ARCHIVE

Default Thumbnail


Ada yang enggan
Ketika bunga yang layu
Menemukan mekarnya
Tepat dialtar rerimbunan pohon yang riak

Seakan terguncang
Yang riak pun menyeruak
Tak mau bila yang mekar
Menemukan bunganya merekah

Ditebaslah bunga tersebut
Oleh karena jiwa yang gundah
Tak menghendaki mereka untuk mewangi
Satu persatu bungapun layu kembali

Kepergian mereka adalah hati yang pilu
Setiap tangis pada bola matanya
Terasa mengiris hati dibingkai sejarah
Yang seharusnya hidup mewarnai bumi, menjadi klise dimata yang gundah

Sama waktu dengan kisah lalu
Saudaraku lemah dihadang gemuruh
Namun kuat untuk terus mendayuh
Mereka bediri tegak menentang daripada diam binasa diatas bisu

Ada yang tak elok bila kebersamaan akhirnya pudar
Padahal ia berdampingan pada setiap garisnya
Warnanya yang beragam mampu melunakan setiap pelupuk mata sang pemandang
Walaupun begitu ia tetaplah terjangkau sang iblis

Bila keberagaman tepat pada wajah kepentingan
Rahmat Tuhanpun mereka kesampingkan
Bak duri yang tumbuh melukai setiap pemandangnya, tajamnya itu ialah kerakusan
Begitulah nampak ketidakharmonisan

Kehendak kuasa dari manusia buas begitu mengerikan
Dalam hati mereka hidup bersemayam jiwa yang sakit
Jiwa yang barangkali terlempar jauh dari syurga
Menembus relung jiwa manusia yang terlena dunia

Sekarang nampaklah pada kita sebuah cermin
Sebuah perkara yang bisa jadi sebuah isyarat
Bilamana kelak kita memandang diri disekitar
Terdapat satu kuasa manusia yang tak cinta kebersamaan

Yang ada pada syair ialah renungan berkala seiring waktu
Ia penghantar rasa jika mata tak bisa menatap dan sedih tak bisa memeluk

Semoga mereka yang disana diberikan kesabaran.
Walau terasa lama mereka mendera dari perkata sabar
Yakinlah nanti semuanya terbalas setimpal dari dera yang menjerat
Bersahajalah karena doa yang terpanjat, senantiasa sampai padaNya.

Bila tidak sekarang di dapat, janganlah mengira keadilan tak pernah menyambangi
Kelak semuanya tidak akan semu dan tak akan ternoda dari perkata yang tak benar

"Puisi ini termasuk dalam 80 Puisi(dibukukan) naskah terbaik yang diselenggarakan FAM Indonesia dalam tema Mesir, Palestina dan Rohingya"- Muhammad Zaki Al-Aziz, Aydia.
Syahdan, konflik yang terjadi di Timur tengah nampaknya telah membuat beberapa kengerian yang mendalam disatu sisi dan rasa penasaran disisi lainnya. Perang kecil yang besar barangkali bisa kita lekatkan kepada mereka, yang sampai saat ini saya menulis, sedang berseteru pada ranah kekuasaan yang sama.

Bukanlah tanpa alasan bila saya menyebutnya perang kecil yang besar. Melainkan itu adalah sebuah pertanyaan kenapa dalam sebuah kehidupan bernegara, apalagi dengan label dibawah naungan demokrasi ternyata tak menghindarkan negara dikhianati oleh sistem itu sendiri. Apabila melihat pada hakikat sebuah negara, yang didalamnya terhimpun beberapa keluarga yang meluas pada kehidupan sosial, nyatanya, telah cacat dan terbelah, serasa tak ada lagi kehendak yang satu - Gemeinschaft atau memudarnya solidaritas sosial.

Konflik, apapun itu namanya apabila ia menimbulkan korban jiwa yang banyak haruslah kita sebut dengan perang. Walaupun keadaan tak sama dengan, sebut saja contoh, perang dunia, Irak, dan perang besar lainnya akan tetapi dampak konflik di Timur tengah tersebut tak menyurutkan arti dari sebuah perang itu sendiri yang menimbulkan kengerian.

Dengan begitu maka setidaknya kita berpendapat untuk melihat konflik yang sedang terjadi di timur tengah itu tidak terbatas hanya pada urusan perpolitikan negara mereka saja. Melainkan hal yang luas dan terselubung. Dan pada taraf seperti ini maka setidaknya kita lebih satu langkah didepan negara-negara yang mempunyai judul sebagai negara pembawa kedamaian.

