ARCHIVE

Default Thumbnail

Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow share their dreams
With you and me
Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow dream away
In the wind of change

Diatas adalah petikan dari sebuah lagu yang pernah populer di era 90an. Lagu tersebut tercipta dan dibawakan oleh salah satu band legendaris asal German yakni Scorpion 1. Sebagai wujud dari kondisi dan keadaan yang sedang – atau pernah -terjadi kala itu di German. Dengan lirik yang sangat general, artinya pada bait, lirik dan maknanya, lagu itu melejit dan bahkan sampai mendapatkan sebuah penobatan lagu perdamaian yang terbagus dizamannya. Lagu ini menembus tangga nada di USA peringkat 04 dan di UK peringkat 02 2, pada saat itu merupakan suatu kehormatan apabila sebuah band bisa menembus pasar besar terutama di 2 negara tersebut.

Apa yang membuat lagu tersebut menjadi sebuah lagu populer dizamannya dan sampai sekaranpun masih menjadi suatu lagu yang amazing? Adalah terletak kepada bagaimana seorang musisi berhasil mencipta suasana yang bisa menyentuh lara dengan baik. Apabila lagu tersebut berkala disukai, diulang  dan didengar maka jawabannya terletak kepada isi yang general tadi. Apalagi lagu tersebut khususnya merupakan suatu wakil dari isi kebanyakan orang-orang German yang waktu itu sangat menantikan suatu dunia yang baru dalam kondisi perdamaian.

Merupakan sudah sebagamaina mestinya manusia, maka salah satu dari berbagai cara untuk mengekspresikan rasa yang tiada terhingga itu adalah dengan membuat abadi pada lagu, seperti Scorpion dengan Wind of Change – nya. Band ini telah berhasil bukan hanya dalam segi ekonomi dan nama yang mendunia akan tetapi mereka lebih berhasil dalam dimensi lain yang lebih dari segi pertama tadi.
Ketika pertama kali tayang dalam sebuah layar kaca kita, bagaimana tentara Israel – yang katanya sedang mengincar teroris – menghabisi tiga nyawa dalam sekaligus, diantaranya adalah petinggi pemerintahan Palestina. Maka terbenaklah dalam diri kita sanksi apa yang akan dijatuhkan oleh lembaga perdamaian didunia dan Negara adidaya – yang besar berkuasa – terhadap tindakan Israel tersebut. 

Pertanyaan tersebut selalu berulang setiap kali Israel melancarkan tindakan yang brutal, mengingat dari kejadian yang telah berlalu Israel sepertinya tidak begitu memperdulikan apa yang namanya kecaman-kecaman diatas kertas belaka.

Sementara kecaman datang silih berganti diseluruh dunia, ternyata didaerah konflik tersebut telah banyak jatuh korban  yang kebanyakannya adalah dari orang-orang Palestina. Yang lebih menyakitkan lagi ternyata korban yang meninggal tersebut kebanyakan dari warga sipil khususnya wanita dan anak-anak. Alih-alih menurut Israel tembakan tersebut telah memenuhi target, teroris, yang telah ditetapkan jauh hari. Tetapi fakta dilapangan ternyata bertolak belakang dan korban yang berjatuhan disini adalah mereka yang lebih dekat kepada sebuah sistem regenerasi yang berlanjut.

Teroris macam apakah yang dibayangkan Israel sehingga perempuan dan anak-anak pun mereka bunuh? Macam keliru berpikiran saja mereka dalam bertindak! Setidaknya kita perlu untuk sedikit sahaja meredefinisi ulang apa makna dibalik teroris sebenarnya? Karena dampak yang ditimbulkan dengan citraan teroris ini sangat bahaya sekali bung!
Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Mungkin perumpamaan kata diatas sangatlah cocok apabila kita sematkan makna itu kepada negara Indonesia dengan keadaan fenomena korupsi yang sudah akut. Pelbagai berita korupsi dari tingkat pemerintahan, daerah bahkan kecamatan/desa mulai terkuak ke permukaan.

Data yang disajikan didalam sebuah website tentang informasi korupsi mencatat bahwa kurang lebih ada 153 tikus-tikus kotor yang berhasil dijaring oleh pihak berwenang dan beberapa lainya sedang diproses. 1 Sepintas apabila melihat kepada angka yang tertera mungkin jumlah tersebut tidak sebanyak yang kita kira namun apabila kita melihat angka tersebut berserta anggaran/harga uang yang mereka korupsi mungkin kita akan berpikir berbeda dan bertolak belakang dengan apa yang kita kira sebelumnya.

Kita patut bersyukur kepada para pegiat antikorupsi yang senantiasa tak kenal menyerah untuk memberantas hama-hama busuk Negara yang merugikan rakyat. Yang seharusnya rakyat dipertuan eh malah memperagung diri sendiri dengan kepentingan-kepentingannya, wong goblok! Yang kita harapkan biarlah yang lama terkumpul itu menjadi bukit agar kelak akan mudah bagi kita untuk memnghanguskannya.

Menyadari bahwa memberantas korupsi itu bukanlah tugas pada sebahagian kelompok sahaja, kita juga mempunyai hak untuk sedikit sahaja membantu mereka dalam memberantas korupsi. Sebetulnya banyak yang bisa kita upayakan dalam pemberantasan korupsi meskipun intensitasnya tidak seluas apa yang telah dilakukan para pegiat antikorupsi yang sudah mempunyai label dipercaya.

