ARCHIVE

Default Thumbnail


Awal mulanya terlahir, di puncak kuasa ia berada, seiring waktu goyah sampai runtuh ia bertabur.

 

Polemik penamaan Mustafa Kemal Ataturk sebagai salah satu jalan di Jakarta masih menjadi bola panas di Indonesia. Meski penamaan tersebut berangkat dari hubungan bilateral yang baik antara Indonesia dan Turki, apalagi di Turki sudah ada jalan Sukarno, akan tetapi sebagian orang melihat hal tersebut secara lain, mereka tidak mau dianggap sebagai manusia yang ahistoris


Hal ini berangkat dari sepak terjang Kemal Ataturk yang pernah merubah wajah Turki yang pada awalnya adalah kekhalifahan Islam besar menjadi sebuah negara sekuler yang kita kenal saat ini. Tidak sampai disitu, ia juga dianggap sebagai seorang pembasmi nilai-nilai Islam, baik dari segi aturan, budaya dan kehidupan sehari-hari, terakhir ia juga adalah orang yang membumi hanguskan kekhalifahan di muka bumi sampai saat ini.


Penulis sendiri, terkait hal ini, mempunyai pendapat yang setengah-setengah. Kalau ada yang bertanya apakah paham sejarah, tentu jawabannya tahu. Apalagi ini berkaitan dengan satu babakan penting sejarah peralihan. Tentu pribadi sendiri, sebagai seorang muslim, sangat terpukul melihat peradaban yang begitu megahnya harus runtuh.


Namun di sisi lain ada sebuah keniscayaan dalam sebuah peradaban. Keniscayaan tersebut adalah sebuah siklus, awal mulanya terlahir, di puncak kuasa ia berada, seiring waktu goyah sampai runtuh ia bertabur. Tak ada yang abadi bila berbicara sebuah peradaban, ada sebuah pola dialektika dalam peradaban, yang membedakannya hanya waktu saja.


Membayangkan kesultanan Utsmani awal abad 19an tentu tidak sebanding ketika mereka meenguasai dunia, katakanlah abad ke 16/17, baik dalam hal luas wilayah kekuasaanya atau kemegahan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaannya. Abad 20 Kesultanan Utsmani nyatanya seperti satu bahtera yang kayu-kayunya sudah rapuh, menunggu untuk runtuh seiring waktu. 


Adapun kita tahu bahwa faktor-faktor yang menyebabkannya bukan hanya datang dari luar saja, tetapi faktor internal juga turut mempercepat runtuhnya kekhalifahan Utsmani. Misalnya korupsi yang merajalela, pemimpin yang kurang baik, pemilihin pejabat yang tidak demokratis dan mulai berkurangnya ruh semangat juang yang pernah diajarkan Sultan Mehmed II. 


Hal tersebut menjadi sasaran empuk dunia barat yang pada waktu itu justru sedang berada pada tahapan perkembangan revolusi Industri yang mengagumkan bahkan sampai sekarang. Perkembangan tersebut menjadikan negara-negara Eropa sangat kuat, sehingga mereka bisa leluasa mencaplok wilayah-wilayah kekuasaan kesultanan Utsmani pada waktu itu. Maka tidaklah salah kalau dulu Kesultanan Utsmani ini pernah mendapat julukan "the sick man of Europe".


Pada babakan terakhir itu sosok Mustafa Kemal Pasha tidak datang ke muka secara tiba-tiba. Karir yang ia dapatkan sebelum menjadi sosok penting perubahan Turki, dibangun ketika ia remaja sampai muda. Terlebih ketika ia bergabung dengan militer, sampai menjadi pejabat militer dan bergabung dengan tokoh muda Turki yang mengusung ideologi nasionalisme. Sampai pada akhirnya momentum itu datang pada golongan Turki Muda, atau istilahnya Turanisme, pada tahun 1920an mereka mengambil alih kekuasaan Turki.


