ARCHIVE

Default Thumbnail

Kurt Cobain - Zakiiaydia

Lagu yang diawali dengan, mungkin, sentuhan tangan dan listrik gitar ini menjadi salah satu lagu favorit saya di Album Nevermind. Yah judul lagu yang dimaksud adalah On A Plain. Tentu kita berpikir kenapa bisa "didalam pesawat" menjadi salah satu judul lirik lagu Kurt di album Nevermind. Ia bisa saja, karena banyak hal lain yang lebih aneh bisa kita temukan dalam lagu-lagu Nirvana.

Sebenarnya kalau boleh jujur, tentu saya suka semua lagu yang ada di album yang covernya monumental itu. Namun ada beberapa alasan kenapa saya suka dengan lagu ini dan mengapa lagu ini selalu ada didalam playlist. 

Pertama tentu hentakan suaranya yang tidak neko-neko. Kurt kadang selalu menghentak dari awal. Baik vokal atau sound gitarnya. Tapi kadang dia juga tidak melakukan hal seperti itu. Bisa saja semua lembut dari awal tapi garang pas Reff atau tidak ada sama sekali.

Dalam On A Plain, meski suara vokal Kurt terasa datar tapi, sekali Kurt menghentak, mengeluarkan suara seraknya yang khas maka serasa ada seuatu dalam hentakannya tersebut. Apa dia marah atau itu hanya teriakan pelampiasan saja.

Yang pasti ketika Kurt bernyanyi "Love myself betten than you" Dave Grohl berhasil membuat suatu irama yang takan pernah kita lupakan. Seakan Grohl tahu bahwa Kurt mungkin lagi membutuhkan seseorang yang berarti.

On A Plain. Banyak yang menafsirkan lagu ini dengan beragam makna. Itu tidak salah. Selama dalam koridor bisa dipahami dan tidak terlalu jauh dari liriknya. Karena Kurt Cobain sudah mati maka sang pemilik lagu tidak bisa menjelaskan lagi.

Tentang Kesendirian dan Memakai Heroin

Bagi saya sendiri, tentu selalu sulit untuk menafsirkan lagu-lagu Nirvana. Kadang benar atau bahkan jauh sama sekali dari benar. Karena terkadang pada setiap satu baris lirik dengan baris lain dari lagu Kurt selalu terlihat tidak nyambung.

Dalam On A Plain bisa saja itu tentang Kurt berbicara kepada dirinya sendiri yang seorang pemakai. Karena seperti yang kita tahu bahwa Kurt tidak terlalu banyak mengutarakan apa yang ia rasakan ketika berbicara dengan teman-temannya. Maka lagu menjadi salah satu media dimana dia menjadi dominan. Dalam artian ia bebas berbicara tentang dirinya sendiri bahkan tentang kecanduannya. 

"I got so high, I scratched till i bled, I love myself better than you, I know its wrong, So What should i do?
Meski begitu kadang Kurt selalu teringat pada masa kecilnya. Ada bahagia tapi tentu ada banyak hal yang membuatnya tidak bahagia. Kebahagian mungkin tidak melulu tentang kita tertawa atau merasa ada banyak hal yang kita dapatkan.

Tapi bisa juga kebahagiaan itu tentang hal yang membuat kita menangis. Karena setelah menangis kadang beban dalam pikiran terasa sangat ringan. Air mata yang keluar ibarat penyejuk bagi jiwa yang sedih 

"The finest day, that i ever had, Was when i learned, to cry and command"

Kurt hanya butuh waktu untuk meluapkan apa yang ia pernah alami. Tentang waktunya kapan tentu kita tidak tahu. Tapi begitulah Kurt. Dia selalu melawan waktu. Lihatlah dalam On A Plain, terdapat masa lalu, masa sekarang atau bahkan masa depan. 

Momen kesedihan yang Kurt rasakan sejak ia kecil akhirnya membludak mungkin ketika ia sedang berada didalam pesawat dan anehnya Kurt sudah memutuskan mamahnya meninggal setiap malam.

Tentu itu mungkin hanya sebuah kiasan dari seorang anak kecil yang merasa kesepian ditengah malam. Itu yang Kurt rasakan. Apalagi kalau ia ingat momen keindahan orangtuanya ketika masih bersama.

Momen Kurt Cobain Sadar dan Konsisten 

Bila diperhatikan pada lagu-lagu Nirvana, maka ada beberapa hal dalam liriknya yang saya sebut dengan konsisten. Termasuk dalam lagu On A Plain. Dan hal tersebut adalah Kurt Cobain itu konsisten terhadap dirinya sendiri. 

Bahwa ia mencintai dirinya sendiri lebih dari siapapun. Seakan tidak ada orang lain yang mencintai Kurt melebihi darinya. Padahal kadang hal itu hanya anggapan semata dari seorang Kurt yang kesepian. Kalau tidak ada yang mencintai Kurt maka tidak mungkin Dave Grohl atau Novoselic merasa bersedih ketika ia kehilangan Kurt.

Dan Kurt Cobain sadar dengan hal tersebut. Ia membenarkan kondisi dirinya sendiri dengan mengatakan "I know its wrong, so what should i do" tapi kenapa ia tidak bisa berubah sama sekali dan tidak bisa beranjak dari kesepiannya yang abadi bahkan sampai ketika hujan menjadi saksi Kurt pergi untuk selamanya.

     

 

Ilustrasi Sastra

Karya sastra menurut Sumardjo dan Sumaini adalah seni bahasa, expresi pikiran dalam bahasa, inspirasi kehidupan yang dimateraikan dalam sebuah bentuk keindahan, semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang benar dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang mempesona. 

Mengacu pada pengertian diatas kita bisa mengerti bahwa suatu karya sastra itu adalah sebuah proses berpikir mengenai keindahan, kesucian kebenaran moral yang diexpresikan kedalam sebuah bahasa baik lisan atau tulisan.

 

Keberadaan dan proses itu akan senantiasa berjalan secara berirama apabila ada suatu rasa yang mempunyai peran penting yaitu rasa kecintaan kita terhadap apa yang ingin kita sampaikan pada sebuah karya sastra.

 

Kita tidak mungkin menciptakan sebuah puisi untuk seseorang yang kita cintai apabila tidak ada perasaan cinta yang menggebu ketika rindu tak bisa bertemu. Kita tidak bisa menulis puisi tentang alam apabila tidak ada suatu perasaan cinta terhadap alam yang begitu menjadi inspirasi bagi manusia.

 

Namun akhir-akhir ini nampak ada suatu masalah yang tidak bisa kita hindarkan keberadaannya, masalah yang tak bisa kita hindarkan tersebut adalah dengan menurunnya sebab suatu karya itu bisa tercipta yaitu kecintaan/kekaguman terhadap sesuatu yang bisa menghantarkan seseorang bisa membuat karya sastra.

 

Dalam tulisan ini saya mengangkat sastra lokal (sunda) sebagai kajian, hal ini terlahir bukan tanpa sebab, melainkan karena ada beberapa alasan yang membuat saya ingin sedikit berbagi tentang apa yang saya ingin utarakan

 

Bahasa dan Budaya Sunda

 

Kondisi bahasa dan budaya sunda sekarang ini sangat memprihatinkan, selain itu dengan adanya proses globalisasi yang merubah sendi-sendi kehidupan masyarakat di Indonesia, khususnya Sunda disinyalir menjadi peran penting salah satu penyebab keprihatinan kita terhadap bahasa dan budaya Sunda. Selain adanya proses modernisasi, proses globalisasi juga menjadi media utama yang mengintensifkan kontak bahasa Sunda dengan bahasa Inggris.

 

Dari proses modernisasi yang bisa kita temukan, seperti adanya Internet dan Game online, menjadi kajian khusus saya tentang permasalahan yang diangkat disini. Karena semakin mudahnya orang-orang mengakses media Internet dan Game online tanpa disadari telah merusak sendi-sendi budaya asli orang sunda.

 

Saya seringkali menemukan (di beberapa tempat) bahwa bukan saja anak-anak muda yang menggandrungi Internet dan Game online, khusus Game online ternyata anak-anak kecil juga sudah sangat paham mengenal permainan yang hanya dengan duduk saja bisa bermain dengan orang-orang diseluruh dunia.

 

Apabila hal yang demikian itu dibiarkan begitu saja tanpa adanya antisipasi, mungkin kita akan hanya menunggu cerita dari permainan-permainan asli Sunda yang dulu saya pernah kenal namun sekarang ini saya sangat jarang menemukan kembali regenerasi tersebut. permainan sunda itu seperti ajangkungan (engrang), kelom batok, rorodaan, gasing/papanggalan, perepet jengkol, bedil jepret, sorodot gaplok, engklek dan gatrik, kawih sunda, main kaleci, sondah, beklen, jaipongan, calung, wayang, ucing sumput, galah ulung dan masih banyak lagi permainan asli sunda yang tidak bisa dipaparkan disini.

