ARCHIVE

Default Thumbnail


Alhamdulillah pada kesempatan ini saya masih bisa menulis sekata dua kata didalam blog pribadi ini, bagi saya hal ini merupakan sesuatu yang harus disyukuri karena saya masih diberikan kesehatan dan kemampuan untuk melakukan aktivitas selama didunia ini. Aku bersyukur kepada Allah SWT yang masih memberikan kesehatan jiwa dan raga, karenanya aku masih bisa bernafas dan bersyukur menikmati nikmatnya hidup dalam kebahagiaan.

Khusus pada postingan kali ini, izinkanlah saya untuk menulis sebuah tulisan mengenai rasa syukur yang teramat sangat karena Gusti Allah masih mengizinkan saya untuk bertemu dengan bulan yang penuh hikmah yaitu bulan ramadhan. Bulan yang dimana kita bisa melatih perasaan emosi dan perasaan nafsu selama berpuasa, selain melatih diri dalam memanage perasaan, kita juga diberikan 

Karya sastra menurut Sumardjo dan Sumaini adalah seni bahasa, expresi pikiran dalam bahasa, inspirasi kehidupan yang dimateraikan dalam sebuah bentuk keindahan, semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang benar dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang mempesona. Mengacu pada pengertian diatas kita bisa mengerti bahwa suatu karya sastra itu adalah sebuah proses berpikir mengenai keindahan, kesucian kebenaran moral yang diexpresikan kedalam sebuah bahasa baik lisan atau tulisan.

Keberadaan dan proses itu akan senantiasa berjalan secara berirama apabila ada suatu rasa yang mempunyai peran penting yaitu rasa kecintaan kita terhadap apa yang ingin kita sampaikan pada sebuah karya sastra. Kita tidak mungkin menciptakan sebuah puisi untuk seseorang yang kita cinta apabila tidak ada perasaan cinta yang menggebu ketika


Nama saya Hani, saya seorang gadis desa yang kehidupanya tidak seperti perempuan-perempuan yang berpakaian cantik dan menawan hati orang-orang. Saya hanya seorang anak tukang nasi uduk yang kesehariannya selalu dipenuhi rasa galau memikirkan hari ini makan atau tidak namun yang pasti saya tetap seorang anak manusia yang tidak jauh berbeda dengan mereka. 

Aktivitas saya selain sebagai seorang murid yang biaya sekolahnya ditanggung oleh pemerintah, adalah menjadi seorang tukang bersih taman-taman dialun-alun kota tempatku lahir. Dengan aktivitas keseharian yang selalu diisi dengan jerih payah, saya selalu berpikir bahwa bumi senantiasa berputar. Adakalanya kita dibawah dan adakalanya juga kita diatas, tapi siapa yang mampu membuat hidup kita lebih baik dari sekarang? Adalah diri sendiri yang mampu mewujudkan impian untuk hidup yang lebih baik dimasa depan. Saya selalu termotivasi oleh kegigihan orang tua yang tegar membesarkanku sampai sekarang, karena mereka saya menjadi mengerti bagaimana menikmati hidup walau tidak seperti orang-orang yang kaya. oleh karena itu saya tidak pernah mengeluh denga keadaan hidup yang seperti ini.

Pemandangan kota, tempat dimana saya berkerja ternyata mempunyai pemandangan yang jauh berbeda dengan kehidupan diperkampungan ku yang kumuh. Disini saya tidak pernah menemukan orang yang senantiasa saling membantu satu sama lain, yang istilah lain-nya dikenal sebagai gotong royong. Orang-orang diperkotaan nampaknya hanya memikirkan sebatas bagaimana mereka bertahan hidup untuk dirinya sendiri., tapi itu masih dugaan saya sementara karena saya kebingungan melihat orang banyak berjalan namun tiada satu orang yang saling menyapa diantaranya. ah mungkin itu hanya pandangan dari kacamata saya saja, bisa saja mereka begitu karena memang begitulah kehidupan disini.

