ARCHIVE

Default Thumbnail


Diorama SPKI
Kalau dahulu sekitar 15 tahun yang lalu sebutlah demikian, maka tepat pada hari ini media TV manapun serentak pasti akan menayangkan film yang benar-benar akan membuat kita takut sekaligus membenci kebiadaban yang dilakukan oleh PKI.

Film G 30 SPKI ini mungkin merupakan apa yang diusung pemerintahan sebagai pembelajaran untuk rakyat dan menegaskan bahwa Negara kita telah melewati sejarah yang sangat monumental sekali. Yang pada akhirnya muncul sang pahlawan yang bisa kita lihat di relief monument pancasila. Pemutaran Film itu juga barangkali bisa dibilang sebagai bentuk hegemoni kuat yang diusung pemerintahan pada era Suharto untuk memantapkan pemerintahannya yang telah berjalan sepanjang 20 tahun lebih. Kita bayangkan betapa lamanya Pak Suharto ini memegang tahta tertinggi Negara Indonesia ini.

Seiring waktu belalu dan tahun berganti nampaklah keniscayaan datang pada sejarah sebuah kepemimpinan dalam suatu Negara. Adakalanya seseorang manusia itu berada pada puncak tertinggi namun perlu diingat pula bahwa ada masanya ketika seseorang itu tiada berdaya sedikitpun ketika datang padanya masa tua.

Presiden kedua kita pun berpulang pada maha kuasa. Sisa-sisa kejayaannya memang menyisakan beberapa hal bagi kita; ada yang negatif namun adapula yang positif. Tak perlulah saya berbicara panjang lebar dari keduanya itu. Alasannya bukan hanya akan memakan tulisan yang panjang tapi akan memerlukan refferensi yang kuat.

Yang ingin saya soroti disini adalah sangat sederhana, yaitu ingin benar-benar tahu sejarah dibalik diorama dan relief yang ada di Museum Jakarta tersebut.

Diorama dan Relief; Hendak Ingin Jujur Namun Tak Jua Bisa

Bila anda pergi ke museum dimana bisa menemukan diorama pembunuhan para jendral oleh PKI tersebut maka pastilah anda bakal berperasaan sama dengan saya yakni merasa ngeri melihat semua itu, merasa tak mampu menahan emosi yang marah pada sejarah. Benar-benar keji dan biadab apa yang dilakukan oleh mereka yang benar-benar membunuh para jendral tercinta kita.

Namun setidaknya hal ini telah menjadi momok yang menakutkan selama saya masih duduk di bangku SD sampai SMA Akhir. Sekarang perasaan tersebut bertolak belakang dengan perasaan pada waktu itu, oleh karena beberapa refferensi yang banyak saya baca ternyata terdapat suatu masalah yang seharusnya menjadi pertanyaan penting untuk dijawab.

Saya sempat bertanya pada diri sendiri, yang jahat dibalik kekejaman ini semua siapa? Apakah PKI dan Gerwani benar-benar dengan keji melakukan ini semua untuk melukai Indonesia? Atau ada suatu konspirasi yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin hendak menguasai Indonesia?

Mana mungkin Gerwani melakukan apa yang dikatakan oleh sejarah bahwasanya ketika pembunuhan itu terjadi mereka melakukan seks sambil mabuk. Sementara ketujuh jendral menderita dengan luka-luka yang dilakukan oleh anggota PKI lainnya? Torehlah kebelakang pada masa silam, latar belakang Gerwani. Siapakah mereka dan apakah tujuan mereka mendirikan Gerwani? Tak lain hanya ingin memerdekakan rakyat Indonesia. Namun naas sejarah mungkin tak berpihak pada Gerwani, karena telah terdapat beberapa catatan merah mengenai mereka yang dicap sebagai pembunuh yang keji.

Hal-hal seperti ini direka ulang kembali dan menjadi kajian yang segar ketika tampuk kepemimpinan tidak dipegang oleh Pak Suharto. Beberapa komunitas mulai mengkritisi kembali kebijakan-kebijakan pemerintahan pada zaman Suharto, beberapa lagi dengan cermat mengkaji kembali sejarah yang disajikan oleh pemerintahan Suharto. Dan tidak banyak dari mereka yang giat mencari sebuah penjelasan mengatakan banyak sekali kebohongan yang bisa kita dapatkan dari peristiwa G 30 S PKI ini.

Media dan Propaganda Massa

Dalam sebuah percaturan politik suatu negara dimanapun itu berada pasti dapat pula ditemukan peristiwa-peristiwa Propaganda untuk memulai lembaran baru. Biasanya propaganda itu dimantapkan dengan disajikannya bukti-bukti yang real, yang tak lain hanya untuk memantapkan apa yang dipesankan.

Begitulah mungkin yang telah terjadi pada waktu masa sebelum PKI dibabad habis oleh pemerintahan Suharto. Bayangkan oleh kita bagaimana propaganda tersebut mampu membuat seluruh Indonesia benar-benar mempunyai perasaan benci kepada PKI. Tak ayal sangatlah mudah untuk suatu penguasa ketika rakyat sudah dipengaruhinya menjalankan misi untuk membunuh PKI. Mungkin anda lebih tahu berapa korban pada waktu itu yang dibantai habis-habisan oleh tentara? Ada yang menyebutnya lebih dari 500.00 jiwa.

Apabila hal itu terjadi sekarang mungkin ceritanya akan berbeda lagi. Mungkin kita akan banyak melihat para pegiat HAM melakukan perlindungan terhadap Mereka ( Selingan Bro) hehe

Propaganda pun memiliki prosesnya yang sedemikian rupa. Medianya pun banyak termasuk Radio yang pada waktu itu menjadi media penting di Indonesia. ditambah poster-poster dan kalau pun kita tahu bahwasanya diorama, Film  dan relief yang sekarang masih berdiri tegak dimuseum itu termasuk juga dalam propaganda yang dilakukan oleh pemerintahan Suharto, Tanya kenapa? Tonton aja Filmnya Yuk hehe

46 pelajar di Indonesia meninggal dunia dalam kurun waktu 3 tahun. Sebabnya hanya karena konflik antara satu sekolah dan sekolah lainnya yang berujung tawuran. Akan tetapi batasan tawuran yang kerap terjadi sekarang nampaknya telah masuk pada tahap yang mengerikan dimana pada akhirnya nyawa manusia itu sendiri yang menjadi korban. Konflik yang terjadi pun beragam ceritanya namun yang pasti saya percaya bahwa suatu konflik kalau dipelihara dengan rasa konflik lagi malah akan tambah panjang ceritanya.

Berbagai faktor penyebab terjadinya pun banyak dilontarkan baik oleh pemerhati anak-anak, perlindungan anak dan bahkan pakar sosiolog pun akhirnya angkat bicara. Tentu saja mereka berbicara dari sudut pandang ilmu yang ditekuninya. Ada yang yakin bahwa faktor terpenting dari sering terjadinya tawuran adalah kurangnya peran orang tua dalam mendidik anak, faktor psikologis; bagaimana perkembangan anak dizaman sekarang ini, apalagi di Ibu kota, dan yang terakhir kali yang kerap kali disebutkan faktor terbesar adalah bagaimana faktor lingkungan membuat individu itu memaknai dirinya sendiri dalam kehidupan sosial.