Apabila para koruptor membuka kembali sejarah dan melihat dengan seksama bagaimana pahit getirnya para pejuang Indonesia – dengan segala resikonya – yang memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia ini. Mungkin sedikit saja hatinya akan terasa pilu dan terlihat malu untuk menyadari bahwa betapa tololnya diri mereka dihadapan para pahlawan Indonesia.

Mereka itu seharusnya benar-benar sadar diri terhadap segala cipta yang diperbuat. Bukan saja hal itu bertolak belakang dengan apa yang telah dicita-citakan oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia dihari yang lalu. Tapi juga mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya diri mereka itu tidaklah lebih dekat sebagai wakil rakyat atau pemimpin rakyat akan tetapi lebih dekat pada musuh rakyat.

Ditengah kehidupan mereka yang terlampau jauh dari menderita masih banyak cerita kelam yang ada disetiap sudut rentetan pulau-pulau di Indonesia. Ia, kita masih saja melihat suatu ironi. Ditengah orang-orang kaya yang semakin berjaya dengan hartanya terdapat pula orang-orang yang miskin semakin terjepit dengan keadaannya. Pelbagai cerita itu terasa menyayat hati ketika menyadari bahwa negeri yang kaya alam ini ternyata hanya sebatas bagi mereka yang diperuntukkan. Orang-orang miskin tetaplah hidup sebagaimana ia semula.

Keadaan yang demikian itu tiada bolehlah dipelihara. Artinya hal itu harus ditangani dengan seksama dan harus menjadi agenda penting bagi para pemimpin bangsa yang tahu betul apa definisi dari kata merdeka. Memberantas korupsi yang semakin menjamur dan memperhatikan orang-orang miskin adalah sebuah janji yang banyak ditunggu oleh para rakyat.

Karena mereka – yang miskin – tetaplah saudara kita yang sejatinya membutuhkan keadaan yang merdeka bagi dirinya. Pemimpin,oleh karena itu seharusnya bisa mengatasi keadaan yang seperti demikian. Bukan hanya mereka juga adalah sebahagian dari apa yang dipimpin tapi juga hal itu akan dipertanggung jawabkan kelak dihadapan penguasa sebenarnya.

Melawan Korupsi; Keniscayaan Melawan Saudara Sendiri
Maka benarlah bila sang maestro Indonesia, Sukarno, pernah berujar kala itu bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri”.
Kemerdekaan, biarlah euphoria itu berlalu besamaan dengan waktu tanpa ada maksud untuk melupakannya. Karena hal tersebut tiada akan pernah terlupakan dalam benak jiwa setiap penerusnya. Hal tersebut adalah abadi dalam ukiran sejarah yang pasti.

Namun untuk sekarang ini ada baiknya kita simpan sahaja dulu kebahagiaan itu sejenak. Karena untuk sekarang adalah hal yang sama sekali berbeda apabila kita memaknainya sama akan kemerdekaan yang telah dicapai. Perjuangan kita belumlah usai, ada suatu penyakit baru yang mungkin apabila dibiarkan ia akan terus meninggi, mewabah bahkan meghancurkan sebuah negara dan apabila ia dilawan maka sebagian mereka ada yang enggan untuk menyerah pada kenyataan.

Kita mungkin berada pada fase yang kedua dari yang dikemukakan sukarno. Hal itu berarti menandakan bahwa akan terjadi suatu keniscayaan dimana kita akan mendapati suatu kesulitan besar untuk berjuang demi kemerdekaan negeri ini, karena kelak bukanlah para penjajah yang akan dilawan oleh kita melainkan saudara kita sendiri.

Salah satu masalah yang tidak berkesudahan sampai sekarang ini adalah apa yang dinamakan dengan KORUPSI, sikap menjajah yang dilakukan oleh para koruptor. Suatu masalah yang menjadi akut berkepanjangan, yang memanjang seperti rantai yang kuat kekar karena selalu ada penerus selanjutnya.

Sulit sekali memutus rantai tersebut, karena panjangnya yang bercabang dari setiap dimensi sangat mempengaruhi tingkah laku bergeraknya sub rantai, dengan kata lain mainstream lebih kuasa dari badai kecil. Mencari mata rantainya pun terasa sangat sulit, oleh karena dari setiap satu rantai itu licin dan banyak kotoran yang mampu menyelipkan sesuatu yang akan membersihkannya.

Hal inilah yang sekarang banyak mewarnai lika-liku kehidupan bernegera di Indonesia. Pemberitaan tentang korupsi hari demi hari seakan tak pernah urung berhenti barang sekali. Para koruptor-koruptor baik yang wajah lama atau terbarupun muncul pada permukaan. Ia muncul dengan wajah tersenyum, serasa dirinya tiada berdosa kepada masyarakat dan tanggung jawabnya.

Mendengar dan mendapati hal tersebut, yang terasa oleh rakyatpun adalah kebingungan. Oleh karena kerumitan yang selalu sahaja mewarnai setiap proses hukumnya. Ada yang merasa kecewa karena perlakuan hukum terhadap para koruptor ternyata tiada seharmoni apabila bersanding pada keadaan masyarakat kecil. Ada juga yang tiada percaya ketika mendapati sudah barang tentu mereka adalah para pelaku korupsi tetapi kenapa masih saja bisa enak duduk menjadi seorang pemimpin.

