ARCHIVE

Default Thumbnail

Dunia ini panggung sandiwara. Cerita yang mudah berubah. Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan. Yang harus kita mainkan. Ada peran wajar ada peran berpura pura. Mengapa kita bersandiwara. Mengapa kita bersandiwara. Peran yang kocak bikin kita terbahak bahak. Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang. Dunia ini penuh peranan. Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan.

Lirik diatas adalah petikan dari salah satu lagu legenda yang sangat terkenal pada waktu itu. Bila kalian belum tahu lagu apakah diatas, lagu tersebut adalah lagu yang berjudul panggung sandiwara. Lagu tersebut pertama kali dinyanyikan oleh band ternama Godbless, dan Godbless seakan menjadi pengiring indah nyanyian tersebut mampu membuat lagu ini menjadi hits sampai sekarang. Selanjutnya lagu tersebut kembali dibawakan oleh dua diva rocker kenamaan tanah air Nicky Astria dan Teh Nike Ardilla.

Lagu tersebut bukan hanya memiliki kekuatan nada yang historis, artinya nada-nada yang dipakai oleh godbless persis dengan lirik-lirik yang ada didalamnya. Saya dulu paling sering membuat lagu dikunci E, karena nada E mampu merepresentasikan dan mewakili penderitaan saya. Tak ayal lagu-lagu yang saya ciptakan dulu berbau kematian. Begitu pula didalam lagu panggung sandiwara, terdapat bait-bait lirik yang begitu indah dan menurut saya berbau filosofis. Tengok saja sendiri dan renungkan apa yang terkandung dalam lirik tersebut.

Bila melihat pada judulnya saja saya sudah menerka bahwa memang hidup bagaikan sandiwara. Baik itu pewayangan, lenong, teater, dan kisah cerita kehidupan. Dalam kehidupan hiduplah setan yang sangat baik sekali mengajak manusia menjadi jahat, adapula yang baik yang selalu menjauhi setan dan ingin tetap selalu pada yang maha kuasa. Ada yang kaya dan ada juga yang miskin, ada presiden, pejabat, mentri, artis, tukang kebun, tukang sampah dan peran-peran lain-nya yang ada dikehidupan. Semua itu bak sandiwara semata kalau kita memang lupa akan peran penting diturunkannya kita ke dunia oleh yang maha kuasa.

Bila yang terlena kehidupan dia akan lalai bagaimana kehidupan setelah kematian. Bukankah kita mempercayai dan mengetahui bahwa hidup kita itu diciptakan oleh seorang yang satu. Yang kalau dilogikan akan seperti ini: Dalam teater ada yang membuat cerita, dalam cerita ada seorang pengarang, didalam sebuah kisah novel ada yang membuatnya. Namun naas bila kita merasakan bahwa ketika manusia diturunkan ke bumi, mereka menjadi seolah lupa diri dan banyak yang membelot menjadi pemeran yang tak dikehendaki. Karena memang kehidupan adalah kita sendiri yang membuat, berperan dan merasakannya.

Kita membuat cerita, kita membuat kisah, kita melahirkan sandiwara yang kita lakukan dan kita adalah kita yang hidup dalam sandiwara. Banyak yang menjadi terlena dan bersandiwara ketika seorang manusia merasa dirinya menjadi pemenang. Katakanlah Firaun, Setan, Namrud dan sebagainya. Mereka bersandiwara dengan menyalahi aturan-aturan Tuhan. Mereka bersandiwara akan kehidupan dengan berperan menjadi seorang raja yang ingkar.

Tidak hanya disitu, sekarang saja banyak orang-orang yang pandai bersandiwara dari kehidupannya. Dia bersandiwara dengan kehidupan dan kehidupan itu membuatnya menjadi bersandiwara dalam tahap kedua.

Sandiwara tingkat Dua

Sandiwara tingkat dua muncul ketika peran dalam kehidupan diperankan lagi ketika memasuki ranah kehidupan bohong. Sebut saja dunia artis dan peran sebagai kehidupan dan mediasi mereka yang sanggup bersandiwara pada tingkat dua. Didalam sinetron banyak kita temukan peran-peran yang mewarnai isi dari cerita tersebut, ada yang baik, buruk, jahat, licik bahkan gila.

Para artis dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan pola-pola baku yang distandarisasi oleh si pembuat cerita. Ketika lantas ada seorang artis yang mengeluh kenapa harus menjadi pemeran yang jahat, baik ataupun licik. Banyak dari mereka yang tidak menolak untuk melakukannya. Berbagai alasan mampu dilontarkan mereka dan kebanyakan alasan yang selalu menjadi tameng adalah profesional dalam berkerja. Bahkan ada juga yang mengatakan "Yah yang namanya manusia"

Seolah mereka tidak tahu menahu apabila suatu standarisasi mengatur mereka, maka tidak sadar mereka telah memutar balikan suatu kenyataan yang benar-benar ada. Barangkali ketika saya berandai-andai menjadi seorang aktor dan kebetulan saya menjadi pemeran baik namun pada kenyataanya saya ini adalah seorang yang jahat didalam kehidupan nyata. Saya akan tetap mengambil pekerjaan itu karena standarisasi itu mirip suatu kebohongan dan karena seorang manusiapun mampu melakukan kebohongan baik pada publik dan yang parah adalah membohongi Tuhannya sendiri.

Itulah sandiwara tingkat dua, setelah bersandiwara lepas dari ketetapan manusia diturunkan kedunia, sebagian manusia mampu bersandiwara lagi dalam lingkup kekuasaan manusia. Bila mereka mampu membohongi Tuhan dalam sandiwara kehidupan, mereka juga sanggup membohongi manusia lainnya dalam kehidupan. Inilah yang sering kita temukan sekarang ini dalam dunia artis Indonesia, meski tidak menyulut kemungkinan dramaturgi juga bisa dituduhkan pada pejabat-pejabat. Seolah-olah semua dramaturgi yang membiaskan mereka pada pemudaran dunia fana.

Dramaturgi Para Artis

Manusia pada tataran sandiwara tingkat dua telah memasuki dua tahap dari konsep dramaturgi Goffman. Tahap pertama dikenal dengan fornt stage/tahap realita sosial dari sebuah simbol yang dikenalkan pada khalayak atau dalam bahasa linguistiknya itu ada pada tataran sebuah parole. Dan pada tataran yang abstraknya terletak di back stage/Kerap dari pemaknaan yang akan disimbolkan pada front stage. Lebih lengkapnya lihat pada pembagian dua konsep Goffman dibawah.

  1. Front Region (wilayah depan), adalah tempat atau peristiwa sosial yang memungkinkan individu menampilkan peran formal atau berperan layaknya seorang aktor. Wilayah ini juga disebut front stage (panggung depan) yang ditonton oleh khalayak. Panggung depan mencakup, setting, personal front (penampilan diri), expressive equipment (peralatan untuk mengekspresikan diri), kemudian terbagi lagi menjadi appearance (penampilan) dan manner (gaya).
  2. Back Region (wilayah belakang), adalah tempat untuk individu mempersiapkan perannya di wilayah depan, biasa juga disebut back stage (panggung belakang) atau kamar rias untuk mempersiapkan diri atau berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan. Di tempat ini dilakukan semua kegiatan yang tersembunyi untuk melengkapi keberhasilan akting atau penampilan diri yang ada pada panggung depan.


Teori dari Goffman diatas kalau dibandingkan dengan lirik Dunia Ini Panggung Sandiwara maka akan banyak ditemukan kecocokan. Seperti pada lirik yang "Setiap kita dapat satu peranan, Yang harus kita mainkan, Ada peran wajar ada peran berpura pura"

Apakah kalian pernah disuguhkan berita mengejutkan tentang seorang artis pujaan kalian? Seorang pujaan yang kalian puja/ngefans karena aktingnya sebagai seorang gadis lugu, berjilbab, sopan, ramah, murah senyum, rajin ibadah ternyata dikehidupan yang nyata dia bertolak belakang dengan front stagenya. Ternyata dibelakang layar mereka asyik, dugem, berciuman mesra, mengkonsumsi obat terlarang dan banyak lagi yang mungkin belum diketahui kehidupan nyatanya.

Hal tersebut sangatlah jelas merupakan pura-pura yang keterlaluan, karena seperti yang telah dikatakan diatas tadi. Mereka tidak hanya menyalahi aturan Tuhan akan tetapi menipu manusia lainnya juga. Front stage adakalanya menjadi ranah kehidupan yang kosong, penuh standarisasi, penuh pencitraan dan penuh kebohongan karena seorang manusia mampu membuat rencana memutar balikan karakter nya didalam tahap back stage.

Perlu untuk diketahui bahwa hidup didunia ini tidaklah abadi, apakah kalian ingin mengisinya dengan suatu hal tidak berguna? Tanyakanlah pada hati kita masing, darimana asal diri kita berada dan kembali? Bila kita telah percaya maka carilah cahaya yang mampu menerangimu sampai akhir nanti dan jangan mencari cahaya yang memudarkannmu akan dunia.
Ketika hawa industri belum semakin merekah seperti sekarang, kebudayaan seni di negara kita memang sudah ada. Berbagai seni kebudayaan mewarnai Indonesia dari seluruh penjuru indonesia, yah kita tahu dari sabang sampai merauke selain berjajar pulau-pulau ada juga bermacam-macam kebudayaan yang hidup. Tidak perlu rasanya untuk menyebutkannya satu persatu, barangkali akan lebih bagus jikalau anda sendiri seorang Indonesia harus mempunyai usaha sadar diri berkenalan dengan Kebudayaan seni Indonesia.

Lambat laun dengan semakin pekatnya kegelapan yang ditawarkan hawa industri ke Indonesia, kebudayaan seni Indonesia serasa dibiaskan dan dibunuh perlahan-lahan. Disini bukan artinya ditinggalkan begitu saja, akan tetapi orang-orang yang tidak hidup pada zaman dimana hawa industri belum nampak merasa asing kalau harus berkenalan dengan kebudayaan seni. Prihal hawa industri yang semakin kuat menerjang memang akan menimbulkan beberapa efek yang mengejawantahkan, semisal pada diskursus modernisme & postmodernisme disebutkan bahwa orang-orang modern mulai merdeka dengan mengenal dirinya mempunyai kehendak untuk menciptakan sesuatu yang banget.

Lantas yang mereka lakukan adalah dengan membenahi pikiran mereka terhadap sesuatu yang mengekang, sesuatu hal mistis yang mengekang mereka pada masa lalu. Sebabnya adalah bahwa mereka mempunyai rasa ingin terbuka dalam menatap hidup, oleh sebabnya mereka mempunyai pedoman carpe diem. Yang mereka fokuskan adalah sesuatu yang bisa digapainya hari ini adalah untuk hari-hari esok juga sama. Tanpa melihat pada masa lalu mereka yang dikekang oleh hal-hal misitik yang kuno.