Sehabis mengerjakan tugas dialun-alun, kembalilah saya pada rumahku tercinta. Rumah saya meski tidak besar tapi rasa kehangatan berkumpul denga keluarga nampaknya tidak bisa membuatku menahan air mata yang menetas deras, hal ini menandakan bahwa aku bersyukur masih bisa makan untuk hari ini bersama keluarga bahagiaku.

Seperti biasa, hal yang selalu saya lakukan sebelum tidur saya adalah untuk merenung kejadian hari ini yang telah dilalui, satu yang membuat saya selalu penasaran adalah mengenai perasaan dari sisi kewanitaanku, pertanyaan ini muncul karena adanya rasa penasaran. 

Apakah setiap wanita yang cantik itu harus benar-benar berpakaian seperti iklah-iklan yang muncul di TV? Saya selalu merasa heran karena dengan konsep makna kecantikan yang dihadirkan iklan-iklan kosmetik di TV maka akan adapula sisi lain yang muncul, tak lain adalah kebalikan dari cantik yaitu jelek.

Saya tak hentinya untuk senantiasa berpikir kenapa ada yang kaya:miskin, cantik:jelek? apakah ada suatu pemaknaan awal, mana yang cantik dan mana yang jelek? apakah ada sejarahnya bahwa yang cantik itu harus lah seperti ini dan yang jelek adalah kebalikannya dari itu? 

Saya merasa seperti ada sesuatu yang memporsir kecenderungan tersebut sehingga ada jurang pemisah yang melekat kejam. Saya berandai dengan meniadakan penciptaan industri-industri tentang alat kecantikan, akan mampu mengurangi rasa heran saya mengenai hal cantik:jelek. karena pencitraan kecantikan yang menggebu-gebu dan secara damai dimediasasi oleh media TV sebagai perantara untuk masyarakat akan memberikan wacana yang tidak sedikit mempengaruhi cara berpikir masyarakat sebagai tujuan kosmetik itu dituju. meskipun tidak secara langsung menyebutkan bahwa kalau anda hitam maka anda tidak cantik, jika wanita itu tidak lurus rambutnya maka dia tidak cantik. 

Namun masyarakat cenderung untuk mencoba hal-hal yang baru dan tidak sedikit pula dari mereka menjadi penikmat dan  menjadi konsumer barang itu yang artinya mereka benar-benar mempercayai apa yang iklan-iklan tampilkan. 

Sungguh saya bingung dengan pemikiran saya sendiri, bingung karena tidak ada titik temu untuk menemukan jawaban yang pertanyaannya menyangkut hal seperti diatas. Ada kalanya saya mengatakan bahwa ada hidup dan ada mati, tapi bila saya pikir lagi hidup dan mati ini adalah suatu kepastian karena dalam suatu ayat Al-quran juga tersirat bahwa:

Ù„ْØ­َÙ…ْدُ ِللهِ الَّذِÙ‰ Ø£َØ­ْÙŠَانَا بَعْدَÙ…َا Ø£َÙ…َاتَÙ†َا ÙˆَØ¥ِÙ„َÙŠْÙ‡ِ النُّØ´ُورُi

Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur. "Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit"
 
Sementara untuk hal yang Cantik:jelek, saya belum pernah menemukan ayat yang seperti diatas, jadi saya mungkin berpikir bahwa kepastian yang muncul dari jelek dan cantik hanya berawal dari wacana yang berawalan dari produk-produk kecantikan atau mungkin juga ada kepentingan dibalik penciptaan produk kencatikan tersebut oleh pemilik perusahaan kosmetik. 



Sebagai seorang mantan mahasiswa S1 dengan konsentrasi Linguistik sebagai kajiannya, saya ingin mencoba berbagi sedikit ilmu kepada kalian, ilmu yang akan saya beri mungkin hanya sebagian kecil dari wahana samudera ilmu yang membahana luas. Bagi saya dengan menulis disini menjadi hal yang sangat penting karena tulisan ini tidak hanya akan bermanfaat bagi saya sendiri, melainkan pembaca blog ini mungkin akan sedikit mengenal dengan ilmu yang akan diterangkan disini. Oleh karena itu saya ingin menulis disini dengan dua tujuan yang pertama, untuk saya dan untuk kalian. Dalam catatan ini saya akan sedikit membahas mengenai definisi bahasa, tentu dengan landasan teori yang mungkin sudah anda kenal dari beberapa ilmuan linguistik.

