ARCHIVE

Default Thumbnail

Benarkan kutipanya? :D
Indonesia, di pagi hari, sudah dikejutkan dengan tontonan yang tak biasa dalam sebuah berita. Seorang pembicara dari FPI melakukan siraman air terhadap seorang sosiolog UI, Thamrin Tamagola.

Kejadiannya terjadi saat TVone mengundang kedua pembicara tersebut untuk berdiskusi perihal pelarangan minuman keras, sweeping dan sebagainya pada bulan ramadhan. Kita tahu bahwa tak mungkin kalau TVone, kalau pada acara-acara diskusi yang membicarakan satu problema, mengundang pembicara hanya dalam tataran pada satu pihak saja.

Oleh karena itu dalam sesi Apa Kabar TVone pada pagi tangga 28/6/2013 itu, kedua orang dari kubu yang berbeda diundang untuk menjadi narasumber. Mereka berdua berbicara atas apa yang mereka pikirkan yang jelas tentu berbeda pendapat. Berbeda itu sudah tentu pasti berbeda. Munarman berbicara dari perspektif anu dan Thamrin Tamagola pun begitu demikian, dia berbicara dalam pandangan dirinya sebagai seorang sosiolog dan...

Tapi apa yang terjadi ketika dalam sebuah diskusinya, salah seorang dari kedua pembicara menyiramkan air terhadap thamrin tamagola?

Sejatinya kita, sebagai masyarakat yang berada pada tataran kedua dari sebuah kejadian, harus lebih melihat kejadian itu dengan secara seksama. Artinya kita harus lebih melihat kejadian itu dengan jalan yang tak sempit. Hanya pada perbuatan Munarman saja yang tak sopan terhadap orang tua, perbuatan yang tak dianjurkan agama Islam, dan lain sebagainya sedangkan jalan yang, mungkin, lebih luas kita lupakan.

Tak Mungkin Hanya Karena Sebuah Diskusi

Rasanya tidak percaya kalau hanya sebuah diskusi saja membuat seorang Munarman menyiramkan air terhadap Thamrin Tamagola. Bila dilihat secara gesture awal, yang ada dalam video-video hasil upload para user, sikap Tamagola terlihat agak santai namun terlihat muka tegang atau raut muka ketidakenakan ketika Munarman mengemukakan pendapat.

Sebaliknya Munarman, ia berbicara sesuai apa yang moderator pertanyakan. Dan tentu bila dalam sebuah diskusi saling berbeda pendapat itu adalah hal biasa. Ketika Munarman mengemukakan pendapatnya, terlihat ia menyinggung pendapat Thamrin Tamagola yang katanya bla..bla..bla.

Secara gesture, Munarman terlihat seakan semua biasa aja meskipun tangan dari Munarman-pun terlihat meliuk-liuk kepada thamrin, tapi tidak langsung menuju pada thamrin. Dalam sebuah diskusi semua bisa berbicara, bahkan gerakan tangan pun bisa menjadi simbol bagi lawan bicara.

Saya rasa permasalahan muncul dari sini. Dari ketika raut muka Thamrin terlihat begitu menggebu mendengar apa yang diutarakan oleh Munarman. Ketika tangan menyahut, yang mungkin disangka beliau, tertuju padanya maka marah lah sudah Thamrin meledak dengan kembali menunjuk dan memotong pembicaraan Munarman yang sedang asyik berpendapat.

Alhasil, jeger, air pun meruak tanda Munarman merasa tak enak pada sikap Thamrin yang dirasa tak sopan dan tak beretika. Barangkali acara yang ada di TVone tersebut lebih pada merupakan siraman rohani bukan sebuah berita pagi hari!

Dalam Maya Semua Begejolak Bila Bertemu Semua Gejolak Menjadi Nyata

Akhir-akhir ini saya sering berkunjung kedalam beberapa situs berita online Indonesia yang terkemuka. Apa yang saya ingin ketahui dalam kunjungan tersebut bukan karena saya ingin mencari berita terbaru atau gosip bahkan faktamorgana terbaru. Melainkan saya ingin, beralih, untuk mengetahui bagaimana respon masyarakat dari hari ke hari dalam menanggapi sebuah masalah, khususnya masalah Suriah alias komentarnya.