Dua Sama Tapi Beda

Banyak aksi-aksi solidaritas yang dilakukan rakyat, dimanapun mereka berada, terhadap tragedi-tragedi yang sekarang banyak menerpa Negara Timur tengah. Khususnya di Indonesia hal itu adalah keniscayaan karena melihat banyaknya, meskipun tidak semua, umat muslim yang menjadi korban-korban konflik tersebut. Dengan begitu maka hubungan solidaritas antar satu paham agama sedikit demi sedikit terbuka untuk mencuat karena melihat saudara-saudara yang mati berguguran disana.

Sekarang pertanyaannya adalah mengapa terdapat dua hal yang berbeda dalam satu tujuan yang sama? Karena dukungan-dukungan yang muncul di Indonesia pun, pada khususnya, telah mendua. Ada yang berpihak kepada posisi A, yang mana banyak dari mereka memprogandakan fakta-fakta nyata dibalik konflik yang sedang terjadi dan ada pula yang berpihak pada posisi B yang mana mereka juga memberikan satu porsi yang sama dengan pihak pertama.

Salah satu yang menjadi penyebabnya ialah adanya suatu pemikiran dan pemahaman yang berbeda dalam mengartikan islam itu sendiri dan hubungannya dalam kehidupan. Sepengetahuan saya dalam dunia keislaman ada yang mempunyai definisi Sekuler, Liberal, dan juga Fundamental. Ketiga tersebut adalah definisi, artinya ada satu kesenjangan berbeda diantara satu definisi dengan definisi lainnya dalam hal keislaman. Khususnya yang terakhir diatas adalah kosakata yang selalu dibahas oleh sarjana barat dalam memandang dunia Islam.

Fundamentalis Islam menjadi banyak kajian orang barat pada masa-masa terakhir perang dingin. Ketika faham komunisme mulai memudar seiring waktu maka negara-negara jajahan Rusia yang dulu berdekatan dengan Islam mulai menemukan kembali udara segarnya.

Dengan berakhirnya komunisme maka usaha-usaha mereka untuk mendapatkan kemerdekaan ternyata tidak berhenti sampai disitu. Keinginan dari beberapa wilayah yang menginginan negara yang bercirikan Islam ternyata menjadi suatu ketakutan bagi dunia barat atau bahan ejekan. Sehingga sampai saat ini mereka selalu memberikan gambaran dunia Islam dengan kekerasan atau representasi dunia ketiga yang tak elok. (Film Hollywood.)

Kembali lagi kepada konflik yang terjadi di timur tengah. Dengan begitu maka terdapat beberapa perbedaan pendapat diantara mereka dalam menyepakati kehidupan bernegara. Yang terjadi di Suriah adalah perang saudara sesama muslim, namun kenapa menimbulkan konflik yang cukup hebat bahkan senjata kimia, sebagai senjata yang dilarang, ternyata dengan mudahnya dioperasikan disana?

Negara Mesir sama saja. Mereka yang berseteru banyak juga yang muslim versus muslim tapi kenapa konflik tersebut meninggalkan korban jiwa yang banyak bahkan Mesjid, sebagai Rumah Tuhan, tiada bisa menahan nafsu para militer yang dengan keji menembakan beberapa peluru tajam? Begitupun Turki dikala kerusuhan beberapa hari yang lalu, mereka sama saja saling berseteru meski memiliki agama yang sama.

Media dan Oposisi Biner

Perbedaan-perbedaan diatas akan terasa sangat tajam bila ditambahkan atau dibumbui dengan hadirnya media-media yang selalu rajin memperbaharui berita-berita yang berhubungan dengan konflik tersebut. Baik tingkat level internasional, nasional bahkan lokal!

Kenyataannya kehadiran media dirasa bukanlah menjadi penengah antara jurang-jurang yang berbeda diatas. Melainkan kehadiran media pun turut menggiring pendapat-pendapat masyarakat yang berbeda tersebut untuk beropini liar sesuka mereka. Serasa mendapatkan udara segar ketika suatu berita didapat sama dengan yang dirasa maka bagian yang seharusnya dipertanyakan dihilangkan begitu saja, tanpa konfromi.

Adalah media yang membantu intensitas perang yang notabennya terjadi dibelahan dunia sana nampaknya terasa menggelora didunia sini. Pelbagai situs-situs mulai rajin dengan terus mengupdate berita-berita terbaru yang berhubungan dengan konflik tersebut. Suatu keuntungan yang besar bagi sebuah website dengan mengingat banyak umat muslim yang merasa ingin terus mengetahui keadaan perang disana.

Adanya suatu keberpihakan antara media dan kuasa rasanya sama dengan, meminjam istilah Michael Foucalut, yang menjelaskan tentang kuasa dan pengetahuan.

