ARCHIVE

Default Thumbnail

Showing posts with label Analisis. Show all posts
Showing posts with label Analisis. Show all posts
Rendra

Ada hubungan apa antara Rendra sang pujangga itu, dengan Pendakwah Evie Effendie? Padahal diantara mereka terpaut tahun yang begitu jauh, di tambah dunia mereka pun bisa di katakan berbeda satu sama lain.

Kalau di pikirkan yah memang tidak ada hubungan langsung di antara mereka, tapi bagi saya kedua sisi tersebut bisa-bisa saja dipertemukan dalam satu konteks. Khususnya berkaitan dengan kasus yang baru-baru ini menimpa pendakwah Evie Effendie. Loh koq Rendra bisa yah diajak-ajak?

Sebelumnya siapa yang tak kenal Rendra. Berparas rupawan berjiwa budayawan yang kiranya sudah dikenal banyak orang, singkatnya beliau adalah legenda. Saya, pribadi menyukai karya beliau, khususnya sajak beliau yang berjudul 'Sajak seorang tua untuk istrinya'.

Ilustrasi

Pengantar: Pribumi?

Indonesia ini bukan negara kemarin sore. Ia tidak tercipta dengan sendirinya, melainkan terbentuk oleh kepingan-kepingan sejarah yang beragam dan dengan periode waktu yang panjang. Nantinya kepingan-kepingan tersebut menjadi sebuah pondasi penting dari berdirinya sebuah negara yang kita kenal dengan Indonesia. Yah ibarat sebuah payung, Indonesia mengayomi berbagai suku dan ras yang beragam.

Keberagaman serta kedamaian yang ada di Indonesia setidaknya telah terjalin selama beberapa abad. Sumber-sumber sejarah banyak mencatat adanya suatu kegiatan antara orang-orang yang kelak akan dikategorikan sebagai "pendatang" dengan orang-orang lokal atau kelak akan diistilahkan "pribumi".

Dikotomi Bahasa dan Imbasnya Pada Masyarakat 

Tapi sebetulnya istilah pendatang atau pribumi itu agaknya muncul belakangan. Berbarengan dengan pendudukan Belanda di Indonesia. Tentu hal tersebut menimbulkan sebuah dikotomi yang cukup menganga. 

Kasarnya ada sebuah permainan bahasa yang dilakukan Belanda untuk membuat sebuah klasifikasi sosial di masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari peraturan Belanda tahun 1854 yang membagi penduduk dalam 3 kelas. Dan ini cukup rentan untuk membelah rasa kebersamaan yang sudah terjalin cukup lama diantara penduduk Indonesia.

Apalagi kalau bumbu permasalahan yang melekat pada istilah ini adalah isu rasial. Tentu permasalahan yang lebih serius akan muncul. Mungkin tragedi yang pernah terjadi pada tahun 1998 lalu itu bermula dari adanya kehidupan yang tumpang tindih antara pribumi dan non pribumi. Begitulah kiranya kalau istilah tersebut dikatakan tanpa sebuah kutipan.

Karena itu kita harus mengapresiasi langkah politis yang pernah dilakukan mantan Presiden Republik Indonesia yang ke 3, B.J Habibie. Dengan dikeluarkannya peraturan pemerintah no 26 tahun 1998 maka dikotomi antara istilah pribumi dengan non pribumi itu dilarang.

Permasalahannya adalah apakah dengan adanya peraturan tersebut, maka permasalahan tentang pribumi dan non pribumi itu selesai?

Mencuat Kembali

Ternyata pada pengaplikasiannya istilah pribumi atau non pribumi masih saja ditemukan. Istilah ini kerap kali dipakai baik oleh para pejabat atau masyarakat biasa. Namun hal ini bisa menjadi sebuah permasalahan besar kalau istilah pribumi digunakan untuk menegaskan identitas rasial.

Baru-baru ini ada sebuah berita yang mengabarkan bahwa terdapat kejadian tabrak lari di daerah Bekasi. Pas kejadian tersebut ada sebuah sikap rasial yang dilontarkan oleh pengemudi mobil, yang dikatakan menabrak dengan sengaja. Belakangan banyak beredar bahwa kalimat yang terlontar tersebut adalah "Dasar pribumi miskin".

Sangat disayangkan sekali kalau memang benar hal itu terjadi. Selain melanggar hukum, apa yang diucapkan pengemudi itu bisa saja menyulut sebuah konflik horizontal atau memperjelas kembali isu rasial yang dulu pernah menjadi lembaran kelam. Tentu kita semua tidak mau hal itu terjadi.    


A da yang ramai ketika dunia perfilman di Indonesia, dikerucutkan lagi, khususnya dunia sinetron dengan beberapa tema religi menghiasi layar kaca semua masyarakat. Lekas ketika semua itu berjalan, menghiasi setiap waktu istirahat, maka beberapa orang akan mendapat perasaan yang berbeda tentang sinetron itu. 

Ada yang menemukan suatu kesenangan tiada tara dengan menonton film tersebut tapi banyak pula yang senantiasa membicarakan satu sisi lain dari banyaknya sinetron yang bertemakan religi di Indonesia saat ini. Kedua sisi tersebut merupakan suatu hal yang pasti apabila satu wujud adiluhung menjelma dalam bingkai media apapun itu.

 

Lantas beberapa opini pun mulai terkuak. Ada yang berbicara “Ambil saja sisi negatif dari semua yang ada”, “Dengan adanya acara ini semoga kita mendapatkan hikmahnya”, dan lain-lain. Namun disisi lain, disamping respon positif masyarakat terhadap sinetron tersebut, banyak pula yang mengatakan bahwa sinetron ini “Jauh dari substansi kebenaran aslinya”, “Merendahkan ajaran agama yang dipertontonkan”, dan lain sebagainya.