Secara tidak disadari langsung oleh kita bahwa hal yang begitu tersebut sekarang tengah hadir dikita, disini tepat dibawah selimut yang menghangati dinginnya tubuh. Pada kebudayaan dan senilah kita bisa menyaksikan betapa memang kuatnya hawa industri mengancam kekuatan Indonesia, termasuk kelokalan dibeberapa daerah. Dengan sangat mudah ketika kita jumpai sekarang anak kecil banyak menanggalkan budaya-budaya asli daerah, budaya disini kita sebut saja keseharian aku pada waktu masih kecil, dan kemungkinan besar ketika aku kecil keseharian yang dilakukan berbeda pula dengan yang terjadi ketika ayah dan ibu kita masih kecil pada zamannya.

Ada sesuatu yang hilang yang tengah kita rindukan keberadaannya, namun hawa industri semakin lantang untuk membiaskan itu semua. Lalu siapa yang lantas dipersalahkan?. Tidak mudah memang untuk menjawab sebatas seperti kita membuka telapak tangan, perlu ada penjelasan lebih merinci untuk mencari jawaban betul seutuhnya.

Tapi setidaknya gambaran orang-orang modern yang pernah melanda ketika perkembangan post industri yang terjadi di Amerika Utara bisa dijadikan hal yang serupa namun berbeda zaman. Lantas apa yang terjadi ketika kondisi di Indonesia yang terbuka terhadap kemajuan tekhnologi? Adalah yang sangat tepat sekali orang-orang Indonesia mulai terbuka dengan kebudayaan yang datang dari barat, yang menurut Adorno ketika pada waktu itu kebudayaan dibarat tengah dimasuki penyimpangan yang akut. Penyimpangan yang mendasari kehadiran kebudayaan populer yang dikembangkan media massa.

Salah satu contohnya mungkin adalah kebudayaan populer yang sekarang ini lagi gandrung disenangi kawula mada Indonesia, yah siapa yang tidak tahu boyband, girlband, sampai-sampai ke industri film semuanya tentang Korea. Lewat produksi massa dan pemberitaan yang tak kunjung henti membuat kebudayaan populer korea ini semakin mendapatkan tempat diperindustrian musik Indonesia. Terbukti dengan banyaknya group boyband yang merupakan asli dari Indonesia, grilband yang semakin trendy, bahkan sampai kepada film pun ada salah satu yang screennya mirip dengan film-film Korea.

Apa yang tengah terjadi di Indonesia sekarang ini adalah goncangan yang datang tiada henti, ditengah industri musik yang ditambah tekhnlogi yang semakin gencar membuat orang-orang Indonesia kecelimpungan dalam pengindentitasian diri, kemana aku harus ikut dan kenapa aku harus meninggalkan yang lama?

Dalam buku Popular Culture-Dominic Strinarti, disebutkan bahwa kebudayaan populer itu lahir dan terjaga karena media massa, artinya ada awal cerita sebelum cerita inti masuk dan menjadi setubuh dengan kita. Kita masih ingat sebelum trendy nya boyband dan girlband, terlebih dahulu perfilman yang sedikit demi sedikit merasuk dan menjiwai orang-orang Indonesia, tidak heran banyak VCD2 Film Korea yang dijual murah di emperan. Dari rasa suka dan megagumi orang-orang Korea, mulailah fase yang dinanti para peneliti elit kapitalis, yang merasa ini akan menjadi angin segar bagi perindustrian. Band2 Korea mulai diperkenalkan sampai sekarang seperti yang kita lihat saat ini adalah efeknya mungkin. Adanya kekaguman/kefanatikan muncul dari gemboran dan balutan yang indah dari media massa, karena seperti dicekok-cekoki secara terus menerus akan hal itu maka mungkin akan terbiasa melihatnya...

Kerinduan Para Penyanyi dan Penari adalah sebuah ungkapan penulis atas orang-orang yang tengah berjoged ria, bersolek gembira sambil meliukan badan dan kepalanya, orang seperti merekalah yang tengah merindukan sesuatu yang mereka inginkan, sesuatu yang mereka kagumi dari pencitraan media massa. Disanalah letaknya mereka menemukan kecocokan, keseragaman yang benar-benar membuat mereka ingin seperti orang yang mereka kagumi.

Kerinduan tersebut terlahir mungkin karena adanya sesuatu yang hilang dari kebudayaan yang pernah kita alami sebelum datangnya hawa Industri. Hawa industri yang paling mematikan adalh kita dibawa kedalam suatu yang plural, yang kata McLuhan itu adalah Global Village, Village disini mempunyai arti bahwa penempatan kita didalam village massif yang sudah kehilangan kohesi sosial dan ideologi. Baudliard senada dengan luhan mengatakan adanya implosion, media massa telah menyatukan manusia kemudian membiarkannya meledak kedalam, batas tradisi, bangsa dan ideologi, cair luluh begitu saja. Ziqmunt Bauman melukiskan situasi ini sebagai menguatnya wilayah estetik dan memudarnya wilayah kognitif dan wilayah moral.

Kerinduan Para Penyanyi & Penari adalah sebuah rasa yang ingin diungkapkan mereka yang tengah gembira menemukan ideologi yang sama untuk dikenalkan kembali, mereka serasa mendapatkan tempat. Pernahkan anda berpikir bahwa pertama kali kebudayaan populer itu dipopulerkan oleh orang-orang yang sudah terbiasa dengan tekhnologi, orang-orang yang hidup dikota yang notabennya tingkat kemajuan tekhnologi sudah menjadi-jadi? Tranformasi radikal yang dikaitkan dengan bangkitnya jenis produksi industri mekanis dan berskala besar semakin banyak pertumbuhan bangunan2 kota. Dimana orang semakin banyak yang berkerja dan tinggal disana dikatakan telah mengikis struktur sosial yang pernah cemerlang di Indonesia mupun struktur nilai yang pernah dipertahankan.

Ditengah keanehan struktur yang mewarnai tranformasi tersebut maka orang-orang yang hidup disana akan mudah di atomisasi menjadi massa yang benar terkendali oleh elit kapitalism. DItengah jenuhnya industri musik di Indonesi mereka serasa mendapatkan rindu yang sepadan dengan apa yang dia inginkan, apa yang dulu mereka kagumi sekarang bisa mereka rasakan dan diputar balikan jadi mereka yang dikagumi. Terlepas dari itu mengapa mereka tidak ingin merindukan hal-hal seni kebudayaan lokal didaerahnya masing-masing? Mengapa harus boyband, girlband yang menjamur? apakah ada berkat kehendak yang menginginkan dan media massa yang menjadi perantara komunikasi ideologi mereka.

Jawabannya simple aja karena secara tidak langsung kebudayaan seni yang tidak mendapatkan penghasilan uang akan semakin sempit untuk berkreasi, meskipun masih ada namun hanya sampai kepada biasa saja. Kebudayaan populer itu telah dinodai dengan ideologi yang menginginkan keuntungan penuh dar nilah lebih, nilai tukar. (Strinarti)

Kerinduan Para Penyanyi & Penari adalah suatu bentuk kesalahan fatal yang harus dibenahi, bukan saja akan terus menyebar melainkan akan mempersempit laju kebudayaan lokal yang notabennya tidak menghasilkan uang. Masih segar dalam ingatan kita ketika bahasa alay menjamur di Indonesia, saya mempunyai asumsi bahwa bahasa tersebut awalnya adalah dari orang-orang kelas atas saja, namun dengan media komunikasi bahasa tersebut mulai menyebar kedalam perkampungan dan mendapat tempat yang nyaman bagi orang-orang kampung. Disaat kita harus membenahi bahasa ibu dan bahasa negara kita, sesuatu yang aneh datang dan diterima dengan baik.

Aku takut kalau suatu saat kerinduan tersebut akan menyebar seperti layaknya diatas, kerinduan para penyanyi & penari itu harus dibatasi oleh mereka, karena kalau mereka terus menerus menyebarkannya maka jangan salahkan aku bahwa mereka tidak lain sebatas tentara-tentara bawahan yang dikomandoi oleh orang fasis.
Sudah sepantasnya kita tahu bahwa sang maha agung telah mempercayai dunia kepada manusia yang dilawaskan untuk tinggal didunia. Itu menandakan bahwa ketika kita diturunkan kedunia bukan berarti kita harus melulu memikirkan urusan dunia dan mengenyampingkan urusan akhirat begitupun juga sebaliknya.

Keseimbangan yang serasi diantara cinta dunia dan akhirat akan meninggalkan suatu ukiran kenangan yang sangat berharga baik di dunia atau diakhirat. Artinya ketika kita mentasbihkan cinta kita kepada dunia, hal itu berarti bahwa kita harus meninggalkan pahala yang baik dan berguna untuk semua orang disekeliling kita, bukankah manusia diturunkan kebumi untuk menjadi seorang khalifah seperti yang termaktub dalam kitab suci Al-quran: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat : ”Sesungguhnya AKU hendak menjadikan kholifah di muka bumi” (2- Al Baqoroh : 30). Bukankah manusia dilahirkan kedunia seharusnya menjelma sebagai matahari bagi manusia yang kelam dan masih gelap bagi akhirat.

Namun cinta dunia jualah yang pada akhirnya kelak akan mati ditelan bersama bumi oleh karena itu kita perlu mengukir beribu cahaya dan pahala untuk manusia lain-nya. Hal tersebut mungkin harus dibarengi dengan rasa cinta kita terhadap akhirat yang dijanjikan tuhan berupa syurga tiada tara, dengan pahala dan cahaya yang kau ciptakan dunia itulah kelak manusia akan disinari di akhirat nanti. Pada akhirnya kita harus belajar dari filosofi air: Air tak mengalir begitu saja, dia bercabang mengendap ke tanah, lalu menghidupkan. Air yang mengalir begitu saja, takan membekas dia pernah singgah didunia.

Prakata diatas adalah sebuah pendahuluan yang akan menjadi titik temu analisis pada suatu karya sastra yang akan saya buat untuk mengguncang dunia. Kenapa mengguncang dunia? Karena karya sastra yang akan saya analisis juga ketika pertama kali dikenalkan menjadi sebuah sorotan yang dahsyat. Karya yang akan saya analisis adalah suatu karya cerpen dari seorang sastrawan termashyur Indonesia. A.A Navis, begitulah namanya dengan berjuta kebesarannya didalam dunia sastra. Karyanya adalah Rubuhnya Surau Kami.

Yang harus dicermati disini adalah bahwasanya ketika seorang mahasiswa mempunyai tugas mengemban kritik atau analisis sastra itu tidak terletak pada kekuatan kita untuk melemahkan bahkan yang lebih parah mengejek apa yang salah pada suatu karya tersebut.

Melainkan kritik terhadap suatu sastra itu haruslah bersifat membangun dan mengembangkan sastra tersebut. Pantas saja ketika Ajip Rosidi bilang bahwa dunia sastra sunda itu krisis kritik sastra! Artinya kurang lebih adalah karya-karya yang dihasilkan sastrawan sunda lebih banyak daripada kritik sastra sunda, jadi itu tidak menghidupkan dunia sastra sunda. Tandasnya!

Oleh karena itu nampaklah benar sekali bila saya menyandarkan ide sama bahwa tugas saya sebagai seorang mahasiswa yang bergerak diakademisi sebenarnya adalah menganalisis/mengkritik suatu karya untuk menghidupkan karya tersebut, sehingga karya sastra itu bisa diperhitungkan dan layak untuk dibaca diseantero dunia. Dan saya harap saya bisa membantu anda dalam mencari keutamaan dan kesenangan seperti dulu pernah dikatakan Horace, didalam karya Rubuhnya Surau Kami.