Konflik tawuran antar pelajar kali ini sudahlah boleh kita sebut telah keterlaluan. Selain tidak mencerminkan prilaku yang terpuji, yang paling memilukan dari akibat tawuran ini adalah tak kuasanya melihat tetesan air mata keluarga yang mendapati anaknya telah meninggal. Sangat tidakwajar kalau dibandingkan dengan begitu konyolnya prilaku pelajar yang doyan tawuran sebagai penyebab terjadinya. Apa yang akan anda rasarakan apabila mengetahui seorang Ibu yang tercerai dari suaminya kini harus menahan sedih untuk kesekian kalinya karena anak satu-satunya yang menjadi kebangaaan telah direnggut nyawanya oleh sesama manusia yang seharusnya tak terjadi.

Ada apa dengan keadaan pelajar saat ini sehingga harga kehidupan manusia dibumi dipandang tak berharga lagi untuk mencipta kehidupan? Adalah pertanyaan mendasar bagi kita untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebelum kita akan mengetahui pula bagaimana pola kehidupan pelajar memandang manusia lain selain dirinya dalam masyarakat?

Saya tidak berusaha untuk menjawab dengan detail pertanyaan diatas. Artinya saya sendiri juga mempunyai pemahaman yang mungkin berbeda dan kurang lebih sama dari apa yang di berikan oleh para ahli sebelumnya. Saya justru ingin membuat kesimpulan dari hasil pembaca yang membaca tulisan ini lalu berbagi nasihat atau komentar. Yang mungkin pada akhirnya jawaban kita – yang akan berbeda pula – bisa sedikit membantu bagaimana menanggulanginya, amin.

2 Konflik Terjadi; Konflik Mana Yang Sewajarnya

Sekarang ini saya banyak mendapati sejumlah pemberitaan dua konflik besar yang pada akhirnya berujung kekerasan. Akan tapi kedua konflik itu berlangsung ditempat yang berbeda. Yang pertama adalah konflik yang sekarang tengah hangat menjadi pemberitaan utama sejumlah media TV dunia yakni konflik Suriah. Dan konflik yang kedua – yang juga tak kalah hebohnya – adalah konflik antar pelajar yang tengah mewarnai berita lokal di Indonesia.

Kedua konflik diatas meskipun berbeda ditinjau dari beberapa aspek namun intensitas yang ditimbulkan akibat keduanya sama yaitu kematian. Meskipun kita tahu angka kematian yang timbul akibat kedua konflik diatas sangat jauh berbeda. Tak perlulah kiranya membahas lebih lanjut tentang angka-angka tersebut. Karena yang saya ingin jelaskan lebih lanjut adalah awal hitam apa yang ada dibalik semua konflik itu terjadi?

Konflik itu pada dasarnya terjadi karena ada perbedaan. Lebih jauh lagi kalau perbedaan itu diemban oleh suatu institusi masyarakat; Suku. Adat, agama bahkan individu yang mengkolektif – yang punya tujuan tersendiri -. Maka tidak heran kalau kita banyak menemukan berita konflik antar agama, suku dan lain-lain. Kedua konflik yang terjadi baik di Suriah dan antara pelajar diatas merupakan contoh dari perbedaan yang pada akhirnya akan menimbulkan suatu pertikaian.

Setelah mengetahui bahwa perbedaan adalah yang paling mendasar dari konflik itu maka muncullah pertanyaan lantas apa yang mereka perjuangkan? Saya rasa kedua konflik diatas tidak akan terjadi selama mereka tidak memperjuangkan apa yang hendak ditujunya.

Bila dalam konflik Suriah yang sering kita dengar dari para penganalisis timur tengah mengatakan bahwa yang diperjuangkan oleh suriah adalah kehidupan yang tidak mau dibawah diktator yang monarki, meskipun pada akhirnya berimbas pula pada isu ideologi dalam islam yang berbeda (baca Sunni dan Syiah). Artinya kekerasan yang terjadi korban tengah berjuang untuk hak-hak mereka yang selama ini dianggap tak seimbang. Rakyatpun bersatu untuk terus bertahan dan mempertahankan apa yang mereka inginkan dari gempuran tentara militer Suriah. Sehingga harga matipun mereka korbankan untuk menghancurkan kediktatoran Basar Al-Assad.

Akan tetapi dalam konflik kekerasan antara pelajar yang selama ini marak terjadi, saya masih samar untuk mencari tragedi dibalik semua. Apakah hanya dendam kesumat sehingga nyawa manusiapun dilumat? Apakah hanya dari iri yang akut kelak berakhir tragedi? Konflik sebesar apa yang terjadi terhadap pelajar sehingga harga kematianpun tak ada artinya bagi mereka yang lantas mereka dengan berani mengatakan saya puas pak! Apakah hal yang wajar kalau faktor-faktor seperti diatas menjadi apa yang mereka perjuangkan dalam tawuran sehingga membunuhpun menjadi biasa?

Yang ingin Diakui dan Ingin Bersaing

Masa remaja adalah masa dimana tingkat kehidupan manusia berada pada tahap yang paling menyegarkan. Meskipun ada jargon semakin tua semakin jadi namun tidak yang tua semuanya menjadi-jadi koq. Semisal dalam suatu peradaban maka kita kenal dengan beberapa tahap peradaban yang selalu diusung para penggagas teori perubahan sosial klasik; Kecil, remaja, tua dan hancur. Pada saat tahap remajalah suatu peradaban itu menghasilkan tingkat kehidupan yang dominan.

Pada masa remaja pula adalah masa dimana seseorang itu hendak mencari identitas dirinya/jati dirinya mereka berada. Seorang remaja itu cenderung merasa dirinya ingin diakui didalam kehidupan sosial. Wujud kecil dari pencarian mereka adalah dengan mengikuti suatu perkumpulan atau bahkan tongkrongan biasa, atau bahkan juga Gangster sampai kepada komunitas-komunitas sebagai pelampiasan apa yang selama ini hendak dicarinya.

Saya biasa menyebut mereka yang ingin diakui dan lantas menemukan tempatnya dengan sebutan individu yang mengkolektif. Yang perlu diwaspadai disini adalah berada pada pihak manakah rasa keinginan mereka yang menginginkan statusnya diakui itu dilampiaskan? Syukur-syukur kalau mereka berada pada tingkat kekolektifan yang berujung pada sisi positif. Namun akan berujung berbahaya banget apabila mereka salah menempatkan dirinya pada suatu kumpulan individu yang mempunyai tujuan yang tak dikehendaki oleh sebahagian orang.

Tidak semua para pelajar itu suka dengan tawuran, yang suka tawuran itu hanya sebagian. Itu artinya pelajar yang suka tawuran itu adalah mereka yang mempunyai tujuan yang sama yang tidak dikehendaki oleh pelajar yang lainnya dalam satu sekolah. Bagaimana mungkin niat awal berangkat kesekolah untuk mencari ilmu terselip dalam pemikiran mereka untuk menyimpan cerulit/martil hingga panah dalam sebuah tas?    