Maka kita harus mempertanyakan kembali bagaimana kemerdekaan, dalam dunia media, apabila berpendapat tentang satu hal dibarengi dengan kehendak kekuasaan? Ketika media dipegang oleh tampuk kekuasaan absolut maka yang terjadi adalah yang berkuasa, meski separah apapun ia bertindak maka akan terlihat menawan dimata pemandang media, yah itu jelas dekat dengan Propaganda. After trias politica?

Media telah memainkan peran penting dalam merangkai oposisi biner diantara pembaca. Wacana-wacana yang mereka tawarkan serasa dentuman bedil bak genderang perang yang harus diselesaikan, oleh mereka yang tak sependapat, dengan opini-opini palsu dari bahan pinjaman yang telah ada.

Oposisi biner ini atau bahasa lainnya ada hitam dan putih, jahat dan baik, dan contoh lainnya sering kita dapatkan dalam gambaran bagaimana satu media memberikan berita-berita yang menyangkut konflik tersebut. Oposisi biner itu menjadikan kita bingung dan ingin selalu bertanya sebetulnya yang benar-benar terjadi disana itu apa sih? Apa perang antara sunni dan syiah sebagaimana yang selalu dikatakan media A, atau perang ini adalah antara perang “Terorisme” melawan pemerintahan atau apakah perang ini adalah akibat geopolitik yang kian berkembang tak terarah alias ada kepentingan dibalik semua itu?

Lantas kebingungan dan tidak adanya pendirian yang kuat dalam menyaring informasi bisa menimbulkan beberapa keberpihakan yang semu. Dengan tidak adanya lagi sikap mempertanyakan kembali atau bahkan meninjau ulang makna yang tersirat dalam media akan menimbulkan suatu tindakan palsu namun dirasa asli.

Sedikit Tentang Televisi & Phobia Mereka

Siapa yang diantara saudara-saudara tepat tiga hari yang lalu menyimak film-film yang ditayangkan disalah satu siaran televisi kenamaan di Indonesia? Yah Trans TV. Nampak kepadanya bahwa ada suatu macam kesetujuan dalam memberikan satu porsi bagaimana mereka memandang permasalahan.

Dalam ruang lingkup ranah kajian budaya dan media, kata Douglas Kelner, kita bisa saja berhenti pada taraf bagaimana teks itu diberikan tapi alangkah luasnya bila kita melihat pada dunia luar yang berada diluar jangkauan teks tersebut.

Adalah gambaran, representasi, dari mereka yang berfaham, kurang lebih, tak setuju dengan gerakan-gerakan ekstrimis Islam atau bisa jadi mereka ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia bahwa gerakan apapun yang terjadi di timur tengah sana maka kita harus menonton terlebih dahulu film tersebut. Sekedar informasi saja, sudah tiga hari yang lalu Trans TV menyuguhkan film-film perang yang didalamnya memuat citraan-citraan tentang pertentangan Islam “Terorisme” dan Amerika “Heroisme” dan sebagainya.

Apapun itu niatnya, saya berharap apa yang kita tonton dalam film tersebut tidak menimbulkan suatu ketakutan - Islamphobia di Negeri sendiri. Karena bila kita melihat kepada sejarah nampak pula pada waktu dahulu terdapat suatu ketakutan Azerbaijan dari berkembangnya blok negara jajahan komunis yang ingin berdiri dengan bendera/unsur-unsur Islam, oleh karenanya disuguhkanlah kepada mereka berbagai film-film, sebagai propaganda, sentimentil tentang Islam dan sebagainya.

Padahal kalau kita mengetahui bahwa realitas dalam media itu adalah hasil cipta kedua dari pada realitas asli, yang mungkin, dihilangkan, dirubah atau diselewengkan. Dizaman sekarang media telah banyak memainkan peranan penting untuk memberikan beberapa pandangan bagi masyarakat.

Prakata Terakhir

Konflik yang sedang terjadi ditimur tengah diharapkan dijadikan suatu pelajaran yang berharga bagi kita. Ia adalah gambaran pelajaran dari bagaimana ketidakharmonisan antara warga - warga dan warga - pemerintah mengakibatkan konflik berdarah yang sangat lama. Apabila sudah seperti itu digoyahkan pun ia akan mudah terombang-ambing.
Bagaimana caranya kita memahami T.S Eliot melalui karya-karyanya? Khususnya karya beliau yang terbilang klasik seperti The Love Song of J. Alfred Prufrock, The Waste Land, dan The Hollow Men.

Barangkali untuk menganalisis karyanya, kadang, kita memerlukan bagaimana seorang penulis itu hidup, dimana ia tinggal, dimana ia menetap dan bagaimana kehidupan penulis pada sebagiannya memberi andil penting bagi dia dalam menulis.