Latar Belakang

Ketika kita berbicara karya sastra, puisi dan apapun itu otak kita & mindset kita pasti akan langsung menuju pada indahnya khayalan, mimpi dan imajinasi yang sempurna seperti keberadaan mimpi dialam tidur manusia. Yah, seorang penyair/sastrawan yang lantang memproklamirkan karya-karyanya ke dunia, sebagian daripada mereka mempunyai suatu dunia yang begitu sempurna untuk ditunjukan kepada publik atau pada dunia seluruhnya. Hal-hal  tersebut bisa berupa mimpi-mimpi, keinginan, kegundahan, kegalauan, dan yang melingkup perasaan manusia terhadap dunia yang ia tinggali.

Sebelum mencapai suatu karya, sang sastrawan harus bisa merangkum suatu ungkapan yang masih berupa mimpi-mimpi puzzle sebelum dipersatukan menjadi suatu karya yang kokoh dan bermanfaat bagi dunia dan sekitarnya, seorang sastrawan haruslah luas mencerna keadaan sekitar, dan berbicara keadaan sekitar barangkali banyak cerita ataupun kisah yang seharusnya menjadi tugas seorang sastrawan memediasi mereka yang tak bisa seperti sastrawan.

Jika Horace (Depdiknas, 2005ca:79) menganggap sastra adalah dulce et utile, menyenangkan dan berguna karena dari pernyataannya tersirat makna bahwa sastra bisa berfungsi sebagai sarana “rekreatif” dan untuk pengajaran moral kepada manusia. Mungkin hal yang seperti diatas bisa kita temui didalam karya-karyanya A.A Navis.

Bukan tidak mungkin bila saya berujar bahwa sebahagian karya-karya A.A Navis itu mempunyai pesan moral, makna sosial yang tinggi dan pelajaran yang harus kita renungkan. Dan ada baiknya apabila saya terlebih dahulu mencantumkan biodata sang penyair besar Indonesia ini: Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat, 17 November 1924 – meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya.

Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis 'Sang Pencemooh' adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan tapi jika dikasih memilih ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu resikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu.

Ia seorang seniman yang perspektif pemikirannya jauh ke depan. Karyanya Robohnya Surau Kami, juga mencerminkan perspektif pemikiran ini. Yang roboh itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Ia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri.

Sepanjang hidupnya, ia telah melahirkan sejumlah karya monumental dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Ia bahkan telah menjadi guru bagi banyak sastrawan. Ia seorang sastrawan intelektual yang telah banyak menyampaikan pemikiran-pemikiran di pentas nasional dan internasional. Ia menulis berbagai hal. Walaupun karya sastralah yang paling banyak digelutinya. Karyanya sudah ratusan, mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai mengenai masalah sosial budaya, hingga penulisan otobiografi dan biografi. . (Sumber Wikipedia, disadur pada tanggal 01 november 2011).

Bila kalian cermati dan mengetahui bahwa potensi besar seorang sastrawan adalah kepekaan terhadap kehidupan sosial yang dialami oleh sastrawan tersebut. Seorang sastrawan Amerika jarang koq yang memilih cerita tentang perang dipenogoro, pun sebaliknya seorang sastrawan Indonesia tidak akan memilih untuk menulis tentang keadaan yang terjadi dibelahan bumi lain. Singkatnya seorang sastrawan itu menulis apa yang ia tahu, dan yang dia tahu itu adalah jelas pemaknaannya terhadap dirinya sendiri terhadap representasi yang ia lihat.

Menurut saya sebuah karya sastra yang baik itu adalah karya sastra yang lahir dari buah pemikiran psikologis sastrawan yang peka terhadap suatu keadaan lingkungan sekitar. Sastrawan itu harus mampu menafsir mimpi berkala dari kehidupan dunia nyata sekitar. Seorang sastrawan harus menggambarkan dan menggamblangkan keadaan asli dari rakyat, hingga kehidupan pada raja-raja yang menyalahi aturan, sebagiannya mungkin seorang sastrawan itu mampu menafsir alam yang dimaknai luas atas ciptaan sang maha agung.

A.A Navis sendiri juga mempunyai pandangan bahwa karya sastra itu harus awet dan berguna sepanjang masa, jangan seperti kereta api yang hanya lewat saja. Dan ide-ide yang dikatakan begitulah yang menurut saya yang mempengaruhi banyak terhadap karya-karya sastra yang dibuat oleh A.A Navis. Salah satunya adalah cerpen Rubuhnya Surau Kami.

Dibawah saya akan memaparkan analisis maupun kritik pada cerpen Rubuhnya Surau Kami yang dibuat oleh sastrawan besar Indonesia A.A Navis.

Pembahasan

Diceritakan ada seorang kakek yang tinggal di surau tua, yah memang dia bertugas menjaga surau itu dengan baik. Kakek tersebut sangatlah rajin beribadah, taat pada perintah allah, bersembahyang setiap waktunya. Selain itu dia senantiasa berbuat baik ketika ada orang yang membutuhkan bantuan, bahkan ketika diberi upah tidak jarang dia menolaknya dengan baik.

Sang kakek suatu hari didatangi oleh seorang pemuda yang bernama Adjo Sidi. Adjo sidi diceritakan sebagai seorang pembual yang ulung, yang kerjaannya hanya ingin mengejek orang tua termasuk kakek yang tinggal disurau tersebut.

Singkat cerita kake tersebut meninggal dunia, akibat ulah Adji sidi yang telah mendatanginya, mungkin untuk sedikit mengobrol. Namun siapa yang menyangka bahwa akhir dari obrolan tersebut akan memicu kematian sang kakek yang mati bunuh diri.

Sebab kematian sang kakek yah tidak lain adalah obrolan singkat yang dilakukan diantara Adjo Sidi tempo hari sebelum sang kakek menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur.

Analisis/Kritik

Bila saya sedikit berbicara maka saya akan mempunyai pandangan bahwa apa yang terjadi pada kakek dan Adjo sidi ini adalah salah dan ada benarnya juga. Karena apa yang diceritakan Adjo Sidi ini adalah benar-benar masuk akal dan memang benar.

Seorang manusia itu tidak terlahir hanya untuk beribadah dengan cara berdiam diri serta tidak mengamalkan kepada orang-orang sekitar. Justru ketika manusia turun lawas ke dunia dia mengemban tugas yang tidak mudah dan bahkan akan membutuhkan perjuangan yang hebat.  Lihatlah para nabi kita yang perjuangan-perjuangannya dalam membela dan menyebarkan Islam bertindak tidak semudah menikmati dunia dengan cara hanya berdoa tanpa mengamalkan.

Disinilah menurut saya fungsi seorang sastrawan masuk dan mempengaruhi pembaca bahwasanya ada sesuatu metafora indah dibalik sebuah cerita pendek Rubuhnya Surau Kami yang harus diureuk dan dicerna dengan cermat. Bahwa terdapat pesan moral berserta nilai-nilai yang saling berkaitan satu sama lain yang harus kita tahu didalam cerpen Rubuhnya Surau Kami diantaranya adalah:
  • Nilai sosial: Terletak pada saling membantu sesama manusia sebagai makhluk sosial. Yang tercermin dalam diri si Kakek yang suka menolong tanpa pamrih.
  • Nilai Moral: Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati. Adapun pesan moral yang sangatlah harus kita perhitungkan adalah janganlah kita hidup didunia yang pendek untuk diri sendiri, memikirkan kepentingannya sendiri tiada peduli pada orang sekitar yang mungkin masih membutuhkan pertolongan dalam hal ibadah dan ketaatan.
  • Apabila kita ingin menyampaikan kebenaran maka sampaikanlah hal tersebut dengan jalan yang baik, sehingga orang yang menerimanya akan terbuka dan lapang dada untuk menerimannya.
  • Nilai Agama: Kita harus selalu melakukan kehendak Allah, jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong. Nilai agama menjadi nilai yang harus diprioritaskan karena A.A Navis sebagai seorang yang perduli terhadap bangsa/masyarakat pastinya tahu keadaan sekitar pada zamannya. Apa yang terjadi pada Kakek mungkin pernah dialami oleh A.A navis dalam kehidupannya. Pentingnya kita untuk beribadah dan mengamalkan pada orang-orang, jangan hanya untuk diri sendiri.
  • Nilai Pendidikan: Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga. Apa yang terjadi pada seorang Kakek yang mengakhiri hidupnya dengan menggorok lehernya tidaklah pantas untuk diikuti. Jangan mudah untuk putus asa, dan legowo terhadap perkataan siapapun itu.
Jadi apa yang dipesankan oleh Horace yang mengatakan bahwa karya sastra itu harus bisa mengajarkan moral kepada pembacanya bisa kita temukan didalam maha karya A.A Navis ini. Diolah dengan baik dengan menggunakan gaya bahasa sederhana namun lantang menuju isi sebenarnya membuat cerpennya A.A Navis ini layak dihargai sastra terbaik yang berkala.

Siapa yang tidak kenal dengan acara Overa Van Java (OVJ) sekarang ini?. Boleh dikatakan mereka yang tidak mengenal atau barangkali tidak menahu OVJ pasti jarang menonton TV sambil melepas penat, relax untuk gelak tawa yang khusus diberikan oleh para pemain OVJ. OVJ dengan segala pembaharuan komedi yang mutakhir telah membius para penonton di Indonesia dan telah menselaraskan selera orang-orang Indonesia. Sehingga tak lama dari kemunculan OVJ maka acara yang sedikit mirip dengan OVJ hadir dibeberapa stasiun TV di Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa Industri perfilman kita sedang meningkat dan publik merasa senang dengan kehadiran acara-acara tersebut.

Barangkali kita masih mengingat ketika menjamurnya acara mencari bakat penyanyi Indonesia pada dua tahun dari sekarang, setidaknya menjadi sedikit referensi bahwa hal tersebut tidak menjauhkan bahwa yang serupa akan terjadi lagi. Indonesian Idol, Academi Indonesia, Mencari baka Dangdut, dan acara-acara lain-nya yang serupa dihadirkan kehadapan publik dengan kemasan yang berbeda namun isinya sama yaitu untuk mengisi kekosongan acara.

Sontak acara-acara tersebut mampu membius orang-orang Indonesia pada waktu itu, selain acara tersebut memang benar-benar acara baru ada juga hal yang membuat acara tersebut lebih menarik perhatian, yaitu para penonton disuguhkan untuk memilih para penyanyi yang mereka idolakan, siapapun itu yang menjadi pemenang adalah orang yang paling banyak mendapatkan SMS dari penonton di Indonesia.

Sebenarnya tidak ada kolerasi yang sama antara objek dari penawaran Acara Idol dengan OVJ. Namun terdapat kesinambungan hal yang tidak terbesit dan tidak nampak yang harus kita cari tahu keberadaannya dengan menggunakan metafora-metafora tanda. Dengan begitu maka sesuatu yang tidak tampak dari kejauhan akan nampak dekat ketika kita menjadi sesuatu yang anti.

