ARCHIVE

Default Thumbnail

Busuk, cacad, keji atau apakah itu yang sejenis dengan kata-kata diatas, terlontar dengan perasaan yang kesal dan resah melihat situasi yang semakin hari semakin amblas oleh semua oknum yang berkelumit dengan kebobrokan. Seakan itu telah menjadi sarapan pagi sambil menikmat roti dan susu, aku katakan itu sudah menjadi tontonan, toh kita tidak bisa melawan mereka-kan!

Baru kemarin sinar sang surya menampakan
Dipelataran reruntuhan peperangan
Disisa puing perjuangan keras para pahlawan
Menjunjung satu tujuan kebebasan dan kemerdekaan

Suara lantang terdengar menyeringai
Merosok ke pelosok nusantara
Bergetar seluruh relung jiwa
Mendengar suara pergerakan baru

Naas, semua seakan sirna
Digerogoti para iblis
Bukan dari mereka tapi dari kita
Seperti Pepatah Bung karno sang peramal ulung

Selamat datang kehancuran
Kau datang terlalu cepat untuk negeri ini
Kau tak mau pergi seolah-olah disini surga
Selamat para iblis, inilah rumahmu dengan segudang kebablasan

Tidakkah kita ingat akan kejinya para penjajah yang tak segan memborbardir rakyat jelata? Mereka seperti monster yang haus akan kekayaan, mereka menerjang apa yang ada dan menjadi penghambat bagi mereka. Mereka menjadi penguasa yang tak berkemanusiaan, berubah menjadi pemangsa yang haus akan darah manusia. Seperti itulah yang ditulis Thomas Hobbes dalam sebuah bukunya `Leviathan`. Manusia menjadi pemangsa bagi manusia lainnya, manakala penjajah datang dengan jubah besinya, meluluh lantahkan jubah kayu. Ibu pertiwi dipukul mundur beberapa tahun lamanya. Kita belum merdeka dan masih mencari dan kebingungan dengan yang namanya kebebasan.

Hal yang sedemikian rupa diatas nampaknya masih bisa kita temukan akhir-akhir ini, banyak serigala haus darah yang menjadi pemangsa dinegri ini, menjadi lupa akan janji bahkan terlihat melupakan janji-janji mereka. Mereka haus akan kepentingannya masing-masing, mereka seperti berkelana dengan jiwa dan keinginannya masing-masing. Bila ada sesuatu yang menghalanginya mereka tak segan untuk melumat dan meludahinya, bahkan mereka tak segan untuk membinasakannya.

Ibu pertiwi menangis, meneteskan air mata bisu, menenggadah seakan lemah menghadapinya. melihat keadaan yang seburuk-buruknya, ibu pertiwi masih bersabar dan rindu terhadap relung cahaya kemenangan.

Sekarang ini, hal yang paling sering terjadi adalah rasa ketidak puasan atas apa yang telah dijanjikan para elit-elit, tidak hanya didalam lingkup kenegaraan, tetapi yang demikian telah merasuk kedalam nadi-nadi yang lain-nya. seperti contoh kekesalan para mahasiswa atas ketidak puasan yang diterima. hal itu menunjukan bahwa memang serigala haus darahpun bisa kita temui didekat dimana kita berada. yah memang begitulah manusia dan kehidupan, selalu ada perselisihan, begitu juga yang disebut dalam Leviathan. Selalu ada pertengkaran-pertengkaran didalam kehidupan sosial.

Manusia memang mempunyai persamaan dalam kesanggupan, tetapi ini berlaku pula sesamanya, yang hanya bisa selesai bila ada kekuasaan pada satu pihak dalam menghadapi yang lain. Tetapi di balik pertentangan itu manusia mempunyai keinginan untuk hidup damai dan rukun. Ini menyebabkan ia tunduk pada kekuasaan yang diakui bersama.