Ada maling sandal/telur lantas ia langsung terjerat sebagaimana mestinya tapi ada yang maling uang rakyat – yang besarnya tiada tara – ia masih bisa merias diri didalam sel penjara atau ada juga yang berpergian dengan santainya ke Bali! Apakah yang sedang terjadi di negeri kita ini, sehingga hukum terlihat seperti dilemahkan kibasan uang.
Apabila keadaan seperti ini terus dibiarkan tanpa adanya suatu perbuatan nyata maka legowolah apabila saya mengatakan bahwa “Kita ini memang sudah merdeka dan sudah terlepas dari tempurung besi namun kenyataanya sekarang kita malah terkungkung dalam tempurung korupsi, Naas.”
Sikap Peka Nyata Yang Harus Ditorehkan

Pelbagai upaya untuk menanggulangi korupsi telah banyak dilakukan oleh para pecinta keadilan tanah air. Termasuk diantaranya adalah lembaga-lembaga besar seperti KPK, ICW, KP2KKN, Polisi dan lain-lain. Tidak hanya itu, ternyata ada sebagian orang yang mempunyai cara tersendiri untuk membantu mencegah dan memberantas korupsi, yakni membuat situs yang sangat unik, semisal Wikipedia, yang berisikan tentang para koruptor di Indonesia, korupedia.

Namun ditengah perjalanan perjuangannya itu mereka pastilah membutuhkan suatu pertolongan dari seluruh rakyat Indonesia. Apalah arti mereka berjuang melawan korupsi kalau kita tidak mendukung mereka sama sekali. Karena memberantas korupsi itu adalah tugasnya kita bersama bukan hanya tugas mereka. Untuk membina kehidupan yang selaras dan senada indah seyogyanya adalah cita-cita yang harus diwujudkan bersama, bahu membahu untuk kebaikan.

Selebihnya kita harus mempunyai suatu prinsip “peka nyata” yang harus di implementasikan didalam kehidupan bermasyarakat. Kita mungkin mengenal prinsip “lebih baik mencegah daripada mengobati.” Sebenarnya mengobati juga tidaklah mengapa namun alangkah baiknya apabila kita mencegah sebelum semua harus terjadi.

Sikap peka nyata adalah sikap yang terlahir dari akibat kekecewaan atas fenomena korupsi. Dan wujud dari kekecewaanya tersebut maka haruslah diimplementasikan dengan perbuatan yang nyata, tanpa diwakili kata atau diatas kertas sahaja.

Adapun beberapa hal yang mungkin bisa membantu untuk mencegah dan memberantas korupsi diantaranya bisa dimulai dari tingkat SD, SMP dan SMA. Mengenalkan bahaya korupsi terhadap perkembangan negara kepada kader bangsa adalah sesuatu yang sangat diperlukan. Karena suatu saat nanti hal yang seperti itulah yang akan menjadi bekal berharga.

Selain itu perlu juga untuk memberi ruang kreatif bagi masyarakat untuk ikut serta dan berpartisipasi dalam kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan korupsi/pemberantasan korupsi. Semisal lomba karya tulis, film pendek, melukis, drama, teater dan sebagainya dengan tema korupsi dan koruptor.

Apabila kesemuanya itu disajikan dengan sesuatu yang baru mungkin akan terlihat menarik khususnya bagi generasi muda dan semua pada umumnya untuk lebih intens/perhatian terhadap bahaya korupsi yang semakin meninggi.

Dengan adanya ruang baru sebagai wujud dari keinginan bersama dalam rangka mencegah dan memberantas korupsi. Diharapkan bukan hanya hukum besi saja yang bisa menjerat mereka – para koruptor – akan tetapi hukum sosial juga bisa membuat mereka jera dan mempertimbangkan kembali untuk melakukan korupsi.

Keadaan yang demikian itu tiada bolehlah dipelihara. Artinya hal itu harus ditangani dengan seksama dan harus menjadi agenda penting bagi para pemimpin bangsa yang tahu betul apa definisi dari kata merdeka. Memberantas korupsi yang semakin menjamur dan memperhatikan orang-orang miskin adalah sebuah janji yang banyak ditunggu oleh para rakyat.

Karena mereka – yang miskin – tetaplah saudara kita yang sejatinya membutuhkan keadaan yang merdeka bagi dirinya. Pemimpin,oleh karena itu seharusnya bisa mengatasi keadaan yang seperti demikian. Bukan hanya mereka juga adalah sebahagian dari apa yang dipimpin tapi juga hal itu akan dipertanggung jawabkan kelak dihadapan penguasa sebenarnya.
Ilustrasi

Sebuah Pengantar


Sering kita mendapati bahwa didalam dunia kefilsafatan, semua permasalahan yang menjadi objek kajian seolah tak pernah berakhir. Meskipun waktu telah berlalu dari sejak zaman filsuf Yunani, Islam, filsuf era pencerahan sampai sekarang. Hal ini menandakan kepada kita bahwa manusia bisa menggunakan akal dan pikirannya dalam menjalani kehidupan.

Pemikiran awal adalah dimana semua itu bermula dan yang telah bermula pada akhirnya akan menjadi pemikiran awal yang terus menerus berputar entah sampai kapan. Contoh kecilnya adalah sebagaimana ada pemikir-pemikir yang bercorak berbeda dalam menanggapi permasalahan, tentunya dalam dunia filsafat.

