ARCHIVE

Default Thumbnail

Hari ini seorang Raja Tikus akan datang sebagai pengisi acara rakyatnya tepat dilorong pojok jalan. Katakanlah tikus itu bernama Si emblee, dia berkuasa karena pasukannya yang banyak dan berani mati membela dirinya walau sampai mati. Bukan hanya itu saja, Sang raja mempunyai orang-orang kepercayaannya yang mampu membantunya untuk memimpin negeri Ritbeu (Negeri tikus). 

`Hey, sekarang aku jadwal lawatan kemana yah? ` Tanya Si emblee. Dan dengan sigap pelayan-pelayannya membawa buku harian/catatan presiden. `Anu pak, sekarang kita jadwal lawatan ke daerah pelosok`. 

Kontan Sang Raja terperangkat ketika mendengarnya, seakan terkejut dengan apa yang harus dia lakukan hari ini, tapi tak lama kemudian sang raja duduk kembali dengan senyum. 

`Aku ingin tidak ada hambatan menuju tujuan dan kalian tahu apa yang harus kalian lakukan dan satu lagi saya tidak mau lama-lama ditempat itu, siapkan segala sesuatu yang harus saya utarakan.` tegas sang Raja pada pembantunya yang setia.

Sementara itu dipelosok lorong, para pejabat setempat sedang sibuk mempersiapkan lawatan sang Raja, dari mulai pemimpin lingkungan sampai wilayahpun ikut sibuk, dari mereka ada yang mepersiapkan apa saja yang harus dipakai dan ad ajuga yang sibuk mencari dana. Diperkirakan untuk lawatan Sang raja kali ini akan membutuhkan dana yang cukup besar, oleh karena itu kita membutuhkan dana dari tabungan yang ada, ujar para Pejabat setempat. 

Seorangpun (Sebut saja Langka) bertanya kepada pejabat itu. `Lho pak bukan-nya kita hanya mengadakan acara ini ditempat kecil tertutup saja?` Dan dengan seperti ini akan sedikit mengurangi dana yang harus dikeluarkan. 

Wajah para tikus pejabat itu mengkerut dan tertawa seakan meledek. Akhirnya pejabat itu juga menjawab pertanyaan tadi dengan penuh bijaksana, sampai seorang itu pun puas dengan jawaban yang diberikan para pejabat.

Langka tidak mengetahui bahwa para tikus pejabat itu telah mengelabuinya, alih-alih dengan berbicara lantang dan bijaksana, ternyata mereka hanya menggunakan kedok keduanya saja. Setelah selesai melihat-lihat dan membantu orang-orang menyiapkan acara, para tikus pejabat itu pergi ke perusahaan-perusahaan keju untuk membawa dana yang akan turun dan ditujukan untuk acara tersebut. Namun yang terjadi mereka hanya membeli keju-keju dan menyimpan uangnya dalam tas kantong mereka.

Diistana peukha (Istana raja) Sang raja masih terlihat santai saja, tak lama kemudian diapun siap-siap, bergegas untuk menemui acara itu. Sebelum hendak berangkat, untuk kedua kalinya sang Raja memanggil sang patih kesayangannya ( Oleg ) lalu berkata: `Apa pesan saya udah disampaikan pada koridor-koridor setempat? Apa uang tips dan keju-keju udah diberikan kepada mereka?. Udah Baginda` jawab sang oleg. Sang rajapun terbahak-bahak. `Mari kita berangkat`.

Diperjalanan sang raja sangat santai menikmati pemandangan lorong-lorong, jalan yang biasanya terlihat macet dan dipenuhi tikus-tikus untuk menjalankan aktivitasnya, hari ini Nampak hilang tak ada terlihat satupun dilorong-lorong. Yang terlihat hanya genangan air yang kotor, potongan-potongan keju yang sudah membusuk. Maka tidak salah bila sang raja menginginkan tidak ada hambatan dilorong. Ditempat lain, langka tengah menyiapkan diri untuk menjadi seorang pembawa acara. apa yang harus langka tanyakan adalah harus berisikan suara rakyat yang benar-benar harus diaspirasikan kepada sang pemerintahan raja. Para tikus pejabat pun tidak mau kalah dengan misi dan visi yang akan mereka lakukan nanti. Apa yang harus mereka lakukan adalah mencari nama dan mencari dana lagi. Hal itu hanya alih-alih untuk kesejahteraan para tikus-tikus.

