ARCHIVE

Default Thumbnail

Ilustrasi

Sebuah Pengantar


Penemuan batu besar di daerah Tarogong – Garut yang diberitakan menyerupai sesosok bayi mungil pada waktu yang lalu telah membuat gempar orang-orang sekitar dan diluarnya. Dengan kehebohan beritanya yang cepat tersebar melalui beberapa media maya menjadikan tempat itu menjadi tempat yang luar biasa. Beberapa pelancong dari luar daerah pun datang berbondong-bondong mengunjungi hanya untuk mengabadikan batu tersebut, mengambil gambar dan guna mengatahui batu tersebut secara lebih dekat.

Bila dilihat – meski dalam foto yang telah tersebar luas – memanglah benar bahwa sepintas batu itu menyerupai wajah manusia, seperti bayi. Kepala yang besar, mata yang terlihat sedang merenung, dan sebuah tangan yang persis berada dibawah dagunya telah menimbulkan sesuatu imaji terdalam bagi umat manusia. Tak khayal maka berbagai alasan imaji mistis mulai tercipta dan bertebaran mewarnai kisah batu malang tersebut.

Matanya yang tadi terlihat sipit karena merenung dipercayai oleh karena adanya sesuatu sebab yang menyebabkan akibat. Ada yang berpendapat bahwa mungkin ia menangis karena kekecewaan yang mendalam karena lahan yang ada disekitarnya mulai terlihat gersang. Ada juga yang bilang bahwa ia menangis karena merasa dirinya telah terasing sebab terlempar dari serpihan merapi gunung setempat.

Orang pertama yang melihatnya adalah sosok penting bagaimana semua kejadian ini bermula. Karena dari padanya telah tercipta suatu fenomena yang melahirkan kerinduan dari manusia - manusia akan hal-hal yang bersifat misteri. Sebuah kerinduan yang dirasa tak bertepi apabila dilihat secara jelas karena ia berada pada sisi imajinasi manusia yang penuh kontradiksi. Yang awal mula ialah hal biasa dari kehidupan menjadi sesuatu yang terlihat kaya akan perasaan namun bersifat simbolik.

Bila sudah terjadi begitu maka jangan heran kita banyak menemukan kisah-kisah lain yang serupa dengan batu menangis ini. Semisal batu ajaib ponari yang bisa menyembuhkan beberapa penyakit hanya dengan disentuh sahaja. Dari responnya pun sedikit sama dibandingkan dengan yang akhir-akhir ini terjadi yaitu antusiasme yang elok dari beberapa manusia-manusia kita terhadap hal-hal yang dirasa tak biasa.

Ada yang harus sedikit dipaparkan mengenai kenapa fenomena diatas itu berjalan. Karena kita sedikit percaya bahwa tiadalah ada sesuatu yang kebetulan, dan kalaupun itu mungkin itu hanyalah peralihan dari ketidakjelasan kita melihat sifat kebetulan tadi. Sekiranya ada dua hal yang membuat fenomena ini menarik untuk dituliskan dalam sebuah catatan ringan.

Marilah kita melihat fenomena ini dengan menggunakan kacamata Eliade. Oleh karena pembahasan-pembahasannya dirasa mungkin bisa menjadi sebuah jembatan penghubung antara rasa yang kagum sekaligus penasaran akan fenomena diatas. Khususnya ketika Eliade berbicara tentang yang sakral, profan dan kerinduan mendalam manusia.

Yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Batu yang kita kenal hanyalah sesuatu unsur alam yang biasa - dengan keadaannya yang keras menghujam tanah - telah mendapatkan sesuatu yang mempunyai kelebihan dalam pemaknaannya. Yang biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari telah berubah menjadi suatu hal yang bersifat luar biasa karena ada sesuatu yang disebut Eliade sebagai proses “Dialektika Yang Sakral.” Yaitu adanya transformasi keadaan hierofani - penampakan supranatural - kedalam sesuatu unsur-unsur profan. Dari saat hierofani – pemaknaan batu menjadi sebuah hal yang mistis – objek yang profan ini telah ditransformasikan; ia tidak lagi sekedar batu sahaja tetapi suatu objek yang sakral, dapat dikatakan sebuah paket yang mengesankan, yang didalamnya memuat yang sakral. [ 286: 7 Teori Agama ] 

Orang yang pertama kali, bersama yang lainnya, yang merasa atau melihat batu itu menangis adalah hal yang penting untuk diketahui. Ini sangat dibutuhkan untuk sedikit membuka tabir fenomena batu menangis. Apakah yang mereka lihat itu adalah nyata?  Ataukah mereka mempunyai sebuah rasa ingin untuk kembali kepada sesuatu yang berada diluar jangkauannya karena sifat besar alam yang Eliade katakan “Dalam perjumpaan dengan yang sakral, kata Eliade, orang-orang merasa bersentuhan dengan sesuatu yang bersifat duluar duniawi. [ 277: 7 Teori Agama ]