Sebelum memulai mata kuliah, saya ingin menawarkan kepada anda untuk tidak keberatan apabila saya berkehendak memanggil anda dengan sebutan bloggiyah. Saya tidak bermaksud untuk tidak sopan dengan tidak memanggil nama anda, tapi andaikan saja aku tahu nama kalian pastinya saya sebutkan satu persatu.

Bahasa, apakah bahasa itu? Bahasa mungkin seperti

“Aku hanya selalu membiarkannya meleleh di mulutku, aku tidak pernah membiarkan seorang pun melelehkannya, hingga saat itu seseorang melelehkannya dengan paksa”.

            Namaku Gania, banyak orang bilang aku sederhana, mempunyai aura anggun seorang perempuan klasik. Begitupun dalam tenggang waktu hidupku selama 20 tahun ini, sejak aku tumbuh menjadi seorang gadis remaja; aku sangat sederhana, tidak macam-macam. Dan aku pikir kesederhanaanku berpengaruh pada seleraku terhadap sesuatu. Aku sangat suka makan ice cream, vanilla ice cream tanpa topping apapun; sangat sederhana untuk era dimana ice cream sudah bisa disajikan dalam berbagai macam rasa. Tapi begitulah aku, sangat cukup dengan merasakan sensasi manis dan dingin dimulut yang disajikan dari sekotak vanilla ice cream. Menggambarkan aku yang cenderung menghindari sesuatu yang tidak biasa aku hadapi. Tidak ingin merasakan rasa yang lain.
            Sudah sejak aku berumur 5 tahun, orang tuaku sering mengajakku datang ke kedai ice cream yang terkenal di kompleks perumahan ini. Dan ketika beranjak remaja, aku punya jadwal tersendiri untuk melahap ice cream favoritku, hampir setiap jam 5 sore aku menyempatkan datang ke kedai ice cream langgananku ini hanya untuk melelehkan dan merasakan manisnya vanilla ice cream di

Perubahan sosial dalam suatu masyarakat tidak hanya terjadi bergitu saja tanpa adanya perantara/penghubung keadaan sosial satu dengan yang lain-nya. Adanya kontak budaya barat dan timur tidak bisa terhindarkan dizaman globalisasi, hal ini akan menyebabkan terjadinya benturan-benturan yang menyebabkan masuknya pengaruh kebudayaan barat ke dalam tatanan hidup kita. Namun kenapa hanya pada pihak yang berkuasalah yang banyak mempengaruhi tatanan kehidupan kita? salah satu jawabannya mungkin terletak pada peran media yang tidak pernah lelah menggombar-gambirkan apa yang mereka yakini bisa menjadi pasar untuk keuntungannya. Saya mengamati dari pola-pola tersebut nampak ada kecenderungan 'saling mengisi' untuk memporelah hal tersebut.

Pertama mereka mengenalkan dulu konsep yang akan mereka tunjukan lalu yang kedua adalah dengan menggunakan media sebagai penyempurna pengenalan pada masyarakat yang tidak terjamah keberadaannya. Sebagai contoh mari kita menilik pada perkembangan musik barat yang telah mengalami beberapa perubahan dari dekade 80-90an. kita mungkin masih mengingat benar dengan yang namanya Nirvana, salah satu band papan atas luar negeri yang tidak pernah dilupakan sampai sekarang karena sang vokalis mempunyai citra dan pencitraan yang tinggi. (Saya juga mengidolakan dia lho)

