ARCHIVE

Default Thumbnail

Barbarossa and Sinan


Mendengar kata Yahudi mungkin dalam ruang pikiran kita terlintas bagaimana perlakuan mereka terhadap orang-orang Palestina. Banyak orang yang tidak setuju dengan tindakan mereka terhadap penduduk Palestina. Penulispun termasuk orang yang tidak setuju dengan perlakuan mereka bahkan sampai saat ini. 

Tapi meskipun begitu saya termasuk orang yang tidak menutup hati rapat-rapat tentang hal itu. Artinya sikap anti terhadap Yahudi bisa saja berubah. Misalnya dengan melihat kembali pada beberapa hal.

Sederhananya penulis selalu terbuka terhadap apapun itu yang bisa merubah cara pandang terhadap mereka. Contohnya dengan meilhat kembali sejarah. Yahudi sekarang agaknya berbeda dengan dulu. Tentu dulu kita tidak mengenal zionis, yang bergerak dengan insting agenda politiknya. Makanya ada saja cerita sejarah baik mengenai hubungan Islam dan Yahudi pada masa lalu. Contohnya ketika Hairuddin Barbarossa berteman dengan Sinan Reis, yang notabennya adalah Yahudi.

Baca juga ini: Hairuddin Barbarossa Bagian I: Sang Kakak Aruj Reis

Pertemanan Mereka


Dua orang berjanggut ini adalah ibarat sepasang dua koin yang satu sama lain selalu bersama. Mereka adalah Hairuddin Barbarossa dan Sinan Reis. Hairuddin Barbarossa merupakan salah satu pelaut besar yang pernah ditakuti kerajaan Eropa pada abad 15-an. Khususnya di wilayah Mediterenia. 

Sedangkan Sinan Reis adalah kapten atau orang kepercayaan Barbarossa. Meskipun mereka berbeda keyakinan Hairuddin Barbarossa merupakan keturunan bangsa Turk yang hidup di Lesbos sedangkan Sinan Reis merupakan orang Yahudi yang pernah tinggal di Spanyol tapi perbedaan tersebut dicairkan dengan luas lautan yang mereka kuasai bersama. 

Dalam perjalanannya Haeruddin Barbarossa dikenal juga dengan sebutan "Pria Berjanggut merah" "bajak laut" "perompak" dan sebagainya. Bagi kalangan Eropa pada saat itu mungkin dia dianggap bajak laut tapi sebenarnya apa yang dia lakukan hanya untuk membalas kematian kakaknya yang dilakukan para pelaut dari Knight of Rhodes. Ditambah pada waktu itu kerajaan Spanyol mulai menjalankan aksi "Reconquista". Bahkan kalau kita ngeuh juga representasi bajak laut dengan orang yang berjanggut merah itu selalu tayang di beberapa film Hollywood.
Hal-hal yang tak terduga rasanya sering terjadi manakala pemerintahan berada pada tampuk pemerintahan Jokowi, khususnya yang bersangkutpautan dengan keagamaan di Indonesia. Belum mereda isu yang menyatakan bahwa pemerintahan Jokowi ini pemerintahan yang anti Islam, sekarang hadir pula wacana disertakannya agama kepercayaan dalam kolom KTP dan bahkan muncul pula wacana bahwa kolom agama dalam KTP akan dikosongkan. Adanya kebijakan ini saya kira sangat merugikan Jokowi yang kemungkinan akan mengikuti kembali pemilihan Presiden pada tahun 2019 nanti. Hal ini dikarenakan kebijakan dicantumkannya agama kepercayaan dalam kolom KTP dan KK justru menimbulkan masyarakat yang kontra, yang notabennya kebanyakan dari kalangan Umat Islam.

Bagi sebagian orang, yang setuju atas kebijakan ini, mungkin berpendapat bahwa ada kemajuan semenjak pemerintahan dipegang oleh Jokowi. Bagi sebagian lain, banyak juga yang berpendapat bahwa pengosongan agama ini banyak menimbulkan masalah, salah satunya masalah identitas yang selama ini telah melekat pada negara Indonesia. Meski Indonesia bukan Negara Agama tapi masyarakat di Indonesia kebanyakan masyarakat yang beragama baik itu Islam, Kristen, Hindu atau Budha. Tak syak bila ada yang mengatakan bahwa kebijakan ini telah membawa kita kepada zaman lampau.

Secara pribadi, sebagai penulis, alangkah baiknya bila kolom agama tetap diberlakukan mengingat ini terkait identitas masyarakat banyak, toh dalam judulnya juga KARTU TANDA PENDUDUK. Kartunya ada bentuk KTP tersebut, tanda-tandanya adalah yang bersangkutan dengan pribadi yang termasuk dalam penduduk Indonesia, tentu Agama adalah salah satu tanda yang paling melekat pada masyarakat Indonesia yang beragama.