 

Pro dan kontra dalam dunia media itu adalah hal yang biasa kita temukan. Untuk masalah ini khususnya, kita bisa menarik ulang kembali bagaimana ketika berbagai orang-orang ramai membicarakan tentang ustadz-ustadz yang sering muncul dalam layar kaca, atau ustadz ini dikenal juga dengan sebutan ustadz seleb. Untuk ukuran mereka yang berdakwah pun takan terhindar dari kritikan yang muncul di masyarakat. Apalagi dalam dunia sinetron!

 

Tidaklah salah apabila negeri seberang, Brunai, dalam suatu ungkapannya, mengatakan bahwa mereka perihatin dengan sinetron-sinetron religi yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi Indonesia.

 

Kritikan yang dilontarkan Brunai itu bukanlah tanpa alasan semata melainkan terlahir dari berbagai alasan yang masuk diakal. Saya rasa bila kita percaya terhadap hukum dialektika maka kita akan mengamini bahwasanya apa yang ada didalam media, sebagiannya, sangatlah berpengaruh penting terhadap bagaimana masyarakat melihat sesuatu.

 

Beberapa sinetron yang pernah saya tonton, misalnya, disatu sisi memang membuat kita bisa tertawa tapi disisi lain, media sebagai agen citra, sinetron tersebut membuat isi dari apa yang sebenarnya seorang, sebut saja, Ustadz, santri, muslimin dsb, itu menjadi tak kentara lemah adanya. Akibatnya bila tak ada kritikan atau sikap kritis yang dibenahi oleh penonton maka nilai-nilai yang ditampilkan dalam sinetron tersebut menjadi tak berimbang.

 

Sinetron Kita: Dari Religius ke Mistik

 

Kritikan terhadap dunia sinetron Indonesia tidak hanya bisa dilihat dari sisi religius semata akan tetapi bisa ditemukan juga pada sisi sejarah ke Indonesiaan. Seperti yang dilansir Yahoo.com dalam salah satu berita-beritanya yang selalu heboh, dikatakan bahwa sineas Indonesia, khususnya yang bertemakan kepahlawanan sejarah Indonesia, dinilai sebagai sebuah wujud yang tak harmoni dengan apa yang dirasa benar.

 

Lebih lanjut sineas tersebut sepertinya dianggap sebagai sebuah proses dekonstruksi hebat terhadap peristiwa sejarah yang mempunyai wujud tak sebanding dengan apa yang ditawarkan visual kontemporer sekarang. Sangat wajar bila salah seorang sejarawan Indonesia, yang secara intens, memperlajari tentang sejarha majapahit & Gajah Mada merasa kecewa dengan apa yang ditampilkan dalam sinetron.

 

Dikatakan mereka kecewa dengan bagaimana mereka menyimbolkan Gajah mada, yang ada disinetron, dengan gambaran orang yang sangat kuat, sakti mandraguna, dan dibacok kuat. Bila mereka mempunyai pemikiran begitu, saya sangat setuju. Dan saya pula mempunyai perasaan yang, sama, tak kentara apabila melihat cerita yang ditayangkan dalam sinetron Raden Kian Santang.

 

Disatu sisi memang tak semua yang ada dalam sinetron tersebut salah namun sebagai seorang yang selalu senantiasa menunggu dulu sambil pikiran mampu untuk diterima jiwa, saya merasa haruslah ada satu sikap yang kritis untuk melihat apa yang selalu direksa mata.

 

Ada beberapa bagian yang selalu membuat saya tertawa sinis bila melihat, tanpa ada satu ekstasi pikiran, sinetron ini. Yang selalu saya soroti, selain penggambaran ajaran Islam, adalah bagaimana citraan seorang ulama yang ada didalam sinetron tersebut. Menghilang dengan sekejap, muncul dengan sekejap ditempat yang mereka inginkan, berdoa sebentar lalu dikasih jalan sekejap dan sebagainya.

 

Kejadian-kejadian ini sangatlah berbau mistis. Bukan hanya disinetron kian santang saja hal berbau mistis ditemukan melainkan dalam sinetron gajah mada pun bisa kita temukan. Kita tidak bisa mengelak dari rekam sejarah peradaban Indonesia yang sedari dulu dikenal dengan hal-hal yang berbau mistis.

 

Namun dalam sinetron-sinetron tersebut saya merasa semuanya terlalu dilebih-lebihkan baik visual maupun citraan sosok-sosok baik dan jahat dalam cerita sinetron diatas.

 

Obscura: Kita Tidak Melihatnya tapi Kita Terbius Olehnya

 

Terlepas dari beberapa kritikan yang terlontar maka kita tidak bisa mengelak bahwa sinetron hanyalah sebuah sinetron. Bahkan dari awal pihak yang bersangkutan telah mewanti-wanti pemirsa dengan rayuan maut pembuka sinetron. Semisal rayuan maut bahwa sinetron ini adalah fiktif belaka dan bla..bla..bla..

 

Tapi apakah benar, ketika dalam penayangannya, seorang penonton akan secara sadar melihat bahwa apa yang ditontonnya itu adalah hal yang keterlaluan? Ditengah ekstasi konsumerisme akut yang ditandai dengan sikap ingin menunggu episode selanjutnya. Apakah kita sadar bahwa kita telah, sedikitnya, terjebak dalam satu ruang produksi, sebatas khayalan, namun kita sebagai penonton malah lebih menganggapnya sesuatu yang lebih untuk ditunggu kehadirannya.

 

Bagi orang dewasa mungkin setidaknya ada respon untuk membantah apa yang ada akan tetapi bagi anak-anak kecil, yang seumuran dengan penggambaran Raden Kiansantang dan Gajah mada, mungkin mereka berdua dianggap sebagai sebuah fantasi yang kemungkinan menyusup pada narasi jiwa mereka mereksa dunia.

 

Media selain menawarkan kepada kita suatu hal yang hiperealitas, suatu realitas yang dibiaskan realitas visual, ia juga menawarkan kepada kita suatu ekstasi yang tiada terkira. Bila yang memproduksi menginginkan kejar tayang kepada mereka yang menggebu-gebu untuk menunggu. Yang menunggu, meski mereka sadar bahwa, satu adegan yang dipertontonkan tak lain merupakan hal yang serupa itu itu saja, seolah mereka kecewa namun tetap pula ditonton.

