ARCHIVE

Default Thumbnail

Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts


 

Handarbeni: Bawa Kearah Baik Bukan Sebaliknya

 

Banyak makna dalam menafsirkan hari lahirnya Pancasila yang selalu diperingati pada tanggal 1 Juni. Akan tetapi garis besarnya tentu terletak pada bagaimana akhirnya kehadiran Pancasila mampu menaungi keberlangsungan kehidupan rakyat di Indonesia yang beragam, baik bahasa, suku atau budaya. Ia hadir sebagai perekat diantara keragaman tersebut. Dengan kata lain selama nilai-nilai Pancasila itu dipegang, baik sebagai sebuah filsafat negara atau sebagai sebuah Weltanschaung seluruh bangsa, maka kehidupan berbangsa dan bernegara setidaknya akan terjamin.

 

Namun belakangan ini justru kita banyak dipertontonkan, dalam berbagai macam media, berita-berita tentang kisruh politik yang kiranya menjadi pertanyaan bagi kita. Kita ambil saja contoh yang saat ini ramai diperbincangkan yakni perhelatan besar olahraga Formula E yang akan diadakan di Jakarta nanti.

 

Yang menjadikan hal tersebut ramai, sebelum acara itu dimulai, adalah timbul respon-respon yang sepertinya masih berbau warisan sisa-sisa pemilu yang kemarin. Terdapat dua blok yang satu sama lain saling melontarkan komentar. Blok pertama tentu bisa kita sebut mereka yang mendukung Anies Baswedan dan yang kedua adalah mereka yang tidak sepaham dengan apa yang dilakukan Anies Baswedan.

 

Sebenarnya sikap seperti itu tidak hanya terjadi pada Anies saja. Hal tersebut bisa terjadi pada siapapun. Ketika ada tokoh publik yang muncul dan mempunyai kebijakan tentang sesuatu, maka yang dilihat mereka nampak bukan gagasannya akan tetapi lebih pada sejarah atau track record orangnya.

 

Padahal waktu telah berlalu, seiring waktu berputar biarlah kisah kemarin itu menjadi pemersatu bagi kita untuk melihat masa depan. Sebenarnya dalam iklim negara demokrasi hal diatas sah-sah saja terjadi. Tapi mengapa kita tidak bisa duduk bersama-sama, mendukung satu sama lain, selama hal tersebut bisa megharumkan nama bangsa?

 

Handarbeni: Bawa Kearah Baik Bukan Sebaliknya

 

Istilah handarbeni sejatinya diambil dari pepatah jawa “Mulat Sarira Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Angrungkebi” atau dalam bahasa Indonesianya kurang lebih “Berani Mawas Diri, Merasa Ikut Memiliki, Wajib Ikut Menjaga/Membela”. Pepatah ini sangat cocok bila diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena didalamnya memuat nilai-nilai solidaritas antar sesama dan cinta pada negeri. 


Merasa ikut memiliki contohnya adalah ketika ada perhelatan olahraga internasional yang diadakan di Indonesia, maka kita harus bangga dan ikut mendukung terselenggaranya hal tersebut. Bentuk dukungannya pun bisa sangat beragam. Kalau sebagai rakyat mungkin sikap yang paling sederhananya adalah ikut mendoakan atau meramaikan acara tersebut dalam setiap kesempatan. Nah kalau sekelas pemerintahan yang mana, acara tersebut akan mempunyai dampak bagi Indonesia itu sendiri, harusnya benar-benar ikut mensukseskan acara tersebut bukan malah sebaliknya. Karena narasi yang tersebar selama beberapa hari ini adalah terkait perpisahan antara Pemprov DKI dan Pusat.


Namun perlu dicatat juga bahwa makna Handarbeni tidak selamanya dikatakan baik. Disatu sisi tidak ada batasan untuk merasa ikut memiliki, selama hal tersebut di dasari rasa cinta pada dan untuk memajukan negeri ini. Tapi disisi lain akan sangat tidak baik juga kalau kita menggunakan handarbeni tidak pada tempatnnya. Seperti apa yang dijelaskan Sartono Kartodirjo dalam hubungannya dengan birokrasi yang ada di Indonesia.

