ARCHIVE

Default Thumbnail


The great day has come, we may say thankful to the lord majesty. Let's write all the mistake down the sands, and let's the wind of forgiveness erase it away.
Give me young people. I'll give the world the strong.
Begitu banyak keringat bahkan nyawa yang tidak sedikit berjatuhan, pengorbanan mereka tak lain hanyalah menginginkan negeri ini mampu bernafas lega menatap masa depan cerah. Mereka tidak pernah gentar melawan penjajah yang seyogyanya tidak merasa kasihan pula menjajah rakyat Indonesia. Penjajah itu rakus dan kejam bahkan menyengsarakan, bukankah kita tahu bahwa dulu banyak kekayaan negeri Indonesia banyak dikeruk dan diambil hanya untuk kepentingan mereka?.

Mereka duduk santai tertawa-tawa berdiskusi tentang hasil jajahannya, sementara rakyat pribumi menjadi mesin hidup pencari harta bagi mereka. Ironis sekali, sungguh drama hidup yang harus dijadikan pembelajaran bagi kita para pewaris negeri Indonesia. 

Penjajah yang seenaknya saja menduduki negeri makmur ini tak pernah mau memikirkan keadaan rakyat dan kalaupun ada dari mereka yang berkelakuan sebaliknya maka pasti ada sesuatu yang ingin mereka pikirkan, dengan kata lain mereka adalah pembohong dan selalu ingkar janji, kita tahu itu. 

Mereka yang datang ke negeri ini bukan karena tiba-tiba, melainkan akibat kekalahan besar yang dialami mereka selama perang dunia II, mereka itu miskin dan dari kemiskinannya itu mereka berpikir bagaimana caranya membenahi semua dari awal. Namun yang namanya manusia pasti akan selalu ada sisi jahat yang tidak bisa terlepas dari manusia, karena manusia pada hakikatnya mempunyai dua sisi, yaitu baik dan jahat. Jahatnya mereka berpikir, yah tentu saja dengan menjajah, memperbudak rakyat pribumi hanya demi kekayaan mereka (penjajah).

Kalau dipikir ulang kembali dan memaknai hari kemerdekaan ini, maka akan ada berjuta rasa hormat yang teramat sangat kepada mereka pahlawan negeri ini, dengan nya kita bisa menikmati hari-hari yang berbeda dengan hari dimana mereka gigih berjuang melawan penjajah. Bayangkanlah mereka yang berani melawan penjajah adalah mereka yang mempunyai hati besi, walaupun tidak mempunyai senjata besi seperti penjajah, namun mereka mampu menjadi makhluk menakutkan bagi lawan. Banyak dari mereka kaum penjajah yang kocar-kacir melawan pejuang Indonesia,  dengan strategi perang gerilya lah pejuang Indonesia mampu memukul mundur para penjajah. Perlu diingat pula bahwa tiadanya senjata yang memadai yang digunakan pejuang pada saat itu tidak menyurutkan keberanian mereka yang sudah dititik nadir melawan penjajah, bahkan mereka berani melawan walau hanya menggunakan bambu runcit.

Tibalah saatnya ketika hari itu datang, hari yang tidak akan pernah terlupakan oleh negeri ini. Hari dimana para rakyat dan pejuang kemerdekaan Indonesia bergelimang air mata, bercampur gembira, dan sedih. Ketika beberapa penggal kata deklarasi dibacakan oleh sang presiden. Semua orang di negeri ini terbius oleh beberapa penggal kata deklarasi yang dibacakan oleh presiden. Rasa kecintaan terhadap negeri ini terlahir dari rasa persatuaan dan kesatuan sama yaitu bersatu membangun negeri ini dengan rakyat sejahtera tanpa tertindas.