 

Dalam dunia media maka realitas berada pada koridor dekonstruksi hebat. Hal itu bisa berbagai alasan. Namun yang bisa kita tangkap adalah realitas tersebut merupakan realitas keinginan dari empunya sinetron tersebut. Bila sudah begitu memang wajar bila banyak orang yang mengkritik film ini hanya sebatas ingin meraup untung semata , sementara realitas, substansi isi diakektika, sejarah dikesampingkan.

 

Kesimpulan

 

Kritikan yang dilayangkan oleh Brunai dan pengamat sejarah berhubungan dengan dunia sinetron kita rasanya memang sangat perlu untuk diperhatikan. Mengingat yang ditampilkan adalah berhubungan dengan suatu dunia yang mempunyai nilai-nilai yang tak semudah dalam cerita.

 

Ahli sejarawan sangat pantas untuk kecewa karena melihat cara kerja yang berbeda satu sama lain. Bila sejarawan berangkat dari beberapa sumber-sumber dan melanggeng pada sumber lainnya kemudian dipertanyakan kembali, lain hal nya dengan sinetron ia telah menawarkan kesuluruhan realitas berserta hasrat ekstasinya tentang sejarah. Sejarawan berangkat untuk meluruskan sejarah yang sampai sekarang masih harus dicari kebenarannya sedangkan sinetron ternyata telah membuat kecewa mereka.

 

Generasi kita lah yang hidup dalam kekalutan konsumerisme. Ia berada pada bingkai keinstanan suatu substansi dan terlempar dari realita bingkai cerita yang terjadi. Jangan sampai mereka terhenti untuk memaknai bahwa apa yang ada disinetron tersebut merupakan suatu hal yang pasti.


Sumber bacaan:


  •  [ref]http://suararepublika.co/berita-utama/brunei-prihatin-sinetron-indonesia-yang-merendahkan-islam/#[/ref]
  • [ref]http://id.omg.yahoo.com/news/sinetron-gajah-mada-tuai-kritikan-150100459.html[/ref]

Zakii Aydia - Konsep Tasawuf Anime


Tasawuf Dalam Kartun Manga

Apa yang dilakukan oleh Naoki Yamamoto kiranya bisa dijadikan inspirasi ditengah maraknya isu-isu tentang Islamphobia. Sebagai salah satu contoh Islamphobia yang lagi santer-santernya adalah ketika seorang Profesor yang viral karena pernyataan rasisnya terhadap perempuan berhijab sampai kasus salah satu Ulama yang ditolak, dan menimbulkan respon beragam di berbagai platform sosial media, yang akhir-akhir ini mencuat.

 

Islamphobia, atau saya pribadi lebih cocok meminjam istilah Akbar S. Ahmed, Islam yang tertuduh, merupakan gambaran media barat bahkan tak jarang media lokal, terhadap Islam yang kurang elok. Dibilang sangat menyudutkan karena muatan Islam lain yang luas jarang ditampilkan dimedia-media. Tentu saja ini tidak berimbang dan harus ada upaya resistensi sebagai penyeimbang atau bahkan koreksi. Salah satu orang yang berhasil mengupayakan hal tersebut adalah Naoki Yamamoto.


Naoki Yamamoto, merasakan betul hal tersebut. Ketika dirinya, memutuskan menjadi seorang Mualaf dan ketika ia pulang kembali ke Jepang, maka iapun harus siap dengan berbagai konsekuensi atau kecurigaan-kecurigaan orang terhadapnya. Karena salah satu hal yang seringkali terjadi adalah agama Islam sering dituduh agama teroris. 

 

Tapi Naoki Yamamoto nampaknya tidak pulang dengan tangan kosong. Rasa gelisah yang dirasakan Naoki Yamamoto akhirnya mengantarkannya pada pemikiran sederhana namun setidaknya mempunyai dampak yang baik. 


Sebagai peraih gelar title Ph.D dalam spesialisasi Budaya Tradisi Jepang dan Tasawuf, ia berkeyakinan bahwa ada suatu kesamaan antara konsep dalam ilmu Tasawuf dalam Kartun Manga. Khususnya genre Shounen dan beberapa contoh kartun seperti Demon Slayer, Naruto dan Samurai X. Nah bagaimana bisa yah?

 

Melalui platform website dan akun sosial media, Naoko mulai mengenalkan konsep tasawuf disandingkan dengan budaya populer (kartun manga tadi) dalam beberapa tulisan. Harapannya agar pembaca bisa mengenal islam jauh dari apa yang dipersepsikan media. Dan seiring berjalannya waktu, hal tersebut berbuah positif.

 

Konsep-konsep Tasawuf dalam Manga: Demon Slayer, Naruto dan Samurai X.

 

Kehebatan manga-manga genre Shounen menurut Naoko terletak pada pengembangan karakter dan alur cerita yang tidak sempurna, artinya ada berbagai macam nilai moral untuk meraih apa itu 'kebahagiaan' dalam film tersebut.

 

Dari penelitiannya terhadap Tasawuf dan hubungannya dengan kartun manga shounen (Naruto, Demon Slayer dan Samurai X) terdapat  pola serupa semisal hubungan yang erat antara (guru/murshid), (working spirit/Sayr Suluk), (Irshad/Guidance), (Repetance/Tawbah/taubat)

 

Dalam Naruto, hubungan antara guru dan murid sangat mencolok. Setiap karakter yang berbeda mempunyai guru yang berbeda pula. Naruto dengan Jiraiya. Sasuke dengan Kakashi, Sakura dengan Tsunade dan lainnya. Seorang murid sangat meghormati gurunya karena mereka mempunyai jasa besar. Yang diajarkannya pun bukan hanya jurus berkelahi akan tetapi kadang para guru, meskipun konyol seperti Jiraiya, tapi selalu menyelipkan pesan moral kepada Naruto.