Hemat saya Negara kita adalah Negara yang memiliki akulturasi budaya yang mengagumkan dimulai dari kebudayaan lokal dan ajarannya, hindu, budha, Islam dan budaya global. Semua peralihan dari rangkaian sejarah tersebut telah menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan kekayaan budaya yang tidak bisa dibayar dengan uang semata. Semua peralihan tersebut membawa ceritanya masing-masing. Ada yang sifatnya memperkaya satu sama lain dan ada juga yang sebaliknya, menghilangkan satu sama lainnya. Satu yang harus kita pikirkan adalah “Semuanya berjalan memutar sesuai dengan perkembangan zaman, materi, ruang dan waktu yang berbeda”

Dengan proses yang begitu kita juga harus lebih membuka diri bahwa meski dizaman yang serba realis dan tekhnologi ini masih ditemukan ada sebagian orang yang menjungjung tinggi wujud-wujud besar dibalik kekuatan supranatural cipta kehidupan. Orang-orang tersebut mendapat sebutan “archaic people” adalah orang-orang yang telah hidup pada masa prasejarah atau orang-orang pada masa sekarang yang hidup didalam masyarakat suku dan kebudayaan rakyat pedalaman, tempat-tempat dimana kerja didalam dunia alam – berburu, memancing, dan bertani – adalah rutinitas sehari-hari. [ 275: 7 Teori Agama]

Konsep Eliade ini mengacu kepada tingkatan pertama – dari rangkaian saya – diatas. Semua rutinitas yang disebutkan Eliade diatas sangatlah mirip dengan kondisi masyarakat Indonesia dahulu sampai sekarang. Walau dibanyak tempat telah terjadi suatu proses yang berkala – akan memanjang terus menerus – yaitu peasant in the cities or cities in the peasant -perkampungan dalam kota atau perkotaan didalam kampung.

Beragam suku dengan kekayaan kebudayaan/kearifan lokal masih banyak kita temukan di Negara maritim ini. Mereka biasanya tinggal dan hidup dipedalaman-pedalaman untuk berusaha menjaga kelestarian ajarannya yang luar biasa – meliputi hal sakral dan profan. Seiring dengan waktu mungkin terjadi suatu penyebaran-penyebaran keturunan mereka yang berpindah dan menetap dikehidupan yang jauh dari pedalaman.
Karena sejarah berkata demikian maka cara berpikir dan bagaimana manusia berinteraksi dengan alam-pun masih ada yang memegang kuat terkait ajaran-ajaran terdahulu. Mungkin inilah sebab mengapa ada sebagian orang dari kita masih mempercayai hal-hal yang biasa tapi menjadi luar biasa yang bisa memiliki kekuatan sakral.
Kekayaan simbolik ini telah memperkaya mereka yang bisa memaknai batu tersebut menjadi sesuatu batu yang luar biasa. Yang dari hanya unsur alam sebagai profan ditransformasikan menjadi sesuatu yang lebih dari pada profan. Mereka mungkin bertemu suatu keadaan yang disebutkan Eliade sebagai keadaaan yang tepat – untuk memutuskan , ketika segala yang profan dapat diubah menjadi sesuatu yang lebih darinya – cap atau tanda dari yang bukan profan, tetapi yang sakral. [286: 7 Teori Agama]

Nostalgia Manusia Akan Hal Yang Diluar Jangkauanya    

Awal mula mendengar berita heboh ini sedikit membuat saya melakukan perenungan yang sederhana saja. Menurut saya batu itu menjadi mirip dengan wajah manusia karena memang ia sama menjalani hidup dengan sebuah pertentangan. Ia seperti itu mungkin karena alam membuatnya seperti itu; bisa jadi karena hujan, dingin, angin atau yang lainnya. 

Semua itu memang selaras dengan apa yang telah Eliade katakan dimuka sebagai proses dialektika sakral namun dialektika yang saya maksud ini memiliki perbedaan dengan dialektika sakral Eliade diatas yakni dialektika materialis. Begitulah sama ketika Disbudpar menyelidiki batu tersebut dan memberikan suatu hasil temuanya yang sama dengan yang saya yakini.

