ARCHIVE

Default Thumbnail


Sekarang,
Banyak rakyat mendera
Ulah dari penguasa yang tak jera
Rakyatpun kuat kalau mereka tahu
Meski sering ketidak adilan menimpa

Sekarang,
Kita bukanlah negeri yang terjajah
Tapi banyak dari kita yang terjajah
Kita bukanlah negeri yang menderita
Tapi banyak dari kita yang menderita

Kita bukan pula negeri yang miskin
Torehlah sendiri pada pulau yang berjajar, laut yang menghampar
Sang Pencipta memberi kita kekayaan
Tapi kita sangat bodoh mensyukuri

Kita juga bukanlah negeri yang lemah
Karena kita tahu, merdekalah bukti kekuatan kita
Yang telah membenamkam kelam menjadi terang
Sinar surya harapan menjadi terbuka

Namun sekarang,
Seolah semua itu hanya dongeng, meninabobokan
Banyak penguasa yang semena-mena
Seenak’e dewe berkehendak buas:
Korupsi, kolusi, kemewahan, kemegahan.

Cukup sudahlah penjajah pergi
Menorehkan perih menyayat negeri
Cukup sudahlah engkau sadari
Betapa perjuangan para pahlawan membuat penjajah ngacir.

Kehidupan di alam buana tak seabadi yang kau kira, ia tak seindah yang engkau pandang, ia tak sekemilau dari yang engkau duga. Perihal mata yang tak pernah enggan membuka romansa hubungan suci dengan pencipta, mencipta suasana dangkal yang hadir pada kedua bola mata yang tak pernah sampai melihatnya - Muhammad Zaki Al-Aziz -

Who is the real?
Aku hidup di zaman penjajahan. Kala itu tidak ada kekerasan, karena segala kekerasan yang sekecil apapun itu akan dianggap radikal. Mau melawan para penjajah pun tidak ada yang mendukung karena banyaknya pendapat yang mengatakan "mereka juga manusia, butuh hidup, butuh makan -meski dari keringat yang terjajah dibumi yang terjajah-.

Penjajah selalu bilang: kita juga berbuat baik kepada kalian -yang terjajah- kami memberi kamu makan dengan cara berkerja pada kami. Kami adalah orang yang selalu berbuat baik kepada sesama manusia, oleh karena itu janganlah memberontak kepada kami, dan janganlah katakan kami kafir. Karena kami berbuat baik kepadamu, dan kamu masih bisa hidup sampai sekarang !!

Para penjajah pintar sekali untuk selalu menyebarkan jargon-jargon itu. Sehingga menjalarlah semua kepada rakyat -melalui jalan para titisan pribumi-. Maka tiadalah pemberontakan yang notabennya selalu menimbulkan kekerasan, saling membunuh-karena dianggapnya radikal/teroris/tak toleran sesama manusia. Yang terjadi sedikit demi sedikit rakyat sangat baik sama penjajah, dan tanpa perlawanan dijajah terus deh!!!
So many things
  • Ishadat: "Langka, kau tahu siapakah yang pengecut itu?"
  • Langka: "Tidak tahu"
  • Ishadat: "Pengecut itu adalah mereka yang berani memakai tameng ketika yang diserang menyerang balik"
  • Langka: "Tameng yang dimaksud apa wahai ishadat?"
  • Ishadat: "Helm canggih, tank canggih, senjata canggih, tentara canggih, anti peluru canggih"
  • Langka: "Apakah mereka sedang berperang dengan lawan yang seimbang"
  • Ishadat: "Ia seimbang!! Kamu harus tahu itu. Mereka memakai peralatan yang canggih itu karena takut. Takut melawan orang-orang yang bersenjatakan batu dan senjata seadannya. Coba kalau mereka tidak memakai peralatan canggih, mungkin akan kocar-kacir.
  • Langka: "Dimanakah itu Ishadat?"
  • Ishadat: "Yang pasti bukan disini"
Which way?
  • Langka: "Hey Ishadat, Tolong ceritakan padaku, kenapa engkau bisa tersesat dirimba kota?"
  • Ishadat: "Aku tersesat ketika hendak pulang ke hutan rimba, Aku berjalan baru kemarin, -meski itu masa lalu- aku masih ingat jejak-jejak yang aku tinggalkan kemarin, namun aku tidak mau menyentuhnya kembali, aku tidak tahu kenapa."
  • Langka: "Lantas kenapa engkau menjadi seperti orang yang lupa? Sedangkan engkau tahu bahwa hidupmu yang sekarang ada dari keberangkatan yang kemarin- "
  • Ishadat: "Sampurasun kang Langka, Aku lupa bukan karena jejak-jejak itu hilang -sekalipun hilang, pastilah ada suatu yang menuntunku-. Namun rimba kota banyaklah yang berkilau -dikanan dan dikiri-, hingga ketika setiap mata melirik, maka hatipun tertarik, dilihatnya suatu kenikmatan tiada tara, setiap itu pula aku mulai enggan untuk melangkah kembali kepada rimba hutan."
  • Langka: "Lalu bagaimanakah engkau pada akhirnya nanti?"
  • Ishadat: "Aku Tidak tahu, yang aku inginkan sekarang adalah menikmati masa muda dirimba kota, bersama penikmat dunia."
  • Langka ngahuleung dan kembali pergi bersama rakitnya...
The Lost Island
Perbincangan mengenai benua yang hilang – benua Atlantis- seakan terus menerus menelurkan beberapa pendapat yang berbeda. Perbedaan pendapat mengenai keberadaan Atlantis tersebut barangkali berangkat dari ketidakjelasan perbincangan plato mengenati letak dan dimana benua Atlantis itu berada dengan beberapa muridnya meskipun ada beberapa kata kunci. Hal ini pada akhirnya menimbulkan perbedaan pendapat dari para sejarawan  tentang keberadaan benua Atlantis. Sehingga tidak salah bila mereka mengatakan bahwa atlantis itu bisa dimana saja. -it could be anywhere-

Kita harus benar-benar menghargai perbedaan pendapat dari sejarawan yang mengatakan demikian, meskipun kita masih belum merasa benar-benar setuju dengan pendapat mereka. Kita harus menghormati cara kerja ilmuan yang mencari kebenaran berdasarkan fakta-fakta atau sumber sejarah yang pasti. Karena para sejarawan yang mengatakan bahwa atlantis itu bisa dimana saja tidak hanya menyimpulkannya begitu saja, melainkan mereka berkata dengan adanya alasan yang bisa dipertahankan.

Para ilmuwan tersebut adalah orang-orang yang benar-benar mencari fakta/bukti historis dengan secara detail, mereka mencari korelasi antara isi dari dialog Plato yang dihubungkan dengan keadaan alam dan sisa-sisa bangunan kuno yang menurut mereka mempunyai hubungan khusus dengan benua Atlantis.

Meskipun para ilmuwan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tapi pada akhirnya kerja keras mereka membuahkan penemuan-penemuan yang baru mengenai Atlantis. Lalu apakah temuan mereka terhadap keberadaan benua atlantis itu benar-benar telah mencapai kesepakatan bersama –para ahli sejarah-?

Kenyataanya hal itu belum benar-benar menjadi sebuah kesepakatan mutlak. Disinilah kita harus memahami cara kerja para ilmuwan dalam mencari dan mengolah data-data yang pada akhirnya akan dijadikan sebuah kesimpulan. Begitu juga kita harus memahami bagaimana mereka satu sama lain saling menyangkal pendapat-pendapat mengenai atlantis.

Atlantis –Sebuah Benua Yang Hilang-

Mitos Atlantis muncul ketika mahaguru Socrates berdialog dengan ketiga muridnya; Timaeus, Critias dan Hermocrates. Critias menuturkan kepada Socartes di hadapan Timaeus dan Hermocrates cerita tentang sebuah negeri dengan peradaban tinggi yang kemudian ditenggelamkan oleh Dewa Zeus karena penduduknya yang dianggap pendosa. Critias mengaku ceritanya adalah true story, sebagai pantun turun temurun dari kakek buyut Critias sendiri yang juga bernama Critias.

Critias, si kakek buyut, mengetahui tentang Atlantis dari seorang Yunani bernama Solon. Solon sendiri dikuliahi tentang Atlantis oleh seorang pendeta Mesir, ketika ia mengunjungi Kota Sais di delta Sungai Nil. Bayangkan cerita lisan turun temurun yang mungkin banyak terjadi distorsi ketika Critias, si cicit, menceritakan kembali kepada Socrates, sebelum ditulis oleh Plato. (melalui tulisan Budi Brahmantyo ”PR” 7 Oktober 2006)

Sudah barang tentu bahwa sumber penting yang pertama bagi para ilmuwan untuk memulai penelitiannya adalah teks dialog tersebut. Sumber itu merupakan bekal pertama para ilmuwan untuk meneliti kebenaran keberadaan benua yang hilang. Para ilmuwan berpendapat bahwa meskipun itu hanya sebuah mitos, yang disampaikan secara turun temurun- tapi dalam mitos tersebut pasti terdapat sebuah sejarah –meskipun sedikit- yang berhubungan dengan mitos tersebut.

Beberapa Penemuan Tentang Atlantis (Mesir-Maya-Akrotiri)

Berangkat dari sana para ilmuwan mulai mencari bukti-bukti sumber data mengenai keberadaan benua atlantis. Beberapa ilmuan ada yang berkeyakinan bahwa benua atlantis itu berada di Meksiko –Peradaban Maya- karena disana ditemukan beberapa bukti-bukti yang berhubungan dengan atlantis. Salah satunya adalah adanya beberapa patung relief yang menyerupai gajah –tanda-tanda dari peradaban atlantis- tepat didepat monumen piramida. –George Erikson-

Namun tidak lama setelah George Erikson mengemukakan pendapatnya mengenai Atlantis di maya, ada beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan pendapat tersebut. Menurut mereka –ilmuwan yang tidak setuju- patung yang diyakini Erikson sebagai bukti keberadaan sejarah atlantis hanyalah seekor burung atau seekor musang.