 

Menurut Sartono, zaman ini banyak merebak kebudayaan Handarbeni. Tidak ada batas yang jelas antar jabatan resmi dan jabatan keluarga atau antar kepemilikan negara dan kepemilikan keluarga. Kepentingan tertentu seakan didewakan, sedangkan rakyat masih saja menjadi korban. Apalagi kalau yang dinamakan keluarga itu yakni keluarga besar yang mempunyai kepentingan tertentu dan dengan tujuan tertentu. Yang ditakutkan dari hal ini adalah lahirnya oligarki atau gurita kekuasaan ketimbang keadilan.

Gambar dari Republika
Akhir dari hingar bingar kita pada pesta pentas pertandingan pra musim, tour, adalah berakhir dengan suatu keadaan dilematis. Yakni kita kebingungan menempatkan sesuatu hal diatas hal yang lainnya. Karena disatu sisi kita pantas berbangga kedatangan tim besar sekelas, sebut saja, Chelsea, Liverpool, dan Arsenal akan tetapi pada satu sisi lain yang berbeda kita mendapati bahwa kita lebih prestisius untuk menerima kesukaan kita terhadap suatu yang disukai ketimbang untuk menjadikan tim Indonesia "menjadi lebih baik", pendek kata dilema.

Terlebih ketika sang pelatih kenamaan Chelsea, yang terkenal itu, Jose Mourinho mengemukakan pendapat yang kurang lebih pedas tapi keluar dengan suatu kejujuran. Tak sampai disitu, ternyata apa yang dikatakan Mou itu merupakan sesuatu renungan luar biasa yang harus diperhatikan kita. Renungan yang mungkin akan membuat kita lebih waw pedas.

Mou dan Renungan Kita

Pernyataan Mou yang mengatakan bahwa negara kita tidak mempunyai potensi untuk menjadi pemain spesial adalah satu dari betapa pedasnya bilamana seseorang bisa jujur dalam menyampaikan pendapat. 

Melihat pada bagaimana keseriusan dia dalam mengamati pola permainan lawan mungkin pendapat Mou ini bisa dijadikan suatu renungan bagi kita. Apakah benar negara kita yang besar seakan tidak diberikan suatu potensi untuk melahirkan pemain spesial?

Saya rasa Mou tidak benar seutuhnya disini karena meskipun seseorang pemain itu spesial, dalam arti ia mempunyai bakat yang luar biasa, tanpa adanya suatu sistem pembinaan yang baik maka niscaya bakatnya itu akan terhadang pudar karena sistem yang ada di Indonesia kurang baik.

Kita mungkin tahu bahwa keadaan organisasi yang menaungi sepakbola Indonesia pernah, mungkin masih terjadi, kalang kabut dihadang badai sedari dulu. Dan tak ayal, tentu tak bisa dipungkiri, bahwa efek yang ditimbulkannya masih hangat terasa sampai sekarang.

Bila yang berkuasa sedang diterpa badai yang tak kian membaik apa bisa para pemain bisa bangga, seutuhnya, terhadap dunia persepakbolaan kita? Sedangkan kata Mou juga permainan sepak bola itu mengharuskan adanya suatu kebanggaan dan gairah yang luar biasa. Bila sudah ada terdapat kehendak yang sama antara yang membenahi dan dibenahi mungkin rasanya akan ada suaut jalinan baik yang berkelindan itu.

Mou, Tour, Kita 

Saya tak menyangkal bilamana kedatangan tim-tim besar, disatu sisinya, hanyalah sebagai salah satu strategi marketing yang diputuskan oleh pihak yang berkepentingan. Menyadari bahwa negeri kita ini dipenuhi oleh fans-fans klub, bahkan sampai ada yang berkeyakinan bahwa budaya telah merasuki, maka tak mungkin bila seorang marketing sebuah klub melewati kesempatan besar ini?

Dilematis terulang kembali pada ranah ini. Melihat antusias yang sangat besar sekali dari fans-fans klub tersebut mempunyai sisi kelamnya tersendiri. Bila saya menyatakan bahwa apakah benar ada satu porsi lebih yang dilakukan fans dalam mendukung tim Indo dengan tim lain? Akankah para fans tersebut datang berbondong-bondong bila Indonesia bertanding melawan dengan klub yang biasa saja?