Suara sirine dari arak-arakan sang raja sudah terdengar mendengung kedalam telinga langka, baginya inilah saatnya rakyat berbicara lantang, melalui langka, semua keluh kesah warga harus terpenuhi dan disampaikan. Setibanya raja tikus, tikus-tikus penjaga terlebih dahulu mengamankan keadaan sekitar, layaknya tikus narnia yang sangat waspada akan kejahatan yang besar. Langka heran kenapa penjagaannya ketat sekali.

Lalu yang dinantipun tiba, sang raja dengan kepalan tangannya melambai kepada penonton yang hadir dalam acara. Dengan wajah tersenyum sang raja berjalan dengan tegak ditemani para punggawanya. Ketika hendak duduk, sang raja heran dengan jumlah kursi yang ada. Ternyata langka dan panitia tersebut hanya memberikan kursi untuk 3 orang saja, sang raja cukup tenang karena masih ada satu kursi untuk pengawalnya.

Diskusipun tidak terasa sudah berjalan selama satu jam, banyak pembicaraan yang diakhiri oleh janji sang raja untuk menjadikannya lebih baik. Langka sedikit bertanya tentang pendapatan para tikus disini yang semakin hari semakin memburuk, tidak adanya lahan pekerjaan membuat tikus-tikus ditempat ini kebingungan mau kemana lagi mencari uang. Tindakan pak raja gimana tentang itu. 

Tanya langka. Sang rajapun sedikit berunding dengan pengawal setia-nya. setelah lima menit berunding, wajah sang saja jadi terlihat berbeda, sang raja terlihat murung dan berujar bahwa: `jangankan merisaukan hal ini, dampak dari krisis modern ini sangat berpengaruh sekali terhadap perekonomian kita, maka tidak heran bahwa saya juga suka merasa kurang mendapatkan uang yang seharusnya`. 

Langka terkejut dan penonton heran, ada juga yang takjub dan merasa emphaty terhadap sang raja. Ternyata pernyataan sang raja tadi adalah diskusi terakhir dalam acara tersebut. Langka merasa resah dan jengah dengan apa yang disampaikan raja. Meskipun pad akhirnya sang raja berjanji akan memberikan tunjangan bagi para tikus-tikus ditempat itu.

Sementara ditempat lain, para tikus pejabat telah menunggu lawatan sang raja, kali ini sang raja akan tersenyum dengan jamuan yang begitu mewahnya, makanan yang lezat-lezat, dsb. Sang rajapun disambut meriah oleh pejabat setempat, dari mereka terlihat tertawa-tawa sambil memakan, makanan yang lezat hasil dana acara itu.

Diakhir lawatannya sang raja mengutarakan bahwa, `saya akan kirimkan uang untuk tunjangan tikus-tikus yang tadi ikut nonton dan yang lain-nya`. Sang tikus pejabatpun menjawabnya dengan tawa: `siap pak`. Lalu apa yang terjadi adalah ketidak adilan yang sering kita lihat sekarang-sekarang ini.
Ini bukan sebuah propaganda ataupun sebagai sebuah luapan kekesalan, ini hanya untuk mengingatkan kembali bagi semua yang menjadi orang khusus/pemimpin. tidak ada niat sama sekali untuk mencela dan tidak ada sama sekali niat untuk menggugat. ini hanya untuk mengingatkan kita pada cermin masa lalu.