Yang saya tangkap dari perkembangan musik barat bukanlah terjadi karena sesuai zaman akan tetapi terletak pada pasar dan kebutuhan massa. Artinya ada pihak lain dibelakang layar Nirvana yang mempunyai maksud tersendiri dengan menggunakan konsep nirvana sebagai komoditi mereka. Adanya penguasa dari pihak tertentu yang memanfaatkan nirvana untuk komoditas tertentu. Geliat mereka (orang-orang yang mengetahui pasar) pasti akan mendewakan mereka sebagai tumbal keuntungannya, oleh karena itu nama nirvana dulu menjadi band terkenal seantero dunia. Ditambah media juga mempunyai perannya tersendiri untuk mendapatkan komoditinya, peran media akan sangat menjadi sentral karena merekalah yang mengenalkan konsep nirvana dan keanehannya pada dunia secara keseluruhan, bayangkan saja kalau tidak adanya media-media pada saat itu, mungkin di negeri kita masih mendegarkan lagu lawas seperti koes plus.

Hal diatas merupakan sebuah contoh bagaimana penguasa menjalankan ideologinya dan mengorbankan barang yang menjadi komoditinya. Kembali pada perubahan sosial yang menjadi fokus penting catatan singkat ini, saya harus tekankan bahwa yang menjadi inti permasalahan dari perubahan sosial adalah benturan budaya satu dengan budaya lain, akan tetapi sekarang ini hanya budaya dominan lah yang mempunyai peran nyata untuk mempengaruhi budaya lain-nya. Kita tahu globalisasi sekarang ini semakin merajalela saja, perkembangan tekhnologi dan media yang meningkat sangat berperan penting dalam suksesi kontak budaya antara satu dan yang lainnya. dalam hal ini baratlah yang memegang kendali arti penting globalisasi. Contoh kecil saya paparkan dengan semakin banyaknya istilah-istilah bahasa inggris yang masuk ke dalam bahasa kita, begitu pula dengan budaya yang dikenalkan oleh barat. Bayangkan kalau tidak ada kontak budaya dengan barat mungkin kita tidak akan melihat wanita-wanita yang mengenakan celana jeans pendek sekali, pria-pria yang memakai anting, berambut cepak dan menggunakan lem disamping jalan?

Pertanyaan yang harus dijawabkah hal tersebut, ia tentu harus dijawab. karena kalau hal tersebut dibiarkan begitu saja mungkin budaya atau kehidupan sosial yang ada diIndonesia mungkin bisa digantikan perannya oleh masuknya budaya-budaya baru yang dikenalkan oleh orang barat. kalau begitu memang betul wacana yang saya dapatkan bahwa globalisasi identik dengan pluralisme dalam segala hal. 

Bersambung.


Embun pagi seakan selalu menjadi teman setia ketika hendak membuka mata dan menjalani hidup lalu menutup mata kembali untuk menyambut pagi. Aku yang terlahir sebagai seorang musisi jalanan selalu bersyukur atas anugrah yang selalu berlimpah ruah. Ia memang begitulah seharusnya hakikat manusia ketika terlahir ke bumi, harus bisa mensyukuri apa yang telah diberikan-nya, meskipun sering kali manusia merasa frustasi dengan peran yang diberikan tuhan ke dunia dan sering merasa tidak puas dengan apa yang dia lihat ketika melihat orang-orang lain terlahir sebagai seorang yang lebih baik dari dirinya sendiri.

Ketika matahari mulai menyongsong pagi, teranglah cahaya dan menenggelamkan serpihan-serpihan bulan sisa malam tadi, inilah saatnya aku bergegas melangkah demi selangkah untuk menjalani rutinitas keseharianku sebagai penyanyi jalanan. Aku mungkin adalah seorang manusia yang paling beruntung didunia ini, tak ada orang lain yang seberuntung diriku. Itulah kata-kata yang selalu aku tanamkan pada diri sendiri ketika menghadapi hidup yang penuh dengan misteri. Aku tidak mau suatu hari misteri itu menjadi penguasa dalam diriku, aku tidak ingin ke-misterian itu membuatku menjadi gelap pandangan akan sekitar. Oleh karena itulah aku senantiasa memunajatkan doa pada Tuhan untuk selalu diberi cahaya terang kehidupan.