Tugas mereka pada waktu itu bisa dikatakan sangat berat, selain harus menyebarkan ideologi baru untuk warga Turki, mereka juga harus berkonsentrasi penuh terhadap pada penjajah Eropa yang pada waktu itu mulai menjarah sebagian wilayah Turki. Namun pada akhirnya Mustafa Kemal berhasil menghalau laju gerak para penjajah tersebut.


Nah untuk permasalahan selanjutnya, ketika Mustafa Kemal menjadi Presiden, memang ia berbeda dengan Sukarno. Kalau Sukarno, meski ia pernah berseteru dengan Ulama karena alasan politik, akan tetapi Sukarno masih percaya terhadap golongan agamis. Buktinya ia pernah berwasiat untuk menjadikan Buya Hamka menjadi Imam kalau dia meninggal.


Dalam pandangan penulis, untuk semua kebijakan Mustafa Kemal terhadap pemberangusan nilai-nilai Agama Islam di Turki, bahkan sampai mengasingkan keturunan Al-Fatih (para keturunan Khalifah), sangat menyayangkan sekali, ada rasa kecewa dan sedih. Meskipun begitu marilah kita serahkan hal tersebut kepada Allah, karena barangkali timbangan kita terhadap Mustafa Kemal berbeda dengan pandangan Allah SWT -Wallahu'alam. Sejahat-jahatnya Mustafa Kemal, ia juga lah yang menjadikan Turki sekarang rumah bagi para muslim yang ada disana. Biarkanlah urusan akhirat itu kita serahkan kepada Tuhan, begitu kata Haji Agus Salim. Beliau juga, terkait dengan Mustafa Kemal ini, menambahkan lagi dengan berujar:


Ia menghadapi timbangan dan balasan Toehan dengan membawa djasanya dan dosanya. (dalam Soeara Rajat, 03 Desember 1938)

 

Renungan Semata: Mereka Yang Terinspirasi dan Berkabung


Barangkali untuk urusan memperjuangkan sebuah bangsa, kita harus sedikit berterima kasih kepada Mustafa Kemal. Karena, tidak bisa dipungkiri, banyak golongan muda yang kelak menjadi para pahlawan kita, khususnya mereka yang ada pada generasi 1930an, terinspirasi oleh pergerakan Mustafa Kemal Ataturk. Sebut saja, Sukarno, Haji Agus Salim, Nasution dan lain-lain. Jiwa zaman yang diusung oleh Mustafa Kemal, untuk memperkenalkan wajah Turki baru, selaras dengan situasi dan kondisi negeri Indonesia yang pada waktu itu sedang berjuang melawan penjajah Belanda.


Bahkan setelah kematian Mustafa Kemal, banyak surat kabar di Indonesia yang mengabarkannya. Dari beberapa surat kabar tersebut, isi dan muatan tulisannya berisikan perasaan, ikut berkabung atau ada juga yang mengenang Mustafa Kemal dengan perjuangannya. Seperti misal dalam Soeara Rajat, Haji Agus Salim mengulas bagaimana Mustafa Kemal berhasil membuat Turki sekan bernafas kembali dan bersiap menghadapi masa baru setelah sebelumnya sempat terseok-seok. Dalam surat kabar lainnya, yakni Mata-hari, tertanggal 22 November 1938 ada ulasan bagaimana jenazah Mustafa Kemal dihormati oleh ribuan rakyat Turki. Bahkan dalam obor masjarakat ada sebuah tulisan dengan berjudul:


"Turki berkaboeng! Kemal Ataturk - Bapak Toerki Mangkat. Seloereoh Alam Islam Kehilangan Kramat Besar". (dalam Obor Masjarakat, November 1938)


Keramat besar yang dimaksud oleh penulis tidak lain adalah sebuah julukan bagi seseorang yang berhasil membawa perubahan di Turki, dari yang tadinya menjadi sebuah negeri ejekan menjadi sebuah negeri pujian. Sejak saat itu turki mempunyai wajah baru, yang banyak orang katakan, sebagai negara modern. Kemal Ataturk berperan sebagai bapak Turki, makanya ada nama Ataturk sebagai pujian atas segala perjuangannya terhadap Turki baru. Dalam surat kabar Perantaraan Kita, 22 November 1938, ada ulasan menarik terkait peran Kemal Ataturk dalam merubah Turki menjadi negara Modern.