Itu sudah 66 tahun yang lalu, sejarah yang terukir dibenak negeri ini dan tercatat didalam rentang waktu yang khan berulang, sejarah yang tak boleh kita lupakan, sejarah yang harus selalu ditanamkan kepada penerus bangsa. Karena dengannya kita akan terdorong keinginan yang sama melawan kebatilan. Tahun2 sesesudah merdekanya negeri ini, apakah lantas kita benar2 terbebas dari belenggu tempurung yang menyengsarakan rakyat?. Bila dilihat dari perkembangan zaman, peralihan presiden dari waktu ke waktu, ternyata masih menyisakan masalah-masalah yang tak selesai bahkan sampai sekarang pun masih berlanjut, menjadi pekerjaan berat bagi kita. 


Salah satu masalah yang tidak berkesudahan sampai sekarang ini adalah apa yang dinamakan dengan KORUPSI. Suatu masalah yang menjadi akut berkepanjangan, yang memanjang seperti rantai yang kuat kekar karena selalu ada penerus selanjutnya.
Sulit sekali memutus rantai tersebut, karena panjangnya yang bercabang dari setiap dimensi sangat mempengaruhi tingkah laku bergeraknya sub rantai, dengan kata lain mainstream lebih kuasa dari badai kecil. Mencari mata rantainya pun terasa sangat sulit, oleh karena dari setiap satu rantai itu licin dan banyak kotoran yang mampu menyelipkan sesuatu yang akan membersihkannya. 

Apakah yang terjadi sebenarnya di negeri ini?. Bukankah kita pernah mengenyam pelajaran penting bagaimana para pahlawan pejuang kemerdekaan kita telah menyumbangkan keringat, raga bahkan nyawa untuk berkorban demi terlepas dari tempurung besi (penjajah). Janganlah sampai kita tidak menghargai jasa-jasa perjuangan mereka, jangan sampai berpikir bahwa kami (para koruptor) menghargai mereka sebagai pahlawan yang mampu mengubah wajah Indonesia, kalau negeri indonesia tidak seperti sekarang bagaimana mungkin kami bisa korupsi?. Naas.

Permasalahan ini tidaklah merta harus ditinggalkan begitu saja bagai angin berlalu tiada jejak, karena bagaimanapun juga mereka sama saja dengan penjajah, merampok uang rakyat demi kepentingan mereka dan menyengsarakan rakyat, bila saya ingin berujar, menurut saya para koruptor itu lebih kejam dari penjajah karena mereka adalah saudara setanah air kita, saudara yang seharusnya mempunyai dan mengemban visi dan misi yang sama untuk membangun negeri Indonesia. Bedanya mereka telah berkhianat pada leluhur negeri ini.

Bila demikian yang terjadi legowolah bila saya menyatakan bahwa: 


Kita ini memang sudah merdeka dan sudah terlepas dari tempurung besi namun kenyataanya sekarang kita malah terkungkung dalam tempurung korupsi, Naas. 

Saya jadi teringat pesan Bung Karno yang menyatakan bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena melawan panjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri”. Kutipan Bung Karno tersebut menyiratkan makna yang dalam bagi kita, sebuah pesan yang tegas mengatakan bahwa kita akan kesulitan melawan saudara sendiri, dalam hal ini para kaum koruptorlah yang menjadi saudara setanah air kita. 

Ada hubungan kausalitas antara perjuangan melawan penjajah dan perjuangan melawan saudara sendiri. Suatu perjuangan terdorong karena adanya ketidak adilan yang dilakukan penjajah atau saudara sendiri pada rakyat. Oleh karena itu didapatilah bahwa pesan diatas sangat lugas menyiratkan bahwa kita masih mempunyai pekerjaan yang belum selesai, dan harus diselesaikan untuk menggapai apa yang dicita-citakan para pejuang kemerdekaan dan seluruh rakyat Indonesia.


Berjumpa lagi dengan saya, setelah sekian lama tidak memposting tulisan terbaru, sekarang saya kembali dengan berjuta kata, hhe. Untuk postingan kali ini saya masih fokus tentang kebahasaan, karena saya ingin memfokuskan diri terhadap ilmu linguistik dengan aspek-aspek yang berkaitan termasuk budaya. Dengan fokus pada bahasa seengganya tulisan-tulisan saya ini bisa menjadi bermanfaat bagi diri saya dan bagi diri anda. 