Meski penemuan yang dilakukan disbudpar sudah dirasa cukup untuk menerangkan bagaimana semua itu terjadi tapi untuk memecahkan bagaimana sebagian orang, yang percaya bahwa terdapat segala sesuatu yang kuat terdapat pada alam, mempu memaknai dirinya dengan proses simbolik terasa tidak semudah menemukan data, analisis lalu kesimpulan. Karena dalam hal-hal semacam itu, akal manusia tidak dalam tugas transaksi. Simbol dan mitos memberi daya tarik pada imajinasi, yang sering hidup diatas ide kontradiksi. [287: 7 Teori Agama]
Terdapat suatu proses abadi yang selamanya akan ada hidup seiring manusia dan kehidupan berjalan. Kerinduan yang terlihat dari bagaimana ia melihat batu itu mempunyai suatu hal yang aneh dan bagaimana orang-orang tertarik dengan berbagai alasan yang mereka beberkan. Satu yang pasti bahwa “adalah suatu hal yang tetap bagi manusia untuk merindu nostalgia alam ilahi diluar duniawinya” semua orang begitu tetapi dengan berbagai caranya masing-masing.
Kurang lebih saya sedikit telah memaparkan mengenai bagaimanakah sastra dipandang bagi kalangan yang bermadzhab Marxis, atau marx itu sendiri. Khususnya pendapat Lenin – dalam Party Organization and Party Literature - yang telah dijelaskan dipostingan terdahulu. Apa yang digagas Lenin tidak akan terlahir kalau tidak ada akibat pengembangan dari keberpijakan awalnya itu bermula, yakni yang diusung langsung oleh Marx. Namun marx juga tidaklah sendiri mengenai bagaimana ia memandang sastra itu seharusnya. Bersama doi terdekatnya yakni Engel, Marx bahu membahu mengemukakan pendapatnya tentang sastra.

Meskipun begitu upaya yang telah dikembangkan Lenin pada waktu itu tidak sejauh apa yang telah dikemukakan oleh Marx dan Engel. Pada dasarnya sastra apabila dilihat dari kalangan marxis diupayakan untuk lebih memihak kepada kaum pejuang, buruh yang teralienasi kaum borjuis. Sejalan dengan pemikiran yang digagas oleh Marx dan Engel – terlebih dalam karya Manifesto communis – yang berkaitan dengan keadaan sosial, filsafat dan sastra sebagai landasan terbentuknya keadaan.

Sejauh yang saya kenal dari beberapa pemikiran yang bermadzhab Marxisme maka saya sedikit memahami bahwasanya kebanyakan dari mereka berusaha untuk membuka tabir yang tengah terjadi didalam kehidupan sosial didalam ruang dan waktu. Kapitalisme sejak dahulu sampai sekarang menjadi basis utama bagaimana kemunculan-kemunculan pemikir bermadzhab marxis terus lahir. Bisa kita lihat pada pemikiran Antonio Gramsci, George Lukacs, Herbert Marcuse, Althuserr, Theodor Adorno, Zizek sampai kepada para pemikir india dengan subalternnya.

Sebenarnya sederhana saja bagi kalangan marxis untuk berbicara bagaimanakah seharusnya sastra itu? Sastra itu adalah bagian dari perjuangan. Sastra seharusnya menjadi mediasi penting yang bisa dipakai oleh kaum buruh untuk melawan hegemoni kaum borjuis. Sastra itu seharusnya menjadi alat perlawanan yang bisa membangkitkan suatu revolusi. Sastra itu adalah berguna untuk kehidupan manusia.

Mengingat bahwa pertentangan kelas dalam kehidupan sosial itu terasa abadi maka hal itu pula adalah basis utama apa yang ingin di habisi oleh Marxisme sepanjang masa. Maka suatu karya sastra setidaknya menampilkan suatu keadaan diantara kedua tersebut. Dan benarlah pendapat (Robbins, 1999; Hall, 2001a) yang menyatakan bahwa pada marxisme, konfliknya harus konflik kelas, atau yang dapat dikategorikan sebagai kelas sosial, yang berembrio pada konflik abadi golongan proletar vs. borjuis.

Pertentangan macam tersebut hanya menyambut suatu rasa kekecewaan yang terus mendalam. Sastra yang hakikatnya lahir dari sebab reksa manusia seharusnya mampu menjadi suatu media sindir yang ampuh. Yang barangkali bisa juga membuat suatu tonggak penting perlawanan akibat alienasi kaum kapitalis. Oleh karena itu peran sastrawan itu seharusnya lebih memihak kepada para mereka pejuang yang memperjuangkan hak-haknya. Betul dong bro kalau Wiji Thukul dahulu pernah bilang Bangkit dan ayo lawan!!! Namun pada akhirnya ia diberangus juga, puisinya maksudnya.