Meskipun masih dalam wacana spekulatif tapi saya merasa percaya bahwa media telah membagi massa Indonesia menjadi pada kurang lebih 3 dimensi. Mereka yang percaya bahwa tindakan oposisi benar kemudian mereka yang percaya bahwa tindakan rezim Assad benar dan terakhir mereka yang berada pada kegalauan dimensi pertama dan kedua. Semua pembenaran berdasarkan fakta yang beliau suarakan. 

Akibatnya dimana-mana berita tentang suriah dituliskan selalu saja terjadi perang maya, perang kekerasan terhadap simbol yang mereka percaya dan tak percaya, antara mereka yang percaya oposisi dan Rezim Assad. Permasalahannya sekarang adalah kedua dimensi ini sangatlah bersangkut pautan dengan agama Islam itu sendiri.

Yang percaya pada wilayah oposisi Suriah adalah mereka mempunyai pendapat bahwa sebagian besar konflik disana meliputi konflik antara Sunni dan Syiah. Sebaliknya yang lebih memihak pada Rezim Assad adalah mereka mempunyai pendapat bahwa adanya kekuasaan wahabi yang membuat semua menjadi kacau. Wahabi oleh karena mereka disokong oleh Amerika dan Israel dan Syiah oleh karena Iran, Hizbullah membantu Rezim Assad dalam memerangi oposisi. 

Media saya rasa turuk serta dalam mengagendakan sesuatu. Meskipun pada prosesnya media tersebut tidak sedang mengagendakan sesuatu tapi efek impolsion, meminjam istilah Baudrillard, pada masyarakat itu yang menjadi sebuah problema. Bila terus menerus hal ini dibiarkan dan berita-berita semakin tak kentara secara tidak sadar kita akan masif.

Kekerasan sudah terjadi dalam cara manusia berpikir, memaknai, menyimbolkan dan menginterpretasikan sesuatu. Kekerasan ini terjadi dalam sesuatu yang berada pada tataran semua bias namun menyebar seiring satu simbol meyakini satu sama lain. Ketika semua sudah membludak memenuhi cara kita berpikir, akibatnya cara kita bertindak pun akan kurang lebih sama dengan cara berpikir.

Didalam media lah semua orang bisa menyalahkan satu sama lain, memberi suatu pengertian satu sama lain mengenai apa yang diideologikan mereka atau apa yang diyakini mereka. Ditambah media adalah tempat yang sekarang menjadi wilayah sosial baru bagi bagaimana masyarakat berinteraksi sehingga sangatlah cepat untuk menyebar kearah manapun.

Di Indonesia juga ada sebuah gerakan maya yang mengatas namakan mereka dengan Indonesia tanpa Liberal dan Indonesia tanpa FPI dan sebagainya. Didalam medialah semua digodog terlebih dahulu sebelum menemukan tempat yang paling pas untuk reaksi.

Terjadi Pada Munarman dan Thamrin Tamagola

Diatas disebutkan bahwa rasanya tidak mungkin kalau misalkan sebuah diskusi sahaja membuat seorang Munarman melakukan penyiraman terhadap thamrin tamagola. Untuk kejadian ini mungkin ada sesuatu yang besar, yang tersimpan kelam dari kedua pihak yang berseteru.

Dalam banyak dunia maya saya banyak mendapati bahwa sosok thamrin tamagola adalah sosok yang pernah menjadi perbincangan massa. Akibat tindakannya yang melecehkan suku dayak perihal hubungan sex. Sementara itu dia juga pernah mempunyai statement luar biasa tentang perang ambon dan poso. Ia mengatakan untuk perang yang pernah terjadi disana itu adalah akibat Umat Muslim. Spontan hal tersebut tidak mengenakan terhadap umat Muslim.