Setidaknya kita pun telah sedikit mengerti bahwa ada dua gelombang yang merespon terhadap penamaan jalan Mustafa Kemal di Jakarta. Itu adalah hal yang wajar, tapi biarlah hal tersebut seakan satu bahtera kapal yang sedang berlayar, meski diterpa dua gelombang di sampingnya, ia tetap melaju, menuju cakrawala baru di hadapannya.

“ For the inhabitants affirm, out of their chronicles, how in this very town of Lampon there was anciently a factory of merchants, established by the Queen of Sheba, whereof one, named Nausem, sent her a great quantity of gold, which she carried to temple of Jerussalem, as such time as she went to visit the wise king Solomon”


Pengantar


Kutipan diatas berasal dari sebuah buku yang mengkisahkan salah seorang penjelajah Portugis pada abad ke-16an. Buku yang ditulis dengan judul The Voyages and Adventures of Ferdinand Mendez Pinto ini memuat seluruh perjalanan yang dilakukan Pinto kala itu dari Portugal ke India, Turki, Goa, Malaka bahkan di Jawa dan termasuk ketika ia berada di Sumatra.


Di ceritakan dalam buku tersebut bahwa selain melakukan perjalanan ke wilayah Asia, Pinto juga acapkali mencatat deskripsi keadaan masyarakat atau Khazanah mengenai nama-nama Raja di tempat-tempat, yang ia kunjungi.


Misalnya ada sebuah penjelasan terkait perang Kesultanan Achem atau Aceh dan orang-orang Batas (sekarang kita kenal dengan orang Batak) ketika Pinto berada di Samatra. Pinto juga dikatakan pernah bertemu dengan orang-orang yang masih mempunyai kebiasaan memakan daging manusia atau kanibal yang kemungkinan masih berada di wilayah Batas (koreksi bila penulis salah).


Namun yang membuat penulis penasaran adalah adanya catatan mengenai sebuah kronik yang mengatakan bahwa terdapat sebuah pabrik kuno di Lampon (Lampung) yang didirikan oleh Ratu Saba, salah satunya Nausem.


Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa pernah satu waktu pabrik ini secara berkala mengirimkan emas kepada Ratu Saba dengan kualitas terbaik sebagai persiapan ketika Ratu Saba akan menghadap Raja Sulaiman.


Secara historis memang benar bahwa pada zaman dahulu daerah Sumatra pernah dikenal sebagai penghasil emas terbaik di dunia. Ketenaran ini bahkan sampai terdengar kebelahan penjuru dunia.


Dalam sumber India, di prasasti Nalanda (abad 8 M), dikatakan bahwa Sumatra ini mempunyai nama lain yakni Suvarnadvipa yang berati pulau emas. Sumber lainnya dari Tiongkok, lewat biksu terkenal yang pernah menetap di Palembang, I-tsing menyebut Sumatra dengan nama Chin-Chou atau tanah emas.


Bahkan dikatakan pula bahwa Sumatra telah dikenal oleh orang Yunani pada abad ke 2 dengan nama Tapobrana. Maka dari semua sumber di atas tentu poin utamanya adalah Sumatra pernah menjadi pulau penghasil emas yang banyak, maka dari itu bangsa-bangsa lain datang untuk berkunjung ke tempat ini.