Sekilas apa yang dihadirkan dalam TV atau media komunikasi lain-nya telah menjadi sesuatu wadah yang empuk bagi para elit industri. Ditengah keberadaan nikmatnya para penonton dengan objek yang ditandai ternyata ada ruang lingkup gelap yang harus diterangi oleh cahaya terang. Yang kalau dijabarkan dan diungkap akan menjadi sesuatu yang panjang meruntuy tiada tapal batas. Setidaknya ada segelintir kajian yang mengkhususkan analisisnya untuk membuka kedok gelap dalam acara-acara diatas, salah satunya adalah dengan kajian budaya populer/Industri.

Kerinduan sejarah peralihan

Sengaja saya menyandingkan term yang bersilang saling diatas untuk menghadirkan wacana yang saling ada, keterkaitan yang rumit yang harus diterangi. Kalau diamati dengan seksama mengenai OVJ, acara tersebut adalah produk industrialisasi budaya yang dikemas melalui media massa (TV). Kata budaya dalam kajian budaya menjadi titik tolak dari definisi budaya secara umum. Dalam Kajian budaya konsep budaya dapat dipahami seiring dengan perubahan prilaku dan struktur masyarakat di eropa pada abad ke 19, yang sekarang ini hal demikian sedang terjadi di negara kita. Yaitu dengan kemajuan tekhnologi dan industri2 yang menjadi anak dari globalisasi. Untuk meruntuy sedikit permasalahan saya akan mencoba memaparkan pemahaman modernisme > postmodernisme > dekonstruksi sehingga akan nampak suatu hubungan intim untuk membaca OVJ dalam kajian budaya.

Dokumen penting dalam lahirnya kajian budaya menurut saya terletak pada apa yang namanya peralihan dari modernisme ke postmodernisme. Dalam keadaan modern manusia benar-benar ingin menguasai dunia dan dirinya sendiri karena ada kekuatan dari dalam dirinya sendiri tanpa campur tangan mitos-mitos ilahi.

Modernisme. Heidegger menjelaskan dalam karyanya tentang Neitsche dikutip oleh Levin dalam buku The Opening of Vision Nihilism and the postmodernis situation bahwa apa yang disebut dengan perioda modern dapat dijelaskan berdasarkan kenyataan bahwa manusia menjadi pusat dan ukuran semua ada. Manusia mempunyai kekuatan yang bisa memilah untuk dirinya sendiri, maka tidak salah bahwa salah seorang pemikir cemerlang Descartes berujar aku berpikir maka aku ada.

Hegel lebih tegas mengatakan bahwa periode modern sekarang ini sebagai satu periode dimana manusia sebagai subyek, menentukan sendiri landasan nilai dan kriteria dalam kehidupannya didunia, tidak ada yang bisa melegimitasi manusia kecuali manusia itu sendiri dan akal budi sebagai penopangnya. Lebih jauh bila dijelaskan apa yang dibenarkan oleh akal budi adalah dengan melalui ilmu pengetahuanlah manusia modern mendapatkan kebenaran ideal yang jauh dari hal-hal mistis.

Manusia modern mampu membuka simpuls gelap dan membuka keterbukaannya kepada kebadian yang indah di masa depan, maka tak ayal Habermas menjelaskan perihal Zeitgeist modern sebagai dicirikan oleh masa kini sebagai suatu transisi yang dikonsumsi berdasarkan kesadaran akan percepatan serta harapan akan perbedaan di masa depan.

Posatmodernisme. Keadaan postmodernisme mempunyai kisahnya sendiri bila diceritakan perbingkai, bila ada bingkai yang tidak diceritakan maka hal itu seperti kita berada di garut tanpa beli dodol. Ada cerita yang kurang untuk memenuhi puzzle2 yang kosong, yang bila pas disatukan akan menjadi sebuah cerita besar tanpa ada gurun. Apa yang ada didalam kondisi postmodernis adalah kegalauan para pemikir sendiri yang masih banyak berbeda dalam definisi postmodernisme. Tapi yang pastu adalah kehadiran postmodernis tak lain untuk mengisi ketidak berdayaan modern untuk bergerak ke depan, menurutnya keadaan modernitas telah kehilangan kekuatan kritiknya.

Sementara itu didalam totalitas kehidupan sehari-hari tidak bisa dihindarkan bahwa sisa-sisa, puing-puing dari keadaan modern masih ada utuh sejalan dengan perihal postmodernisme. Hal tersebut tida bisa dipungkiri bahwa ketika para ilmuwan membombardir keadaan modern mereka itu ada dalam warisan modern. Wariasn yang cemerlang adalah tekhnologi dan industrialisasi yang semakin hari semakin menjadi tempat ideologi para pencari jalan.

Kebudayaan Massa/Industri

Ketika para penonton bersorak ria, berdendang tangan dan tertawa melihat para pemeran OVJ, apa yang terdapat disana adalah sebuah pergerakan yang sama yang dikehendaki oleh orang yang berkehendak (elit penguasa industr). Para penonton di atomisasi menjadi satu, menjadi massa yang berangkat untuk menjadi orang yang sama dan selaras dengan apa yang dikehendaki oleh para penguasa industri.

Permasalahan diatas terlahir karena peralihan dari modernisme kepada keadaan postmodernisme, tandasnya Yasraf. Terbukti lah apa yang ditegaskan oleh Yasraf oleh pemikir kenamaan German, dia adalah salah satu anggaota dari madzhab yang dengungnya masih menggema sampai sekarang. Yah siapa lagi kalau bukan Theodor Adorno, sang pemikir dan pengkritis kebudayaan postmodernisme.

Adorno adalah sosok penting dalam madzhab Frankurt, setidaknya dia menyumbang pemikiran yang cemerlang dan gemilang terhadap kritik kebudayaan. Kritik yang frontal dilontarkan oleh Adorno terletak pada kekeliruan pencerahan pada kondisi industri yang ditenggarai Adorno sebagai sarang kaum kapitalis yang membumbui terhadap semangat pencerahan. Campur tangan para kaum kapitalis tersebut karena adanya tujuan yang paling utama, yang paling sentral adalah keuntungan dari pemanfaatan kebudayaan yang lahir di zaman postmodernis.

Adorno yang selalu berseru untuk menjaga kemurnian kebudayaan modern tinggi dan yang tak jarang mengkritik secara tidak langsung terhadap postmodernis mempunyai gagasan bahwa apa yang menjadi pembicaraan bahwa aufklarung, pelepasan kondisi manusia terhadap ilusi, mitos dan halusinasi yang mengekang manusia untuk berkehendak telah hadir dan akan selalu menyertai ternyata tidak lebih malah menjerumuskan pada hal yang mungkin lebih kejam daripada itu, terlebih kata Yasraf hal itu menjadi penjara baru bagi semangat pencerahan. Akan tetapi bumi yang sepenuhnya dicerahkan memancarkan kekuasaan yang menimbulkan bencana. Program pencerahan menjadi program kekecewaan, penghancuran mitos-mitos dan penukaran pengetahuan dengan imajinasi ringan (Adorno & Horkheimer)

Namun tidaklah semua inti yang dikritik Adorno dalam kondisi pencerahan, melainkan apa yang dia yakini sebagai adanya kesalahan/penyimpangan pencerahan oleh sekelompok kaum borjuis dalam diskursus kapitalisme yaitu pencerahan melalui komoditi dan komodifikasi seluruh aspek kehidupan, termasuk kebudayaan dan seni. (Yasraf)

Dengan demikian benarlah dalam kemenangan manusia yang mengagungkan manusia terdapat suatu istilah metaphysic of will (kehendak akan kekuasaan) dan kehendak untuk mendominasi (Levin). Dalam diskursus kebudayaan dan seni kehendak ini muncul didalam kehendak kaum borjuis kapitalis yang ingin menguasai pasar, seringkali kebudayaan dijadikan wadah/komoditi untuk mencapai keuntungan yang mereka tuju. Menurut Adorno yang demikian itu adalah sama dengan halnya fasisme yang segalanya diatur oleh komando. Artinya segala tindak tanduk yang dilakukan oleh yang menjadi objek merupakan tafsiran apa yang elit kapitalis inginkan.

Didalam diskursus kapitalisme yang dinamakan dengan produksi dan reproduksi dijadikan komoditi yang dipasarkan untuk mencari keuntungan, nilai lebih. Apa yang ditawarkan oleh kebudayaan industri terbatas pada apa yang diidamkan oleh kaum borjuis kapitalisme, yah itu yang kita kenal dengan nilah lebih. Tak ada nilai guna yang ditawarkan kebudayaan industri.

OVJ Dalam Bendungan Kebudayaan Massa.

Yang perlu diruntuykan sepertinya sudah nampak dalam pembahasan diatas, tapi yang perlu diurai akan lebih banyak lagi pembahasan. Sepertinya saya kewalahan untuk menjelaskannya dengan seksama, karena selain sekarang malam semakin pekat ternyata mempengaruhi kerja otak yang massif dibawa kantuk. Setidaknya masih ada dalam diri rasa ingin berbagi tentang OVJ sebagai produk yang diciptakan oleh industri budaya.

Merujuk pada perkataan Adorno yang mengatakan bahwa dalam diskursus kapitalis terdapat suatu istilah yang namanya komodifikasi yang merambat kepada kebudayaan dan seni. Komodifikasi secara singkat adalah adanya konsumer yang menjadi keuntungan bagi borjuis kapitalis.

Para penontonlah yang menjadi tujuan penting adanya OVJ, karena merekalah para elit menciptakan OVJ yang menurutnya sebagai sebuah kebutuhan yang dikangeni oleh konsumer. Menurut Adorno semacam itu hanyalah realitas palsu. Seorang teman pernah menggambarkan analisisnya terhadap Indonesian Idol, bahwa apa yang distandarisasi yang menjadi penyanyi itu tergantung penonton. Secara tidak langsung mereka para elit mematikan kekuatan penyanyi yang handal namu kalah dalam poling sms.

Disisi lain apa yang menjadi sebuah tontonan panggung adalah apa yang dikehendaki oleh komando, untuk menyegarkan suasana para ahli menyiapkan screen yang lebih menarik dari acara lain-nya. Dihadirkanlah akting spontan yang selalu diperankan oleh para pemain OVJ, Lalu kenapa para produser tidak menegur mereka?. Sontak produser menyadari bahwa dengan seperti itulah nilah lebih akan selalu terjaga dan dengan demikian pengamanan nilai tukar semakin terlihat terang dengan pembaharuan akting para pemain OVJ. Konsumen adalah raja karena konsumen yang dimaknai mereka adalah yang menikmati pertunjukan OVJ dengan khidmat, pra penonton di atomisasi oleh suatu pertunjukan acara, konsumer hanya menjadi citra cermin, karena konsumer tidak pernah merancang acara TV OVJ tersebut. (Lacan, baca:Citra cermin )

Sebetulnya banyak puzzle yang tiada sempat saya ungkapkan disini, tidaklah saya tak mampu untuk menggambarkannya akan tetapi akan lahir banyak hal dari berbagi disiplin yang bisa saya jabarkan. Semisal karena kegirangan para penikmat budaya massa/populer/industri, maka orang-orang tersebut sedikit demi sedikit meninggalkan kebudayaan yang tinggi yang ditenggarai seperti kelokalan. Karena munculnya kebudayaan massa yang selalu menjadi hal yang baru, pembaharuan sebagai lawan kebudayaan tinggi.