 

Dalam samurai X, Naoko lebih lanjut menjelaskan bahwa beralihnya Kenshin dari seorang pembantai legendaris no 1 di era Meiji menjadi orang yang baik, kadang menyendiri dan sering merenungi apa yang terjadi di masa lalunya, serupa dengan konsep Taubat yang melibatkan dua proses yaitu servis dan Isar (mengorbankan dirinya untuk menolong orang-orang).

 

Tidak mau kalah dengan Naruto dan Samurai X, Demon Slayer yang saat ini digandrungi oleh masyarakat Jepang, menurut Naoki disebabkan karena tokoh protagonis Tanjiro kadang mewakili apa yang terjadi di kehidupan masyarakat.

 

Karakter Tanjiro yang kuat bahkan ditakuti, dibarengi dengan sikap murah hati yang tinggi. Menjadi sosok yang diidolakan oleh para penggemar.

Belum lama ini dunia sosial media lagi banyak dihebohkan dengan kasus yang berkaitan dengan agama Islam. Mulai kasus yang menimpa para santri di Bandung yang di lakukan oleh Herry Wirawan, selain itu ada dugaan pengurus MUI yang mempunyai paham teroris atau juga ada beberapa anggota MUI yang dipantau KPK, sampai yang terakhir, lagi ramai diperbincangkan adalah, tentang kritikan Anwar Abbas, yang mewakili MUI, kepada Jokowi pada pembukaan Kongres Ekonomi Umat (KEU) beberapa hari yang lalu. 


Kasus yang terakhir ini sangat menarik, karena bisa dikatakan kritikan Anwar Abbas ini, yang ditujukan pada orang no. 1 di Indonesia ini, seolah-olah puncak dari kekesalan orang-orang, lebih kepada buzzer, di sosial media. Bahkan bukan hanya MUI saja yang di senggol, Anwar Abbas pun menjadi korban hinaan dan bully-an mereka yang, menurut saya, tidak dewasa dalam menanggapi kasus ini. Hal tersebut berujung pada munculnya kembali tagar #bubarkanmui di berbagai platform, khususnya di Twitter. 


Padahal, kalau boleh jujur, sebenarnya apa yang diperlihatkan oleh Anwar Abbas dan Jokowi pada acara KEU itu merupakan sebuah proses demokrasi yang baik, dimana kritikan atau masukan-masukan pada pemerintah harus selalu ada. Baik Anwar Abbas dan Jokowi, mereka sangat tegas dalam menyampaikan pendapat-pendapatnya tanpa disertai dengan rasa marah atau kesal. Paling utama adalah mereka pada akhir acara tersebut saling sapa seperti biasa.


Ternyata, momen hangat yang menampilkan sosok Jokowi dan Anwar Abbas di KEU tadi dirasakan juga oleh beberapa politisi, diantaranya Faizal Assegaf dan Gus Umar. Keduanya berpendapat bahwa hal diatas sangat lazim dan tak terhindarkan.  

Seakan Jarum Ditumpukan Jerami  

Sosok Anwar Abbas bukan hanya sekali ini saja melontarkan kritikan atau masukan pada pemerintah. Sebagai seorang pengurus MUI, integritas Anwar Abbas sangat tinggi, apalagi kalau berbicara mengenai kemaslahatan Ummat. Ia berusaha mengingatkan kembali makna Surat Al Imran ayat 104 yang harus direalisasikan secara sempurna, jangan terputus hanya sampai amar ma'ruf saja. Hal ini juga yang melatarbelakangi Anwar Abbas berani mengkritisi Jokowi pada pembukaan KEU beberapa hari lalu.


Bagi penulis, sosok Anwar Abbas seolah Buya Hamka pada zaman presiden Jokowi, ia sangat kritis kalau berkaitan dengan Ummat dan tidak takut walau bui menghadang. Meski sendiri ia bertarung, tapi pantang ia mundur. Penting dicatat bahwa apa yang dilakukan oleh Anwar Abbas bukan berdasarkan pada kebencian atau permusuhan, akan tetapi dilakukan untuk kepentingan Ummat semata.


Sebenarnya bisa dikatakan bahwa munculnya Anwar Abbas seolah angin segar ditengah udara panas yang sedang melanda umat Islam. Ia, dibalik bayang-bayang kasus pemimpin pesantren, sedikit membuka kembali pandangan sosok ulama yang membumi dan mencerahkan ummat. Tidak hanya mementingkan hubungan moral-spiritual semata, tapi lebih bagaimana Islam berperan dalam institusi sosial masyarakat.


Ummat Islam Harus Melek Enterpreneur


Tentu, Anwar Abbas tidak mengkritisi kebijakan pemerintah tanpa adanya solusi yang harus dilakukan oleh Ummat, khususnya Islam. Ada beberapa hal yang kiranya, dalam pandangan Anwar Abbas, yang menjadi alasan kenapa ekonomi ummat Islam kurang bersaing di dalam kancah nasional. 


Pertama, ummat Islam tidak banyak yang tertarik pada dunia enterpreneurship. Padahal banyak yang bisa digunakan sekaligus menunjang, di zaman kemajuan tekhnologi saat ini dan kemudahan dalam berinteraksi, untuk berpikir kreatif bagaimana membuat sebuah usaha. Kemajuan tekhnologi bisa kita gunakan untuk mencari ide-ide usaha kreatif yang bisa kita implementasikan.


Kedua, hal ini memang menjadi perhatian bagi Anwar Abbas, bagaimana pentingnya ummat harus melek terhadap enterpreneurship di era saat ini. Meskipun semuanya memang membutuhkan proses, tapi yah minimal ummat Islam harus diajari terlebih dahulu bagaimana mempunyai enterpreneurship mental, agar terhindar dari zona nyaman menjadi employee. Makanya suatu waktu Anwar Abbas, sebagai ketua PP Muhammadiyah, pernah mempunyai gagasan Hari bisnis di ruang lingkup organisasi Muhammadiyah. Hal ini sebagai implementasi dasar untuk membangun kader-kader yang mempunyai mental seorang pengusaha.


Awal mulanya terlahir, di puncak kuasa ia berada, seiring waktu goyah sampai runtuh ia bertabur.