 

Selain hal diatas juga, nampaklah ada sesuatu yang tidak bisa kita biarkan begitu saja mengenai arus globalisasi. Arus globalisasi yang datang dari barat juga telah menguatkan imprealisme bahasa inggris yang semakin hari semakin menggebu.

 

Kontak bahasa dengan media Internet dan Game online sebagai perantara ternyata juga banyak mempengaruhi pengguna Internet dan Game online. Hal itu terjadi karena seringnya mereka menjumpai kata-kata asing (jargon) yang muncul dalam suatu game online tertentu akan menimbulkan pemerolehan bahasa yang tidak bisa terhindarkan.

 

Apabila hal ini terus menerus menggerogoti, bukanlah tidak mungkin kita tidak berharap banyak mereka bisa dan mempunyai keinginan untuk mempelajari bahasa sunda dengan baik dan benar.

 

Saya sendiri saja banyak tidak mengetahui kosa kata bahasa-bahasa Sunda ketika membaca puisi-puisi sunda, carpon sunda, dan ternyata hal itu sangat saya sesali sekarang. Namun tidak menampik kemudian bahwa saya akan sangat tekun untuk memperbaiki kesalahan fundamental ini.

 

Sebab Sastra adalah Cinta

 

Mencintai angin harus menjadi siut. Mencintai air harus menjadi ricik. Mencintai gunung harus menjadi terjal. Mencintai api harus menjadi jilat. Mencintai cakrawala. Harus menebas jarak. MencintaiMu(mu) harus menjadi aku. (Sapardi Djoko Darmono : Sajak Kecil Tentang Cinta)

 

Puisi diatas sangatlah gamblang dan tegas mengisyaratkan bahwa memang benar salah satu yang menyebabkan kita bisa berkarya adalah suatu rasa cinta, rasa kagum terhadap sesuatu yang akan kita representasikan pada sebuah tulisan.

 

Perumpamaanya semisal untuk mencintai cakrawala maka mau tidak mau kita harus menebas jarak, bila ingin mencintai angin harus menjadi siut. Misal mencintai air harus menjadi ricik, benar-benar kita harus larut bersama air, mampu menempatkan posisi sepertinya, benar-benar bisa memahaminya. Begitulah, kalau benar-benar mencintai.

 

Sama halnya bila kita ingin membuat karya sastra sunda maka cintailah hal-hal yang berhubungan dengan sunda tersebut, apapun itu. Bila kita tidak bisa memposisikan diri kita secara demikian maka kita akan kesulitan untuk bisa membuat karya sastra sunda.

 

Seperti mencintai gunung tanpa melalui terjal yang harus kita lewati. Bila tiada kehendak untuk melalui terjal itu tidaklah mungkin seseorang bisa mencapai gunung, apalagi untuk mencintainya. begitu juga kalau ingin membuat karya sastra sunda. Apabila tidak ada keinginan untuk melestarikan dan mencintai bahasa dan budaya sunda maka kemungkinan untuk membuat karya sastra sunda akan semakin kecil diraih.

 

Oleh karena itu sangatlah perlu diperhatikan bahwa memanglah benar sebab sastra adalah cinta, tiada cinta tiada sastra dan tiada sastra berarti tiada kecintaan yang akan menumbuhkan keinginan. Maka marilah kita memulai semuanya dari hal yang terkecil, seperti orang bilang bahwa bukankah untuk mencapai puncak itu berawal dari satu langkah awal.

 

Dengan menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap budaya dan bahasa sunda akan menjadi titik tolak penting dalam menumbuhkan dan menciptakan karya sastra sunda. Mensosialisasikan kembali kaulinan sunda dan memulai kembali untuk melestarikan bahasa sunda mungkin akan menjadi salah satu alternatif bagi keberlangsungan yang saling mengisi.

 

Dengan begitu ada hal yang nyata dalam mengantisipasi proses modernisasi dan imprealisame bahasa Inggris yang semakin hari semakin menggerogoti. Saya tidak ingin hal ini terjadi karena bukankah suatu karya sastra itu seni bahasa dan inspirasi kehidupan?.

Ilustrasi Cheng Ho

Berbicara tentang seputar sejarah abad pertengahan di Nusantara, siapa yang tidak mengenal nama laksamana Cheng Ho? Ia merupakan salah satu penjelajah terbesar asal China yang pada abad pertengahan pernah datang dan singgah di Nusantara. 

Pada saat itu laksamana Cheng Ho, menjadi orang kepercayaan kaisar ketiga dari Dinasti Ming, berserta awak kapal yang melakukan perjalanan dan sampai di Jawa tepatnya pada abad ke-15.

Misi yang diemban oleh Laksamana Chengho tentu berbeda dengan apa yang telah Mongol lakukan pada 2 abad sebelumnya. Dimana kunjungan yang terjadi pada abad 13 itu bisa dikatakan kunjungan perang yang dilakukan oleh orang dari suku tatar / Mongol terhadap kerajaan Majapahit. 

Pada abad 15 Cheng Ho mempunyai misi persahabatan atau perjalanan silaturahmi. Dan itu juga sesuai dengan yang diharapkan Kaisar. Ia, dengan mengirimkan armada besar, menginginkan citra yang baik dari orang-orang terhadap dinasti Ming yang ada di China. Cheng Ho sendiri, meski orang China, tapi ia merupakan keturunan muslim yang taat. 

Sedikit mengenal Cheng Ho, nama kecilnya adalah Ma Ho. Ma adalah, yang adalam bahasa China, marganya yang berarti Muhammad. Ia berasal dari Yunnan, salah satu provinsi yang ada di China. 

Dengan begitu pada tahun 1405, maka dimulailah perjalanan Cheng Ho, melewati hampir setengah wilayah dunia. Pelayaran atau ekspedisi Chengho waktu itu merupakan sebuah pencapaian cemerlang karena dia tidak sekali berlayar namun adakalanya ia berkunjung beberapa kali ke tempat yang sama. Termasuk dalam rute pelayarannya adalah wilayah Nusantara.

Berita perjalanan Cheng Ho bisa kita baca sampai saat ini oleh karena orang-orang China saat itu nampaknya sudah tertib administrasi. Maksudnya dalam tingkat keterampilan menulis, sekaligus membacanya, atau pendataannya sudah sangat mapan. 

Jangankan tentang catatan abad ke-15. Bahkan catatan-catatan China yang berasal dari abad 7 atau kurang dari 7 masih tersimpan rapih sampai saat ini.

Begitu juga dengan kisah dari perjalanan Laksamana Cheng Ho ketika berkunjung ke Jawa. Semua dicatat baik oleh seorang juru tulis yang kita kenal dengan nama Ma-Huan. Meski hanya ikut tiga kali ekspedisi tapi perjalanan itu sangat bermakna setelah ia mempublikasikan tulisannya yang berjudul Yingyai-Shenglan sekitar tahun 1451.

Dalam catatan Ma-Huan tersebut. Sangat menarik sekali bila melihat gambaran orang-orang China terhadap orang Jawa dan Sumatra pada saat itu. Mulai dari kondisi tempat tinggal, makanan pokok, suasana tempat tinggal dan bahkan tingkatan penduduk serta Agama dibahas dalam catatan Ma-huan ini.

Dalam tulisan singkat ini saya akan memaparkan sedikit gambaran singkat Ma-huan terhadap penglihatannya ketika di Nusantara sekitar abad ke 15.

Nama Kota, Tu-pan, Su-lu-mai, Chi-li-Shih, Man-The-Po-i

Diatas adalah nama-nama kota yang dikunjungi Cheng Ho ketika pertama kali menepi didaerah Jawa Timur. Pertama sekali adalah Tuban (Tu-pan), lalu Surabaya (Su-lu-mai), Gresik (Chi-li-Shih) dan terakhir Majapahit (Man-the-Po-i). Sedangkan untuk nama Jawa itu sendiri, dalam catatan Yingyai Shenglan pada saat itu adalah Chao-Wa.

Perlu diketahui bahwa sebelum sampai ditempat yang disebutkan diatas, rute yang dilalui oleh Cheng Ho melewati pulau Karimun. 

