ARCHIVE

Default Thumbnail

Siapa sanggup melawan kehendakNya?
Adalah manusia yang tiada berdaya atas kuasaNya
Mengemban misi lawasnya turun ke bumi
Mengisi hari yang bergemuruh tidak abadi

Siapa sanggup melawan dan merebut singgasanaNya?
Adalah manusia yang sombong meski sebentar berjalan dibumi
Dirasanya bumi adalah keindahan tiada tara
Namun congkaklah dia, karena bumi itu seteru dan penggoda jiwa abadi

Dia mentaqdirkan semua hal ihwal kehidupan
Percayalah nasib kita, Dia lah yang maha tahu kita melangkah
Bahkan ketika nanti saat dua tempat abadi yang akan diisi
Kenapa manusia tetap tiada berdaya untuk tunduk kepadaNya

Kapankah kita memulai untuk sedikit saja bertunduk
Bersujud membuka jiwa untukNya
Memelihara setiap anugerah yang diembankan pada manusia
Tanpa meredam anugerah yang berubah menjadi petaka

Peristiwa itu akan tiba waktunya
Kelak kita tiada berdaya, kita kecil hanya secuil nasi disamudera
Kita kocar-kacir mengeluh dan ingin rasanya kembali bertobat
KebesaranNya yang sanggup membuka mata hati manusia... 
Bagaimana pendapat Anda mengenai artis/performer musik di Indonesia saat ini?

Mengapa saya memilih biasa saja dari semua pertanyaan yang disediakan? Itu adalah sebuah jawaban dari seorang individu manusia yang mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan orang. Artinya selain saya, masih banyak orang lain yang akan mengatakan bahwa performer artis musik Indonesia saat ini sedang mengalami sebuah kemajuan.

Suatu hal yang wajar dalam bermusik terdapat perbedaan. Maka dari itu munculah genre-genre musik yang berbeda didunia ini, dengan kata lain mereka mengindikasikan kepada kita bahwa terdapat beberapa pandangan yang berbeda dari selera musik yang ada didunia. Tanpa harus ada sesuatu yang harus mempertanyakan dan mempertahankan ego dalam ideologi. Tapi akhir-akhir ini terdapat sebuah selintingan, kritikan, sindiran yang banyak dilontarkan kepada Boyband/Girlband. Karena memang industri musik Indonesia sekarang ini Boyband dan Girlband sedang naik pamor.  Apakah yang menjadi kendala utama penyebab semua ini?

Untuk itu mari kita bahas dulu sedikit tentang mengapa selera musik berbeda. Saya akan menggunakan teori Ibnu Khaldun sebagai penjelas mengapa selera musik orang berbeda. Ibnu Khaldun mengatakan musik itu adalah menyelaraskan sajak-sajak dengan musik. (1986:511) Lebih lanjut Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa didalam musik itu selalu menimbulkan apa yang namanya kesenangan. Menurutnya “Kesenangan adalah pencapaian hal-hal yang serasi. 

Dalam persepsi sensual hanya dapat dicapai oleh yang merupakan suatu kualitas. Bila suatu kualitas sesuai dan serasi bagi orang yang memiliki persepsi, maka itu akan menyenangkan. Bila kualitas itu menjijikan dan dibenci orang itu, kualitas itu akan menyakitkan. (1986:512) Saya sepakat dengan Ibnu Khaldun, mengenai teori kesenangan yang ditimbulkan atas persepsi yang cocok dan serasi. Namun bila persepsi yang tidak Nampak dalam diri ini, adalah ketika mendengarkan musik-musik selain grunge, saya tidak akan menyukai jenis musik lain. Karena terlebih dahulu selera saya telah ada pada persepsi dan selera Grunge. 

Proses pembentukan keselarasan, selera yang serasi, dan sensasi menurut Ibnu Khaldun terbentuk dari penglihatan dan pendengaran yang serasi ditimbulkan oleh tata harmonis didalam bentuk dan kualitas benda yang dilihat atau didengar. (1986:512) Persepsi telah mengendalikan saya untuk menyebutkan bahwa Grunge adalah genre musik yang tiada tandingnya. Dan persepsi inilah yang menyebabkan selera musik kita berbeda dan pada akhirnya selera ini akan membawa setiap orang menyatakan bahwa musik ini mempunyai nilai seni yang tinggi.

Bagaimana pendapat Anda mengenai peran pelaku/dunia bisnis industry musik terhadap kemajuan musik Indonesia saat ini?

