ARCHIVE

Default Thumbnail

Jejak hubungan antara Islam dan Irlandia tidak bisa terlepas dari sejarah besar negara Turki, yang waktu itu masih dikenal dengan Turki Utsmani, sebagai kerajaan Islam yang besar dan telah memberikan sebuah peradaban yang luar biasa bagi dunia pada umumnya dan Islam pada khususnya.


Dinatsi Utsmani, di satu sisi, adalah salah satu dinasti yang diberkahi oleh Allah dengan kekayaan intelektual, budaya dan ilmu yang sampai sekarang masih bisa kita rasakan kehadirannya. Di sisi lain, justru dinasti inilah yang menjadi dinasti terakhir dalam peradaban Islam. Para sejarawan memang sepakat bahwa pada masa Ottoman, banyak kemajuan dalam bidang arsitektur, seni dan lain-lain, tapi pada masa ini juga kebudayaan Islam mulai masuk pada masa-masa stagnan. 


Tentu sebagai sebuah dinasti besar, yang luas administratif kekuasaanya sampai ke Mesir kala itu, Ottoman memiliki diplomasi luas dengan berbagai negara, salah satunya dengan negara Eropa yang kala itu nun jauh disana, yakni Irlandia. 


Nah lalu apa hubungan antara Islam, yang diwakili Turki, dan Irlandia bisa terjadi?

 

Kelaparan Besar & Irlandia

 

Pada rentang tahun 1845-1852 sejarah dunia mencatat bahwa telah terjadi satu bencana besar yang mana bencana tersebut telah banyak merenggut 20 – 25% nyawa sebahagian penduduk.

 

Wabah kelaparan besar tersebut bermula dari Eropa yang pada akhirnya berdampak besar pada negara-negara yang berdekatan dengan Inggris, yakni Irelandia dan Skotlandia. Di Irlandia itu sendiri wabah kelaparan besar ini disebut dengan “Irish Potato Famine”.

 

Terjadinya wabah kelaparan besar di Irlandia diakibatkan oleh serangan hama-hama mematikan yang menyerang dan merusak penanaman kentang yang ada di Irelandia. Banyak dari warga Irlandia, pada waktu itu, hidup bersandarkan pada penghasilan kentang.

 

Alhasil wabah kelaparan tersebut telah membuat sebagian warga Irlandia meninggal dunia dan tidak sedikit juga dari mereka yang memilih untuk berimigrasi ke Amerika Serikat.

 

Ottoman, Islam dan Irlandia


Mengetahui bahwa di belahan dunia sedang terjadi wabah kelaparan besar, hal itu telah membuat Sultan Abdul Majid merasa terketuk hatinya. Dengan segera ia mempersiapkan hal-hal yang bisa menolong mereka.

 

Termasuk diantara tersebut adalah sejumlah besar uang yang berkisar antara 1,000 – 10,000 sterling dan beberapa makanan berupa sayuran dan buah-buahan segar lainnya.

 

Akan tetapi keinginan Sultan Abdul Majid ini tidak medapatkan restu atau izin dari Ratu Inggris pada waktu itu. Ratu Victoria malah menyarankan agar meyumbang sekitar 1,000 sterling karena dari pihak dia telah mengirim 2,000 sterling.

 

Lalu apa yang terjadi setelahnya?

 

Sebagai seorang Sultan, Khilafah, membantu orang-orang yang sedang tertimpa musibah adalah hal yang wajib. Tidak perlu menimbang seberapa besar biaya yang akan dikeluarkan karena hal tersebut tidak sebanding dengan kenikmatan yang diberikan Allah pada peradaban Ottoman.


Sultan Abdul Majid pun menyutujui apa yang telah disarankan oleh Ratu Victoria. Akan tetapi ditengah persutujuannya tersebut Sultan Abdul Majid melakukan hal yang luar biasa, yakni dengan mengirimkan beberapa perahu besar yang berisikan makanan, sayuran dan buah-buahan segar.


Pemberhentian perahu-perahu dari Ottoman yang menganggkut sejumlah besar makanan itu adalah pelabuhan Drogheda.

 

Perlu dicatat bahwa pelayaran ini telah diketahui oleh pihak Inggris, namun dengan kepandaian dan pengalaman yang dimiliki para pelaut Ottoman, maka ketiga perahu yang berisikan makanan itu berhasil menepi dan menuntaskan misi penyelematan yang digagas oleh Sultan Abdul Majid.

 

Ilustrasi diatas menggambarkan betapa bahagiannya warga Irlandia, khususnya yang berada di Drogheda kala mendapati perahu Ottoman. Gagasan tersebut menandakan awal mula dari hubungan Islam dan Irlandia.

 

Untuk Direnungkan

 

Sejarah, apapun itu coretannya, adalah sebuah cerminan, ia adalah sebuah tempat untuk media perenungan bagi manusia yang berakal dan mempunyai jiwa besar dalam melangkah.