Mengerikan sekali dengan pernyataan diatas, Momok yang sangat menakutkan ketika kekuasaan menjadi tameng kemenangan. Mereka yang menang akan mempertahankan apa yang mereka inginkan dengan tameng kekuasaan. Apakah mereka tidak merasakan kesedihan ibu pertiwi yang menagis setiap hari, yang mendamba relung cahaya kemenangan?

Dalam Leviathan mungkin diberikan suatu solusi untuk membuat semua itu menjadi seimbang dan mungkin damai, yaitu dengan `kontrak sosial` (perjanjian bersama, perjanjian masyarakat, kontrak sosial). Dimana orang-orang menumpukan segala yang dimilikinya (kekuasaan, kekuatan sepenuhnya) untuk diberikan kepada suatu majlis tertentu yang bisa mengayomi dan membawa kepada keadilan. Dan mereka yang mengayominya bisa kita sebut sebagai Commonwealth atau Civitas dalam Leviathan. Mereka yang menerima dan menjadi tumpuan adalah pihak dimana yang mewakili mereka yang telah berjanji (kontrak sosial). Sekarang pertanyaannya, apakah hal tersebut ada di negara kita? ataukah masih banyak dari kita yang bersembunyi dibalik janji tersebut?

Bila kita melihat yang terjadi sekarang ini, barangkali aku bisa katakan yah memang ada di negara kita, akan tetapi tidak sedikit juga yang melanggarnya. Sebagai contoh saja, semua orang di Indonesia mempunyai kewajiban membayar pajak pada suatu instansi tertentu, yah mungkin untuk kepentingan negara atau apa aja. akan tetapi pemandangan yang jelas sekali terlihat sekarang ini adalah dengan `kasus mafia pajak` yang melibatkan aktor keren `Si fulus`. Dilema bagi semua orang dinegeri ini. Kesimpulannya mereka yang berkuasa tetap meluaskan invasinya dan yang tidak berkuasa akan menjadi mangsa mereka yang berkuasa.

Mungkin masih banyak hal serupa yang terjadi dinegeri ini, seperti yang dikatakan tadi, serigala haus darahpun telah menjalar kedalam nadi-nadi setiap aktivitas. Sudah pasti akan terjadi demonstrasi yang menyuarakan kekesalan dan ketidak puasan atas apa yang terjadi dinegeri ini. aku, kami dan kita akan selalu menjadi obat bagi ibu pertiwi yang sedang menangis merindu relung cahaya kemenangan.
Ilusttrasi Sunda
`Saya tidak ingin rumah saya ditemboki pada semua bagian dan jendela saya ditutup. saya ingin budaya-budaya dari semua tempat berhembus diseputar rumah saya sebebas mungkin. tetapi saya menolak untuk terbawa dan terhempas` *Mahatma Gandhie*

Pernyataan diatas seakan ingin menegaskan bahwa kebudayaan asing boleh saja berbaur dan beriringan dengan kebudayaan lokal akan tetapi hal itu tidak harus merembes terhadap dasar-dasar yang telah kita junjung dari sejak zaman nenek moyang, menolaknya tanpa harus menghindarkan dan membuka untuk saling mempelajari tanpa harus menghilangkan yang ada.

Sikap yang harus diambil ketika globalisasi terjadi adalah dengan selalu memantapkan keteguhan kita terhadap kebudayaan lokal. Perlunya suatu kesadaran sikap seperti yang dikatakan oleh Mahatma Ghandie itu sangat sulit ditanamkan mungkin karena beberapa hal yang membuat itu sulit ditanamkan, salah satunya pengaruh besar yang sering kita lihat adalah dengan adanya penyerbuan-penyerbuan globalisasi yang semakin hari semakin mempunyai caranya tersendiri untuk membias dalam kelokalan dan menetap menjadi kebudayaan baru. kita yang terbiasa dengan semuanya seolah-olah telah dibius dengan hal itu dan mungkin membiarkan arus tersebut terus menerjal mengalir bersama nadi kita dan bila hal tersebut terjadi terus menerus akan berakibat fatal untuk keberlangsungan kebudayaan lokal.