Selain itu memang ada permasalahan-permasalahan lain yang ditimbulkan dengan pengosongan kolom agama di KTP. Permasalahan tersebut menyangkut pada wilayah kehidupan masyarakat itu sendiri, seperti yang dilansir oleh ahli analis kependudukan bahwasanya:

Kemudian, untuk mengurus administrasi pernikahan maka masyarakat harus melengkapi dokumen kependudukan, seperti KTP, KK, dan sebagainya juga ditambah dengan akta pengakuan Muslim. Beberapa daerah di Indonesia yang akses untuk mendapatkan dokumen kependudukan ke kantor pelayanan publik banyak terkendala faktor geografis, infrasturktur, dan biaya, akan bertambah beban dan kesulitannya. 
Itu baru satu contoh saja. Kemudian, bagaimana dengan manajemen distribusi zakat, infak, dan sedekah bagi kaum Muslim? Kemudian, bagaimana manajemen administrasi untuk hak waris Muslim? Bagaimana agar bantuan pendidikan untuk santri dan pelajar di madrasah agar tepat sasaran dan tidak salah orang? Karena, banyak pula nama non-Muslim yang mirip dengan nama Muslim, terutama mereka yang murtad.
Kalau untuk menjawab permasalahan ini, pemerintah mengajukan kecanggihan teknologi maka memang benar bahwa kecanggihan teknologi yang bisa lebih mempermudah mendata segala sesuatu yang berhubungan dengan data kependudukan itu kadang selalu menimbulkan permasalahan. Tengok kembali beberapa kasus seperti KTP elektrik yang pada wilayah lapangannya ternyata tak sesuai dengan apa yang diinginkan.
  

Wacana Kolom Agama dan Janji Politik

Politician are same all over. They promise to build a bridge even there is no river.
Diatas semua itu, saya berharap adanya kebijakan ini tidak akan berlarut menjadi konflik yang berkepanjangan. Sebagai seorang pengamat biasa-biasa aja, saya hanya melihat ini hanya sebuah keniscayaan yang harus dijadikan pelajaran bagi siapapun kedepannya, terlebih bagi para mereka yang mendapat peran di bumi sebagai pejabat negara.

Apa yang harus dijadikan pelajaran dengan adanya wacana pengosongan kolom agama ini? Tentu hal ini berkaitan dengan dinamika kehidupan bermasayarakat di Indonesia yang plural. Kalau saja ada dari masyarakat yang plural tersebut merasa sangat terasingkan dengan adanya pihak dominan maka hal tersebut menjadi sebuah target yang cocok bagi mereka yang tengah mencari suara-suara politik. Dalam hal ini saya hanya mengira bahwa wacana pengosongan kolom agama ini merupakan janji-janji politik yang diusung oleh Jokowi dan pendukungnya (dan memang bahwa yang melakukan uji materil atas UUD yang berkaitan dengan kolom agama adalah dari pihak pendukung Jokowi). Melihat adanya keuntungan suara yang akan didapat dari mereka para penghayat kepercayaan maka politikus gesit mulai merayu, yah seperti yang diungkapan oleh Nikita Khruschev dalam kutipan diatas, ia mengatakan bahwa Politikus yah sama saja, mereka selalu berikrar janji untuk membuat sebuah jembatan, meski kenyataannya tidak ada sungai disekitarnya....alias gombal!!!

Disatu sisi dengan adanya wacana ini, agaknya menunjukan kembali kelemahan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam kata Kuntowijoyo, yang dari dulu masih saja berkutit pada kurangnya mereka dalam merangkul masyarakat yang terasingkan. Inilah kiranya pelajaran yang seharusnya menjadi renungan untuk semuanya. Lebih baik membuka dialog kembali dengan mereka yang berbeda agar permasalahan-permasalahan yang selama ini selalu diributkan agak meleleh.....
Mengenai sejarah perfilman di Indonesia, sudah banyak ditulis dalam beberapa buku. Dari awal mula Belanda memperkenalkannya pada tahun 1900 sampai perkembangannya pada periode pemerintahan Suharto atau lazim disebut juga dengan periode orde baru. Pada perpindahan zaman tersebut, film telah mengalami dinamika yang sungguh beragam. Semenjak diperkenalkan oleh Belanda, dengan film dokumenter yang bisu dan juga hanya berupa dokumenter mengenai kehidupan nyonya Belanda yang ada di Hindia Belanda saja sampai berkembang pula film yang dibuat oleh orang pribumi, film telah mengalami banyak perubahan baik secara jalan cerita atau para penggeraknya.

Yang menarik dan kiranya patut dicatat oleh kita adalah dengan adanya torehan sejarah perfilman Indonesia yang pernah dihiasi dengan film-film yang dihiasi oleh film yang mempertontonkan adegan ranjang. Padahal secara kependudukan, Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai penduduk agama Islam terbesar di Asia dan bahkan di seantero dunia.