Ada juga ilmuan -William Henry- yang mengatakan bahwa Atlantis itu mempunyai hubungan erat dengan ornamen-ornamen di Mesir. Ia mempunyai pendapat bahwa piramida-piramida dan patung-patung besar yang ada di Mesir dibangun dengan bantuan orang-orang Atlantis dan mungkin dengan bantuan ufo.

Mungkin kita akan berpikir demikian kalau kita meyakini bahwa orang-orang Atlantis pada waktu itu telah mencapai peradaban yang tinggi dan mungkin tekhnologi pun sudah dikenal baik pada waktu itu. Hal ini terbukti dengan adanya relief-relief yang serupa dengan kendaraan yang sekarang kita kenal dengan helikopter, kapal selam, dan bahkan ada gambar yang Nampak seperti ufo.

Ufo relief

Namun para ilmuwan lain nampaknya mempunyai pendapat berbeda dengan yang dikemukakan oleh William Henry. Para ilmuwan yang meragukan bahwa relief-relief yang menyerupai kapal selam, helikopter dan ufo tersebut berpendapat tidak benar adanya. Mereka berpendapat bahwa relief yang diungkapkan peneliti di Mesir itu bukanlah kapal selam, helikopter dan bahkan ufo. Mereka meyakini bahwa ada pengikisan dari gambar asli –yang sudah berumur beribu tahun itu- dengan gambar yang ada sekarang. 

Begitu juga seiring dengan peniliti mesir diatas, nampaknya ada yang mempunyai pemikiran yang bertolak belakang mengenai keberadaan orang atlantis di mesir. Ilmuwan yang mempertanyakan ulang pendapat diatas adalah Profesor Salima Ikram. Dia tidak setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa patung dan piramida yang ada dimesir dikaitkan dengan alien, ufo dan orang-orang atlantis. Dia lebih lanjut menambahkan bahwa bila memang benar adanya bantuan dari orang-orang atlantis maka seharusnya dimesir juga ditemukan peninggalan-peninggalan yang berhubungan dengan orang atlantis semisal perahu atau kapal.

Ancient of Minoan
Sementara disisi lain ada ilmuwan yang meyakini bahwa letak benua atlantis itu beralih ke Santorini-Minoan-Akritiri. Didalam penjelasan Plato –The Geat Philoshoper- benua Atlantis itu besarnya melebihi gabungan antara benua Asia dan libia. Dihuni oleh para intelektual yang mempuni dan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, namun keadaan tersebut ternyata malah membuat orang-orangnya lupa diri sehingga menimbulkan kemarahan Tuhan, sebagai balasannya Tuhan yang begitu murka pada akhirnya membinasakan peradaban itu. Deskripsi yang dijelaskan oleh Plato diatas bisa dijadikan bukti untuk membenarkan bahwa benua atlantis itu berada didaerah Santorini.

Jauh sebelum Plato dilahirkan terdapat peradaban yang dipercayai sudah memenuhi kriteria dengan penjelasan Plato didalam dialognya, salah satu bukti yang bisa dipercayai adalah temuan peradaban oleh seorang arkeolog pada tahun 1939 yang ada di Minoan Akrotiri. Temuan itu telah terkubur beberapa ribu tahun dan arkeolog tersebut sangat percaya bahwa debu-debu yang membuat reruntuhan ini tetap kuat adalah akibat terkubur didalam debu dari letusan gunung berapi yang dahsyat.

Namun penemuan dan anggapan Minoan Akrotiri sebagai benua atlantis lagi-lagi dipertanyakan kembali oleh para ilmuwan yang skeptis, salah satunya karena letak wilayah yang diterangkan Plato berbeda dengan letak dimana Minoan Akritiri berada. Besar luasnya benua atlantis yang dijelaskan Plato mencakup benua asia dan libia itu menurut mereka –ilmuwan yang skeptis- tidak sesuai.

Terlepas dari itu temuan Minoan Akrotiri ini dikatakan sebagai temuan yang paling mendekati dengan penjelasan Plato. Minoan Akritiri adalah peradaban yang sudah sangat maju di eropa pada zaman dulu. Tidak hanya itu, pilar yang dikenal sebagai pilar Hercules itu diyakini adalah selat Gibraltar.

Atlantis dan Sundaland

Orang Indonesia akhir-akhir ini tengah merasakan gloria dengan pernyataan Profesor Santos yang mengatakan bahwa benua atlantis itu adalah Indonesia –sebagai pusatnya-. Dengan bukti-bukti yang dikaitkan seperti Gajah, Banteng, dan Piramida, letak geografis yang banyak dihuni gunung-gunung merapi.
Namun benarkah benua atlantis yang hilang itu ada di Indonesia? Pernyataan ini mungkin akan sulit diterima karena bila benar pusat dari benua atlantis yang di katakan Prof Santos itu, maka haruslah ada suatu monumen-monumen kuno yang begitu megah melampaoi bangunan besar seperti piramida, patung sphink, dan peradaban Minoan Akrotiri tadi.

Bukan hanya itu bila benar Indonesia pusat dari benua atlantis, maka kita harus bertanya adakah suatu peninggalan besar yang bisa mewakili dan menjadi bukti bahwa Indonesia adalah benua Atlantis yang megah itu. Karena kita tahu bahwa suatu peradaban itu akan bisa melahirkan sebuah peradaban yang tinggi apabila mereka telah menetap lama dimana mereka tinggal. Sehingga kita bisa berpikir bahwa pada waktu yang lama itu pasti terlahir suatu kebudayaan atau monumen-monumen yang banyak dan megah yang bisa kita temukan sekarang.

Terlebih tidak adanya pembahasan apakah benua atlantis berada diwilayah tropis, deskripsi yang dijelaskan Plato sebagai pilar Hercules tidak dijelaskan secara detail, waktu dari tenggelamnya pulau yang dijelaskan Plato hanya satu malam ternyata tidak sesuai dengan penjelasan Profesor Santos, dan terakhir adalah ketidak suaian yang bisa disetujui dengan penjelasan Profesor Santos tentang kebudayaan yang hidup pada zaman dulu. (melalui tulisan Budi Brahmantyo ”PR” 7 Oktober 2006)

Terlepas dari itu, saya tidaklah membantah sama sekali pendapat mengenai pendapat bahwa benua Atlantis itu pusatnya ada di Indonesia. Tapi saya sedikit ragu karena belum adanya fakta-fakta yang betul-betul bisa membuat saya percaya bahwa Indonesia adalah benua Atlantis yang hilang itu. Dan saya mungkin akan percaya bila suatu hari ada ilmuwan, sejarawan, arkeolog, ataupun para linguist yang bisa memecahkan dan memberikan bukti yang konkrit.

Muhammad Zaki Al-Aziz 
Aku orang yang begitu malang, begitu bimbang, ditengah gelombang yang mengombang-ambingkan.

Aku adalah orang yang sedih, tiada sumbangsih, tapi ingin melawan meski tertatih-tatih. Aku seperti seorang pahlawan dari novel*, ia berdiri dipantai yang bersahaja, menanti massa depan, mengamati ombak bergulung, merasakan kegembiraan yang memusingkan dan aneh. Mungkin inilah zaman ketidak menentuan dan ketidak sempurnaan.

Aku hidup dizaman dunia yang mungkin telah lelah dengan pergolakan tak menentu pada setiap pemikiran manusia. Aku terkapar didunia yang tengah aku pikirkan dan renungkan. Sisa-sisa dari reruntuhan kehendak manusia yang satu sama lain kian mengkritik mempertanyakan sesuatu pemahaman terhadap hal spiritual, supranatural, suatu oposisi biner, tinggi/rendah, dan tiada suatu estetika.
    
Keterpisahan pada akhirnya menjadi suatu keharusan yang tengah terjadi sekarang, kita sekarang melihatnya namun tidak kita sadari.

Berangkat dari keterbukaan akibat kepintaran manusia-manusia Allah, yang semakin menggebu untuk membuat bentangan jauh suatu yang tiada terlihat oleh mata -barang sedikitpun- dari keyakinan yang bertentangan. Ketakutan akan pergejolakan pada akhirnya buyar, telah dibungkam oleh manisnya suatu kemajuan -dan keberangkatan dari hal-hal yang dianggap mereka sebagai suatu takhayul untuk mempercayai hal yang tak terlihat- yang membius para manusia Allah yang terlena pada kemajuan yang berketerusan. 

Aku senantiasa tak bisa menolak, karena itu bagian dari sebuah sejarah yang akan memanjang. Memanjangnya tersebut terjadi akibat para manusia Allah yang telah sadar kembali bahwa kehendak yang terikat haruslah diikatkan kembali. Mereka yang memanjangkan dan menyentil para pembungkam itu adalah mereka yang mempercayai bahwa suatu kemajuan yang mereka definisikan adalah suatu kesalahan yang harus direka ulang kembali. Telah terjadi suatu kesalahan besar didalam arti sempit kemajuan, disatu sisi manusia sebagai orang yang mempunyai kehendak, disisi lain manusia mempunyai naluri untuk mendominasi -walau itu dengan sesama manusia-

Bagi mereka tiada ada yang namanya suatu kebenaran tunggal, meski itu sebuah oposisi biner. Mereka menawarkan kepada dunia untuk lebih bijak membuka kebenaran tunggal dari setiap definisi-definisi apapun itu. Mereka lebih bersifat plural -membuka lahan-lahan untuk diinterpretasi- meski harus mengorbankan kegunaan dengan pertukaran kembali keuntungan.

Maka jangan salah ketika dunia telah memasuki tahap ini, kita tengah cengang dengan kekonyolan-kekonyolan yang biasa kita lihat dengan mata. Suatu dunia nyata mampu menjadi suatu dunia khayalan yang mempunyai didalamnya nilai legenda-legenda yang lama. Kita terlena karena kita benar-benar berada didalam dunia cermin yang menggoda. Aku sungguh merasakan banyak sekali pada setiap sisi bola mataku, hantu itu selalu muncul padaku. Sehingga terbesitlah hatiku untuk selalu ingin menyadarkan mereka yang terhinotis hantu pembius massal.