Pendapat Mengenai Ratu Saba Di Indonesia

Sumber lebih lengkap mengenai keberadaan Ratu Saba di Sumatra sebenarnya masih menjadi sebuah misteri yang layak untuk ditelusuri. Apakah hal tersebut hanya sebuah folklore atau cerita rakyat yang waktu itu sedang berkembang atau bahkan hanya sebuah kebohongan yang diutarakan oleh Pinto?


Sejauh bacaannya yang penulis ketahui, kiranya ada beberapa orang yang meyakini bahwa Ratu Saba bahkan dengan kerajaannya itu berasal dari Nusantara. Diantara kebanyakan ilmuwan klaim yang diajukan terpusat pada toponimi.


Seperti halnya pendapat Ridwan Saidi yang pernah mengejutkan publik masyarakat Indonesia kemarin-kemarin. Ia mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya itu adalah kerajaan fiktif. Ia lebih percaya bahwa prasasti yang menjadi dasar bukti adanya kerajaan Sriwijaya merupakan peninggalan kerajaan Islam melayu.


Bahkan lebih jauh lagi, ia mengatakan bahwa jauh sebelum Islam datang ke Palembang, ajaran tauhid telah masuk kesana, melalui Ratu Saba. Bukti yang ia ungkapkan adalah adanya tempat ritual ibadah yang saat ini dikenal dengan Sabokingking.


Pendapat lain yang kayanya lebih banyak memberikan penjelasan datang dari seorang yang bernama Fahmi Basya. Seperti halnya Ridwan Saidi, sosok Fahmi Basya juga sempat menjadi perbincangan karena pendapatnya yang mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri Saba yang hilang.


Diantara pendapat yang ia utarakan adalah adanya nama Wonosobo, dinistbatkan pada Ratu Saba, berserta penjelasannya dan nama Sleman, dinisbatkan pada Nabi Sulaiman, yang ada di daerah Jawa tengah.


Sumber lawas lainnya datang dari Marignolli (seorang pelaut sekaligus penjelajah asal Italia) pernah singgah di Jawa, tempat yang ia yakini adalah negeri ratu Saba. Di Sumatra sendiri, khususnya di dearah Minangkabau, terdapat Hikayat yang berjudul “Hikayat Puti Belukih” dimana isi dari hikayat tersebut erat berkaitan dengan tokoh ratu Balqis (Saba) dan Nabi Sulaiman.


Sebenarnya sosok Ratu Saba ini telah menjadi legenda dunia. Keberedaannya bisa dikatakan ada dimana-mana. Bukan hanya orang Indonesia saja yang mempunyai klaim terkait kerajaan Ratu ini, orang-orang Jepang juga mempunyai keyakinan bahwa Ratu Saba (Makeda) itu berada di daerah pegunungan yang ada di Jepang. Orang Yaman pun mengatakan bahwa dahulu terdapat seorang ratu yang melakukan perjalanan ke Utara (Jerussalem) untuk menemui seorang raja dan sebagainya.


Hikmah Yang Bisa Dipetik


Sudah banyak diketahui bahwa Nusantara ini merupakan pulau yang kaya akan kekayaan alamnya dan rempah-rempahnya. Inilah yang menjadi daya tarik pelaut-pelaut dari bangsa lain pada zaman dahulu dalam mengarungi Asia jauh. Terlepas dari kronik tadi, hikmah yang bisa dipetik dari tulisan ini adalah dengan merenungi bagaimana dahulu kala Nusantara merupakan negeri yang kaya raya. Tidak seperti sekarang, simbol kaya raya tersebut hanya menjadi sebuah romantisme sejarah yang hanya bisa disanjung semata. Tapi dalam kehidupan nyata masyarakatnya saat ini seolah-olah hidup dalam kemiskinan.


Wallahu a’lam bi shawab.


Nb: Bagi teman-teman yang ingin mengunduh Ebook buku Adventures of Mendez Pinto, silahkan komentar dibawah dengan menyertakan email aktif.


Cogan, Henry. 1897. The Adventures of Mendez Pinto. Amerika: Cornell University. Hal 47.