Oleh karena itu kiranya kita juga perlu mengetahui biografi dan benih budaya tempatnya tinggal yang ada pada T.S Eliot.

Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi kursus online secara gratis yang membahas tentang T.S Eliot berserta karya-karyanya. Selain itu ada juga karya-karya beliau yang akan dibahas dalam kursus ini.

Kursus online ini diberikan secara gratis dari website Udemy. Satu dari banyaknya situs yang memberikan kursus-kursus (yang mirip seperti perkuliahan) secara online. Pengajarnya pun tidak main-main. Dalam sesi ini, T.S Eliot, yang memberikan kursus adalah seorang Professor dari Duke University.

Dibawah akan dituliskan beberapa bagian yang akan kalian dapati bila mengikuti perkuliahan online ini.

  1. Perkenalan Kursus (Perkuliahan online)
  2. Biografi T.S Eliot
  3. Eliot dalam bingkai
  4. Eliot's Timeline
  5. Buku-buku monumental Eliot
  6. Eliot and Naturalism
  7. The Crisis of Belief: Naturalism
  8. Modernism
  9. The Love Song of Alfred Prufrock (Poem and Song)
  10. Sweeney Among the Nightingales
  11. Portrait of a Lady
  12. Preludes (a poem)
  13. Gerontion
  14. The Waste Land - Introduction
  15. The Hollow Men
  16. Eliot's Conversion, Journey of the Magi
  17. Ash Wednesday
  18. Course Wrap-up: Literary and Cultural Criticism
  19. Concluding Note 
Bagaimana memulai kursus ini? Caranya mudah, ikuti langkah dibawah!
  1. Klik disini untuk menuju laman kursus online
  2. Setelah itu, sign up terlebih dahulu, atau bisa juga menggunakan facebook
  3. Tadaaaa, mulailah kursus kalian dengan berdoa.
 
Born in New Hampshire (1935), raised in Central Massachusetts; A.B. Clark University, 1957; PhD in English and American Literature, Brown University, 1962; Taught at University of Vermont, 1962-1966; at Duke University, 1966-present. Published books on Robert Penn Warren, William James, William Faulkner, and Cynthia Ozick; essays on many 19th and 20th century American writers. Most of these writings are freely available (or soon will be) at Duke University website, tap "dukespace," then "faculty scholarship." Fulbright Senior Lecturer in American Literature in Sweden (Uppsala, 1973), Belgium (Louvain, 1980), Germany (Mannheim, 1987), and the Czech Republic (Olomouc, 2001). Also taught in Japan (Kobe College, 1994) and Morocco (Marrakech, 1987). Married 1961 to Penelope Hamilton; two daughters, Anne and Susan.
(Victor Strandberg)
Prof. Victor Strandberg




Silahkan meninggalkan komentar bila ada pertanyaan atau sesuatu yang ingin ditanyakan, salam.
Ilustrasi

Sebuah Pengantar:

 
Bayangkan bila kemajuan tekhnologi dizaman sekarang bisa membuat yang jauh terasa mendekat dan sebaliknya, yang terasa dekat menjadi menjauh?Hal-hal seperti ini, khususnya dalam dunia global, dunia media baru (baca:paska Marshal Mclluhan) telah mencapai satu titik yang membingungkan.

Kita bisa menjadi mesin didalam konteks tertentu dan mesin bisa menjadi kita dalam konteks tertentu. Keduanya sama yakni kita mempunyai satu simulasi yang hebat. Melebihi dari apa yang diungkapkan Baudrillard, mungkin.

Sebagai satu contoh, akhir-akhir ini, para pakar tekhnologi barat telah menemukan sesuatu yang menghebohkan. Ia heboh karena menyinggung hal-hal yang sensitif, yang selalu membuat manusia tersipu mau karenanya.

Orang barat telah menciptakan mesin yang mampu membawa pengalaman manusia pada tempat yang tidak semapai. Manusia berada dalam pengalaman mesin. → The Experience Machines. Atau dalam bukunya Yasraf Amir Piliang itu adalah Ketika gairah tubuh digantikan oleh mesin.

Pertanyaannya bagaimana jika semua hal yang anda inginkan dengan mudahnya bisa dibuat replikanya oleh mesin dan pada saatnya itu anda tidak mampu membedakan mana yang asli dan mana yang tidak?

Bagaimana bila anda sedang kangen banget terhadap seseorang yang pada kenyataannya ia sedang berada di Amerika?Dan kangennya itu memuncak pada keinginan yang paling monumental dari kedua jenis kelamin yang berbeda yang sedang dinaungi rindu yang menggebu?