    Kita tidak melihat lagi kini sesuatu yang akan bertumbuh lebih besar; sebaliknya, kita curiga bahwa segalanya akan terus merosot turun -Nietsche-


Namun ternyata pada waktu itu aku ditolong oleh para pemberontak yang kritis, mereka yang memberontak adalah mereka yang ingin mencoba untuk menyadarkan kembali muka lama yang telah diganti sebuah kemunduran yang kian menjadi. Meski mereka hanya mencoba untuk mengingatkan kembali suatu nilai kebudayaan yang telah hilang dizaman yang banyak dihuni hantu pembius massal. 

Dengan ideologinya yang tiada titik temu untuk menyetujui, mereka -para pembius massal- itu kehilangan suatu pegangan. Lebih jelasnya mereka -hantu pembius- itu telah jauh melenceng -dan lebih melenceng- dari kekritisan mereka terhadap sikap yang mereka kritisi sebelumnya.

Aku sejenak bingung untuk sedikit saja mengurai, betapa mereka seperti sedang bermain kritik-mengkritik, dari satu pijakan ke pijakan yang lain. Namun yang aku setujui adalah didalam semua itu ada suatu pergulatan penting antara satu sisi dan sisi lain.

    Aku Berbicara Melalu Pakaianku -Eco- 

Mereka yang ingin mencoba menyadarkan kembali -para hantu pembius itu- adalah mereka tidak setuju apabila suatu rasa yang tengah terlena dizaman pembiusan itu, pada akhirnya akan menimbulkan suatu kekalutan yang menakutkan. Manusia lebih-lebih dari sekedar ingin mendominasi, mereka bahkan berani menukar suatu kegunaan dengan pertukaran yang terus menerus diputar.

    Mereka akan kehilangan segalanya, karena kebahagiaan yang mereka ketahui bahkan sejak dalam pikiran, adalah untuk dapat berpegangan pada sesuatu. -Adorno-

Aku tersenyum, dan untuk sekarang rasa ini sedikit agak tenang melihat mereka ingin mengembalikan suatu masa lalu yang sedikit demi sedikit kian terkikis. Pengetahuan pencerahan dari ilmu-ilmu pada masa pembiusan digantinya dengan imajinasi ringan. Meski mereka tidak sepenuhnya memberontak tapi mereka kecewa pada bagian-bagian tertentu. 

Mereka itu sepertinya mengetahui bahwa apa yang dikenalkan mereka sebagai suatu pencerahan dari dunia mitos, legenda, takhayul, yang mengkungkung ternyata malahan membawa kepada penjara baru, penjara itu sebutlah saja dengan nama keuntungan tiada henti -didalamnya mengikis dan mengikis-

Sementara aku, sekarang ini lebih memilih untuk duduk diam dan berpikir bersama dengan mereka para pemberontak yang terakhir. Karena aku sendiri merasa takut bila suatu saat nilai-nilai yang telah baku pada sisi spiritualku berserta nilai-nilainya akan didongkrak oleh mereka. Aku merasakan adanya kesamaan bila berpikir duduk mesra bersama mereka, meski sedikit ada ketidak serasian dari takaran periodesasi. Tapi aku yakin itu hanya sebuah periodesasi.

Pada akhirnya ketidak menentuan dan ketidak sempurnaan yang aku rasa, haruslah dicari titik temunya, untuk melawan mereka kembali. Melawan dengan cara mereka menumbangkan, melawan dengan cara mereka membuat kepayang yang telah ada. Aku yakin pada kemutlakan bahwa ketika ada disatu sisi maka ada disisi lain.

Cerita ini tidaklah berhenti dan tamat sampai disini. Seperti yang aku katakan bahwa ketika ada satu sisi maka ada sisi lain, begitupula dengan kaum penyadar para pembius, pada kelanjutannya nanti, akan ada beberapa orang yang dekat dengan mereka menjadi tidak sefaham dengan kaum penyadar -meski salah satunya adalah salah seorang dari mereka-...
Suatu hari aku bersama teman-teman mengadakan acara ospek jurusan untuk mahasiswa baru fakultas kita, kita -bersama-sama, saling bertukar pikiran- merencanakan tempat yang layak. Suatu tempat yang bisa membuat ospek ini di ingat terus oleh mahasiswa baru. Tempat pertama yang kami tuju adalah Puntang. Puntang , suatu daerah yang terletak di Bandung selatan, jauh dari Universitas kami yang berlokasi di Cibiru. Walaupun jauh tapi kami mempunyai tujuan dan itikad untuk pergi kesana -sesuai tujuan awal dari diskusi-, mungkin hal itu akan sedikit membuat perjalanan kami tidak sia-sia. 

Lalu mulailah kami membentuk tim yang akan melakukan survey ke Puntang sana. Terpilihlah beberapa orang yang akan pergi ke Puntang dan aku termasuk orang-orang yang dipilih untuk melakukan survey tersebut. Keesokan harinya aku bersama teman-temanku berangkat, kita melakukan perjalanan memakai motor, karena kita tahu kalau menggunakan kendaraan mobil akan terjebak jalan yang kecil dan mungkin macet. Diperjalanan gelak tawa dan canda kita lewati dengan penuh khidmat, tak terasa kita sudah sampai ditempat tujuan. Suasana hutan yang masih sejuk sangatlah terasa sekali ketika kaki mulai menyentuh tanah yang masih basah karena embun. 


Kritik sosial pasti akan lazim terjadi pada suatu Negara bilamana ada kesenjangan antara yang berkuasa dan yang tersisihkan. Hal tersebut terjadi karena sifat manusia dengan segala keberingasannya yang selalu ingin menguasai apa yang mereka kehendaki akan menimbulkan konflik. Ideology seperti itulah yang pada akhirnya akan memanfaatkan kekuasaan sebagai mediasi penggerak keinginan menguasai mereka yang notabennya tidak mempunyai kekuasaan.

Banyak sekali contoh yang bisa kita temukan dalam literature klasik atau sejarah-sejarah yang berhubungan langsung dengan ideologi dan kekuasaan. Saya tidak berusaha untuk menyebutkan satu persatu contoh-contoh tersebut karena tidak akan ekuivalen dengan apa yang akan dibahasa didalam esai ini.

Yang paling dekat didalam esai ini adalah bagaimana mereka -orang yang beringas- mempunyai ideologi ingin berkuasa terhadap sesuatu? Misalnya motif yang paling santer adalah motif ekonomi, yang pada akhirnya akan menimbulkan kritik sosial terhadap para orang elit didalam ruang lingkup kehendak mereka menguasai pasar.

Salah satu indikasi perubahan yang dialami manusia sejak zaman peralihan adalah prihal didalam ruang lingkup pencerahan, yaitu zaman keberangkatannya dari yang lama menuju era baru yang mempunyai masa depan yang indah, sebut saja ruang yang indah itu adalah ruang postmodernisme.

Peralihan pandangan manusia tersebut tidak terlepas dari kemampuan berpikir mereka dalam menyingkapi hal-hal yang baru. Tengoklah bagaimana mereka mengalihkan sesuatu yang sudah baku menjadi sesuatu yang baru dan maju -dengan usaha-usaha yang biasanya melampaoi masa lalu-. Itulah bagian struktur penting yang ada didalam masa pencerahan atau era postmodernisme. Subjek menjadi sebagai sesuatu yang mempunyai andil besar didalam kehidupan, dia adalah sebagai raja atas segala dunia.

Telah kita ketahui diskursus mengenai postmodernisme yang sering kita dengar baik didalam sebuah buku ataupun yang diterangkan para dosen. Namun apakah kalian telah mencapai hasil teratas dalam pemahaman apakah postmodernisme itu? Apakah era postmodernisme itu memang terlihat nyata didalam kehidupan sekitar? Ataukah diskursus tersebut hanya sebuah paradigm/wacana yang tak berkecukupan dalam era modernisme?

Namun yang menjadi hal penting dari postmodernisme adalah bahwasanya manusia dizaman ini adalah pusat dari segala-galanya, manusia adalah pusat dari bumi yang indah ini. Apapun itu yang ada didunia adalah hasil kerja manusia sebagai objek yang melakukan dan subjek yang menenggarai. Hal ini kerap sekali ditemui karena para pemikir era postmodernisme adalah orang-orang yang mempunyai pemikiran radikal dan cenderung menyerang sesuatu yang telah baku.

Manusia dengan beribu kehendaknya ingin selalu berpikiran kedepan, mereka memaknai masa depan adalah belum terealisasi, karena itu pun paradigma momento mori yang telah melekat pada era sebelumnya ditransformasi dan didekontsruksi menjadi sebuah ketiadaan yang cenderung mengada-ngada. Oleh karena itu paradigm yang ditanam mereka adalah apa yang nyata dalam hidup ini adalah sebuah keabadian yang memang benar ada (baca:carpe diem)

Seolah dalam era tersebut ia telah meraih segala keterhubungan ideologinya dengan apa yang ingin dikuasai, ia tidak serta merta menimbulkan kemaslahatan, malahan menimbulkan permasalahan baru yang menjadi hal yang terus berkelanjutan sampai sekarang.

Dengan kehendak berkuasanya, dengan kehendak mimpinya mereka telah melampoi alakadarnya, dengan keberhasilannya mengubah paradigma modernisme ke postmodernisme ternyata banyak menimbulkan kritik-kritik sosial yang berkepanjangan pula. Manusialah pusat dari segala ada, dan manusia pulalah pusat dari segala masalah yang ada. Karena yang lahir di era ini bukan hanya sebagai kehendak ingin berkuasa bagi dirinya masing-masing, namun yang lebih parah lagi mereka malahan terjerumus pada suatu keegoisan yang akut, yang kita ketahui sebagai kehendak mendominasi (Levin dalam Yusrif, p23).

Hal yang seperti itulah yang menimbulkan kembali paham-paham yang mengkritik ulang masa pencerahan di era postmodernisme, kalaupun memang keadaannya begitu bukanlah merupakan suatu yang memalukan bagi mereka dengan pencerahannya malah menjerumuskan pada kebobrokan sosial.

Banyak contoh yang bisa saya ajukan mengenai contoh-contoh diatas, namun dengan membatasi esai ini saya hanya menfokuskan pada satu sisi, yang tidak mengesampingkan sisi yang lain-nya. Di esai yang sederhana ini saya akan mencoba mengurai setiap permasalahan yang timbul didalam karya George Bernard Shaw yang terkenal yaitu sebuah drama seorang Pygmalion. Yang akan diterangkan dan diuraikan disini adalah sebuah keadaan teks dan kontekstual cerita Pygmalion dan dari segi kebahasaan yang ada pada drama tersebut. Alasan saya memilih karya ini adalah karena Pygmalion adalah salah satu karya yang monumental yang pernah dilahirkan oleh seorang George Bernard Shaw.