Senggol Maaf → Senggol bacok Bro!

Kalau dulu mungkin "Senggol punten"  kalau sekarang mungkin sebagian akan melakukan "Senggol Bacok". Tidak adanya lagi perasaan damai tanpa pedang harus dipertanyakan kembali. Kekerasan bukanlah satu-satunya jalan keluar untuk mengakhiri masalah. Banyak teladan kita yang patut dicontoh untuk urusan seperti ini.

Dicurigai hilangnya perasaan damai tanpa perang adalah suatu ketentuan kodrati manusia ala definisi Thommas Hobbes. Ia tidak semua setuju dengan pendapat Aristoteles yang menghendaki kedamaian akan dicapai dalam kehidupan sosial karena Hobbes meyakini bahwa justru dalam kedamaian itu terbesit sejarah menakutkan perang antara manusia dan manusia dan akan selalu terjadi seperti itu. Tepatnya adalah manusia bagi Thommas Hobbes adalah serigala bagi manusia lainnya.

Dalam pikiran pelajar yang senang tawuran mungkin bisa kita temukan 3 ketetapan yang menjadi dasar bagi pandangan Hobbes tentang manusia yakni; persaingan, setelah itu mempertahankannya dan menunjukan superioritasnya. Apabila individu yang terkolektifkan itu sudah masuk pada tahap seperti ini mereka selalu mempunyai ideologi bahwa baik adalah subjek keinginan dan buruk adalah subjek pengelakan. Artinya bagi mereka tawuran adalan jalan terakhir untuk mendapatkan apa yang ditujunya. Sebaliknya apabila mereka tidak melakukannya sama sekali mereka telah mengelak dan menjadi yang terelakan.

Pelajar yang seperti ini telah dirasuki racun yang mematikan bagi diri dan diri yang terkolektifkan. Dengan perasaan yang ingin diakui oleh lingkungan tempat ia tinggal maka mereka berani untuk mempertaruhkan nyawa dengan tawuran. Yang seperti ini mungkin menganggap dirinya memang tengah berada pada apa yang ia dapatkan dari hasrat yang telah menemukan pengakuannya tersebut. Ia mengganggapnya sebagai hal yang wajar karena ia telah menemukan apa yang selama ini ia cari.

Alhasil akan sangat mengerikan sekali kalau hal ini dibiarkan tanpa adanya sebuah solusi dan janganlah heran kalau tawuran ini akan menyebar pada tempat-tempat lainnya. Karena tak kerap kekerasan yang masih dalam tahap strutktural akan meledak akhirnya pada tahap kekerasan antar fisik satu sama lain.
  

Yang Harus Dicatat Kedepannya

Kedua kekerasan yang sedang terjadi seratus persen harus segela diselesaikan. Kita semua tidak ada yang mau melihat jerit manusia yang kehilangan sanak saudaranya hanya karena sifat manusia yang salah akan hidupnya. Kita semua ingin perdamaian karena perdamaian adalah keadaan semua damai tentram dan makmur. :D

Tapi kita juga harus menyadari bahwa keinginan Nabi Adam untuk hidup di surga telah dikhianati oleh iblis yang bersama-sama berjanji setelah turunnya Nabi Adam untuk senantiasa mengajak kepada kebajikan. Didunia ini akan ada selalu kebaikan dan keburukan sampai pada akhir kiamat.

Rakyat Suriah seharusnya menjadi yang dilayani oleh pemerintah tapi yang terjadi akhir-akhir ini rakyat menjadi lawan pemerintah dalam situasi keadaan seperti perang. Penyelesaiannya mau tak mau keinginan rakyat setidaknya menjadi pertimbangan bagi pak Basar Al-Assad sebagai pemimpin Suriah untuk mundur dari jabatanya. Mau apa jadinya kalau Presiden negerinya sendiri membantai rakyatnya sendiri?

Sedangkan untuk tawuran, pelajar itu adalah calon pemimpin masa depan bangsa. Mereka di didik untuk menjadi seorang figur yang mantaf dan berilmu. Pada tangan merekalah kelak tonggak penting suatu kenegaraan akan tetap berlangsung.

Oleh karena itu perlulah disadari dan catat dalam benak kita semua bahwa untuk menyelamatkan bangsa ini mau tidak mau kita harus pula menyelamatkan proses regenerasi yang berkala. Kita semua berkewajiban sama untuk menyelesaikan permasalahan tawuran antar pelajar agar tidak merembet pada sekolah-sekolah lain.

Banyak yang harus kita lakukan secara bersama-sama untuk membantu pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan ini. Karena usaha-usaha perdamaian untuk mengakhiri konflik kekerasan ini pun sudah dibuat oleh mereka yang seharusnya memang perlu untuk membuatnya.

Pesan Thomas Hobbes mungkin bisa menjadi pesan penting untuk dilakukan bahwa haruslah ada suatu kontrol yang bisa mengarahkan manusia didalam kehidupan sosial. Dan mungkin apa yang dikatakan Hobbes ini adalah hal yang paling dasar dari jawaban kenapa selalu pedang terlebih dahulu yang berkata bukannya sikap dan kata2. Dan kontrol sosial yang dimaksud adalah Agama?

Agama yang saya tahu semuanya mengajarkan kita untuk berbuat kebaikan, saling menghormati antar keluarga, teman dan sesama manusia. Tidak mengajarkan kita untuk saling memaki, mencela sampai membunuh. Karena yang seperti itu akan mendapatkan balasan yang mengerikan dari Sang pencipta kita Allah Maha Mulia. Sumber dari ketakutan yang tiada terlihat itu adalah landasan bagaimana seseorang itu berbuat dalam batas-batas yang dianjurkan dan begitulah Hobbes mewanti-wanti dalam bukunya.
Pelecehan yang dilakukan oleh Nakoula Basseley Nakoula terhadap tokoh paling sentral agama Islam, Nabi Muhammad SAW telah menimbulkan suatu keadaan yang sebetulnya tiada dikehendaki oleh semua jiwa.

Berbagai kecaman datang dari berbagai pihak dengan alasan-alasan tertentu diantaranya ada yang mengatakan karena ada rasa kekecewaan pada doktrin demokrasi yang salah satunya menghormati antar umat beragama dan di pihak lain yang tak dikehendaki pun muncul terhadap respon atas kaum muslim yang marah sehingga banyak menimbulkan konflik baru yang tak berkesudahan, mungkin.

Kiranya masih ingat dalam benak bagaimana waktu itu kita pernah mengalami masa yang menegangkan ketika Amerika, tengah menghadapi perang dengan Negara timur - Irak. Awal mula pada masalah tersebut tidaklah bisa terlepas dari dunia media yang penuh dengan propaganda. Apa yang ditampilkan dalam media itu seolah-olah adalah kenyataan yang benar-benar fakta, sedangkan kenyataannya kita sedang berada dalam dunia yang terkotakan.