Seorang kritikus musik ternama sekaligus pemikir terkenal Theodor Adorno pernah menulis sebuah esai yang isinya adalah kritik terhadap musik pop pada zamannya. Apa yang terjadi pada Adorno sebenarnya sama dengan penjelasan diatas. Bahwa seleralah yang menyebabkan Adorno mengkritik musik pop pada waktu itu, selain ada pihak lain yang membuat Adorno lebih kecewa yaitu terjadinya suatu Industri Budaya/Budaya Populer.

Menurut nya musik sekarang selain dikatakan telah kehilangan nilainya, mereka telah dinodai oleh kapitalisme dengan segala bentuknya. Kaum kapitalis tidak pernah ingin mengerti para musisi, mereka hanya mengerti dalam logika berpikir pasar.

Begitu juga peran media yang pada saat ini telah menjadi sebuah alat penyebar gurita kekuasaan. Menurut para ahli, media telah menjadi alat kaum atas untuk melancarkan ideologinya. Apa yang ada didalam media di Indonesia saat ini adalah apa yang tengah populer dan digandrungi oleh massa.

Keadaan masyarakat saat ini seperti sebuah partikel partikel yang senantiasa mudah diombang-ambing. Industrialisasi meningkat maka konsekuensinya adalah kita hidup pada zaman yang dikatakan Baudrillard sebagai zaman pencitraan. The end of ideology and the rise of imagology.

Masyarakat akan mengamini apa yang media tawarkan karena masyarakat yang ada pada zaman sekarang adalah masyarakat yang sama/masyarakat yang diam. Kalau kata Herbert Marcuse “Manusia Satu Dimensi” Masyarakat akan berdamai dengan kapitalisme karena kapitalisme memberikan kesenangan yang berhasil membius masyarakat .

Kalau begitu pemerintah apa perannya? Tidak ada.

Saran Anda

Saran saya adalah bagaimana membuat media bisa adil pada genre-genre musik lain-nya. Karena pada akhirnya saya sering merasa bahwa jenis musik-musik yang pernah mewarnai Industri musik Indonesia saat ini hanya akan menjadi sebuah komunitas.

Sementara yang populer adalah apa yang diInginkan Media dan penguasa selalu menjadi hal yang menguntungkan bagi mereka. Jangan hanya karena populer begitu banyak mendatangkan uang dan yang tidak populer tidak mendatangkan uang yang banyak, mereka jadi meminggirkan atau menganak tirikan genre lainnya.

Dalam bermusik yang bermain adalah perasaan, karena musik menimbulkan kesenangan. Dan jika kesenangan dinodai oleh keuntungan semata maka tidak salahlah bila Theodor Adorno mengkritik Musik pop pada zamannya.

Harapan Anda?

Sedikit harapan pastilah selalu ada dengan melihat masih adanya suatu keceriaan dari genre-genre musik yang ada di Indonesia. Ada beberapa dari musisi Indonesia yang ingin mencoba mengCounter Culture hegemoni sifat budaya popular tersebut. Suatu sikap yang kuntowijoyo singgung adalah untuk mengatasi sifat budaya popular, privatisasi. Sebagai salah satu contoh mungkin bisa kita lihat kepada lagunya Tipe X yang berjudul Boyband. Tipe X mempunyai selera tersendiri, karena mereka telah hidup dan jatuh hati pada genre beraliran SKA.

Mereka hidup pada zamannya, zaman ketika mereka belum mengenal Kpop, dan SKA lagi menjadi hits. Ketika mereka muncul kembali dengan lagu yang berjudul Boyband. Maka apa yang terjadi pada Theodor Adorno terjadi pula kepada Tipe X.

Selera dalam bermusik pastilah akan selalu berbeda, karena zamanpun silih berganti. sebelum 1990 masih rock ,1990 zamannya Grunge, 2000 Melodic dan sebagainya. Hal itu mengindikasikan bahwa sangatlah lumrah bila selera dalam bermusik itu berbeda-beda, dan kritik mengkritik itu akan selalu ada sepanjang zaman. 

