Aku seperti sekarang ini karena uang, uang aku habis. Untungnya aku bisa menempati yang aku tuju, sekarang saatnya mencari uangku yang kemarin habis.
Kita ini bagai pohon
Yang menghunus tanah
Menjulang tinggi menatap langit
Melebur diri dengan bumi
Seperti kita!
Pada manusia tampaklah sama
Menghunus bumi
Melebur dengan tanah
Aku sang tangkai
Dan engkau lah dedaunnya
Hidup berdampingan
Karena hakekatnya kehidupan itu berpasangan
Setiap detik, menit yang terlewati
Sehelai demi sehelai dedaunnya berguguran
Aku yang semakin tak kuat menahan beban
Dan engkau yang semakin pekat kekuning-kuningan
Aku yang mungkin telah beruban
Dan engkau mungkin jualah semakin renta
Berterbangan menyebar pada tanah
Namun belum habis pada kita suatu ketiadaan
Karena disisa menit yang ada
Sisa daun masih menempel pada tangkai
Suatu waktu mungkin badai akan menerjang
Menghantam keberadaan kita
Siagalah kita pada yang namanya kehidupan
Ini bukan dari sebuah keabadian
Adakalanya kita nanti terpisah
Aku mungkin ditebang, tercerabut dari akarnya
Engkau terlepas padaku
Berguguran dan tak bersatu
Namun itu tidak sekarang
Kita engga tahu kapan
Sekarang kita ingin berdoa
Kepada Maha Pencipta Alam
Agar senantiasa hujannya membasahi setiap lingkup kita
Terangnya menerangi setiap jalan kita
Sinarnya menghangatkan kita
Serta malam-nya kita kembali menyambung doa
Karena pada-Nya lah jiwa ini terarah
Seperti sebentar saja jiwa ini mampir pada bumi
Kita ini bagai pohon
Yang tumbuh dibimbing oleh-Nya
Kita ini bagai bermain
Yang padanya keabadian secara nyata berada
Suatu hari aku merindu menjadi tangkai penghuni syurgawi
Dan mungkin engkau akan menjadi lebih dari dedaunnya
Mungkin engkau menjadi setiap serat yang lebih dekat
Atau mungkin kita akan bersatu, semua itu kehendak yang berkuasa
Apriyanti dan Akibatnya
'Wahai Abu Qasim, apakah ruh itu?' Maka, [Nabi saw. diam, tiada menjawab sama sekali]. Dan dalam satu riwayat: Maka beliau berdiri sesaat memperhatikan), [sambil bertelekan atas pelepah kurma, sedang saya di belakang beliau 8/188]. Maka, saya berkata, 'Sesungguhnya beliau sedang diberi wahyu.' [Saya mundur dari beliau sehingga wahyu selesai turun], lalu saya berdiri di tempat saya. Ketika jelas hal itu, beliau membaca, "Yas-aluunaka'anir-ruuhi, qulir-ruuhu min amri rabbii, wamaa uutuu minal-'ilmi illaa qaliilaa" 'Mereka bertanya kapadamu tentang ruh. Katakanlah, 'Ruh itu adalah urusan Tuhanku.' Dan mereka tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit'. Al-A'masy berkata, 'Demikianlah bacaan kami.'[35] [Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, Tadi sudah kami katakan, jangan tanyakan kepadanya!'].
Rabbi qad aataytanii mina lmulki wa'allamtanii min ta/wiili l-ahaadiitsi faathira ssamaawaati wal-ardhi anta waliyyii fii ddunyaa wal-aakhirati tawaffanii musliman wa-alhiqnii bishshaalihiin[12:101] Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takbir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.
![]() |
| Sinan Koca |
Rindu Kedamaian Ilahi
Bersyukur, Berharap dan Berdoa
![]() |
| Ilustrasi |
Syahdan, dikala itu pernah hidup seorang pemimpin yang amat dzalim, dia berkuasa bak dewa penguasa bumi semesta raya. Sehingga tak pelak banyak dari pengikutnya yang bodoh mengiyakan apa yang dia katakan. Dari pengikutnya sebagian ada yang benar-benar percaya bahwa dia adalah titisan dewa, ada sebagian juga dari mereka yang takut dibunuh bila tidak percaya bahwa dia adalah titisan dewa.