Teman yang pertama aku lihat ketika bangun adalah gitar kecil berwarna coklat yang sudah lusung dipenuhi stiker-stiker OI, Slank dan stiker Punk. Tidak banyak orang yang tahu bahwa aku dan gitar itu sudah seperti orang berpacaran. Karena kita selalu saling mengisi ketika sepi menyeringai dan saling memberi ketika kita saling membutuhkan. Sementara itu aku juga biasanya selalu menyempatkan sedikit waktu untuk menulis beberapa puisi dalam buku kecil disamping kasur tua itu sebelum aku hendak mencari uang.

`Aku sedang tidak bermimpi, Sentuh saja apa yang ku lihat, masih terasa dan nampak seperti kemarin namun hanya saja hati yang tidak nampak seperti kemarin, terbangun dan lebih gusar untuk lebih baik dari kemarin, aku biarkan gemuruh angin membuka mata, tanpa menutupi, takan aku biarkan anugerah indah terdampar ke dunia ini karena kita hidup diantara sabda-sabdanya yang menjanjikan.`

Aku pertama kali menjadi seorang penyanyi jalanan/pengamen ketika aku masih umur 7 tahun, bersama kawan-kawan yang lain aku telah melewati hari-hari yang tidak sebentar hidup dijalanan. Aku mempunyai rasa tanggung

Team Genjring adalah sebuah nama yang mempunyai latar belakang cerita yang panjang dan menarik, didalam team tersebut terjalin satu rasa kekeluargaan yang erat dan dibumbui satu perjuangan yaitu mengakhiri perkuliahan di Universitas Islam Negeri-Bandung. Awal terbentuknya team genjring diprakasai oleh perkumpulan mahasiswa dari berbagai fakultas dan orang-orang yang bersangkutan (dalam arti masih ada kekerabatan dengan satu anggota team genjring), ditambah lagi dengan penamaan team yang mempunyai arti satu kesatuan dalam satu olah raga yang menjadi favorit Team Genjring yaitu Futsal.

Dalam karirnya Team Genjring telah mengikuti banyak kejuaraan-kejuaraan Futsal baik itu nasional, internasional, dalam negeri bahkan luar kampung. Hal itulah yang membuat Team Genjring menjadi sosok team yang ditakuti seantero Bandung. Team Genjring dalam perkembangannya boleh dibilang tidak terlalu mengalami stagnasi, karena setiap tahun akan ada anggota baru yang masuk menjadi Team. Kalau dulu Team Genjring hanya dari kalangan mahasiswa angkatan 2006 namun sekarang telah merambah pada angkatan selanjutnya, dan hal itu memang menjadi harapan bagi aristokrat Team Genjring. Yang tak lain hal demikian bisa menjadi pengkaderan yang akan meneruskn cita-cita Team Genjring yaitu mendapatkan trofi piala Permai.

Saya sendiri selaku anggota dari Team Genjring, ingin selalu
Indonesia merupakan Negara yang besar, Negara yang terdiri dari beberapa kepulauan yang berjajar dari sabang sampai merauke, hal itulah yang membuat Indonesia dikenal juga dengan sebutan Negara seribu pulau. Selain dengan kekayaan alam yang luar biasa indahnya Negara Indonesia juga mempunyai beragam budaya yang masih terjaga sampai sekarang kelestariannya. Kita yang merupakan pewaris dari warisan negeri ini harus senantiasa untuk membantu melestarikan dan mengenalkan keindahan Indonesia. Salah satunya mungkin dengan mengenalkan keunikan atau keindahan yang ada didaerah masing-masing. Dan salah satu keindahan yang akan saya tuliskan disini adalah salah satu tempat yang menghiasi Negara kita di perairan selatan Garut yaitu Pantai Santolo.


Pantai Santolo merupakan pantai yang terletak di selatan Garut kota, tepatnya di pameumpeuk, dengan lokasinya yang lumayan jauh, perjalanan ke sana memakan waktu 4 jam dengan menggunakan kendaraan roda dua alias motor. Selama dalam perjalanan kita tak usah khawatir akan kondisi perjalanan karena kita akan disuguhkan beberapa keindahan alam lain-nya seperti perkebunan teh, gunung yang hijau, bukit yang berjajar dan angin yang sepoi-sepoi akan membuat perjalan anda semakin mengasyikan, tapi kita harus hati-hati jangan sampai mengantuk selama dalam perjalanan karena jurang akan senantiasa menantimu dikedua samping jalan. Oleh karena itu kalau memang diri kita merasa kelelahan dan merasa ngantuk maka berhentilah sebentar untuk istirahat.