Setelah di Jawa, Laksamana Cheng Ho memulai perjalanannya kembali melewati tempat-tempat seperti Jepara, Tan-mu (Demak), Wu-Cueh (Pekalongan), Che-Li-Wen (Cirebon) dan Chia-Lu-Pa (Sunda Kelapa atau Jakarta) sebelum akhirnya sampai di Lan-pang (Lampung), pulau Sumatra. Perjalanan di Sumatrapun dimulai dari Lampung, Chiu-Chiang (Palembang), Lamuri dan Aceh.

Deskripsi Rumah di Jawa & Orang-Orang Kebangsaan

Adapun deskripsi Ma-huan pada rumah di Jawa pada waktu itu kurang lebih seperti ini: 

Bertingkat atau ada bagian yang memisahkan tempat duduk dengan tanah, bagian bawahnya ada rotan untuk tempat berkumpul dan duduk keluarga dan bagian atasnya ada beberapa kayu yang seperti perahu menutupi bagian bawah.

Ma-huan menambahkan bahwa ada sebagian rumah, khususnya di kota, yang bagian atasnya memakai Jerami dan konstruksi banguanannya pun sudah ada yang memakai batu bata. Pada Setiap rumah mempunyai beberapa kamar yang sebagiannya dipakai untuk tidur.

Lalu pada deskripsi pakaian. Ma Huan menggambarkan seorang bangsawan Jawa saat itu seperti:

Bagian atasanya tidak rapih atau berantakan. Tapi dikepalanya ada sedikit hiasan dari Emas dan Bunga. Sementara untuk bagian bawah, ciri khas nya adalah adanya Keris yang diikat dibagian pinggang. Sementara ada juga orang-orang Jawa yang berjalan dengan tanpa memakai sendal, alias telanjang kaki. Kadang sang raja menaiki gajah untuk pergi ke suatu tempat. 

Bila dipikir kembali, maka ada kemungkinan untuk orang yang tidak memakai alas kaki, sebagaimana Ma-Huan mendeskripsikan, adalah orang diluar Majapahit. Karena pada saat itu sendal sudah masuk menjadi salah satu komoditas yang sudah masuk dalam dunia perdagangan.

Untuk perempuannya, seperti apa yang tertulis dalam Yingyai Shengland: Mereka memakai sanggul dikepala, serta tangannya memakai penutup dan bagian badan atasnya ada penutup seperti kain. Sementara anak-anak kecil dari usia 3 tahun sudah diperbolehkan menyimpan Keris yang terbuat dari baja dan untuk pegangannya kadang terbuat dari cula badak atau gigi gajah.

Ma Huan mendapati bahwa ada sebuah hal yang mengerikan, mungkin, dengan mudahnya orang Jawa mempunyai Keris. Kadang, kata Ma Huan, tiada hari tanpa ada orang yang mati karena ada penusukan.

Setiap kali Ma Huan sampai pada satu tempat maka deskripsi dari apa yang dilihat tentu berbeda-beda. Ketika ia di Gresik maka ia mengambarkan bahwa Gresik adalah pelabuhan yang besar dimana beberapa komoditas berkumpul: Emas, batu menakjubkan dan lain-lain. Dengan ramainya perdagangan di Gresik maka tidaklah salah kalau Ma-Huan menyebut orang-orang di Gresik saat itu kaya-kaya.

Gambaran yang tak kalah menarik adalah ketika Cheng Ho dan Ma Huan berada di Majapahit (Tempat berdiamnya Raja). Cuaca ditempat kediaman raja ini sangat panas katanya. Tentu Ma-huan melihat hal yang berbeda dari Majapahit, terutama karena banyaknya barang-barang produksi yang sebelumnya jarang ia lihat. Seperti Sandal, Gold, Baja, Nutmegs dan Lada. Selain itu ada beberapa penjelasan mengenai jenis-jenis binatang dan buah-buahan yang banyak Ma Huan temui disana.

Yang perlu digarisbawahi mungkin apa yang Ma Huan lihat bukan sepenuhnya hasil dari produksi atau asli Majapahit. Karena ada komoditas lain yang disebutkan di catatan Ma Huan bukan asli dari Majapahit. Seperti burung Parrot yang sebenarnya mungkin berasal dari kontak dagang antara Majapahit dan Wwanin atau Onin atau untuk sekarang kita kenal dengan Fakfak.

Terakhir ada gambaran Ma Huan tentang orang-orang di Majapahit. Dalam Yingyai Shengland disebutkan di Majapahit terdapat tiga jenis penduduk. Yang pertama adalah orang-orang Muslim pendatang dari barat, sebagian dari mereka adalah pedagang. Cara berpakaian mereka sangat rapih. Kedua orang-orang dari T'ang (orang China) yang berasal dari Kuang-Cung. Umumnya mereka beragama Islam dan makanan yang mereka makan selalu bersih. Ketiga, yang terakhir, adalah orang lokal setempat. 

Kata Ma-Huan orang lokal jelek dan berwajah aneh. Pembahasan selanjutnya mengenai orang lokal disana justru lebih aneh.

Mereka tidur tanpa alas kasur atau bangku. Ketika makan, tidak ada sendok atau sumpit yang digunakan. Hanya menggunakan tangan saja. Ketika mau makan kadang mereka minum terlebih dahulu dan membersihkan bahan-bahan makanan, begitu juga dengan tangan.

Para ahli banyak berpendapat bahwa catatan Ma Huan ini, meski bukan sejarah resmi tapi ia, menjadi salah satu catatan mengenai Majapahit yang agak kumplit.

Penutup

Tentu masih banyak lagi gambaran atau pembahasan Ma Huan tentang orang-orang Nusantara yang tidak disajikan di website ini. Kurang lebihnya penulis ingin mengucapkan terimakasih sudah berkunjung dan silahkan sisipkan komentar kalau ada yang ingin bertanya.

Muhammad Zaki Al Aziz, M.Hum 

Bila teman-teman berminat untuk membaca catatan Ma Huan terjemahan Inggris ini silahkan klik link dibawah:

Download Disini


 

Sebabnya ialah karena jiwa akan melihat sempurna orang yang menaklukan jiwa itu oleh yang ditundukannya, Ibnu Khaldun.

Serasa hidup didalam dunia fantasi adalah ketika kita merindukan hal-hal yang manis bersifat imajinasi menemukan suatu pemaknaan pada kehidupan nyata. Semisal ingin hidup seperti kisah Cinderella, ingin terbang seperti peterpan atau ingin cantik sesempurna Berbi. Saya curiga bahwa hal itu terjadi mungkin karena apa yang pernah menjadi pembentuk kehidupan sekarang tiada terlepas dari bagaimana manusia itu dikonstruksi ketika masa hidup sebelumnya. 

Apa yang menjadi sesuatu hal yang menakjubkan itu adalah ketika pengalaman masa kecil kita selalu dihiasi oleh kisah-kisah indah seperti Cinderella yang ceritanya aduhai romantis, Peter Pan yang terbang, Kecantikan Berbi yang menggugah, sampai kepada power ranger sang pahlawan kebajikan.

 

Mungkin hal seperti diataslah yang menjadi salah satu alasan bagaimana ketika dunia akhir-akhir ini dikejutkan oleh berita heboh tentang keberadaan manusia yang seolah-olah seperti Berbi si boneka cantik itu! Siapa yang tidak tahu dengan sang Ratu Berbi Sejagat – Valeria, dialah orangnya.

 

Dengan tubuh yang ramping, mata yang sedikit agak bolotot, rambut yang putih halus, jentik alis matanya, sampai pada bagaimana cerita di Film Berbi, menginpsirasinya, telah menjadikan Valeria sebagai seorang manusia yang menjadi Berbi dalam keadaaan aslinya. (Sebuah petanda melahirkan penanda baru)

 

Serentak berbagai opini pun mencuat terkait kemunculan manusia Berbi asal Rusia itu. Seperti biasanya, maka ada 2 opini yang berlawanan, pro dan kontra. Sebagian ada yang menganggapnya lazim, karena itu hak mereka dan sebagian orang mempunyai pendapat bahwa mereka terlalu terobsesi.

 

Kita boleh saja berpihak pada kedua kubu diatas namun ada baiknya keberpihakannya itu disertai sama alasan atau upaya yang bisa meyakinkan orang lain. Misalnya ketika ada suatu wacana bahwa foto-foto Valeria, olga dan teman serupanya adalah fake alias palsu dan dibuktikan dengan kepalsuannya. Begitupula apabila mengatakan biarkan sajalah itukan hak asasi mereka maka harus dibarengi dengan sesuatu yang menguatkan.