Terlalu luas untuk membicarakan tentang sejarah filsafat apabila disajikan didalam blog personal ini. Namun saya hanya ingin memberikan suatu gambaran dari hal yang umum dalam pandangan saya sendiri. Saya hanya ingin sedikit berbagi salah satu permasalahan saja, yaitu problem “Subyek”. Suatu problem yang masih sangat menarik untuk sedikit sahaja diperbincangkan baik dalam ruang diskusi, pembahasan, dan apapun itu yang berhubungan.

Problem subyek disini adalah suatu tanggapan saya atas perdebatan panjang manusia-manusis yang mempunyai pandangan berbeda mengenai subyek. Saya tidak ingin untuk menjadikan tulisan inis sebagai sebuah hasil yang bkue print, jauh dari kritikan, akan tetapi saya hanya menulis sesuau pemahaman damai saya akan keduanya.

Untuk itu saya harus membagi dulu beberapa kalangan yang mempunyai pandangan berbeda mengenai subyek. Hal ini sangat penting dikemukakan sebagai jalan manusia yang mungkin belum tahu perihal sebenarnya apakah. Setelah mengemukakan beberapa manusia dari kedua pandangan berbeda itu saya akan sedikit menjelaskan apa yang dipermasalahkan dan diperagungkan dari kedua pandangan manusia tersebut.

Kelanjutan atau Suatu Akhir


Diktum Descartes seperti yang kita kenal adalah suatu pandangan luas dari seorang manusia dalam melihat suatu kehidupan. Didalamnya mereka sangatlah percaya dengan apa yang mereka agungkan, pencerahan dengan pengetahuan. Sehingga tidak banyak orang yang mengemukakan bahwa dunia dimana ketika diktum itu menjadi terkenal adalah dunia yang sudah meninggalkan sejarah gelap dunia dibarat sana.

Sejarah tidak mencatatkan suatu cerita yang lurus saja dalam pencariannya tentang “Aku dan rasionalitas berpikir”. Permasalahan besar sering mereka – yang bertentangan dengan religion’s rule – dapati. Copernicus dan teman-temannya adalah salah satu tokoh sejarah yang selalu disajikan dalam pembahasan tentang dunia pencerahan dimana mereka dituduh telah keluar dari ajaran yang ada sebelumnya.

Meskipun pada akhirnya dunia barat dianugerahi sebuah dunia yang benar-benar megah, bahkan sampai sekarangpun mereka telah berhasil mencapai tingkat yang memukau (baca:tekhnologi). Tahapan inilah yang erat kaitannya dengan apa yang sering disajikan dengan sejarah peralihan dunia pada tingkat, modern.

Pelbagai kemajuannya pun sampai sekarang masih bisa kita rasakan. Tapi kemajuan yang benar-benar menjadi suatu ciri khas dari kemodernan ini adalah dalam dunia tekhnologi. Dalam suatu hal semisal telah keluar windows 8 yang lebih artistik, pada saat itu saya, diri anda dan semua orangpun pastilah terkagum-kagum mengenai perkembangan dunia tekhno yang tak henti-henti mengeluarkan produk-produk terbarunya.

Ditengah euphoria kemajuan tersebut ternyata tidak selalu membawa sesuatu yang baik pada tingkat kehidupan. Malahan sebaliknya, semua seperti menjadi bom waktu yang hanya tinggal menunggu waktu untuk sedikit sahaja dipicu untuk meledak, booooom! Perang dunia – dalam dunia bom, pistol dan semacamnya – menyebabkan korban sipil yang tak terkira. Yang kaya semakin kaya. Buruh yang tak sepadan dengan gaji dan lain2. Bisa dikatakan secara singkat bahwa laju perkembangan tersebut tidak lantas membawa suatu pencerahan akan tetapi malah lebih memperburuk keadaan.

Yang menolak, tidak setuju dan ada pula yang mengoreksi dunia modern itulah yang sekarang kita kenal dengan pandangan orang-orang post-modernisme. Dimana posisi dari pandangan ini adalah kebalikannya dengan dunia modern. Jadi apa yang didefinisikan sebelumnya didunia modern didefinisi ulang kembali dengan macam teori yang banyak, dan sedikit rumit.

Yang dikoreksinyapun banyak, tidak hanya dalam dunia tekhnologi yang berkembang seperti frankenstein, akan tetapi dalam hal-hal budaya, sosial sampai pada kehidupan lainnya tak luput menjadi suatu yang dipertanyakan kembali.

Manusia dengan pandangan ini lebih cenderung untuk mengatakan bahwa posisi manusia pada waktu “Aku” sebagai segala semua itu bermula tidak lain adalah pengaruh dari apa yang ada disekelilingnya. Mereka itu memposisikan manusia-manusia modern dengan orang yang terpenjara yang seperti selalu diterawang oleh sipir penjara, tak bebas dari kungkungan keadaan.

Lantaslah ada yang mengatakan bahwa “subjek telah mati”. Kasihan, setelah Tuhan, ternyata ada juga yang mengatakan subjek telah mati. Pandangan dari dunia ini penuh dengan sensasi. Terlahir dari embrio yang sempurna menjadi suatu yang rumit. Tapi yang rumit itulah yang mereka inginkan, karena kerumitan bagi mereka mungkin adalah suatu kebebasan dari apa yang mereka idamkan.