Kita tak pernah tahu keadaan sebenarnya yang terjadi kala itu ketika perang antara Amerika dan Irak. Perlu digaris bawahi bahwa saya tidak mendeskriditkan kedua belah pihak namun saya lebih tertarik pada efek yang ditimbulkan setelah keadaan perang itu berkecamuk dalam sebuah tayangan media massa.

Media mempunyai sejarah tersendiri dalam dunia politis yang tak terlihat jernih secara kasat mata. Bagaimana Nazi menggunakan radio sebagai alat propaganda, Suharto jua sama, dan sekarang kalau kita teliti bahwasanya dibalik layar kaca yang sedang anda tonton itu pemiliknya adalah salah seorang politisi yang mempunyai tujuan tertentu! Maka sedikit benarlah bahwa media sekarang ini bisa disebut sebagai kekuatan baru Trias politica.

Respond dari kedua pihak yang sedang berpihak pada akhirnya menjadi sebuah arena konflik yang akan terus bersitegang. Pemberitaan citra muslim yang banyak tak selaras dengan keadaan sebenarnya menjadi bom waktu yang bisa menimbulkan kemarahan. sebaliknya pemberitaan media atas tindakan umat muslim yang penuh dengan kekerasan menjadi sebuah bom waktu terhadap pihak barat untuk melancarkan beberapa serangan balik.

Sehingga kesalahan bertindak atas kekerasan dalam ranah ideologi pun terealisasikan kepada sejumlah orang muslim yang bermukim di Negara Barat. Ada orang yang diculik, wanita yang mudah dikenali sebagai seorang muslim didorong hingga jatuh dan sebagainya. Hal ini menjadi bukti bahwa pemberitaan telah menjadi sebuah pemicu bagaimana kekerasan terjadi.

Bukan tidak mungkin bahwa kejadian ini dijadikan dasar politik bagi golongan orang yang bermaksud untuk mengambil suatu keuntungan. Beberapa ilmuwan pun dengan analisisnya berkata demikian, bahwasanya ada tali hubungan antara kejadian ini dengan pemilu AS yang akan berlangsung tidak lama lagi. Mungkinkah kalau pembunuhan atas Kedubes dan diplomat AS di Libya menjadi sebuah alasan Amerika mengeluarkan kebijakan baru terhadap Negara Libya Khususnya dan muslim pada umumnya?

Dengan keadaan yang seperti demikian disebutkan diatas mau tidak mau perdamaian hanya khayalan belaka, mengakhiri konflik hanya dengan konflik sahaja malah menimbulkan suatu konflik baru. Tak ada yang bijak dalam menyelesaikan suatu permasalahan ini berarti tak ada perdamaian yang selama ini dicari.

Bukanlah manusia bila ia tidak merasa tergerak untuk terus mencari sebuah solusi yang banyak mengorbankan nyawa manusia. Berbagai cara meskipun tak banyak menyentuh keadaan nyata banyak dilakukan oleh mereka para pejuang yang selalu mendendangkan perdamaian. Salah satu dari berjuta pionir perjuangan perdamaian adalah Rendra. Memilihnya bukan tanpa alasan melainkan dalam puisi Rendra tersebut saya mempunyai pengalaman sama yang diwakilkan pada sebuah puisi oleh sastrawan besar Indonesia, Almarhum W.S Rendra.

Dari Rendra Untuk Perdamaian Dunia

Rendra adalah salah satu maestro sastrawan yang pernah dimiliki oleh Indonesia dan dunia. Jiwa dan raganya banyak menjadi pengalaman perwakilan abadi yang tak pernah dilupakan oleh beberapa generasi setelahnya. Berbagai pemikirannya yang kritis tak jarang menjadi sebuah puisi yang begitu menawan hati dan menyejukan jiwa.

Jiwa menggelora dengan semangat memperjuangkan dan perjuangan yang ada pada Rendra memang banyak ditemukan dalam berbagai karyanya. Namun dalam tulisan kali ini dengan sangat menyesal saya hanya mengambil salah satu puisi yang pernah ditulis oleh beliau yang judulnya “Dengan Kasih Sayang”. Meskipun saya hanya mengambil satu karya sahaja namun saya yakin bahwa satu karya ini mampu menjadi sebuah pengunggah perdamaian kalau dimaknai dan dihayati dengan seksama oleh pembaca.

Dalam puisi tersebut kita bisa melihat bagaimana seorang sastrawan mampu berpikir dan menuangkan peristiwa yang berlangsung secara berkala. Dengan pengalaman perwakilannya, pesan yang ada pada puisi tersebut bisa dibilang melampaui pada zamannya.

“Dengan kasih sayang, kita simpan bedil dan kelewang, Punahlah gairah pada darah”.

Perkembangan kehidupan  pada zaman modern barangkali banyak mempunyai warna tersendiri untuk diceritakan. Akan tetapi wacana yang paling penting disinggung dalam dunia akademisi adalah apa yang disebut kekecewaan manusia modern yang dijanjikan mendapatkan pencerahan pada perkembangan tekhnologi ternyata disatu sisi menimbulkan suatu kekuataan kelam yang bisa memusnahkan seluruh umat manusia  itu sendiri.

Bila bedil yang bicara maka kita lihatlah bagaimana Nazi dengan pembantaiannya, kita lihat pula bagaimana pembantaian atas nama PKI di Indonesia dan yang tentu lebih besar lagi adalah perang dunia yang tidak sedikit memakan korban. Kemanakah kasih sayang yang diinginkan Rendra? Apakah sudah tidak ada lagi kasih sayang yang bisa mencegah perang tersebut berhenti? Jawabannya ada meskipun kedatangannya mungkin sedikit terlambat yaitu setelah bom Hiroshima dan Nagasaki meluluh lantahkan, memporakporandakan kehidupan manusia.

Sebenarnya tak ada yang menginginkan hal yang memilukan diatas terulang kembali dimasa sekarang. Namun dengan melihat keadaan sekarang yang banyak diwarnai konflik-konflik, khususnya yang melibatkan konflik agama yang berakhir dengan kerusuhan. Seperti peristiwa pelecehan Nabi Muhammad SAW dan kartun Nabi Muhammad akhir-akhir ini. Bukan tidak mungkin apa yang diramalkan oleh Huttington itu terbukti benar.

Bagaimanakah seharusnya kita sebagai khalifah dimuka bumi untuk menyelesaikan semua ini? Dan jawaban yang paling akurat yang bisa saya berikan adalah terletak pada keyakinan pada agama. Saya percaya bahwa semua agama itu mengajarkan untuk berbuat baik sesama, menghormati sesama, melarang membunuh, dan lebih singkat lagi semua agama itu mengajarkan kebaikan.

Bagaimana kebaikan itu dilaksanakan adalah dengan bersikap lemah lembut terhadap manusia sesama yang saya tahu bersaudara semuanya. Sehingga apa yang didapat dari sikap seperti itu bukan hanya menciptakan suasana yang kita inginkan tapi juga mampu memanfaat kasih sayang yang diberikan oleh Allah dan digunakan sebaik-baiknya oleh Manusia.