George Bernard Shaw (1856-1950) lahir Dublin, 26 Juli 1856 – meninggal 2 November 1950 di Hertfordshire adalah seorang novelis, kritikus, esaias, politikus, dan orator Irlandia yang menetap di Inggris. Pada 18 Desember 1926, ia menolak hadiah uang ketika menerima Nobel Kesusasteraan dan Academy Award for Writing Adapted Screenplay (pada 1938 untuk Pygmalion).

Shaw pergi ke Wesleyan Connexional Sekolah, kemudian pindah ke sebuah sekolah swasta dekat Dalkey, dan kemudian ke Dublin's Central Model Sekolah, mengakhiri pendidikan formal di Dublin Inggris Ilmiah dan Umum Hari Sekolah. Pada usia 15 ia mulai bekerja sebagai pegawai junior. Pada tahun 1876 ia pergi ke London, bergabung dengan kakaknya dan ibu. Shaw tidak kembali ke Irlandia selama hampir tiga puluh tahun. Shaw memulai karir sastra dengan menulis kritik musik, teater, dan novel, Pada tahun 1884 bergabung dengan Shaw Fabian Society, sebuah kelompok sosialis kelas menengah dan bertugas di komite eksekutif 1885-1911.

Kecermalangan Shaw bisa kita lihat didalam pengaplikasian suatu mythology yunani kepada suatu karya sastra drama. Perkawinan ini tak pelak melahirkan suatu karya yang luar biasa dan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat pada zaman itu dan zaman sekarang. Kisah seorang Pygmalion yang bisa kita temukan didalam literature yunani yang syarat akan hikmahnya digabungkan kedalam suatu drama yang menguggah oleh seorang Shaw.

Namun yang perlu kita sadari adalah apakah ada maksud dari seorang Shaw yang hidup berabad-abad setelah kedigdayaan yunani dimasa lampau. Agaknya shaw telah menemukan suatu formulasi yang bagus untuk membuat karya drama yang baik. Tapi dengan latar belakang Shaw yang sangat sosialis, kritikus, dan politikus membuat saya semakin berpikir lebih mendalam prihal alasan mengapa Shaw menjadikan Pygmalion sebagai sandaran utama dalam dramanya.

Lagi-lagi dalam karya sastra kita temukan beberapa hal penting dan yang tidak bisa dielakan oleh siapapun itu, bahwasanya suatu karya sastra apapun itu tidak akan terlepas dari sisi pengalaman seorang pengarang dan cara berpikirnya. Karya sastra sangat cocok menjadi media yang paling pas untuk melancarkan kritik sosial, mengupas keadaan sosial pada zamannya dan sebagainya. Oleh karena itu Shaw yang notabennya sebagai seorang yang sosialis dan kritikus mampu menyimpan sebuah pembelajaran didalam drama Pygmalion.

Dalam Pygmalion terdapat indikasi yang bisa saya jadikan sebagai kritikan Shaw terhadap kehidupan sosial dizamannya, diantaranya bisa ditemukan didalam gaya bahasa Eliza dan alur cerita yang diperankan professor dan Eliza. Penguraian yang tidak baik perlu dimaklumi mengingat Pygmalion adalah karya yang lahir di abad ke 18 yang artinya sudah jauh dari sekarang, oleh karena itu saya menggunakan dan menguraikan esai ini sesuai dengan data deskriptip yang ditemui baik didalam artikel atau tulisan-tulisan yang bersangkutan.

Ada dua bagian yang ingin saya hadirkan disini, keduanya adalah salah satu hal yang berhubungan erat, keduanya seperti serangkaian bola yang berputar. Yah apalagi kalau bukan ada sebab ada akibat. Kedua bagian itu terdiri dari peran yang dilakukan oleh Eliza sebagai seorang anak yang miskin tapi berusaha untuk terlihat seperti anak kelas atas. Dan bagian kedua bisa dilihat dari gaya bahasa yang dipakai oleh Eliza sebagai seorang anak yang miskin.

Pada bagian pertama saya memakai teori standarisasi milik madzhab frankurt dan pada bagian keduanya saya memakai penguraian bahasa yang menunjukan identitas seseorang. Seperti dikatakan diatas tadi bahwa yang akan diterangkan di esai ini adalah suatu hubungan antara masalah satu dengan masalah lain-nya. Barangkali kalau diaplikasikan secara sekilas akan seperti ini. Ketika standarisasi merasuki seseorang maka orang tersebut akan berusaha mengejar apa yang dikonvensikan oleh para elit ekonomi. Disaat itu pulalah dunia masyarakat telah disusup konsep oposisi biner yang palsu.

Madzhab Frankurt Mengkritik

Cartoon


Kehendak manusia untuk mendominasi dipercaya melahirkan sesuatu kejanggalan didalam kehidupan, terbukti dengan adanya kehendak tersebut para pemikir pencerahan selanjutnya lahir dan muncul ke permukaan. Mereka bukanlah orang-orang yang berada jauh dari zamannya namun mereka yang juga hidup didalam zaman pasca modernism menentang balik pencerahan yang tengah terjadi. Meski tidak dalam semua hal namun hal ini masih berkala dan masih mudah kita temukan sekarang.

Menurut mereka pencerahan yang dikenalkan tidak lain malah membawa manusia pada lobang yang lebih dalam. Itulah yang ingin ditentang oleh para madzhab frankurt. Mereka menilai dengan kehendak mendominasi ekonomi telah merasuki pada suatu imajinasi ringan yang malah lebih rendah dari era modernism. Dalam diskursus ini yang menjadi tolak ukurnya adalah kehendak para elit ekonomi untuk mendapatkan keuntungan bagi mereka.

Tak ayal akibat dari hal diatas akhirnya melahirkan kesenjangan sosial antara kelas yang memiliki ruang lingkup elit borjuis dan kelas bawah yang berada pada konsumerisme standarisasi para elit (baca:oposisi biner). George Shaw melihat hal itu sebagai sesuatu yang tidak perlu terjadi, namun pada kenyataannya citranya sudah begitu. Salah satu indikasi yang bisa dijadikan runutan adalah ketika seorang Eliza yang seorang kaum miskin ingin terlihat seperti elit kelas atas. Oleh karena itu dia ingin berguru pada seorang higgins yang dipercaya sebagai seorang ahli bahasa yang mampu mengindetifikasi seseorang dari bahasanya. Ia dipercaya sebagai orang yang “pronounce one hundred thirty vowel sounds" and "place any man within six miles" of their homes” (melafazkan seratus tiga puluh tiga bunyi suara vokal dan menebak kedudukan sosial seseorang dalam jarak enam mil)

Eliza Mencari
Eliza adalah contoh korban klasik yang ingin mendobrak standarisasi kelas sosial, salah satunya ia ingin mengidentifikasinya lewat gaya bahasa. Untuk mengatasi problem ini, ia menjumpai Profesor Higgins dengan harapan beroleh sesuatu untuk bisa berbicara lebih “halus”. Ia ingin “to be a lady in a flower shop stead of sellin at the corner of Tottenham Court Road.  But they won't take me unless I can talk more genteel" (menjadi wanita di toko bunga ketimbang cuma berjualan di pinggir Tottenham Court Road. Namun, mereka tak bakalan menganggapku ada kecuali aku bisa bicara lebih halus) [h.23].

Itu sebabnya ketika seorang George Bernard Shaw menempatkan Pygmalion sebagai tolak ukur dalam drama ini, artinya ketika seorang Eliza yang dari kalangan miskin -diperlihatkan sebagai seorang yang- mampu mendobrak tatanan sosial yang tengah berlaku pada waktu itu. Dalam mitologi yunani legenda Pygmalion dipercaya sebagai pendobrak nilai efek. Artinya ketika dia merasa dirinya adalah seorang miskin, ia tidak merasa kemiskinannya akan membuat dia mati, akan tetapi ia menjadi lebih berani untuk ingin tampil bergabung dengan kelas sosial yang atas. Sama halnya dengan Pygmalion yang dengan pikiran positivnya mampu membuat pahatannya menjadi nyata, berkat dewa hera. Itu merupakan sebuah pelajaran bahwa pikiran positiflah yang mampu menggubah suatu pandangan yang kadang sulit untuk diwujudkan.

Dalam Pygmalion, Eliza juga berpikir bahwa semua orang seharusnya diperlakukan sama. Ia juga tidak suka melihat cara orang-orang yang berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi memperlakukan mereka dari kelas sosial yang lebih rendah. Agar dapat bersikap netral dan menganggap semua orang sama, Eliza ingin mempelajari secara khusus bagaimana "talk more genteel" (bicara lebih lembut) [h.23). Meskipun ia tidak punya uang, ia bersikeras kepada Henry Higgins dan Colonel Pickering bahwa ia harus mengikuti pelajaran tersebut tanpa membuat kesalahan [h.23]. Ia tidak yakin diberikan perlakuan khusus hanya karena ia tidak sesiap yang lainnya dalam menerima pelajaran ini. Tapi ia percaya pelajaran ini dapat mengubah hidupnya guna menjadi orang yang lebih berbahagia.

Pada permulaan Pygmalion, Eliza hanyalah seorang gadis kelas bawah penjual bunga guna bertahan hidup. Meskipun inilah satu-satunya cara untuk survive, namun ia sadar bahwa banyak hal lebih baik yang perlu dicoba agar tak terus-terusan dianggap kelas bawah. Tatkala Henry Higgins menyuruh pembantunya, Mrs. Pearce, untuk “take all of her clothes off and burn them” (menanggalkan bajunya dan membakarnya), Eliza menyahut dengan marah, “you're no gentleman, you're not, to talk of such things.  I'm a good girl, I am” (kamu bukanlah pria sejati, sama sekali bukan dengan bicara seperti ini. Saya seorang gadis baik-baik) [h.27]. 