Selain itu juga ada yang mendefinisikan thamrin tamagola sebagai seorang liberalis. Definisi yang terbuat oleh karena sikap dan pandangan seseorang terhadap agama yang sangat berbeda dengan yang lain, yang mungkin lebih banyak mengejutkan. Terkadang banyak orang yang berbicara bahwa yang liberalis itu keras dalam berpikir, keluar dari jalur dan terlalu dekonstruktif beudh - alay dikit pake beudh. he

Dan bukankah kita tahu bahwa sikap FPI, dan beberapa umat Islam terhadap pendefinisian liberal itu sangat tegas. apalagi Munarman, dia seorang yang tegas, yang kita tahu adalah seorang laskar dari front pembela Islam.

Melihat dari jejak kedua belah pihak yang penuh dengan maya yang tak biasa maka tidaklah salah kalau pada akhirnya "yang maya yang bergejolak akan nyata bertindak bila bertemu pada waktu bersama secara berhadap-hadapan."

Kesimpulan yang Pendek

Semua permasalahan Munarman dengan Thamrin bukanlah masalah penyiraman, tindakan sopan santun, tindakan seorang yang mencerminkan organisasi Islami, sahaja. Melainkan banyak hal. Kita sejatinya berada pada tingkat bagaimana kita tidak mengetahui sesuatu yang harus kita ketahui sebagai sebuah pemicunya.

Sehingga, bila berpikir demikian, kalau misal seseorang berbuat salah kita mungkin lebih menjadi seorang yang mutlak yang menguasai tindak hukum sosial bagi siapa saja yang dicap salah. Padahal kita tidak tahu kita sedang berbuat fitnah oleh karena sikap yang hanya terlihat secara sementara bagian.

Tindakan Munarman disatu sisi memang tidak salah bila menjadi permasalahan namun disisi lain tindakan thamrin tamagola yang memotong pembicaraan dan menunjuk setelah mendengar pendapat Munarman pun tidak dapat dibenarkan.

Setelah melihat kepada keduanya marilah kita lebih cermat, ingin mengetahui, sinyal-sinyal besar yang menjadi akibat penyiraman Munarman terhadap Thamrin. Sinyal-sinyal itu adalah apa yang telah tadi dituliskan, yaitu berada pada perang maya bergejolak ketika nyata reaksi terbuai.

Salam.     
Mysteri Files
Bagi anda penggemar siaran-siaran National Geographic mungkin tidak akan asing dengan tayangan yang berjudul File-File Misteri, atau Mysteri Files. Tayangan serial yang, menurut saya, banyak memberikan kepada kita banyak ilmu yang bermanfaat. Hal itu memang beralasan karena sebagaimana diungkapkan Mysteri Files dalam websitenya, bahwa acara ini mempunyai tujuan untuk menjelaskan tentang sejarah-sejarah besar yang ada didunia ini.

Saya adalah termasuk penggemar acara serial ini. Dan dalam kesempatan kali ini saya ingin berbagi-bagi dengan kalian. Saya mempunyai kurang lebih semua serial File Misteri yang pernah ditayangkan di National Geographic. Diantaranya adalah file tentang:
  • File misteri Jack The Ripper
  • File misteri Nostradamus
  • File Misteri Saladin
  • File Misteri Adolf Hitler, dll.
Meskipun dalam sebuah sejarah tak harus merunut pada serial ini saja akan tetapi cara kerja tim pembuat video dengan beberapa ilmuwan yang dihadirkan didalamnya membuat saya merasa terkesan.
Hidup berada diantara adalah kesakitan
Sebetulnya bila niat saya menuliskan permasalahan konflik syiah yang terjadi di sampang itu, maka apa yang didiskusikan dalam ILC dengan judul memukau "Syiah Diusir, Negara kemana?" sudah memuat permasalahan-permasalahan kecil yang bersentuhan dengan kenyataannya.

Meskipun tidaklah semua permasalahan bisa disampaikan disana, mengingat kepada pendeknya waktu yang ditawarkan ILC, akan tetapi saya telah mendapati banyak kesimpulan mengenai permasalahan ini.

Acara ILC ini adalah acara yang sangat saya tunggu-tunggu. Saya selalu merasa terpukau pada mereka yang sangat lugas dalam beradu argumen, meskipun tidak sedikit juga dari mereka yang selalu berbicara seolah tak menyentuh substansi alias mengelak atau mengalihkan pembicaraan.