Teman, mungkin pernah ada yang mendengar kota Pare?. Kota yang terletak diantara Malang dan Kediri, tepatnya di desa tulungrejo. Kota tersebut merupakan kota kecil namun mempunyai ciri khas yang sangat unik sekali. Yah kampung inggris, begitulah sebutannya.

Dalam postingan saya sebelumnya pernah disinggung bagaimana latar belakang kota Pare ini terkenal dengan istilah kampung Inggris. Namun pada postingan kali ini saya membatasi ruang hanya pada aspek tertentu saja.

Teman mungkin bertanya-tanya tentang apakah benar disana ada kampung Inggris, apakah benar semua orang disana (tukang baso, dll) memakai bahasa inggris dalam kesehariaannya?. Jawaban tersebut ada memang benar adanya  tapi jangan lupa bahwa kesalahannya pun banyak. Seringkali orang-orang yang selesai mengabdi disana banyak yang bercerita bahwa istilah "semua orang ngomong bahasa Inggris itu engga bener". Nyatanya memang benar bahwa ketika dulu saya kesana, orang-orang disana kebanyakan pake bahasa ibunya dibanding bahasa Inggris.

Banyak yang menyayangkan pembicaraan bahwa di Pare semua orang berbahasa Inggris, karena hal tersebut memunculkan harapan yang besar bagi peminat yang ingin belajar bahasa Inggris ke Pare. Orang-orang akan merasa bengong ketika sampai ditempat tujuan ternyata banyak dari mereka memakai bahasa jawa, madura dan lain-lain. Perlu diingat pula bahwa di Pare, kita hanya mempunyai komunitas2 tertentu untuk bisa berbicara bahasa Inggris dengan rutin, satu misalnya: English area di tempat kotsan kamu, dan dua dengan teman berkumpul yang mempunyai tekad bulat untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai Lingua Franca selama tinggal di Pare. 

Teman-teman yang belum pernah singgah kesana janganlah ragu bila ingin mencoba belajar bahasa disana. Hal diatas tersebut tidak menyurutkan para peminat bahasa Inggris untuk bersinggah ke tempat yang memiliki berjuta kenangan itu, karena tidak sedikit dari orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan disana menjadi sukses dan baik mengenal bahasa Inggris, termasuk saya. hehe :)


Kenapa harus kata ngabuburit-Zakiiaydia

Dalam postingan ini akan dibahas mengenai kenapa harus kata ngabuburit yang selalu ramai digunakan ketika bulan ramadhan tiba.

Kata ngabuburit pertamanya berasal dari burit namun dengan penambahan awalan Nga dan proses redupklikasi dwipurwa (pengulangan kata imbuhan pertama) kata tersebut menjadi ngabuburit. Bagi kalangan orang sunda sudah barang tentu mengenal jargon ngabuburit, hal itu tak lain karena kata ngabuburit pada awalnya berasal dari bahasa sunda yang mempunyai arti awal "senja/sore".

Secara etimologis kata ngabuburit mempunyai arti menunggu senja, senada dengan pengertian diatas dalam Lembaga Basa dan Sastra Sunda (LBSS), ngabuburit berarti ngalantung ngadagoan burit, yang artinya kurang lebih bersantai-santai sambil menunggu waktu sore. Namun secara istilah kata ngabuburit mempunyai makna yang lebih luas karena kata ngabuburit senantiasa menjadi jargon yang khas ketika bulan ramadhan tiba, ngabuburit bisa diartikan menunggu buka puasa sambil menghabiskan waktu dengan aktivitas-aktivitas yang positiv.

Pengertian itu sejalan dengan makna ngabuburit yang tercantum dalam Ensiklopedia Sunda: menunggu saat berbuka puasa sambil mengerjakan sesuatu atau bermain-main, berjalan-jalan sekadar melupakan perut lapar sampai magrib.