Keindahan Pantai Santolo dengan pasir putihnya yang bersih dan alami membuat mata tak bisa berpaling dan bertasbih akan hasil cipta-Nya. Betapa indahnya dunia ini dengan hamparan biru laut dibawah biru langit, spontan ingin rasanya tinggal beberapa lamanya disini. Untuk lebih memantapkan suasana, disana juga disediakan penginapan yang sangat cocok untuk menghabiskan waktu dimalam hari, lumayan loh menghabiskan malam dengan iringan dan desiran ombak kecil berserta bulan yang terlihat jelas oleh kedua mata. Hal tersebut sangat memanjakan diri kita untuk menghabiskan malam hari di Pantai Santolo. Biaya penginapan disana masih terhitung tidak mahal, cukup dengan 40-50 ribu perhari untuk penginapan yang berada disamping pantai dan 100 ribu perhari untuk penginapan yang besar dan lumayan jauh dari pantai.


Mengawali pagi di Pantai Santolo tidak akan terlepas dari
Gramsci - Zakiiaydia

Rasanya dunia terasa tidak seimbang pada sebagian pihak tertentu yang merasa diabaikan dan terabaikan atau bahkan dilupakan. Mereka yang terlupakan adalah mereka yang tidak berdaya melawan kekuatan menakutkan yang berkuasa, seperti kita ketahui yang berkuasa mampu melakukan sesuatu demi melancarkan ideologi mereka. 

Meskipun seringkali yang dikehendaki mereka memunculkan ketidakseimbangan di mata rakyat yang menjadi abdinya, akan tetapi mereka sama sekali tidak memperdulikan ocehan-ocehan kecil itu. Bahkan untuk mengaburkannya mereka menjadikan kejujuran sebagai topeng kebohongan dibaliknya.

Hal yang seperti itulah yang sering saya dapati ketika mencermati pemberitaan media-media saat ini, dimana yang berkuasa sangatlah enggan bergeming dengan keadaan. Dari hal yang terkecil seperti pengaturan skor yang pernah menjadi pemberitaan di liga Italia sampai pada hal terbesar semisal pengaturan dalam sidang atau pengaturan dalam bidang hukum. 

Sebenarnya masih banyak contoh yang bisa disampaikan disini namun substansi pentingnya adalah ada yang berkuasa dan ada yang tersisih oleh kekuasaan (elit) itu, dalam bahasa lain adalah yang miskin/marjinal.

Antonio Gramsci: Subaltern


Untuk membicarakan hal diatas mungkin tidak bisa terlepas dari salah seorang pemikir revolusioner Italia Antonio Gramsci yang dalam bukunya mengenalkan istilah subaltern yang menjadi pembicaraan penting pada abadnya. Gramsci sudah merasa riskan atas pemerintahan yang ada pada saat itu (sama halnya dengan saya yang merasa ngeri melihat yang terjadi dipemrintahan tercinta ini). Pada saat fasisme merajalela yang membunuh lawan-lawan elit mereka dengan tanpa kompromi Gramsci muncul sebagai sosok pro terhadap buruh yang dirasanya tidak mendapatkan keadilan yang bersahaja dan tidak sejahtera. Namun dengan adanya Gramsci ternyata menjadi momok yang menakutkan bagi pemerintahan pada waktu itu, sehingga samalah apa yang terjadi sekarang ini (orang-orang yang bersuara benar mengalami nasib yang sama) dengan yang di alami Gramsci. Dia ternyata dianggap meracuni pikiran orang lain yang akan menimbulkan prahara, oleh karena itulah ia dipenjarakan karena beberapa alasan yang perlu dipertanyakan.