Pandangan ini tak lantas dengan mudah untuk mengatakan bahwa sesuatu itu sudah pada tempatnya yang benar. Apalagi bila sesuatu itu didefinisikan secara cap nyata/linier/biner. Mereka lebih memilih untuk bersikap melawan/mendekonstruksi dan semisalnya.

Subyek; Permasalahan Diatas Kertas

Kritik atas modernism yang paling pedas datang dari para pemikir yang dikategorikan sebagai pemikir kritis. Salah satunya adalah madzhab frankurt dan pemikir2 lainnya yang relevan. Mereka merekonstruksi apa yang ditempati oleh subyek didalam bentuk kekuasaan dan kehendak yang menyiksa. Kapitalisme, kehendak berkuasa dan menguasai dan penindasan atas nama ekonomi.

Namun ada yang harus diketahui disini bahwa madzhab frankurt ini bisa dikatakan tergolong kepada orang-orang yang kritis terhadap beberapa hal saja yang merugikan. Tidak seperti orang postmodern yang ortodok! Oleh karena itu ada yang menyebutkan bahwa mdzhab frankurt ini adalah dari golongan modernism tinggi, ia bersifat ambigu.

Menurut mereka pembebasan subyek untuk pencerahan yang digadang-gadang ternyata malah membawa dampak yang lebih buruk dari apa yang telah ada. Pandangan orang postmodern itu sifatnya pluralism, tidak ada kebenaran absolut. Jadi apapun bentuk itu yang lahir dari kebudayaan kapitalisme lanjut pasti mendapatkan tempat yang layak. Artinya, mulailah berkembang pemikiran, kebudayaan, dan pandangan hidup yang ddasarkan kepada hal tersebut. Budaya popular, kembali kepada ajaran dulu, hidup bebas, liberalism dan lain-lain.

Oleh karena hal diatas maka madzhab frankurt – yang juga masih dikategorikan pemikir kritis – ingin sedikit mengkoreksi apa yang mungkin salah dari pemikiran alam postmodern. Khususnya bagaimana lantas lahir suatu pandangan berada dimanakah para pemikir postmodern ini? Apakah ada dipihak kapitalisme lanjut atau ada dipihak yang berbeda?

Secara Garis Besar dan Kelanjutannya Nanti 

Secara garis besar ada dua pandangan berbeda mengenai posisi subyek dalam laju perkembangan kehidupan. Yang pertama adalah dari kalangan Cartesian – modernism dan yang kedua adalah yang datang dari pembaharu/pengkritiknya, yaitu postmodernism – lacanian, faucultian, neitszhe, etc. Sifat pertama memandang subyek itu terbebas dari segala bentuk struktural, otonom, merdeka dan mempunyai tempat yang harmoni dengan kehidupan.

Namun disisi lain terdapat suatu salah konsepsi karena sebagian manusia juga ada yang mempunyai sifat kebinatangan yang selalu tidak puas dalam perkembangan zaman. Karena itu terdapatlah suatu masukan yang sampai kepada kritikan untuk memperbaharui apa yang telah diwariskan dari kalangan terdahulu. Namun apakah pembaharuannya tersebut adalah suatu jawaban yang bebas terhindar dari suatu kritikan? Mengingat kalangan ini selalu membesar-besarkan ideologi, subyek yang mempunyai luka dalam sejarah dan sebagainya.

Dalam postingan selanjutnya saya akan coba menerangkan subyek dengan menggunakan pandangan filsuf kontemporer, Slavoj Zizek. Kenapa zizek? Karena ditengah kicauan-kicauan “Subyek telah mati” Zizek seolah-olah ingin membuat suatu perdamaian konsep subyek untuk kedepannya. Dan tentunya apa yang ia bawa bukanlah merupakan sesuatu yang baru akan tetapi ia berdiri diatas pemikiran-pemikiran yang menginspirasinya.
Bulan bahasa yang biasa diperingati pada bulan Oktober telah menjadi suatu tradisi tahunan yang tak pernah berhenti menjadi penegur bagi penerus dan regenerasi rakyat Indonesia untuk terus menghargai sejarah dan melestarikan bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia.

Dengan adanya bulan bahasa – atau yang biasa disematkan dalam butir sumpah pemuda – ini diharapkan bisa menjadi momen yang berharga bagi rakyat Indonesia untuk lebih menghargai betapa pentingnya suatu bahasa dalam perkembangan dan keutuhan satu negara.

Pentingnya memupuk kecintaan terhadap bahasa Indonesia dirasa penting sekali dalam dunia global saat ini. Bukan hanya sebagai bukti rasa nasionalisme akan tetapi menjaga keutuhan bahasapun dirasa sangat perlu sekali.

Ada beberapa faktor yang bisa menjadi sebuah alasan betapa kita harus benar-benar memupuk kecintaan terhadap bahasa Indonesia. Pertama kondisi dan waktu yang telah berubah sedemikian rupa akibat dari pasar global yang diusung oleh kemajuan tekhnologi yang pesat telah serta merta membawa perubahan-perubahan pada wilayah sosial, budaya, nilai dan bahasa. Bahasa sebagai alat paling efektif dalam suatu proses tersebut mempunyai dampak yang paling siginifikan.
Belum segenap satu minggu berlalu. Saya masih saja kepikiran mengenai kesan setelah menonton acara TV yang selalu tayang disalah satu media TV di Indonesia. Acara tersebut khusus ditayangkan untuk memberi tahu kepada kita bahwa ditengah kebahagiaan yang sedang dinikmati ternyata masih banyak – tak terhitung – saudara-saudara kita yang kesulitan dalam segi ekonomi, bahkan untuk makan sekalipun. Bila kita berkaca kepada sejarah maka kita harus bertanya apakah gunanya kita sebagai makhluk sosial?