Fenomena meluasnya pemakaian kata ngabuburit di iklan atau di acara TV setidaknya harus sedikit dipertanyakan, kenapa harus kata sunda "ngabuburit" yang senantiasa muncul di TV, iklan dan media lain-nya?. Kenapa tidak dari bahasa Jawa "ngenteni buko", Minang ataupun Bahasa yang ada di Indonesia?. Untuk menjawab nya mungkin saya akan memakai penilaian yang subjektif karena tulisan ini dimaksudkan untuk sedikit mengunggah penasaran saya, kenapa koq ngabuburit yang menjadi jargon yang terkenal?.

Pertama yang harus kita perhatikan adalah bahwa suatu bahasa itu tidak akan mungkin berkembang apabila tidak ada penutur yang berkomunikasi menggunakan bahasa, bahasa yang tidak dipakai dan kehilangan penuturnya lambat laun akan mengalami kepunahan. Demikian pula dengan fenomena menjamurnya kata ngabuburit pada saat ini, hal yang menyebabkan terjadi perluasan kata ini salah satunya adalah dikarenakan oleh penutur yang mempunyai peran penting untuk mengenalkan kata ngabuburit kepada penutur lain-nya.

Begitu penutur mengenal istilah ini makan tidak ada yang bisa menyangkal kata-kata ini sebagai jargon yang selalu diasosiasikan sebagai aktivitas menunggu buka puasa pada bulan ramadhan/hari puasa. Karena itulah bahasa adalah konvensional, yang artinya kata ngabuburit tidak menjadi buah pertanyaan lagi meskipun dikenalkan kepada penutur yang notabennya bukan orang-orang sunda. Contohnya mungkin sekarang banyak penutur yang bukan orang-orang sunda mulai menggunakan ngabuburit sebagai sebuah ajakan pada penutur lain-nya.

Lalu kenapa bukan dari bahasa lain sebagai pengganti kata ngabuburit?. Mungkin pertanyaan ini yang agak sedikit ruwet untuk dijawab. Namun pendapat saya tentang pertanyaan ini mungkin dikarenakan pada waktu dulu konon katanya pernah ada seorang artis keturunan sunda yang diwawancarai oleh salah satu TV terkemuka, lantas dia mengenalkan kata tersebut kepada khalayak masyarakat melalu media.

Media yang menjadi sesuatu alat komunikasi yang efektif ternyata mempunyai peran penting dalam pengenalan kata ngabuburit ini. Dengan terusnya digombar-gombarkan kata ngabuburit ternyata membuat masyarakat mulai terbiasa dengan kata ini dan lantas menggunakannya juga sebagai sebuah jargon yang khusus dipakai pada bulan ramadhan/hari-hari puasa.

Nah begitulah pembahasan yang sangat singkat sekali tentang kata ngabuburit, perlu digaris bawahi bahwa penulis dengan amat mengharapkan ada yang meninggalkan komentarnya tentang penulisan subjektif ini. Hal ini sangat berguna sekali bagi kita dalam mengupayakan belajar bareng didunia maya. Syukron jiddan.


D idalam perkembangan ilmu linguistik pastinya kita mengenal seorang ahli bahasa kenamaan yang berasal dari swiss bernama Ferdinand de Saussure. Selain sebagai ahli bahasa dia juga terkenal sebagai filsuf yang terpandang pada zamannya, karena berkat ide-ide cemerlang yang lahir dari pemikirannya banyak yang terpengaruh oleh pemikiran dia. 

Sebut saja yang terpengaruh oleh pemikiran saussure adalah Levi strauss, dia adalah seorang filsup yang terkenal dengan analisis mitos dengan menggunakan pendekatan strukturalisme. Pemikiran Levi ini tak lain adalah karena adanya pemikiran Saussure tentang teori Sign and signified atau juga oposis biner. Sampai sekarangpun masih banyak orang akademik yang masih menggunakan teori Saussure untuk menganilisis permasalahan-permasalahan yang bersangkutan.