 

Polemik penamaan Mustafa Kemal Ataturk sebagai salah satu jalan di Jakarta masih menjadi bola panas di Indonesia. Meski penamaan tersebut berangkat dari hubungan bilateral yang baik antara Indonesia dan Turki, apalagi di Turki sudah ada jalan Sukarno, akan tetapi sebagian orang melihat hal tersebut secara lain, mereka tidak mau dianggap sebagai manusia yang ahistoris. 


Hal ini berangkat dari sepak terjang Kemal Ataturk yang pernah merubah wajah Turki yang pada awalnya adalah kekhalifahan Islam besar menjadi sebuah negara sekuler yang kita kenal saat ini. Tidak sampai disitu, ia juga dianggap sebagai seorang pembasmi nilai-nilai Islam, baik dari segi aturan, budaya dan kehidupan sehari-hari, terakhir ia juga adalah orang yang membumi hanguskan kekhalifahan di muka bumi sampai saat ini.


Penulis sendiri, terkait hal ini, mempunyai pendapat yang setengah-setengah. Kalau ada yang bertanya apakah paham sejarah, tentu jawabannya tahu. Apalagi ini berkaitan dengan satu babakan penting sejarah peralihan. Tentu pribadi sendiri, sebagai seorang muslim, sangat terpukul melihat peradaban yang begitu megahnya harus runtuh.


Namun di sisi lain ada sebuah keniscayaan dalam sebuah peradaban. Keniscayaan tersebut adalah sebuah siklus, awal mulanya terlahir, di puncak kuasa ia berada, seiring waktu goyah sampai runtuh ia bertabur. Tak ada yang abadi bila berbicara sebuah peradaban, ada sebuah pola dialektika dalam peradaban, yang membedakannya hanya waktu saja.


Membayangkan kesultanan Utsmani awal abad 19an tentu tidak sebanding ketika mereka meenguasai dunia, katakanlah abad ke 16/17, baik dalam hal luas wilayah kekuasaanya atau kemegahan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaannya. Abad 20 Kesultanan Utsmani nyatanya seperti satu bahtera yang kayu-kayunya sudah rapuh, menunggu untuk runtuh seiring waktu. 


Adapun kita tahu bahwa faktor-faktor yang menyebabkannya bukan hanya datang dari luar saja, tetapi faktor internal juga turut mempercepat runtuhnya kekhalifahan Utsmani. Misalnya korupsi yang merajalela, pemimpin yang kurang baik, pemilihin pejabat yang tidak demokratis dan mulai berkurangnya ruh semangat juang yang pernah diajarkan Sultan Mehmed II. 


Hal tersebut menjadi sasaran empuk dunia barat yang pada waktu itu justru sedang berada pada tahapan perkembangan revolusi Industri yang mengagumkan bahkan sampai sekarang. Perkembangan tersebut menjadikan negara-negara Eropa sangat kuat, sehingga mereka bisa leluasa mencaplok wilayah-wilayah kekuasaan kesultanan Utsmani pada waktu itu. Maka tidaklah salah kalau dulu Kesultanan Utsmani ini pernah mendapat julukan "the sick man of Europe".


Pada babakan terakhir itu sosok Mustafa Kemal Pasha tidak datang ke muka secara tiba-tiba. Karir yang ia dapatkan sebelum menjadi sosok penting perubahan Turki, dibangun ketika ia remaja sampai muda. Terlebih ketika ia bergabung dengan militer, sampai menjadi pejabat militer dan bergabung dengan tokoh muda Turki yang mengusung ideologi nasionalisme. Sampai pada akhirnya momentum itu datang pada golongan Turki Muda, atau istilahnya Turanisme, pada tahun 1920an mereka mengambil alih kekuasaan Turki.


Tugas mereka pada waktu itu bisa dikatakan sangat berat, selain harus menyebarkan ideologi baru untuk warga Turki, mereka juga harus berkonsentrasi penuh terhadap pada penjajah Eropa yang pada waktu itu mulai menjarah sebagian wilayah Turki. Namun pada akhirnya Mustafa Kemal berhasil menghalau laju gerak para penjajah tersebut.


Nah untuk permasalahan selanjutnya, ketika Mustafa Kemal menjadi Presiden, memang ia berbeda dengan Sukarno. Kalau Sukarno, meski ia pernah berseteru dengan Ulama karena alasan politik, akan tetapi Sukarno masih percaya terhadap golongan agamis. Buktinya ia pernah berwasiat untuk menjadikan Buya Hamka menjadi Imam kalau dia meninggal.


Dalam pandangan penulis, untuk semua kebijakan Mustafa Kemal terhadap pemberangusan nilai-nilai Agama Islam di Turki, bahkan sampai mengasingkan keturunan Al-Fatih (para keturunan Khalifah), sangat menyayangkan sekali, ada rasa kecewa dan sedih. Meskipun begitu marilah kita serahkan hal tersebut kepada Allah, karena barangkali timbangan kita terhadap Mustafa Kemal berbeda dengan pandangan Allah SWT -Wallahu'alam. Sejahat-jahatnya Mustafa Kemal, ia juga lah yang menjadikan Turki sekarang rumah bagi para muslim yang ada disana. Biarkanlah urusan akhirat itu kita serahkan kepada Tuhan, begitu kata Haji Agus Salim. Beliau juga, terkait dengan Mustafa Kemal ini, menambahkan lagi dengan berujar:


Ia menghadapi timbangan dan balasan Toehan dengan membawa djasanya dan dosanya. (dalam Soeara Rajat, 03 Desember 1938)

 

Renungan Semata: Mereka Yang Terinspirasi dan Berkabung


Barangkali untuk urusan memperjuangkan sebuah bangsa, kita harus sedikit berterima kasih kepada Mustafa Kemal. Karena, tidak bisa dipungkiri, banyak golongan muda yang kelak menjadi para pahlawan kita, khususnya mereka yang ada pada generasi 1930an, terinspirasi oleh pergerakan Mustafa Kemal Ataturk. Sebut saja, Sukarno, Haji Agus Salim, Nasution dan lain-lain. Jiwa zaman yang diusung oleh Mustafa Kemal, untuk memperkenalkan wajah Turki baru, selaras dengan situasi dan kondisi negeri Indonesia yang pada waktu itu sedang berjuang melawan penjajah Belanda.