Perhelatan sudah berakhir, seseorang pemimpin telah lahir, diharapkan bisa menjadi pemimpin yang bisa menguntungkan semua pihak dan yang bisa diharapkan oleh semua orang. seorang pemimpin itu harus menjadi orang yang bisa memakmurkan rakyat. jangan hanya memakmurkan seorang dan orang-orang terdekat. yah memang begitulah mungkin menjadi seorang pemimpin itu. banyak orang yang mengatakan bahwa menjadi seorang pemimpin itu harus itu, harus ini, harus begitu dan harus begini.

Sekali lagi ini hanya curhatan saja, ini bukan propaganda atau sebuah tulisan yang berdasarkan kebencian. yang ingin aku sampaikan hanya sebuah curahan hati. aku hanya ingin mengingatkan bagi semua pemimpin-pemimpin ataupun calon pemimpin.

Apa yang ingin aku ingatkan adalah sebuah pelajaran yang aku dapatkan dari seorang teman masa lalu, seorang teman yang menjadi inspirasi penting dalam pembelajaranku. sebut saja namanya adalah plato. berbicara pemimpin memang tidak sesederhana yang kita tahu, dalam bukunya republika plato mengingatkan kepada kita bahwa untuk menjadi pemimpin itu harus mempunyai setidaknya 4 elemen penting. yaitu seorang pemimpin itu harus mampu mengendalikan diri, seorang pemimpin itu harus arif, seorang pemimpin itu harus adil dan seorang pemimpin itu harus berani.

Yah itu memang masih bisa kita temukan dalam diri seseorang tetapi sangat jarang sekali yang mempunyai ke empat element itu. karena satu sama lain saling berhubungan dan saling mengisi. seperti dalam Avatar, ada elemen air, udara, api, tanah. menurut teman lamaku ke empat element yang diterangkan diatas itu memang harus ada didalam diri seorang pemimpin, karena kesemua itu berasal dari nafs. dan tidak semua orang yang memiliki unsur-unsur tersebut.

Oleh karena itu teman lamaku menerangkan kembali bahwa ke empat unsur tersebut hanya ada didalam diri seorang filsuf. loh koq hanya ada didalam seorang filsuf saja? teman lamaku lantas menerangkan. Mengapa seorang filsuf? Karena hanya filsuflah yang memenuhi syarat-syarat yang disebut di atas. Di mata Plato, seorang filsuf adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri, sarat dengan keberanian, dan bersikap arif dan bijaksana serta mampu bertindak adil. Sikap-sikap seperti itu membuat dia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari, karena nilai-nilai keutamaan inilah yang dijadikannya sebagai prinsip dalam memimpin. Dengan kemampuan untuk menahan diri seorang filsuf mampu bersikap netral terhadap persoalan-persoalan, dan mampu menjaga jarak dengan materi-materi duniawi seperti harta benda dan kekayaan serta kekuasaan yang ada di hadapannya.

Pertanyaan yang tentunya relevan diajukan, mengapa Plato harus memilih seorang filsuf menjadi pemimpin? Makna apa di balik pemilihan orang yang memiliki kualitas moral seperti itu sebagai penguasa dalam sebuah polis (baca: negara)? Sekurang-kurangnya dua hal yang bisa dikemukakan sebagai jawaban.

Pertama, Plato ingin memperlihatkan bahwa kehidupan bernegara itu adalah juga memiliki kualitas moral, dan bukan justru sarat dengan jargon-jargon kebusukan sebagaimana nantinya dibudayakan oleh Machiavelli. Itu berarti bagi Plato, negara itu juga merupakan sebuah komunitas etikal. Sebagai sebuah komunitas etikal, nilai-nilai moral itu menjadi pilar penting. Dan yang pertama-tama harus memperlihatkan kualitas-kualitas moral itu adalah pemimpin. Karena itu dapat dimaklumi mengapa Plato menganalogkan struktur negara dengan struktur tubuh manusia.