Banyak faktor yang bisa dikatakan sebagai penyebab maraknya film adegan ranjang pada waktu itu, salah satunya yah tidak lain motif ekonomi, yakni ketika pembuatnya hanya mempunyai niat bisnis saja dalam menciptakan sebuah film. Selain itu faktor lain yang bisa dikatakan sebagai penyebab maraknya film-film adegan ranjang tersebut yakni dikucilkannya peran agama Islam yang pada waktu itu tidak mempunyai hubungan harmonis dengan pemerintahan. Hal tersebut berimbas pada beberapa kebijakan yang menyudutkan agama Islam, termasuk salah satunya kebijakan film yang berbau agama Islam.

Hikmah Al Kautsar Pada Waktu Itu


Dalam sebuah koran yang terbit pada tahun 1977, yaitu ketika film Al Kautsar pertama kali ditayangkan, diterangkan mengenai pentingnya kehadiran film-film yang berbau Islam pada waktu itu banyak dipenuhi oleh film-film adegan Sex. Dikatakan bahwa pada rentang tahun tersebut ukuran kesuksesan sebuah film itu bukan hanya ditentukan oleh aktor yang top, film adegan ranjang yang berlebihan dan disutradarai oleh sutradara terkenal, melainkan juga bisa dilihat dari penyajian yang mantap yang kiranya seperti yang telah dilakukan oleh Chaerul Umam dalam film Al Kautsar.

Agaknya penulis koran tersebut menekankan bahwa sutradara-sutradara yang hanya memikirkan bonafidenya saja tidak terlalu mempunyai penyajian yang benar-benar mantap, mereka hanya terlalu fokus pada bagaimana caranya agar menarik masa untuk menonton film ini dan tak perduli bagaimana sisi negatif yang dimunculkan akibat film tersebut.

Film Al Kautsar itu sendiri merupakan film besutan Chaerul Umam yang ditayangkan pada tahun 1977. Isi cerita dalam film ini bisa dikatakan sangat tendesius, hal ini mengenai pembaharuan dalam agama Islam yang pada waktu itu dikatakan tengah mengalami kemunduran. Kedatangan seorang Rendra ke sebuah tempat menjadi awal mula konflik antara agama Islam yang tradisionalis dengan agama Islam yang dibawa Rendra yang lebih berfaham modern.

Bagi yang berminat mengunduh koran yang diterbitkan pos kota minggu pada tahun 1977, bisa menghubungi admin atau silahkan isi komentar dibawah. alert-warning

Akhir-akhir ini publik Indonesia sedang diramaikan dengan isu-isu yang berkaitan dengan agama. Mulai dari kasus Ahok yang melecehkan surat Al-Maidah, Isu teroris, pembubaran pengajian sampai pada kasus terbaru yakni ditetapkannya agama kepercayaan dalam laman KTP. Tanpa disadari hal tersebut menumbuhkan kembali rasa solidaritas keislaman di Indonesia yang sempat tercecer. Bukti dari adanya rasa solidaritas tersebut bisa kita lihat pada aksi-aksi yang dilakukan oleh umat Islam dalam rangka menuntut Ahok untuk dipenjaranya. Banyak yang bilang bahwa adanya Ahok dengan kasusnya tersebut telah membangunkan kembali sayup-sayup keislaman di Indonesia yang lagi lunglai.

Mengetahui bahwa yang dihadapi masa umat islam itu bukan hanya Ahok melainkan juga berserta para pendukung dan konco-konco politiknya, maka lahir pulalah pejuang-pejuang yang nantinya akan berkiprah dalam ranah dunia sosial media. Sebetulnya, kalau boleh jujur, mereka ini kalah memulai dengan pasukan jasmev yang telah sadar betul kekuatan sosial media dalam ranah politik. Meraka sadar betul bahwa benar teknologi pada zaman sekarang ibarat kekuatan setelah trias politica. Singkatnya media mempunyai kekuatan yang bisa menggiring masyarakat untuk masuk dalam perangkap pencitraan yang mereka sedang tujukan.

Dengan adanya mereka yang berjuang untuk membenarkan apa yang mereka kira salah sangat terasa manakala kita berlayar pada dunia sosial media, baik blog, facebook, instagram atau twitter. Diantara mereka ada yang berperan sebagai orang yang membagikan opini-opini seseorang yang sesuai dengan jalan pikiran mereka, adapula yang menjadi orang yang menganalisis konteks yang terjadi pada satu isu. Jadi bisa dibilang saat ini tengah terjadi peperangan dunia online dalam bentuk ide-ide.

Karena isu-isu yang lahir, yang berhubungan dengan Islam, sangat kental rasanya pada era pemerintahan Jokowi sekarang, maka peperangan ide dan perang opini online ini nampaknya akan terus berlangsung sampai masa pemilihan presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2019 mendatang.