Bernard Shaw barangkali ingin mengubah paradigma sosial pada waktu itu, tentu saja melalui drama Pygmalion ini. Sebagai seorang kritikus sosial yang sangat sosialis, ia mungkin telah menemukan formula terbaik untuk mengubah mindset seorang manusia. Dia seakan mengingatkan kepada kita bahwa Eliza merupakan aktor utama yang bermakna Pygmalion.

Jika kita berpikir bahwa seseorang itu ramah sehingga kita bersikap ramah terhadap Orang tersebut, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita. Jika kita berpikir dan memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas. Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.
 
Itulah sekiranya hikmah yang bisa didapat dari karya George Bernard Shaw dalam Pygmalion. Sebuah karya yang bisa diserupakan menjadi sebuah pesan bahwa sebuah pikiran yang terbuka dan memungkinkan untuk dilakukan mampu mengubah tatanan sosial yang tengah berlaku pada zamannya.

Eliza menjadi figure yang harus dicermati dan direnungi. Bagaimana ia ingin mengubah identitas dirinya melalui bahasa yang dipakai. Eliza adalah bentuk dari ketidak engganan menjadi seorang yang terasingkan karena standarisasi yang dikehendaki para penguasa ekonomi.

*Anda setuju dengan artikel ini? Tinggalkan komentar yang membangun yah!! ^_^
Masih hangat kasus Angie Sondakh yang mencuat akhir-akhir ini, kita sebagai rakyat biasa semakin semerawut aja dibuatnya. Semakin bingung untuk memilah mana yang berpihak pada kebenaran dan mana yang berpihak pada keberbohongan.

Keduanya sangat sulit kita terawang bila tiada penghantar untuk mencari kebenaran yang sistematis -penghantar untuk mengurai itu secara sistematis pula-, untuk melihat semua itu kita perlu sebuah petunjuk untuk sedikit lebih terang melihat semuanya.

Belajarlah kita tentang bahasa (sosiolinguistik), wacana, psikologi, etnografi komunikasi, analisis wacana, komunikasi politik, dan apapun itu adalah untuk menganalisis suatu hal yang dirundung sebuah kekuatan yang menggelapkan -didalamnya banyak kode metafora yang berliku- terlepas dari sana kita tidak mengetahui isi hati seseorang yang berbohong. ehehe

Yang menarik disini adalah ketika ilmu-ilmu tersebut diaplikasikan pada kasus Angie. Maka kita akan menemukan sesuatu pencerahan tentang bagaimana kekuasaan lain menggunakan masalah Angie sebagai suatu senjata. Ketika masalah angie mencuat, hal tersebut bisa dijadikan sebuah senjata bagi para elit lain untuk melancarkan ideologi yang diusung, hal ini nampak terjadi ketika ada salah satu stasiun TV Indonesia yang dalam tayangannya seolah memberi kesan bahwa Angie itu sedang benar-benar berkelit/berbohong. (Bermain dengan bahasa dan pencitraan)

Kita semua pasti mengetahui bahwa narasumber yang disajikan oleh stasiun TV yang diuntungkan itu ada dipihak saudara Nazarudin (pengacaranya). Bahasa judul yang diberikan oleh pihak TV tersebut pun sangatlah frontal yaitu “Angie berkelit”, dan ada lagi yang menarik disini adalah pada saat itu pula pihak TV menyempurnakan suasana dengan lagu latar yang bernuansa bahwa angie sedang berbohong. Sepenggal liriknya mungkin seperti ini “Everybody knew you are liar” (Semua orang tahu bahwa kamu adalah pembohong/pendusta) -Scholastika-

Barangkali disini kita sudah mengira bahwa proses pemikiran Gramsci yang kedua sedang berlangsung, yah itu adalah hegemoni, sesuai dengan pernyataan (Femia, 1981) yang mengatakan jenis kedua ini adalah, pengendalian sosial dilakukan secara simbolik-internal dengan membentuk keyakinan-keyakinan atas norma-norma tertentu.

Sekarang sedang gencar-gencarnya para elit politik dari beberapa partai yang sedang mencari suara rakyat, oleh karena itu dirasalah perlu untuk menggiring rakyat dengan acara-acara tersebut -yang didalamnya terselip bahasa simbolik, bahasa dan kekuasaan, kekuasaan dan media- sebagai sebuah langkah awal untuk menggiring rakyat untuk berpartisipasi dengan mereka.

Perlu diketahui bahwa hal yang demikian tersebut sangat lumrah sekali dalam kancah politik. Satu sama lain ingin menjadi yang terdepan -bagaimanapun caranya, asalkan tidak ada kekerasan- untuk mendapatkan suara terbanyak dari aspirasi rakyat. Media Massa sebagaimana kita tahu adalah media yang paling penting sebagai moncong dari penguasa untuk menjalankan ideologinya. Oleh karena itu wajarlah bila kita akan sering menemui pemberitaan dimedia massa mengenai hal-hal yang mirip dengan masalah diatas. Karena tidak sedikit yang menguasai media massa di Indonesia adalah mereka yang sedang berpartisipasi dalam kancah politik.

Refferensi:
http://mudjiarahardjo.com/artikel/101-bahasa-media-dan-kuasa.html
http://bytwochai.wordpress.com/2010/12/24/mass-media/





*Penulis: Muhammad Zaki Al-Aziz
Sejarah adalah kisah yang didalamnya memuat tentang peradaban, perjuangan, peristiwa, politik, dan hal penting yang pernah dialami oleh bangsa-bangsa dimanapun berada. Kita tidak akan mengenal adanya perjuangan para pahlawan yang menentang kolonial Belanda, para penjajah Jepang ataupun Portugis tanpa ada pena yang terukir menjadi sebuah sejarah. Kita tidak akan mengetahui peristiwa Bandung lautan api, Arek-Arek Suroboyo tanpa adanya sejarah.

Dengan Sejarah pula kita mengenal para pemberontak pemerintah yang telah kita kenal dengan hari G 30 SPKI, kita tidak akan merayakan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tanpa sejarah penting yang ada dibalik semua angka tersebut. 

Lantas apakah yang terpenting dengan adanya sejarah ini? Apakah kita hanya sebagai seorang yang bisu akan sejarah? Dalam artian kita tidak menghargai sejarah? Ingat pesan Bung Karno melalui kata-kata yang terkenalnya “JASMERAH”. Kalau kita melupakan sejarah, secara tidak langsung kita tidak menghargai para pendiri bangsa Indonesia ini. Kita seakan-akan tidak ingin berkompromi dengan sejarah, oleh karena itu kita juga tidak pernah ingin belajar dari sejarah.

Ibnu Khaldun didalam bukunya Muqodimmah (2005:3) mengatakan bahwa Peristiwa-peristiwa itu (sejarah) mengajak kita untuk memahami ihwal makhluk, bagaimana situasi dan kondisi membentuk perubahan, bagaimana Negara-negara memperluas wilayahnya, dan bagaimana mereka memakmurkan bumi sehingga terdorong mengadakan perjalanan jauh, hingga ditelan waktu, lenyap dari panggung bumi.

Kutipan diatas menyiratkan betapa pentingnya sejarah sebagai guru kita diwaktu sekarang. Bukankah kita sering mendapati sebuah peribahasa yang menyatakan bahwa Pengalaman adalah guru yang terbaik? Yah sejarah janganlah dijadikan sebuah bingkai yang lusuh oleh waktu, pudar oleh keniscayaan.

Didalam sejarah kita bisa mengarungi betapa kerasnya para pejuang negeri ini melawan mereka-mereka yang dikenal baik oleh kita sebagai penjajah. Maka disaat itu pulalah kita harus menanam dan menghujamkan rasa perjuangan mereka –para pahlawan- didalam hati. Hal tersebut adalah satu sikap bentuk rasa hormat kita terhadap sejarah. Maka benarlah bila saya katakana sejarah adalah benteng pertahanan yang bisa kita tanamkan dengan cara mempelajari dan mengobservasinya.

Didalam sejarah kita, tercatat beberapa pemimpin yang menjadi pemimpin negeri ini berserta keberhasilan dan kegagalannya pada waktu itu. Maka pada saat itu pulalah kita harus membandingkan sekaligus belajar pada keadaan yang pernah terjadi sekarang ini –yang dipimpin oleh sang presiden SBY- dengan keadaan yang terjadi pada waktu presiden-presiden sebelumnya.

Sehingga didapatilah suatu perbedaan, atau mungkin sesuatu persamaan yang tengah terjadi sekarang dengan yang masa lalu. Dan hal itu akan terjadi apabila kita benar-benar menghargai masa lalu kita sebagai pelajaran penting. Bila kita tidak pernah belajar pada masa lalu, mungkin kita tidak akan pernah bisa belajar untuk menjadi lebih baik kedepannya atau bahkan kita akan bernasib sama dengan masa lalu yang suram. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan sejarawan asal Spanyol, George Santayana yang mengatakan bahwa  "Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya."

Lebih lanjut seorang Winston Churchil berkata "Satu-satunya hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak benar-benar belajar darinya." Bila kita benar-benar belajar darinya mungkin kita akan mendapati sedikit rakyat kita akan terjangkit dari kemiskinan, mungkin kita akan mendapati koruptor yang berkurang, bahkan lenyap, apabila kita benar-benar belajar pada sejarah yang pernah terjadi di negeri ini.

Sejarah Apa Yang Harus Aku Tulis Untuk Negeri Ini

Betapapun buruknya pemerintahan, isu politik, kejadian penting, yang ada dinegeri ini semua adalah ikhtisar penting sejarah yang ada diabad ini, yang pada suatu saat nanti kita tulis untuk generasi selanjutnya. Sebagaimana Ibnu Khaldun didalam bukunya (Muqadimmah, 2011:53) pernah mengatakan  bahwasanya sejarah adalah peristiwa-peristiwa khusus mengenai suatu zaman dan generasi. Pembicaraan umum tentang kondisi daerah, bangsa, dan zaman itu, merupakan dasar bagi para ahli sejarah.

