بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِمَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِDia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًاDan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.
Modern science has discovered that in estuaries, where fresh (sweet) and salt water meet, the situation is somewhat different from what is found in places where two seas meet. It has been discovered that what distinguishes fresh water from salt water in estuaries is a “pycnocline zone with a marked density discontinuity separating the two layers.” This partition (zone of separation) has a different salinity from the fresh water and from the salt water. Mari kita lihat gambar dibawah ini;
- Aku; "Hei, lagi ngapain nih disini?"
- Dia; "Eh kakak, lagi diem aja nih ka, sambil neduh"
- Aku; "Kalau begitu sama aku juga, boleh ikut duduk disini?"
- Dia; "Oh ia ka boleh"
- Aku; "Udah pulang kuliahnya?'
- Dia; "Udah ka barusan, pusing banget ka!"
- Aku; "Pusing kenapa gitu?"
- Dia; "Pusing tadi diskusi tentang Tuhan"
- Aku tersenyum dan gembira dalam hati ketika dia berbicara begitu. Dengan demikian aku akan sedikit berdebat dan mengajak dia untuk berbicara. Emmh, nih dia yang aku cari.
- Aku: "Memangnya pusingnya disebelah mananya?"
- Dia; "Aku tak bisa menjawab ketika salah satu teman saya menanyakan apakah Tuhan itu dan dimana Tuhan itu?"
- Aku; "Memang akan begitu sulit kalau kita tidak bertindak dan berlagak layaknya para pemikir yang selalu bergumul tentang tuhan, dan itulah kesulitan yang selalu kita dapatkan kalau kita masih berpikir secara dangkal untuk mencari Tuhan"
- Dia; "Wah pantesan aku kebingungan dan merasa menjadi orang bodoh nih ka! Buku apa yang menurut kakak bagus untuk direkomendasikan?"
- Aku; "ada banyak buku yang bisa kakak tunjukan mungkin nanti aja kakak kirim lewat sms atau telpon, gimana?"
- Dia; "Oh ia bagus ka, aku tunggu yah ka!"
- Aku; "Tadi bagaimana keadaan diskusinya disana?'
- Dia; "Aku denger mereka sering menyebut bahwa Tuhan itu tidak ada, ia tiada yang ada dari ketiadaan dalam keadaan yang tak pernah ada, katanya begitu ka!"
- Aku; "Menurut kamu sendiri bagaimana tentang pernyataan tadi?"
- Dia; "Aku susah untuk berkata pada waktu itu ka, karena aku masih mempunyai prinsip yang begitu mendasar tentang Tuhan. Apa yang aku katakan hanya Tuhan itu ada dan diyakini dalam hati namun tak terlihat oleh mata."
- Aku; "Itu dia masalahnya, kamu tidak akan pernah bisa mengikutinya sampai kapanpun juga kalai masih terkungkung oleh hal-hal yang mendasar."
- Dia; "Ntar kalau begitu aku sudah berdosa ka?"
- Aku; "Engga akan koq, kalau kita memperdebatkan Tuhan berarti kita juga sedang mempertanyakan tentang keberadaan syurga dan neraka? Apakah benar tempat-tempat itu ada?"
- Dia; "Oh ia juga yah ka." *sambil tersenyum kegirangan
- Aku; "Ntar malam ada diskusi tentang Tuhan, mau ikutan ga?"
- Dia; 'Dimana itu kak?"
- Aku; "Diruang perkumpulan Komunitas "Pembiasan yang Cerah"
- Dia; "Ampun deh ka, namanya keren banget sih, apa tidak terlalu maksa nih ka? *sambil menyindir.
- Aku; "haha kamu bisa aja deh. Ok kalau begitu kita akan bertemu malam nanti."
- Dia; "Itceu (Nama panggilan Pacar) bagaimana perasaanmu tadi?"
- Aku; "Ah biasa aja Tustara (nama panggilan pacar) itumah sudah biasa."
- Dia: "Tadi aku dan teman-teman melihat Itceu seraya sedang berdoa kepada yang diatas, apakah itu itceu?"
- Aku: "Oh itu tadi hanya meminta kepada alam agar tidak terjadi suatu yang mengerikan kepada kita!"
- Dia: "Itceu, tapi tadi kita mendengar kamu mengatakan Tuhan dengan keras!!!"