Sebuah pertanyaan seharusnya kita ajukan dan tuntut kembali kepada pemimipin-pemimpin yang selalu menggunakan embel-embel rakyat terpinggir sebagai alat politik! Mana janji manismu sebelum tuan menjadi orang?

Perasaan ini adalah yang selalu muncul mewarnai hati sehari-harinya. Ditengah gempuran para koruptor yang seakan tak pernah berhenti, ditengah kerusuhan yang seolah menjadi hal yang biasa terjadi, dan ditengah kemerosotan kehidupan moral yang terlihat atau tak terlihat dengan mata.

Ibnu Khaldun adalah salah satu sarjana besar yang pernah dimiliki oleh ummat Islam di dunia.  Kecemerlangan dan kepintarannya bisa kita baca sendiri dalam bukunya Muqaddimah. Dan juga telah berkat buku itulah banyak para ilmuwan diseluruh dunia menjadi terinspirasi. Hidup beliau mungkin tidak sezaman dengan kita tetapi perlu diingat bahwa beliau adalah salah seorang ilmuwan yang melampaui zamannya. Dengan mahakarya yang ditulisnya, – Muqaddimah – ia dikenal brilian oleh orang barat dan juga timur sebagai seorang historiography.

Muqaddimah memuat hal ihwal tentang pembenaran beliau terhadap nukilan-nukilan yang tiada tanpa alasan yang jelas dan peradaban manusia pada umumnya. Penegasannya dibarengi dengan alasan-alasan yang masuk akal. Semua yang ditulis oleh beliau InsyaAllah masih relevan untuk dipelajari lagi di zaman sekarang.
Salah satu perbincangan yang menurut saya menarik dari salah satu judul yang beliau tulis adalah tentang Imam Mahdi. 

Bukanlah tanpa alasan mengapa saya memilih subtulisan ini akan tetapi permasalahan ini seringkali menimbulkan dan perbedaan diantara ummat Islam itu sendiri. Sebagian ada yang benar-benar percaya kepada Mahdi dan sebagian ada yang menganggap hal itu melemahkan sikap semangat jihad kita.

Berikut saya akan salinkan pendapat Ibnu Khaldun tentang Imam Mahdi. Semoga dengan pencermatan dan logika berpikir dialektis pembaca, tulisan ini akan senantiasa bermafaat untuk direnungi kembali, dipertanyakan kembali didalam hati.

Ibnu Khaldun; Mahdi. Pendapat manusia tentang dia. Kebenaran masalah ini. 2

Telah diterima ole kaum muslimin, bahwa pada akhir zaman seorang keluarga Nabi Muhammad pasti akan muncul memperkuat islam dan, dan menampakan keadilan. Kaum muslimin mengikutinya, dan dia akan menguasai kerajaan-kerajaan Islam. Dia akan disebut Mahdi. Dajjal akan muncul mengikutinya, bersama dengan semua tanda akan datangnya hari kiamat yang telah ditentukan didalam hadits-hadits Shahih. Setelah Mahdi, Isa akan muncul, sera membantunya membunuh Dajjal.

Pernyataan ini telah ditemukan didalam tradisi para pemuka muslim yang telah diterbitkan. Secara kritis mereka diperbincangkan oleh orang-orang yang selalu menentang sebagian dari tradisi tersebut. Ahli-ahli sufi mutakhir memilik teori dan kesimpulan lain berkenaan dengan Mahdi ini. Mungkin dalam hal ini, mereka bertolak dari kasyf yang merupakan sumber teori mereka.

Waktu, orang, dan tempat secara jelas mereka terangkan berdasarkan dalil dugaan dan kesimpulan yang berbeda-beda. Waktu yang diramalkan telah berlalu, dan tak terlihat isyarat bahwa ramalan itu berlaku. Kemudian, saran-saran baru diserap berdasarkan dugaan linguistik, gagasan imajiner, dan hukum-hukum astrologis. Umur orang semacam itu dihabiskan demi anggapan-anggapan tersebut.

Sedangkan para sufi, yang hidup semasa dengan kita, kebanyakan menuju pada munculkan seorang mujaddid, yang memperbarui hukum-hukum Islam dan ordonansi kebenaran. Mereka berasumsi bajwa kemunculannya akan berlangsung beberapa waktu dekat dengan periode kita. Sebagian mereka menyatakan bahwa dia akan berasalah dari putra Fatimah. 

Sebagian lagi berbicara tentang dia hanya dalam istilah umum. Kita dengan sekelompok sufi, yang paling besar diantara mereka adalah Abu Ya’Qub, telah menceritakan kepada kita tentang kakeknya. Dia mengetahuinya dari kebenaran dari ayahnya, Abu Muhammad Abdullah.

Kebenaran yang harus diketahui ialah bahwa da’wah agama dan propaganda kedaulatan tidak akan berhasil kecuali melalau kekuatan solidaritas sosial, syawkah ‘ashabiyah, yang mendukung da’wah atau propaganda tersebut, serta melindungi agama dan kedaulatan dari para penyerangnya, sehingga kekuasaan Allah terlaksana didalamnya. Sebelum ini kita telah menyebutkannya dengan bukti-bukti kuat.