Lebih jauh Adorno mengatakan bahwa secara sederhana dapat dikatakan bahwa budaya massa adalah budaya populer yang dihasilkan melalui tekhnikl industrial produksi massa dan dipasrkan untuk mendapatkan keuntungan kepada khalayak konsumen massa. Belum lepas dari ingatan kita ketika acara OVJ yang diadakan di bali dan yang terakhir di jogja maka berbondong-bondonglah massa yang banyak untuk menonton acara tersebut, karena kekuatan medialah pemaknaan subjek bisa dijalankan.
Mark Twain, seorang sastrawan realism, seorang manusia yang gigih dalam bertahan hidup. Mark Twain lahir pada tanggal 30 November 1835 di kota Florida dan hanya 200 mil dari daerah Indian. Ia adalah anak keenam dari John Marshall dan Jane Lampton Clemens, Mark Twain tinggal di Florida, Missouri sampai usia empat tahun, keluarganya pindah ke Hannibal dengan harapan untuk memperbaiki situasi hidup mereka.

Mark Twain adalah seorang anak yang tumbuh mandiri, dia terkenal nakal pada waktu itu, kenakalan yang paling dikenal dari dia adalah dengan menjadi ketua punkster, sebuah perkumpulan remaja nakal. Dia juga seorang yang prototype. Mungkin secara tidak langsung karakter seorang Mark Twain ini bisa kita bandingkan dengan karakter-karakter yang ada didalam penokohan seorang Tom Sawyer atau bahkan Huck.

Hal yang menyebabkan Twain nakal mungkin adalah lingkungan dimana dia tumbuh, seperti yang tercatat bahwa daerah hanibal adalah lingkungan yang keras, dimana banyak ditemui orang kulit hitam yang menjadi budak-budak menantunya. Bahkan pamannya sendiri adalah seorang menantu yang mempunyai 20 budak dari kulit hitam. Dan disana pula seorang Twain kecil pernah melihat seorang majikan yang membunuh budak (kulit hitam). Lantas mungkin hal inilah yang mungkin menginspirasi dia menorehkan sebagian pengalamannya kepada tulisan-tulisannya kelak.

Mungkin hari ini bukanlah hari dimana seorang penulis terbesar Mark Twain dilahirkan, tapi dalam pikiran muncul rasa ingin mendedikasikan sebuah tulisan untuk memberitahu pada dunia tentang Mark Twain dan karya-karyanya yang monumental. Siapa yang tahu bahwa keberhasilan Mark Twain dalam meraih penghargaan sebagai seorang sastrawan itu digapai dengan susah payah? Mulai dari Mark merasa dikritik habis-habisan oleh para sastrawan sebelumnya, hal ini terjadi ketika salah satu karya pertamanya yang berjudul “Innocent Abroad” dipublikasikan pada khalayak.

Namun seiring berjalannya waktu, ternyata filosofi roda memang berputar memang menimpa dirinya. Tepat ketika karya-karya setelah karya pertamanya dipublikasikan, karya-karya monumental dari Mark Twain muncul dan menjadi karya yang terbaik pada masanya. Diantara karya-karya Mark Twain yang kita kenal sampai sekarang adalah The adventure of Huckleberry fin, The adventure of Tom Sawyer. Saking mendapat tempat didalam hati pembaca maka tidak salah bila akhirnya ketika dia wafat dia dianugerahkan sarjana sastra dan dihormati oleh Yale University di Amerika.

Seperti telah banyak kita ketahui bahwa banyak sarjana-sarjana atau bahkan dosen yang menganalisis karya-karya Mark Twain, misalnya didalam, segi rasisme atau perbudakan. Para peneliti ini mampu mengenali apa yang tengah terjadi pada waktu yang lalu hanya dengan menganalisis sebuah karya sastra.

Dan disitulah letak agungnya karya dari Mark Twain. Seperti yang telah disinggung diatas bahwa Mark Twain adalah seorang sastrawan yang melihat realitas asli sebagai tinta pada pena, sebelum melepaskannya pada kertas-kertas kosong. Ketika seorang yang ingin menganalisis karyanya, rasanya seperti membuka kedok pada masa dimana Mark Twain hidup.  Luar biasa!!

Tidak berhenti sampai pembahasan rasisme, banyak pula sarjana-sarjana Amerika yang mendedikasikan pemikiran-pemikirannya terhadap kajian takhayul yang ada didalam novel Huck Finn, ada juga yang menitik beratkan pada kesetiakawanan yang dialami seorang Finn, dan masih banyak lagi yang mungkin mempunyai pemikiran baru mengenai novel Huck Finn.

Hal yang perlu digaris bawahi disini adalah bagaimana pemahaman kaita memahami alam pikir seorang sastrawan realism. Tentu cara berpikir kita akan terbalik dan berangkat balik dari pemikiran-pemikiran structural lingusitik yang menuntun kita untuk selalu memahami teks tanpa konteks. Adakalanya kita perlu melihat sesuatu itu dengan histori konteksnya, karena besar kemungkinannya pengalaman kehidupan menjadi buah karya seseorang. Seorang plato bahkan pernah mengatakan bahwa sastra itu adalah mimetic.

Kita harus senantiasa mampu membuka lembaran-lembaran yang mungkin telah usang, yang biasa disebut sejarah untuk mengurai satu karya sastra realisme. Bukankah tadi sudah saya katakan dan wanti-wanti bahwa seorang sastrawan itu takan pernah luput dari alam pemikiran dan pengalamannya selagi ia hidup di zamannya sampai mati. Karena yang keluar dari mulut mereka itu adalah sebagai symbol kebahasaan yang mereka, alami, pikirkan dan sekarang telah menjelma luas menjadi relaitas sosial.

Sebagai contoh kecil dari pemikiran saya adalah ketika seorang Huck yang menganggap Jim adalah seorang negro yang masih mempercayai alam takhayul. Ketika Huck membangkang bahwa dirinya tidak menyukai dan mempercayai orang yang mati, sebagai reaksi atas cerita Solomon. Bila kita melihat dengan seksama maka apakah takhayul itu betul-betul hal yang seperti itu? Atau adakah suatu makna yang ingin ditunjukan Twain dalam pembentukan symbol di dalam diri Huck? Adakah benar bila saya mengatakan bahwa pembangkangan terhadap takhayul itu ada ketika adegan Tom yang merasa terkekang dengan adanya aturan-aturan. Pada akhirnya malah dengan aturan-aturan tersebut dia lantas menjadi lebih berani melakukan sesuatu yang dilarang?

Contoh lainnya juga mengenai sekitar karya Mark Twain adalah pembahasan tentang rasisme. Jalan hidup Twain memang berada pada zaman yang memungkinkan dia mengenal rasisme dengan baik dan masa kecil ia adalah masa dimana ia dengan sigap melihat sesuatu, yang besar kemungkin akan menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan olehnya. Oleh karena itu dalam karyanya Twain banyak memunculkan tema budak kulit hitam, seperti jim dan sebagainya. Terlepas dari itu pengalaman kehidupan seorang penulis takan bisa dipisahkan dengan pembentukan cerita, alur, setting dan penempatan kata pada karya sastra. Itulah yang saya temukan didalam karya sastra Twain yang berjudul The Adventure of Huck Finn.

Isu yang muncul dalam novel ini memang tidak berhenti sampai disitu, bahkan sampai sekarang para sarjana masih berdebat prihal manakah yang harus kita pilih antara Mark Twain yang pro terhadap rasis atau sebaliknya? Kalau misalnya Mark Twain adalah seorang rasisme mungkin ketika Huck bertemu dengan Jim ditepi sungai, Huck akan melaporkan pada majikannya bahwa Jim seorang yang negro itu ada denganku!!. Tapi pada kenyataannya didalam cerita memang tidak terjadi didalam novel itu. Yang lebih mengagetkan lagi mereka pada akhirnya menjadi teman baik dan berdua bersama-sama melakukan serangkaian perjalanan.

Satu dari beberapa hal yang menjadi kunci anggapan bahwa Huck seorang rasisme mungkin bisa ditemukan dalam panggilan huck terhadap Jim dengan sebutan Negro. Tapi apakah itu memang sebuah rasisme atau hanya sebuah panggilan biasa saja yang sering diucapkan oleh orang amerika selatan? Oleh karena itu kiranya alasan inilah yang mungkin menggugah hati saya untuk menganalisis perbudakan dalam karya Mark Twain yang berjudul The Adventure of Hucklle Berry Finn.

Karya The Adventure of Hucklleberry Finn telah menjadi tonggak dari lahirnya karya sastra-sastra yang lahir setelahnya. Dikatakan bahwa Karya Twain ini adalah bentuk inspirasi pertama dari pengantar sastra modern yang ada di Amerika, dan tidak ada karya-karya lain yang mampu mengalahkan Novel Huck Finn ini menjadikan novel ini sebagai novel terbaik sepanjang masa. Perkataan ini berasal dari seorang sastrawan amerika  lain-nya yang terkenal, dan mungkin sudah kita tahu. Dia adalah Ernest Hemmingway. "All modern American literature comes from one book by Mark Twain called Huckleberry Finn. It’s the best book we’ve had. There has been nothing as good since"

Pernyataan yang masih hangat dan mungkin menarik tentang rasisme/perbudakan adalah apa yang diungkapkan oeh John H. Wallace bahwa, “[The Adventures of Huckleberry Finn] is the most grotesque example of racist trash ever written" (The Adventures of Huckleberry Finn adalah model paling fantastis mengenai sampah rasis yang pernah ditulis) [Mark Twain Journal by Thadious Davis, Fall 1984 and Spring 1985]. Salah satu penyebab pernyataan diatas adalah seperti apa yang telah disebutkan di atas bahwa ada beberapa serangkaian alur cerita yang bernuansakan rasisme/perbudakan, dan yang paling sering dibesarkan disini adalah panggilan dengan kata Negro untuk Jim. Seperti yang telah saya kutip dalam novel Huck Finn dibawah ini:

It was fifteen minutes before I could work myself up to go and humble myself to a nigger; but I done it, and I warn't ever sorry for it afterwards, neither. I didn't do him no more mean tricks, and I wouldn't done that one if I'd a knowed it would make him feel that way. (h, 15.49)

Kontroversi di balik novel ini tak lain dari persoalan rasisme. Twain kerap menggunakan kata “nigger” (laki-laki kulit hitam), baik ketika merujuk kepada Jim, seorang budak, maupun ketika membicarakan orang-orang kulit hitam Amerika lain yang ditemuinya. Pemilihan kata ini jelas sebuah perlambang ejekan dan inferioritas. Namun, perlu diketahui bahwa gaya rasisme, perlakuan jahat terhadap warga kulit hitam di Amerika, dan sikap merendahkan mereka adalah tipikal tradisi sebelum Civil War (Perang Saudara)  di Amerika.