Kedua, di belakang tuntutan ini tersirat pula makna bahwa para pemimpin haruslah mampu menjadi teladan kebaikan dan kebajikan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ia harus mampu menjadi tiruan moral bagi masyarakat. Karena itu
logislah menurut Plato, ketika seorang pemimpin tidak lagi memiliki keutamaan-keutamaan moral di atas, orang tersebut sudah tidak tepat diakui sebagai pemimpin.

Perlu diingat dalam bukunya juga teman lamaku sedikit menerangkan pembagian kelas sosial dalam masyarakat/negara. Kelas filosof (Aqliya'), yaitu suatu kelompok bermoral baik dan berakalcerdas yang memiliki kepiawaian mengolah Negara.Kedua, kelas militer atauprajurit yaitu kelompok yang bertugas melaksanakan pertahanan Negara baik dari musuh internal ataupun eksternal. 

Ketiga,kelas Buruhdisebut dengan warga negara biasa yang harus menyediakan barang dan jasa yang diperlukan bangsa. kembali pada soal kualitas "nafs" juga tidak hanya sebatas kecerdasan akal, dan kebaikan moral, tapi menurut Plato juga pada daya feeling untuk menangkap karya seni. Plato percaya bahwa seni sastra, seni rupa, seni musik, dan seni teater memiliki kekuatan yang sangat besar untuk menempa watak manusia, sebab seni secara formatis bisa mempengaruhi nilai, ide dan emosi. Oleh karena itu seni tersebut memainkan peran yang signifikan dalam mengambil keputusan seorang pemimpin. Maka ketika seoarang dihadapkan kepada 'soal' memiliki pengendalian diri, keberanian, kearifan dan keadilan, maka feeling seni juga sebagai syarat yang sangat relefan pada pemimpin, dan agaknya hanya seorang filosoflah yang memiliki sifat seperti ini.

Tidak terlepas dari semua itu banyak relevansi yang bisa kita aplikasikan atas teori dari teman lamaku, sebagai contoh negara kita. dulu seorang presiden adalah seorang pemikir yang handal, teguh, cerdas dan piawai dalam beretorika, dia juga seorang budayawam dan orang yang mengerit seni dan bisa mengapresiasi seni. tak lain adalah seorang sukarno. bisa kita cari bagaimana perjuangan dia memerdekakan Indonesia. sesudah itu pemimpin negara kita berasal dari kelas sosial ke dua menurut plato (militer). kalian bisa mengungkapkan sendiri bagaimana keadaan indonesia saat ini.

Tidak terlepas dari itu aku hanya ingin berpesan dan menyampaikan pesan teman lamaku, bahwa siapapun itu yang mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin harus menguasai keempat unsur tersebut. itu pesan teman lamaku. dan pesan dari aku adalah jujurlah ketika jadi pemimpin. jujur pada diri sendiri bahwa pemimpin itu harus bisa mensejahterakan rakyat/anggota semuanya tanpa terkecuali.

Seorang anak terlihat murung
Dengan keadaanya dia merenung
Ditepi jurang itu dia menatap seluruh kota
Hingar suara era peradaban dan redup suara hati jiwa

Hingga berakhirnya hari-hari silam
Anak itu masih bernyanyi menemani malam demi sesuap makan
Dalam hatinya ter-patri untuk membuka lembaran baru
Lalu berkata `Dengan keadaan-ku yang seperti ini, tidak lantaas untuk-ku menyerah untuk terbang menyentuh langit

`Sementara itu

Tidak jauh dari pelataran rumah, aku berandai
Terbentang luas hijau-hijau berbaris
Seraya bernari, berdendang dengan harmoni
Tanpa asap dan tanpa bising

Beberapa saat kemudian, aku memohon
`Tolong tuliskan kembali tinta awal kehidupan kita`
Dimana suara gemercik air menyambut pagi, lantunan burung gorejra bernyanyi
Angin sepoi-sepoi dan hijau-hijau pun bergoyang