“Dan sumbatkan jarimu pada mulut peletupan karna darah para bajak dan perampok. Akan mudah mendidih oleh pelor. Mereka bukan tapir atau badak, hatinya pun berurusan cinta kasih seperti jendela terbuka bagi angin sejuk”    

Suatu hari saya sempat menyaksikan dialog dari narasumber berita timur tengah di salah satu media televisi. Mendengarkan beberapa penjelasan dan argument yang dilontarkan oleh para pengamat timur tengah tersebut membuat saya ingin bertanya. Pertanyaannya sederhana namun patut saya sampaikan. Yaitu dari pemaparan yang kesemuanya mengarahkan kita untuk tidak bersikap berlebihan dalam menyikapi masalah pembuatan film The Innocent of Muslim.

Sampai kapankah batas kesabaran ini harus diterapkan untuk bersikap tegar terhadap konflik seperti ini? jawabannya sudah terjawab dengan pidato salah satu dosen saya yang mengatakan bahwa kalau kita sudah mencoba untuk meluruskan hal yang kita anggap salah dengan bersikap sewajarnya – berdialog dan berdiskusi – maka hasilnya sebaiknya kita serahkan kepada Allah Maha Mulia, bukankah Ia maha mengetahui dan berkehendak bagi Umatnya diseluruh dunia.

Kita biarkan sahajalah angin tersebut menyejukan mereka untuk merasakan perdamaian dunia. Yang terpenting kita sudah mampu membuka celah angin dari jendela yang tertutup itu! Untuk hasil yang telah kita lakukan mungkin itu urusan bagi Allah Maha Mulia. Dan mungkin itulah apa yang semestinya kita lakukan terlebih dahulu.

Keadilan Bagi Seluruh Umat Manusia

Semenjak manusia terlahir dari rahim sampai lahirnya, ia berjuang untuk mendapatkan apa itu anugerah kehidupan. Sebuah pemberian yang mulia dan takdir tertulis yang diberikan oleh Allah Maha Mulia. Hal ini tentu berlaku untuk semua manusia diseluruh bumi. Semua mempunyai kesempatan untuk mencipta kehidupan dan jalannya masing-masing.

Dengan rasa yang sama akan keberadaannya dibumi maka patutlah satu sama lain saling menjaga kehidupan yang adil. TRIBUERE SUUN CUIQE, adalah sebuah moto Yunani yang mempunyai keinginan bersama untuk hidup dalam keadilan. Dalam pancasila pun terdapat isi dari bagaimana keinginan ibu pertiwi memadukan suatu rakyat yang beragam warnanya → Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pertanyaannya sekarang seberapa jauhkah kita sudah melangkah untuk berbuat seperti itu? Apa kita pernah berdebat atau barangkali hanya sekedar chatting lintas agama untuk berdialog dan berdiskusi? Saya yakin diantara kalian pastilah banyak yang pernah melakukan hal tersebut. Dan kalau setelah itu apa yang didapat dari hasil dialog tersebut? Saya juga yakin bahwa dengan suasana diskusi yang dijalin dengan baik – bisa mempertanggung jawabkan setiap argument yang diterangkan – akan menghasilkan suatu hasil yang berbeda dibandingkan dengan merespon kekesalan terhadap perlakuan Nakoula Basseley Nakoula dengan cara yang gegabah.

“Dan terhadap penjahat yang paling laknat, pandanglah dari jendela hati yang bersih”. Saya dan umat semuslim didunia pasti merasakan hal yang sama sesudah menonton film The Innocent of Muslem itu. Saya sangat kesal dan merasa diinjak oleh karena film tersebut benar-benar membuat hati ini terpukul. Tapi serentak pertanyaan pun muncul pada diri sendiri. Lebih bagus yang mana jikalau Allah Maha Mulia menghendaki kita untuk bertemu dengan Nakoula Basseley Nakoula? Membunuhnya atau meluluhkan hatinya sehingga mungkin ia bertobat dan syukur-syukur bisa mengikuti apa yang kita yakini? Kita mendapatkan pahala jikalau ia pada akhirnya bertaubat.

Yang Terangkum Dari Kesemuanya

Kita tahu kita marah atas perbuatan Nakoula Basseley Nakoula yang melecehkan Nabi besar kita Muhammad SAW. Respon pun bermunculan dengan berbeda-beda; ada yang marah, kesal dan melakukan sikap frontal. Ada juga yang protes karena kekesalannya dengan melakukan sebuah pembelajaran lebih lanjut dengan mencari akar masalahnya terlebih dahulu. Dan mungkin adapula dari bagian kita yang tidak perduli sama sekali dengan hal ini.

Dari beberapa respon tersebut akan melahirkan konsekuensi yang berbeda-beda sesuai dengan tarafnya. Jikalau kita bersikap terlalu frontal seperti yang terjadi di Libya, saya takut situasi yang sekarang tengah terjadi malahan dijadikan alat politik yang bisa membuat orang muslim menderita. Saya tidak mau pemberitaan media menjadi sebuah bom waktu bagi orang-orang yang melihat realitas yang terkotakan tanpa tahu isi dalamnya bagaimana.

Sebaliknya apabila kita bersikap layaknya seperti pengalaman perwakilan dari Rendra, mungkin sedikit cerita akan berbeda dari respon pertama. Dari puisi Rendra tersebut saya pun mempunyai pengalaman yang sama akan tetapi perwakilannya sudahlah cukup sahaja dengan puisi Rendra yang menakjubkan ini. Yang saya sebut dengan malampaui zamannya adalah bagaimana seorang sastrawan mampu meneropong permasalah mendasar yang sering terjadi dalam kehidupan manusia. Dan Rendra mendapatkannya!

Semua Agama termasuk Islam mengajarkan kita untuk berbuat kebaikan. Dari hal ini kita telah berbuat suatu perjanjian primordial terhadap Allah Maha Mulia. Kita sebagai khalifah tentunya harus bisa memelihara dan menyeimbangkan bumi dengan sebaik-baiknya.

Jika ada yang salah dari apa yang kita yakini maka kita bisa untuk bersikap lembut terlebih dahulu untuk meresponnya. Mengajaknya lalu merangkul dengan jalan sebaik-baiknya akan menjadi lebih baik dari sikap yang gegabah. Coba bayangkan kalau ada seorang yang dahulu selalu menghina kita secara syara, dan kita dengan sikap sebijak-bijaknya tak melawannya dengan sikap keras. Tapi tak menutup kemungkinan untuk melakukan hal seperti ini kalau memang sudah keterlaluam. Namun dengan cara lembut dan bersabar, bukankah kita juga tahu bahwa batu yang keraspun akan berlubang hanya dengan air yang menetes. Menetes itulah yang saya artikan sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Dengan sikap sabar atas apa yang dilakukan orang yang menghina kita dan mengajaknya untuk sedikit berdiskusi mungkin akan membuat hati mereka luluh.

Perdamaian dunia adalah mimpi semua manusia. Manusia yang mana yang menodai keinginan mulia ini?