Maka seorang sastrawan setidaknya harus tahu betul bagaimana kondisi yang terjadi didalam kehidupan sosial yang tengah terjadi didalam kehidupan masyarakat. Dan syukur-syukur bisa membawa sebuah revolusi sosial yang benar-benar de facto terjadi. Jangan hanya suatu kenikmatan pribadinya saja suatu karya itu diadigungkan. Sebuah novel tidak hanya mencerminkan 'realitas' tetapi lebih dari itu memberikan kepada kita "sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamik" yang mungkin melampaui pemahaman umum. Sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena idividual secara tertutup melainkan lebih merupakan sebuah 'proses yang hidup'. Sastra tidak mencerminkan realitas sebagai semacam fotografi, melainkan lebih sebagai suatu bentuk khusus yang mencerminkan realitas. Dengan demikian, sastra dapat mencerminkan realitas secara jujur dan objektif dan dapat juga mencerminkan kesan realitas subjektif (Selden, 1991:27)

Karena basis utama dari pertentangan yang selalu terjadi antara borjuis sama proletar adalah pertentangan akibat ketidak seimbangan keadaan politik dan ekonomi yang terjadi. Sangatlah untuk dianjurkan dalam suatu karya sastra itu tersirat dan tersurat “Art is like a mirror” (Abrams:1976:31) Karya sastra merupakan imitasi dari universe atau semesta, yang dalam pengertian kritik sastra Marxis sering disebut dengan istilah refleksi masyarakat (Abrams, 1981:178--179; Eagleton, 2002:61).

Tanggung Jawab Seorang Sastrawan Terhadap Sastra

Pernah suatu ketika kita sangat takjub dengan kutipan-kutipan dari sebuah karya sastra seseorang yang dahulu dan masih relevan untuk dirasa walau kehidupan sang pencipta jauh dari sekarang. Dan seharusnya begitulah peran seorang sastrawan. Ia harus mampu menjadi penerawang masa depan dan pengintip masa lalu.

Seorang sastrawan itu bertindak seakan tahu bagaimana lakon yang diceritakan dalam karyanya akan senantiasa serasi tampil abadi meskipun dirinya telah lalu menjadi masa lalu. Kepekaan melihat masa depan ini dimiliki oleh sastrawan karena kemampuannya menyingkap tirai kebenaran yang tersamar oleh bermacam-macam keinginan hidup manusia. Hanya penyampaiannya sedikit berahasia. (Masa Depan Sastra:UlummulQuran)

Sangatlah dianjurkan dalam perspektif marxis menempatkan seorang sastrawan itu sebagai seseorang yang mempunyai tanggung jawab penuh terhadap karyanya. Apa yang seharusnya dijadikan sebuah acuan karyanya adalah situasi kondisi yang benar-benar terjadi pada masyarakat. Tak satupun harus mereka biarkan membisu – dalam karyanya – meskipun yang terjadi adalah tendensi penguasa dan pertentangannya dengan kaum tertindas. Bila ada keanehan, maka lawan! Senada dengan ini pemikir Marxism, George Lukacs menganjurkan poin penting terhadap karya sastra.

·         Tugas kesenian – didalamnya sastra – adalah menampilkan kenyataan sebagai totalitas.
·         Karya sastra menyajikan yang khas dan yang universal
·     Karya sastra memiliki kekuatan membongkar kesadaran palsu dalam pola pikir sehari-hari   masyarakat (Kpop bisa tuh dianlisis pake ini) hauahahahah
·       Seseoran sastrawan mempunyai tanggung jawab dan karenanya harus terlibat dalam masalah yang sedang dihadapi masyarakatnya; seorang sastrawan, kata lukacs, hendaknya adalah seorang realis, dan seorang realis hendaknya adalah sosialis, dan sebagai seorang sosialis, sastrawan harus tahu dan terlibat dalam masalahmasalah sosial masyarakatnya.
·    Dalam setiap karya sastra, kepedulian sosial menjadi ukuran standar keindahan dan satu-satunya ukuran kebenaran  (Syaifullah)

Dengan konteks yang ditawarkan seperti itu maka manifesatasi basis kekuatan cita-cita Marx dan Engel – dengan ingin menumbangkan pertentangan kelas - akan tetap selalu berada dijalannya. Karena perjuangan – akibat konflik sosial – akan selalu menjadi sebuah pijakan seseorang untuk bertindak. Tak mengapa bila perjuangan ini lebih kepada hanya sebuah wacana yang dibukukan atau menurut para mahasiswa yang suka demo itu “Onani orasi” namun kita juga perlu menyadari bahwa tak sedikit /revolusi perjuangan kaum proletar bermula dari proses simbolik. Dan menurut Zizek itu semisal orang besar dibalik layar Bro!

Sastrawan adalah seorang revolusioner yang tahu betul bagaimana sejarah kehidupan manusia selalu dibumbui oleh tabrakan-tabrakan  dan perpecahan internal. (Trosky). Ia akan menyajikan sebuah tema  dan revolusi dari kaum proletar untuk memenuhi kehidupannya yang baru. Inilah penjelasan yang sederhana sekali dari sastra bagian dari Superstruktur. Bisa dibilang basis infrastruktur nya adalah setelah rakyat – dalam situasi ekonomi politik - tahu betul mereka sedang teralienasi kaum borjuis maka timbulah suatu revolusi.