Perlakuan seperti ini mengingatkan saya pada pemikir islam ibnu Taimiyah yang santer menggelorakan dakwah islam tapi akhirnya dianggap pemberontak oleh pemerintah, alhasil beliau di penjara dan akhirnya wafat. Tapi ada kesamaan diantara Ibnu Taimiyah dan Antonio Gramsci, mereka keduanya sama-sama tidak berhenti berjuang untuk tujuan yang hendak dicapai walau berada dibalik jeruji.

Kembali lagi pada Gramsci. Dibalik jeruji itu lahirlah sebuah notes/kumpulan catatan Gramsci yang kesemuanya berbicara tentang hegemoni kekuasaan yang berkuasa dan kemalangan yang tidak berkuasa yang tak kuasa melakukan apapun. 

Hegemoni itu sendiri adalah tindakan politik yang didominasi oleh elit-elit pemerintah atas kaum marjinal yang tidak berkuasa, dengan dibingkai oleh intelektual dan moral yang ditawarkan. Artinya para elit itu memanipulasi kaum marjinal dengan sikap soft oppression yang artinya kalau dalam bahasa sunda 'dipepende bari teu dicaritakeun nanaon, terus weh memepende nitah sare jeung tonk hudang-hudang' atau dalam bahasa akademisnya Hegemoni adalah bentuk soft oppression yang membuat orang tertindas tidak sadar sedang ditindas, malah menerima penindasan tersebut sebagai hal yang wajar.

Yang santer dibicarakan oleh Gramsci pada saat itu mungkin terjadi dalam lingkup pemerintahan saja tapi dalam perkembangannya hegemoni tersebut menyebar luas pada hirarki-hirarki lain-nya. Singkatnya dimana ada hirarki, di situ kuasa hegemoni potensial untuk timbul. Teori Hegemoni menjadi alat yang berguna untuk memahami dan membedah budaya serta prilaku organisasi dalam beragam bentuk dan tingkatannya. Oleh karena itu sampai saat ini pemikiran-pemikiran Gramsci masih tetap relevan sehingga sering diperbincangkan dan menjadi referensi dalam kajian-kajian politik, budaya, dan sosial kontemporer.

Didalam pembahasan ini saya hanya terbesut oleh suara rakyat yang dari raut wajahnya terlihat muka berontak untuk mencari keadilan, artinya saya menulis ini berdasarkan suara-suara rakyat yang muncul akibat ketidak seimbangan keadilan yang mereka dapatkan. Tidak sedikit yang saya temukan perkataan seperti “Saya Cuma rakyat kecil aja toh mas, Kita engga bisa ngelakuin apa-apa wong saya orang kecil yang tidak bisa apa-apa”. Dalam berbagai kasus mungkin kita bisa dapatkan hal yang seperti itu. Saya tidak menjelaskan sedetail mengenai berita tersebut karena substansinya memang sudah ada melekat dilingkungan kita yaitu yang berkuasa (Elite) dan tidak berkuasa, marjinal (Proletar). Kalau ingin lebih jauh melihat contoh mungkin bisa kita temui di berita-berita.

Ada satu suara yang hendak ingin disampaikan kaum marjinal terhadap penguasa (elite) akan tetapi mereka merasakan bahwa nampaknya suara kaum marjinal tidak akan pernah sampai pada hati mereka (elit), suara mereka hanya didengar oleh telinga lalu dibuang begitu saja ditelinga yang lain. Oleh karena itu dalam perkembangan pemikirannya, teori Gramsci dipakai oleh Gayathri Spivak dalam karya tulisannya yang monumental yang berjudul can subaltern speak?

Inti dari pemikiran Spivak mungkin seperti ini: bahwa harus adanya satu golongan intelektual yang bisa menjembatani suara-suara kaum marjinal kepada kaum elit. Definisi elit disini adalah “kelompok-kelompok dominan, baik pribumi maupun asing”. Yang asing adalah pejabat-pejabat Inggris dan para pemilik industri, pedagang, pemilik perkebunan, tuan tanah, dan misionaris. 