Dengan kasih sayang Kita simpan bedil dan kelewang Punahlah gairan pada darah Jangan! Jangan dibunuh pada lintah dara Ciumlah mesra anak jadah tak berayah Dan sumbat jarimu pada mulut peletupan Karena darah para bajak dan perompak Akan mudah mendidih oleh pelor Mereka bukan tapir atau budak Hatinya pun berurusan dengan cinta kasih Seperti jendela yang terbuka bagi angin sejuk Kita sering kehabisan cinta untuk mereka Cuma membenci yang nampak rompak Hati tak bisa berpelukan dengan hati mereka, Terlampau terbatas pada lahiriah masing pihak Lahiriah yang terlalu banyak meminta Terhadap sajak yang paling utopis Bacalah dengan senyuman yang sabar Jangan dibenci para pembunuh Jangan dibiarkan anak bayi mati sendiri Kere-kere jangan mengemis lagi Dan terhadap penjahat yang paling laknat Pandanglah dari jendela hati yang bersih
(Rendra, 2007: 2)
W.S RENDRA
Sumber dan referensi
  • Gambar diundur dari Google image
  • Ahmed S Akbar, Living Islam
  • Habib Mustopo, Ilmu Budaya Dasar
  • No 2, 1994, Ulumul Quran
Dalam postingan sebelumnya saya telah sedikit menulis tentang apa itu kajian budaya? Dan kurang lebihnya kita sekarang tahu bahwa definisi budaya yang ada didalam kajian budaya itu berbeda dengan definisi budaya yang sudah didefinisikan dalam ilmu-ilmu kebudayaan (Antropologi) atau ilmu lain yang relevan. Budaya didalam ranah kajian budaya tidak dilihat seperti para peneliti mengkaji kebudayaan kuno, adiluhung, atau kebudayaan yang mempunyai nilai estetis tinggi. Karakter ini kebanyakan dimiliki oleh para antropolog yang lebih menekankan pada masyarakat yang identik dengan kesenaian dan kajian mengenai kebudayaan etnis. Suardi Hasan (2010:22).

Tetapi kebalikan dari semua itu, budaya dalam ranah Kajian budaya dilihat lebih bersifat politis, dalam arti terdapat suatu pergumulan kekinian dan tiada terlepas dari pengaruh kekuasaan. Peralihan ini tidak bisa terlepas dari perkembangan kehidupan manusia dari zaman pramodern, modern sampai postmodern. Cara pandang bagaimana manusia memaknai mereka dan kehidupan sehari-hari lambat laun telah berubah, apalagi dengan perkembangan tekhnologi yang menurut para ahli telah memberikan dampak perubahan penting bagi kehidupan manusia.

Saya lebih memahami kajian budaya dari area sejarah peralihan tersebut karena dalam kritik melingkar yang terjadi ditingkat peralihan itu para pemikirnya tidak lain adalah mereka yang menjadi pencetus kajian budaya. Dari sejarah rentetan peralihan itu setidaknya telah banyak membawa dampak penting bagi dunia filsafat waktu dulu sampai kini. Bagaimana Marx, Hegel mempengaruhi Madzhab Frankurt dalam komodifikasi, fetisisme (Bukan fetis yang porno loh hohoho), bagaimana Gramsci mempengaruhi teori yang dilahirkan Althuser – Hegemoni – bagaimana spivak dengan subalternnya, bagaimana Neitsche dianggap sebagai bibit pertama lahirnya postmodernisme dan sebagainya.

Teori-teori yang saya tulis diatas adalah teori yang ada didalam ranah kajian budaya. Sebetulnya masih banyak teori2 yang juga selalu digunakan dalam kajian budaya akan tetapi itu tadi, saya hanya sebatas tahu bahwa kajian budaya itu juga adalah bagian dari sejarah rentetan peralihan. Oleh karena itu pula kajian budaya adalah ilmu yang multidisipliner.

Sejarah Kajian Budaya

Sejarah lahirnya ilmu kajian budaya tidak akan pernah terlepas dari bagaimana lingkungan/kehidupan pada masa tertentu mempengaruhi teori yang dilahirkan oleh para pemikir-pemikirnya . Seorang pemikir takan pernah jauh dari apa yang ada dekat dengan dirinya sebelum meninggalkan jauh dari apa yang mereka diami sehari-hari. Begitu pula sama seorang sastrawan tidak akan menulis apa yang ia tak kuasai :D Sebut saja Madzhab Frankurt, siapa yang tidak kenal medzhab ini dalam ilmu budaya kontemporer? Saya yakin madzhab ini dikenal cukup baik dalam dunia akademik, karena yang dibawa mereka dalam pemikirannya telah menambah suatu khazanah keilmuan yang luar biasa berdampak penting bagi dunia akademik yang sampai sekarang masih relevan.

Madzhab Frankurt ini dikenal namanya karena pemikiran kritisnya terhadap budaya kontemporer, kritik terhadap industri budaya yang dianggapnya telah dinodai/manipulasi oleh campur tangan para penguasa. Pionir dari madzhab ini yang paling terkenal adalah Theodor Adorno, Benjamin, Herbert Marcuse, Habermas, Horkheimer dan lain-lain. Madzhab frankurt didirikan pada tahun 1923 untuk peneilitian sosial. Para pendirinya cenderun para intelektual Yahudi, bangsa Jerman sayap kiri yang berasal dari kelas atas dan menengah masyarakat Jerman. Strinarti (2000:59).

Oleh karena rezim Hitler yang pada waktu itu tidak memihak posisi mereka yang kebanyakan Yahudi, lantaslah mereka pindah ke Amerika, tapatnya di New York (oh aku ingin kesana jow). Kritik mereka tidak terlepas dari kondisi yang terjadi pada waktu itu. Perang dunia berkecamuk dengan memakan korban tak sedikit, akibat dari ulah ciptaan manusia yang disalah gunakan menjadi sebuah pencapaian kekuasaan maka mereka semena-mena dalam menggunakan tekhnologi. Kenyataannya ketika kepindahan mereka dari Jerman ke Amerika tidak membuat kepuasaan yang didamba.

Kontradiksi lain muncul sebagaimana yang kita ketahui dengan istilah kapitalisme. Perkembangan Amerika yang masih ditahap seperti tidak sekarang ini dirasakan pula oleh mereka, Madzhab Frankurt yang berada tidak jauh dari pusat kebudayaan baru yang sedang berkembang dalam basis tekhnologi mengalami langsung bagaimana dinamika penting budaya popular yang sedang berkembang di Amerika. Benar pulalah apa yang diungkapkan Ian Craib dalam bukunya (1986:276) bahwa pemandangan yang suram itu telah berubah kedalam suatu mimpi buruk: dunia sosial menjadi suatu raksasa elektronik yang meamakan anggotanya sendiri, yang memanipulasi dan menyerap setiap perlawanan yang mungkin diberikan.