░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░

Selain dialog diatas ada tanggapan yang baik sekali oleh admin KMI, saya sangat menghormati karena itu adalah komunikasi yang berjalan. Namun saya tidak menjawabnya disini mungkin suatu waktu nanti saya akan menjawab lagi apa yang ditanggap oleh admin KMI. Berikut adalah tanggapan dari admin;

Catatan Admin:
 Tampaknya saudara NN menekankan pemahaman mengenai perbedaan selera dan pendapat mengenai musik. Blog Kritik Musik tidak mengkritik berdasarkan selera para penulis kritiknya melainkan berdasarkan Teori Musik saja.
 Mengenai pemahaman perbedaan berpendapat mengenai musik telah dijelaskan oleh salah seorang kritikus musik Indonesia, Ronald Hutasuhut. Artikel-nya berjudul "Perdebatan Musik", dapat dilihat di sini.
 Ia menjelaskan bahwa: pendapat berdasarkan 'Selera' melahirkan 'Persepsi', namun Teori Musik adalah ilmu pengetahuan yang sifatnya 'pasti' (ilmu pasti, mengandung unsur Matematika, Fisika, Logika, dsb). Sehingga Persepsi seseorang sifatnya 'belum tentu benar' (seperti filsafat atau ideologi), namun jika menggunakan suatu teori ilmu pasti, maka suatu pendapat dapat langsung diuji kebenarannya.
 Terima kasih sudah ikut berpartisipasi. 

Ya Allah yang maha mulia, maha kuasa bagi yang tak terkuasai manusia. Sungguh aku bersimpuh tuk berdoa kepadaMu. Sebagai rasa ketidaksempurnaan manusia dialam bumi ini. Seperti aku yang sekarang sedang merasa terpukul, tertampar kesedihan melihat saudara-saudaraku di Syria, palestina dan dimanapun itu mengalami ujian yang begitu berat. 

Hanya kepada Engkaulah tempat terakhir manusia menuju, dengan doa yang tulus untuk mereka, aku panjatkan semoga Engkau selalu memberikan ketabahan bagi saudara-saudara hamba disana.

Begitulah doa yang saya ucapkan ketika sudah melaksanakan shalat maghrib tadi. Doa tersebut aku layangkan khususnya kepada saudara-saudaraku di Syria yang sekarang sedang mengalami ujian yang berat. Sebenarnya keadaan ini adalah sama seperti ketika Theodor Adorno tertegun hatinya melihat orang Yahudi mendapatkan perlakuan yang keji oleh Nazi. Namun dengan hal tersebut, saya bukannya malah mengajak anda untuk tidak menulis puisi setelah beberapa pembantaian terhadap saudara-saudara saya. Saya hanya ingin berbicara tentang hal lain yang mungkin anda juga tahu.

Dalam suatu Kesamaan itu ada satu hal penting yang menjadi kunci utama bagaimana bisa saya seorang Indonesia bisa ikut berduka cita yang sangat terhadap mereka? Adalah adanya suatu tali yang mengikat erat hati ini sehingga mampu merasa terpukul meskipun hanya sebatas melihatnya dari gambar-gambar dan video.

Jawabannya sangat mudah untuk ditebak!! Jawabannya adalah karena saya seorang manusia yang tak tega melihat manusia lain dibantai dengan keji. Tak hanya itu pula, yang paling utama dari apa yang ingin saya terangkan adalah rasa kesedihan seorang muslim yang melihat saudara semuslim disana dibantai dengan keji oleh pemerintahan yang banyak digadang bisa menjalin suatu demokrasi!!

Saya pernah menulis bagaimana tingkatan manusia bisa meredakan konflik meskipun secara tidak berkesudahan. Bahwasanya suatu rasa solidaritas yang kuat untuk mewujudkan apa yang dikatakan renan kehendak ingin bersatu, sejatinya adalah sebuah pengkolektivan individu-individu yang mempunyai sifat berubah didalam masyarakat.

Sebagai contoh; Konflik antar supporter yang melibatkan 2 kota berbeda nyatanya bisa bersatu dan berbaur kembali ketika tingkatan solidaritas yang diemban individu berpindah kepada wilayah yang memiliki tataran yang luas, yaitu ketika tim kebanggaan Indonesia bertanding. Sebagai contoh lagi; Konflik kecil antar geng motor yang berada didalam perkotaanpun bisa menjadi kabur ketika tim kesayangan kota mereka bermain. Tidak menutup kemungkinan hal seperti ini terjadi pada konflik-konflik lain yang mempunyai wilayah tertentu.