Mungkin sangat sulit bila harus menghentikan globalisasi yang sudah menjadi kebutuhan kita, akan tetapi bila merajuk pada pernyataan Ghandie, sedikit kita bisa membuka mata dan menjadikan tonggakan itu untuk menerima semuanya tanpa harus terbawa arus hegemoni luar. Bila kita terbawa bersama arus tersebut maka yang lokal kita tinggalkan dan lupakan. Sebaiknya kita harus mempunyai sikap kecintaan yang besar terhadap ruang lingkup kebudayaan lokal yang ada. jangan sampai semuanya itu hilang ditelan waktu dan lenyap dikemudian hari.

Sebagai contoh imbasnya, kita lihat kebudayaan sunda yang semakin hari semakin tenggelam, meski ada beberapa komunitas yang selalu berusaha untuk selalu menjaga kelestarian tersebut, akan tetapi bila kita sangkut pautkan lagi dengan imbas globalisasi yang datang lebih besar daripada sikap pemertahanan budaya lokal akan mendatangkan bahaya besar sebagai imbasnya kita mesti dituntut untuk jadi serba modern.

Sangat disayangkan bila hal tersebut dibiarkan tanpa ada penanganan lebih lanjut baik oleh pemerintah ataupun dari perorangannya. namun penanganan untuk ancaman globalisasi masih bisa kita antisipasi, dengan lebih dalam mempelajari kebudayaan lokal itu sendiri dan dalam hal ini adalah kebudayaan sunda, dengan memperdalam kesusastraan sunda dan kesenian-kesenian sunda mungkin akan sedikit menanamkan rasa kecintaan yang benar-benar terpatri dalam hati. karena wujud kecintaanlah yang akan membawa kita selalu mempertahankan kelokalan.

Yang perlu diperhatikan


Pidato budayawan dan pengamat budaya Ajip rosidi ketika diberi anugerah doktor clausa mungkin harus bisa dijadikan panutan oleh kita, khususnya untuk orang sunda. karena secara mengejutkan dan mencengangkan sang budayawan itu dengan lantang melantunkan retorika nya dengan menggunakan bahasa sunda (Bahasa Ibu orang sunda) sebagai pengantarnya, meskipun dihadapan para pejabat, Prof, Dr dan Lembaga lain yang kita kenal. Hal itu sengaja dilakukan oleh Ajip Rosidi seolah dia melakukannya sebagai bentuk pesan terhadap semua yang hadir diacara tersebut. Pesannya sangat sederhana namun kesederhanaan itu seringkali kita abaikan, pesannya yang antara lain adalah bahwa jangan malulah memakai bahasa sunda dimanapun itu berada. Tidak hanya Ajip rosidi saja yang berkata demikian dan mempunyai gagasan tersebut, bahkan rektor Unpad juga menyadari dan berkata “Tampaknya kalau bahasa Sunda sering ditampilkan di wilayah akademik, orang bisa semakin lancar berbahasa Sunda dan kemudian kesundaan bisa mendunia.”

Beruntunglah bila banyak orang-orang yang kita temui seperti Pak Ajip Rosidi dan Rektor Unpad, dengan kehadiran mereka akan sedikit menggugah rasa kecintaan kita terhadap kebudayaan sunda, namun realitas berbicara lain tentang hal ini, bahkan sekarang ini kita kewalahan mencari budayawan/Pecinta kebudayaan yang secemerlang mereka, tapi kita selalu berharap mungkin kelak kita akan menjadi salah satu dari calon-calon pengganti mereka.

Kecemasan ini makin menjadi dengan perkembangan-perkembangan tekhnologi, pengetahuan didunia saat ini, tentu saja melalui globalisasi tadi, kita seperti kehilangan arah, kemana kita mencari dan kemana kita mengalir. Ancaman lain dari pengaruh globalisasi adalah penyerbuan bahasa globalisasi yaitu bahasa inggris yang menjadi lingua franca didunia. Bahasa itu bagian dari kebudayaan dan kebudayaan juga bagian dari bahasa. Keduanya beriringan, berkembag sesuai hakikatnya. Bila salah satu darinya mengalami perubahan maka akan berpengaruh pada hal yang lainnya pula. karena bahasa itu berjalan beriringan dengan kebudayaan dan apabila kebudayaan yang mendominasi tersebut yang datang dari luar, apakah yang akan terjadi? apakah kita harus mengikuti kebudayaan tersebut dan menjadi bagian yang mengikis kebudayaan lokal?