Sang pembicara TV pun selalu mengatakan demikian, dilema..dilema..dilemaa....

Syahdan, seorang ilmuwan besar Muslim pernah berujar bahwa hal yang baik itu adalah ketika hal tersebut dilakukan secara berkala dan tidak terjadi hanya secara sekilas lalu pergi tanpa satu bekas yang bisa menjadikan kita puas.

Untuk mengatakan bahwa kedatangan tim-tim besar ke Indonesia dalam rangka untuk mendongkrak dunia sepakbola kita rasanya itu hal yang jauh, ia bisa saja dapat diraih tapi jauh tuk dijangkau. Namun untuk mengobati rasa rindu dari sang pecinta klub luar sana mungkin itu dekat, karena yang kemarin ia jauh dari rasa simbolik, sekarang mendapati mereka dekat secara mata.

End with next chapter

Pernah sekali bung Karno meramalkan suatu yang pasti
Yang kini menghantui pertiwi
Banyak korupsi, mengapa semua terjadi
Diatas semua tragedi, kemiskinan yang tak henti
koruptor semakin menjadi
Merdeka masih ilusi....

Sejarah berkata, perjuangan melawan penjajah
Dengan semangat yang sama, berdaulat sepenuhnya
Namun yang sekarang terjadi,sejarah pun tak berarti

semangat pun telah memudar, seakan semua menghilang
seolah tak pernah ada
Apakah kita terlupa...Apakah kita terlupa....
Belum segenap satu minggu berlalu. Saya masih saja kepikiran mengenai kesan setelah menonton acara TV yang selalu tayang disalah satu media TV di Indonesia. Acara tersebut khusus ditayangkan untuk memberi tahu kepada kita bahwa ditengah kebahagiaan yang sedang dinikmati ternyata masih banyak – tak terhitung – saudara-saudara kita yang kesulitan dalam segi ekonomi, bahkan untuk makan sekalipun. Bila kita berkaca kepada sejarah maka kita harus bertanya apakah gunanya kita sebagai makhluk sosial?

Sebuah pertanyaan seharusnya kita ajukan dan tuntut kembali kepada pemimipin-pemimpin yang selalu menggunakan embel-embel rakyat terpinggir sebagai alat politik! Mana janji manismu sebelum tuan menjadi orang?

Perasaan ini adalah yang selalu muncul mewarnai hati sehari-harinya. Ditengah gempuran para koruptor yang seakan tak pernah berhenti, ditengah kerusuhan yang seolah menjadi hal yang biasa terjadi, dan ditengah kemerosotan kehidupan moral yang terlihat atau tak terlihat dengan mata.

We want a better Nation Under This Institute!!


Let's We Save KPK Together..!!

Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun) adalah pria keturunan Arab yang juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar. Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu. Istri Munir, Suciwati, bersama aktivis HAM lainnya terus menuntut pemerintah agar mengungkap kasus pembunuhan ini.
Adalah maksudnya rasa kebersamaan yang hidup dalam satu negeri besar nan indah pemberian Allah maha mulia. Keragaman antar suku, agama dan etnis telah menjadi sebuah bingkai abadi yang akan terus hidup di negeri Indonesia. Kedamaian, keinginan bersama dalam kehidupan yang tak ada konflik adalah dasar dari kehidupan yang rukun diantara penduduk di Indonesia.

Namun hukum kehidupan pun berjalan sesuai taqdir. Dimana ada satu kedamaian yang didamba maka akan ada pula suatu hal yang tak mengingini rasa harmoni itu. Kejahatan adalah lawan dari kebaikan, yang datang dari perbuatan manusia yang ingin memperkeruh suatu keadaan yang harmonis.

As i promised in the blog post before. I will share to you some pics about how wonderful Indonesian. The pictures are about people, culture and whatever it is. It's better to know than nothing to know how big the world. God created us to know each other, I am here, as the sender message, to introduce part of God's created.

Indonesia is a big country a long with the diversity whether it's multicultural country, multilingual country, multireligion country but it's not multilevelmarketing country [just kidding bro]. With a wide region and different people, that made Indonesian to be a big country, just a big!!

