ARCHIVE

Default Thumbnail



Dari semenjak kemarin pikiran saya diselimuti suatu bongkahan besar yang menghalangi pandangan untuk berjalan lebih jauh lagi. Bongkahan itu seolah telah menjadi suatu keniscayaan bahwa bagaimanapun besarnya, saya harus tetap melewatinya, dengan cara apapun. Perasaan ini sebenarnya tidak bermula pada titik kebertemuan saya dengannya kemaren, namun hal yang seperti ini telah ada terjadi jauh sebelum bongkahan yang benar-benar besar ini membuat saya sedikit untuk berpikir lebih mendalam.

Bagaimana saya dihadapkan pada suatu permasalahan yang sebenarnya tidak pelik, namun menjadi pelik karena memang konsep ini seolah suatu keniscayaan yang selalu terjadi pada zaman sekarang. Dimana pada waktu saya mencoba untuk menyuarakan pemikiran-pemikiran yang pada hakikatnya itu ingin mengembalikan hal yang terlalu jauh ternyata menjadi sebuah pandangan orang bahwa saya suka mencomooh! Bila hal itu benar demikian adanya maka saya pantas untuk menggelengkan kepala dan memutar ulang pikiran agar bisa mengatasinya. Mengatasi suatu permasalahan yang ditimbulkan atas rasa yang tak bersalah.

Padahal apa yang saya lakukan adalah untuk sedikit memberitahukan bahwsanya kalau yang namanya pandangan itu bisa membuat kita terlena tanpa sedikitpun melihat bagaimana keadaan yang sebenarnya sedang terjadi. Selang beberapa hari kemudian saya terus berpikir untuk menemukan sebuah solusi, tapi sampai sekarang saya belum benar2 bisa membuat semua teratasi. Walaupun demikian saya akan tetap konsisten dengan apa yang saya selalu tanamkan dari dalam diri.

Usaha Mengkritik Angin

Bagaimana mungkin bisa seorang manusia mengkritik angin? Jawabannya subjudul diatas hanyalah kiasan. Pemahaman angin dalam konteks ini adalah penempatan suatu pandangan yang mempunyai sifat seperti angin. Ia bebas berkehendak kemanapun ia pergi, tanpa adanya suatu tempat baginya untuk menetap. Pergerakan angin selalu membuat proses yang berkelindan, dengan meninggalkan tempat yang satu ketempat yang lain.

Yang demikian itulah yang terjadi ketika saya mencoba untuk mengenalkan suatu jalan - yang menurut  pandangan saya bisa mencerahkan – pada beberapa orang mengenai prihal budaya dengan segala konsepnya. Sekarang telah didapati apa yang saya bicarakan dalam konteks ini adalah budaya.

Saya tidak akan mengurai panjang mengenai definisi budaya dan sejarah perkembangannya sampai sekarang, namun saya ingin melihat konteks budaya setelah tahun 1920 ketika revolusi industri, urbanisasi dan informasi telah sedikit merubah dan menjadikan proses kehidupan berada lebih mudah daripada sebelumnya. Ketika itu pula suatu gejala nampaknya telah membuat manusia kehilangan suatu sisi tiang yang mapan yang banyak didendangkan oleh pemikir-pemikir semisal Raymond William, Herbert Marcuse, Marshall Mcluhan, Adorno, Neitsche, Levin, Foucault, Baudrillard dan masih banyak lagi para pemikir yang tidak bisa disebutkan disini.

Perdebatan mengenai budaya dizaman sekarang ini adalah banyak dimuati oleh wacana-wacana yang pernah dicetuskan oleh mereka. Bagaimana ada istilah budaya popular, budaya dominan, avantgrade, metanarasi, simulasi, simulakrum, hiperealitas, standarsisasi, the death of the author dan lain-lain. Sekarang ini dalam dunia akademik kita, istilah seperti ini akan selalu kita jumpai, karena bukan hanya sebuah ketetapan akademik namun ternyata realita juga sedang mengalami masa-masa istilah yang tadi disebutkan diatas.

Perdebatan mereka itu saya pahami sebagai suatu proses bagaimana manusia mencari suatu kebenaran sejati atau keberlangsungan yang mereka cari abadi dengan menggunakan yang dikritik sebagai acuan untuk mencari kesalahannya. Jadi bagaimanapun mereka mengkritik satu pemahaman sama lain, mereka sebenarnya sedang bermain dalam lingkaran yang sama. Satu pemahaman mengkritik lalu terjadilah paham modernism, ketika paham ini dinilai sudah tidak berdaya, munculah para pengkritik yang akhirnya dikenal postmodern, dan setelah itu pula kritik baru muncul lahir dari pandangan orang yang melihat satu sisi dari kacamata marxis.

Hal ini berdampak kepada kita sekarang, bagaimana kita dibuat bulat melingkar ketika ada suatu orang yang dikatakan mengkritik budaya popular, menurutnya budaya popular itu akan senantiasa mengalahkan budaya dominan, menurutnya budaya popular itu hanya mengandalkan permukaannya saja dan bla bla bla. Ketika itu pula kita akan selalu dihantui oleh kritik-kritik lainnya yang muncul dan mendera, jadi yang ada adalah saling kritik atas pemahaman pandangan masing-masing orang tanpa adanya suatu soulsi yang benar-benar bisa mencerahkan keduanya. Buktinya sampai sekarang perdebatan ini masih berlanjut. Dan bukan masalah budaya saja, aspek ini bisa kita lihat melainkan menyebar pada pandangan-pandangan lainnya semisal agamapun bisa dipahami dalam konteks diatas.

Yang sedang terjadi di Indonesia sekarang adalah persis sama dari gejala diatas, bagaimana Negeri bahari ini sedang terjangkit wabah korea. Hal-hal yang berbau korea telah merasuki generasi muda Indonesia. Yang ada dari sini saya bisa melihat suatu proses bagaimana yang sempurna dilihat oleh orang yang mendamba. Artinya yang melihat suatu yang sempurna akan senantiasa kalah dari yang dilihatnya. Mereka akan senantiasa mewujudkan dan menyangkal bila ada sesuatu yang harus diwujudkan dan disangkal.