Solidaritas sosial Bani Fatimi, bahkan solidaritas sosial Quraisy seluruhnya, telah hancur disegala tempat. Ada bangsa lain yang solidaritas sosial mereka telah mengalahkan solidaritas sosial Quraisy, kecuali sisa-sisa Bani Thalib – yaitu Bandi Hasa, Bani Husain, dan Bani Ja’far – di Hijaz, di Mekah, dan Yanbu’ di Medinah. Mereka tersebar dan berkuasa di kota-kota itu. Mereka digalang oleh solidaritas badawi, dan tinggal terpencar serta berkuasa di berbagai tempat, serta mencakup pendapat yang menyimpang jumlah mereka ada beberapa ribu.

Jika benar Mahdi akan muncul, hanya ada satu cara yang didapat membuat propagandanya muncul. Dia harus salah seorang diantara mereka, dan Allah harus mempersatukan mereka supaya  menjadi pengikutnya, hingga dia menghimpun kekuatan, syawkah, dan solidaritas sosial, ‘ashabiyah, yang cukup untuk menyatukan kata dan menggerakan rakyat.

Tanpa cara demikian – misalnya seorang Fatimi hendak mempropagandakan diri sebagai Mahdi dikalangan rakyat dimanapun juga, dan tanpa dukungan solidaritas sosial dan kekuatan, kecuali dari hubungan kekeluargaan dengan Muhammad tak mungkin itu terjadi dan berhasil, karena alasan-alasan logis yang telah kita kemukakan didepan.

Orang-orang awam, orang-orang bodoh, yang membuat pernyataan sehubungan dengan Mahdi, dam yang tidak menyertai pernyataannya itu dengan pemikiran atau pengetahuan berasumsi bahwa Mahdi dapat muncul di suatu situasi dan tempat. Mereka tidak mengetahui hakikat masalah. Kebanyakan mereka berasumsi bahwa kemunculan itu terletak dibeberapa provinsi yang jauh di luar kerajaan dan diluar kekuasaan raja-rajanya, seperti az-Zab di Ifriqiyah dan as-Sus di Magribi. 

Karenanya, mereka dengan yakin beranggapan bahwa Mahdi akan muncul disana, ketika daerah-daerah ini tidak berada di bawah kontrol negara, dan diluar jangkauan hukum. Hanya demikian puncak pemikiran mereka. Mungkin sudah banyak orang yang lemah akal pergi ke tempat tersebut dengan tujuan mendukung suatu alasan yang mengecohkan, bahwa jiwa manusia dan khayalan dan kebodohannya menggiring mereka untuk mempercayai sesuatu. Kebanyakan dari mereka telah dibunuh.

Notes:

Hamka. Membahas Soal Islam:426 ↩
Ibnu Khaldun, Muqaddimah:386 ↩
Ibnu Khaldun menyebutkan hadits-hadits mengenai Mahdi, berikut penentang-penentangnya lengkap dengan dalil masing-masing. Diikuti dengan keterangan mengenai pendapat kaum sufi. Keterang panjang ini kami lepas dari edisi terjemahan kita ↩
Adakah sesuatu yang mendekati hal itu sekarang ini? ↩
Bentrok yang bermula – santer dalam berita – dari kasus pelecehan yang dialami oleh seorang wanita yang berasal dari kelurahan berbeda ternyata berbuntut panjang sampai kepada bentrok antar etnis yang ada di wilayah Lampung selatan. Dari bentrok tersebut korban yang tewas pun berterbaran akibat dari kebrutalan manusia yang tiada bisa menahan laju sombong ego yang sedang dipuncaknya.

Beginilah potret yang sedang mewarnai lika-liku keadaan Indonesia sekarang ini. Tawuran dan bentrokan seakan menjadi suatu hantu bergentayangan yang dimana saja, setiap saat bisa merasuki manusia-manusia lemah yang tak bisa menahan nafsunya. Meskipun pemicunya hanyalah kecil tapi dampaknya bisa menjadi luar biasa.

Coba anda ingat sedari kecil apa yang bisa memelihara nafsu kita untuk tidak berbuat hal-hal yang dilarang? Ataukah anda tidak pernah mendapatkan suatu ajaran moral yang diajarkan turun temurun? Mungkinlah kalau memang termasuk seperti itu maka pepatah lama pun bisa saya ajukan “Manusia-manusia yang terdidik Zaman”.

Kekerasan itu seperti bensin yang sangatlah mudah untuk disulut walau hanya dengan sepercik api. Ia bisa menimbulkan suatu ketakutan yang tiada taranya, ia bisa menimbulkan suatu kebrutalan yang terlihat seperti binatang yang tiada segan menerkam mangsanya. Lantas ketika ia menyebar dengan cepatnya, ia tak perduli untuk melumat setiap apapun yang dilewatinya, bahkan hukum Allah pun – membunuh – sangatlah mudah untuk dilupakan.

Barang-barang yang ada diwilayah musuh pun menjadi suatu objek dari subjek yang menandainya bertentangan. Termasuk diantaranya rumah-rumah dan mobil-mobil yang dianggap mereka sebagai suatu sasaran empuk yang harus dihancurkan, dibakar dan dimusnahkan. Alhasil banyaklah diantara mereka – yang tiada bersalah – pada akhirnya mengungsi ke tempat-tempat yang jauh dari wilayah konflik. Mestinya organisasi dunia mencanangkan HAB yaitu hak asasi benda, hahaha.