Apa yang telah kita saksikan diatas sejatinya adalah pembelajaran berharga bagi para pemimpin. Dimana tanggung jawab besar atas kebahagiaan masyarakat yang dipimpinnya harus menjadi harga mati dan harus diperjuangkan sebagaimana mestinya.

 

Kalau Sultan Abdul Majid saja berani mengeluarkan biaya bantuan yang besar untuk masyarakat Irlandia, yang notabennya jauh dari negaranya, bagaimana dengan pemimpin kita sekarang? Apakah rakyat Indonesia telah berada pada titik keadaan normal yang didamba? saya rasa tidak!!

 

Sentuhan dari kehalusan hati agama adalah cahaya bagi pemandang yang patut dikenang, ia adalah seorang pemimpin yang besar. Abdu Majid adalah diantaranya, ia dengan kebesaran hati, yang muncul dari lingkungan keagamaan yang kuat.

 

Tidaklah salah bila pada waktu itu seorang pendeta, asal Irlandia, pernah mengungkapkan isi hati yang paling dalam tentang Ottoman dan Abdul Majid, khususnya dalam sebuah paragraf:

 

‘Satu atau dua anekdot akan memberikan karakter dia yang sebenarnya. Selama tahun kelaparan di Irlandia, Sultan mendengar penderitaan yang dialami oleh negara malang itu, maka dia langsung mengutarakan kepada Duta Besar Inggris niatnya untuk membantu meringankan keadaan itu, dan menawarkan bantuan sejumlah besar uang. Dia maklum bahwa adalah hak dari Ratu untuk membatasi jumlah uang, sehingga uang yang lebih besar tidak bisa diterima dari Sultan.

 

Untuk sopan santun maka diapun setuju atas keinginan Ratu itu, dan dengan rasa penuh simpati mengirimkan bantuan yang terbesar yang dibolehkan. Tercatat dalam sejarah mengenai perasaan pribadinya untuk memberikan jawaban atas ancaman tuntutan dari Austria dan Rusia bagi dilakukannya ekstradisi pengungsi Polandia dan Hongaria. “Saya bukan tidak peduli,” jawabnya. “atas kekuatan imperium itu, bukan juga atas maksud tersembunyi dari isyarat yang mereka tunjukkan tunjukkan , tapi saya dipaksa oleh agama saya untuk memperhatikan aturan aturan sopan santun, dan saya percaya atas perasaan dan niat baik Eropa tidak akan mengizinkan pemerintah saya untuk terlibat pada perang ini, karena saya memutuskan dan percaya pada mereka.”

 

Ini memang adalah semangat sejati dari Kristen, tapi ada yang lebih dari itu atas diri Muhammad Sultan dari Turki, lebih daripada semua pangeran Kristen di Eropa Timur. ‘ (Sultan Turki, Abdul Medjid Khan: A Brief Memoir of His Life and Relign, with Notices of The Country, its Navy, & present Prospects” by the Rev. Henry Christmas, M.A., 1853)

 

Jejak-Jejak Hubungan Islam dan Irlandia

 

Pada hal ini kita tidaklah diajak untuk mencari jejak-jejak rute pelayaran para pelaut Ottoman selama melakukan ekspedisinya. Akan tetapi kita diajak untuk melihat suatu hubungan timbal balik dari satu jiwa yang tertolong pada jiwa yang menolong.


Kita pun sadar bahwa meskipun banyak sejarah mencatat pertentangan hebat antara Islam dan Kristen, hal tersebut tidaklah berlaku ketika seorang manusia merasa iba pada bencana yang melanda sebahagian manusia lainnya. Inilah wujud humanitas/kemanusiaan yang tidak bisa dilupakan oleh orang Irlandia sampai sekarang.

 

Sementara itu, apa yang telah dilakukan Sultan Abdul Majid yang tidak mengharapkan akan balas budi namun pada akhirnya kebaikan beliau itulah yang mendapat sambutan khusus bagi warga Irlandia. Khususnya di pelabuhan yang telah disinggahi oleh beberapa perahu, Drogheda.

 

Drogheda United


Di Drogheda jejak-jejak antara hubungan Islam dan Irlandia bisa kita temukan dengan mudah, yaitu dengan terdapatnya simbol bulan sabit dan bintang pada bendera yang dipakai klub sepak bola dan bahkan kesatuan tentara Irlandia.

 

Perlu dicatat bahwa simbol bulan sabit dan bintang erat kaitannya dengan Islam, khususnya ketika simbol tersebut digunakan lambang oleh Ottoman dan Turki pada saat ini.

 

Dengan begitu maka sudahlah sangat jelas hubungan antara islam dan irlandia yang pernah terjadi dan masih dikenang sampai sekarang. Sesungguhnya hanya Allah lah pemberi yang paling tak mengenal rasa pamrih.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Belum lama ini dunia sosial media lagi banyak dihebohkan dengan kasus yang berkaitan dengan agama Islam. Mulai kasus yang menimpa para santri di Bandung yang di lakukan oleh Herry Wirawan, selain itu ada dugaan pengurus MUI yang mempunyai paham teroris atau juga ada beberapa anggota MUI yang dipantau KPK, sampai yang terakhir, lagi ramai diperbincangkan adalah, tentang kritikan Anwar Abbas, yang mewakili MUI, kepada Jokowi pada pembukaan Kongres Ekonomi Umat (KEU) beberapa hari yang lalu. 