I believe that everything in the world is from God gift. All we have to do now are to say thankfully to the God by reciting Alhamdulillah. In this blogging post, i will share to you how amazing is God Gift represented to the relationship between Human and nature in my country, Indonesia.
Last day, one of my Facebook friend uploaded amazing photo, he is Petruk Tralala, he made an album named Ethnicity, My Indonesia, Blue Generations, Heaven in The Earth, and etc. All pictures has philosophy whether it shown a good natural, beautiful village a long with nice people and many things.
I don't want to have a much time making description of all pictures, so i will share to you all pictures i uploaded from my friend. One of reason why do i have to upload this pictures is to make you more proud of Indonesia. If you have a comment, full it the box below.
Two Indonesian children are playing seruling, and the one is giving attention

Betapa kita terharu dan merinding melihat kenyataan yang begitu membuat hati ini sedih. Disetiap harinya kita disodorkan pemberitaan-pemberitaan yang membuat hati kita semakin terpuruk tak percaya apakah ini kenyataan atau hanya sebua mimpi.

Akan tetapi ini adalah hal yang nyata, yang sangat Nampak dinegeri kita tercinta, negeri Indonesia. Kenyataan ini seakan menjadi sebuah keharusan yang senantiasa berlanjut dari generasi ke generasi.
Give me young people. I'll give the world the strong.
Begitu banyak keringat bahkan nyawa yang tidak sedikit berjatuhan, pengorbanan mereka tak lain hanyalah menginginkan negeri ini mampu bernafas lega menatap masa depan cerah. Mereka tidak pernah gentar melawan penjajah yang seyogyanya tidak merasa kasihan pula menjajah rakyat Indonesia. Penjajah itu rakus dan kejam bahkan menyengsarakan, bukankah kita tahu bahwa dulu banyak kekayaan negeri Indonesia banyak dikeruk dan diambil hanya untuk kepentingan mereka?.

Mereka duduk santai tertawa-tawa berdiskusi tentang hasil jajahannya, sementara rakyat pribumi menjadi mesin hidup pencari harta bagi mereka. Ironis sekali, sungguh drama hidup yang harus dijadikan pembelajaran bagi kita para pewaris negeri Indonesia. 

Penjajah yang seenaknya saja menduduki negeri makmur ini tak pernah mau memikirkan keadaan rakyat dan kalaupun ada dari mereka yang berkelakuan sebaliknya maka pasti ada sesuatu yang ingin mereka pikirkan, dengan kata lain mereka adalah pembohong dan selalu ingkar janji, kita tahu itu. 

Mereka yang datang ke negeri ini bukan karena tiba-tiba, melainkan akibat kekalahan besar yang dialami mereka selama perang dunia II, mereka itu miskin dan dari kemiskinannya itu mereka berpikir bagaimana caranya membenahi semua dari awal. Namun yang namanya manusia pasti akan selalu ada sisi jahat yang tidak bisa terlepas dari manusia, karena manusia pada hakikatnya mempunyai dua sisi, yaitu baik dan jahat. Jahatnya mereka berpikir, yah tentu saja dengan menjajah, memperbudak rakyat pribumi hanya demi kekayaan mereka (penjajah).

Kalau dipikir ulang kembali dan memaknai hari kemerdekaan ini, maka akan ada berjuta rasa hormat yang teramat sangat kepada mereka pahlawan negeri ini, dengan nya kita bisa menikmati hari-hari yang berbeda dengan hari dimana mereka gigih berjuang melawan penjajah. Bayangkanlah mereka yang berani melawan penjajah adalah mereka yang mempunyai hati besi, walaupun tidak mempunyai senjata besi seperti penjajah, namun mereka mampu menjadi makhluk menakutkan bagi lawan. Banyak dari mereka kaum penjajah yang kocar-kacir melawan pejuang Indonesia,  dengan strategi perang gerilya lah pejuang Indonesia mampu memukul mundur para penjajah. Perlu diingat pula bahwa tiadanya senjata yang memadai yang digunakan pejuang pada saat itu tidak menyurutkan keberanian mereka yang sudah dititik nadir melawan penjajah, bahkan mereka berani melawan walau hanya menggunakan bambu runcit.