Madzhab Frankurt dan Kajian Budaya

Kaitan keduanya tidak jauh seperti yang kita kira, melainkan dekat dari seperti yang tidak kita kira. Barangkali mereka seperti pencetus dan pengembang, revolusioner dan next revolusioner. Kritik yang banyak dilontarkan oleh madzhab ini berbasis pada pemikiran Marx menyangkut ekonomi dan kritik kapitalisme. Dan dengan cemerlangnya pemikiran tersebut digunakan para anggota madzhab Frankurt untuk menganalisa fenomena2 sosial yang terjadi pada zamannya mereka hidup, tapi basis utamanya sama yaitu Kapitalisme. Istilah-istilah seperti Konsumerisme budaya, fetisisme budaya, komodifikasi, individualisasis semu, kapitalisme modern, industri budaya dan musik pop akan kita jumpai dalam analisis mereka. Mereka berusaha melihat suatu kehidupan sosial pada waktu itu dengan menghubungkan produksi dan konsumsi akibat dari sistem kapitalisme yang merugikan masyarakat. Meskipun mereka tidak secara terperinci dalam mendefinisikan ilmu kajian budaya, karena kita tahu bahwa kajian budaya yang sebenarnya baru lahir di Inggris pada tahun 1960an. Namun pembuktian mereka dalam cara berpikir melihat kehidupan sosial manusia dizaman modern telah banyak memberi suatu khazanah keilmuan yang banyak. Dan bukan mustahil mereka juga mempengaruhi para pemikir selanjutnya dalam melihat budaya dan kehidupan sosial dizaman modern.

Yang Saya Tahu Dari Mereka

Yang saya tahu dari mereka adalah cara berpikir mereka yang ingin merubah sesuatu yang suram – akibat dari penyalah artian tekhnologi - yang katanya menggiurkan kehidupan manusia dimasa datang (pencerahan). Madzhab ini termasuk pada kategori pemikir postmodern. Sebagaimana Yasrif Piliang (1999) mengatakan bahwa salah seorang sosok penting dalam perdebatan mengenai peralihan modernisme ke posmodernisme adalah Adorno.

Ciri utamanya adalah yang tadi bahwasanya dalam diri mereka timbul suatu kekecewaan yang terlahir dari sikap manusia yang salah dalam menggunakan pencerahan tersebut. Semangat yang dibawa oleh Madzhab ini adalah ingin menyadarkan bahwa kita jangan senantiasa terbelenggu oleh karena kehadiran sebuah tekhnologi yang begitu canggih.

Sebaliknya mereka lebih bersikap ambiguitas karena mereka mungkin percaya bahwa kehadiran tekhnologi tidak serta merta membawa dampak yang buruk apabila digunakan secara baik-baik dan pada tempatnya.

Yang mereka kritisi habis-habisan adalah sikap manusia serakah yang selalu meracuni lalu menjajah, yang dracuni seolah tak tahu mereka sedang diredupkan dan manusia serakah mendapat keuntungan yang banyak sementara yang teracuni mendapat kesenanangan semu yang hilang bersama dengan waktu.


Beberapa hal yang harus diketahui sebelum kita benar-benar lebih jauh memahami kajian budaya adalah bagaimana kita diharuskan untuk mengerti bahwasanya dalam beberapa buku yang memuat tentang ilmu kajian budaya terdapat suatu pokok permasalahan yang harus dileburkan. Adalah kata budaya itu sendiri yang ada didalam kajian budaya ternyata berbeda dengan definisi-definisi budaya yang telah dibuat oleh para ahli.

Perbedaan tersebut tidaklah terlahir secara kebetulan, melainkan berjalan seiring perjalanan waktu dan pengembangan manusia dari zaman dahulu sampai tahap dizaman yang mencengangkan seperti sekarang - tekhnologi yang semkain berkembang -. Dampak dari implikasi perubahan tersebut sedikitnya sangat mempengaruhi bagaimana perkembangan kehidupan manusia untuk memaknai dunia yang selalu mengalami suatu pergeseran dari masa ke masa. Lalu apakah perbedaan antara kebudayaan yang telah dikenal banyak orang dengan budaya yang ada didalam kajian budaya?

Storey dalam bukunya Cultural studies dan media menyebutkan bahwa 'Budaya' dalam cultural studies lebih didefinisikan secara politis ketimbang secara estetis atau sebuah proses perkembangan estetik, intelektual, dan spritual, melainkan budaya sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari.
(Storey, 2007: 2)
Prof. Jhon Storey
Jadi apa yang telah kita kenal dengan definisi-definisi budaya yang telah lahir dari ilmu-ilmu sosial khususnya akan sangat berbeda dengan pengertian yang akan dibicarakan dalam kajian budaya.

Nampaknya sifat estetis - yang terlahir akibat kekaguman - tidak menjadi perhatian khusus bagi para pemikir yang berkecimpung dalam kajian budaya. Sebaliknya mereka lebih melihat budaya itu secara politis, artinya terdapat suatu kekeliruan yang telah terjadi pada suatu budaya tertentu yang dimarjinalkan dan harus diluruskan sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan. Hal ini dibenarkan juga oleh Jhon hartley (2004:42) yang mengatakan bahwa cultural studies (selanjutnya CS) telah mengembangkan kerangka kerja yang berusaha untuk memulihkan dan menempatkan budaya kelompok yang terlupakan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa:
Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun) adalah pria keturunan Arab yang juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar. Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu. Istri Munir, Suciwati, bersama aktivis HAM lainnya terus menuntut pemerintah agar mengungkap kasus pembunuhan ini.










Yang harus diperhatikan dari proses pengerjaan skripsi atau tulisan yang ditujukan untuk kepentingan-kepentingan tertentu adalah bagaimana kita mampu mengukur diri untuk menilai akan berapa lama proses pengerjaan itu selesai? Apakah kita bisa memenuhi waktu yang kita tentukan? Apakah kita bisa menjangkau keinginan menyelesaikan tulisan tersebut sesuai dengan kemampuan kita? Sebagian atau semua orang yang pernah mengalami hal ini pasti menginginkan proses bimbingan skripsi sesuai dan secepat yang diinginkan.

Dari pengalaman penulis - selama menjadi mahasiswa yang dibimbing - ketika mengerjakan skripsi, saya pernah dihadapi kebingungan dan kebuntuan dalam proses mengerjakannya. Beberapa faktor yang menjadi masalah yang saya alami ternyata terlahir dari kesalahan saya sendiri sebagai seorang mahasiswa. Meskipun saya sering mendengar kalimat-kalimat "Pembimbingnya kejam" tapi saya kira kesalahan mendasar itu bukan hanya terletak pada pembimbing skripsi yang jahat saja.










Kejadian sampang yang baru-baru ini mewarnai layar kaca dari pagi hari sampai dini hari benar-benar telah  menjadi buah bibir yang hangat untuk dibicarakan. Ini bukan kali pertama kita mendengar berita tersebut terjadi namun berita-berita yang serupa pun kerap selalu hadir dalam pemberitaan media TV di Indonesia.