Seorang pakar kajian budaya membagi dua bagian bagaimana suatu proses tersebut akan melahirkan apa yang Jenson katakan sebagai histeris dan terobsesi. Histeris biasanya dialami oleh para wanita yang melihat sempurna apa yang mereka dambakan, kehisterisan itu membius mereka dan hanyut pada hal-hal lain yang berada diluar kehidupannya, tidak sampai disitu kehisterisannya itu bahkan bisa membuat mereka menangis mengelu-ngelukan apa yang mereka dambakan.

Dan terobsesi biasanya terjadi pada laki-laki yang melihat sempurna dan sesuai dengan apa yang mereka idamkan, obsesinya itu terkadang mampu menanamkan rasa percaya diri bagi mereka sehingga muncul motivasi untuk melakukan hal yang sedikitnya serupa dengan apa yang mereka lihat sempurna. Kesuksesan SMASH mungkin menjadi suatu bukti bahwasanya mereka adalah laki-laki yang terobsesi oleh apa yang mereka lihat cocok dan bagus. Pada selanjutnya kebesaran media akan sedikit ikut campur dengan mengorbitkan kesuksesan-kesuksesan Girlband.

Dari proses keduanya tersebut saya ingin menambahkan bahwa kelak hal ini pula yang akan menjadi pegangan mereka untuk menyangkal bilamana ada segelintir ataupun kebanyakan orang yang akan mencibir mereka. Ideologi mereka telah tertanam pada apa yang mereka pahami dan rasakan, seperti pada kedua proses tersebut.

Dan buktinya ketika mereka muncul kepermukaan diranah musik Indonesia, tak sedikit orang yang mengkritik mereka, mulai dari kualitas, penampilan dan bahkan kuantitasnya. Kritikan pun muncul dari musisi Indonesia itu sendiri. Saya kira tidak haruslah saya menyebutkan semua namun beberapa orang rasanya harus disebutkan disini. Hal ini guna untuk menjaga kestabilan saya dalam merangkai kata selanjutnya. Diantara mereka yang mengkritik itu adalah Piyu, Tangga dan Tipe-X. Sebenarnya Piyu, Tangga dan TipeX itu hanyalah sebagian dari kebanyakan orang yang mengkritik boyband dan girlband di Indonesia tapi masih ada kebanyakan orang yang mencibir mereka.

Sayapun salah seorang yang sedikit kesal dengan perkembangan boyband dan girlband yang sudah sedemikian rupa tercipta. Namun telah saya katakan tadi, bahwasanya kekesalan saya nampaknya telah terotomatis bisa dihalangi oleh suatu keniscayaan. Ketika saya ingin mengkritik bagaimana pada akhirnya suatu praktik budaya – yang telah terbumbui - ini akan bermuara, telah ada dari bagian mereka yang bilang saya adalah pencomooh saja, saya dikata oleh mereka lebih baik perbaiki diri sendiri saja sebelum mengkritik orang lain. 

Disatu sisi saya heran dan berkata “Ok aku setuju, tapi kalau pendapatmu itu tidak lebih hanya sebuah kepalsuan, saya tidak akan menuruti apa yang kamu mau. Karena jawaban itu adalah jawaban kosong yang lahir dari suatu rasa yang tak terpikirkan.” Dan jawaban itu pulalah yang akan senantiasa sama dengan maksud Raymond William, Adorno ataupun Marcuse, baudrillard, foucalt dalam definisi istilah yang mereka ciptakan; ‘Definisi budaya, Berdamai dengan kapitalis, manusia satu dimensi, citra, hiper, dsb.’

Lingkaran Kritik Suatu Pemahaman


Kedatangan suju ke Indonesia merupakan puncak dimana orang-orang Indonesia bisa dilihat seperti seorang hamba yang mendamba sang pujaan. Bagaimana mereka sampai menangis tersedu hanya karena mereka tidak melihat secara langsung sang pujaan. Tapi biarkanlah hal itu terjadi karena kejadian tersebut mencerminkan bahwa yang tengah terjadi di Indonesia saat ini adalah seperti itu.

Berbagai pemberitaan pun mulai ramai, dan ketika hal yang tidak ramai namun dibungkus oleh mediasi yang terus menerus maka hal itu niscaya akan membesar dan mudah menyebar. Pemberitaan yang terlontarpun benar-benar beragam, kebanyakannya adalah demam korea dan wabah korea, namun disisi lain ternyata ada juga yang memberikan informasi berbeda dari kedua tersebut. Hal tersebut adalah krisis budaya nasional?

Pun ketika mendengar kata krisis budaya nasional itu, kita tidak dengan mudah bisa mengidentifikasi manakah yang benar-benar budaya nasional? Karena secara historispun penetapan budaya nasional itupun banyak dikatakan telah menodai dan terlahir dari perdebatan panjang. Akan tetapi saya kesampingkan dulu pembahasan seperti ini, agar saya terfokus pada apa yang harus saya sampaikan.
Kritik melingkar sedang terjadi tepat ketika ada suatu kritikan muncul dari seorang musisi terhadap musisi lainnya. 

Yang dimaksud melingkar disini adalah bahwasanya mereka itu sama sekali akan berputar terus menerus dalam keadaan mengkritik dan dikritik. Karena perkembangan dan proses barangkali tidak berpihak kepada paham ideologi yang akan usang digantikan oleh yang benar-benar lebih fresh. Ketika Piyu, Tangga dan Tipe X ataupun pencinta musik apapun itu mengkritik kehadiran Korean pop maka yang sebenarnya terjadi disini adalah suatu pengulangan yang mungkin pernah terjadi pada perkembangan-perkembangan musik sebelum mereka. Apakah mereka bebas dari kritikan group musik sebelumnya?