- Aku: "Itu hanya pengandaian saja kepada alam saja ko Tusta" *Sambil tertawa tegang
- Dia: "Itceu, mulai sekarang aku dan teman-teman lainnya ingin mengundurkan diri dari komunitas ini!"
- Aku: "Kenapa begitu Tustara? Kenapa begitu teman-teman?"
- Dia: "Aku bersama teman-teman pada akhirnya tahu bahwa ada satu ruang yang hilang dari kita, yang mungkin dikembalikan kembali ketika kami ketakutan dan berada pada tahap dekat kepada kematian. Kita berdoa kepada Tuhan semenjak kapal diterpa badai. Apakah mungkin bagi kita untuk kembali sombong pada jiwa yang benar-benar tak berdaya?
N
egara dengan perkembangan yang memukau pada suatu aspek akan selalu melahirkan sisi yang menguntungkan baginya. Salah satu dari keuntungan tersebut bisa kita ambil contoh dengan tingkat perkembangan bahasa yang kian hari kian kaya kosakata. Bahasa yang dipakai oleh bangsa yang berkembang akan berkembang pula pada kosakata untuk pembedaharaan bahasa tersebut. Kenapa hal itu bisa terjadi?
Ada beberapa faktor yang bisa saya jelaskan sehubungan dengan hal ini. Faktor-faktor tersebut bisa kita lihat dari keadaan bangsa yang berkembang hubungannya dengan bangsa-bangsa lain. Dan juga mungkin bisa dilihat dari faktor kebahasaan itu sendiri. Baik saya akan memulainya dengan faktor pertama.
Keadaan bangsa yang berkembang dan maju dilihat dari peradaban yang selalu menyilaukan pada akhirnya akan membawa suatu porsi yang baru untuk bahasa yang mereka pakai. Seperti bahasa superior yang kita kenal sekarang - Bahasa Inggris - mengapa bahasa tersebut menjadi bahasa yang mendunia?
Karena bahasa tersebut berasal dari bangsa yang maju, bangsa yang pada zaman sekarang bisa dikatakan cemerlang dengan peradabannya. Orang amerika khususnya dan negara yang mempunyai bahasa ibu memakai Inggris dengan tingkat kemajuan tekhnologinya akan membawa dampak baru bagi bahasa yang mereka pakai. Salah satunya adalah penamaan baru bagi suatu benda yang mereka buat, ataupun suatu penemuan baru dari bidang-bidang manapun yang ditemukan oleh orang-orang Amerika khususnya dan negara yang berbahasa Ibu - Inggris -.
Banyak kosakata dari bahasa Indonesia yang meminjam dari kosakata bahasa Inggris, dan tidak menutup pula bagi bahasa Indonesia untuk dipinjam oleh mereka. Namun dalam hal ini kita akan lebih banyak meminjam kosakata dari bahasa mereka, oleh karena bahasa Inggrislah yang dizaman Elektronik ini menguasai dataran dunia maya. Mau tidak mau bahasa kita harus menyetujui bahwasanya bahasa Inggris benar-benar bahasa internasional.
Faktor yang kedua, yang berkaitan dengan kebahasaannya itu sendiri. Para sejarawan ataupun antropolog meyakini bahwasanya yang dominan itu akan selalu mengalahkan yang didominasi. Kenapa hal itu terjadi? Satu kita hidup dalam peradaban mereka, kita tidak bisa menamai komputer dengan kotak ajaib, telepon dengan kotak suara ajaib, headshet, alat pendengar, laptop dengan kotak jinjing, keyboard dengan alat tulis buat komputer. Meskipun padanan katanya ada namun yang selalu dipakai oleh orang-orang adalah bahasa yang pertama kali dipakai. Lihat penjelasan kontak bahasa yang mengakibatkan peminjaman bahasa dan faktornya.
Masyarakat akan selalu memandang bangsa yang mempunyai peradaban yang maju dengan perasaan sempurna. Bila kita sudah berpresepsi seperti itu maka kita akan selalu meniru apa yang dilakukan pihak yang mendominasi. Semisal budaya populer korea deh kalau saya ajukan contoh. Pun yang terjadi pada bahasa orang-orang Indonesia yang kian hari kian sering menggunakan bahasa Inggris – sedikitnya pencampuran dua bahasa - sebagai bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.