Jelaslah barangkali dengan pernyataan Ibnu Khaldun diatas. Ketika kita bertanya: sejarah apa yang harus ditorehkan untuk negeri ini. Maka pemandangan-pemandangan yang terjadi pada bangsa, rakyat, para pemimpin serta keadaan Indonesia saat ini adalah bumbu-bumbu penting untuk para penulis sejarah untuk menorehkan kejadian penting yang suatu hari akan menjadi sebuah sejarah Indonesia.

Kita tidak harus malu untuk menuliskan keadaan politik saat ini yang notabennya banyak mengecewakan rakyat, kita tidak harus malu untuk menuliskan betapa banyaknya para koruptor yang semakin giat saja mencari uang rakyat di era pemerintahan SBY, kita tidak perlu malu untuk menuliskan banyaknya kerusuhan-kerusuhan yang terjadi baik itu antar suku, daerah, agama, tentara vs rakyat bahkan supporter bola, kita tidak harus malu untuk menuliskan betapa keadilan ini tidak berdaya pada orang yang berduit ketimbang rakyat yang tak berdaya, kita tidak harus malu untuk mengatakan bahwa industry music kita saat ini cenderung sama dengan aliran musik yang ada dikorea. Tulislah, tuliskan saja semuanya yang tengah terjadi dinegeri ini!!, jadikan hal itu sebagai sebuah pembelajaran penting untuk kedepannya.

Akan tetapi kita perlu waspada pada yang namanya kekuasaan. Karena kekuasaan biasanya selalu mendominasi sisi penting sebuah realita. Kata-kata bijak pernah kita temukan mengenai sejarah yakni “Sejarah ditulis oleh sang pemenang”. Hal ini menandakan bahwa sejarah tengah menjadi sebuah ladang bagi para penguasa untuk menorehkan keberhasilan mereka melalui pena sejarah. Namun mereka seringkali tidak adil pada realita nyata untuk menuliskan kisah sebenarnya yang terjadi yang menimpa rakyat. Oleh karena itulah sejarah yang baik adalah sejarah yang tidak pernah mengenal keberpihakan penulis pada penguasa. 

 "Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia." (Bung Karno)

Kalau bukan kita, maka siapa lagi yang akan menjadi penyambung pena peristiwa penting abad ini? Negeri ini negeri pemberian Allah Maha Mulia, tidak ada lain selain dia penguasa sebenarnya maha semesta alam. Janganlah takut untuk berbuat adil menuliskan sejarah untuk negeri ini. Betapapun memalukannya peristiwa-peristiwa dinegeri ini adalah sebagai sebuah hal penting yang suatu saat akan menjadi sebuah pembelajaran bagi generasi setelah kita.

Jadikan sebuah keadaan sekarang ini sebagai sejarah/kisah yang mampu meneguhkan hati-hati setiap pembaca. Tanggalkan kebohongan yang menutupi sebuah kenyataan, karena hal itu merusak sebuah sejarah sebagai jejak-jejak penting untuk generasi penerus bangsa mempelajari masa yang telah silam.

Semoga Allah Maha Mulia selalu menyertai kita semua, karena dialah pemberi kisah-kisah yang nyata bagi kita. Tiada kebohongan yang Nampak dari Allah Semesta Alam, Dialah maha pemberi kisah yang nyata sebagai sebuah peringatan bagi kita.


Jadikanlah semua sejarah benar adanya, sesuai dengan kisah nyatanya, berpangkal pada akar yang kokoh, dan terpercaya, biar tak goyah meski badai selalu menghujamnya. (Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit) QS : 14/24

Buatlah sejarah itu sebagai pengingat untuk generasi setelah kita, sebagai suatu pembelajaran untuk bisa menjadi lebih baik. (pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat). QS : 14/25

Jangan biarkan sejarah itu terlalu dibiarkan ditulis para penguasa yang dhalim, karena biasanya mereka selalu tidak adil untuk berbicara kenyataan yang ada. Sejarah tersebut sudah jauh tercabut dari kebenaran yang menjadi unsur penting sebuah sejarah. (Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun) QS : 14/26

Refferensi:

Khaldun, Ibnu. (2011). Muqadimmah: terjemahan Ahmadie Thoha. Jakarta: Pustaka Firdaus.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah

http://id.wikiquote.org/wiki/Soekarno

*Penulis adalah lulusan Bahasa dan Sastra Inggris UIN SGD-Bandung. Aktif di Pemuda Muhammadiyah. 
As i promised in the blog post before. I will share to you some pics about how wonderful Indonesian. The pictures are about people, culture and whatever it is. It's better to know than nothing to know how big the world. God created us to know each other, I am here, as the sender message, to introduce part of God's created.

Indonesia is a big country a long with the diversity whether it's multicultural country, multilingual country, multireligion country but it's not multilevelmarketing country [just kidding bro]. With a wide region and different people, that made Indonesian to be a big country, just a big!!

Pluralism is often explained as a situation in which people considerd that all religion is same. Leading to the all ulama in Indonesia, there are some view -i may got- that pluralism seemed just like considered that all religion is true. What i want to ask them is how do they explain God in different view?

In my opinion, i cannot accept, even respect that simple explanation. I wondered to say that all religion is true, and people have no idea to do something like feel arrogant about religion what their have. But in my great kitab known as Quran, God -The Great- say that -For me is my religion, and yours is yours-. 

images
Ini adalah kisah pertemuan 2 pemuda yang selalu gigih didalam membela rakyat. Mereka berdua padu memadu untuk mencari kedaulatan bagi rakyat. Mereka laksana pejuang ditengah huru hara yang terjadi didalam negeri/pemerintahan. Mereka berdua mencari solusi sebagai jawaban hati yang selalu risih melihat kelakuan para kaum pejabat koruptor yang semakin tiada rela melihat keadaan rakyat. Mereka berdua dikenal dengan sebutan Ishadat dan Langka.
Ilustrasi

Salut kepada para pemikir pada zaman sekarang yang menuangkan idenya kepada tulisan, khususnya yang terlihat mata secara jelas. banyak karya-karya baik itu puisi, esai, atau karya sastra yang lainnya. hal itu menjadi lebih cepat tersebar dengan adanya situs2 jejaring social seperti facebook katakanlah, yang dari setiap penggunanya bisa melihat dengan mudahnya postingan-postingan hasil karya yang ditulis oleh seseorang yang dipublish di facebook.

Namun kemudian saya sendiri menyadari dan menjadi bertanya ketika apa yang ditulis tidak sebegitu terintegrasi dengan baik kepada masyarakat. saya cenderung takut dengan apa yang saya tulis sendiri, apa hasil karya yang aku tulis ini mempengaruhi dan memberikan wacana baru bagi masyarakat sekitar?! pertanyaan tersebut selalu membayangi, saya berharap pertanyaan ini juga selalu tertanam kepada orang-orang yang senang akan dunia tulis menulis.

Kembali jauh kepada ajaran plato dengan pemikirannya dalam buku republic secara tidak langsung menyatakan bahwa karya sastra itu adalah tiruan dari realitas yang berupa tiruan ide Akibatnya, sastra jauh dari kebenaran. Permasalahan muncul ketika wujud tiruan dari dunia ide itu berbenturan dengan kebenaran. Akan tetapi dalam suatu karya tersebut bila dilihat dan dianalisis secara mendalam akan ditemukan pesan dan moral yang ditujukan penulis, dan yang jelas dengan pengidentifikasian dari penulis tersebut.

Hal apakah yang anda pikirkan ketika anda akan menulis sebuah karya tulis?! Apakah anda hanya ingin mempunyai nama dalam kehidupan sehari-hari, dilembaga ada bernaung, hanya ingin menunjukan keeksential atau itu memang kesukaan anda dengan dunia tulis menulis. 

Lalu apa yang akan anda tulis ?! kebanyakan seseorang menulis sebuah karya itu karena adanya kejadian atau hal-hal yang membuat dia ingin menuliskan apa yang ia pikirkan, baik itu sebuah penyangkalan atau hanya menambahkan. Dan tidak mungkin seseorang itu menulis apa yang dia tidak ketahui sebelumnya. Memang benarkan apa yang dikatakan oleh Plato, bahwa karya seni itu ialah wujud dari realitas atau ide yang ada. Hal inilah yang kemudian hari melahirkan mimesisnya plato.

Sekarang ini memang banyak sekali karya-karya yang begitu memikat mata tapi tidak sedikit juga yang tidak memikat hati. Soedjatmoko mengakui adanya "suatu krisis dalam kesusastraan kita". Di dalam tulisan yang merupakan "Pengantar" untuk edisi perdana majalah Konfrontasi, Juli-Agustus 1954, Soedjatmoko mengakui bahwa "banyak ciptaan yang memang berjasa serta adanya kelancaran dalam bahasa yang dipakai. Akan tetapi, ciptaan-ciptaan kesusastraan yang lebih besar masih saja ditunggu kehadirannya."

Kutipan diatas mengisyaratkan kepada kita bahwa diindonesia kesusatraan di Indonesia memang mengalami kemajuan secara kualitas, akan tetapi dalam kemajuan tersebut ternyata menimbulkan pertanyaan besar yang harus direnungkan oleh para penulis muda zaman sekarang. Apakah dari kualitas tersebut sama dengan kuantitas yang dihadirkan karya tersebut. Hal itulah yang membuat saya merasa takut dan selalu berpikir “memang benar apa yang saya lihat sekarang sebuah tulisan itu hanya sebatas nalar indera” termasuk saya sendiri. Dan kalau boleh saya sebut itu adalah karya sastra yang instrumental. Sementara disisi lainnya ada karya sastra yang terintergrasi, yang selalu menawarkan hal-hal yang berbau nalar dunia.

Lalu apakah yang dimaksud dengan karya sastra yang terintegrasi itu?! Sebagai orang yang pernah mempelajari tentang kritik sastra, saya sangat meyetujui sekali dengan pahamnya karl marx(marxisme klasik) yang menyatakan bahwa karya sastra yang dianggap baik adalah yang mampu menampilkan realitas perjuangan kelas proletar, misalnya Oliver Twist karya Charles Dickens atau ‘Ballad of Birmingham’-nya Dudley Randall, bahkan sebaiknya bisa menggerakkan penikmatnya utuk melakukan gerakan perlawanan seperti Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe. 