Apakah kita pernah berpikir bahwa mungkin suatu hari pasar modal akan mengetahui bahwa boyband dan girlband akan redup, sehingga persiapan mereka dengan sigap melihat pasar yang sedang marak. Sedangkan dalam prosesnya musik itu adalah sesuatu yang berubah apalagi tarian, musik dari boyband/girlband sekarang pada saatnya akan mendapatkan gelar telau using bila pada prosesnya akan ada suatu proses radikalisasi untuk merombak gaya atau struktur dalam bernyanyi. Bila proses ini terexpose oleh media maka yang pasti kita tunggu adalah suatu gerakan pembaharuan dalam musik boyband/girlband yang segar dan berbeda dari yang usang/lusuh/tua. Perlu diingat lagi bahwa kesemuanya aliran musik ini di Indonesia banyak yang diimpor dari luar negeri.

Begitulah proses melingkar akan senantiasa beputar, bahwa tak ada satu yang benar-benar adiluhung pada zaman sekarang. Sebab dunia sekarang sudah banyak tersebar, pelbagai hantu-hantu yang bisa membuatmu mabuk kepayang dan terombang-ambing didalamnya.

Yang mempunyai pandangan musik yang bagus itu harus seperti ini, harus seperti itu sebenarnya harus legowo bila pada akhirnya mereka akan hanya menjadi sebuah komunitas yang dihantui oleh trend musik-musik yang baru. Saya murung karena hal ini tengah terjadi kepada saya ketika saya mempunyai pandangan Grunge adalah musik yang baik harus merelakan pada waktu dan proses bahwasanya Grunge suatu waktu - dan tengah terjadi hari ini - hanya akan menjadi sebuah komunitas saja.

Walaupun demikian saya percaya bahwa suatu hari yang sedang naik daun dalam dominasi musik di Indonesia sekarang ini pada akhirnya akan sama dengan nasib-nasib yang dialami para musisi pendahulu. Mereka mungkin bisa bertahan bahkan mungkin bisa lenyap tak berbekas, ibaratnya adalah suatu benda lusuh yang tak terpakai lagi oleh para penjual dan pendapat keuntungan.

Jikalau sudah tahu seperti ini maka yang akan terus melingkar dalam putaran sebenarnya tengah berada pada suatu proses yang tak berkesudahan. Mereka tidak berputar diam pada satu titik namun mereka berputar dengan berjalan tanpa diam pada satu tiang yang benar-benar mantap. Kita hanya akan terus mengedepankan kata-kata "pandangan" untuk menyangkal bila ada yang mengkritik dan menyiapkan dikritik atas pandangan yang berbeda karena pandangan adalah suatu yang bias kalau kita ikut terus berjalan mengikuti putaran.

*Maha Besar Allah Maha Mulia Sang Maha Pencipta Kita 
Dalam sejarah perkembangannya Science telah mencapai masa kegemilangannya dizaman sekarang. Berbagai penemuan mengenai alam, angkasa, langit dan bahtera banyak ditemukan oleh para ilmuwan yang bertahun-tahun menghabiskan waktunya untuk meneliti alam semesta.

Sejarah perkembangannya pun diwarnai berbagai macam pertentangan baik dalam wilayah keilmuan itu sendiri bahkan dalam tingkat Agama. Oleh karena itu kita mengenal sejarah Galilleo Galillei, Copernicus dan sebagainya yang pada waktu itu dikatakan telah melenceng dari ajaran agama karena apa yang ditemukan oleh mereka tidak sesuai dengan aturan agama.

Lama waktu berjalan doktrin agama kristen nampaknya semakin luntur karena berbagai gerakan dikumandangkan sebagai suatu ketidaksetujuan ilmuwan yang terkungkung oleh doktrin. Yang pada akhirnya akan melahirkan suatu istilah yang masih dikenal sampai sekarang yakni sekuler.
Namun hal ini berbeda dengan keadaan Islam dan hubungannya dengan Science. Keduanya itu seperti semisal keniscayaan yang menunggu untuk disentuh. Keniscayaan disatu sisi terletak dalam Al-Quran sedangkan waktu adalah proses manusia untuk menemukan sebagai jawaban menemu keniscayaan.

Sebagai salah satu bukti mungkin bisa kita temukan dalam penemuan para ilmuwan mengenai proses bertemunya dua air, sungai dan laut. Pertemuan antara air laut dan sungai itu seperti yang diungkap dalam buku Principle of Oceanoghraphy yang menjelaskan bahwa pertemuan antara kedua air dari arus yang berbeda ini tidak bercampur satu sama lain.
Keduanya tetap pada arus mereka masing-masing, meskipun ombak dan arus yang besar membuat arus kencang. Mari kita lihat pada gambar dibawah ini;

color splash Pictures, Images and Photos
Pada gambar diatas telah kita dapati warna yang berbeda, ketiga warna tersebut mengindikasikan arus air yang berbeda dari Atlantic Ocean, Gibraltar Sea, dan Mediterenian Sea. Ketiga arus air itu meskipun bertemu dalam satu wilayah yang sama namun ketiganya tidak bercampur sama sekali.
Fenomena seperti ini telah tertulis didalam Al-Quran Al-karim Surat Ar-Rahmaan 19-20 dan Surat Al-Furqaan 53.
 بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِمَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ
Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
Batas-batas yang dimaksud didalam maha kitab suci ini mengindikasikan terhadap keadaan air yang bertemu satu sama lain. Air sungai yang airnya lebih segar dan tidak asin bertemu dengan air laut yang asin. Pada keduanya tidak bercampur seperti yang telah diterangkan tadi karena ada suatu penghalang diantara kedua air tersebut.
وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا
Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.
Kita mungkin bertanya bagaimana proses itu terjadi? Mengapa Allah Maha Semesta Alam tidak menjelaskan secara rinci mengenai ayat-ayat diatas?