Semisal Contoh Dalam Karya

Bisa kita lihat kepada suatu karya monumental asal Inggris yang mungkin dahulu kala – ketika kita masih kecil – pernah mengenal sesosok pemuda yang memakai pakaian serba hijau, topi dengan bulu yang berada diatasnya dan tak lupa membawa panah. Ia Dia adalah Robin Hood, the unforgettable legend of Englad, Britain!

Kisah didalam Robin Hood bisa diidentifikasi dengan menggunakan teori Marxist oleh karena apa yang disematkan Karl Marx sedikit mempunyai kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh Robin Hood. From each according to his ability, to each according to his need or needs (Karl Marx). Ia – Robin Hood – juga mencuri harta/barang-barang yang selalu dibawa oleh pemerintah ketika begerombol dihutan-hutan dan memberikan hasilnya tersebut kepada orang yang membutuhkannya.

Lalu apa yang membuat semua itu terjadi? Kita bertanya-tanya “Pasti terdapat beberapa alasan penting kenapa Robin Hood berbuat demikian?” Adakah suatu implikasi/dampak sosial dari adanya karya tersebut? Adalah tugas dari seorang kita menerawang jauh ke masa lalu, kembali kepada sejarah yang telah lewat. Mencoba meretas kembali beberapa untaian perjalanan hidup manusia didalam ruang dan waktu. Mungkin nanti ( Lagu Peterpan hehe) kita akan menemukan suatu rantai penting yang bisa dihubungkan dengan pertanyaan yang kita kita cari diatas.

Yang paling banter dan paling semua orang tahu dari cerita Robin Hood ini adalah kondisi Ekonomi dan politik pada waktu itu yang tidak lebih memihak kepada rakyat jelata – sebagai rakyatnya – dibandingkan kepada kaum yang berada. Pertentangan – antara kelas sosial - yang demikian tersebut adalah suatu hal klasik namun abadi dalam sebuah kehidupan kehendak bersatu. Oleh karena itu ketika berbicara mengenai Marxist, sesuatu yang tak boleh dielakan adalah pertentangan kelas sosial!! Karena inilah yang selalu menjadi persoalan penting dari pandangan orang-orang yang mempunyai dasar pemikiran Marxist.

Sedangkan untuk penggunaan teori yang bisa diaplikasikan kepada analisis seperti ini adalah banyak meskipun satu sama lain mempunyai tingkat perbedaannya tersendiri. Tapi perbedaannya tersebut tak terlalu jauh-jauh amat melainkan sedikit sahaja. Ada Lenin, Trotsky, Marcuse, Lukacs, Althusser, Gramsci, Benjamin, Adorno, dan lainnya yang tidak disebutkan disini.

Akhir Kata Yang Sudah Tak Merekat

Pada dasarnya apa yang diyakini dan ingin dihilangkan Marx itu adalah suatu kondisi yang selalu ada didalam sejarah kehidupan manusia. (Saya jadi ingat juga ketika pertama kali Baginda Nabi Muhammad SAW – salamku atasmu – menyeru bahwa semua manusia dalam kehidupan itu sama). Mungkin karena sifat manusia yang serakahlah yang membuat suatu representasi dari pertentangan kelas itu.

Pertentangan kelas sosial yang meskipun sudah dikampanyekan jauh hari itu dirasa masih bisa kita temukan dalam kehidupan sekarang ini. Kalau sudah hilang mungkin tak adalah rakyat yang miskin menjadi semakin miskin sementara yang kaya semakin jaya, apalagi sekarang lagi maraknya para koruptor yang terjerat. Mungkinkah kita membutuhkan suatu pahlawan seperti Robin Hood?

Situasi yang seperti ini adalah salah satu – dari banyak - indikator penting yang bisa menjadi inspirasi bagi sastrawan yang realis dan juga sosialis untuk membuat suatu karya yang memuat gubahan penting untuk suatu perubahan. Bila ada kejanggalan, kita tak boleh diam, bila berkenan, ayo maju, dan juga lawan!! (Lawan bareng-bareng) :D  
#SaveMaryam has been trending topic in a world since the Mercy Mission World (MMW) published some sensational video via YouTube on July 20, 2012. The video told us that every moslem people in Indonesia will be converted to Christianity on 2035, Is it real? I was really shocked and got angry watching the official video uploaded by #SaveMaryam. How could they know the situation of Moslem people better than me?

Actually, I've been ignoring this issue for a month. "Oh God, I am so sorry for the attitude." I feels like - as a Moslem - i do not care for this big problem under #Save!! So what is the problem. The problem is simple. It's coming from many articles from a credible source like Eramuslim, Fimadani and any others who wrote the theme "What is going on with #SaveMaryam? Was there something wrong with #SaveMaryam? This is absolutely could be a first step who got me curious of #SaveMaryam.