Konflik Serupa Sebelumnya. Adakah Sama?

Bentrokan antar etnis di Lampung selatan bukanlah kali pertama terjadi di Indonesia. Melainkan kejadian serupa telah ada terlebih dahulu. Seperti bentrokan antara suku dayak dan Madura yang pernah terjadi di daerah Kalimantan sana. Beberapa permasalahan yang dianggap sebagai pemicu bentrokan pun mencuat. Sebelumnya saya ingin mengingatkan sahaja bahwasanya masih mungkinlah bagi orang desa agom untuk berdamai tanpa melalui perang dengan orang desa balinuraga apabila sebab musababnya hanya sebatas perkelahian, pelecehan dan hal-hal yang sepele.

Tapi nyatanya tidak demikian. Apabila ditelusuri lebih lanjut maka terdapat faktor-faktor lain yang menjadi penyulut bentrokan. Hal itu berupa hak penduduk lokal dibandingkan dengan pendatang sampai kepada kebijakan pemerintah yang dinilai kurang adil. Tanyakanlah kepada diri anda sendiri apakah hal diatas juga terjadi di lampung sana? Jangan lah menjadi seorang yang mengkritik tanpa solusi dengan mengatakan bahwa agama islam bla bla bla bla. Yang demikian itu adalah orang yang mudah untuk diprovokasi bro!

Menurut Hartoyo – sosiolog dari UNLA – bentrokan ini tidak terjadi secara tiba-tiba sahaja melainkan sudah ada pemicu-pemicu yang menunggu waktu untuk meledaknya. Bukan hanya karena perkelahian sahaja akan tetapi kesenjangan ekonomi diantara kedua etnis berbeda ini bisa juga menjadi pemicu bentrokan yang berkala. Lebih lanjut lagi seorang sosiolog lainya (lupa lagi) – tvone – ketika ditanya mengapa hal ini terjadi. Beliau mengatakan bahwa kemungkinan pemicu terjadinya bentrok ini adalah karena penduduk pendatang lebih dominan dari penduduk lokal dalam segi ekonomi.

Untuk bertanya mengapa bisa terjadi seperti demikian merupakan suatu jawaban yang sulit untuk diungkapkan disini secara detail. Namun ada beberapa poin yang mungkin bisa sedikit dipaparkan dalam tulisan singkat ini. Bahwasanya mungkin hal itu terjadi karena. Etos kerja yang ditanamkan penduduk pendatang biasanya lebih tinggi daya juangnya. Esensi merantau – untuk kembali – dengan berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Selanjutnya ketika suatu etnis berkumpul di wilayah yang bukan pribuminya maka kesadaran solidaritas sosial kesukuan nya diantara mereka akan lebih tinggi ketimbang ketika dikampung halaman.

Seorang guru besar antropolog, Prof. Irwan Abdullah dalam bukunya mengatakan bahwa ada dua hal yang bisa menjadi sangat berbahaya didalam ruang lingkup penduduk yang memuat lingkungan pendatang dan penduduk lokal. Yang pertama adalah ketika kelompok etnis dominan – yang lebih unggul dalam hal ekonomi dll – mendapatkan privelese dari berbagai agen sosial, khususnya pemerintah, dan yang kedua adalah ketika kesadaran tentang batas-batas budaya (cultural boundaries) mulai muncul. Orang-orang lampung setempat mungkin menyadari bahwa terdapat suatu keadaan dimana penduduk pendatang mempunyai tempat yang lebih dari mereka.

Bagaimanakah Seharusnya Kedepannya

Untuk mengatakan bahwa konflik diatas adalah sebab dari perbedaan budaya/etnis atau ajaran agama rasanya kurang tepat sekali untuk disebutkan sebagai pemicu awal dari konflik berdarah yang terjadi baik di lampung selatan dan di kalimantan. Nyatanya apabila ditelusuri lebih jauh akan ditemukan beberapa pemicu masalah penting bagaimana hal itu bermula.

Kalau misalnya pertemuan diantara kedua budaya yang berbeda ini ditata dan mendapat perhatian yang khusus dari pemerintah setempat mungkin akan sedikit mengurangi ketegangan-ketegangan yang biasa terjadi diantara dua etnis berbeda. Pertikaian disini bukan disebabkan oleh perbedaan budaya dua etnis itu, tetapi oleh suatu sistem sosial politik yang tidak mampu menjamin keseimbangan kekuasaan ekonomi dan politik antar etnis. – Irwan Abdullah – Oleh karena itu sudah seharusnya pemerintah pusat atau daerah memecahkan pertikaian diatas dengan jalan yang adil, tidak mementingkan satu pihak dan yang lainnya. Baik dengan meninjau ulang lingkungan dimana kedua budaya berbeda itu berada sampai kepada kehidupan penduduk diantara kedua penduduk.

Apabila terdapat suatu keadilan yang dirasakan oleh kedua penduduk yang berkonflik maka konflik berdarah mungkin tak perlu terjadi. Karena sedari dulu kita sudah hidup didalam perbedaan, perbedaan itu bukanlah suatu halangan, melainkan suatu kebersamaan yang mempunyai cita-cita yang luhur yakni merdeka.