Menyoroti fenomena yang sekarang banyak terjadi di Indonesia memang membuat kita harus mawas diri untuk selalu bertanya ada apa yang sedang terjadi di Negeri kita ini? Negeri yang katanya Gemah Ripah Loh Jinawi. Kenyataannya tak begitu sahaja tuan kalau melihat keadaan sekarang, kita lihat sajalah berita tentang kekerasan dalam bentuk masalah agama, bentrokan antara kedua suku, bentrokan antara dua kampong, bentrokan antara pemuda, bentrokan antara genk, bentrokan antara petani dan pengusaha dan masih ada bentrokan ataupun kejahatan yang sering terjadi pada umumnya.

Meskipun kita boleh bernafas lega oleh karena kejadian-kejadian tersebut tidak semua terjadi di wilayah Indonesia akan tetapi tidak menutup kemudian hal yang tidak diinginkan kelak akan terjadi diwilayah yang tidak kita kehendaki. Perubahan itu kadang kala tidak bisa terlihat dengan seksama oleh mata, seperti air yang menetes ke batu, walau ia tak sering dipandang mata kita namun  akhirnya batu itu kena akibatnya. Perubahan-perubahan itu sangatlah penting sekali untuk kita cermati bersama tuan!
Karena akibat yang terjadi apabila kita membiarkan hal itu membesar maka celakalah kita kena getahnya. Kita akan menjadi sebuah Negara yang terkotakan sehingga perpecahan pun barangkali akan menjadi suatu keniscayaan yang meledak menunggu waktu yang tepat.

Riak Disamudera Luas. Retak diBumi Samudera.

Ibnu Khaldun pernah mengatakan dalam sebuah tulisannya mengenai kehancuran sebuah Negara bahwasanya suatu kehancuran dalam Negara yang berpenduduk banyak akan senantiasa berjalan tidak secepat yang kita bayangkan melainkan secara berangsur.

Apa yang dinamakan solidaritas sosial olehnya yang tidak lain adalah sama sahaja dengan rasa kehendak bersatunya Sukarno menjadi suatu pesan penting bagi kita untuk menegakan persatuan dan kesatuan dalam menjalani kehidupan bernegara apabila kita tidak mengingkan sebuah keretakan.
Apabila hal tersebut telah Nampak pudar pada mata kita kelak sedikit demi sedikit yang tadinya permasalahan adalah hanya sebatas kuanttitas semata berubah menjadi sebuah kualitas yang patut kita perhitungkan dengan matang.

Permasalahan agama kita lihat saja sekarang, masalah yang menyangkut paut agama ini bukan main telah menjadi sajian-sajian yang selalu menjadi headlines news beberapa media besar di Indonesia. Kemarin sahaja sebelum peristiwa sampang meletus telah kita dapati permasalahan yang bersangkut pautan dengan agama yakni ketika menyangkut masalah Kepemimpinan di Jakarta, tak perlulah saya untuk menjelaskan disini secara detail.

Pun masih banyak lagi kekerasan agama baik yang berbentuk fisik ataupun berbentuk hanya berupa sindiran-sindiran dalam Tulisan yang melahirkan sebuah wacana yang luar biasa besar sekali yang menular pada prilaku-prilaku orang yang tak kritis ketika menyikapinya dalam kehidupan sehari-hari. Siapa yang tidak tahu bahwa konsumsi berita yang disajikan oleh media itu mendapat suatu tanggapan-tanggapan berbeda bagi masyarakat. Dan kian hari kian membesarlah apa yang diberitakannya tersebut. Orang mulai sinis terhadap salah satu agama tertentu.

Apabila dibiarkan dengan tidak adanya suatu tindakan yang benar-benar asli tindakan maka lihatlah suatu Negara yang sekarang tengah dilanda konflik yang hebat yang kita tahu bahwa akar permasalahannya adalah agama; tindakan semena-mena tentara Israel, tindakan semena-mena tentara Syria – yang bila dianalisis lebih jauh akan kita temukan bahwa permasalahannya ada pada kedua kubu yakni Sunni dan Syiah – dan adapulah yang kemaren sempat menjadi berita menyedihkan namun tak membuat Negara setoleransi aduhaipin berkutik yakni Permasalahan Rohingya.

Apa mau di Negara kita ini yang menginginkan hal itu terjadi? Saya rasa tuan-tuan bakal sama sependapat dengan saya, tidak setuju. Oleh karena itu kita jadikan sahaja Negara yang sedang mengalami konflik tersebut sebagai sebuah pelajaran. Saya menginkan suatu perdamaian, saya menginginkan suatu harmoni kehidupan yang didamba. 

Namun dibalik mimpi yang utopis itu saya pun harus legowo bahwa dalam sebuah sejarah proses kehidupan maka akan selalu ada yang namanya “Riak didalam samudera meski akan hilang riak itu padanya tapi kalau retak itu dibumi samuderanya tentu ceritanya akan lain lagi.”

Permasalahan yang berkaitan dengan Agama merupakan bagian dari beberapa bagian masalah yang besar di Indonesia ini. Sperti yang telah saya utarakan diatas tadi bahwa permasalahan bukan hanya terletak pada masalah agama sahaja melainkan meliputi bangsa yang mulai terpecah, terkotakan, ketidak puasan pada pemerintah, pemerintah yang korup, dan lain-lain.

Kontradiksi; Yang terlahir Akibat Berlawanan

Kita dapati sekarang permasalahan sampan sebagai sebuah pristiwa yang didalamnya mempunyai alur cerita yang benar-benar ada. Karena tak mungkin sahaja apabila peristiwa itu terjadi hanya karena omong kosong belaka. Pastilah ada sebab dibalik akibat itu.

Permasalahan yang terlahir secara sederhana adalah karena perbedaan pandangan antara kedua madzhab Agama Islam; Sunni dan Syiah. Ketika suatu perbedaanya tersebut telah mencapai batas yang tak terbendung maka muncul suatu kontradiksi, oleh karena ada suatu hal yang tidak sesuai atau ada suatu hal yang berlawanan. Mau tidak mau salah satu dari kedua golongan yang berlawanan itu akan saling bergesekan dan dalam kasus yang sekarang terjadi maka peristiwa sampangpun pasti tak terelakan.
Dan lagi-lagi kalau tidak ada suatu tindakan tegas untuk menyelesaikan permasalhan diatas - yang tidak serampangan dalam menegakan hukum – maka taka nada suatu pembelajaran yang berarti yang bisa dilakukan kelak hari.

Peristiwa macam ini mungkin akan menjadi sebuah peristiwa yang melingkar, terus menerus bergulir tanpa adanya suatu perbaikan yang mempuni. Meskipun demikian saya masih percaya terhadap pemimpin pemerintahan Indonesia yang menjungjung tinggi nilai-nilai pancasila. Untuk benar-benar mampu menyikapi dan menyelesaikan permasalahan ini khususnya dan umumnya permasalahan yang lainnya dengan sesegera mungkin. Dan kita sebagai rakyat janganlah pula ikut campur dengan memperkeruh keadaan semakin kelam, sebaliknya kita harus bisa bersikap bijaksana dengan menyikapinya.

*Silahkan berkomentar..