Sebagaimana hal nya ketika episode ILC kemarin, yang mengangkat judul luar biasa, dengan tema konflik antara pengikut Tajul muluk (Syiah) yang mendapati opini dari sebagian orang berpikir telah diusir oleh negara. Barangkali diusir oleh negara disini harus di garis bawahi dengan secara seksama. Bahwasanya dalam arti yang tidak sesederhana kasus tajul muluk ini menjadi ajang bagi siapapun yang ingin mencari muka untuk melancarkan ideologinya.

Dalam beberapa kasus tertentu, mereka-mereka selalu saja menyalahkan negara sebagai aktor utama yang harus dibredel. Karena negara telah gagal dalam melindungi setiap kehidupan rakyat dan kehidupan merakyatnya. Ketika judul ILC episode ini diangkat dengan memuat opini peran negara dalam konflik syiah, sepertinya kita tahu siapakah mereka itu?

Terlepas dari semua isu mengenai acara ILC kemarin saya tetap akan menyukai acara ini. Asalkan saya selalu berada dalam koridor memahami terlebih dahulu dengan seksama, biar tidak keliru untuk berbicara dipihak mana saya berdiri.

Beberapa Koridor Berjalan Dalam Jalannya Sendiri
Where i lived and what i lived for
Dalam perjalanan hidup kita saat ini, di sebuah masa yang orang-orang katakan sebagai modernitas. Sebuah masa dimana orang-orang di dalamnya telah terkurung dalam sebuah ketidaksadaran massal. Ketidaksadaran akan sebuah transformasi dari pembentukan diri serta pemaknaan kehidupan. Sadarkah bahwa sesungguhnya kita telah berubah? Apa yang berubah dari kita? Apa yang merubah kita? Apakah alam yang merubah kita? Ataukah kita yang merubah alam?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab andaikata kita melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Henry David Thoreau. Menyingkir dari ramainya kehidupan industrial dan memutuskan untuk hidup dekat dengan alam. Apakah dengan begitu kita mendapatkan sebuah kesadaran yang sama seperti apa yang di dapat Thoreau? 


Hidup di sebuah tempat yang jauh dari keramaian dimana kita masih bisa menghirup udara segar yang memberikan nyawa baru. Sebuah tempat dengan hamparan ladang yang luas, menghadap ke sebuah bukit yang hijau, ditemani gemericik air jernih yang bisa memberikan ketenteraman pada jiwa kita. Sebuah tempat dimana kita masih bisa melihat biru langit dengan jelas. Sebuah tempat yang memberikan kesempatan bagi kita untuk hidup dekat dengan alam dan memahami bahwa alam yang memberikan kita hakikat dari sebuah kehidupan.

  “Well...namanya juga Cirebon berada di perbatasan. Walaupun agak berbeda dengan Jawa dan Sunda, bahasa dan kebudayaan dari keduanya banyak banget kita serap. Bisa kita lihat, dalam masalah bahasa, bahasa kita sangat mirip dengan bahasa Jawa dialek ngapak yang biasa dipakai orang-orang Tegal, Purwokerto dan sekitarnya. Dengan sedikit perbedaan berupa kosakata-kosakata dari bahasa Sunda yang kita serap namun tidak dikenal di dialek ngapak. Atau upacara pernikahan adat Cirebon yang kalo menurut saya lebih condong mengikuti adat Sunda (CMIIW). 

Itu gak bisa dihindari. Toh pendiri Cirebon, Pangeran Walangsungsang, adalah putra dari Prabu Siliwangi, yang berasal dari tatar Sunda. Dan dalam perkembangannya, Cirebon menjadi semakin ramai dengan datangnya orang-orang, baik berasal dari Sunda, Jawa, Tionghoa, jazirah Arab, maupun dari tempat-tempat lain. Kesemuanya menyatu menjadi suatu identitas sebagai orang Cirebon.” (kaskuser)


I tulah salah satu komentar seorang kaskuser yang merupakan native Cirebon. Dengan diawali sebuah kutipan di atas mungkin orang akan bertanya apakah maksud dengan hadirnya pernyataan tersebut? Ya tentu ada maksud dibalik itu, saya menghadirkan kutipan tersebut dengan maksud untuk memancing keingintahuan pembaca akan apa yang sebenarnya saya sajikan dalam tulisan ini. Saya mengutip komentar tersebut untuk memulai sebuah tulisan yang ada hubungannya dengan apa yang diungkapakan oleh seorang kaskuser yang berasal dari Cirebon tersebut. Saya menspesifikasikan kedalam sesuatu yang berhubungan dengan “Bahasa Sebagai Identitas”.