I decided to make a journey for getting a more dates by blog-walking When suddenly i found the unique website named, #SaveUdin. It's just like misappropriation word Save by adding the Sundanese familiar word, Udin. #SaveUdin was initiated by Indonesian Scholar - Maulana M. Syuhada -, a PhD student, who live in Manchester - UK.

We want a better Nation Under This Institute!!


Let's We Save KPK Together..!!

Selepas terbangun dihari yang masih dini dan setiap sesudah melaksanakan sembahyang yang terus berkala setiap harinya. Ishadat tak pernah terlepas diri dari tanggung jawabnya sebagai seorang jurnalis televisi yang telah berpengalaman. Maka tak usah heranlah jikalau meja kerjanya tak pernah terlihat rapih. Beberapa lembar sobekan kertas yang berserakan hingga komputer yang menyala dan menyisakan beberapa lagu di daftar lagu winampnya adalah sisa-sisa kerja Ishadat yang belum kelar. Hal itu takan pernah rampung kalau ia tak merenung dan berfikir.

Tak jauh dari tempat ia berkerja. 2 orang teman baik yang ia anggap sebagai team kerja di dunia jurnalis masih tertidur di 2 tempat berbeda namun dekat jaraknya. Mereka berdua tidur dibawah dan diatas disofa satu-satunya yang ada dikantor. Dikantor yang ia tempati tak ada kasur dan selimut seperti yang dengan mudah bisa dijumpai dirumah maka menggunakan sarung merangkap selimut seadanya dan tas sebagai bantal pun adalah suatu keadaan yang biasa saja, tak usah dieluhkan lebih lanjut!!

Ishadat tersenyum ketika menatap keduanya. Sambil mencicipi aroma teh manis hangat yang ada pada tanganya, ia berjalan disamping mereka dan kembali untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum ia selesaikan tadi malam.

Ishadat telah menjadi orang kepercayaan manager salah satu perusahan televisi terbesar di Indonesia. Maka dari itu kepercayaan yang diberikan sang manager adalah suatu modal besar baginya untuk terus bertahan dalam dunia yang ia tekuni yaitu, seorang jurnalis. Tanggung jawab yang dibumbui kerja yang keras adalah bagaimana selama ini ia menjawab kepercayaan itu.

Untuk menjadi seperti Ishadat rasanya diperlukan sesuatu kerja nyata sebagai wujud dari bagaimana kecintaan dan tanggung jawab terpadu seolah satu membuat kekuatan. Walaupun tugas yang diembankan itu adalah tak sebanding dengan kehidupan yang sekali saja. Tetapi ia akan tetap bertanggung jawab pada dirinya dan pada orang-orang. Ia menyadari dirinya sendiri telah ditempatkan seperti ini maka dari itu menjalaninya adalah suatu keharusan. “Menjadi pemimpin bagi apa yang diberikan adalah suatu yang akan dipertanyakan kelak. Tanggung jawab sepenuhnya adalah suatu pembelaan yang kelak aku ungkapkan!” begitu kata nya.

Sebelum ia benar-benar fokus untuk kembali berkeja. Terlebih dahulu ia melakukan ritual yang selalu dilakukan Ishadat dipagi hari. Yaitu mengunjungi dan mengupdate terus rumah baca mayanya sebagai seorang blogger sejati. Ia selain sebagai jurnalis yang tulisan-tulisannya sering dimuat di berbagai media, juga adalah seorang blogger senior. Ia telah mengelola blog pribadi selama 10 tahun. Baginya dunia blogging inilah tempat awal semuanya bermula. Banyak informasi dari luar dan dalam negeri yang ia dapat dari dunia blogging dan membentuk dirinya yang seperti sekarang. Maka tak heran kalau dia berkata demikian; “Blogging adalah tempat semua ini bermula sebelum masuk ke dunia kerja!!”

Berbagai tulisan yang ia muat mendapat respon yang baik dari para pengunjung. Namun dari semua itu tulisan-tulisan yang paling banyak di cari oleh pengunjung adalah tulisan yang memuat tema-tema sekitar peperangan yang terjadi di timur tengah. Perlu diketahui bahwa ishadat bersama kedua teman nya pernah mendapat tugas khusus untuk menjadi jurnalis yang di tempatkan didaerah konflik yang seakan abadi itu. Oleh karena itulah blognya banyak diisi oleh pergolakan yang terjadi ditimur tengah.

Berbagai informasi konflik ditimur tengah; Palestina dan Israel sampai yang terakhir ketika jatuhnya rezim pemerintahan khaddafi pernah mereka beritakan dan tuliskan untuk beberapa media di Indonesia. Tak salah bila mereka pernah mendapat penghargaan sebagai jurnalis yang berdedikasi penuh untuk apa yang dikerjakannya.