 

Valeria: Kegemaran Yang Menjelma

 

Valeria tidak akan pernah menjadi seorang Berbi apabila dia tidak mempunyai hubungan atau keterikatan yang dalam dengan Berbi tersebut. Seorang manusia sedikitnya, seperti yang diurai diatas, tidak akan pernah jauh dari apa yang ia alami dalam hidupnya. Ketika habitusnya dibarengi oleh beberapa kemistri yang mendukung maka keinginannya atau imajinasi/obesesi mimpi terasa dekat untuk digapai dan tak terlalu jauh untuk dilalui.

 

Untuk itu tidak mungkin kalau saya tidak menuliskan Valeria adalah penggemar berat dari Berbi. Sebagian kita pasti pula menggemari sesuatu, mengidolakan sesuatu, menginginkan hidup seperti sesuatu dan ingin seperti apa yang kita idolakan. Wajarlah kalau seseorang itu mempunyai Idola tapi kalau berlebih-lebihan kan tidak dianjurkan juga!

 

Menggemari sesuatu adalah hal yang biasa/wajar dalam hidup. Malahan dalam ajaran agama saya dianjurkan untuk mengidolakan seseorang dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

 

Akan tetapi seiring dengan perubahan zaman, pandangan peralihan dan kemajuan tekhnologi istilah menggemari, penggemar atau apapun itu ternyata menjadi sesuatu kajian yang kritis bagi beberapa kalangan. Sebagian ilmuwan mengganggap bahwa praktik budaya tersebut muncul sebagai akibat dari alienasi ideologi kapitalis dan sebagian ilmuwan lain mengatakan bahwa budaya penggemar itu adalah sebuah sub baru yang unik.

 

Budaya penggemar sekarang bisa ditemui dimana-mana termasuk di Indonesia seiring meningkatnya konsumerisme. Kita lihat bagaimana generasi muda kita yang sedari pagi sudah nongkrong di acara – acara musik, selain itu kita juga melihat intensitas penggemar musik di Indonesia yang semakin marak dan ramai. Tak lupa bahwa

 

Dalam pembahasan kajian budaya, budaya penggemar selalu menjadi topik hangat untuk diperbincangkan. Disini ada baiknya kita tinggalkan dulu pengertian budaya yang selalu didefinisikan oleh para antropolog atau ilmu sosial lainnya karena kita disini akan memakai istilah budaya dalam ruang lingkup kajian budaya. Secara sederhana, kajian budaya adalah ilmu yang mempelajari budaya kontemporer berserta relasi sosial politiknya.

 

Tentu saja ada beberapa faktor penting yang lahir dari adanya budaya penggemar tersebut. Bisa jadi faktor itu mempermasalahkan kenapa dan mengapa seorang itu sangat menggemari apa yang ia sukai. Untuk itu marik kita menuju pada perkataan seorang peneliti budaya penggemar yang mengatakan bahwa literature mengenai kelompok penggemar dihantui oleh citra penyimpangan. Penggemar selalu dicirikan sebagai suatu kefanatikan yang potensial. Hal ini berarti bahwa kelompok penggemar dilihat sebagai perilaku yang berlebihan dan berdekatan dengan kegilaan.[ref](Jensons dalam John Storey) 1996. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Jalasutra : Yogyakarta.[/ref]

 

Obsesi dan histeris yang berlebihan biasanya terdapat pada beberapa kelompok penggemar, dan itu tidak apa2 menurut kacamata mereka namun berbeda dengan kacamata yang lain. Justru dengan melebih-lebihkannya itu seorang penggemar akan terlihat seperti seseorang yang tergila-gila terhadap citraan sang idola.

 

Keadaan mereka yang asli telah dirasuki, setidaknya, oleh citraan yang mendahului substansi. Suatu ketidakperluan apabila tidak adanya suatu subyek yang mempertanyakan atau meragukan. Yang ada mungkin mereka sedikit dyuekat pada suatu masyarakat yang sudah terkungkung dalam satu dimensi.[ref]Istilah ini dipopulerkan oleh Herbert Marcuse[/ref]

 

Citraan Berbi yang cantik dengan beberapa gayanya serta film2 berbi yang setidaknya memberi suatu fantasi tentang dewi cantik yang aduhai sempurna telah memberi banyak pengaruh pada hidup Valeria. Baginya ia tidak perduli seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk menjadi seorang wanita Berbi karena pada dasarnya hidup seperti Berbi adalah kesempurnaan yang diidamkan.

 

Valeria Berbi: Suatu Pandangan Lain

 

Adalah suatu kewajaran apabila saya mengatakan bahwa ketika obsesi/histeris itu berada pada tinggkat tinggi maka potensi apa yang diidamkan akan dianggap sempurna oleh mereka. Sebabnya ialah karena jiwa akan melihat sempurna orang yang menaklukan jiwa itu oleh yang ditundukannya [ref] Khaldun, Ibnu. 2011. Muqaddimah. Jakarta : Pustaka Firdaus.[/ref]

 

Seorang manusia mungkin akan berpikir beberapa kali untuk menjadi berbi apabila jiwa dan keadaan yang ada padanya tak memadai untuk melihatnya secara sempurna. Tapi bagi mereka, komunitas berbi, mungkin menjadi manusia berbi itu adalah sebuah pilihan.

 

Tentunya pilihan yang terlahir itu bukan suatu keputusan yang datang dengan sendirinya melainkan terpengaruh oleh bagaimana situasi keadaan dimana mereka berada. Citraan yang ditampilkan berbi, ditambah. masa-masa kecil yang selalu dirindu, menjadi sebuah kenyamanan tersendiri untuk memaknai peran individu mereka. Dibawah akan sedikit dipaparkan mengenai pembahasan Berbi dilihat dari segi yang dipilih penulis.

 

Cyborg: Apakah Bisa Diterima?

 

Istilah Cyborg adalah suatu istilah ketika manusia dan mesin dapat menjadi sesuatu yang terpadu. John Hartley mengatakan bahwa Cyborg adalah perpaduan antara manusia dan mesin, organis dan teknologis.[ref] Hartley, John. 2004. Communication, Cultural, & Media Studies – Key Concept. Jalasutra : Yogyakarta.[/ref]

 

Terkait fenomena manusia berbi ini, ternyata wacana sepreti hidup dalam plastik (Ditujukan kepada mereka) sudah banyak menjadi perbincangan media-media di dunia barat atau didunia timur. Hal ini menjadi sebuah pembicaraan menarik. Apalagi dengan adanya istilah Cyborg menjadikan manusia berbie perlu dibicarakan lebih lanjut.

 

Dengan mempelajarinya mungkin kita bukan hanya akan mengerti definisi tertentu dari Cyborg melainkan melebar kepada hubungannya dengan feminisme. Sebaiknya saya melepaskan pembahasan cyborg dalam tulisan ini. Tindakan ini dilakukan untuk menghindari beberapa kemungkinan yang sulit didepannya. ðŸ˜€

 

Tapi kalau ada yang mau membahas berbi dan hubungannya dengan feminisme saya akan berbagi ebook yang isinya membahas permasalahan wanita, berbi dan feminisme.

 

Gaya dan Gaya Hidup

 

Bisa jadi apa yang dilakukan oleh Valeria dan teman-temannya adalah sebuah trendsetter yang sedang marak di Rusia. Indikator penting bagaimana hal ini menjadi trendsetter mungkin terletak pada kebaruan yang lahir ditengah kejenuhan atau bisa juga hanya ikut-ikutan saja.

 

Menjadi berbie dan terkenal ternyata telah menjadi suatu fesyen tersendiri disana. Hal ini telah membuat individu merasa menjadi seseorang yang khas diantara yang lainnya. Disini gaya menaruh perhatiannya pada kekhasan, aspek lain dan fesyen. [ref]Ibid ., hal 93[/ref]

 

Dengan adanya situs jejaring media sosial seperti website, facebook, twitter dan youtube. Valeria dan beberapa komunitasnya serentak menjadi terkenal seantero dunia.  terecatat

 

With more than 30,000 subscribers on her official YouTube channel, plus a 20,000-strong following on Twitter and Facebook… Her 85 tutorials on her YouTube site, VenusAngelic, have been watched 10 MILLION times — with one on creating doll-like make-up seen a staggering 1.6 million times. [ref]http://hyperallergic.com/57313/living-dolls/, diunduh pada tanggal 12/18/2012.[/ref]

 

Kemunculan mereka yang khas dan beberapa tingkah laku yang begitu tak biasa telah menjadikan mereka sesuatu identitas yang baru, (Mungkin suatu sub) suatu identitas yang mengindentitaskan diri mereka pada berbie. Identitas menjadi sangat penting dalam pembentukan gaya hidup. Sebagaimana dikatakan Hartley ketika membahas 2 konteks yang ada dalam gaya hidup bahwa “Gaya hidup ini memiliki kaitan dengan subkultur urban atau penggemar musik, olah raga dan kesukaan.”[ref] Ibid., hal 95.[/ref]

 

Sedangkan yang kedua menurut Hartley terkait dengan industri konten. [ref] Ibid., hal 95.[/ref] Dalam konteks ini suatu identitas yang terkolektifkan itu bergerak dengan kepentingan-kepentingan umumnya baik itu bagaimana mereka merawat tubuh, edit menggunakan photoshop atau mengundang dalam seminar spiritual ajakan Ratu Valeria. → lihat disini lebih lanjut [ref]http://exposebarbie.com/[/ref]

 

Melihat cara mereka mengelola website, akun youtube, facebook dan bahkan twitter sampai seminar-seminar yang diberikan oleh Valeria telah menjadi suatu konten yang menyuguhkan kepada kita untuk lebih mengenal mereka dengan identitas baru yang melekat padanya.

