tidak selamanya muda, kita tidak selamanya tua dan kita tidak selamanya begini. 

Alhamdulillah, mungkin kata itu merupakan ucap syukur bahagia yang mendalam ketika mendapati seluruh keluarga masih berkumpul dan berbagi tawa dan canda. 


Dirumah yang kecil inilah aku dan keluarga besar saling berbagi cerita canda, gelak geliat yang mengundang tawa dan semuanya itu hingar bingar termaktub didalam rumah kecil ini. Aku beryukur atas perjuangan para orang tua yang gigih berjuang demi masa depan yang lebih baik, atas perjuangan merekalah aku dan semua saudara-saudaraku bisa hidup berkucupan, syukur ilallah.


Aku tidak merasa malu dengan domisili asli yang notabennya di kampung banget, menurutku malah hal itu sebaliknya. Hal tersebut menjadikan aku sangat bangga sekali karena dari kampung yang kecil ini akan menceritakan beribu kisah cerita yang indah. Dari kampung kecil inilah kami memulai hidup sampai akhirnya seperti sekarang.


Begitulah mungkin hikmah dari adanya silaturahim di hari raya ied tahun ini. Banyak hal yang harus disyukuri dan dibenahi untuk ke depannya. Karena hidup terus berjalan kedepan dan tidak pernah kebelakang, artinya biarlah hikmah ini menjadi pembelajaran kita untuk selalu menjadikan pijakan penting untuk masa depan. 

Masa depan yang sedang berlangsung sebagai harapan orang tua ataupun masa depan yang masih dan sedang dipikirkan oleh aku dan saudara-saudaraku. Karena pada saatnya nanti aku tidak ingin kisah ini usai, aku ingin kisah ini berlanjut sampai aku tua.

Bagi aku tempat ini/kampung ini mempunyai arti penting bagi hidup yang begitu pendek, dia ada ketika aku belia dan dia setia ketika aku muda atau bahkan sampai aku tua. Yang pasti ada ialah cerita yang tak pernah muda/tua karena cerita selalu abadi dalam ingatan yang membawa kita pada masa-masa tertentu pada waktu itu.

Salam sejahtera dan semoga keluarga besarku senantiasa ada dalam lindungan Allah SWT, amin.