Sungguh bilamana kita sedikit tersentuh untuk membuka kembali kitab suci, maka akan kita dapati suatu pelajaran yang benar-benar nyata keberadaannya. Disana kita bisa menemukan bagaimana akhir muara dari peradaban yang megah dari bangsa yang terdahulu. Disana saya bisa bertemu akhir dari kisah bangsa itu. Salah satu kisah yang paling mengena dari yang saya dapat adalah kisah seorang pemimpin yang durhaka, fir'aun.
Pada masanya yang telah habis, fir'aun karena kesombongannya yang tiada sedikitpun bergeming akan kebenaran. Dia ditenggelamkan oleh Allah Maha Mulia, Maha Raja dari Semesta Raya. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. (Al-Baqarah:50).
Fir'aun dan Kekejamannya
Kekejaman fira'un sebagai seorang pemimpin sungguh benar ada didalam kitab suci Al-quran, maka sudahkan kita sedikit menengok dan merenung dengan apa yang diturunkan oleh Allah dalam kisah yang nyata? Kekejaman fir'aun mungkin bila dirasakan sekarang sangatlah mengerikan, dia tidak menghendaki seorang laki-laki untuk tumbuh, dan lantas menyembelihnya khususnya di kalangan bani Israil.
Dia hanya membiarkan anak perempuan yang bisa tumbuh dikerajaannya. Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al:Qashas:6)
Barangkali masih banyak kekejaman yang tiada mampu dipaparkan disini seperti perbudakan yang merajalela, menindas bangsa yang lemah dan tak berdaya. Namun sungguh kita harus percaya bahwa memang benarlah adanya fir'aun adalah seorang yang diberi laknat oleh Allah Maha Mulia.
Fir'aun dan Kehendaknya
Bila pada waktu itu fir'aun mengalah pada hawa nafsunya untuk mempercayai bahwa dia bukanlah seorang dewa yang menguasai bumi dan langit, mungkin ceritanya akan sedikit berbeda. Namun dengan kehendaknya yang terus mengikuti ihwal nafsunya yang menggebu, ia mengelak dari peringatan yang nyata.
Peringatan tersebut terbukti adanya dengan adanya Nabiyullah Musa AS (Semoga Allah memberikan berkah kepadanya). Memang benarlah kuasa Allah tidak bisa kita elakan, bagaimana seorang yang memberi peringatan itu ternyata adalah seorang anak yang dulunya dipungut oleh sang ratu dari kalangan raja fir'aun, Sungguh maha kuasa Allah takan bisa ada yang tahu.
Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. (Al:Qashas:8) Dan berkatalah istri Firaun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari. (Al;Qashas:9).
Bayi tersebutlah yang dikala besarnya akan menjadi seorang pemimpin yang sangat mulia, dan mempunyai tempat yang khusus disisi Allah, sehingga benarlah bila Nabi Musa AS dijuluki dengan Kalamullah (Utusan yang berbicara kepada Allah). Nabi Musa AS kelak akan menghancurkan rezim fir'aun yang telah berkuasa dengan berbagai penindasan terhadap kaum kecil, rakyat dan yang mereka kehendaki.
Ketika sampai pada akhirnya, Nabi Musa meninggalkan kerajaan karena membunuh orang yang dzalim. Namun masih banyak orang yang menyangka bahwa dia membunuh orang baik. Sekembalinya nanti, Nabi Musa akan menghadap fir'aun dengan sudah membawa risalah ditangan.
Nabi Musa AS dan fir'aun
Nabi Musa AS sewaktu dalam perjalanan, dia membutuhkan api untuk menerangi. Ia izin hendak pergi untuk mencari api dilereng gunung. Maha Besar Allah dengan segala rahmatnya, Allah menghendaki kepada siapa saja suatu peringatan akan dibawakan. Nabi Musa mendapat pesan yang mulia dari Allah agar memberikan peringatan kepada pemimpin raja fir'aun atas segala tindakan yang keji dan kejam yang tiada memperhatikan rakyat. Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: "Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam. (Al:Qashas:30)
Dan kita tahu bahwa fir'aun dengan segala keangkuhan dan ketidak percayaannya kepada penguasa Semesta Alan, menolak risalah tauhid yang diajarkan oleh Nabi Musa AS dan Adiknya. fir'aun bahkan menganggap Nabi Musa adalah seorang penyihir yang nyata.