 

Kesimpulan dan Lanjutan

 

Kehidupan manusia adalah suatu kehidupan yang tak bisa terlepas dari suatu ruang dan waktu. Bagaimana ia besar dan bagaimana ia hidup di masa kecil adalah suatu waktu yang selalu menjadi rindu dikelak hari bahkan hal tersebut tak jarang menjadi sebuah mimpi.

 

Namun hanya sebagian orang yang bisa merealisasikan apa yang diidamkan dimasa lalu, yaitu mereka orang-orang dengan habitus dan suatu ruang waktu yang mendukung.

 

Seperti misal seorang Valeria dan perempuan lainnya yang mempunyai imajinasi tinggi untuk menjadi seorang berbie. Mereka meggemari maka mereka harus ada untuk kebahagiaannya itu. Menjadi berbie adalah sesuatu jalan bagi mereka karena untuk memilih merupakan kejadian dimana mereka sedari kecil. Yang tersisa sekarang hanyalah obsesi yang menjadi.

 

Manusia berbie adalah suatu perpaduan antara imajinasi dan realitas yang menjadi suatu gaya baru yang ada di Russia. Valeria ibarat gunung es yang mencair. Satu persatu maka menjadi banyak lalu tebentuklah suatu komunitas dan bahkan sampai subkultur.

 

Sekilas tak ada permasalahan kritis yang dipertanyakan disini. Namun sesuai dengan temannya subjudul “Kesimpulan diatas” maka Insya Allah dalam beberapa waktu yang akan datang saya akan mencoba menulis permasalahan sama dalam perspektif Madzhab Frankurt.

 

Beberapa situs yang direkomendasikan adalah

 

[ref]http://www.thesun.co.uk/sol/homepage/features/4251638/Venus-Palermo-news-The-teenage-girl-who-spends-120-a-month-to-live-like-a-real-life-doll.html[/ref]

[ref]http://kotakoti.com/?paged=4[/ref]

[ref]http://hyperallergic.com/57313/living-dolls/[/ref]

[ref]http://transhumanity.net/articles/entry/the-human-barbie-doll-valeria-lukyanova-is-this-the-future-of-cosmetic-surg[/ref]

[ref]http://exposebarbie.com/valeria-lukyanova-her-bff/[/ref]

[ref]http://www.parenting.com/blogs/show-and-tell/kim-babytalk/meet-human-barbie[/ref]

[ref]http://www.dailymail.co.uk/femail/article-2133552/Valeria-Lukyanova-pictures-Real-life-Barbie-seeks-worlds-convincing-doll.html[/ref]

[ref]http://www.newsmakertoday.com/wanna-be-like-barbie-dolls-charlotte-hothman-spend-10000/3856.html[/ref]

[ref]http://www.newsmakertoday.com/ukrainian-girl-valeria-lukyanova-the-real-life-barbie-doll/4904.html[/ref]

[ref]http://thegreenbuz.com/ukrainian-girl-valeria-lukyanova-the-real-life-barbie-doll-04-2012[/ref]


 

Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani. - Umar bin Khattab-

Ketahuilah bahwa kutipan diatas lahir bukan dari seorang sastrawan besar semisal Shakespeare, Homer, Hemmingway, Khairil Anwar atau bahkan Pram. Melainkan kutipan tersebut berasal dari salah seorang pembesar agama Islam, yakni Umar bin Khatab, – Salam dan doa kupanjatkan untuknya.

 

Meskipun ia banyak dikenal sebagai seorang pejuang perang yang pemberani dan tangguh dalam menghadapi musuh namun dibalik keberaniannya itu ia adalah seorang yang menyukai hal ihwal syair khususnya dan sastra pada umumnya.

 

Ketertarikan Umar bin Khatab pada dunia sastra bukannya tanpa alasan namun memang pada saat itu beliau hidup di wilayah yang mana, pada waktu itu, syair-syair dan sastra menjadi sebuah identitas penting pada suku-suku yang ada di negeri jazirah Arab.

 

Syahdan, sebelum Islam menyebar luas dengan gemilang, negeri Arab pada waktu itu sudah banyak dikenal oleh orang-orang tentang kepiawaiannya dalam hal syair. Oleh karena itu negeri ini bukan saja dikenal sebagai sebuah negeri yang hidup mewangi, artinya Negeri ini dikenal karena mempunyai banyak cerita indah tentang suatu peradaban, akan tetapi Negeri ini juga dikenal karena kecerdikan-kecerdikan mereka dalam hal bersyair.

 

Dalam tulisan saya yang terdahulu, yakni tentang “Mu’allaqat: Yang Tersisa Pada Sejarah Ada Pada Syair” telah dikemukakan sedikit mengenai gambaran kondisi orang Arab pra Islam yang sangat menyenangi Hal Syair. Dan untuk mengetahui lebih lanjut temtang keadaan tersebut saya sarankan untuk membaca tulisan itu terlebih dahulu.

 

Karena pada kesempatan ini saya tidak akan menjelaskan dengan panjang lebar mengenai bagaimana kondisi dan peran sastra yang ada di Arab. Disini saya hanya ingin sedikit menjelaskan bagaimana peran dan fungsi sastra dalam dunia masyarakat dilihat dari tema semata.

 

Sebagaimana telah terucap diatas bahwasanya Umar bin Khatab – Semoga Allah memberi tempat yang indah kepadanya – ketika berkata “Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani” pada waktu itu beliau bukannya berkata tanpa alasan. Akan tetapi beliau mewasiatkan sesuatu yang luar biasa kalau kita pandang kalimat tersebut dengan hati yang jeli bersih nan suci.

 

Pada kesempatan kali ini yang bisa saya sampaikan, sehubungan dengan alasan Umar bin Khatab, ketika mewasiatkan “mengajarkan sastra kepada anak” pada waktu itu adalah apa yang pernah dialami oleh beliau sewaktu sebelum masuk islam dan sesudah masuk Islam.

 

Umar bin Khattab Sebelum & Setelah Masuk Islam

 

Seperti banyak diketahui bahwasanya Umar bin Khatab sebelum masuk menjadi seorang muslim ia lebih terkenal sebagai seorang pembangkang ajaran Islam dan Baginda Nabi Muhammad Saw, PBUH. Pada waktu itu beliau terkenal sebagai seorang yang gagah berani dan tak gentar untuk melawan musuh termasuk keberanian niatnya untuk mebunuh Nabi Muhammad SAW sendiri.

 

Akan tetapi, sebagaimana jalan taqdir yang berbicara, ternyata sejarah berkata lain padanya. Umar bin Khatab ternyata ditaqdirkan untuk menjadi seorang sahabat Baginda Nabi dalam misinya menyebarkan agama Islam kelak.

 

Berbicara mengenai ketertarikan Umar pada Islam, usut punya usut ternyata salah satu yang membuat Umar bin Khatab tertegun hatinya untuk lebih mendalami isi dan ajaran yang dibawa oleh baginda Nabi adalah ketika beliau mendengarkan beberapa lantunan ayat Al-quran yang dikiranya adalah sebuah syair.

 

Ketika kita mendapati hal tersebut maka bukanlah hal yang tak mungkin pada waktu itu beliau telah mengenal betul apa makna dan keindahan yang ada pada sebuah Syair atau pada kata-kata yang mempunyai arti dan makna yang bagus.

 

Kondisi seperti ini jelas tidak akan bisa terlepas dari lingkungan Arab yang, telah dikatakan tadi, sudah dikenal banyak orang dalam hal dunia sastra, khususnya syair. Itulah sebabnya dengan keindahan bahasa dan alunan merdu ayat suci Al-Quran maka seketika itu pula beliau terkejut ketika mendengarkan lantunan ayat tersebut ternyata merdu didengar dan syahdu direnung.