Aku sendiri duduk diatas bambu rumahku
Aku mengiringi pagi dengan bambu yang berbunyi mengikuti burung bernyanyi merdu
Aku sendiri menatap ciptamu
Aku hanya ingin dunia seperti harmoni irama bambu
Sayang sekali, makna namanya bertolak
Membuat mata berkerut, bergumam kenapa?
Memakai hantaman keras batu, menjatuhkan segala
Hingga membuat hati ini gempa
Lalu apakah semua itu sama dengan syariatnya

Berteriak lantang tentang kekuasaan
Tidak berkaca pada cermin kelakuan
Memakai patih yang ada sebagai budak
Membangkang, menghancurkan, melawan
lalu apakah ada tepian yang kau tuju
Hey lihat pelangi diatas
Berwarna-warni, beragam cahaya, menghiasi dunia
Indah sekali bersatu seraya berpesan pada manusia
Tidak kah kau lihat kami, bersama mewarnai dunia meski berbeda

Apakah semua ini? apa ini hanya mimpi atau ilusi
Aku tepat berada pada kerajaan-kerajaan sunda di tanah jawa
Ketika ku berjalan, orang-orang tampak tegak dan gagah
Aku berpikir, apakah mereka adalah pendekar tatar sunda

Lalu tak lama dari itu, musik sunda klasik dimainkan
Gerombolan orang datang dari hutan gelap itu
Apakah semua ini? lalu aku dengar orang-orang berbisik 
`Beri hormat, beri hormat Dyah Pitaloka datang`

Aku terperanjat, apa semua ini benar-benar nyata
Aku berada pada kerajaan sunda, tapi mau kemana mereka hendak pergi?
Kulangkahkan kakiiku menuju gapura, aku melihat tulisan aneh
Dan berbeda dari hurup bahasa Indonesia. apakah semua ini?
Oh iyah ini memang hurup palawa, aku teringat dan tertawa.

`Dyah pitaloka mau menuju timur` celoteh 2 anak kecil memakai samping seperti pakaian tradisional sunda
Heran, hendak kemana Dyah pitaloka pergi? saat aku lihat dia, aku terpesona, dia terlihat ayu. cantik laksana bidadari

Acarapun berakhir, tak ada musik mengiringi. lantas seorang pengawal maju kedepan
Membawa satu gulungan kertas, aku tidak tahu itu apa?
Aku tepat berada ditengah kerumunan rakyat
Pengawal itu membacakan sesuatu: ` “Paksa ma cai, alaeunana ma, basana bijil ti huluna. Téka bwar hérang tiis rasana. Geus ma hanteu kawurungan, teka ri sagara… Daék éka ma ngaranya, Sanghyang Aditya, basana metu ti bwana wétan, hanteu kawurunganan, ku méga ku hujan, ku kukus ku sanghub, teka ring kulwan, ku geuing éka laksana`

Semua orang tertawa, seraya bahagia, lalu aku bertanya pada diri sendiri
Aku keturunan sunda, akan tetapi apa yang dikatakan pengawal tadi sangat sekali membingungkanku. aku sedih
Aku tak bisa bertanya pada setiap orang disini

Sempat teringat bahwa Dyah Pitaloka pernah dipersunting Hayam wuruk. 
Aku yakinkan bahwa aku berada di waktu ketika Dyah Pitaloka akan pergi ke Timur
Tapi lagi-lagi seorang pengawal mengeluarkan bingkai kecil bertuliskan palawa, aku penasaran
Apa benar Dyah pitaloka akan pergi ke timur menemui Hayam wuruk?
Aku bertanya pada diri sendiri, dan menjawabnya langsung: `hanya naskah itu yang bisa membuatku yakin`