Itulah tugas seorang manusia untuk menjawabnya, karena banyak perintah Allah untuk mencari ilmu kepada manusia. Manusia adalah binatang yang berpikir dan membuat peradaban, mengembangkan keilmuan dan mencari kebenaran, dan menysukuri ciptaan Allah Semesta alam.
Jawaban dari manusia tersebut bisa diperinci dengan penemuan-penemuan ilmuwan barat yang mengatakan bahwa;
Modern science has discovered that in estuaries, where fresh (sweet) and salt water meet, the situation is somewhat different from what is found in places where two seas meet.  It has been discovered that what distinguishes fresh water from salt water in estuaries is a “pycnocline zone with a marked density discontinuity separating the two layers.”  This partition (zone of separation) has a different salinity from the fresh water and from the salt water. Mari kita lihat gambar dibawah ini;

color splash Pictures, Images and Photos

Subhanallah maha mulia sang pencipta yang telah memberikan dan mencipta alam semesta. Mencipta manusia untuk mampu mengenaliNya melewati beberapa proses yang berkelindan. Semoga kita selalu dibukakan pintu cahaya untuk selalu diberi jalan menelusuri alam semesta yang masih banyak tak dikenal. Semoga Allah Maha Mulia selalu dekat dengan kita menebar cahaya sebagai penerang, amin.
Muhammad Zaki Al-Aziz
Sebut saja aku ini, Alig! Aku adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi yang ada di kota Bandung. Aku mengambil jurusan filsafat. Selain aktif dalam pergumulan diskusi-diskusi yang diadakan dikelas, aku juga suka mengadakan diskusi antar komunitas yang dibina bersama teman-teman.

Temanya pun beragam namun tema yang paling aku senangi adalah berdebat dan berargumen tentang hakikat Tuhan dan Manusia berserta hubungannya. Terus terang aku sangat suka membaca buku-buku filsafat dari barat, sehingga ketika menjadi pembaca, akupun sadar bahwa aku hanya mengulang apa yang mereka tulis dan bukannya berpikir untuk mempertanyakan apakah maksud dari yang aku baca tadi.

Suatu hari ketika aku sedang berjalan, aku bertemu adik kelas yang sedang duduk manis ditepi jalan. Dan kebetulan tempatnya pun rindang banyak pohon sehingga teduh pun adalah tempat yang aku cari dari hingar bingarnya panas. Aku menyapanya;
  • Aku; "Hei, lagi ngapain nih disini?"
  • Dia; "Eh kakak, lagi diem aja nih ka, sambil neduh"
  • Aku; "Kalau begitu sama aku juga, boleh ikut duduk disini?"
  • Dia; "Oh ia ka boleh"
  • Aku; "Udah pulang kuliahnya?'
  • Dia; "Udah ka barusan, pusing banget ka!"
  • Aku; "Pusing kenapa gitu?"
  • Dia; "Pusing tadi diskusi tentang Tuhan"
  • Aku tersenyum dan gembira dalam hati ketika dia berbicara begitu. Dengan demikian aku akan sedikit berdebat dan mengajak dia untuk berbicara. Emmh, nih dia yang aku cari.
  • Aku: "Memangnya pusingnya disebelah mananya?"
  • Dia; "Aku tak bisa menjawab ketika salah satu teman saya menanyakan apakah Tuhan itu dan dimana Tuhan itu?"
  • Aku; "Memang akan begitu sulit kalau kita tidak bertindak dan berlagak layaknya para pemikir yang selalu bergumul tentang tuhan, dan itulah kesulitan yang selalu kita dapatkan kalau kita masih berpikir secara dangkal untuk mencari Tuhan"
  • Dia; "Wah pantesan aku kebingungan dan merasa menjadi orang bodoh nih ka! Buku apa yang menurut kakak bagus untuk direkomendasikan?"
  • Aku; "ada banyak buku yang bisa kakak tunjukan mungkin nanti aja kakak kirim lewat sms atau telpon, gimana?"
  • Dia; "Oh ia bagus ka, aku tunggu yah ka!"
  • Aku; "Tadi bagaimana keadaan diskusinya disana?'
  • Dia; "Aku denger mereka sering menyebut bahwa Tuhan itu tidak ada, ia tiada yang ada dari ketiadaan dalam keadaan yang tak pernah ada, katanya begitu ka!"
  • Aku; "Menurut kamu sendiri bagaimana tentang pernyataan tadi?"
  • Dia; "Aku susah untuk berkata pada waktu itu ka, karena aku masih mempunyai prinsip yang begitu mendasar tentang Tuhan. Apa yang aku katakan hanya Tuhan itu ada dan diyakini dalam hati namun tak terlihat oleh mata."
  • Aku; "Itu dia masalahnya, kamu tidak akan pernah bisa mengikutinya sampai kapanpun juga kalai masih terkungkung oleh hal-hal yang mendasar."
  • Dia; "Ntar kalau begitu aku sudah berdosa ka?"
  • Aku; "Engga akan koq, kalau kita memperdebatkan Tuhan berarti kita juga sedang mempertanyakan tentang keberadaan syurga dan neraka? Apakah benar tempat-tempat itu ada?"
  • Dia; "Oh ia juga yah ka." *sambil tersenyum kegirangan
  • Aku; "Ntar malam ada diskusi tentang Tuhan, mau ikutan ga?"
  • Dia; 'Dimana itu kak?"
  • Aku; "Diruang perkumpulan Komunitas "Pembiasan yang Cerah"
  • Dia; "Ampun deh ka, namanya keren banget sih, apa tidak terlalu maksa nih ka? *sambil menyindir.
  • Aku; "haha kamu bisa aja deh. Ok kalau begitu kita akan bertemu malam nanti."


Aku pun beronjak dari tempat duduk dan meninggalkan dia dikeramaian orang-orang yang berjalan kesana-kemari. Sekarang aku akan menemui teman-temanku yang sudah menungguku di basecamp untuk berbagi ilmu. Yah karena komunitasku itu selalu mencari hakikat kebenaran, maka yang menjadi fokus komunitas ini adalah hakikat kebenaran pertama yaitu Tuhan dan apa Tuhan, berasal dari mana Tuhan?

Setibanya di basecamp aku langsung menyalakan rokok dan memulai materi yang disampaikan hari ini. Dikarenakan ada suara mengajak untuk beribadah, maka kami berhenti dulu. Yang aku inginkan dari mereka adalah "Mereka harus berpikir jauh luas membentang tanpa adanya rintangan yang bisa membuat mereka bantu diparuh awal" Aku ingin mereka bisa berpikir seperti diriku yang sekarang telah terbebas dari keterkungkungan yang mendasar.