Rasisme juga disebutkan dalam novel sebagai objek pelajaran natural dan akurasi pandangan aktual sebuah seting. Huckleberry Finn tampil sebagai gambaran kuat sebuah pengalaman lewat mata seorang anak kecil tak berdosa. Huck memperlakukan budaya African-American tersebut sesuai dengan nilai-nilai masyarakat yang membesarkannya. Mengatakan sesuatu yang berbeda sama halnya dengan keluar dari konteks ruang dan zaman di kala itu. Gaya sastra Twain ketika menggambarkan novel, posisi jelas dan sikap kasual Huck, serta penerimaan tak diragukan Jim terhadap penindasan dengan nama apapun jelas-jelas menjustifikasi kebenaran ini.

Gaya sastra Twain sejatinya adalah dialek selatan Amerika yang bercampur dengan dialek lain yang menampilkan berbagai watak daerah Mississippi. Jadi, sebetulnya Twain tidak bermaksud secara terang-terangan menunjukkan inferioritas kulit hitam. Kalau memang ia bermaksud menunjukkan fanitisme rasial, sudah barang tentu ia tak akan menulis simpati Huck terhadap Jim. Secara mudah ini dapat dilhat pada apa yang dilakukan Huck di novel ini yang memperlihatkan kesetaraan Huck dan Jim. Huck mengatakan kepada pembaca, ketika ia mengetahui Jim merindukan keluarga dan anak-anaknya,

"I do believe he cared just as much for his people as white folks does for theirs" (Saya percaya dia (Jim) sangat peduli dengan masyarakatnya sebagaimana masyarakat kulit putih peduli dengan masyarakatnya) [h. 150].

Ketika saya membaca keseluruhan novel ini mungkin kata Nigger/Negro mungkin banyak ditemukan, akan tetapi hal tersebut bisa saja saya tanggalkan karena dalam ceritanya Huck tidak benar-benar melakukan sebuah tindakan rasisme. Seperti apa yang telah saya kutip diatas bahwa Huck mempunyai rasa peduli terhadap Jim. Disini haruslah kita teliti untuk membedakan karakter seorang Mark Twain yang berhasil membuat dua kubu yang berlawanan berseturu untuk mengajukan pertanyaan, apakah saya rasis atau tidak?!!

Disini perlu diketahui ketika konvensi yang berlaku ketika Huck menjadi anak kecil yang selalu tunduk pada peraturan, nyatanya keliru ketika Huck mengikuti kata hati lain yang membawa Huck menjadi seorang yang melindungi Jim.

Kesadaran Huck itu seolah datang dari dalam hati ketika menyadarinya bahwa Jim juga memerlukan suatu kebebasan. Ketika ada peristiwa yang mengharuskan Huck untuk membantu Jim, Huck melakukannya sesuai dengan standar moralnya sendiri. Tindakannya menolong Jim untuk melarikan diri bisa mengundang agitasi moralitas sosial karena bertentangan dengan pandangan masyarakat Selatan di waktu itu. Namun, kecintaannya terhadap Jim mengalahkan standar moralitas itu semua.

"I come to being lost and going to hell…and got to thinking over our trip down the river; and I see Jim before me all the time… But somehow I couldn’t seem to strike no places to harden me against him…how good he always was… I was the best friend old Jim ever had in the world, and the only one he’s got now… I [will] steal Jim out of slavery again; and if I could think up anything worse, I would do that, too…" (Aku akan tersesat dan masuk neraka..dan harus memikirkan perjalanan kita sepanjang sungai; dan aku melihat Jim di depan sepanjang waktu. Aku adalah teman terbaik yang pernah dimiliki Jim di dunia ini, satu-satunya teman baginya sekarang..Aku (akan) kembali mengeluarkan Jim dari perbudakan; bila aku sanggup berpikir tentang hal lain yang lebih buruk, aku akan melakukannya) [h. 206].

Diakhir-akhir cerita mungkin agak sedikit nyeleneh dan banyak mengundang tawa, seorang manusia bertemu dengan pujaannya. Siapa lagi kalau bukan Huck yang bertemu dengan Tom Sawyer. Twain secara metafora memberikan wacana ini mungkin agar ada suatu pertemuan antara yang pandai dan yang licik, dan yang suferior. Hal ini terlihat ketika salah satu adegan yang mungkin paling tidak mengenakan kalau menyimpan makna rasis pada suatu tindakan. Ketika dengan candanya Tom dan Huck menyimpan tikus dan ular ditempat Jim.

Terlepas dari itu sebagai anak kecil, mereka memandang itu sebagai sebuah candaan yang dikemas oleh Twain dengan cerita yang memukau. Tanpa adanya suatu yang mendekonstruksikan pemaknaan awal antara sikap rasis dan tidak rasis yang disuguhkan dalam karya Huck Finn oleh sang maestro Mark Twain. Ia tidak bermaksud bahwa warga kulit hitam lebih rendah dan mendapatkan perlakuan diskriminasi. Sebaliknya, Twain ingin menyuguhkan keluguan dan semangat bermain anak-anak, khususnya ketika menggambarkan Huckleberry sebagai seorang anak sejati.

Huckleberry Finn adalah suatu karya yang benar-benar mengagumkan pada waktu itu, sekarang dan seterusnya. Mengapa? Karena didalamnya syarat fenomena yang selalu menjadi bumbu sosial permasalahan yang ada dimasyarakat sampai sekarang. Rasisme seakan menjadi hantu bagi kaum suferior dulu atau sekarang. Mungkin dalam pandangan Huck kita bisa mengambil kesimpulan yang sangat penting sekali bahwa ketika moral/hati berbicara maka kejujuran pun pasti akan datang dengan sendirinya.

Pandangan Twain seolah pandangan yang tajam dan panjang selama ada inferior dan suferior. Akibatnya akan selalu ada yang namanya rasis. Seperti yang dia katakana bahwa dimana saja, kapan saja, setiap hari akan ada selalu yang namanya rasis.

Tidak heran sampai sekarang masih banyak para sarjana atau bahkan calon sarjana yang mengambil tema Huck Fin sebagai bahan untuk tulisan akhir mereka. Ini menunjukan bahwa karya Twain memang benar-benar karya hebat dan membuat orang terkesima bahkan bisa memunculkan kontroversi. Dari berbagai macam pendekatan yang dilakukan oleh mereka pasti aka nada cerita yang berbeda yang membuat karya itu terus dibicarakan. Mark Twain telah berhasil menggambarkan pemikiran, pengalaman hidupnya kedalam sebuah tulisan yang menjadikannya sebagai seorang penulis ternama. Oleh karena itu dia dipandang sebagai salah satu orang yang banyak menginspirasi para sastrawan setelahnya.
Untuk menjawab pertanyaan diatas mungkin akan membutuhkan penjelasan yang sangat panjang. Saya mempunyai asumsi bahwa untuk mendefinisikan sastra islam maka ada baiknya kita melihat kepada perkembangan kebudayaan islam pada masa silam, sekarang dan kedepannya. Karena pada dasarnya kesusastraan itu lahir dari manusia yang mempunyai jiwa, akal dan pikiran maka hal tersebut akan mempengaruhi corak kejiwaan masyarakat-masyarakat yang tercipta pada suatu kebudayaan, karya, peradaban.

Definisi paling umum mengenai kebudayaan adalah, manifestasi daripada kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya. Termasuk didalamnya adalah kesustraan akibat dari pemaknaan seorang manusia terhadap angan-angannya yang ditunjukan lewat puisi, prosa, novel (dewantara).

Sudah barang tentu ketika suatu kebudayaan/peradaban akan sangat mempengaruhi cara berpikir manusia yang hidup pada zamannya, contoh ketika peradaban jahiliyah dengan syair-syair yang memukaunya mampu membuat mereka terkenal dengan para penyair. Akan tetapi pada waktu itu syair-syair yang dilontarkan mereka hanya berisikan tentang wanita, kesenangan sesaat, tidak memperhatikan kehidupan akhirat. Kenapa hal itu terjadi karena pola kehidupan mereka dan cara mereka memaknai hidup, maka tak salah lagi bila dalam surat Asy-Syuara disebutkan bahwa para 'penyair' itu sesat dan diikuti oleh orang sesat.

Eits jangan dulu berpendapat bahwa semua penyair itu sesat dan menyesatkan! Namun ada baiknya kita mencari tahu latar belakang/asbabun nujulnya surat Asy-syuara tersesat. Karena kalau kita tidak berbuat demikian maka kita juga secara tidak langsung menyebutkan bahwa sahabat nabi Muhammad yang notabennya ada juga yang penyair itu adalah sesat.

Ada masa Nabi Muhammad menyenangi seorang sahabat yang berpidato dengan bahasa yang indah, dan itu membuat Nabi Muhammad merinding dan begitu takjub pada syair-syair yang menjadi bumbu tapi pada waktu lainnya juga Nabi Muhammad tidak senang dengan para penyair yang hanya bisa melontar kan syair-syair tidak berguna dan sebatas SMS (sastra madzhab selangkangan) baca Hamka.

Namun jauh dari kisah tersebut sekarang ini masalah tersebut muncul kembali ke permukaan, atau malahan hal ini masih akan menjadi bahan perbincangan yang menarik dan berlanjut. Apa yang menjadi masalah adalah dari sebagian orang sekarang ini ada yang berpendapat bahwa para penyair sekarang itu hanya bisa menafsir kata-kata yang bertolak belakang dari syiar Islam. Yah memang bakalan terjadi pro dan kontra. Disatu sisi ada yang mempertahankan statementnya masing-masing dan sebagian lainnya tetap kekeuh.

Oleh karena itu mungkin perlulah dengan diuraikannya dulu mengenai kebudayaan islam yang menjadi cikal bakal lahirnya sastra islam dimasa lalu, sekarang dan akan datang. Karena permasalahan mendasar dari pro dan kontra tersebut terletak pada apa yang melatar belakangi penyair membuat syair dan sebagainya.

Bersambung..
Ilustrasi
Ketika manusia diturunkan ke bumi untuk menjadi khalifah, maka seisi bumi itu harus berterima kasih atas pemberian besar yang dilakukan oleh Allah SWT yang esa. Mengapa hal itu haruslah terjadi demikian? Karena manusia pertama kali diturunkan kedunia mempunyai jiwa yang didalam esensinya mempunyai rasa kepekaan untuk menjaga apa-apa yang telah diciptakan oleh sang Maha Esa. Didasari oleh rasa syukur, nikmat dan taat kepada Allah yang maha esa akan membuat jiwa seorang manusia menjadi patuh terhadap apa-apa yang telah diberikan oleh-Nya.

Kehidupan, bumi berserta isinya adalah suatu ciptaan Allah yang maha esa yang harus dijaga kelestariannya, agar senantiasa indah dan hidup dalam harmoni. Allah menyukai keindahan, baik itu keindahan rohani ataupun jasmani. Oleh karenanya ketika seorang manusia mempunyai rohani yang didasari oleh rasa cinta dan patuh terhadap Allah, maka bagus pulalah kejasmanian orang tersebut.Mungkin benarlah sang Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah berkata bahwa "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu indah, Ia menyukai terhadap keindahan". Sabda rasul itu mengandung makna yang tidak sempit, tetapi mempunyai kekuatan yang besar yang harus dipikirkan oleh manusia. Salah satu pesan dari sabda tersebut mungkin seorang manusia itu harus menjaga keberlangsungan hidup yang berbudidaya, kelestarian alam agar terjaga keindahannya, dan tentu atas didasari oleh rasa cinta terhadap Allah yang maha esa.