Begitu kerasnya hati fir'aun untuk menerima risalah yang dibawa Nabi Musa AS. Hati dia sungguh telah dirugikan oleh dirinya sendiri, dia hidup dan akan bangkit untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain.
Meskipun sudah tampak nyata adzab yang diberikan oleh Allah melalui Nabi Musa untuk fir'aun, fir'aun seakan kokoh berdiri dalam keadaan yang rapuh. Dan berlaku angkuhlah Firaun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. (Al;Qashas:39)
Fir'aun dan Akhir Penyesalan
Sudah kita ketahui bahwa akhir dari kisah fir'aun sama halnya dengan bangsa-bangsa yang membangkang akan kekuasaan Allah yang paling tinggi. Yang di Al-quran nampak benar tercatat beberapa bangsa yang dimusnahkan oleh Allah akibat ingkar kepadaNya.
fir'aun frustasi, seakan tidak mau mengalah kepada peringatan yang dibawa Nabi Musa. Dia memutuskan untuk menyerang Nabi Musa dan Bangsa Israil yang sudah keluar dari kota.
Namun naas, kehendaknya jualah yang membawa mereka kepada kehancuran yang nyata. fir'aun dan bala tentaranya ditenggelamkan oleh Allah sebagai seorang pemimpin yang tidak mau menyembah, menaati peraturan yang dianjurkan oleh penguasa Semesta Alam Raya, Allah Maha Mulia.
Fitrah seluruh manusia barangkali ketika seorang manusia didalam keadaan yang mencekam dirinya, keadaan musibah yang nyata, akan kembali mengingat kepada sang Penguasa, Allah Maha Mulia. Yang terjadi demikian itu telah nampak ada pada diri fir'aun (sang pemimpin yang dzalim).
Diakhir adzab yang benar-benar diujung tanduk, dibeberapa kejahatan seorang pemimpin terhadap rakyatnya, kejahatan, kerusakan, fir'aun menyesali semua perbuatan dan menerima apa yang dibawa oleh ajaran Nabi Musa AS. Tapi rasanya penyesalan diakhir hidup tiada akan berarti ketika beberapa peringatan yang nyata telah nampak padanya.
Maha besar Allah SWT, dengan segala kebaikannya, maka Allah mengabadikan tubuh fir'aun. Sebagai suatu peringatan bagi para pemimpin-pemimpin yang dzalim, yang tidak memperhatikan kehidupan para rakyat yang tertindas.
Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.
Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israel di tempat kediaman yang bagus dan kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Tuhan kamu akan memutuskan antara mereka di hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (Al:Qashas:90-92)
Penutup
Barangkali terdapat hikmah yang bisa kita ambil dari kisah diatas. Bagaimana Allah yang Maha Mulia tidak suka kepada pmimpin yang menyombongkan dirinya, pemimpin yang tidak memperdulikan rakyat yang tertindas, pemimpin yang tak pernah mau melihat keadaan para rakyat, pemimpin yang terus menggerus kekayaan menggunakan tangan rakyat, semua itu adalah perbuatan yang sangat keji.
Sungguh suatu peringatan yang benar nyata bagi seorang pemimpin yang berlaku sama seperti fir'aun. Hey tuan! Apakah engkau akan berubah sebelum nampak padamu adzab yang nyata? Apakah engkau akan menyesali semuanya ketika malaikat Israfil telah nampak pada mu didepan mata? Renungkanlah wahai pemimpin, janganlah engkau menyesal diakhir hayatmu telah tiba.!
Akan tetapi ini adalah hal yang nyata, yang sangat Nampak dinegeri kita tercinta, negeri Indonesia. Kenyataan ini seakan menjadi sebuah keharusan yang senantiasa berlanjut dari generasi ke generasi.