Jawabannya anda akan ngacay!!Tau tidak arti ngacay?Ngacay adalah baeud karena hasrat yang kuat untuk melampiaskan kangen terhadap pasangan anda hanya berakhir dengan kalimat "nanti aja yah kalau ketemu" :D

Tapi tenang, untuk saat ini, pada saat-saat media dan tekhnologi telah mencapai pada tahap yang paling mengagumkan dari kemajuan, hal tersebut bisa teratasi hanya dengan lewat mesin. Lebih jelas lagi ia bisa menjadi satu pengalaman luar biasa hanya dengan lewat mesin, kabel, kamera dan vibrator yang ada pada kabel tersebut.

Bila tangan kekasih kita, umpamanya bergerak kepada tangan, maka pasangan lain, yang jauh dari pasangan satunya, akan merasakan bagaimana sentuhan itu mulai terasa dalam kabel atau pengalaman yang ditimbulkan dari mesin hedon itu.

Hal tersebut telah melampaui hubungan sex nya itu sendiri. Ia telah menjadi semacam Post-seksualitas dalam dunia cyberspace, yang pada awalnya digambarkan sebagai sebuah ruang halusinasi yang tercipta dari jaringan data-data komputer, yang digunakan sebagai saluran komunikasi antarmanusia dalam skala global, pada perkembangan mutakhirnya telah menjelma menjadi sebuah saluran raksasa dari hampir setiap aktifitas manusia, termasuk aktifitas seksual. (Yasraf Amir Piliang)

Ilustrasi
Hal ini bukanlah tanpa persoalan. Ia banyak menimbulkan persoalan dari segi apapun. Namun yang selalu menjadi permasalahan utama pada konteks seperti ini adalah bagaimana definisi yang sudah kuat mengakar sedari dulu didekonstruksi secara hebat dengan adanya mesin pengalaman ini. 

Beberapa Kegalauan Yang Melingkar 


Syahdan, dunia sekarang adalah dunia yang sering didefinisikan kepada periode yang galau dan itu banyak kita temukan pada dunia Filsafat. Lebih jelasnya lagi hal tersebut selalu menyinggung tentang keberadaan subjek didunia modern saat ini.

Dalam postingan saya yang menyinggung tentang dunia peralihan "Problem Subjek: Modern dan Posmodern" dijelaskan sedikit tentang bagaimana dunia ini sangat erat terpengaruh dengan peralihan dunia galau tersebut.

Adalah subjek yang selalu menjadi titik diskusi para penikmat filsafat, sosial, sejarah, pada umumnya atau cultural studies. Bukanlah tanpa alasan mengapa mereka selalu mendiskusikan problem tersebut.

Bahkan seorang Zizek pun, yang terkenal dengan pemikirannya yang frontal, selalu membahas hal ini.

Bila berbicara tentang subjek, setau saya, maka kita harus berpaling pada satu kata yang bisa menjadi titik temu antara kegalauan tersebut. Tali yang bisa memikat kita untuk mengerti kegalauan tersebut yakni Alienasi.

Sebetulnya ada banyak definisi yang menyerupai alienasi. Namun untuk menghormati Marx, sebagai orang yang terkait erat dengan teori ini, maka saya memakai kata klasik ini.

Modernitas, Realitas dan Identitas Subjek


Kematian subjek dalam dunia tekhnologi adalah permasalahan yang akan selalu menjadi daya tarik untuk dicermati. Namun pada hal lain tersebut kita juga harus mempertanyakan kembali keberadaan realitas dizaman sekarang.

Pembicaraan identitas subjek dan realitas dizaman modern adalah pionir bagi periode posmodern. Ia adalah salah satu kunci bagaimana keagungan modern bisa digulingkan pada titik-titik tertentu. Baginya kedua tersebut telah mati dan keduanya digantikan oleh apa yang diciptakan manusia. Manusia teralienasi dalam kehendaknya. Manusia dimakan tewas oleh ciptaannya sendiri.

Singkatnya adalah subjek telah mati. Yang ada adalah kegirangan dan kesenangan yang membuas seakan meniadakan peran subjek yang sebenarnya. Realitas telah melebur dengan simulasi. 

Seharusnya Bertanya


Benarkah yang kita dapatkan dari mesin pengalaman ini adalah sebuah realitas atau hanya sebuah ruang cyberspace, tandasnya citra realitas? Karena pada kenyataannya realitas itu banyak menjadi pembahasan, mulai dari plato, euclides, sampai pada Eco.