![]() |
| Ilustrasi |
Didalam tulisan yang singkat ini, saya tidak akan melihat [LDV] dalam konteks keterkaitannya dengan apa yang diutarakan oleh Dan Brown sebagaimana ada didalam novel tersebut. Karena hal tersebut akan erat kaitannya dengan sejarah, dan sejarah membutuhkan sumber-sumber yang akurat.
Dalam tulisan ini, saya hanya ingin sedikit berbagi pikiran mengenai kebenaran seberapa hebatkah [LDV] yang dikenal oleh seluruh orang didunia? Jawaban mutlak pasti tersaji, oleh karena banyaknya karya-karya seni yang dihasilkan oleh [LDV] semisal Monalisa, The Battle of Angghiari - unknown - dsb. Selain didalam bidang seni yang - saya sendiri tak mempertanyakan kembali kehebatannya - [LDV] juga dikenal dunia sebagai penemu hebat pada zamannya. [LDV] menemukan hal baru pada zamannya seperti baju selam, helikopter dan alat terbang. Sebagian orang mungkin akan berkata bahwa tidak ada seorangppun yang bisa melampaui zamannya, tak seorangpun yang serupa dengannya pada waktu itu.
Namun kedua contoh terakhir inilah yang pada akhirnya akan menimbulkan pertanyaan bagi orang skeptis, karena sejarah yang mungkin tidak berjalan seiringan dengan waktu telah membuat orang-orang skeptis mulai mempertanyakan kembali keshahihan [LDV] sebagai penemu dengan fakta-fakta yang dikumpulkan oleh mereka.
Leonardo Da Vinci & Renassaince
Leonardo dianggap banyak orang pada waktu itu sebagai seorang yang jenius pada zaman renaissance, dia terlahi bak diberi bakat oleh Tuhan dan Alam membimbingnya. Tak heran beberapa ilmuwan banyak yang berbicara bahwasanya [LDV] dianggap sebagai Tuhan-nya Renaissance.
[LDV] dilahirkan pada abad ke 14, tepatnya pada 15 April 1452 – meninggal di Clos Lucé, Perancis, 2 Mei 1519 pada umur 67 tahun) di Vinci, propinsi Firenze, Italia, [LDV] juga seorang arsitek, musisi, penulis, pematung, dan pelukis Renaisans Italia. Ia digambarkan sebagai arketipe "manusia renaisans" dan sebagai jenius universal. (Wikipedia)
Awal mula nama [LDV] dikenal luas oleh khalayak adalah pada waktu pemerintahan jatuh kepada Sporza, [LDV] yang sudah dikenal sebagai seniman ulung mendapatkan undangan dari raja yang berkuasa pada waktu itu, keinginan sang raja adalah untuk menghiasi istana-istana yang ada dikerajaan. Dan pada masa di kerajaan lah [LDV] bertemu dengan ahli matematika yang ia kagumi yaitu Luca Pacioli. Pertemuannya dengan Pacioli adalah suat anugerah, karena mereka berdua pada akhirnya akan melahirkan satu karya penting dari hasil kombinasi pemikiran [LDV] dan Pacioli yaitu De divina proportione.
Ilmuwan-Ilmuwan Sebelum Leonardo Da Vinci
Sejarawan yang skpetis untuk menerima bahwa bukan hanya [LDV] orang pertama yang menciptakan penemuan-penemuan baru yang telah disebutkan diatas. Namun terdapat orang-orang sebelum [LDV] yang menginspirasi atau diketahui oleh [LDV] itu sendiri. Para Ilmuwan, sejarawan dan arkeolog dengan beberapa sumbernya menemukan bahwa memang benar adanya ilmuwan-ilmuwan serta manuskrip-manuskrip yang bisa dijadikan fakta bahwa bukan hanya [LDV] yang disebut sebagai penemu.
Tidak jauh sebelum [LDV] terlahir kedunia, telah ada ilmuwan penting yang hidup pula pada masanya, dia adalah Mariano Taccola. Sebagaimana [LDV] Taccola adalah seorang jenius yang telah melahirkan beberapa karya-karya sebagai penemuan terbaru pada zamannya. Termasuk pada karya-karya Taccola ternyata mempunyai kemiripan dengan gambar yang dilukis oleh [LDV] didalam catatannya, seperti baju selam dan alat terbang.