Tapi selebihnya, aku tidak mampu mengerti hurup itu
Aku menyesal dikehidupanku jarang ditemukan/diajarkan/dipelajari hurup-hurup palawa
Aku hendak pergi kegua itu lalu bertapa dan kembali. 
Manifesto : Manusia itu dilahirkan bersama kebebasan, manusia memang adalah kebebasannya itu sendiri. kebebasan yang erat dan terikat dengan keterbawaan menurut aku. seperti kita mencermati diri kita sendiri, kita terlahir bebas kedunia untuk bebas dan berkreasi, tapi kita mesti taat kepada keterbawaan kita terhadap sekeliling, dalam hal ini aku sendiri bebas melakukan sesuatu, tapi keterbawaanku membuatku sendiri untuk tidak sebebas seperti orang-orang terdahulu yang meniadakan tuhan. justru dengan kehadirannya aku bisa menemukan kebebasan, mungkin orang-orang yang meniadakan tuhan tidak pernah akan sadar bahwa dia hidup itu adalah kebebasan yang diberikan tuhan, dan bagi orang yang demikian adalah orang-orang yang tidak hidup bagi dirinya sendiri. karena mereka tidak mampu mengenali diri sendiri maka dia tidak bisa mengenali tuhan-nya.
Siapa yang tahu ada 2 orang gila disekelilingku
Menerkam pikiran, memutarkan perasaan
Diam semenit untuk berkutik ikut berpikir
Oh tapi ini membingungkan, mungkin tak bisa aku mengerti

Sedikit aku pahami, makin banyak aku tak mengerti
Mereka sudah mati, mereka mati dalam hidupnya
Inginku sebatas mengetahui apa tujuan mereka
tanpa mau menyukainya, terlebih harus menyanjungnya.
Inginku habiskan malam bersamamu
Menebus keluh, melepas kesah
Seperti tanah yang kering diderai hujan
Meresap ke titik celah terkecil, haus akan dahaga

Kesadaran akan hadirnya diriku dan dirimu, hanya karena jarak
Seperti terucap, yang ada selalu ada tanpa ditiadakan
Begitupun engkau, terpatri dalam luhur eksistensitas diri sendiri
Berkecimpung dalam dunia ku sendiri,

Mendekatlah erat, genggamlah ruh ini
Kepalkan cinta, keluarkanlah benci
Cinta memang menyatukan yang terurai, benci sebaliknya
Inilah sepenggal kisah tentang aku dan kesadaran akan keberadaanku
Aku bukan seorang tukang hendus asap kapitalis
tapi aku sendiri hidup dalam das kapitalis
apakah kapitalis itu?
Kapitalis itu sudah merasuk semua

Hanya komunis yang mungkin
Mungkin belajar dari emphaty para radikalisme
Disitulah haluan kiri dikembangkan
Menjadi kekuatan yang terbangun berlandaskan keinginan

Tapi kadang waktu yang memberikan jawaban
Atas kepastian, atas keniscayaan atau atas kepercayaan
Berubah dan Teraduk artileri benih senapan kata
Kadang aku sendiri merasa bodoh dengan apa yang kutulis
Tak ada akhir bagi hari, hanya sebuah kecemasan akan kemusnahan
Orang-orang berbondong-bondong seperti semut mencari sinar
Terasa gitik, geli dan juga muak, aku sirik
Keramaian seakan menjadi tuhan untuk bersama

Sementara itu alam masih menempati esensinya
Sebaliknya manusia tidak ada esensi yang kekal
Hanya eksistensi keberadaannya, menyanggah dan melakukan
Ah ini hanya sebuah kata yang tak lantas kau pikirkan

Ditengah keramaian, aku ingin pergi menyendiri
Mungkin satu kopi dengan sepuntung rokok menemani sampai pagi
Setiap asap yang ku hisap, sekuyup kopi yang kucicipi
terbesit kata 'sepi', kebalikan dari esensi aku sekarang ini

Berimajinasi aku seakan hari ini miliku, bukan milik semua orang
Sayap-sayap sudah siap terbang, tunggu apa lagi
Aku menunggu peri kecil mungil berada disampingku
Oh terkejut aku! peri itu menuntun seorang putri cantik menyinariku lebih dari sinar bintang