Dengan begitu aku bisa terbebas dari apapun itu kungkungan, dan dengan mudah mendapat kesenangan dunia dan karena itu pulalah mereka akan tidak terlalu tertarik melihat kepada yang tak terlihat, karena yang banyak aku ajarkan adalah bagaimana dunia ini terlihat begitu menarik dari dunia yang disebutkan tapi tak terlihat. Malam hari pun tiba, dia pun sudah tiba dibasecamp. Aku mengajaknya masuk dan duduk dengan teman-teman lainnya yang sudah ada sejak tadi.

Tak terasa waktu telah menunjukan jam 12 malam lagi, sudah 2 jam berlangsung aku memberikan materi pada teman-teman pembias cahaya. Teman-teman yang menyimak mulai terlihat tertarik dengan materi yang aku sampaikan tadi.

Setelah memberikan materi aku langsung menghampiri si dia yang selalu tersenyum kalau aku melihatnya. Dia sepertinya sudah sedikit mengerti dengan apa yang aku katakan tadi. Lama kelamaan dia benar-benar membuatku terpana tak terbayang. Malam hari ini dia tidak pulang ke kotsanna namun dia, menurut apa yang aku inginkan untuk tetap disini. Dan tak terduga aku, malam ini adalah malam yang indah bagiku karena esok hari si dia sudah menjadi milikku.

Dari malam itu si dia sering bersama denganku seperti para temanku yang juga membawa serta merta pacar yang bisa diajaknya untuk berdiskusi jauh menentang dasar. Si dia dengan kuliahnya telah mempunyai nama karena aku telah mengajarkan kepadanya melalui pikiran dan disempurnakan dengan tindakan. Karena kalau tidak berkelindan keduanya dijalankan maka akan selalu ada keraguan yang selalu dipertanyakan. 

4 bulan berlalu, komunitas pembias cahaya mendapatkan undangan dari salah satu perkumpulan memadu api dan air diseberang kota yang kami tinggali sekarang. Dan untuk mencapai pada tempat tujuan, kami harus melewati lautan yang luas, jalan yang mungkin terjal. Kami mempersiapkan semuanya dari sekarang, kami akan berangkat semuanya meskipun ada kuliah yang seharusnya harus dihadiri.

Diperjalanan aku melihat alam yang begitu luas, sangatlah tidak adil bila mengatakan dibalik langit ini ada sebuah syurga dan neraka, dibalik semua ini ada Tuhan yang berkuasa. Bagiku dunia adalah luas tak terhingga dan tak pernah berakhir. Meskipun pada waktu kecil aku berada pada periode yang mempercayainya hanya sebatas yakin, tapi sekarang berbeda. Bahkan si dia dan teman-temanku bahwa aku ini adalah orang yang anti pada hal yang tiada. hahaha memang begitulah aku!!

Kapal pun sudah berlayar setengah jalan, tiba-tiba suara dari dek memberitahukan bahwa akan ada badai yang akan menghantam kapal ini. Sontak hal ini aku benar-benar membuatku takut dan tegang. Begitupula bagi teman-teman ku semua, mereka merasakan hal yang sama padaku.

Setengah jam kemudian hal yang buruk pun benar-benar terjadi, angin mulai menampakan hujaman kerasnya, air mulai menampakan garangnya, suara seraya mengejawantahkan kemarahan semua itu dan akupun benar-benar dipenuhi ketakutan yang memuncak dan seakan tak berdaya.

Rasa ini tak pernah aku dapati, ketakutan, kebelumsiapan diriku untuk terkena musibah, ketidak terkendalian rasa yang begitu melemahkan ini benar-benar membuatku tak berdaya. Akupun mulai menangis ketakutan, meneteskan air mata dari puncak ketidak gundahan rasa, ketakutan yang melemahkan semua gerak badan bahkan jiwa. Namun alam begitu tak menyentuh sama sekali rasa takut ini.

Aku pun tertunduk dalam hati, meneteskan air mata sembari tak meninggikan hati yang telah tenggelam dalam ego. Akupun tertunduk dan berdoa dalam hati pada penguasa, aku menyadari ketidak berdayaan manusia ini yang telah sombong akan ciptanya. Aku berbeda dari apa yang aku sombongkan selama ini, ternyata hati tak begitu berani untuk membohongi jiwa raga ini. Aku memohon ampun dan berdoa pada Tuhan agar diselamatkan dalam perjalanan ini.

Keadaan semakin kacau, semua orang yang menumpang berdoa untuk keselamatannya masing-masing. Bagitu pula aku, aku menenggadahkan kepalaku dan mengangkat tangaku untuk diberi kelancaran selama perjalanan ini.

Waktupun berlalu bersama rasa tegang yang semakin hilang karena badai yang menerjang kapal ini. Aku bersyukur kapal ini tak sampai karam dibuatnya. Hati ini lega serasa terlahir kembali meskipun pertemuan yang direncanakan hari ini berlangsung tidak jadi dilaksanakan karena kapal yang kami tumpangi memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan sekarang.

Sesampainya didaratan aku, dia dan teman-temanku beristirahat sejenak ditempat tunggu. Ketika aku sedang terkulai merebahkan badan, dia dan teman-temanku bertanya kepadaku;
  • Dia; "Itceu (Nama panggilan Pacar) bagaimana perasaanmu tadi?"
  • Aku; "Ah biasa aja Tustara (nama panggilan pacar) itumah sudah biasa."
  • Dia: "Tadi aku dan teman-teman melihat Itceu seraya sedang berdoa kepada yang diatas, apakah itu itceu?"
  • Aku: "Oh itu tadi hanya meminta kepada alam agar tidak terjadi suatu yang mengerikan kepada kita!"
  • Dia: "Itceu, tapi tadi kita mendengar kamu mengatakan Tuhan dengan keras!!!"
  • Aku: "Itu hanya pengandaian saja kepada alam saja ko Tusta" *Sambil tertawa tegang
  • Dia: "Itceu, mulai sekarang aku dan teman-teman lainnya ingin mengundurkan diri dari komunitas ini!"
  • Aku: "Kenapa begitu Tustara? Kenapa begitu teman-teman?"
  • Dia: "Aku bersama teman-teman pada akhirnya tahu bahwa ada satu ruang yang hilang dari kita, yang mungkin dikembalikan kembali ketika kami ketakutan dan berada pada tahap dekat kepada kematian. Kita berdoa kepada Tuhan semenjak kapal diterpa badai. Apakah mungkin bagi kita untuk kembali sombong pada jiwa yang benar-benar tak berdaya?