Meskipun kebanyakan orang berpendapat bahwa gambar yang terdapat pada catatan [LDV] lebih detail dan lebih lengkap dari gambar-gambar yang dibuat oleh Mariano taccola tapi sebagian ilmuwan mempercayai bahwa kemungkinan besar [LDV] telah terinspirasi oleh Mariano Taccola. Walaupun tidak adanya suatu bukti yang konkret mengenai hal ini tapi para ilmuwan pada akhirnya menemukan kembali fakta bahwa kemungkinan Fernando Di Geargio lah - sahabat [LDV] - yang mengenalkan karya-karya Taccola kepada [LDV] (Picturing Machines 1400-1700 - Leonardo Da Vinci Explanation)
Hal ini senada dengan yang dipublikasikan oleh tulisan mitpress bahwasanya:
The Sienese artist-engineer Mariano Taccola left behind five books of annotated drawings, presently in the collections of the state libraries of Florence and Munich. Taccola was well known in Siena, and his drawings were studied and copied by artists of the period, probably serving as models for Leonardo da Vinci's notebooks. However, his work has received little attention from scholars and students in recent times. The author, a sculptor, has long been interested in Taccola's drawings for his studio projects. Although Taccola lacked the fine drawing hand displayed by many of his contemporaries, his inventive work may appeal especially to viewers today. Based on examination of the original drawings, the author discusses the qualities that make Taccola's drawings unique and considers what Taccola's intentions may have been in making them. (Mitpress)
Lebih lanjut lagi:
His documents contained many designs that would influence people long after his death. Taccola had influences on many later devices, and it is believed that Taccola’s writings encouraged the construction of waterways in Siena that allowed for a supply of drinking water. It is also believed that his works influenced other great engineers including Francesco di Giorgio Martini and Leonardo da Vinci. Taccola’s works on gear systems and lifting devices are believed to have influenced the work of Brunelleschi when he designed the dome for the Florence Cathedral. (History of Science)
Dengan adanya bukti-bukti yang bisa diungkapkan oleh para ilmuwan diatas, kita bisa mengetahui bahwa mungkin ada suatu proses enkulturisasi, cerita yang menyambung, ilmu yang berjalan, yang akhirnya sampai kepada [LDV] yang ditasbihkan sebagai seorang manusia yang dikenal dunia pada saat ini.
Ilmuwan Islam Sebelum Leonardo Da Vinci
Pertanyaan pertama yang harus diajukan dan dijelaskan pastinya adalah, adakah peradaban islam yang begitu megah dan mencapai puncaknya pada masa lalu. Dan jawabannya adalah ya, memang betul ada!
Islam dan peradabannya telah kita ketahui dengan baik pernah menjadi pusat dari bumi ini, artinya terdapat suatu kedigdayaan yang pernah dialami oleh Agama islam dan Peradabannya pada zaman dulu. Antara lain pada (sek. 750 M - sek. 1258 M) adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di Dunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. (Wikipedia)
Ibnu Khaldun didalam teori siklus peradaban pernah memaparkan bahwasaya keahlian atau ilmu biasanya terlahir pada masa peradaban berada pada titik jayanya. Dan itulah yang dialami oleh peradaban islam pada 750-1258, dengan banyaknya ilmu-ilmu, keahlian yang ada pada waktu tersebut.
Dari masa waktu kedigdayaan peradaban Islam diatas, muncul satu ilmuwan penting asal spanyol yaitu Ibnu Firnas. Abbas Ibn Firnas (810–887 A.D.), also known as Abbas Abu Al-Qasim Ibn Firnas Ibn Wirdas al-Takurini and عباس بن فرناس (Arabic language), was a Muslim Andalusian polymath:[1][2] an inventor, engineer, aviator, physician, Arabic poet, and Andalusian musician.[2] Of Berber descent, he was born in Izn-Rand Onda, Al-Andalus (today's Ronda, Spain), and lived in the Emirate of Córdoba. He is known for an early attempt at aviation. (Wikipedia)
Ibnu Firnas juga terkenal sebagai salah satu penemu alat terbang yang sama halnya dengan hasil karya Ferdinand Di Georgio, Mariano taccola dan [LDV]. Tapi salah satu yang membedakan Ibnu Firnas dengan mereka adalah Ibnu Firnas telah terlebih dahulu lahir dari ilmuwan-ilmuwan renessaince.