Kasus yang terakhir ini sangat menarik, karena bisa dikatakan kritikan Anwar Abbas ini, yang ditujukan pada orang no. 1 di Indonesia ini, seolah-olah puncak dari kekesalan orang-orang, lebih kepada buzzer, di sosial media. Bahkan bukan hanya MUI saja yang di senggol, Anwar Abbas pun menjadi korban hinaan dan bully-an mereka yang, menurut saya, tidak dewasa dalam menanggapi kasus ini. Hal tersebut berujung pada munculnya kembali tagar #bubarkanmui di berbagai platform, khususnya di Twitter. 


Padahal, kalau boleh jujur, sebenarnya apa yang diperlihatkan oleh Anwar Abbas dan Jokowi pada acara KEU itu merupakan sebuah proses demokrasi yang baik, dimana kritikan atau masukan-masukan pada pemerintah harus selalu ada. Baik Anwar Abbas dan Jokowi, mereka sangat tegas dalam menyampaikan pendapat-pendapatnya tanpa disertai dengan rasa marah atau kesal. Paling utama adalah mereka pada akhir acara tersebut saling sapa seperti biasa.


Ternyata, momen hangat yang menampilkan sosok Jokowi dan Anwar Abbas di KEU tadi dirasakan juga oleh beberapa politisi, diantaranya Faizal Assegaf dan Gus Umar. Keduanya berpendapat bahwa hal diatas sangat lazim dan tak terhindarkan.  

Seakan Jarum Ditumpukan Jerami  

Sosok Anwar Abbas bukan hanya sekali ini saja melontarkan kritikan atau masukan pada pemerintah. Sebagai seorang pengurus MUI, integritas Anwar Abbas sangat tinggi, apalagi kalau berbicara mengenai kemaslahatan Ummat. Ia berusaha mengingatkan kembali makna Surat Al Imran ayat 104 yang harus direalisasikan secara sempurna, jangan terputus hanya sampai amar ma'ruf saja. Hal ini juga yang melatarbelakangi Anwar Abbas berani mengkritisi Jokowi pada pembukaan KEU beberapa hari lalu.


Bagi penulis, sosok Anwar Abbas seolah Buya Hamka pada zaman presiden Jokowi, ia sangat kritis kalau berkaitan dengan Ummat dan tidak takut walau bui menghadang. Meski sendiri ia bertarung, tapi pantang ia mundur. Penting dicatat bahwa apa yang dilakukan oleh Anwar Abbas bukan berdasarkan pada kebencian atau permusuhan, akan tetapi dilakukan untuk kepentingan Ummat semata.


Sebenarnya bisa dikatakan bahwa munculnya Anwar Abbas seolah angin segar ditengah udara panas yang sedang melanda umat Islam. Ia, dibalik bayang-bayang kasus pemimpin pesantren, sedikit membuka kembali pandangan sosok ulama yang membumi dan mencerahkan ummat. Tidak hanya mementingkan hubungan moral-spiritual semata, tapi lebih bagaimana Islam berperan dalam institusi sosial masyarakat.


Ummat Islam Harus Melek Enterpreneur


Tentu, Anwar Abbas tidak mengkritisi kebijakan pemerintah tanpa adanya solusi yang harus dilakukan oleh Ummat, khususnya Islam. Ada beberapa hal yang kiranya, dalam pandangan Anwar Abbas, yang menjadi alasan kenapa ekonomi ummat Islam kurang bersaing di dalam kancah nasional. 


Pertama, ummat Islam tidak banyak yang tertarik pada dunia enterpreneurship. Padahal banyak yang bisa digunakan sekaligus menunjang, di zaman kemajuan tekhnologi saat ini dan kemudahan dalam berinteraksi, untuk berpikir kreatif bagaimana membuat sebuah usaha. Kemajuan tekhnologi bisa kita gunakan untuk mencari ide-ide usaha kreatif yang bisa kita implementasikan.


Kedua, hal ini memang menjadi perhatian bagi Anwar Abbas, bagaimana pentingnya ummat harus melek terhadap enterpreneurship di era saat ini. Meskipun semuanya memang membutuhkan proses, tapi yah minimal ummat Islam harus diajari terlebih dahulu bagaimana mempunyai enterpreneurship mental, agar terhindar dari zona nyaman menjadi employee. Makanya suatu waktu Anwar Abbas, sebagai ketua PP Muhammadiyah, pernah mempunyai gagasan Hari bisnis di ruang lingkup organisasi Muhammadiyah. Hal ini sebagai implementasi dasar untuk membangun kader-kader yang mempunyai mental seorang pengusaha.