Oleh karena itu, ada baiknya bila kita memulai mebudidayakan kembali kecintaan kita terhadap kebudayaan sunda, salah satu contohnya tadi, senada dengan yang disampaikan Ajip rosidi dan Prof Dadang tadi. mulailah dari sunda itu sendiri, hal tersebut bisa diikuti dengan memperbanyak menulis karya sastra sunda, carpon, inohong dan sebagainya dan jangan lupa bahwa peran pemerintah juga sangat penting sekali untuk perkembangan kebudayaan sunda khususnya dan daerah lain pada umumnya. Beberapa upayapun telah dilakukan untuk memotivasi orang-orang, sebagai contoh dengan adanya rancage sedikit membantu dan memacu para sastrawan sunda untuk berkarya melalui bahasa sunda.

Kebanyakan orang berpendapat


Beberapa kacamata dari pandangan berbedapun bermunculan ketika ditanyai bagaimana keadaan kebudayaan sunda sekarang ini. setiap orang mempunyai satu jawaban yang berbeda namun mempunyai maksud yang kurang lebih sama. Dari mereka banyak yang menyebutkan bahwa kebudayaan sunda sudah tergerogoti oleh kebudayaan asing, akibat dari globalisasi, ditambah kurang minatnya orang-orang terhadap kebudayaan sunda semakin menambah ketakutan terhadap perkembangan kebudayaan sunda dimasa yang akan datang.

Arus globalisasi lagi-lagi menjadi momok menakutkan untuk setiap kebudayaan daerah yang ada di Indonesia, bila semua itu dibiarkan mengalir dan terhendus oleh hempasan kebudayaan asing, maka kita cuma tinggal menunggu waktu saja untuk mengenang kebudayaan-kebudayaan daerah. Sekali lagi lihatlah apa yang dikatakan Mahatma Ghandie

`Saya tidak ingin rumah saya ditemboki pada semua bagian dan jendela saya ditutup. saya ingin budaya-budaya dari semua tempat berhembus diseputar rumah saya sebebas mungkin. tetapi saya menolak untuk terbawa dan terhempas` *Mahatma Gandhie*

Biarlah yang asing membaur bersama kita tanpa harus menyampingkan yang ada. Biarlah yang asing berhembus bersama kita tanpa harus membuyarkan rasa cinta besar kita terhadap kebudayaan yang ada dan jangan biarkan kebudayaan lokal kita lupakan oleh karena adanya kebudayaan asing yang menghembus.


Perjalanan yang sangat panjang dan sering kali berujung dengan kepasrahan. Selama digurun aku masih bisa bersandar pada pohon kurma yang berdiri tegak lantang ditengah teriknya matahari. Beberapa batang pohonnya serasa surga bagiku, menyejukan dan mengembalikan bugarku untuk terus menyongsong pagi. Tapi saat ini aku bukanlah digurun, aku sekarang tepat berada disamudera yang terbentang luas, seringkali aku berpikir tidak ada tepian untuk menepi bahkan hanya untuk menyandarpun aku tidak bisa. Aku kehilangan arah, aku pergi dengan sejuta kepasrahan dan keniscayaan dan aku tidak ingin mati sia-sia.

Kemana aku harus mendayuh bila tka ada arah pasti yang harus aku cari, aku tak mampu membiarkan semua ini berlayar mengikuti angin, aku tak mau terbawa arus mematikan hanya untuk satu tujuan. Lalu aku putuskan berhenti ditengah samudera, menenggadah ke atas sama saja biru menghampar dan tak ada petunjuk yang sama seperti disamudera.