Satu hari dihari minggu

Setelah merampungkan pekerjaannya dan sedikit berbagi pemikirannya di blog. Ia hendak ingin berpamitan kepada kedua orang temannya karena harus menemui keluarga tercinta dirumah. Ketika mendapati kedua temannya itu masih tertidur pulas ia hanya menyisipkan selembar memo yang diletakan di atas meja; “Saya pulang. Kita bertemu lagi setelah seharusnya.”

Langkah dari kaki pun semakin menjauhkan jarak dari aku pada teman yang sedang tertidur. Namun pada titik yang lain nya aku semakin mendapati diriku semakin dekat dengan keluarga tercinta. Dan itu adalah suatu keindahan yang bukanlah semata namun tak bisa dikata oleh prakata.

Di sapa hangat anak dan senyuman Istri sesampainya di rumah menjadi syurga tersendiri bagi hati dan keluarga kami. Meskipun pencapaian surga yang terindah masih berada setelah kelak tiada namun inilah bahwa Allah berkuasa atas kebahagian kami didunia. Dan kami bersyukur selalu kepadaNya.

Setelah melepas rindu yang berlabuh pada ujung yang bertepi kami bertiga merencanakan untuk mengisi akhir pekan dengan berjalan-jalan ketempat yang sejuk. Kami berencana untuk pergi ke puncak, dekat dengan kota Cianjur.

Tak biasanya hujan mengguyur lebat Jakarta. Aku harap ketika sesampainya disana hujan ini lekas mereda karena aku mempunyai kenangan lalu yang sahdu dengan hujan. Itu makanya aku sering mengidentifikasi hujan dengan kesedihan. Ketika aku berpamit untuk pergi ke gaza, langit seakan tahu bahwa hujan ini adalah suatu pengingat kelak bahwa perpisahan ini abadi untuk manusia. Selama ia lupa dan hujan mengingatkan maka ingatan abadi akan selalu menyapa seiring selama kehidupan manusia.

Setengah perjalanan telah kami lalui. Langka tengah tertidur dikursi belakang. Ia lucu seperti aku sewaktu masa kecil. Tak banyak perbedaan dari aku dan dia kecuali kepastian rasa sayang antara ayah dan anak yang senantiasa mengisi relung hati.

Lalu pandanganku beralih kepada istri yang tepat berada disamping. Melihat dirinya aku selalu bersyukur akan nikmatnya kebersamaan ini dilalui dengan bahagia. Aku tak menyangka ia yang dahulu hanyalah seorang teman saja sekarang menjadi pendamping ku sampai mati. Hal ini selalu aku alami persis lebih indah ketika aku mendapati diri terbangun melihat wajahnya tepat berada disampingku setiap harinya.

Tak lama kemudian ada panggilan telepon dari kedua teman ku; Mikal dan Abram. Kami pun memutuskan untuk menepi sejenak diwarung nasi. Sambil beristirahat dan mencicipi masakan favorit kami, masakan sunda. Bukan hanya aku adalah keturunan sunda asli tapi kebetulan juga kami belum sarapan dari tadi pagi.  

“Hallo, Ishad, sedang dimana sekarang?”.
"Aku lagi di puncak bersama keluarga”. 
“Apa kamu sudah mengetahui informasi dari kantor tentang suriah?” 
"Aku engga mengerti apa maksudnya? mengerutkan alis mata, "Aku belum mendapat info dari kantor!.” "Katanya manager ingin mengirim jurnalis lagi untuk meliput kejadian terkini di Suriah.
”Oooooh, itu toh. Nanti kamu sama Abram bisa ke rumah engga? Untuk membicarakan lebih lanjut bagaimana selanjutnya?” 
"Ok siap kalau begitu, ishad. Kita bertemu lagi setelah seharusnya! Hehe.” 
"Ah kamu ada-ada aja Kal." sambil tertawa,  "Ia sudah selamat berakhir pekan kawanku!.”

Belum jauh aku melangkah dari tempatku berpijak teleponku untuk kedua kalinya berdering kembali. Tapi sekarang yang memanggil adalah manager kantor dimana saya berkerja. 

Ketika telepon itu berdering. Aku tahu ada seseorang yang memanggil. Dan aku tahu ada orang yang mengharap sekaligus aku juga berharap. Aku tahu betul itu adalah suara panggilan alami. Bukanlah merupakan suara suruhan dari apa yang aku harapkan. Aku benar-benar tak percaya ketika apa yang diharapkan itu benar-benar aku dapatkan. Aku mendapati tugas untuk meliput konflik yang sekarang tengah terjadi di Suriah. Aku bahagia karena akan menjadi bagian dari berbagai kisah yang akan aku sampaikan.    