Pegang tanganku putriku, siapakah namamu? aku adalah taqdirmu
Sejenak aku menatapnya, matanya memancarkan ketulusan, lebih tulus dari bintang yang setia menemani malam
Kamipun terbang, saling memegang tangan memancarkan cahaya yang mengekor seperti meteor
Terbang, menatap kedepan, mencari harapan

hey apa kau lihat dibawah sana, apakah mereka tidak tahu kita bahagia disini
Kita masih menjadi misteri untuk mereka, kita masih menjadi pertanyaan untuk mereka
Namun apakah kau mengetahui dari sebagian mereka ingin seperti kita? Aku tidak mengetahuinya
aku hanya ingin denganmu meski harus turun ke dunia, yah sedetik lagi kita adalah satu menjadi batu untuk dunia.


Wahai tuan iblis
Sekali lagi aku ingatkan
Jangan lagi kau bersilat bila engkau berdusta
Cukup sedah dera kami, kami akan bangkit

Terlalu banyak cambuk kerasmu menghujam hati
Wahai tuan iblis datanglah kau kemari
Lihatlah kami tak gentar untuk melawan
Meski baja siap menanti dan senjata menghantui

Bagi kami mati adalah waktu
Kematian adalah keniscayaan
Kami muak dengan gelagat kota
Kami muak embel-embel kebohongan

Tiba saatnya nanti
Kami akan memegang kendali
walaupun dengan bambu runcing
Kekuatan sebenarnya adalah tekad bulat
tekad yang sudah lama dihuni sabar

Ada batas dari semua lawas
Kami bangkit dan kami lawan
Tuan iblis, tunggu kami, tuan jangan takut!
Rasakan dera dan kecewa kami
Belenggu kami adalah tameng untuk menghunus jiwa iblis

Kami berada diambang pintu
Kami tinggal menunggu waktu

Seorang anak terlihat murung
Dengan keadaanya dia merenung
Ditepi jurang menara itu, dia menatap seluruh kota
Hingar suara era peradaban dan redup suara hati jiwa

Hingga berakhirnya hari-hari silam, datangnya senja
Anak itu masih bernyanyi menemani malam demi sesuap makan
Dalam hatinya ter-patri untuk membuka lembaran baru
Lalu berkata `Dengan keadaan-ku yang seperti ini, tidak lantaas untuk-ku menyerah untuk terbang menyentuh langit

`Sementara itu

Tidak jauh dari pelataran rumah, aku berandai
Terbentang luas hijau-hijau berbaris
Seraya bernari, berdendang dengan harmoni
Tanpa asap dan tanpa bising

Beberapa saat kemudian, aku memohon
`Tolong tuliskan kembali tinta awal kehidupan kita`
Dimana suara gemercik air menyambut pagi, lantunan burung gorejra bernyanyi
Angin sepoi-sepoi dan hijau-hijau pun bergoyang

Aku sendiri duduk diatas bambu rumahku
Aku mengiringi pagi dengan bambu yang berbunyi mengikuti burung bernyanyi merdu
Aku sendiri menatap ciptamu
Aku hanya ingin dunia seperti harmoni irama bambu



Begitulah kata-kata yang aku tulis dalam sebuah diari untuk hari ini dan menurutku kalau aku memfokuskan diri terhadap lingkungan hidup/semesta alam yang indah ini maka aku akan mendapati banyak tema tentang alam yang akan aku tulis dalam diari. Hal ini terjadi karena banyak hal-hal yang masih belum aku ketahui tentang fenomena yang terjadi. Hakikatnya alam ini adalah untuk mendampingi manusia dalam system kehidupan, oleh karena itu alangkah baiknya alam ini dipelihara oleh manusia-manusia. Dengan itu manusia akan hidup berdampingan dengan lingkungan yang asri dan berseri.

Akan tetapi hal itu bertolak belakang dengan yang terjadi belakangan ini. Meskipun penghijaun santer digembor-gemborkan oleh pemerintah namun tidak sedikit juga lahan-lahan yang pada awalnya alami menjadi kotor ulah besi-besi penghancur. Aku meratapi kota dimana aku dilahirkan, ketika itu terbesit tanya mengapa akhir-akhir ini pohon-pohon rindang yang membuat kita sejuk malah dihancurkan?