Dari penjelasan diatas, saya menyimpulkan dari kesimpulan yang telah dikenalkan oleh para pemikir zaman dahulu, terdapat suatu tali pengikat yang ada - menunggu untuk mengikat - dalam tataran kehidupan sosial. Sukarno dengan geopolitik, Renan dengan kehendak bersatu dan ibnu khaldun dengan solidaritas sosial. Walaupun permasalahan-permasalahan selalu terjadi menimbulkan konflik namun dengan sendirinya bisa reda karena ada sebuah pengikat dari rasa hakekat manusia yang sosial itu.

Dan begitu juga ketika saya merasakan kesedihan yang perih apabila melihat saudara-saudara di Palestina, Irak, Syria dan Lebanon dibantai dengan keji oleh mereka yang keji. Adalah rasa kesamaan dalam hati sebagai seorang muslim yang membuatku sedih dengan melihat mereka. Pengikat ini benarlah sangat berharga untuk saya dan semua umat muslim didunia. Meskipun seringkali kita dapati bagaimana ketidakadilan menimpa saudara kita tapi hal tersebut bisa dijadikan sebuah pemacu diri kita untuk meningkatkan rasa solidraritas yang kuat.

Bayangkan apabila kita berpikir sama untuk mengambalikan kehendak tujuan yang satu? Adakah suatu kesimpulan yang nantinya akan membuat umat muslim bersatu? Hilangkanlah permusuhan antara Malaysia dan Indonesia (Nyatanya bila berbicara tentang Islam, antara Malaysia dan Indonesia sama saja, tak ada perbedaan, semua membela yang teraniaya!! Dan satukanlah rasa kita dengan melihat pada realita bahwasanya masih banyak saudara kita yang tak semujur dibanding kita. 

Meskipun sulit, minimal kita melangkah kaki selangkah daripada mundur setapak!! Jangan menjadi pengecut!!
Akhir dari buntut kasus pengeroyokan salah seorang supporter yang diantaranya seorang warga Bandung akhirnya berakhir dengan ditangkapnya beberapa orang yang dianggap tersangka oleh polisi. Saya sendiri sudah yakin sekali bahwa mereka-mereka yang terlibat dalam pengeroyokan itu akan tertangkap oleh polisi. Dan kalaupun polisi merasa kesulitan untuk menangkap pelaku pengeroyokan maka hal tersebut patut dipertanyakan dengan tegas!!

Keyakinan saya terhadap suatu keniscayaan tertangkapnya para pelaku pengeroyokan adalah dengan adanya beberapa bukti yang telah tersebar banyak dalam media-media seperti facebook, twitter bahkan youtube. Saya untuk urusan ini ingin mengucapkan terima kasih kepada Media, karenanya memudahkan orang-orang untuk mengenali orang-orang yang terlibat dalam pengeroyokan di GBK pada waktu lalu. dan memudahkan polisi untuk menangkap para pelaku.

Media, bukan hanya seperti yang disebut Ahmed sebagai iblis namun juga sekarang telah berubah menjadi mediasi tempat para iblis yang tidak berpikir mengeluarkan ocehan-ocehannya yang tidak perlu. Ocehan-ocehan itu sangatlah saya tak sangka, mengapa orang bisa sebegitu bersemangatnya setelah menghilangkan nyawa manusia. Dengan rasa bangga ia lantas mengupdate statusnya di facebook, twitter dan youtube.

Mengapa rakyat Indonesia menjadi seperti negeri barbar seperti ini? Bukan jawaban yang sangat mudah untuk dijawab didalam artikel yang singkat ini. Namun yang jelas telah terjadi suatu perubahan-perubahan dalam ranah sosial yang ada didalam masyarakat. Untuk itu saya menganjurkan tuan untuk membuka jawabannya sendiri baik dari segi historis ataupun dari mana.

Konflik dan Fanatisme Yang Akut

Tewasnya Rangga bukanlah satu-satunya korban yang meninggal akibat dari peseturuan dua supporter yang berbeda, Rangga mungkin yang kesepuluh dari banyaknya korban yang meninggal akibat tindakan fanatisme yang akut. Lalu kenapa akut? Karena fanatisme yang tidak diarahkan akan membawa suatu konflik yang menyebabkan fanatisme yang tidak terarah.

Dahulu kala ketika Indonesia dengan semangat para pejuang pemersatunya telah mewanti-wanti untuk bisa mengatasi konflik-konflik yang terjadi secara sentripetal. Karena Indonesia ini adalah negeri yang besar, tuan!! Negeri kaya raya dari pemberian Allah Maha Mulia! Oleh karenanya para pejuang kemerdekaan Indonesia tahu betul bagaimana mereka membuat tali perekat dari perbedaan-perbedaan di Indonesia ini, yaitu Pancasila!!