Bahkan setelah kematian Mustafa Kemal, banyak surat kabar di Indonesia yang mengabarkannya. Dari beberapa surat kabar tersebut, isi dan muatan tulisannya berisikan perasaan, ikut berkabung atau ada juga yang mengenang Mustafa Kemal dengan perjuangannya. Seperti misal dalam Soeara Rajat, Haji Agus Salim mengulas bagaimana Mustafa Kemal berhasil membuat Turki sekan bernafas kembali dan bersiap menghadapi masa baru setelah sebelumnya sempat terseok-seok. Dalam surat kabar lainnya, yakni Mata-hari, tertanggal 22 November 1938 ada ulasan bagaimana jenazah Mustafa Kemal dihormati oleh ribuan rakyat Turki. Bahkan dalam obor masjarakat ada sebuah tulisan dengan berjudul:


"Turki berkaboeng! Kemal Ataturk - Bapak Toerki Mangkat. Seloereoh Alam Islam Kehilangan Kramat Besar". (dalam Obor Masjarakat, November 1938)


Keramat besar yang dimaksud oleh penulis tidak lain adalah sebuah julukan bagi seseorang yang berhasil membawa perubahan di Turki, dari yang tadinya menjadi sebuah negeri ejekan menjadi sebuah negeri pujian. Sejak saat itu turki mempunyai wajah baru, yang banyak orang katakan, sebagai negara modern. Kemal Ataturk berperan sebagai bapak Turki, makanya ada nama Ataturk sebagai pujian atas segala perjuangannya terhadap Turki baru. Dalam surat kabar Perantaraan Kita, 22 November 1938, ada ulasan menarik terkait peran Kemal Ataturk dalam merubah Turki menjadi negara Modern.


Setidaknya kita pun telah sedikit mengerti bahwa ada dua gelombang yang merespon terhadap penamaan jalan Mustafa Kemal di Jakarta. Itu adalah hal yang wajar, tapi biarlah hal tersebut seakan satu bahtera kapal yang sedang berlayar, meski diterpa dua gelombang di sampingnya, ia tetap melaju, menuju cakrawala baru di hadapannya.

Hal-hal yang tak terduga rasanya sering terjadi manakala pemerintahan berada pada tampuk pemerintahan Jokowi, khususnya yang bersangkutpautan dengan keagamaan di Indonesia. Belum mereda isu yang menyatakan bahwa pemerintahan Jokowi ini pemerintahan yang anti Islam, sekarang hadir pula wacana disertakannya agama kepercayaan dalam kolom KTP dan bahkan muncul pula wacana bahwa kolom agama dalam KTP akan dikosongkan. Adanya kebijakan ini saya kira sangat merugikan Jokowi yang kemungkinan akan mengikuti kembali pemilihan Presiden pada tahun 2019 nanti. Hal ini dikarenakan kebijakan dicantumkannya agama kepercayaan dalam kolom KTP dan KK justru menimbulkan masyarakat yang kontra, yang notabennya kebanyakan dari kalangan Umat Islam.

Bagi sebagian orang, yang setuju atas kebijakan ini, mungkin berpendapat bahwa ada kemajuan semenjak pemerintahan dipegang oleh Jokowi. Bagi sebagian lain, banyak juga yang berpendapat bahwa pengosongan agama ini banyak menimbulkan masalah, salah satunya masalah identitas yang selama ini telah melekat pada negara Indonesia. Meski Indonesia bukan Negara Agama tapi masyarakat di Indonesia kebanyakan masyarakat yang beragama baik itu Islam, Kristen, Hindu atau Budha. Tak syak bila ada yang mengatakan bahwa kebijakan ini telah membawa kita kepada zaman lampau.

Secara pribadi, sebagai penulis, alangkah baiknya bila kolom agama tetap diberlakukan mengingat ini terkait identitas masyarakat banyak, toh dalam judulnya juga KARTU TANDA PENDUDUK. Kartunya ada bentuk KTP tersebut, tanda-tandanya adalah yang bersangkutan dengan pribadi yang termasuk dalam penduduk Indonesia, tentu Agama adalah salah satu tanda yang paling melekat pada masyarakat Indonesia yang beragama.

Selain itu memang ada permasalahan-permasalahan lain yang ditimbulkan dengan pengosongan kolom agama di KTP. Permasalahan tersebut menyangkut pada wilayah kehidupan masyarakat itu sendiri, seperti yang dilansir oleh ahli analis kependudukan bahwasanya:

Kemudian, untuk mengurus administrasi pernikahan maka masyarakat harus melengkapi dokumen kependudukan, seperti KTP, KK, dan sebagainya juga ditambah dengan akta pengakuan Muslim. Beberapa daerah di Indonesia yang akses untuk mendapatkan dokumen kependudukan ke kantor pelayanan publik banyak terkendala faktor geografis, infrasturktur, dan biaya, akan bertambah beban dan kesulitannya. 
Itu baru satu contoh saja. Kemudian, bagaimana dengan manajemen distribusi zakat, infak, dan sedekah bagi kaum Muslim? Kemudian, bagaimana manajemen administrasi untuk hak waris Muslim? Bagaimana agar bantuan pendidikan untuk santri dan pelajar di madrasah agar tepat sasaran dan tidak salah orang? Karena, banyak pula nama non-Muslim yang mirip dengan nama Muslim, terutama mereka yang murtad.
Kalau untuk menjawab permasalahan ini, pemerintah mengajukan kecanggihan teknologi maka memang benar bahwa kecanggihan teknologi yang bisa lebih mempermudah mendata segala sesuatu yang berhubungan dengan data kependudukan itu kadang selalu menimbulkan permasalahan. Tengok kembali beberapa kasus seperti KTP elektrik yang pada wilayah lapangannya ternyata tak sesuai dengan apa yang diinginkan.
  