Saya akan memulai dengan sekilas sejarah berdirinya Cirebon. Dalam kutipan di atas pun telah tersentuh mengenai sejarah Cirebon. Cirebon didirikan oleh seorang pangeran yang merupakan putra dari raja Pajajaran (tatar Sunda). Dari kalimat itupun kita dapat menyimpulkan bahwa Cirebon merupakan titisan tatar Sunda atau Jawa Barat. Secara antropologi-budaya dikatakan bahwa orang-orang yang berasal dari daerah Jawa Barat dikenal dengan suku Sunda dan berbahasa Sunda (Cirebon termasuk di dalamnya).

Seperti yang kita ketahui dan saya sangat yakin bahwa kita tahu Cirebon itu berada di wilayah Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan wilayah Jawa Tengah. Dapat disimpulkan bahwa Cirebon berada di daerah perbatasan. Disebabkan oleh keadaan itu, masyarakat Cirebon dapat diklasifikasikan sebagai masyarakat multikultural, karena Cirebon mendapatkan, dan menyerap kebudayaan dari dua tempat yang pada dasarnya berbeda budaya. Cirebon yang merupakan bagian dari wilayah Jawa Barat yang berbudaya Sunda, menempati suatu wilayah yang berbatasan dengan wilayah berbudaya Jawa. Dari kondisi tersebut masyarakat Cirebon akhirnya mau tidak mau akan mengalami pergumulan dua kebudayaan dalam satu wilayah. 

Seperti apa yang telah saya paparkan pada paragraf sebelumnya bahwa masyarakat yang ada di daerah Jawa Barat akan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar pada saat mereka berkomunikasi. Namun tidak begitu dengan masyarakat Cirebon. Mungkin di daerah Cirebon kita bisa menemukan sekelompok masyarakat yang tetap erat dengan budaya Sundanya dan sekelompok masyarakat yang erat dengan budaya Jawanya. Tapi yang akan sangat mungkin ketika kita menemui seseorang yang “Sunda henteu, Jawa henteu”. Yang dapat diartikan bahwa seorang itu telah menciptakan sesuatu yang baru dari hasil percampuran dua budaya itu. Saya rasa budaya baru itu tercipta dengan sendirinya dan tentu dengan adanya pengaruh dari budaya-budaya luar yang membiaskan budayanya pada masyarakat Cirebon.

Dan hal itu sangat terlihat dari bahasa yang mereka gunakan sebagai alat berkomunikasi. Bahasa adalah identitas. Seperti yang telah saya pelajari dalam mata kuliah Cross Cultural Understanding bahwa identity (identitas) merupakan salah satu dari dimensi kebudayaan. Salah satu unsur kebudayaan adalah bahasa, karena bahasa dan budaya saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Artinya, dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat, kita dapat mempelajari kebudayaan mereka. Bahasa adalah jembatan yang sering kali di anggap sebagai ciri penting bagi jati diri sekelompok orang berdasarkan etnik.

Begitu pula halnya untuk mengenali identitas masyarakat Cirebon dapat dikenali melalui bahasa yang mereka gunakan untuk berkomunikasai dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahasa Sunda merupakan bahasa resmi yang seharusnya digunakan oleh para native Cirebon, tapi tidak begitu nyatanya. Saya mendapati suatu yang unik dari Cirebon atau dalam tulisan ini yang saya maksudkan adalah masyarakat Cirebon. 