Yang menjadi indikator pada waktu itu adalah karena beberapa faktor seperti perbedaan agama, budaya dan etnik namun sekarang zamannya sudah beda! Zaman sekarang konflik-konflik baru timbul bukan hanya dari segitiga yang diatas. Namun terjadi juga pada akibat hal-hal yang tidak terlintas dalam benak pikiran. Namun bila saya menggunakan rumus jitu dari kata kunci kebudayaan yakni “deteritorialisasi” mungkin semuanya bisa mengacu kepada hal tersebut.

Sebenarnya konflik antar supporter telah terjadi dikebanyakan klub sepakbola tua yang ada diseluruh dunia. Namun kebanyakan teori atau dari literature yang bisa diakses melalui artikel-artikel, ternyata konflik yang terjadi bisa merujuk pada perbedaan agama, kelas dan bahkan kaum kiri!! Lalu yang terjadi antar supporter Indonesia terjadi akibat apa? Kalau alasan yang tuan berikan adalah semata karena iri, bangga, membela suatu klub maka jawaban tersebut kurang untuk dilontarkan. Karena hal tersebut akan menyebabkan suatu masalah yang tak berkesudahan. Malahan akan terurai terus kepada generasi-generasi berikutnya.

Bila melihat kepada kejadian GBK itu, saya berpikir inilah rasa fanatisme salah arah, fanatisme kolektif yang berisi puncak kebencian-kebencian individu!! Tuan, fanatisme yang terjadi di GBK itu bisa saja terjadi pada wilayah kecil dari masalah antar supporter! Misalnya gangster, dikota saya seringkali anak-anak yang menjadi beringas bila bertemu dengan salah satu lawan gangsternya, bahkan bisa terjadi pembunuhan!! Karena fanatisme Individu bisa beragam dan tidak harus toh pada satu kesatuan besar (Supporter Klub Kota)

Saya sungguh menyayangkan hal tersebut tuan, bagaimana perasaan orang yang ditinggal Rangga, bagaimana perasaan para pengoroyok pada waktu itu. Sungguh tuan, saya tak bisa membayangkan bagaimana keadaaan keduanya!!

Hilangnya Konflik dan Kebersamaan Dalam Perekat

Tuan, mari kita lihat Pancasila! Apa yang anda bayangkan dan pikirkan ketika mendengar kata pancasila? Bila saya menjawab, maka persilahkan saya untuk menjawab Pancasila adalah keadaan orang-orang Indonesia itu sendiri! Keberbedaan agama, suku, etnik dan budaya menjadi bias dan satu dipersatukan oleh suatu keinginan bersatu.

Kehendak yang satu!! Itu kata Renan bila membicarakan bagaimana seharusnya Negara, dan Solidaritas sosial yang kuat yang dikenalkan Khaldun adalah sama dengan apa yang dikatakan Renan, Itulah inti dasarnya suatu Negara. Dan pahlawan saya, yakni Sukarno telah menambahkan tentang pengertian Geopolitik.

Tuan, seharusnya hal diatas bisa menjadi suatu pembelajaran untuk tuan-tuan sebagai warga Negara. Baik dalam hal supporter atau dalam gangsterpun, pasti mempunyai satu tali perekat persaudaraan. Semisal ketika Tim Indonesia bermain, maka supporter-supporter yang lainnya menjadi lebur dan menjadi satu rasa yaitu kehendak yang satu “Indonesia Menang”!!!

Pun dalam gangster juga pasti akan ada selalu tali perekat untuk meleburkan konflik antar gangster berbeda, yaitu klub kesayangannya dimana mereka tinggal. Ketika persib bermain, maka tak ada lagi yang namanya gangster yang berlawanan, yang ada hanyalah rasa keinginan untuk persib menang!

Nah sekarang bila ditarik suatu hikmahnya maka sudah tentu jelas bahwa saya, kita dan semua orang harus bisa mengamalkan perbedaan-perbedaan yang sekarang ada di Indonesia menjadi suatu pemicu kecintaan yaitu “Untuk memajukan sepak bola Indonesia” bukannya kita lantas memperburuk keadaan atmosfer persepakbolaan kita!! Akhir kata "Tuan, mari kita berdamai"!