 

Begitulah kita mendapati bagaimana bila suatu karya sastra menyuguhkan kepada kita sesuatu yang menggugah hati dan mungkin menjadi penawar rindu bagi jiwa yang sepi. Terlebih apabila yang didengarnya itu adalah Al-Quran yang dimana banyak para ilmuwan yang meyakini bahwa bahasa yang ada didalam Al-Quran merupakan bahasa yang menakjubkan.

 

Banyak karya-karya sastra yang mampu menggugah hati manusia seperti karya-karya sastra bertema cinta, tragedi, dan kepahlawanan. Apa yang diwasiatkan Umar bin Khatab tentu memiliki kriteria tersendiri bila dilihat pada konteks karya sastranya. Oleh karena Umar bin Khatab adalah seorang pahlawan besar yang menyukai syair maka syair-syair yang dianjurkannya pun tak akan pernah terlepas dari syair-syair yang mempunyai pesan untuk menjadi seorang yang pemberani

 

Sastra & Kepahlawanan

 

Unsur-unsur sastra bertema kepahlawanan sebelum datangnya Islam menjadi begitu sangat penting bagi beberapa suku-suku yang ada di Arab. Ungkapan berupa syair yang bertemakan seorang ksatria (Muru’ah), baik itu yang telah tiada atau yang masih hidup, seolah menjadi sebagai suatu welstanschaung dikalangan mereka.

 

Pada tingkatan seperti ini seorang pemikir besar islam, Ismail Raja Al-Faruqi, mendefinisikan keadaan diatas sebagai poros romantisisme. Dimana pada keadaan seperti itu (romantisisme) kondisi sosial akan membentuk solideritas internal suku.

 

Hal itu terjadi karena keadaan di Arab pada waktu itu digambarkan dalam sejarah-sejarah sebagai negeri yang penduduk atau suku-sukunya selalu berperang satu sama lain. Dan sudah menjadi ketentuan umum bahwasanya akan menjadi sebuah kehormatan untuk menang melawan suku yang ditantang perang adalah impian dari beberapa suku selain untuk bertahan hidup.

 

Syair (Puisi) yang pada waktu itu muncul dari hikayat perasaan individual seseorang menjadi sebuah mediasi yang cocok untuk menggambarkan apa yang tengah terjadi di Arab. Selain itu syair-syair juga menjadi sebuah senjata simbolik yang mampu menggugah perasaan seseorang untuk mengangkat senjata dan menjadi pahlawan di medan perang.

 

Mari kita simak tulisan singkat dari Ismail Faruqi sebagai penopang dari argumen diatas bahwasanya:

 

“Perang suku merupakan aturan umum, yang mana gencatan senjata dalam perang menyebabkan periode damai yang relative singkat. Syair terus menerus mengobarkan semangat, menyerukan kematian bagi suku sebagai puncak tertinggi prestasi heroik. Ayyam Al-Arab berkembang hampir seperti kultus, dimana para pemujanya adalah orang-orang Arab yang mendengarkan dengan penuh semangaat saat pendeta – dalam kasus ini, narrator- bercerita dalam syair dan prosa yang fasih warisan anekdot tentang pahlawan perang suku demi suku. Kultus ini benar-benar menguasai imajinasi orang-orang yang ikut serta.

 

Yang bisa kita maknai (jadikan hikmah) secara baik dalam keadaan ini adalah bagaimana sebuah syair atau karya sastra mampu membuat sesorang menjadi seseorang yang merasa seakan dirinya terbang dibawa kata yang diucap. Dengan kata lain inilah yang merupakan suatu sihir syair –sebuah karya sastra- yang mempunyai pengaruh sebagai sebuah sumbu bagi calon-calon pahlawan berikutnya.

 

Hal diatas bisa menjadi sebagai sebuah penegas bahwasanya unsur-unsur kepahlawanan dalam sebuah syair/karya sastra itu sangat penting. Sebagaimana Umar dengan wasiatnya prihal mengajarkan sastra kepada anak-anak, bukan hanya mengisyaratkan bahwa kita harus berperang, membunuh lawan, melainkan sifat dan hakikat sastranya lah yang bisa menggugah rasa dan jiwa seseorang sehingga yang tadinya ia malas melawan kejahatan menjadi seorang pemberani yang tak tertandingi.

 

Sedikit teranglah sekarang bagaimana wasiat Umar bin Khatab bisa kita dapati setelah tulisan singkat diatas. Mungkin banyak dari kita yang pernah mengidolakan seseorang pahlawan yang biasa kita tonton di televisi dan secara tidak disadari hal-hal itu membuat pertumbuhan psikologis kita sedikit terpengaruhi. Begitulah hal tersebut terjadi apabila kita membaca satu karya sastra.

 

Maka benarlah bahwasanya sebuah karya sastra yang hebat itu adalah sebuah karya yang bisa menggugah perasaan orang ketika dibacanya dan kita pun mengidolakannya, mungkin.

 

Kepahlawanan dalam sebuah karya

 

Kunci utama dari kepahlawanan, sastra kepahlawanan, adalah perlawanan yang dilakukan seseorang disatu tempat dengan perjuangan kerasnya untuk melawan orang-orang yang dianggapnya telah melanggar suatu aturan yang telah diberlakukan.

 

Adalah sama ketika kita sedang melihat tayangan-tayangan superhero asal Amerika atau Negara manapun yang sedang membasmi kejahatan dan kita terpukau oleh pahlawan pemberani yang tangguh itu.

 

Bedanya kalau waktu itu media TV dan tekhnologi belum tercipta maka perhatian utama para pengarang adalah dengan menuliskan cerita yang menggugah rasa kepahlawanannya kedalam sebuah mahakarya tulis/syair.

 

Banyak cerita-cerita kepahlawanan semacam Iliad, Odius, William Wallace, King Arthur, Hercules, Wonder Woman, Si Pitung, Robin Hood, dan Sanaya adalah buah dari bagaimana pengarang ingin menyampaikan sebuah sejarah yang mungkin bisa membuat kita menyadari sesuatu mutiara yang belum tersentuh hati.

 

Berbagai karakter pahlawan diatas memiliki perbedaan, baik itu secara keadaan sosiokultural (disesuaikan berdasarkan tempat pahlawan itu diceritakan) ataupun apa yang ditunjukan penulis pada karakter pahlawan tersebut. Sesuai dengan apa yang direksa dan lingkungan yang mereksa adalah salah satu syarat bagaimana seorang penulis mengkonstruksi pemahaman dirinya dalam suatu karya sastra.

 

Perlu diketahui bahwa satu hal yang paling mendasar dari bagaimana proses kepenulisan adalah seorang penulis itu tidaklah mungkin menulis sesuatu yang tak ia ketahui, artinya makna dari ketahui tersebut adalah apa yang ia pikirkan dan rasakan.

 

Sedangkan dalam pesannya, sebagaimana tersirat dari karakter yang ditampilkan dalam karya-karya tersebut adalah untuk menegakan keadilan dan kebenaran, membela yang benar dan malawan yang salah.

 

Keadaan sosikultural (Lingkungan) dimana karya tersebut lahir menjadi satu faktor penting pada cerita yang akan ditampilkan oleh seorang penulis kelak. Kadang seorang pahlawan muncul dalam sebuah sastra dalam situasi yang menggambarkan sebuah kerajaan yang penuh dengan korupsi, kesemena-menaan kaum borjuis dan ketidak perdulian mereka terhadap kaum miskin.

 

Bahkan ada juga tema yang muncul seperti sikap perlawanan negeri yang terjajah terhadap penjajahnya dulu. Sebagaimana Talas dalam essainya yang mengatakan bahwa:

 

Heroes first appeared in myths of various kinds, and in many cases the course of their life seems to represent daily or seasonal changes; in such cases they either symbolize the sun, or the growth and death of vegetation (Heroes and Heroism in Myth, Legend and Fiction)

 

Tema kepahlawanan dalam sebuah karya sastra adalah tema klasik yang selalu banyak kita temui hari ini. Dimanapun Negara kita singgah pastilah terdapat sebuah karya sastra –tentang kepahlawanan- yang kita dapat baik itu berupa dongeng, mitos atau legenda.

 

Menurut Jung –seorang pakar mitos- hal ini terjadi karena:

 

Heroes are constructions; they are not real. All societies have similar hero stories not because they coincidentally made them up on their own, but because heroes express a deep psychological aspect of human existence. They can be seen as a metaphor for the human search of self-knowledge. In other words, the hero shows us the path to our own consciousness through his actions.