Wahai langit, bila kau berujung nampakanlah bagiku
Dengan tanda dari burung, atau apapun itu
Wahai langit biru, tahukah kau
Kemana samudera ini membawaku?

Tiba-tiba, cipratan air mulai membising dan dengan sengaja membasahiku serasa itu tanda, akan tetapi setelah aku lihat mereka hanya segerombolan ikan yang lewat saja. Melihat sekelilingku terhampar birunya meluas dan tak berujung, aku mulai mengangkat tangan kembali untuk mendayuh. Serasa diam ditempat yang sama diwaktu yang sama dan untuk yang akan datang akan sama seperti ini. Inikah hidup?

Wahai laut, biarkanlah aku menepi
Diseberang sana, apakah ada bukit?
Atau sejenis hutan, atau seperti ini saja?
Wahai samudera, kau kuat dan aku yang lemah

Tak ada tujuan untuk saat ini dan mungkin aku akan mati dengan sia-sia disini, meskipun mendayuh seberapa jauh tapi yang aku dapati hanya pertanyaan kembali `seberapa jauh lagi` aku harus menepi. Matahari dengan perlahan meninggalkanku, sepertinya mereka enggan menolongku tapi tenang saja samudera masih ditemani bulan setiap malamnya dan itu sedikit mengahangatkan tubuhku.

Tubuh terasa lelah, tangan sedikit pilu karena sering mendayuh, mata membiru karena sekeliling adalah biru yang membaur. Aku terlentang dalam satu perahu kecil seukuran tubuhku, melihat kembali keatas langit dan apa yang aku dapati adalah senyuman ketika melihat bintang yang bertebaran diatas sana, ditempatkan disuatu tempat bagi mereka. Sejenak aku berpikir apakah disamudera sini juga nampak hal seperti itu? Hasil cipta yang begitu nyata dan sedikit membuat perasaan pasrahku membaik walau hanya sesaat. Dalam hati aku merenung bahwa mungkin disamudera sini banyak juga yang seperti itu, berserakan sesuai dengan apa hakikat mereka dicipta.

Tepat disebelah arah kiri saya, terdengar bunyi menggaung yang menakutkan tapi menggelitik sukma jiwa. Sekumpulan makhluk aneh yang besar hampir 100 kali lipat dari perahuku. Aku takut tapi aku penasaran, aku ingin mengikuti mereka yang hidup berdampingan bersama kawannya. Yang aku dapat adalah bahwa disamudera sini juga aku tidak sendiri, banyak hal yang masih belum aku temui untuk aku syukuri. Setidaknya dengan keheningan malam, bisa menemani malam sepiku disini.

Wahai pagi kenapa kau kembali
Membangunkan aku, mebuyarkan cerita tidurku
Wahai pagi kenapa kau terus menakuti langkahku
Membiarkanku untuk kesekian kalinya sendiri

Aku belum ingin mendayuh, aku belum ingin mencari arah lagi yang aku ingin sekarang adalah merenung karena pertemuan dengan pagi ini sama saja dengan pagi kemarin dan yang lalu malah mungkin kedepannya akan sama saja. Hidup dalam ketidak pastian yang menentu, serasa diombang-ambing oleh samudera, dibingungkan oleh hasil cipta entah siapa.

Siapakah engkau
Dimanakah engkau

Hati mulai bertanya kenapa aku berada disini, tepat ditengah kebingungan yang tak berdesis sedikitpun. Apakah tujuanku disamudera sini, bagaimana bisa aku menjalani ini dengan kebuntuan. Tanya yang begitu menyayat hati, seketika mungkin yang aku temui sekarang ternyata lebih dari hari kemarin. Aku merasa kehadiran teman-teman yang beragam, apakah ini kenyataan pagi atau apakah ini akibat aku bertanya pada engkau?