Namun dalam pembahasan ini saya hanya ingin memaparkan pemikiran Ferdinand De Saussure terhadap bahasa sebagai kajiannya. Didalam dunia kebahasaan nama Saussure mempunyai kedudukan yang tinggi, hal itu terjadi karena pemikiran cemerlangnya mengenai bahasa banyak diterima oleh beberapa pemikir lain tentang bahasa. Kita harus tahu bahwa sebenarnya pemikiran Saussure ini bisa dibilang sangat mendasar namun daya pengaruhnya sangatlah luas. Salah satu yang menyebabkan hal itu terjadi mungkin karena dia seorang filsuf yang mempunyai pemikiran luas, dia tidak berpikir jangka pendek melainkan jangka panjang dan berpikir secara mendalam mengenai apa yang harus dipikirkan, dalam hal ini bahasa. 

 

Ferdinand Saussure dianggap sebagai bapak dari linguistik modern karena pemikirannya mengenai mekanisme bahasa, artinya dia melihat bahwa untuk mengetahui hakikat bahasa secara mendasar maka kita harus memulainya dengan melihat bagaimana bahasa itu hidup dan berkembang dalam kegiatan sehari-hari.


Untuk melihatnya maka Saussure menawarkan jalan keluarnya dengan memperkenalkan rumusan dikotomi yang terkenal yaitu:

 

Langue – parole, dan

Tautan sintagmatik – tautan paradigmatic

 

Dikotomi tersebut termaktub dalam salah satu buku termasyhurnya yaitu Cours de linguistique generale yang terbit pada tahun (1916). Dibawah akan dibahasa secara singkat mengenai langage, Langue dan parole berserta tautan sintagmatik dan paradigmatik.

 

Istilah pertama yang mungin sudah anda kenal adalah Langage. Apa itu Langage?. Langage adalah suatu alat yang sudah ada ketika kita terlahir ke dunia, dengan kata lain sesampainya kita didunia maka kita dibekali beberapa kemampuan oleh yang maha kuasa dan salah satunya adalah Langage. Chaer Alwasilah dalam bukunya mengatakan bahwa Langage adalah satu kemampuan berbahasa yang ada pada setiap manusia yang sifatnya pembawaan. Dengan demikian kita dapati bahwa langage itu adalah sesuatu anugerah yang diberikan oleh kita dari yang maha kuasa.

 

Namun untuk menyeimbangi kemampuannya itu diperlukan juga kesadaran untuk mengetahui bahwa dalam perkembangannya Langage sangat dipengaruhi oleh alam sekitar dimana kita hidup. Bukankah kita hidup tidak hanya untuk diam, seperti air yang menggenang menjadi kuning dan mengeluarkan bau busuk. Oleh karena itu benarlah bahwa pembawaan langage ini mesti dikembangkan dengan lingkungan dan stimulus yang menunjang (Chaer).

 

Langue – Parole

 

Kita sudah mendapati pembahasan mengenai Langage diatas, sedikitnya kita mengerti bahwa yang ada pada langage masih sebatas abstraksi saja. Berbeda dengan langage, Langue mungkin berada pada satu tahap diatas langage, artinya bentuk langue tidak hanya sebatas abstraksi saja melainkan sudah menjadi sekumpulan totalitas fakta satu bahasa (Chaer). Langue tidak hanya dimiliki oleh sekumpulan individu namun langue mempunyai pengaruh untuk membuat individu itu mempunyai kadar yang universal. Kita orang Indonesia mempunyai satu langue yaitu langue Indonesia, begitu pula dengan bahasa-bahasa local.

 

Diatas disebutkan bahwa langue itu mempunyai kadar yang universal, artinya adalah ada aturan khusus dalam langue yang diamini oleh orang-orang. Umpanya dalam bahasa Inggris maka kita mempunyai aturan tata bahasa untuk membuat kalimat, menentukan kata ataupun pengucapan. Nah aturan itulah yang disebut berkadar universal. Bayangkan kalau orang-orang Inggris tidak mempunyai aturan dalam berbahasa mungkin tidak akan terjalin komunikasi, oleh karena itu betul lah bahwa bahasa itu adalah sistem.