Wacana Kolom Agama dan Janji Politik

Politician are same all over. They promise to build a bridge even there is no river.
Diatas semua itu, saya berharap adanya kebijakan ini tidak akan berlarut menjadi konflik yang berkepanjangan. Sebagai seorang pengamat biasa-biasa aja, saya hanya melihat ini hanya sebuah keniscayaan yang harus dijadikan pelajaran bagi siapapun kedepannya, terlebih bagi para mereka yang mendapat peran di bumi sebagai pejabat negara.

Apa yang harus dijadikan pelajaran dengan adanya wacana pengosongan kolom agama ini? Tentu hal ini berkaitan dengan dinamika kehidupan bermasayarakat di Indonesia yang plural. Kalau saja ada dari masyarakat yang plural tersebut merasa sangat terasingkan dengan adanya pihak dominan maka hal tersebut menjadi sebuah target yang cocok bagi mereka yang tengah mencari suara-suara politik. Dalam hal ini saya hanya mengira bahwa wacana pengosongan kolom agama ini merupakan janji-janji politik yang diusung oleh Jokowi dan pendukungnya (dan memang bahwa yang melakukan uji materil atas UUD yang berkaitan dengan kolom agama adalah dari pihak pendukung Jokowi). Melihat adanya keuntungan suara yang akan didapat dari mereka para penghayat kepercayaan maka politikus gesit mulai merayu, yah seperti yang diungkapan oleh Nikita Khruschev dalam kutipan diatas, ia mengatakan bahwa Politikus yah sama saja, mereka selalu berikrar janji untuk membuat sebuah jembatan, meski kenyataannya tidak ada sungai disekitarnya....alias gombal!!!

Disatu sisi dengan adanya wacana ini, agaknya menunjukan kembali kelemahan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam kata Kuntowijoyo, yang dari dulu masih saja berkutit pada kurangnya mereka dalam merangkul masyarakat yang terasingkan. Inilah kiranya pelajaran yang seharusnya menjadi renungan untuk semuanya. Lebih baik membuka dialog kembali dengan mereka yang berbeda agar permasalahan-permasalahan yang selama ini selalu diributkan agak meleleh.....
Mengenai sejarah perfilman di Indonesia, sudah banyak ditulis dalam beberapa buku. Dari awal mula Belanda memperkenalkannya pada tahun 1900 sampai perkembangannya pada periode pemerintahan Suharto atau lazim disebut juga dengan periode orde baru. Pada perpindahan zaman tersebut, film telah mengalami dinamika yang sungguh beragam. Semenjak diperkenalkan oleh Belanda, dengan film dokumenter yang bisu dan juga hanya berupa dokumenter mengenai kehidupan nyonya Belanda yang ada di Hindia Belanda saja sampai berkembang pula film yang dibuat oleh orang pribumi, film telah mengalami banyak perubahan baik secara jalan cerita atau para penggeraknya.

Yang menarik dan kiranya patut dicatat oleh kita adalah dengan adanya torehan sejarah perfilman Indonesia yang pernah dihiasi dengan film-film yang dihiasi oleh film yang mempertontonkan adegan ranjang. Padahal secara kependudukan, Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai penduduk agama Islam terbesar di Asia dan bahkan di seantero dunia.

Banyak faktor yang bisa dikatakan sebagai penyebab maraknya film adegan ranjang pada waktu itu, salah satunya yah tidak lain motif ekonomi, yakni ketika pembuatnya hanya mempunyai niat bisnis saja dalam menciptakan sebuah film. Selain itu faktor lain yang bisa dikatakan sebagai penyebab maraknya film-film adegan ranjang tersebut yakni dikucilkannya peran agama Islam yang pada waktu itu tidak mempunyai hubungan harmonis dengan pemerintahan. Hal tersebut berimbas pada beberapa kebijakan yang menyudutkan agama Islam, termasuk salah satunya kebijakan film yang berbau agama Islam.

Hikmah Al Kautsar Pada Waktu Itu


Dalam sebuah koran yang terbit pada tahun 1977, yaitu ketika film Al Kautsar pertama kali ditayangkan, diterangkan mengenai pentingnya kehadiran film-film yang berbau Islam pada waktu itu banyak dipenuhi oleh film-film adegan Sex. Dikatakan bahwa pada rentang tahun tersebut ukuran kesuksesan sebuah film itu bukan hanya ditentukan oleh aktor yang top, film adegan ranjang yang berlebihan dan disutradarai oleh sutradara terkenal, melainkan juga bisa dilihat dari penyajian yang mantap yang kiranya seperti yang telah dilakukan oleh Chaerul Umam dalam film Al Kautsar.

Agaknya penulis koran tersebut menekankan bahwa sutradara-sutradara yang hanya memikirkan bonafidenya saja tidak terlalu mempunyai penyajian yang benar-benar mantap, mereka hanya terlalu fokus pada bagaimana caranya agar menarik masa untuk menonton film ini dan tak perduli bagaimana sisi negatif yang dimunculkan akibat film tersebut.

Film Al Kautsar itu sendiri merupakan film besutan Chaerul Umam yang ditayangkan pada tahun 1977. Isi cerita dalam film ini bisa dikatakan sangat tendesius, hal ini mengenai pembaharuan dalam agama Islam yang pada waktu itu dikatakan tengah mengalami kemunduran. Kedatangan seorang Rendra ke sebuah tempat menjadi awal mula konflik antara agama Islam yang tradisionalis dengan agama Islam yang dibawa Rendra yang lebih berfaham modern.

Bagi yang berminat mengunduh koran yang diterbitkan pos kota minggu pada tahun 1977, bisa menghubungi admin atau silahkan isi komentar dibawah. alert-warning

Akhir-akhir ini publik Indonesia sedang diramaikan dengan isu-isu yang berkaitan dengan agama. Mulai dari kasus Ahok yang melecehkan surat Al-Maidah, Isu teroris, pembubaran pengajian sampai pada kasus terbaru yakni ditetapkannya agama kepercayaan dalam laman KTP. Tanpa disadari hal tersebut menumbuhkan kembali rasa solidaritas keislaman di Indonesia yang sempat tercecer. Bukti dari adanya rasa solidaritas tersebut bisa kita lihat pada aksi-aksi yang dilakukan oleh umat Islam dalam rangka menuntut Ahok untuk dipenjaranya. Banyak yang bilang bahwa adanya Ahok dengan kasusnya tersebut telah membangunkan kembali sayup-sayup keislaman di Indonesia yang lagi lunglai.