Berbicara tentang keindahan mungkin tidak membatasi kita untuk membicarakan alam, karena kehidupan manusia dibumi ini senantiasa dimaknai oleh apa yang dilakukanya sebagai seorang manusia atas rasa cinta kepada Allah. Banyak mediasi yang mampu dilakukan manusia untuk memaknai rasa syukur terhadap Allah yang maha esa sebagai pencipta seluruh alam. Salah satu bentuk pemaknaan manusia yang mensyukuri keindahan atas pemberian Allah adalah dengan kesenian, syair-syair, dan yang meliputi segalanya tentang kekaguman manusia yang diaktualisasi lewat keindahan dunia.

Penjelasan Singkat Kesenian dalam Islam

Perlu diketahui bahwa Islam barangkali tidak melarang seorang hamba manusia untuk melakukan aktivitas apapun didunia ini, akan tetapi peraturan penting dalam ketiadaan larangan itu sudahlah jelas sekali. Tidak adanya larangan dalam berkreasi seni baik itu seni lukis, tari, sastra ataupun ukir bukan berarti seorang manusia itu bebas berkehendak semaunya, namun seorang muslim harulah memperhatikan batasan penting yang harus ditaati oleh manusia.

Allah menyukai keindahan begitulah kata Nabi Muhammad, namun keindahan yang mana?Mungkin ketika seorang manusia membuat sebuah syair yang menggugah, dengan sejuta metafora dalam kata mampu memperdayai wanita sampai terkagum-kagum, hal tersebut mungkin saja tidak berpengaruh terhadap Allah yang maha Esa. Hal itu terjadi karena ada kriteria-kriteria yang harus diperhatikan oleh orang-orang muslim ketika ingin diridhao oleh Allah.

Kesenian adalah penjelmaan daripada rasa keindahan dan keterharuan untuk kesejahteraan hidup. Rasa disusun dan dinyatakan oleh pikiran sehingga ia menjadi bentuk yang dapat disalurkan dan dimiliki (Taufik H. Idris: 91).Kebudayaan adalah kehidupan dan kehidupan adalah pemberian dari Allah yang maha esa, begitupula kesenian adalah salah satu manifestasi manusia sebagai makhluk yang berbudaya.

Pernyataan diatas menjelaskan bahwa memang pada dasarnya adalah kesenian itu haruslah berasal dari kekaguman rasa seorang manusia atas nikmat dan karunia yang diberikan Allah yang maha Esa, sebagai contoh sebuah seni kaligrafi yang indah, syair-syair islami yang menggugah hati, selanjutnya dari kesenian itu juga mungkin seorang manusia mampu menyampaikan jalan dakwah dengan kesenian sebagai mendiasi.

Lalu adakah hukum kesenian dalam islam? Sebagian ulama pernah berpendapat mengenai hal ini, saya akan paparkan satu persatu dibawah:

  •     Imam Malik: Mengatakan bahwa bernyanyi dengan ma'azif tidak haram"
  •     An Nabulsi: Bahwa hadits yang dianggap alasan untuk mengharamkan musk adalah menunjukan haramnya itu ialah kalau berhubungan dengan perbuatan haram: minum alkohol, berzina dan sebagainya.
  •     Prof H.M. Thoha Jahja Omar: Bahwa hukum seni musik, suara, tari dalam islam adalah mubah (boleh) selama tidak disertai dengan hal lain yang haram. Dan apabila disertai dengan hal-hal yang haram, maka hukumnya menjadi haram pula. (Hukum Seni Musik, Seni Suara dan Sein Tari Dalam Islam)
  •     Abdullah Bin Nuh: Islam memang ada menghukum kesenian tertentu bersifat haram. Kesenian itu haram apabila seni suara dan seni msuik terikat pada almalahi (apa-apa yang membikin orang lupa akan Allah), al khamar, al qainat dan seni rupa (patung yang ada hubungannya dengan jiwa kemusyrikan dan penyembahan berhala)

Dari penjelasan para ulama dan tokoh agama diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa seni apapun hukumnya boleh dilaksanakan selama masih ada norma-norma yang diperhatikan, dan sepanjang tidak ingkar terhadap Allah, tidak menyekutukan dan tidak lupa terhadap yang Maha Esa.

Kesimpulan

Allah menurunkan manusia tidak hanya untuk menyembahnya, melainkan harus dengan berdakwah dan membantu sesama, melestarikan ciptaan Allah. Sebagai bentuk manifestasi cinta terhadap Allah, manusia berpikir lalu terciptalah seni-seni sebagai penjelmaan daripada bentuk kecintaan, keindahan dan jalan menuju keridhaan Allah.

Akan tetapi ketika bentuk penjelmaan (baca:seni-seni) itu bertolak belakang dengan apa yang telah diajarkan kaidah islam maka seni-seni tersebut seharusnyalah diperbaiki sebelum ditiadakan.
Ilustrasi

Ishadat sekarang sudah dewasa, ia sekarang mempunyai beban yang berat sebagai seorang pemimpin baru diwilayah kekuasaan ayahandanya. Wilayahnya terletak didekat perbatasan Heca dan Ihude. Ishadat, ditempat singgahnya sering murung merenung berdoa kepada Allah agar senantiasa diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan tugas yang dititipkan ayahandanya. Didalam ketermenungannya itu ishadat lantas tidak selalu berdiam diri dibalik gedung yang megah dan tidak serta mau untuk berdiam diri memandang kehidupan luar dibalik jendela.

Wilayah kekuasaan Ishadat adalah wilayah yang seringkali ditimpa prahara yakni Heca, selain tempatnya yang berhadapan langsung dengan 2 sungai yang menjadi pembatas alami. Hal itu menjadikannya sebagai tempat yang strategis yang sering dilalui/digunakan oleh para pedagang bahkan musuh sekalipun.

Ishadat dengan beberapa sahabat dekatnya selalu berkumpul dan bercerita selepas menunaikan shalat di mesjid Baiti. Ia selalu terbuka terhadap warga-warganya, karena ia tahu bahwa komunikasi secara langsung adalah mendekatkan diri satu sama lain, ia percaya bahwa kerajaan ini adalah bentuk dari keluarga yang besar. Adalah aku sebagai pemimpin dalam keluarga ini, tandasnya!.

Pengalaman Ishadat sebagai pemimpin masih terbilang muda, akan tetapi banyak pelajaran yang ia pelajari ketika masih tinggal bersama ayahandanya yang bertindak sebagai seorang Raja. Ishadat ingin memiliki satu kerajaan yang benar-benar terlahir dari adanya rasa persatuan dan visi yang sama. Ishadat melihat peran ayahandanya sebagai seorang pemersatu antara kerajaan dan warga-warganya, adanya harmoni dikedua belah pihak sangat mempunyai pengaruh penting didalam kerajaan, hal ini terlihat ketika suatu hari kerajaan ayahandanya diserang oleh musuh yang datang dari utara. Ishadat bercerita kepada para sahabat-sahabatnya tentang cerita tersebut:

Perbatasan utara tersebut merupakan poros yang sedikit terjangkau oleh kerajaan, karena memang letaknya jauh, tempatnya yang masih dihuni rimbunnya pohon-pohon besar. Sehingga ketika ada musuh yang datang sangatlah mungkin untuk tidak terlihat. Akan tetapi ada beberapa perkampungan yang lokasinya tidak jauh dari hutan tersebut. Namun apa yang terjadi setelahnya?. Yang terjadi adalah warga-warga disana mampu meredam dan memukul mundur perlawanan musuh.

Pada waktu itu Yahamballah berserta sahabatnya termasuk Ishadat berkunjung ke tempat warga yang mengalahkan musuh tersebut. Mereka disambut baik oleh warga setempat, dan dijamu ditempat yang sederhana. Dipertemuan ini para warga menceritakan dengan seksama apa yang telah terjadi pada waktu tersebut.

Yahamballah lantas bertanya kepada salah satu tetua disana: “Bagaimana saudaraku bisa menghajar mundur para musuh?” Tetua disana menjawab: “Kami bersatu dan mempunyai tekad kuat untuk selalu siap mengorbankan darah bahkan nyawa demi agama kami, negeri dan kedamaian ini. Dan kami selalu terinspirasi oleh baginda Raja”. Yahamballah meneteskan air matanya sebelum hendak ia pulang ia berkata: “Terima kasih saudaraku, peliharalah selalu persatuan dan tekad kita semua.

Disuguhi cerita tersebut, para sahabat dan warga setempat yang hadir selepas shalat isya menjadi terpukau dan takjub. Mereka tahu bahwa sebelum menjadi kuat maka harus kuatkanlah tekad dan persatuan untuk bersama didalam diri. Ishadat pun begitu, ia menginginkan kita disini mengambil pelajaran dari cerita diatas. Pada waktu itu Ishadat berpesan kepada para saudara yang hadir dalam pertemuan dimesjid Baiti bahwasanya: “Bersatu tidak akan membuat bangunan megah hancur, lihatlah bangunannya terdiri dari batu dan bata yang bersatu. Mari bersama membangun pribadi yang mempunyai tekad yang sama yakni berjuang demi agama kami, negeri dan kedamaian ini”.

Keesokan harinya, Ishadat hendak melakukan kunjungan-kunjungan rutin yang biasa dilakukannya. Dia mengitari perkampungan-perkampungan sekitar untuk memastikan bahwasanya tidak ada warga yang menderita, kelaparan dan berlebihan. Ketika sudah memastikan keadaan, Ishadat berencana untuk mengunjungi sungai yang dulu pernah ia sambangi, sambil berharap, dia berdoa kepada Allah untuk dipertemukan kembali dengan Kakeknya, Philea.

Setelah sampainya, Ishadat sudah lama berdiam diri disamping sungai namun tiada apapun yang meyambanginya. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang, karena hari telah sore dan hutan semakin pekat dengan gelap.

Dalam perjalanan Ishadat berusaha untuk tidak mengaburkan pandangannya, baik ke depan, kanan ataupun kiri. Sesampainya digerbang ia tidak mendapati apapun dengan yang ia hendaki, tapi hal itu tidak menyurutkan niat ishadat untuk senantiasa mencari kakeknya esok hari dan seterusnya.

Adzan berkumandang tapi Ishadat masih jauh dari tempat tinggalnya, lantas Ishadat menepi untuk shalat di mesjid terdekat. Ketika dimesjid banyak orang tidak mengenali Ishadat sebagai seorang pemimpin, hal itu mungkin terjadi karena pakaian yang dipakai oleh Ishadat pada waktu itu tidak jauh berbeda dengan yang dipakai oleh warga setempat.