Bisakah kita benar-benar menikmati pengalaman yang seharusnya bersapa rindu memeluk nyata menjadi hanya kabel sebagai penggantinya? Ataukah kita hanya merindu pada kesenangan dan pengalaman saja? Bila sudah seperti ini apakah kita benar-benar menginginkan realitas?Atau benarkan realitas itu hanya sebuah pengalaman rasa dari seorang manusia?Entahlah, mungkin itu bagi sebagian orang berarti dan sebagian laginya tidak berarti apapun....    
Syahdan, momen Idul Fitri adalah momen yang selalu didamba sekaligus dirindukan oleh Umat Muslim di seluruh dunia, dimanapun mereka berada. Pada hari Idul Fitri nampak kepada Umat Muslim bahwa terdapat suatu keistimewaan dan hari yang indahnya tiada tara.

Di Indonesia, khususnya, bila momen ini sudah semakin dekat dirasa maka terdapat satu tradisi tahunan yang mungkin sudah menjadi satu budaya yang ditunggu-tunggu bagi sebagian orang. Hal itu adalah Mudik. Mudik jika diarti dengan secara biasa maka ia pulang ketempat mereka bernaung pertama kali, yang mana tempat ini ialah tempat yang dirindu ketika mereka jauh pada tempat yang dituju.

Dengan momen Idul Fitri yang penuh dengan keistimewaannya maka makna mudik menjadi penuh arti. Ia melebihi dari pengertian yang pertama. Setelah berkerja keras dan mecari berkah ketika bulan ramadhan maka tibalah waktu untuk mereka berkesempatan untuk bertemu sanak keluarga dikampung tercinta. Sungguh sudah sangat jelaslah bahwa mudik ini merupakan niat baik bagi sebagian orang untuk bersilaturahmi dengan keluarga-keluarga yang tidak ditemuinya selama berbulan-bulan.

Namun tidaklah semua orang, yang merantau, bisa melakukan mudik. Hal ini bisa disebabkan karena beberapa faktor, baik itu mungkin kebijakan kerjaan atau waktu, akan tetapi yang paling banyak diketemui adalah mereka yang berbicara pada ranah kesanggupan pergi ke kampung halaman dan pulang ketempat kerja.

Mungkin ada satu keberatan bagi mereka untuk melakukan mudik yang pastinya akan mengeluarkan biaya tidak kecil. Oleh karena itu banyak juga dari kalangan muslim yang pada waktu Idul fitri memilih untuk tinggal ditempat merantau dan menunggu waktu yang tepat untuk pulang kampung/mudik.

Dua Momen Berbeda yang Nampak Disandingkan

Bak bunga yang layu tersentuh air maka segarlah ia berkembang mengharap cahaya. Momen Idul fitri tahun 2013 sekarang ternyata menjadi tahun yang penuh berkah bagi saudara kita yang mungkin kurang mampu untuk melaksanakan mudik ketempat halamannya. Allah pun mengetahui keinginan hambanya yang merindukan mudik. Maka dihadiahkanlah satu momen lain yang hadir bak seperti air yang menyentuh bunga yang layu itu.

Adalah ada nya orang-orang, yang berdiri, diatas partai politik mengadakan satu kebaikan yang mulia. Mereka mengadakan mudik bareng dengan tema 'Mudik bareng bersama ehm ehm' secara gratis ke beberapa wilayah yang sudah ditentukan.

Disini kita mendapati bahwasanya terdapat satu momen tambahan berbeda yang bila dilihat secara sederhana maka sedikitnya akan didapati bahwa momen yang kedua ini ternyata mengandung beberapa makna yang harus ditafsirkan dengan secara tak sederhana.

Bila yang pertama menyiratkan satu niat, keinginan yang penuh, dari sebagian orang yang merantau untuk pulang kekampung halamannya akan tetapi yang kedua menyiratkan kepada kita bahwa terdapat satu keinginan besar atau mungkin harapan dari orang-orang yang mau memfasilitasi sebagian orang itu untuk mudik.

Apa yang diusung mereka sebenarnya tak harus dipermasalahkan disini karena saya yakin bahwa semua orang yang mendapatkan kesempatan mudik gratis ini akan menganggap program ini adalah program yang sangat membantu mereka. Begitupun bagi mereka yang memberi kesempatan kepada orang yang kurang mampu adalah merupakan hal yang mulia.

Disisi Relung Cahaya

Indonesia pada tahun depan akan menghadapi satu momen yang seharusnya ditunggu oleh kita. Hal itu benar bilamana kita mendapati adanya sesuatu yang kurang pada kinerja pemerintahan dizaman rezim SBY. Hal itu benar bila ada sebagian orang yang merasa tidak puas dengan kinerja pemerintahan SBY dan hal itu benar bilamana Indonesia masih berada pada tahap kehidupan sebagaimana beberapa tahun sebelum Pak SBY menjadi presiden Indonesia.