Untuk saat ini, senyumku menyambut
Beragan cipta reksa menyadarkanku
Engkau wahai yang tiada yang selain ketiadaan tapi selalu ada
Apakah ini sebuah jawaban?
Maaf, engkau aku lupakan hanya untuk sebuah kepasrahan
Seharusnya engkau selalu aku ingat dimanapun itu

Semangatku hari ini sangat menggebu, mendayuh dan membalik-balikan arah dan dengan nyanyian alam yang begitu mempesona. Aku tahu pasti ada jalan yang akan aku temukan, setalah itu tak lama dari setengah hari mendayuh aku mendapati air nampak berubah warna, kehijau-hijauan dan semakin pekat hijaunya aku terus mendayuh bahwa ada muara tepat diarah sana dan memang benar apa yang aku dapati adalah muara dibalik tebing terjal itu.

Aku sudah menebak bahwa apa yang aku lewati dengan silih bergantinya siang dan malam, aku mendapati arah hidup yang sebenarnya masih luas, dan lebih besar daripada samudera ini sendiri. Aku kembali berkata pada engkau wahai engkau, kemanakah aku? haruskah aku? bagaimana aku?

Karena aaku benar-benar merasa bahwa ada sesuatu yang terus membisingiku setiap kali aku berpikir dan setiap kali aku merenung. Untuk saat ini aku ingin bersandar pada tebing yang terjal ini, mungkin dibalik tebing ini ada sesuatu seperti yang aku temui disamudera sana. Engkau wahai engkau, aku berujar hanya padamu ketika aku kehilangan pegangan arah. Engkau aku yakini sedang berada didekatku bermain bersama dan mendayuh bersama, terima kasih engkau membuatku sadar, dengan cipta reksamu engkau aku sujudi.

Cintailah harmoni alam dengan hukum alam, yakinlah suatu keharmonisan ada pada suatu tempat yang didambakan, kedamaian alam dengan keharmonian makhluk hidupnya.

Sekilas tampak ada kengerian dan ketidak puasan atas apa yang terjadi pada stabilitas kelangsungan makhluk hidup dalam kata pengantar diatas. Kegelisahan yang sudah cukup lama dipendam namu baru sekarang dikeluarkan dituangkan kedalam tulisan. Yang akan dibicarakan didalam tulisan ini sekedar apa yang telah terjadi dan akan terjadi dan yang sedang terjadi sekarang. Dalam tulisan ini aku akan mencoba sedikit mengurai tentang ekosistem hewan predator tertinggi didaratan yaitu harimau sumatera.

Terdapat tiga subspesies harimau yang bisa kita temukan di Indonesia yakni: Harimau Jawa, Harimau Bali dan Harimau Sumatera. Dua dari spesies tersebut dikatakan sudah punah dari peradaban akibat perluasan kawasan geografi yang dilakukan manusia dan pemburuan yang meningkat dan satu spesies yang masih bisa kita lihat adalah harimau sumatera.

Keberadaan Harimau sumatera masih bisa kita temukan dikawasan sumatera di Indonesia, meski ada beberapa harimau yang hidup di penangkaran taman safari dibogor akan tetapi habitat asli mereka adalah dihutan yang ada disumatera. Hidup dialam liar memang menjadi rumah sejati para harimau, karena mereka adalah penguasa alam liar yang hidup dialam liar.

Namun seiring berjalannya waktu rumah mereka sedikit demi sedikit dikikis oleh perluasan-perluasan kawasan industri yang tidak bertanggung jawab secara hukum alam. Penebangan pohon yang semakin meningkat dan hampir meratakan hutan-hutan disumatera telah membuat harimau sedih. Mungkin kita tidak pernah bisa merasakan kesedihan hewan tersebut tapi dengan kepekaan yang besar terhadap alam dan lingkungan hidup mungkin kita akan sedikit merasakan kesedihan mereka.

Manusia seharusnya menyadari bahwa hal diatas sangat berpengaruh sekali terhadap mental yang didapat dari hewan tersebut, seharusnya hukum alam diterapkan untuk memadu harmoni dengan manusia. sekarang ini tidak ada harmoni yang bisa ditemukan disumatera khususnya ditempat-tempat yang seharusnya menjadi rumah bagi para raja hutan, korban-korban pembunuhan harimau yang meningkat sampai pada 9 orang mulai menjadi momok menakutkan warga setempat khususnya warga yang dekat dengan rumah raja tersebut.