Tibalah saatnya ketika hari itu datang, hari yang tidak akan pernah terlupakan oleh negeri ini. Hari dimana para rakyat dan pejuang kemerdekaan Indonesia bergelimang air mata, bercampur gembira, dan sedih. Ketika beberapa penggal kata deklarasi dibacakan oleh sang presiden. Semua orang di negeri ini terbius oleh beberapa penggal kata deklarasi yang dibacakan oleh presiden. Rasa kecintaan terhadap negeri ini terlahir dari rasa persatuaan dan kesatuan sama yaitu bersatu membangun negeri ini dengan rakyat sejahtera tanpa tertindas.

Itu sudah 66 tahun yang lalu, sejarah yang terukir dibenak negeri ini dan tercatat didalam rentang waktu yang khan berulang, sejarah yang tak boleh kita lupakan, sejarah yang harus selalu ditanamkan kepada penerus bangsa. Karena dengannya kita akan terdorong keinginan yang sama melawan kebatilan. Tahun2 sesesudah merdekanya negeri ini, apakah lantas kita benar2 terbebas dari belenggu tempurung yang menyengsarakan rakyat?. Bila dilihat dari perkembangan zaman, peralihan presiden dari waktu ke waktu, ternyata masih menyisakan masalah-masalah yang tak selesai bahkan sampai sekarang pun masih berlanjut, menjadi pekerjaan berat bagi kita. 


Salah satu masalah yang tidak berkesudahan sampai sekarang ini adalah apa yang dinamakan dengan KORUPSI. Suatu masalah yang menjadi akut berkepanjangan, yang memanjang seperti rantai yang kuat kekar karena selalu ada penerus selanjutnya.
Sulit sekali memutus rantai tersebut, karena panjangnya yang bercabang dari setiap dimensi sangat mempengaruhi tingkah laku bergeraknya sub rantai, dengan kata lain mainstream lebih kuasa dari badai kecil. Mencari mata rantainya pun terasa sangat sulit, oleh karena dari setiap satu rantai itu licin dan banyak kotoran yang mampu menyelipkan sesuatu yang akan membersihkannya. 

Apakah yang terjadi sebenarnya di negeri ini?. Bukankah kita pernah mengenyam pelajaran penting bagaimana para pahlawan pejuang kemerdekaan kita telah menyumbangkan keringat, raga bahkan nyawa untuk berkorban demi terlepas dari tempurung besi (penjajah). Janganlah sampai kita tidak menghargai jasa-jasa perjuangan mereka, jangan sampai berpikir bahwa kami (para koruptor) menghargai mereka sebagai pahlawan yang mampu mengubah wajah Indonesia, kalau negeri indonesia tidak seperti sekarang bagaimana mungkin kami bisa korupsi?. Naas.

Permasalahan ini tidaklah merta harus ditinggalkan begitu saja bagai angin berlalu tiada jejak, karena bagaimanapun juga mereka sama saja dengan penjajah, merampok uang rakyat demi kepentingan mereka dan menyengsarakan rakyat, bila saya ingin berujar, menurut saya para koruptor itu lebih kejam dari penjajah karena mereka adalah saudara setanah air kita, saudara yang seharusnya mempunyai dan mengemban visi dan misi yang sama untuk membangun negeri Indonesia. Bedanya mereka telah berkhianat pada leluhur negeri ini.

Bila demikian yang terjadi legowolah bila saya menyatakan bahwa: 


Kita ini memang sudah merdeka dan sudah terlepas dari tempurung besi namun kenyataanya sekarang kita malah terkungkung dalam tempurung korupsi, Naas. 

Saya jadi teringat pesan Bung Karno yang menyatakan bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena melawan panjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri”. Kutipan Bung Karno tersebut menyiratkan makna yang dalam bagi kita, sebuah pesan yang tegas mengatakan bahwa kita akan kesulitan melawan saudara sendiri, dalam hal ini para kaum koruptorlah yang menjadi saudara setanah air kita. 