“Assalamualaikum Bapak Ishadat?” Tanya pak Hardika, “Bagaimana kabar bapak?” 
"Alaikumsalam, Pak Hardika.” Jawabku padanya, “Alhamdulillah semuanya baik-baik sahaja." "Bagaimana kabar bapak sendiri?” 
“Alhamdulillaaaah baik juga pak. Pak Ishadat sudah mendengar pengumuman di kantor?" Tanya pak Hardika.  
“Aduuh pak maaf sebelumnya karena tadi saya engga sempet ke kantor. Jadi kurang tahu informasi terbaru.” Sambil menggaruk kepala. 
“Ok tidak apa-apa Pak. Gini pak, kami sudah berkoordinasi dengan jajaran yang lainnya dan mempunyai kesepakatan untuk mengirim beberapa jurnalis berpengalaman ke daerah konflik yang sekarang tengah terjadi.” Ujar Pak Hardika, “Saya sendiri menginginkan bapak Ishad, Abram dan Mikal yang bertugas disana!” Pak Hardika melanjutkan, “Kalau bapak dan teman2 mau, nanti saya tunggu dirumah sekitar jam 20.00 pm, bagaimana?” 
“Ia pak, kalau begitu Isnya Allah saya akan kesana pak, guna mengkonfirmasi bisa tidaknya.” Sambil melihat istri dan anak yang sedang makan. 
“Ia Pak Ishadat, silahkan melanjutkan kembali aktifitasnya.” 
“Ia pak, terima kasih.”

Mendengar apa yang dipaparkan Pak hardika itu tak semulus mendengar manusia yang berkata dan dengan mudah didengarkan melalui telinga. Terasa berat rasanya hati ini ketika melihat senyuman kedua orang yang aku sayangi harus ditinggal kembali untuk beberapa waktu yang mungkin tak sebentar. Sambil menghampiri mereka aku berdoa berharap diberikan keputusan yang terbaik untuk masalah ini.

Semangkuk nasi dengan lauk pauknya telah disiapkan oleh sang istri tercinta. Tinggal mencicipi dan melanjutkan kembali perjalanan yang sempat tertunda beberapa menit yang lalu. 

Di taman yang hijau itu aku bercerita tentang cerita yang mirip dengan yang lalu

Ketika langka tengah bermain ditaman aku dan istriku duduk saja melihat tawa kebahagiaan yang ada pada langka. Saat seperti inilah aku rasa paling tepat untuk mengutarakan perasaan yang terpendam selama perjalanan tadi.

Istriku adalah seorang yang kuat. Ia tak lemah seperti banyak pria melihat seorang wanita. Aku sesekali beranggapan bahwa istriku lebih kuat dan tegar daripada diriku. Ia tak pernah mengeluh ketika aku dan teman-teman mendapat tugas di Gaza, di Libanon dan yang terakhir adalah di suriah. Karena ia selalu menata hatinya dengan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa. 

Maka setelah mengetahui rencana kedua kalinya menjadi jurnalis yang meliput langsung ke daerah konflik itu, ia tak begitu kaget. Meskipun ada sedikit tetesan air mata yang menetas pada tangannya yang putih. Aku selalu memastikan bahwa air mata itu adalah kekuatan yang selalu ada padaku disaat aku jauh dan tak dekat denganmu. Ia seperti sebuah rasa yang mengikat dikala aku tak terikat dekat dengan jarak. Ia hadir bak sebagai sebuah pemandu tak terlihat yang menuntunku untuk berjanji kembali dalam pelukan.

*bersambung...
Sudah hampir 2 jam, akku, Nazir dan beberapa panitia lainnya berada ditenda. Hujan yang mengguyur tadi seakan-akan tak memberikan tanda bahwa ia akan menampakan rona cerahnya hari ini. Sesekali suara petir dan air yang mengalir diatas daun membuat aku merasa takut karena suasana yang begitu sepi, jauh dari keramaian, cukup membuat hati ini merasa was-was kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tak lama setelah satu petir yang keras menggelegar setengah jam yang lalu itu, tiba-tiba langit menjadi nampak cerah. Meski hujannya masih terasa membasahi tanah. Aku dan panitia bergegas untuk melanjutkan acara yang tadi sempat terbengkalai karena hujan yang deras. Oleh karena itu kami dengan cepat harus mengumpulkan para peserta dilapangan yang telah disediakan oleh panitia sebelumnya. Terbilang ada hampir seratus orang yang ikut ospek ini. Aku bersama Nazir hanya mengawasi para mahasiswa saja dari belakang. Ketua acara ospek, Igin, dengan keras membacakan susunan acara yang akan dilanjutkan setelah maghrib nanti. Beberapa acara yang menjadi acara utama antara lain adalah Jurit Malam.