Sedangkan yang dimaksud oleh marjinal adalah sebaliknya. Seorang intelektual menurut Spivak haruslah disertai ”pesimisme intelektual dan optimisme kemauan”, skeptisifisme filosofis alam memulihkan keagenan kelompok-kelompok subaltern yang disertai sebuah komitmen politis untuk menunjukkan posisi mereka yang terpinggirkan. Tanpa ada interfensi dari kaum elit yang bisa mempengaruhi kaum intelek itu, karena yang ditemukan Spivak adalah kaum intelek tersebut juga telah diracuni oleh penguasa, sebab itulah dia masih mempertanyakan apakah subaltern dapat bergeming?

Kalau yang saya rasakan sekarang ini mungkin teori hegemoni Elit dan Marjinal masih bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Adanya suara-suara rakyat yang memohon keadilan masih bisa kita dengarkan dan temukan, hal ini tak lain adalah karena mereka mencari keadilan. Inti dari permasalahan diantara elit dan marjinal adalah hilangnya ruh keadilan yang bisa mengharmonikan keduanya tersebut. Bila ada timbangan air yang tidak sama maka akan berat sebelah, tidak begitu kalau keduanya mempunyai porsi yang sama, maka timbangan tersebut akan seimbang. Akhirnya keadilan lah yang harus dicari oleh kita sekarang ini, karena teori yang dikeluarkan mereka para pemikir hegemoni masih tidak bisa mencairkan permasalahan posisi biner diantara Elit dan Marjinal.

Bagaimana keadilan harus dicari bila masih ada sekumpulan orang-orang yang berbuat semena-mena terhadap sesama. Banyak sekali hal-hal yang harus kita gali dan cari solusinya, agar kita semua bisa menciptakan suasana yang harmoni dan berseri. Siapa yang mau melihat keadaan pemerintah yang carut marut dikoyak oleh beberapa permasalahan yang mendera, dari korupsi, manipulasi sidang, illegal logging yang merajalela, yang baik dinilai buruk, yang kaya tambah kaya dan yang miskin terus tersudutkan? Siapa yang mau kita terus hidup dalam keadaan yang seperti itu? Dimanakah keadilan bermuara? Bila hal itu terjadi mungkin kita hanya menunggu waktu untuk hancur.

Oleh karena itu berlakulah adil terhadap sesama, baik yang berkuasa dan yang tidak berkuasa harus bisa selaras dalam sejahtera. Jangan ada suara bising ketidakpuasan akibat ketidak adilan, yang notabennya datang dari sikap arogan, sombong manusia. Bukanlah Allah berfirman dalam Al-quran: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pengajaran".( QS An-Nahl{16}: 90)

Dr. Hamzah Yakub membagi keadilan-keadilan menjadi dua bagian:
  • Adil yang berhubungan dengan perseorangan dan adil yang berhubungan dengan kemasyarakatan. Adil perseorangan adalah tindakan memihak kepada yang mempunyai hak, bila seseorang mengambil haknya tanpa melewati batas, atau memberikan hak orang lain tanpa menguranginya itulah yang dinamakan tidak adil.
  • Adil dalam segi kemasyarakatan dan pemerintahan misalnya tindakan hakim yang menghukum orang-orang jahat atau orang-orang yang bersengketa sepanjang neraca keadilan. Jika hakim menegakan neraca keadilanya dengan lurus dikatakanlah dia hakim yang adil dan jika dia berat sebelah maka dipandanglah dia zalim. Pemerintah dipandang adil jika dia mengusahakan kemakmuran rakyat secara merata, baik di kota-kota maupun di desa-desa.
Sepertinya kita sekarang tengah merindukan hal yang demikian, bayangkan bila kita hidup dalam adil, damai, sejahtera dan harmoni. Maka tidak aka nada suara-suara fals yang bisa membuat nada kehidupan menjadi tidak selaras. Benarkan lah hal tersebut bila kita ingin bernari dan bernyanyi dalam kehidupan, dengan begitu kita bisa bernyanyi dengan gitar yang tidak fals.

 * Berbagai sumber.
Gambar diunduh di http://serendip.brynmawr.edu/exchange/courses/femstudies/f08/archive/19