Bukan hal yang tak mungkin bahwa Ibnu Firnas dan karya-nya telah mempengaruhi orang-orang renaissance yang dikenal sebagai ketiga ilmuwan diatas. Seperti yang kita tahu bahwsanya ketika kejayaan Islam berlangsung di Spanyol, terdapat banyak sekali orang-orang non muslim yang belajar kepada lembaga-lembaga pendidikan yang ada dispanyol.
Banyak buku-buku pengetahuan yang diterjemah ulang kedalam bahasa mereka dan menjadi panduan yang dipakai berapa abad lamanya. Bahkan ada seorang ilmuwan barat yang terkenal yaitu Roger bacon yang banyak terpengaruh oleh Ibnu Firnas.
Roger Bacon is credited with drawing a flying apparatus as is Leonardo da Vinci. Actually Ibn Firnas of Islamic Spain invented, constructed, and tested a flying machine in the 800's A.D. Roger Bacon learned of flying machines from Arabic references to Ibn Firnas' machine. The latter's invention antedates Bacon by 500 years and Da Vinci by some 700 years. (Invention by Muslim)
Didalam salah satu artikel yang ditulis oleh ilmuwan muslim - mu'alaf- dunia pernah mengatakan bahwa:
The American historian Lynn White digs deeper and finds that "a successful glider flight was made in the year 875 by a Moorish inventor named Ibn Firnas living in Cordoba, Spain" and furthermore, states, "It's entirely possible that word of Ibn Firnas's flight was brought to Eilmer of Malmesbury (another inventor of flight and a member of the Benedictine order) by returning Crusaders." In 1010 Eilmer then attempted to fly himself and subsequently succeeded in flying the length of two football fields using an apparatus similar to that of Firnas. And although Firnas did not leave any flight instructions for his predecessors in Andalusia, it is believed that his influence may have reached these other areas in Europe including where Eilmer lived. (FLYERS: BEFORE LEONARDO DA VINCI)
Kutipan diatas menyiratkan kepada kita bahwa Ibnu Firnas juga mempengaruhi seorang biarawan kristen yang terkenal yaitu Eilmer of Malmesbury. Eilmer menjadi terkenal karena percobaannya yang terbang memakai alat terbang buatannya melandas jauh dari atap gereja yang tingginya mencapai 25 meter dan melandas jauh 250 meter dari keberangkatannya, meskipun pada akhirnya ia harus kehilangan kedua kakinya karena lmpuh semenjak kejadian itu. Salah satu acara televisi yang selalu khusus membuat film dokumenter menyebutkan bahwa Eilmer kemungkinan besar mempengaruhi orang-orang seperti Maurino Taccola, Ferdinand De Georgio dan [LDV].
Kesimpulan dan Rekomendasi
Telah kita dapati bahwasanya terdapat suatu rangkaian yang mungkin telah menemukan pusatnya bila kita berpikir dan bergerak secara mendalam kalau berhubungan dengan sejarah. Dalam artian kita harus terlebih dahulu menanamkan sifat ingin bertanya apakah benar sejarahnya begini, atau adakah kisah lain dibelakang sejarah yang kita tonton dan kita tahu?
Begitulah ketika saya pertama kali membaca dan menonton sejarah [LDV] dan beberapa penemuannya. Yang pertama kali terbesit dalam pikiran saya adalah apakah dia benar-benar yang pertama? Apakah tidak ada ilmuwan dari kalangan muslim - yang patut kita sanjung - seperti [LDV]? Mengapa ilmuwan yang berasal dari barat juga bisa skeptis terhadap [LDV] sedangkan kita tidak? Setelah mencari tahu kebenarannya dan mencari data, sumber untuk menguatkannya sekarang saya tahu bahwa - Abbas ibn Firnas, who made the first attempt of human flight in the 9th century, using adjustable wings covered with feathers - (1000 years of missing science)
Nah yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana caranya mengembalikan peradaban yang dahulu pernah menghampiri Islam dizaman sekarang, yang notabennya banyak dikuasai oleh orang-orang barat?