Mendengar penjelasan itu, aku tak bisa menjawabnya. Aku benar-benar malu akan diriku sendiri yang berusaha untuk menyenangkan mereka agar komunitas ini tetap berjalan. Tapi merekalah jua yang pada akhirnya tak bersikap buruk daripadaku, Aku hina dan merasa bodoh!!



N egara dengan perkembangan yang memukau pada suatu aspek akan selalu melahirkan sisi yang menguntungkan baginya. Salah satu dari keuntungan tersebut bisa kita ambil contoh dengan tingkat perkembangan bahasa yang kian hari kian kaya kosakata. Bahasa yang dipakai oleh bangsa yang berkembang akan berkembang pula pada kosakata untuk pembedaharaan bahasa tersebut. Kenapa hal itu bisa terjadi?

 

Ada beberapa faktor yang bisa saya jelaskan sehubungan dengan hal ini. Faktor-faktor tersebut bisa kita lihat dari keadaan bangsa yang berkembang hubungannya dengan bangsa-bangsa lain. Dan juga mungkin bisa dilihat dari faktor kebahasaan itu sendiri. Baik saya akan memulainya dengan faktor pertama.

 

Keadaan bangsa yang berkembang dan maju dilihat dari peradaban yang selalu menyilaukan pada akhirnya akan membawa suatu porsi yang baru untuk bahasa yang mereka pakai. Seperti bahasa superior yang kita kenal sekarang - Bahasa Inggris - mengapa bahasa tersebut menjadi bahasa yang mendunia?

 

Karena bahasa tersebut berasal dari bangsa yang maju, bangsa yang pada zaman sekarang bisa dikatakan cemerlang dengan peradabannya. Orang amerika khususnya dan negara yang mempunyai bahasa ibu memakai Inggris dengan tingkat kemajuan tekhnologinya akan membawa dampak baru bagi bahasa yang mereka pakai. Salah satunya adalah penamaan baru bagi suatu benda yang mereka buat, ataupun suatu penemuan baru dari bidang-bidang manapun yang ditemukan oleh orang-orang Amerika khususnya dan negara yang berbahasa Ibu - Inggris -.

 

Banyak kosakata dari bahasa Indonesia yang meminjam dari kosakata bahasa Inggris, dan tidak menutup pula bagi bahasa Indonesia untuk dipinjam oleh mereka. Namun dalam hal ini kita akan lebih banyak meminjam kosakata dari bahasa mereka, oleh karena bahasa Inggrislah yang dizaman Elektronik ini menguasai dataran dunia maya. Mau tidak mau bahasa kita harus menyetujui bahwasanya bahasa Inggris benar-benar bahasa internasional.

 

Faktor yang kedua, yang berkaitan dengan kebahasaannya itu sendiri. Para sejarawan ataupun antropolog meyakini bahwasanya yang dominan itu akan selalu mengalahkan yang didominasi. Kenapa hal itu terjadi? Satu kita hidup dalam peradaban mereka, kita tidak bisa  menamai komputer dengan kotak ajaib, telepon dengan kotak suara ajaib, headshet, alat pendengar, laptop dengan kotak jinjing, keyboard dengan alat tulis buat komputer. Meskipun padanan katanya ada namun yang selalu dipakai oleh orang-orang adalah bahasa yang pertama kali dipakai. Lihat penjelasan kontak bahasa yang mengakibatkan peminjaman bahasa dan faktornya.

 

Masyarakat akan selalu memandang bangsa yang mempunyai peradaban yang maju dengan perasaan sempurna. Bila kita sudah berpresepsi seperti itu maka kita akan selalu meniru apa yang dilakukan pihak yang mendominasi. Semisal budaya populer korea deh kalau saya ajukan contoh. Pun yang terjadi pada bahasa orang-orang Indonesia yang kian hari kian sering menggunakan bahasa Inggris – sedikitnya pencampuran dua bahasa - sebagai bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.


Ilustrasi
Leonardo Da Vinci [LDV], sebuah nama, dibalik keterkenalannya diseluruh dunia yang terlahir bukan tiadanya alasan. Melainkan [LDV] telah menorehkan beberapa penemuan yang telah menginspirasi dunia sampai saat ini. Karya-karya yang dihasilkan oleh [LDV] tak sedikit yang menjadi sebuah pertanyaan penting, yang seolah ditujukan kepada penerus-penerus setelahnya. Kita bisa melihat bagaimana nama [LDV] banyak dipakai dan digunakan sebagai objek penarik pasaran, sebagaimana salah satu contoh [LDV] Code karya Dan Brown.

Didalam tulisan yang singkat ini, saya tidak akan melihat [LDV] dalam konteks keterkaitannya dengan apa yang diutarakan oleh Dan Brown sebagaimana ada didalam novel tersebut. Karena hal tersebut akan erat kaitannya dengan sejarah, dan sejarah membutuhkan sumber-sumber yang akurat.

Dalam tulisan ini, saya hanya ingin sedikit berbagi pikiran mengenai kebenaran seberapa hebatkah [LDV] yang dikenal oleh seluruh orang didunia? Jawaban mutlak pasti tersaji, oleh karena banyaknya karya-karya seni yang dihasilkan oleh [LDV] semisal Monalisa, The Battle of Angghiari - unknown - dsb. Selain didalam bidang seni yang - saya sendiri tak mempertanyakan kembali kehebatannya -  [LDV] juga dikenal dunia sebagai penemu hebat pada zamannya. [LDV] menemukan hal baru pada zamannya seperti baju selam, helikopter dan alat terbang. Sebagian orang mungkin akan berkata bahwa tidak ada seorangppun yang bisa melampaui zamannya, tak seorangpun yang serupa dengannya pada waktu itu.