Tidak sedikit dari korban yang mati adalah para pekerja ilegal logging yang sedang asik mengerus halaman rumah sang raja. seperti dikutip dari ian kosasih (WWF Indonesia) "Masuknya manusia ke habitat harimau menciptakan situasi krisis dan meripakan ancaman," kata Direktur WWF, Ian Kosasih. Pemerintah, tambah dia, harus tegas menghentikan pengrusakan hutan, baik oleh perorangan maupun koorporat. "Untuk melindungi hewan sekaligus membuat masyarakat aman," tambah dia.

Disisi lain memang aku tidak bisa mengenyampingkan kebutuhan hidup para penebang kayu, akan tetapi yang aku sangat sayangkan adalah pihak-pihak/orang dibalik semua itu yang tidak bertanggung jawab terhadap perusakan alam. Dalam hal ini seharusnya pemerintah harus benar-benar menangani kasus penebangan pohon ilegal dengan serius. yah lagi-lagi yang terlihat hanya bias semata. yang kaya akan tetap menjadi kaya dan yang menebang akan selalu jadi penebang dengan segala resiko.

Bila aku sebutkan bahwa yang menjadi korban disini adalah para harimau sumatera, yang telah dirampas rumah-rumahnya oleh para politisi yang tidak bertanggung jawab, oleh karena itu jangan salahkan bila harimau-harimau marah dengan keberadaan manusia, itu tadi karena manusia telah lebih jauh masuk kedalam habitat harimau sumatera.

Penderitaan harimau tidak sampai disana, sekarang ini keberlangsungan hidup harimau sumatera terancam oleh pengrusakan rumah mereka dan pemburuan terhadap mereka. Hati mengkerut tajam ingin melantangkan kesedihan namun apa daya semua itu telah terjadi.
Sudah banyak dari harimau sumatera yang berjatuhan gugur melawan manusia. Harimau mungkin mampu beradaptasi dengan iklim alam yang kejam tapi mereka tidak bisa beradaptasi dengan kekejaman manusia.

Oleh sebab itu Harimau sumatera saat ini termasuk hewan yang kritis yang hampir punah dibunuh karena keserakahan manusia. apakah kita ingin harimau sumatera mempunyai nasib sama dengan harimau bali dan jawa yang telah punah jauh sebelum harimau sumatera. Seharusnya kita berkaca pada pengalaman yang terjadi pada harimau yang telah punah, seperti yang sudah dibahas tadi bahwa pemerintah seharusnya turun langsung untuk menangani kasus ini.

Angin segar datang dari pemerhati binatang yang kita kenal dengan sebutan WWF (world wild life) karena dengan keberadaan mereka sangat membantu kehidupan harimau sumatera. Sepak terjang WWF dimulai dari membuat penakaran yang mempunyai sistem perkembang biakan, mencatat habitat yang masih ada dihutan dan memberikan pengenalan terhadap prilaku hewan tersebut terhadap warga.

Akan tetapi jaminan keselamatan harimau sumatera tetap ada dihutan itu sendiri, karena tidak adanya pengendalian yang mengkontrol hutan yang sangat luas membuat para harimau masih bisa belum dikatakan sudah terhindar dari kaki tangan manusia. buktinya satu harimau yang telah diberi pelacak GPS oleh WWF telah meninggal terkena jebakan yang dibuat oleh manusia dihutan yang tak berpenghuni.

Dengan adanya perkembang biakan pada hewan ini mungkin akan sedikit membantu ekosistem perkembangan harimau sumatera. Meski hidup dalam penangkaran yang terkurung para harimau seengganya bisa merasa lega dan terhindar oleh kekejaman manusia iblis. Para pencinta alam dan makhluk hidup berharap pemerintah memberikan solusi terhadap masalah ini, masalah yang akan selalu terus mereka hadapi untuk menjaga keberlangsungan harimau sumatera terakhir.