Ada hubungan kausalitas antara perjuangan melawan penjajah dan perjuangan melawan saudara sendiri. Suatu perjuangan terdorong karena adanya ketidak adilan yang dilakukan penjajah atau saudara sendiri pada rakyat. Oleh karena itu didapatilah bahwa pesan diatas sangat lugas menyiratkan bahwa kita masih mempunyai pekerjaan yang belum selesai, dan harus diselesaikan untuk menggapai apa yang dicita-citakan para pejuang kemerdekaan dan seluruh rakyat Indonesia.

Ini bermula dari setetes kata durja
Menjadi luka terhadap sesama
Membiarkan persaudaraan terlantar dusta
Memberikan amarah mengembang menjadi juara

Dari segalanya...

Tak bisakah kita duduk diam tersenyum meminum kopi
Menyelesaikannya tanpa ada siratan yang membekas hati
Sulit mungkin, tapi perdamaian itu masa depan, akan terjadi
Kita pudar akan pandangannya, kita hitam untuk melalui

Bercermin

Bukankah kita sudah mengarungi sejarah
Melalui perahu kata kita diberi arah untuk mengubah
Meniru cerita bijak lakon pewayangan pra sejarah
Tak ubahnya seperti kehidupan yang terus berubah

Belajarlah ...

Lalu bekas luka itu bisa kita obati dengan kesadaran
Dengan kecemasan eksistensinya, kita cemas dan kita sadar
Jangan sampai tekad bulat kita terpecah tipu muslihat yang menimpa yudisthira
Terkungkung oleh keegoisan, ketamakan, kekuasaan dan kesemuanya. inilah akhirnya terpecah dalam keadaan

Apakah anda mempunyai perasaan sama setelah apa yang dilakukan negeri tetangga kita?! kenapa saya tidak menulisnya sebagai negara serumpun lagi?! khusus dari pribadi saya sendiri bahwa sikap yang dilakukan pemerintah malaysia itu telah menyakiti hati orang-orang indonesia. serumpun bagi saya adalah hal yang terikat dan selalu mempunyai ikatan erat. berbeda jauh dengan apa yang terjadi belakangan ini diantara Indonesia dan malaysia. apa yang saya lihat telah terjadi beberapa bulan yang lalu ketika dengan tidak sengaja saya membuka situs yang dimana didalamnya tersebut sangat menghina sekali terhadap indonesia. mengapa terjadi begitu demikian?!

Saya sendiri aja marah besar ketika membacanya, arogansi dan sikap malaysia sangat menyakiti hati saya. suatu contoh aja dulu ketika malaysia ingin menyatukan Brunai, serawak menjadi sebuah persekutuan melayu. sebuah konfrontasi yang sangat ilegal menurut saya. dan mungkin kita masih ingat ketika pengklaiman kepulauan Sipadan dan Ligitan oleh Malaysia sebagai wilayah mereka. tak pelak hal inilah yang membuat hati orang-orang indonesia berang, dan itu wajar sekali. sekarang ini permasalahan baru muncul kembali, dengan ditangkapnya para pelayan yang dituduh melewati batas perairan malaysia.

Kabar terbaru bahwasanya malaysia telah kehilangan kesabaran atas perlakuan orang-orang indonesia yang katanya keterlaluan. mereka tidak tahu bagaimana orang-orang indonesia yang dari dulu telah kehilangan kesabaran dengan sikap malaysia. mungkin karena tidak ada sikap tegas dari pemerintah terhadap perlakukan malaysia, yang menyebabkan malaysia lebih arogan. satu kata dari saya. kecewa.

Tidak terlepas dari itu, harusnya pemerintah bersikap tegas dan praktis tanpa banyak retorika yang hanya terlontar dari kata-kata. kalau diputusan akhir pertentangan ini berlanjut peperangan. kita siap karena kita punya harga diri bangsa yang bisa menjadi tameng untuk berperang melawan malaysia. tanpa sejata yang mahirpun kita berani melawan malaysia. karena ini menyangkut harga diri bangsa. tentunya dengan bambu runcing. hehew ...save our nation . love indonesia.

Ingatlah apa yang telah soekarno pesankan kepada kita dengan kata-kata yang membuat detik jantung berdetak kencang, dan siap melawan. "GANYANG MALAYSIA"...