Didalam mesjid, Ishadat selalu berdoa dengan waktu yang tidak sebentar dan selalu meneteskan air mata. Sehingga ketika beresnya, matanya terlihat merah seperti kena debu. Lalu seorang warga mendatanginya, ketika itu Ishadat terkejut dan merasa tidak percaya bahwa tepat dihadapannya adalah seorang guru yang telah lama tidak berjumpa. Lalu Ishadat menyalaminya karena orang yang ia temui seperti seorang ayah bagi dirinya.

Namanya adalah Abu Aslamabad, dia seorang pemikir ulung yang menjadi penasihat kerajaan. Aslamabad pulalah yang selalu mengajarkan kepada Ishadat makna kehidupan pada masa kecil. Aslamabad hendak bertanya kepada Ishadat perkara apa yang tengah ia renungkan.

Aslamabad: “Nak, ada apa gerangan dirimu meneteskan air mata? Abu tidak biasa melihat tetesan air matamu yang tak biasa?

Ishadat: “Tidak apa-apa ayahku, hamba hanya sedikit gundah, ketika hamba ingin berbagi kegundahan dan berbagi cerita dengan seorang kakek yang hamba cari namun beliau tak kunjung kutemui. Itu membuat hamba bersedih.

Aslamabad dengan senyumannya menjawab: “Perihal apakah yang hendak kau ingin sampaikan pada kakemu philea, nak? Mungkin Abu bisa membantu mengganti kesedihannmu untuk saat ini.
Ishadat: “Hamba sedikit ingin bertanya perihal apakah yang menjadi pilar kekuatan Ayahanda Yahamballah dalam mempersatukan orang-orang. Abu, mungkin pernah mendengar cerita warga yang berhasil memukul mundur musuhnya?

Aslamabad: Betul nak, Abu pernah mendengar cerita itu dan sampai sekarang masih ingat betul cerita tersebut. Begini nak, dalam salah satu hadits disebutkan bahwa Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi seorang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung didalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak. Sungguh, aku ingin menyuruh melaksanakan shalat, lalu shalat itu ditegakkan, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat bersama orang-orang. Kemudian beberapa lelaki berangkat bersamaku dengan membawa kayu yang terikat, mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat berjamaah, sehingga aku bakar rumah mereka. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

“Nak Ishadat, Apa yang dimaksud dengan hadits diatas adalah bagaimana bisa seseorang mampu mempertahankan sesuatu yang besar apabila keutamaan yang wajib dilakukan tidak bisa dilaksanakan dengan tekun. Dari hal terkecil yang mampu membuat mereka bersatu akan terjalin suatu kekuatan besar yang berpegang pada tekad yang kuat dan bulat. Bagaimana mungkin suatu kaum itu bersatu apabila keutamaan-keutamaan dalam agama yang mempunyai efek yang luar biasa ditinggalkan begitu saja.

“Masih ingatkah nak Ishadat bertanya kepada Abu ketika masih kecil yang lantas tidak Abu jawab?

Ishadat: “Ia abu, hamba ingat. Hamba bertanya apa yang menyebabkan suatu kerajaan Islam itu hancur?

Aslamabad: “Yah kehancurannya itu salah satunya terletak ketika didalam hati mereka sudah hilang rasa persatuan dan kebersamaan yang didasari cinta terhadap Ilahi. Sehingga untuk melakukan shalat shubuh dan Isya secara berjamaah pun mereka susah untuk melaksanakannya. Ibnu Umar pernah berkata “Ketika kami tidak melihat seseorang dalam shalat subuh atau isya’, kami langsung berprasangka buruk kepadanya.” Bagaimana menurut nak Ishadat tentang perkataan diatas?

Ishadat: “Artinya mereka adalah orang-orang yang masih mempunyai keimanan yang kurang dan kejujuran yang harus diperbaiki. Dan pantaslah mereka disebut orang-orang munafik.

Aslamabad: “Betul nak, Sehingga betullah hadits berikut ini “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah].

Ishadat: “Abu, apakah Abu yang menyampaikan perihal ini pada ayahanda Yahamballah?

Asalamabad: “Ia betul nak, Abu pernah meyampaikan perihal ini pada Baginda Raja. Baginda telah berhasil mebuat warga-warganya bersatu. Coba tengok sama Nak Ishadat ketika shalat Shubuh dan Isya maka akan didapati sama banyak dengan shalat Jum’at.

Ishadat: “Terimakasih ya Abu, kau sungguh seorang penasihat kaumnya yang belum mengetahui perihal kebaikan dan keutamaan.

Aslamabad: “Semoga Nak Ishadat mampu mengemban apa yang telah baginda raja titipkan, torehkanlah hal yang serupa dengan kerajaan ayahmu untuk membuat persatuan yang sama ditempatmu. Dalam kitab suci al-quran pun dikatakan bahwa: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11. Semoga keinginan mulia nak Ishadat menjadi awal penting untuk kedepan.

Ishadat tersenyum dan menyalami tangan Abu Aslamabad sebelum mereka berdua berpisah dalam senjakala yang kian membias.
Bila dilihat dengan kacamata pembesar, judul diatas sangat lantang sekali membicarakan prilaku sosial muda-mudi zaman sekarang. Prilaku yang dimaksud adalah suatu ketidak harusan yang tengah terjadi dalam era kehidupan digital yang lebih praktis dan lebih wah wah haha.

Seolah menyindir, tapi saya ingin menyadarkan teman-teman yang tengah dibius realita maya palsu. Meski ada beberapa solve yang mampu membuat kita nyaman namun pada kenyataannya kitalah sebagai seorang manusia yang melakukakn kehidupan kita sehari-hari.
Era sekarang adalah era dimana kita hidup serba digital, oleh karena itu banyak kalangan ilmuwan yang menyebutkan bahwa kita sekarang hidup diera digital native. Dan memang betul sekali apa yang diutarakan mereka. Sekarang yang namanya tekhnologi tidak bisa terlepas dari kehidupan kita sehari-hari. Seperti contoh kecil saja para pengguna facebook sering menuliskan perasaannya lewat status facebook, twitter, tumblr dsb. Barangkali ketika dia bangun tidur atau apapun itu yang menjadi teman curhat mereka adalah facebook bukan-nya face it.


K ita semua pasti pernah dihadapkan dengan wacana "perbedaan bahasa yang dimiliki oleh hewan dengan manusia, terletak dimana?". Biasanya seorang anak bahkan mahasiswa selalu mencari jawabannya dengan beberapa sumber seperti Google, buku tentang hakikat bahasa dan lain-lain. Tapi tidak jarang yang didapatkan mereka malahan jawaban yang kurang memuaskan. Lalu apakah ada jawaban filosofis mengenai wacana tersebut untuk diterangkan kepada orang-orang yang belum mengetahui? Jawabannya ia tentu ada!!

 

Sebenarnya jawaban yang akan saya terangkan disini mungkin adalah salah satu jawaban dari beberapa jawaban lain dari wacana tersebut. Tapi saya percaya bahwa jawaban yang akan diterangkan disini adalah jawaban yang bisa membantu anda untuk mengembangkan lebih jauh mengenai penjelasan perbedaan bahasa manusia dan hewan.

 

Manusia dan Kemampuan Berpikir

 

Manusia ketika diturunkan ke bumi adalah untuk menjadi khalifah, itu artinya ketika manusia itu diturunkan ke bumi oleh Allah mereka membawa sesuatu alat yang ada pada dirinya. Katakanlah dia itu adalah akal. Alat yang mampu membuat manusia berpikir dan bertahan hidup dibumi. Dari akal tersebut seorang manusia mampu memelihara kehidupan dengan sistematika yang teratur sehingga menciptakan kebudayaan dan peradaban yang berkelanjutan.

 

Lalu apa bedanya dengan hewan? bukankah kehidupan hewan juga seperti itu kurang lebih? Hewan juga mencari makan, mencari tempat tinggal dan lain-lain. Hal itu menandakan bahwa hewan juga berbuat sama dengan apa yang dilakukan oleh manusia?

 

Jawabannya tentu berbeda, karena yang dilakukan hewan itu adalah berdasarkan naluri/instinct bawaannya ketika lahir. Sidi Gazalba mendefinisikan naluri/instinct tersebut dengan suatu kemauan tak sadar dalam diri manusia, hewan dan tumbuhan yang dibawa lahir. Sebagai contoh kecil mari kita cermati seekor kerbau afrika yang baru pertama kali lahir sudah mampu untuk berdiri tanpa harus diajarkan oleh ibunya dan tanpa melalui proses berpikir yang panjang.

 

Berbeda dengan manusia, manusia memang kalah cepat ketika dibandingkan dengan proses diatas, tapi didalam proses itu pulalah keajaiban pada manusia sedang terjadi. Manusia mempunyai perasaan rohania, oleh karenanya ia mampu ketawa, menangis, bersedih dan bahagia. Proses yang demikian itu tidak dapat ditemui dalam dunia hewan.

 

Dan yang lebih penting adalah manusia itu mampu berpikir. Salah satu kemampuan manusia dalam hal berpikir adalah mereka mempunyai bahasa yang tidak dipunyai oleh hewan. Kalau manusia mampu berbagi perasaan sedih, bahagia, dan galau dengan manusia lewat bahasa maka hewan tidak bisa melakukan hal seperti itu.

 

Manusia mampu berkomunikasi dengan baik satu sama lain melalui bahasa yang dipakainya. Sementara hewan hanya mampu berkomunikasi lewat tanda suara yang ia keluarkan, lihatlah serigala ketika mendapati mangsanya serigala menyuarakan baungan dan untuk waktu yang tidak lama sekawanan serigala muncul berkumpul mengepung mangsa (tanpa berkomunkasi lagi karena selanjutnya adalah insting/naluri).

 

Manusia dan Keunikan Bahasa 

 

Koq bisa manusia berkomunikasi dengan baik? Itu terjadi karena bahasa yang dimiliki manusia itu unik. Bahasa yang mempunyai setiap aturan dari hurup-hurup yang diucapkan, dan memiliki sistem yang teratur berdasarkan keputusan bersama dalam komunitas masyarakat yang memakai bahasa tertentu. Dan bahasa yang dimiliki manusia pada dasarnya bisa dipelajari dan dimengerti satu sama lain, karena bahasa manusia itu tersusun dari aturan-aturan kecil yang bisa diurai, sampai ke hurup, bukan hanya itu bahasa manusia juga unik karena mempunyai sistem morphologi, sistem, pronoun, sentence yang bisa dipelajari oleh manusia.

 

Berbeda dengan hewan, kita sebagai manusia apakah bisa mempelajari bahasa hewan? Dan apakah memang ada suatu sistem yang mirip dengan sistem bahasa manusia? Jawabannya ya tentu tidak ada. Kalaupun memang ada kita pasti bisa mengerti apa yang dilakukan 2 ekor monyet yang sedang berada dipohon.

 

Oleh karena itu sudah jelas sekali perbedaan antara bahasa manusia dan bahasa hewan. Perbedaannya terletak pada esensi manusia yang mempunyai akal/jiwa untuk berpikir secara rasional sedangkan Hewan tidak memiliki hal tersebut. Bahasa manusia dilengkapi oleh simbol-simbol, sistem yang bisa dipelajari oleh satu sama lain sedangkan hewan tidak bisa berbuat demikian.