Namun kedua contoh terakhir inilah yang pada akhirnya akan menimbulkan pertanyaan bagi orang skeptis, karena sejarah yang mungkin tidak berjalan seiringan dengan waktu telah membuat orang-orang skeptis mulai mempertanyakan kembali keshahihan [LDV] sebagai penemu dengan fakta-fakta yang dikumpulkan oleh mereka.

Leonardo Da Vinci & Renassaince


Leonardo dianggap banyak orang pada waktu itu sebagai seorang yang jenius pada zaman renaissance, dia terlahi bak diberi bakat oleh Tuhan dan Alam membimbingnya. Tak heran beberapa ilmuwan banyak yang berbicara bahwasanya [LDV] dianggap sebagai Tuhan-nya Renaissance.

[LDV] dilahirkan pada abad ke 14, tepatnya pada 15 April 1452 – meninggal di Clos Lucé, Perancis, 2 Mei 1519 pada umur 67 tahun) di Vinci, propinsi Firenze, Italia, [LDV] juga seorang arsitek, musisi, penulis, pematung, dan pelukis Renaisans Italia. Ia digambarkan sebagai arketipe "manusia renaisans" dan sebagai jenius universal. (Wikipedia)

Awal mula nama [LDV] dikenal luas oleh khalayak adalah pada waktu pemerintahan jatuh kepada Sporza, [LDV] yang sudah dikenal sebagai seniman ulung mendapatkan undangan dari raja yang berkuasa pada waktu itu, keinginan sang raja adalah untuk menghiasi istana-istana yang ada dikerajaan. Dan pada masa di kerajaan lah [LDV] bertemu dengan ahli matematika yang ia kagumi yaitu Luca Pacioli. Pertemuannya dengan Pacioli adalah suat anugerah, karena mereka berdua pada akhirnya akan melahirkan satu karya penting dari hasil kombinasi pemikiran [LDV] dan Pacioli yaitu  De divina proportione.

Ilmuwan-Ilmuwan Sebelum Leonardo Da Vinci


Sejarawan yang skpetis untuk menerima bahwa bukan hanya [LDV] orang pertama yang menciptakan penemuan-penemuan baru yang telah disebutkan diatas. Namun terdapat orang-orang sebelum [LDV] yang menginspirasi atau diketahui oleh [LDV] itu sendiri. Para Ilmuwan, sejarawan dan arkeolog dengan beberapa sumbernya menemukan bahwa memang benar adanya ilmuwan-ilmuwan serta manuskrip-manuskrip yang bisa dijadikan fakta bahwa bukan hanya [LDV] yang disebut sebagai penemu.

Tidak jauh sebelum [LDV] terlahir kedunia, telah ada ilmuwan penting yang hidup pula pada masanya, dia adalah Mariano Taccola. Sebagaimana [LDV] Taccola adalah seorang jenius yang telah melahirkan beberapa karya-karya sebagai penemuan terbaru pada zamannya. Termasuk pada karya-karya Taccola ternyata mempunyai kemiripan dengan gambar yang dilukis oleh [LDV] didalam catatannya, seperti baju selam dan alat terbang.

Meskipun kebanyakan orang berpendapat bahwa gambar yang terdapat pada catatan [LDV] lebih detail dan lebih lengkap dari gambar-gambar yang dibuat oleh Mariano taccola tapi sebagian ilmuwan mempercayai bahwa kemungkinan besar [LDV] telah terinspirasi oleh Mariano Taccola. Walaupun tidak adanya suatu bukti yang konkret mengenai hal ini tapi para ilmuwan pada akhirnya menemukan kembali fakta bahwa kemungkinan Fernando Di Geargio lah - sahabat [LDV] - yang mengenalkan karya-karya Taccola kepada [LDV] (Picturing Machines 1400-1700 - Leonardo Da Vinci Explanation)

Hal ini senada dengan yang dipublikasikan oleh tulisan mitpress bahwasanya:

    The Sienese artist-engineer Mariano Taccola left behind five books of annotated drawings, presently in the collections of the state libraries of Florence and Munich. Taccola was well known in Siena, and his drawings were studied and copied by artists of the period, probably serving as models for Leonardo da Vinci's notebooks. However, his work has received little attention from scholars and students in recent times. The author, a sculptor, has long been interested in Taccola's drawings for his studio projects. Although Taccola lacked the fine drawing hand displayed by many of his contemporaries, his inventive work may appeal especially to viewers today. Based on examination of the original drawings, the author discusses the qualities that make Taccola's drawings unique and considers what Taccola's intentions may have been in making them. (Mitpress)

Lebih lanjut lagi:

    His documents contained many designs that would influence people long after his death. Taccola had influences on many later devices, and it is believed that Taccola’s writings encouraged the construction of waterways in Siena that allowed for a supply of drinking water. It is also believed that his works influenced other great engineers including Francesco di Giorgio Martini and Leonardo da Vinci. Taccola’s works on gear systems and lifting devices are believed to have influenced the work of Brunelleschi when he designed the dome for the Florence Cathedral. (History of Science)

Dengan adanya bukti-bukti yang bisa diungkapkan oleh para ilmuwan diatas, kita bisa mengetahui bahwa mungkin ada suatu proses enkulturisasi, cerita yang menyambung, ilmu yang berjalan, yang akhirnya sampai kepada [LDV] yang ditasbihkan sebagai seorang manusia yang dikenal dunia pada saat ini.

Ilmuwan Islam Sebelum Leonardo Da Vinci 


Subjudul diatas ini mungkin akan terlihat begitu membingungkan anda sebahagian, bila benar, saya bolehkan anda untuk bertanya dikolom komentar dibawah. Tapi saya harap sebelum kebingungan anda tercurah pada kolom komentar, mungkin pembahasan singkat mengenai Ilmuwan Islam sebelum [LDV] ini akan membuat anda mengetahui jawaban untuk menghilangkan kebingungan tersebut.