Suatu tanda tanya besar yang harus segera diselesaikan oleh kita, sadarkah kita bahwa alam semesta juga adalah sabda-sabda dari tuhan, diciptakan tuhan untuk menaungi manusia dari kelaparan. Apakah kita bisa menerima kalau kita melihat banyaknya gedung-gedung pencakar langit yang tidak menghasilkan apa-apa dibuat sebanyak mungkin? Apakah kita bisa menerima ketika mendapati pohon-pohon yang menjerit ditebang dengan kejinya? Kepekaan kita terhadap lingkungan harusnya dipertanyakan kembali.

Kita tidak bisa mendengar jerit kesakitan lingkungan hidup ini, kita tidak menyadari bahwa mereka menangis untuk kita, karena dengan tidak adanya lingkungan hidup yang berseri dan asri akan menimbulkan bencana bagi kita sendiri. Manusia yang tidak mempunyai etika sering kali melupakan esensi keberadaan lingkungan hidup bagi kehidupan. Yang mereka pikirkan hanyalah sebuah hal nyata untuk kehidupan.

Menurutku bukan hanya dikota saja aku mendapati lingkungan hidup yang seakan terkikis oleh peradaban baru, dikampung-kampung juga sudah nampak terjadi hal yang bertolak belakang dengan penghijauan. Aku sangat murka sekali terhadap diri sendiri karena aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk melestarikan lingkungan ini. Aku berharap lingkungan akan membalas balik perlakuan kita, jangan sampai mereka murka terhadap kita. Jangan sampai mereka meniadakan kita dengan sekejap. Karena semua itu bukti dari kekuatan sabda-sabda tuhan.

Jika bumi masih seperti ini, kita hanya sedang menunggu
Menunggu ketika kita dihempas badai akibat murka, digoyang gempa akibat dusta
Siapa yang mau melihat semua terlihat begitu tidak teratur, mereka marah, murka terhadap kita
Ketika malam mencekam, gemuruh ledakan gunung, benturan air bah, angin kencang menderai kita

Sesuatu yang tidak bisa kita hindarkan namun sering kita anggap tiada akan kebenarannya
Melihat gadag besi berserakan diatas langit, menghancurkan kehidupan
Ketika orang maya berkata demikian rupanya akan datang peradaban baru
Semua adalah peringatan akan kepekaan kita terhadap pembuktian


Hatiku tertegur ketika mendapati semua yang aku lihat akhir-akhir ini, dalam hati ingin rasanya mengembalikan semua keadaan indahnya semesta ini, termasuk dilingkungan dimana tempat aku berlabuh. Masih banyak cara untuk menghijaukan lingkungan. Karena alam selalu setia sampai saatnya nanti tiba akhir dari segalanya.

Ini bermula dari setetes kata durja
Menjadi luka terhadap sesama
Membiarkan persaudaraan terlantar dusta
Memberikan amarah mengembang menjadi juara

Dari segalanya...

Tak bisakah kita duduk diam tersenyum meminum kopi
Menyelesaikannya tanpa ada siratan yang membekas hati
Sulit mungkin, tapi perdamaian itu masa depan, akan terjadi
Kita pudar akan pandangannya, kita hitam untuk melalui

Bercermin

Bukankah kita sudah mengarungi sejarah
Melalui perahu kata kita diberi arah untuk mengubah
Meniru cerita bijak lakon pewayangan pra sejarah
Tak ubahnya seperti kehidupan yang terus berubah

Belajarlah ...

Lalu bekas luka itu bisa kita obati dengan kesadaran
Dengan kecemasan eksistensinya, kita cemas dan kita sadar
Jangan sampai tekad bulat kita terpecah tipu muslihat yang menimpa yudisthira
Terkungkung oleh keegoisan, ketamakan, kekuasaan dan kesemuanya. inilah akhirnya terpecah dalam keadaan