 

Boleh dikata bahwa disini sastra menjadi sebuah alat perlawanan bagi mereka yang mempunyai kehebatan dalam merangkai kata sehingga semerbak menjadi beribu makna bagi para pembacanya. Sehingga benarlah bahwa kata-kata bisa lebih tajam dari pedang – dalam konteks perang -.

 

Seorang penulis sedikit mengubah gambaran perang dari cara mengasah pedang dan memainkannya menjadi sebuah kata yang tajamnya aduhai lebih terasah dari pedang itu sendiri. Buktinya sejarah mengatakan bahwa banyak para sastrawan/seniman yang pernah mendekam dipenjara akibat karya mereka yang dianggap terlalu radikal.

 

Pun ketika wasiat itu diturunkan beliau kepada rakyat-rakyatnya, termasuk kita sendiri, sebagai umat Islam hal ini menandakan bahwa syair atau sastra itu bukan merupakan suatu yang tidak dibolehkan. Kita tahu bahwa beliau adalah salah satu orang terdekat baginda Rosul, (PUBH) maka dari itu tidaklah mungkin jikalau beliau mewasiatkan sesuatu yang tidak dianjurkan oleh Islam.


Sumber bacaan: 


  • Umar bin Khattab, dalam Anis Mata-[ref]Pendidikan Karakter Berbasis Sastra-[/ref]
  • [ref]Faruqi. Ismail, Atlas Budaya Islam[/ref]

T indakan yang dilakukan oleh NYPD terhadap komunitas muslim yang ada di Newyork – Amerika pada umumnya dan khususnya pada hal yang serupa namun diluar New York, telah menimbulkan suatu reaksi yang keras dari pihak otoritas Muslim disana, baik itu dikalangan perkerja, militer, doktor, para ulama sampai kepada para pelajar. 

Merasa hak kehidupan bermasyarakatnya dibatasi, karena berdasarkan masalah agama, oleh pengawasan NYPD. Komunitas muslim yang diwakili oleh Syed Hassan dan Farhana Khera dari advokat muslim mengajukan tuntutan yang dilayangkan kepada NYPD. Hal ini dilakukan sebagai bentuk keberatan dari perlakuan tidak seimbang yang dialami oleh warga muslim disana.

 

Sebagaimana yang diberitakan beberapa media online Amerika dan beberapa website komunitas muslim. Dikatakan bahwa NYPD berusaha mengintervensi kegiatan komunitas muslim dengan memata-matai segala aktivitas kehidupan bermasyarakat disana.

 

Tindakan yang dilakukan oleh NYPD, disinyalir, merupakan sebuah bentuk penegakan hukum atas sesuatu yang ilusi. Ia jauh dari kebenaran nyata. Alasan yang paling utama yang dilontarkan oleh pihak NYPD adalah untuk menanggulangi permasalahan terorisme. Lebih lanjut, NYPD mengatakan bahwa hal ini dilakukan sudah berdasarkan fakta yang ditemukan.

 

Dengan meminjam masa yang telah berlalu, dalam hal ini terkait dengan 9/11, NYPD telah melakukan suatu tindakan yang tak seharusnya dilakukan. Bolehlah dikata bagi mereka, perang melawan terorisme belum berakhir dan sebagai salah satu wujud untuk mencegah tindakan teror itu terulang kembali, mereka dengan kehendak jiwanya telah memberikan suatu perhatian khusus terhadap warga muslim yang ada disana, bahkan berlebihan.

 

Kita bisa membayangkan bagaimana kalau misalnya segala tindak-tanduk kegiatan yang kita lakukan sehari-hari terus diawasi oleh pihak keamanan ditempat anda tinggal? Meskipun banyak yang berdalih bahwa hal itu bagus untuk dilakukan akan tetapi disatu sisi hal tersebut cenderung diskriminatif. Kenapa hanya pada warga muslim saja NYPD merasa harus mengawasi kegiatan-kegiatan sehari yang dilakukan secara curiga.

 

Dimesjid diintai, dikampus diawasi, disekolah dimata-matai, ditaman diperhatikan, ketika berkumpul mengobrol dicari apa yang diobrolkan, sampai kepada aktifitas ngeblog para pelajar/mahasiswa disana diawasi. Jangan-jangan penyusup telah masuk kerumah-rumah warga muslim disana. Tentu hal itu berdasarkan persepsi mereka terhadap, sikap berlebihan dalam menanggapi, terorisme.

 

Dalam tulisan pendek ini saya hanya ingin menjelaskan sedikitnya tiga faktor yang berhubungan dengan pemasalahan diatas. Ketiga faktor ini sangat berkaitan erat satu sama lainnya, bahkan saling menegaskan. Yang pertama adalah menyinggung kembali kisah klasik pertentangan antara Islam dan barat. Yang kedua lahirnya definisi Terorisme, citra ilusi, yang erat kaitannya dengan Islam dan yang ketiga adalah bagaimana hal tersebut menjadi sebuah panopticon global bagi islam.



 

Kisah Klasik Pertentangan Dalam Dunia Fatamorgana

 

Syahdan, Persepsi orang-orang barat terhadap agama Islam tidak bisa terlepas dari sejarah panjang antara Islam dan barat kristen itu sendiri. Ziaudin Sardar menyadari hal tersebut lebih jauh, ia mengatakan bahwa kedatangan Islam itu sendiri sudah menjadi suatu masalah bagi Eropa. Begitupun John L. Esposito dalam bukunya yang mengatakan bahwa kemunculan dan perkembangan Islam adalah merupakan sebuah tantangan bagi barat Kristen.

 

Meskipun tantangan yang dimaksud mereka hanya bersifat tantangan teologis & politis namun dampak dari itu adalah warisan sejarah panjang kelam antara keduanya. Dari penghinaan Nabi oleh Paul Alvarus, perang salib, kebangkitan Islam pada masa khilafah sampai Ottoman setidaknya telah menanamkan suatu gambaran melingkar yang akan selalu hadir dimasa depan.

 

Pertentangan antara islam dan barat ini boleh dibilang masa lalu yang tertunda, ia seolah melingkar tak pernah berhenti. Masa lalu yang akan selalu ada dan meledak kalau disentuh dengan bahan yang mudah membludak.

 

Seperti contoh: Kisah yang memilukan sekaligus mengkhawatirkan adalah ketika media menyajikan kebengisan, kemarahan, situasi huru-hara, kekerasan simbolik sampai pada arah penonton yang dipadankan kepada rasa yang iba ketika terbunuhnya salah satu duta besar Amerika, pada kasus pelecehan Nabi Muhammad SAW –PBUH (Baca Innocent of Muslim).

 

Setidaknya dapat ditarik 2 kesimpulan penting yang bisa kita sematkan pada masalah ini, yakni sikap diantara mereka yang hendak melecehkan Islam dan kemarahan dengan sikap yang tak sewajarnya menjadi komoditas yang kaya bagi media. Dan yang terlihat dimedia itulah yang pada akhirnya berimbas pada pandangan orang-orang, terhadap Islam, merasa sedikit demi sedikit ragu terhadap eksistensi Islam.

 

Ada 2 konsep rasa saling bertikai namun ia berdiri ditengah sumber yang saling menerka satu sama lain. Orang non-Muslim memandang orang Muslim: juga betapa orang Muslim tidak mampu memahami bagaimana dunia memandang diri mereka. Selalu terjadinya pertentangan dikedua belah pihak bahkan dari citraannya yang salah bukan tak mungkin akan menghadirkan sesuatu yang wah.

 

Pertikaian ini seringkali ditandai dengan tindakan saling tidak tahu, saling memberi stereotif, menghina, dan konflik.

 

Media, yang secara global dikuasai oleh barat, setidaknya menjadi sebuah dunia citraan yang luar biasa. Terkadang dengan kehadirannya kita seolah melihat dunia realitas dalam kacamata fatamorgana, ketika mendapati diri lebih dalam dan dekat ia seolah hilang dengan sendirinya, memudar dan mungkin tak pernah ada.

 

Tapi sebagaimana hal biasa terjadi, bagaimana sejarah, dengan berbagai pristiwa yang telah terjadi, terkadang menjadi sebuah senjata bagi mereka yang benci terhadap satu sama lain.Perang-perang yang telah berlalu lantas dihadirkan kembali dengan bentuk yang berbeda secara berlebihan atau secara tidak seimbang dengan bukti sejarah yang ada.

 

Berbagai film-film Hollywood banyak yang melahirkan beberapa opini publik yang terlahir lewat citra tentang gambaran Islam itu adalah barbar, penuh dengan kekerasan, penuh dengan pembunuhan, penuh dengan mistis, fatwa yang mengekang, terbelakang dan lain-lain.