Disebabkan oleh keadaan geografis yang menempatkan masyarakat Cirebon di antara dua kebudayaan, masyarakat Cirebon telah mengalami cross cultural yang menyebabkan budaya serta bahasa yang mereka gunakan sebagai alat berkomunikasi pun mengalami perluasan. Dalam kutipan yang saya hadirkan, seorang kaskuser yang merupakan native Cirebon menyatakan bahwa dalam masalah berbahasa; masyarakat Cirebon hampir berdialek seperti orang Jawa dengan sebagian penggunaan kosakata bahasa Sunda. Dari hal itu memang terlihat ada celah ketidakjelasan masyarakat Cirebon dalam hal berbahasa, karena proses mereka berbahasa yang tidak menggunakan bahasa Sunda, tidak pula menggunakan bahasa Jawa. Tapi justru itu yang menjadikan masyarakat Cirebon unik. Menciptakan sesuatu yang baru dari hasil percampuran dua bahasa yang masuk ke dalam wilayah masyarakat Cirebon.

Mungkin bagi masyarakat Cirebon sendiri ketidakjelasan mereka dalam berbahasa itu bukanlah suatu hal yang menjadi masalah, karena mereka telah terbiasa dengan itu. Bahkan mungkin itu telah menjadi budaya dan identitas mereka, sekalipun mungkin mereka tidak menyadari proses peng-identitasan mereka melalui bahasa yang berbeda itu. Namun bagi kebanyakan para ahli yang mengkaji proses berbahasa masyarakat Cirebon, itu akan menimbulkan pertanyaan mengenai identitas yang dimunculkan oleh masyarakat Cirebon. 

Apabila kembali pada “Bahasa adalah identitas”, maka ketidakjelasan masyarakat Cirebon dalam berbahasa akan berimplikasi pada ketidakjelasan pula pada identitas budaya masyarakat Cirebon. Namun kita tidak bisa melihat itu hanya dari satu sisi yang memandang bahwa budaya di Cirebon tidak memiliki suatu kejelasan karena percampuran budaya yang amat kompleks di daerah Cirebon. Bahasa yang mereka gunakan, mungkin bisa dikatakan “teu kaditu teu kadieu”, tapi itu merupakan hasil percampuran antara dua bahasa yang masuk dan digunakan di daerah Cirebon yang merupakan daerah perbatasan Sunda dan Jawa. Saya rasa proses pembentukan bahasa yang terkesan “bahasa baru” itu terjadi secara alamiah. Dapat dikatakan bahwa dari pembiasan budaya itu tercipta sesuatu hal yang baru dan unik sekalipun mungkin masih dalam pandangan yang buram mengenai hal itu.

Saya memiliki teman kosan yang kebetulan berasal dari Cirebon, saya sempat bertanya “Pit, kamu orang Sunda atau orang Jawa?” dan dia menjawab “Saya orang Cirebon”. Terkesan seperti menciptakan satu etnik baru, tapi memang begitulah adanya seperti yang ditulis oleh Harsojo (2004: 308) yang menyatakan bahwa :

“Pada daerah-daerah percampuran, di mana digunakan bahasa Sunda dan bahasa Jawa, ada kecenderungan pada beberapa keluarga yang menggunakan bahasa Sunda untuk tidak menyebutnya orang Sunda, akan tetapi menyebut dirinya misalnya orang Cirebon….”

Dari situ dapat dipahami bahwa masyarakat Cirebon mengidentitaskan diri mereka sebagai orang Cirebon bukan dengan identitas orang Sunda ataupun orang Jawa. Mungkin karena mereka memiliki hal yang berbeda dalam berbahasa, maka mereka mengidentitaskan diri mereka di luar dua budaya tersebut. Tidak heran apabila masyarakat Cirebon mengidentitaskan diri mereka bukan Sunda dan bukan pula Jawa, karena kebudayaan mereka pun berbeda dari budaya Sunda dan Jawa; budaya Cirebon telah mengalami percampuran antara keduanya. 

Posisi kebudayaan orang-orang perbatasan akan berbeda dengan masyarakat yang berada pada wilayah kebudayaannya sendiri dan dapat mengidentitaskan budaya mereka dengan jelas. Pada tulisan ini lebih fokus pada daerah Cirebon yang berada pada wilayah perbatasan Sunda dan Jawa, masyarakat Cirebon telah mengalami pertukaran dan percampuran antara budaya Sunda dan budaya Jawa. Umumnya daerah-daerah perbatasan akan mendapatkan pembiasan budaya dari berbagai sisi yang berbeda, juga akan lebih cenderung menghasilkan budaya baru yang merupakan hasil perpaduan dari budaya-budaya tersebut. Seperti yang terlihat dari proses berbahasa masyarakat Cirebon yang mengalami perluasan dari perpaduan bahasa Sunda dan bahasa Jawa. 