Adalah kepastian bila Indonesia pada saat ini membutuhkan seseorang pemimpin yang mana karakternya adalah sebaik-baiknya pemimpin. Ia mementingkan kepentingan umat daripada kepentingan pribadi atau secara kelompoknya. Ia mementingkan suara rakyat karena suara rakyat adalah suara tuhan, suara kejujuran yang tertuang akibat beberapa kejanggalan dalam kinerja pemimpin satu negara.

Tahun 2014, tahun depan, akan menjadi satu momen yang menentukan kehidupan masyarakat Indonesia untuk 4 tahun kedepan. Bila salah ia melangkah maka harapan besar akan pudar ia dapati, sebaliknya bila ia benar melangkah Insya Allah semua kelancaran akan diberikan oleh Allah Maha Mulia.

Mendapati adanya satu momen Mudik di hari raya Idul Fitri ini maka terdapat satu kepentingan yang dirasa telah dijadikan satu momen berharga untuk menarik lini masyarakat dalam rangka sosialisasi mengenal Para calon-calon Presiden Indonesia.

Adalah pencitraan yang dirasa sedang terjadi pada momen sekarang. Menggunakan momen yang tepat untuk menarik satu citra adalah cara kerja bagaimana sesuatu substansi itu terlihat berada diluar pandang mata. Meskipun hal ini tidak berarti salah akan tetapi memberikan kepada kita bahwa satu keputusan penting yang harus diputuskan oleh masyarakat akan terpengaruhi oleh adanya hal ini.

Pencitraan ini terasa kental sekali ketika mendapati adanya simbol-simbol yang setidaknya telah dijadikan satu kekuatan penting untuk mendongkrak dan memberikan racun kepada masyarakat bahwa simbol seperti ini tuh erat dan dekat dengan salah satu orang calon presiden dari bla..bla...Dan itu juga merupakan bagian dari strategi. Apalagi orang-orang yang mendapatkan kesempatan tersebut mendapatkan kaos-kaos calon presiden. Maka hingar bingarlah bus meriah dengan simbol simbol harap.

Nimbrung Dihari Yang Tepat

Harapan besar pasti menjadi prioritas mereka yang mengadakan mudik bareng bersama ehm ehm. Ia sudah barang tentu mempunyai anggaran yang sudah disisihkan dari anggaran strategi politik lain-nya. Disetiap strategi dan anggaran tersebut terdapat beberapa harapan akan sikap mereka memilih calon presiden yang diusung.

Ikut nimbrung citraan pada hari raya Idul Fitri memang sah sah saja. Akan tetapi hal tersebut janganlah dijadikan satu tiang kokoh bahwa masyarakat harus melihat baik, dalam arti kepada pemimpin dalam memimpin satu negara besar, calon presiden karena sikap baiknya memberikan mudik gratis ditahun sekarang. Masyarakat harus digiring kepada kejujuran yang universal ketimbang kebaikan yang datang secara sambil lalu.

Jadikanlah anugerah rezeki mudik gratis ini sebagai bagian dari rezeki Allah, dan berikanlah doa yang mulia kepada mereka yang memberikan dengan garis bawah tanpa menghilangkan satu kekritisan kita untuk melihat seorang pemimpin yang akan memimpin negara selama 4 tahun lamanya.

Pertanyaan harus diajukan kepada diri sendiri. Apakah kebaikan pada momen ini hanyalah semata karena ingin menggeruk suara saja? Kita tahu bawa lantas ketika suara didapat maka harapan besar dari kehidupan bernegara yang kita inginkan adalah lebih besar, tidak sebatas karena ingin Mudik semata, bertanyalah kepada diri sendiri lagi apakah mereka akan mengingat janji-janji manis sebelum mereka terpilih?Apakah yang berkuasa, yang kita pilih tersebut, benar-benar dekat keberadaannya dengan kita?

 Yang Senja Pada Tulisan

Bagaimanapun juga Idul Fitri takan pernah kehilangan maknanya. Meskipun ada satu kepentingan nimbrung kepadanya. Jadikanlah hal tersebut sebagai anugerah dan jangan pernah lupa untuk memastikan diri sendiri bahwasanya jadikan pula tahun depan sebagai suatu yang harus dilihat tidak secara sepintas sambil lalu.

Jangan menjadikan satu kebaikan yang datang secara tepat sebagai satu acuan bagaimana kita memilih seorang pemimpin negara Indonesia untuk 4 tahun lamanya. Percayalah 4 tahun itu lama dan selama prosesnya tersebut bila kita salah melangkah maka penyesalan yang kerap akan selalu menghantui.