 

Sedangkan yang dinamakan parole adalah wujud dari langue tadi, jikalau tidak ada langue maka tidak akan ada parole dan tidak ada langage maka tidak aka nada keduanya. Parole menurut Chaer adalah ujaran seseorang, yaitu apa yang diucapkan dan apa yang didengar oleh penanggap ujaran. Dengan demikian, maka parole adalah wujud dari apa yang langue ucapkan dan bisa teramati oleh para linguis.

Tautan Sintagmatik – Paradigmatik

 

Menurut Ferdinand de Saussure wujud semua kalimat itu memiliki hubungan satu sama lain atau rangkain dari tanda-tanda yang membentuk sebuah kalimat. Tanda-tanda dari kalimat itu mempunyai fungsinya masing-masing, karena kalau tanda-tanda itu tidak menempatkannya sesuai dengan rangkaian maka akan terjadi yang namanya tautan tidak sah (baca:Chaer)

 

Sebagai contoh, perhatikan ilustrasi berikut:

 

she will go tomorrow

 

Kalimat diatas terdiri dari empat tanda yang mempunyai fungsi dan kedudukan yang berbeda-beda, sehingga jika keempat tanda itu sudah pas dalam fungsinya makan aka nada suatu pengertian yang utuh dari kalimat diatas. Perlu digaris bawahi bahwa yang menjadi tautan sintagmatik dari kalimat diatas diabstraksikan oleh: N + Aux Verb + Main verb + Adverb. Dan rumusan itu sudah menjadi baku untuk dipakai didalam bahasa Inggris.

 

Berbeda lagi kalau kalimat diatas dirubah menjadi:

 

Tomorrow go will zakii

 

Kalimat diatas tidak sesuai kaidah tautan yang Saussure katakana, ke empat tanda yang ada dalam kalimat tersebut tidak menduduki fungsinya yang tepat, oleh karena itu kalimat diatas tidak bisa kita mengerti secara utuh dan melanggar pola.

 

Sekarang mari perhatikan lagi contoh pertama, maka kita dapati bahwa ada empat jenis kata yaitu: she adalah kata ganti, will dari kata Bantu, go dari kata kerja, tomorrow dari kata keterangan waktu. Ke empat jenis tersebut dalam suatu struktur tata bahasa mempunyai tautan-tautan lain-nya yang bisa menggantikan kedudukan mereka dan tautan itu adalah tautan paradigmatic. She bisa diganti dengan He, will bisa digantik oleh must, go bisa diganti dengan write dan lain-nya.

 

Dari pemaparan yang sangat singkat mengenai Langage, Langue, parole dan tautan sintagmatik – paradigmatik diatas, maka akan didapati bahwa semua istilah tersebut mempunyai hubungan yang erat, satu sama lain saling mengisi dan berpengaruh. Tidak akan ada langue bila tidak ada langage, tidak aka nada parole bila tidak ada langue. Begitu pula dengan tautan sintagmatik dan paradigmatik. Syukron jiddan.



Mendefinisikan asal usul bahasa memang tidak segampang kita mengatakan: bahwa ada keterlibatan Tuhan, Dewa atau kepercayaan lain-nya dalam wacana asal usul bahasa. Pada periode awal memang para penganut teori divine origin mempunyai keyakinan bahwa asal usul bahasa itu adalah akibat adanya campur tangan Tuhan atau Dewa. Seperti contoh ketika Tuhan mengajarkan nama-nama benda yang ada didunia kepada Nabi Adam sebelum diturunkannya ke dunia, hal tersebut mengindikasikan bahwa Tuhan mempunyai peranan bagaimana manusia berbahasa. 

Lebih jauh lagi sebagian orang ada yang mengakui bahwa bahasa pertama itu adalaha bahasa nenek moyangnnya. Pada abad ke 17 mungkin menjadi sebuah sejarah yang tidak pernah terlupakan, seorang Andreas Kemke membuat pernyataan bahwa disurga Tuhan berbicara bahasa Swedia, sementara Nabi Adam berbahasa Denmark, sedangkan Naga berbahasa Prancis. Bahkan ada cerita dari Mesir yang lebih meyakinkan lagi tentang asal usul bahasa. Konon pada abad ke 17 SM seorang raja meser yang bernama Psammetichus mengadakan penelitian tentang bahasa pertama. Dia berkeyakinan bahwa seorang bayi yang dibiarkan tumbuh sampai berusia dua tahun tanpa diajak berbicara akan mengatakan sepatah dua patah kata, yang artinya bahasa yang pertama kali diucapkan kedua bayi tersebut adalah bahasa pertama. Alangkah terkejutnya ketika salah satu dari kedua bayi tersebut mengatakan Becos yang artinya roti dari bahasa mesir. 