Dari semua apa yang saya paparkan di atas, bahwa proses pertukaran budaya tanpa disadari bisa menimbulkan budaya baru yang bahkan budaya tersebut bisa menjadi identitas baru bagi wilayah itu sendiri. Seperti halnya yang terjadi di daerah Cirebon, suatu wilayah yang seharusnya berbahasa Sunda untuk menunjukkan identitas mereka; tapi karena berada di daerah perbatasan bahasanya menjadi “tidak jelas” karena mengalami peleburan antara bahasa Sunda dan Jawa. Dari ketidakjelasan itu munculah identitas yang menyatakan bahwa masyarakat di daerah Cirebon menyebut mereka itu adalah orang Cirebon bukan orang Sunda, padahal mereka berada di wilayah Jawa Barat. Tidak pula mengidentitaskan diri mereka sebagai orang Jawa. 

Satu hal yang ternyata memang unik untuk dikaji lebih jauh dalam mengenal jati diri seseorang ataupun masyarakat adalah melalui bahasa yang mereka gunakan. Karena memang benar “Bahasa adalah identitas”. Lewat identitas mereka, kita akan lebih jauh bisa mengenal budaya mereka.

Ketika para ahli mempertanyakan kejelasan dari identitas masyarakat Cirebon yang menganggap kebudayaan Cirebon hanya pembiasan budaya dari daerah lain, saya berfikir mengenai sesuatu yang saya rasa itu adalah identitas dari masyarakat Cirebon. Ketidakjelasan penggunaan bahasa di kalangan masyarakat Cirebon yang menggunakan bahasa “Sunda henteu, Jawa henteu” itu justru telah memunculkan identitas tersendiri sebagai masyarakat perbatasan yang banyak menerima cipratan-cipratan budaya luar dan dapat menciptakan sesuatu yang baru secara alamiah. Proses mereka berbahasa menunjukkan identitas mereka sebagai masyarakat yang terkena dampak dari multikulturalisme di daerah perbatasan.

Dalam suatu ketidakjelasan apabila disingkap dan dibukakan celah, maka akan terlihat sesuatu yang berbeda dan membuat itu menjadi suatu yang bisa terlihat lebih jelas. Ketidakjelasan masyarakat Cirebon dalam menggunakan bahasa daerah mereka, justru itulah yang memunculkan identitas unik dan berbeda dari daerah Cirebon.

REFERENCE

  • (http://manusi4biasa.wordpress.com/2010/05/18/%E2%80%9Dhibriditas%E2%80%9D-budaya-cirebon-sebuah-identitas/)
  • Hofstede, Gert Jan. 2002. Exploring Culture Exercises,Stories, and Synthetic Cultures. USA: Intercultural Press, Inc.
  • Kaskuser Indonesia
  • Koentjaraningrat. 2004. Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
  • Leni, Syafyahya. 2007. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika Aditama.
  • Nasikum. 1995. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
  • Pateda, Mansoer. 1987. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa.
  • Santoso, Kurno Budi. 1990. Probematika Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.



Bagi teman-teman yang ingin mahir dalam membuat wordpress theme, secara khusus, atau ingin mengetahui cara slicing dari file PSD ke HTML, mungkin video tutorial ini adalah jawabannya. Meskipun video ini adalah langkah-langkah membuat wordpress dari awal sampai akhir akan tetapi dalam prosesnya terdapat pembelajaran kode HTML dan CSS yang bisa diaplikasikan di web mana saja yang kompatibel.

Baik, untuk lebih jelas lihat penampakan pada gambar diatas. Penampakan diatas adalah file yang akan kalian dapatkan kalau sudah mempunyai DVD ini. Dari keseluruh folder diatas terdapat 40 video tutorial yang bisa teman-teman pelajari dengan seksama. Selain itu teman-teman juga diberi file exercisenya juga. File tersebut adalah isi dari keseluruhan file yang ada dalam video tutorial.