Akhir kata, Saya ucapkan selamat hari raya Idul Fitri, semoga saudara seiman dimanapun engkau berada selalu dinaungi keridhaan Allah Maha Mulia. Mintalah petunjuk kepadaNya karena Ia adalah sebaik-baiknya yang maha pemberi petunjuk.
Bismillah, salamalaykum wahai saudaraku. Marilah pertama kita selalu panjatkan kehadiran Allah Maha Mulia, Ia berkehendak atas segala sesuatu dan oleh karenaNya pula kita dapat dipertemukan didunia maya ini.

Syahdan, ada beberapa masalah ringan yang ingin saya singgung didalam tulisan ini. Hal tersebut seiring dengan maraknya pemberitaan terhadap beberapa artis yang, didalam kelakuan medianya, selalu ditegur oleh KPI. 

Masalah ringan tersebut memang tak elok untuk dibahas dengan secara sambil lalu artinya yakni dibahas tanpa adanya satu ikatan yang bisa terus mengikat bahasannya tersebut. Karena bila yang ringan terlepas dari ikatan keberputarannya tersebut maka iapun akan berubah menjadi masalah yang berat dan biasa terjadi.

Beberapa artis "komedi" disinyalir KPI telah melanggar kode etik yang telah ditetapkan jauh-jauh hari. Yang paling banyak dilanggar dari mereka adalah bagaimana sikap mereka yang berlebihan dalam bertindak dilayar kaca.

Bertindak Sesuai dan Berontak Menuruti Aturan

Ketika anda dilayar kaca, baik itu sebagai penyanyi, komedian, artis panas dan lain-lain. maka anda akan menjadi seseorang yang bertindak seperti yang disesuaikan sebelumnya, yakni sesuai prosedur. Oleh karenanya anda akan bersedih bila tuntutan profesi sedang dijalani, anda akan menjadi orang baik bila tuntutan menuntut anda seperti itu, dan lain sebagainya.

Hal itu akan berkelindan, beriring bersamaan bilamana seseorang yang dituntut itu bisa elok untuk memainkan peranan yang disuguhkan oleh pengatur. Kapasitas dari seseorang tersebut, yang berjudulkan entertainer, akan mempuni apabila apa yang sudah dituntut bisa dikerjakan dengan baik, yah sebaik-baiknya artis. 

Tentu semua ini berkaitan dengan tujuan. Tujuan tersebut adalah atas kehendak yang menginginkan semuanya berjalan secara terus menerus dan mengalir secara bergilir. Maka harapan besar pastilah tereletak pada bagaimana seorang artis itu mampu menjalankan karakter yang dibuat-buat menjadi satu kesatuan nyata dalam pandangan realita masyarakat tingkat dua. 

Karena, pada dasarnya, peristiwa-peristiwa yang termasuk diatas itu pada akhirnya akan melahirkan satu kecintaan, bisa juga kejijian, simbolik bagi para penonton yang dinaungi beberapa panutan faktamorgana. Manusia akan tersentuh dan mendapati diri mereka ternyata hidup dalam layar kaca, ia pun mulai mengikuti perasaannya tersebut untuk menjadi penasaran dan lebih terpuaskan dengan apa yang akan terjadi esok hari. 

Oleh karena perasaan manusia itu adalah sama, yakni berkaitan dengan senang, sedih, gembira, syahdu, jatuh cinta, cinta kepada apapun, tertawa dan lain-lain. maka tak salah bila tayangan yang begitu-begitu saja yang pasti banyak diminati oleh penonton, khususnya sinetron. Kalau sudah begini, tidak salah bila banyak dari kalangan manusia sangat asyik masyuk bergulat dengan ekstasi hasrat yang agak keliru. Panggil BNN versi jiwa agar anda keluar dari rantai tersebut!! haha 

Namun kondisi berbeda akan didapati jikalau apa yang diperankan oleh artis tersebut tak memenuhi kriteria dari harapan-harapan yang ingin ditanam mereka-mereka yang ingin berkehendak untuk dalam menguasai realitas media.

Bila tak semapai tempat di huni, maka muak pun dekat didapati. Itulah mungkin bagaimana bila seorang artis tidak mempunyai kapasitas dalam dirinya kemampuan untuk bersandiwara. Terlebih bila apa yang ditentukannya tak bisa ia penuhi dengan sebaik-baiknya maka apapun itu bisa jadi dilakukan mereka untuk mendapatkan simpati penonton.

Khususnya ketika dalam acara komedi, yang sekarang banyak menjadi perbincangan massa, maka seseorang yang tengah berdiri di depan kamera adalah manusia yang merindu tawa dari penonton sekitar. Apapun itu asalkan penonton suka akan dilakukaan oleh mereka..
End with next → Yang Ada Pada TV Kita