Dengan kata lain sebuah karya itu hendaknya lahir dari pemikiran-pemikiran yang menyatakan ketidak puasan keadilan yang terjadi dilingkungan sekitar, baik itu pengalaman pribadi, masyarakat, Negara atau mungkin dunia. Sehingga dalam penulisanna nanti akan mewarnai perjuangan untuk masyarakat yang dituju tentunya dengan pesan dan moral yang ada dalam karya itu. Dengan begitu masyarakat akan mengerti dan sangat terbantu dengan adanya karya itu. Itulah yang saya maksud dengan karya sastra yang terintegrais. Tidak hanya untuk diri sendiri melainkan untuk orang banyak. Pandangannya yang luas terhadap realitas menandakan bahwa seseorang itu menulis dengan ranah nalar dunia.

Disisi lain hadir juga karya sastra yang instrumental, secara garis besar karya sastra ini kebalikannya dari karya sastra yang terintegrasi diatas. Sebatas apa yang dilihat lalu menuangkanya pada tulisan dengan teks yang indah hanya sebatas nalar indera. Memang benar kita mengenal tentang teori nihilisme yang mungkin hadir dalam satra tapi dalam kenyataanya tidak. Meskipun demikian seperti yang ditulis diatas bahwa dalam suatu sastra itu pasti ada seseuatu yang ingin disampaikan penulis.

Pada akhirnya yang harus menentukan langkah dan untuk memutar balikan lagi kualitas menjadi kuantitas adalah diri kita sendiri, dengan pengetahuan yang luas dan kritis dalam berpikir akan menjadi tiang utama sebelum menulis sebuah karya. dan mungkin itu juga sebabnya teori dan kritik tentang sastra perlu dipelajari. Selain menjadi kendaraan kita untuk mengarungi bahtera sastra-sastra yang ada didunia, hal itu berguna juga untuk menjadi panutan kita dalam menulis sebuah karya sastra.


Ilustrasi

Bahwa benar adanya seseorang dalam bingkai foto Mampu menghantar bahagia atau sedih
Seperti air yang tenang namun tak nampak dalam-nya

Begitulah cerita dibalik bingkai
Yang mungkin lusung atau tersimpan rapi dalam lemari
Banyak kisah-kisah tertulis dengan pasti terpatri di hati

Yang senyum namun tiada
Menghantar air menetas dari mata
Yang senyum masih ada
Saling bercerita pada saat tertentu di waktu itu

Pada saatnya kita terpikir tuk menutup kisah
Menutup rapat album biru
Meretas kembali kisah didunia

Meski sulit untuk berbohong
Suatu saat nanti hati tak mampu melupakan
Yang terkenang dalam bingkai
Aku akan membukanya lagi kelak
Ilustrasi

Baru tadi aku merasa gemetar
Pada saat angin kencang menyapa
Seolah mereka adalah titisan Allah Maha Mulia
Sebagai penegur umat manusia

Aku berjalan menyusuri gunung
Dalam hati sontak, aku merasa
Mengingat prihal Nabi Musa ketika mencari api
Digunung sinai beliau mencari

Seolah ingin aku berdoa juga pada Allah
Setibanya nanti aku diluar gunung
Hembuskanlah angin segar untuk para rakyat
Dari cengkraman panas para FIR'AUN masa kini

Meski tidak padaku
Aku harap setibanya dirumah
Tiada lagi telinga yang miris
Mata yang meneteskan kesedihan

Melihat ketidak puasan
Ketidak adilan yang begitu jelas
Nampak pada mata
Namun mereka tetap seolah tak bergeming

Wahai yang dipertuan Indonesia
Dimanakah engkau berada saat nada/jerit sakit rakyat membutuhkan?
Apakah engkau mampu hadir seperti Sayidina Umar?
Meski hanya mencucikan baju nenek yang buta?

Naas, ternyata sekarang tiada lagi seorang yang seperti itu
Bahkan sekarang aku lebih jijik melihat ketidak perdulian mereka
Mereka seperti terus menghisap harta-harta untuk ditimbun
Kemanakah engkau simpan hati kecilmu tuan?

Aku berharap, meski tidak padaku
Seorang akan hadir menjelma seperti keberanian Nabi Musa
Menentang raja yang dzalim pada rakyat
Menentang pemerintahan yang seakan tidak perduli pada rakyat

Tuan, tidak lama lagi engkau akan rugi
Kemegahan yang engkau dapat akan menghancurkanmu
Karena yang demikian itu
Tiada disukai oleh Allah Maha Mulia.
Ilustrasi

Hey para sahabat,
suaramu selayaknya perkutut
yang sedang bernyanyi dibalik sangkar
Indah nan jelita, bisa menggugah hati
Sama seperti mu, wahai sahabat
Itulah tugasmu, ketika mimpi ditafsir kata
Buatlah sang penikmat tersenyum dan terpukau

Terlebih buatlah mereka bersiul sepertimu
Alangkah baiknya lagi, sematkan kekuatan dalam setiap kata
Seperti kata yang terlontar dari sang Nabi agung
Kostantinopel akan runtuh!!

Karena Mimpi yang kau tafisr mengalir bersemi dengan realita
Sama persis ketika orang yunani bertemu dewa
Untuk pertama kalinya mereka bahagia bertemu dengan dewa didunia

Sama nian ketika para pemahat melihat adiluhung manusia dalam mimpi
tugas mereka adalah membuatnya menjadi pahatan alam...

Perkututlah persis seperti kita
Lihatlah ketika dia dibalik sangkar
Itu tak berarti dia tidak bebas
Namun dalam sangkarlah ia bisa bernyanyi melantunkan nada indah

Sementara kita,
Lihatlah ketika kita merenung atau bermimpi
Diibalik keterasingan realita, tak jarang kita berjumpa dewata jelita
Itu bukan berarti kita berbeda dengan perkutut
Dalam keterkekurungannya terdapat suasana hening
Persis seperti kita merenung dan bermimpi...
Dari sanalah mungkin sedikit demi sedikit kita bisa membuka

Dan melepas diri
Dari impuls-impuls yang gelap....



K etika saya hendak merebahkan tubuh terlentang menantang langit, mata saya seperti dirayu oleh gambar-gambar yang menempel dilemari baju tepat didepan mataku. Sontak terasa padaku mengapa mataku terfokus pada apa yang ada dihadapanku. Kenapa begitu demikian? Karena semuanya seperti beriringan dan berjalan sesuai jalur apa yang saya hendaki. Apa yang saya sedang pikirkan pada waktu terlentang itu serasa terjawab hanya pada sebuah gambar yang ada terletak dilemari baju.

Apa yang dihadirkan oleh gambar dilemari tersebut bukan hanya seolah sesuatu yang mati tak hidup sekalipun. Gambar tersebut lahir mungkin sama persis ketika seorang Barthes melihat gambar seorang negro yang terlihat sedang hormat pada bendera Perancis, gambar tersebut mungkin lahir sama persis ketika kita melihat gambar seorang presiden Soeharto sedang menandatangani sebuah perjanjian dengan IMF.

Gambar yang saya lihat itu seperti sebuah realita yang terkotakan, tersimpan dalam kisah dalam bingkai, tersimpan rapi dalam setiap coretan disetiap sudut stiker itu. Realitas itu seakan menunggu untuk disentuh olehku, realitas tersebut muncul ketika mataku, mata hatiku, mata didalam mataku serontak bergumam “Hey sentuhlah dia”

Dibalik Kisah Bingkai (Dibalik Simbol Yang Kau Elakan)

Pada akhirnya perasaan yang penasaran ini sudah memuncak bahkan sudah menjelimet, membawa saya kepada sebuah arti yang harus didapat dengan mengurai beberapa jalan-jalan yang berliku. Yang harus legowo membuka mata retas, mata elang untuk melihat sesuatu lebih mendalam, bukan hanya mata perkutut yang melihat sesuatu itu hanya dalam kurung yang terkungkung!!

Dibalik simbol yang terpampang digambar itu adalah sebuah makna yang hanya bisa diterka oleh para manusia yang mempunyai segala aktivitas fakta-fakta yang sudah menjadi konvensi sebuah komunitas. Apa yang saya lihat ketika terlentang itu bukan hanya sebuah gambar dengan kata-kata saja, melainkan sebuah gambaran makna yang tersimpan rapi didalam pikiran kita, yang pada akhirnya akan tersentuh lagi ketika sebuah fakta yang pernah saya dan komunitas alami mengunjungi seketika.

Bahasa yang nampak padanya gambar itu bermakna kalau kita tahu, dan karena makna itu terletak pada pikiran maka hanya pada pikiranlah batas makna-makna semua orang itu bisa dibedakan. Bila disajikan sebuah gambar tepat dihadapanku maka penafsiran-penafsiran berbeda akan menjadi sebuah keniscayaan yang pasti ada. Karena realitas yang terdiri dari fakta yang didapatkan oleh setiap orang itu akan berbeda-beda maka akan berbeda pula setiap orang didalam menafsirkan sesuatu.

Gambar yang terpampang itu adalah sekumpulan fakta yang mempunyai makna-makna didalam-nya. Barangkali seorang barthes didalam kumpulan artikel-artikelnya yang berjudul “The Photoghraphic of Message” dan “Rhetoric of Image” pernah menjelaskan bahwa didalam sebuah gambar itu mengandung sebuah pesan simbol (Code Iconic Message) yang ditujukan untuk membuka tabir hitam yang besangkut pautan dengan gambar yang pernah dialami dengan pengetahuan yang ia tahu mengenai gambar yang dilihat.

Begitu juga Wittgenstein pernah mengemukakan teori penting yang pada akhirnya teorinya itu dibantah oleh dirinya sendiri. Teori tersebut kita tahu sebagai “Meaning is Piture” yang dijelaskannya didalam buku Teracttus. Apa yang dijelaskan Wittgenstein itu adalah dibalik gambar yang sering kita lihat itu ada sebuah dunia yang padanya ada realitas yang tersusun oleh fakta-fakta bukan benda.