Secara kasat mata apa pernyataan tersebut termasuk kategori hal yang logis atau rasional? Mungkin saya menginginkan pendapat para pembaca mengenai pernyataan Andrea Kemke ataupun Raja mesir diatas. Apakah pernyataannya itu termasuk hal yang logis atau rasional?. Hal ini perlu dijawab karena pada abad setelahnya yakni abad 18 SM spekulasi tentang bahasa berubah secara drastis. Apa yang dikatakan ada keterlibatan Tuhan, Dewa, dan Hal mistis dianggap tidaklah tepat.

Adalah karya Johann Gotfried (On the Origin of Language) yang mula-mulanya berpendapat bahwa tidaklah tepat apabila mengaitkan hal-hal yang mistis dalam penciptaan bahasa adalah anugerah illahi. Setelah itu banyak karya-karya yang bermunculan yang khusus membahasa asal usul bahasa diantaranya: Darwin dengan Pooh-pooh Theory, Max Muller dengan Dindong Theory, Yo he ho Theory, Bow bow Theory dan Gesture theory. 

Menurut hemat saya, kelahiran teori ini tidak akan terlepas dari perubahan paradigma pada zaman dimana mereka hidup, dimana manusia dan alam lebih menjadi seorang kreator bagi yang mereka ciptakan. Hal itu sangat mencolok pada teori-teori mereka yang menyangkut pautkan beberapa fase organik manusia dalam kehidupan sosial dan tidak menghendaki anugrah illahi. Apa yang mereka tangkap adalah sesuatu yang bisa direpresentasikan menjadi sebuah definisi.

Dengan penjelasan yang sangat singkat diatas, kiranya ada dua hal yang paling sentral dari para pemikir yang mempunyai perbedaan pendapat mengenai asal usul bahasa. Yang pertama adalah Adanya keterlibatan muatan Illahi atas penciptaan bahasa dan yang kedua adalah bahwasanya manusialah yang menjadi titik penting adanya asal usul bahasa tersebut. 

Sebenarnya kedua pemikiran diatas mempunyai hubungan yang erat. Menurut hemat saya kedua teori tersebut saling berhubungan, karena manusia yang merupakan makhluk ciptaan tuhan yang diberi akal, fisik, alat indera (termasuk bicara), dan manusia sebagai makhluk sosial pasti akan mengalami perkembangan interaksi didalam kehidupan. Apa-apa yang bisa diindrai maka bisa dimaknai dan dirasakan dan dihantarkan lewat bahasa, senada dengan West yang menyatakan bahwa Speech, as language, is the result of mans' ability to see phenomena symbolically and of the necessuty to express his symbols. 

Sekiranya perlu disadari bahwa masih banyak yang harus jelaskan mengenai asal usul bahasa pertama, penjelasan diatas hanya setetes embun dari arus sungai deras yang mengalir. Semua mampu untuk berpikir tentang asal usul bahasa pertama, seperti yang pernah saya utarakan bahwa kita terlahir dengan kemampuan untuk berbahasa. Sedari kecil kita tidak pernah menyadari bahwa ada hal penting dibalik kemampuan itu yang harus kita pikirkan. Bahasa apakah yang pertama yang muncul didunia?. Atau haruskah kita mengubah pertanyaan dengan mengapa kita bisa berbicara?apakah ada suatu wahana yang membuat kita berbeda bahasa? 

Adakalanya bahasa itu seperti Pulpen, hanya akan berfungsi ketika ada tinta. (ini pengandaianku, mana pengandaianmu) :D