 

Perang melawan Saddam Husain menjadi perang semiotika yang menyebar tak terarah dari sebab media yang terlalu picik mendeskripsikan fakta yang menghadirkan suatu kesamaan visi, pada pandangan orang-orang terhadap Islam.

 

Dan lagi ketika Ayatollah Khomeini mengeluarkan fatwa mengejutkan kepada Salman Rushdie dengan ayat-ayat setannya telah menimbulkan suatu pandangan terhadap Islam yang penuh dengan fatwa-fatwa yang mengekang. Namun puncak dari segala kenikmatan mereka, atas persepsi tersebut, adalah ketika pentagon luluh lantah oleh, yang dianggap mereka, Al-Qaedayang berujung pada pandangan global terhadap Islam, yaitu terorisme.

 

Begitulah sekiranya gambaran Islam yang menghantui segenap orang-orang Barat. Islam seringkali disamakan dengan radikalisme dan terorisme. semata namun sangat intens selalu ada rantai yang memperkuat bagaimana citra itu berlanjut.

 

Kata ini, terorisme, sekarang sudah menjadi sebuah hegemoni global. Dimana pada tingkatan tertentu pandangan ini, yang berasal dari barat, cenderung menggeneralisasi semua orang muslim. Yah meskipun sebagian orang muslim akan berpendapat “ah saya tidak merasakan hal itu, itumah hanya ketakutan kamu aja kaya gitu” namun dibalik semua itu persepsi islam dibarat sudah menakutkan sedemikian rupanya.

 

Karena itulah kita mengenal orang-orang yang mengatasnamakan diri mereka dengan menyebut Islamophobia, anti-Islam dan sebagainya. Contoh kecilnya adalah tidak sedikit orang-orang/warga disana yang mendukung langkah-langkah yang dilakukan NYPD, terkait mata-mematai, untuk mengawasi setiap detailnya kegiatan yang dilakukan komunitas muslim disana.

 

Lalu pertanyaannya sekarang adalah apakah sejarah pertentangan ini merupakan sejarah kebencian yang akan selalu ada diantara kedua belah pihak? Karena kubu yang berkonfrontasi mempunyai keyakinannya tersendiri untuk menyebut diri mereka sebagai Anti, baik itu anti Amerika ataupun anti Islam. Sampai kapan hal ini berakhir? Apakah harus kita mengkaji kembali tesis dari Hutington, yang mengatakan bahwa konflik diatas adalah konflik yang akan selalu terjadi dizaman sekarang.

 

Panopticon: Hidup Ditengah Penjara

 

Berkaca pada kejadian di New York, barangkali terorisme ini sudah menjadi sesuatu hukum tak terlihat bagi komunitas muslim, dimanapun itu berada. Dengan intensitas yang tinggi dari media yang tak hentinya membuat suatu berita heboh tentang isu teroris telah melahirkan beberpa persepsi yang tak sesuai dari masyarakat.

 

Bukan tak mungkin mereka mengamini apa yang ada dimedia itu benar seluruhnya, meski tanpa menyentuh isi realita keseluruhannya. Dengan demikian bagi mereka mungkin Islam benar-benar penuh dengan kekerasan, konflik, fatwa-fatwa, larangan, atau diskriminatif.

 

Kalau sudah seperti ini barangkali terorisme, dan kecurigaan yang mendalam, ini sangat serasi bila disamakan dengan panopticon. Bagi mereka yang belum tahu, panopticon itu adalah sesuatu bangunan yang menyerupai mercusuar, tempatnya berada ditengah dari kurungan penjara yang melingkar. Pada intinya sistem ini diciptakan untuk memudahkan sipir penjara mengendalikan penjara pada satu tempat. Dan juga membuat trauma bagi para tahanan.

 

Tahanan dipenjara itu akan merasakan suatu yang berbeda dengan adanya panopticon itu. Ia merasa selalu diawasi, dia selalu diintai padahal kemungkinannya tidak, dan dia merasa bahwa dirinya tidak terlalu bebas untuk bertindak. Disatu sisi panopticon ini sangat berguna apabila ditempatkan pada proporsi yang tepat tapi akan beda halnya kalau sistem ini disematkan pada proporsi yang salah.

 

Dengan adanya makna generalisasi terorisme dan kecenderungan pertentangan melingkar antara Islam dan barat ditambah dengan media yang kurang jeli, maka tak menutup kemungkinan terdapat benih-benih kecurigaan yang akan membawa pandangan masyarakat global pada panopticon terorisme.

 

Segala macam bentuk kegiatan dan aktifitas sehari-hari komunitas muslim, khususnya yang ada di New York, menjadi seperti sebuah prilaku para tahanan yang berada dipenjara, logikanya seperti itu. Hidup dalam dunia panopticon memang hidup dalam dunia yang penuh kecurigaan.

 

Terorisme bersamaan dengan pandangan stereotif dan kecurigaan itu sendiri sudah menjadi sebuah mercusuar global yang ditegakan oleh dunia dalam media. Isu terorisme yang seharusnya tidak melebar pada tingkatan yang tak wajar tapi dalam dunia global, yang syarat dengan meme kultural yang akut, semuanya bisa menjadi kebenaran diatas kebenaran. Begitulah media yang disana tempat dimana hiperealitas berada.

 

Kesimpulan

 

Selebihnya saya, kita dan semua umat Islam berharap agar saudara-saudara kita yang ada disana diberikan suatu kesabaran dan jalan hikmah dengan adanya kejadian tersebut. Dengan sikap berani yang dilakukan oleh komunitas muslim disana yang menentang perlakuan tak seimbang diharapkan menjadi sebuah contoh bahwa permasalahan tidak seharusnya lantas diselesaikan dengan sebuah bentuk yang merugikan.

 

Karena bisa jadi kita adalah korban dari para pembuat panopticon yang tak bertanggung jawab dengan semena-mena menghadirkan sebuah citraan yang salah. Alhasil kita dengan barat yang mempunyai kisah sejarah panjang pertentangan penuh makna apabila satu sama lain mudah terprovokasi maka yang ada hanya gambaran-gambaran masa lalu yang akan terulang.

 

Media yang tak berimbang dalam menghadirkan suatu kebenaran terkadang membuat kita terpukul. Disetiap channel kita disajikan berita tentang penangkapan seorang teroris dengan buku-buku tentang jihad ataupun sebagainya, dengan begitu wacana terus berlanjut kepada ia pernah mengikut ini itulah. Selain itu sorotan terhadap perang saudara di Suriah, demo besar2an di mesir, kerusuhan Somalia dan terakhir berita dari Tuareg, MNLa dan Aqim telah menjadi suatu yang selalu dijumpai. Apakah effek dari semua itu?

 

Bagaimana terorisme bisa menjadi sebuah hal yang disematkan pada semua orang muslim sedikitnya merupakan hasil peran besar yang diberikannya. Padahal semua itu barangkali hanya seperti sebuah fatamorgana yang keberadaan nyatanya tak sedemikian yang terlihat. Yah semua itu adalah sesuatu yang melampaui realitas.


Sumber bacaan:


  • [ref]Lihat pada laman http://muslimadvocates.nationbuilder.com/nypdlawsuit untuk mengunduh data.[/ref]
  • [ref]http://articles.washingtonpost.com/2012-06-06/national/35461199_1_farhaj-hassan-muslim-advocates-farhana-khera[/ref]
  • [ref] Sardar, Ziauddin. and Malik Abbas. 1994. Islam For Begginners. (terj. Mizan) Bandung: Mizan.[/ref]
  • [ref]Esposito, John L. 1992. Ancaman Islam Mitos Atau Realitas? (terj. Mizan). Bandung: Mizan.[/ref]
  • [ref]Esposito, Op.Cit., hal 35.[/ref] Kurangnya pemahaman tentang Islam dikalangan kaum non-Muslim, dan sebagian dari kegagalan kaum Muslim menjelaskan diri mereka.[ref]Ahmed, Op.Cit., hal 107.[/ref]
  • [ref] Ahmed, Akbar S. 1992. Posmodernisme: Bahaya dan Harapan Bagi Islam (terj. Mizan). Bandung: Mizan.[/ref]
  • [ref]Esposito, Op.Cit., hal 35.[/ref] Bahkan Akbar S. Ahmed mengatakan bahwa citra negatif Islam bukan merupakan kilasan imajinasi[ref]Ahmed, Op.Cit., hal 107[/ref]
  • [ref]Pada awalnya Bentham yang pertama kali memakai istilah ini sebelum Foucault memperkenalkan lebih lanjut.[/ref]