Manusia dan Realitas

Thomas Hobbes pernah dibuat pusing memikirkan kenapa peradaban/pengetahuan manusia itu berkembang? Pusingnya ini sampailah pada sebuah pelabuhan dimana seorang Thomas Hobbes menemukan sebuah jawaban yang sangat rumit. Tak lain hasil perenungannya berujung pada jawaban bahwa manusia itu memungkinkan berkembang karena manusia itu mempunyai kemampuan yang terletak pada penandaan secara simbolik didalam realita kehidupan. Oleh karena itu pula mungkin seorang Ernest Cassirer pernah berujar didalam bukunya (An Essay on Man) Human is animal Symbolicum.

Seperti itulah mungkin ketika saya berpikir bila disajikan sebuah gambar HP Blackberry, dan ada seorang wanita yang hendak bertanya tentang gambar tersebut maka jawaban saya dengan pengguna blackberry akan sangat berbeda. Karena batas realitas saya mengenai balckberry itu sangatlah dangkal, fakta-fakta yang bisa dihadirkan hanya sebatas pada tataran permukaan saja.

Berbeda dengan seorang pengguna blackberry yang akan menjawab secara detail apa yang dilontarkan oleh wanita itu. Sontak kita bisa kembali lagi pada pemikiran barthes diatas, dikatakan bahwa sebuah code iconic message alias pesan simbolik!! Dan karena menurut Barthes pesan itu tidak bisa kita dapat secara mudah, maka harus ada sesuatu yang mampu membuka tabir hitam tersebut, yaitu menghubungkan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pemilik Hp itu.

Makanya jawaban seorang pengguna blacberry itu lebih luas dan bermakna daripada jawaban yang dilontarkan saya, yang notabennya bukan sebagai seorang pengguna blackberry, sebagai hasil dari proses simbolisasi dalam  hidup  dan kehidupannya. Saya dengan pengguna blacberry berbeda loh!! Saya tidak pernah berusaha untuk masuk ke dunia blacberry, makanya realitas yang dihadirkan oleh blacberry tidak pernah nampak padaku. Maka benarlah juga bila witigenstein menjelaskan pengertian “Meaning is Picture”. Dibalik picture itulah sebuah realitas yang terdiri dari fakta berada.

Kemampuan simbolis manusia memang manusiawi namun nyatanya akan ada perbedaan kemampuan yang ada pada manusia. Bila benar begitu maka benar bila ada seseorang yang mengatakan: “Oleh karenanya apabila kita ingin mengetahui realitas  terdalam dari hidup dan kehidupan manusia hendaknya kita telurusi dari kemampuan simbolisnya ini”. Wittgenstein didalam kalimat hebatnya juga pernah mengatakan bahwa batas bahasaku adalah batas duniaku (Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt).  Maka benarlah bila kemampuanku untuk mejawab pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang wanita tadi terbatas pada apa yang telah saya tahu, ketidak inginan dari dalam diri menembus realita membuat saya akan menjadi seorang manusia lemah yang kalah oleh seorang pengguna blackberry yang kemampuan menjawabnya lebih bermakna daripada saya. Maka benarkah bila saya berkata, bahasa/gambar akan bermakna kalau kita mengetahui?

*Puji syukur kepada Allah Maha Mulia atas segala rizki yang selalu berlimpah padaku.
Semoga bermanfaat tulisannya yah.
Pernahkah kita sekali saja, bercengkramma mengingat darah pahlawan Islam membangun negeri ini, Pernahkah kita jujur pada diri sendiri, membuka kembali kerinduan pada masa lalu yang selalu diretakan, mereka itu meretakan seperti menggoreskan pisau pada air. 
Meluruskan kembali intisari sejarah masuknya agama Islam ke tanah air masih selalu menjadi pertanyaan dari beberapa pihak. Saya rasa bakal selalu ada pihak berlawanan didalam urusan yang satu ini, karena mungkin berpangkal dari sejarah yang berbeda maka akan berbeda pulalah apa yang mereka dapatkan sekarang ini.

Hal diatas itu merupakan sebuah keharusan bagi kita para penerus dan penganut agama Islam dinegeri seribu pulau ini. Sejatinya seorang manusia bila disajikan sejarah yang begitu gemilang maka akan timbul rasa bangga, tapi dalam prosesnya masih ada yang jahat prihal pembelokan sejarah. Bukan tidak lain hal itu dilakukan agar tidak adanya rasa suatu bangga akan perjuangan yang telah ditorehkan oleh pahlawan Islam dalam membangun negeri ini. Itulah kiranya pesan yang saya dapat didalam pembahasan pengantar didalam buku Buya Hamka yang berjudul "Dari Pembedaharaan Lama".

Saya mengira sudah banyak tulisan-tulisan mengenai buku yang ditulis oleh Buya Hamka, tetapi yang menjadi khusus ingin disampaikan disini adalah berupa pengantar awal/tulisan diawal dari beberapa bab yang diterangkan oleh Buya Hamka di buku Dari "Pembedaharaan Lama".

Dibalik semua hikmah ini, saya serasa didatangi sinar dalam gelap, untuk meniti sinar terang dalam mencintai Islam. Lewat Buya Hamka saya semakin tegar kuat dalam menganut agama Islam. Meski Buya Hamka telah tiada namun nyatanya pena yang telah ia torehkan begitu berkala sampai sekarang ini. Itulah hidup yang saya inginkan sebelum pasti meninggalkan bumi ini, saya hendak ingin meretas beberapa karya yang diharapkan berguna dan bermanfaat.

Sekilas Tentang Kerajaan Holing dan Raja Ta-Cheh

Syahdan. Pada abad ke 7 hiduplah sebuah kerajaan di daerah yang waktu itu dikenal dengan sebutan Cho-Po. Kerajaan tersebut terkenal dengan sebutan kerajaan Holing atau yang didalam sejarah kita diketahui sebagai kerajaan Kalingga. Usut punya usut menurut sejarawan asal Tiongkok bahwa Cho-po itu adalah nama lain dari Jawa, maka benarlah kalau disandingkan dengan letak kerajaan Kalingga pernah berdiri, yaitu di Jawa Timur-Pasuruan.

Agama yang dianut oleh kerajaan itu adalah agama Budha sebagaimana kerajaan I Tsing. Kehidupan pada zaman kerajaan Lingga sangatlah terkenal makmur dan sejahtera, kerajaan mereka dianugerahi kekayaan dan kedigdayaan. Sehingga pada waktu itu sampailah kedigdayaan kerajaan Kalingga yang termasyhur itu ke Raja Ta-Cheh. Bagai semerbak mawar yang tertiup angin, maka sampailah ia pada hidung.

Raja Ta-Cheh yang diketahui sebagai orang arab (Muawiyah bin Bu Sufyan) merasa tertarik dengan kabar tersebut, dan membuatnya untuk mengirim utusan untuk menyelidiki keabsahan berita yang menjadi semerbak. Diutuslah Raja Ta-cheh pada waktu itu menuju ke kerajaan Holing, Raja tersebut mendarat di pelabuhan yang kala itu bernama Bang-il. Perlu digaris bawahi bahwa kedatangan kaum Islam pada waktu itu bukan untuk menyerang, melainkan untuk berniaga dan berdagang.  (674-675 Masehi). Barangkali sudah diketahui bahwa pada kurun waktu tersebut adalah 42 tahun setelah kematian baginda Nabi Muhammad SAW.

Raja Ta-cheh kagum benar, aduhai dengan segala kemakmuran dan kesejahteraan yang ada di kerajaan Kalingga pada waktu itu. Dalam sejarah tercatat bahwa pada suatu hari Raja Ta-Cheh hendak menabur emas ditengah jalan, mungkin sebagai sebuah tes untuk menunjukan bahwa kerajaan Kalingga itu tidak tertarik dengan hal lain diluar mereka.

3 tahun lamanya emas itu bergeletak ditengah jalan, tiada orang yang bahkan memindahkannya ke samping jalan. Hingga pada suatu hari sang anak dari Ratu berkuasa, Ratu Sima, Menyepak sekumpulan emas tersebut kesamping jalan. Sehingga tercecerlah emas-emas yang begitu berkilauan dijalan.

Hal ini terdengar pulalah ke telinga sang Ratu, dan murkalah dia mendengar berita tersebut. Indikasi mengapa sang Ratu marah mungkin lebih kepada faktor ideologi kerajaan pada waktu itu dengan kemegahan dan ajaran. Hal tersebut membuat ia malu dan kecewa dengan yang dilakukan anaknya.

Sang Ratu menghukum anaknya sendiri dengan memotong kedua kakinya, meski telah beberapa kali penasihat menasihati sang Ratu untuk tidak melakukannya namun sang Ratu nampak tidak bergeming untuk memotong kedua kaki anaknya tersebut.


Hikmah Yang Bisa Diambil

Selaras dengan pengantar diatas, bahwa saya ingin meluruskan intisari sejarah masuknya Islam ke negeri Indonesia ini. Sehingga bila kita membuka kembali sejarah dengan jujur tanpa adanya pandangan yang berbeda maka akan didapat bahwa indikasi pertama kali agama Islam datang ke negeri ini bukan pada abad ke 11 seperti yang selalu didengungkan oleh para orientalis, termasuk Snouck. Melainkan abad ke 7 masehi, seperti selarasnya pernah berdiri kerajaan Kalingga di Jawa TImur-Pasuruan.

Namun Buya Hamka menyinggung juga didalam bukunya bahwa ada juga seorang ulama yang mengatakan bahwa Islam sudah masuk pada masa khilafah Utsman, sebelum Muawiyah. Hal itu diperkuat dengan sejarah yang menyatakan bahwa ketika utusan Raja Ta-Cheh tiba di pelabuhan Bang-il, mereka melihat sekelompok orang komunitas muslim.

Dengan sejarah kita bisa menelusuri buah tinta yang ditorehkan oleh nenek moyang kita, khususnya orang-orang islam. Namun ada saja mengeruak segelintir orang yang ingin menodai tinta emas yang pernah ditorehkan oleh para pahlawan Islam. Tujuan mereka adalah seperti yang melenyapkan rasa bangga akan perjuangan yang gigih melawan para orientalis (penoda).

Saatnya kita membuka mata kita jauh memandang kelicikan orang-orang berwajah dua, kita tidak mau tinta emas menjadi pudar hanya goresan yang masih bisa kita gasak menjadi hilang dan musnah.
(Cahaya Yang Hilang-Berharap Ada Terang Kembali)