Pertanyaan pertama yang harus diajukan dan dijelaskan pastinya adalah, adakah peradaban islam yang begitu megah dan mencapai puncaknya pada masa lalu. Dan jawabannya adalah ya, memang betul ada!

Islam dan peradabannya telah kita ketahui dengan baik pernah menjadi pusat dari bumi ini, artinya terdapat suatu kedigdayaan yang pernah dialami oleh Agama islam dan Peradabannya pada zaman dulu. Antara lain pada (sek. 750 M - sek. 1258 M) adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di Dunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. (Wikipedia)

Ibnu Khaldun didalam teori siklus peradaban pernah memaparkan bahwasaya keahlian atau ilmu biasanya terlahir pada masa peradaban berada pada titik jayanya. Dan itulah yang dialami oleh peradaban islam pada 750-1258, dengan banyaknya ilmu-ilmu, keahlian yang ada pada waktu tersebut.

Dari masa waktu kedigdayaan peradaban Islam diatas, muncul satu ilmuwan penting asal spanyol yaitu Ibnu Firnas. Abbas Ibn Firnas (810–887 A.D.), also known as Abbas Abu Al-Qasim Ibn Firnas Ibn Wirdas al-Takurini and عباس بن فرناس (Arabic language), was a Muslim Andalusian polymath:[1][2] an inventor, engineer, aviator, physician, Arabic poet, and Andalusian musician.[2] Of Berber descent, he was born in Izn-Rand Onda, Al-Andalus (today's Ronda, Spain), and lived in the Emirate of Córdoba. He is known for an early attempt at aviation. (Wikipedia)

Ibnu Firnas juga terkenal sebagai salah satu penemu alat terbang yang sama halnya dengan hasil karya Ferdinand Di Georgio, Mariano taccola dan [LDV]. Tapi salah satu yang membedakan Ibnu Firnas dengan mereka adalah Ibnu Firnas telah terlebih dahulu lahir dari ilmuwan-ilmuwan renessaince.

Bukan hal yang tak mungkin bahwa Ibnu Firnas dan karya-nya telah mempengaruhi orang-orang renaissance yang dikenal sebagai ketiga ilmuwan diatas. Seperti yang kita tahu bahwsanya ketika kejayaan Islam berlangsung di Spanyol, terdapat banyak sekali orang-orang non muslim yang belajar kepada lembaga-lembaga pendidikan yang ada dispanyol.

Banyak buku-buku pengetahuan yang diterjemah ulang kedalam bahasa mereka dan menjadi panduan yang dipakai berapa abad lamanya. Bahkan ada seorang ilmuwan barat yang terkenal yaitu Roger bacon yang banyak terpengaruh oleh Ibnu Firnas.

    Roger Bacon is credited with drawing a flying apparatus as is Leonardo da Vinci. Actually Ibn Firnas of Islamic Spain invented, constructed, and tested a flying machine in the 800's A.D. Roger Bacon learned of flying machines from Arabic references to Ibn Firnas' machine. The latter's invention antedates Bacon by 500 years and Da Vinci by some 700 years. (Invention by Muslim)

Didalam salah satu artikel yang ditulis oleh ilmuwan muslim - mu'alaf-  dunia pernah mengatakan bahwa:

    The American historian Lynn White digs deeper and finds that "a successful glider flight was made in the year 875 by a Moorish inventor named Ibn Firnas living in Cordoba, Spain" and furthermore, states, "It's entirely possible that word of Ibn Firnas's flight was brought to Eilmer of Malmesbury (another inventor of flight and a member of the Benedictine order) by returning Crusaders." In 1010 Eilmer then attempted to fly himself and subsequently succeeded in flying the length of two football fields using an apparatus similar to that of Firnas. And although Firnas did not leave any flight instructions for his predecessors in Andalusia, it is believed that his influence may have reached these other areas in Europe including where Eilmer lived. (FLYERS: BEFORE LEONARDO DA VINCI)

Kutipan diatas menyiratkan kepada kita bahwa Ibnu Firnas juga mempengaruhi seorang biarawan kristen yang terkenal yaitu Eilmer of Malmesbury. Eilmer menjadi terkenal karena percobaannya yang terbang memakai alat terbang buatannya melandas jauh dari atap gereja yang tingginya mencapai 25 meter dan melandas jauh 250 meter dari keberangkatannya, meskipun pada akhirnya ia harus kehilangan kedua kakinya karena lmpuh semenjak kejadian itu. Salah satu acara televisi yang selalu khusus membuat film dokumenter menyebutkan bahwa Eilmer kemungkinan besar mempengaruhi orang-orang seperti Maurino Taccola, Ferdinand De Georgio dan [LDV].

Kesimpulan dan Rekomendasi


Telah kita dapati bahwasanya terdapat suatu rangkaian yang mungkin telah menemukan pusatnya bila kita berpikir dan bergerak secara mendalam kalau berhubungan dengan sejarah. Dalam artian kita harus terlebih dahulu menanamkan sifat ingin bertanya apakah benar sejarahnya begini, atau adakah kisah lain dibelakang sejarah yang kita tonton dan kita tahu?

Begitulah ketika saya pertama kali membaca dan menonton sejarah [LDV] dan beberapa penemuannya. Yang pertama kali terbesit dalam pikiran saya adalah apakah dia benar-benar yang pertama? Apakah tidak ada ilmuwan dari kalangan muslim - yang patut kita sanjung - seperti [LDV]? Mengapa ilmuwan yang berasal dari barat juga bisa skeptis terhadap [LDV] sedangkan kita tidak? Setelah mencari tahu kebenarannya dan mencari data, sumber untuk menguatkannya sekarang saya tahu bahwa  - Abbas ibn Firnas, who made the first attempt of human flight in the 9th century, using adjustable wings covered with feathers - (1000 years of missing science)

Nah yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana caranya mengembalikan peradaban yang dahulu pernah menghampiri Islam dizaman sekarang, yang notabennya banyak dikuasai oleh orang-orang barat?