Mengetahui bahwa yang dihadapi masa umat islam itu bukan hanya Ahok melainkan juga berserta para pendukung dan konco-konco politiknya, maka lahir pulalah pejuang-pejuang yang nantinya akan berkiprah dalam ranah dunia sosial media. Sebetulnya, kalau boleh jujur, mereka ini kalah memulai dengan pasukan jasmev yang telah sadar betul kekuatan sosial media dalam ranah politik. Meraka sadar betul bahwa benar teknologi pada zaman sekarang ibarat kekuatan setelah trias politica. Singkatnya media mempunyai kekuatan yang bisa menggiring masyarakat untuk masuk dalam perangkap pencitraan yang mereka sedang tujukan.

Dengan adanya mereka yang berjuang untuk membenarkan apa yang mereka kira salah sangat terasa manakala kita berlayar pada dunia sosial media, baik blog, facebook, instagram atau twitter. Diantara mereka ada yang berperan sebagai orang yang membagikan opini-opini seseorang yang sesuai dengan jalan pikiran mereka, adapula yang menjadi orang yang menganalisis konteks yang terjadi pada satu isu. Jadi bisa dibilang saat ini tengah terjadi peperangan dunia online dalam bentuk ide-ide.

Karena isu-isu yang lahir, yang berhubungan dengan Islam, sangat kental rasanya pada era pemerintahan Jokowi sekarang, maka peperangan ide dan perang opini online ini nampaknya akan terus berlangsung sampai masa pemilihan presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2019 mendatang.




"Whoever controls the media, controls the mind." -Morrison-

Kira-kira bagaimana kita bisa setuju kalau perkataan pentolan legenda musik di atas benar adanya? Apa hubungannya antara Media dan pikiran kita dan bagaimana konsekuensi kuasa media terhadap penonton?Lalu bila saya menambahkan kutipan dari seorang wanita Jews yang berkata: 
“You know very well, and the stupid Americans know equally well, that we control their government, irrespective of who sits in the White House. You see, I know it and you know it that no American president can be in a position to challenge us even if we do the unthinkable. What can they (Americans) do to us? We control congress, we control the media, we control show biz, and we control everything in America. In America you can criticize God, but you can’t criticize Israel…” Israeli spokeswoman, Tzipora Menache

Sedikit Bayangan Sahaja

Media sejatinya telah menjadi satu ruang sosial baru bagi kehidupan manusia. Yah kan namanya juga sudah sosial media. Akan tetapi dari sekian perkembangan panjang tersebut, perkembangan hari ini, menurut saya, adalah perkembangan yang paling mengejutkan setelah pembagian periode yang pernah di ungkapkan oleh Marshal Mclluhan.

Marshal Mclluhan membagi perkembangan tersebut kepada tiga periode:
  1. The Age of Literacy
  2. The Print Age
  3. The Electronic Age
Inti dari apa yang pernah diungkapkan sang nabi media tersebut adalah berdasar dari perkembangan media itu sendiri yang rupanya mampu mempengaruhi cara pandang manusia dalam mengarungi kehidupan. Ketika semua itu dianggap sebagai hal yang final maka Marshal Mclluhan sampai kepada pengertian bahwa Medium is the message - mass age -

Kehadiran media bagi kehidupan manusia itu sendiri telah menjadi sesuatu yang penting ketimbang dengan konten yang ada di dalam media. Pendeknya, media telah menjadi satu wahana yang bisa mengganti peran tubuh manusia. Bila dalam era mekanik, sebuah mesin ketik, misalnya, dapat "memperpanjang" tangan manusia, dalam era teknologi elektronik, komputer dapat "memperpanjang" sistem syaraf manusia.

Pembagian periode oleh Marshal Mclluhan diatas ternyata hanya sebatas ketika sang nabi media itu masih hidup. Mungkin pembagian periode beliau akan berubah atau bertambah apabila beliau hidup di era new media seperti saat ini. Dimana media bukan hanya mampu menggantikan sistem syaraf manusia akan tetapi media bisa menjadi pengganti keberadaan manusia itu sendiri.

Perkembangan mutakhir dunia media saat ini telah membawa manusia kepada satu dunia yang dimana, meminjam istilah para ilmuwan, hiperealitas menjadi satu hal yang pasti. Kita berada pada duplikat kita sendiri dalam sebuah media, karena media adalah kita dan media adalah kita. :D bingung deh hehe

Media menjadi skala besar bagi para pencari kuasa ketika menginginkan sesuatu. Sebagai contoh maka kita lihat pada beberapa calon presiden kita pada tahun depan yang dimana mereka itu adalah pemilik dari beberapa TV yang ada di Indonesia. Menyadari bahwa kuasa media mampu menggiring opini publik, mereka ramai-ramailah dalam mencari celah pencitraan.

Contoh kecil namun besar bisa kita jadikan contoh manakala ada seorang presenter salah satu TV nasional yang di mana ada salah satu anggota partainya terkait korupsi mengatakan "Ini Partainya sebutin jangan?" 

Fakta Jews dan Media

Kembali lagi kepada jews dan media. Isu jews sebagai pemilik beberapa persen media dunia adalah isu lama, akan tetapi hal ini masih saja menjadi perdebatan oleh karena kita pun tidak bisa melawan suatu hegemoni besar yang ditancapkan mereka.

Setidaknya dunia akan dibagi kepada beberapa bagian apabila kita salah langkah dalam bertindak. Karena media, yang diciptakan mereka, disatu sisi mendapat tempat yang aman, dan kita disisi lain nya takan pernah sampai kepada mereka. Oleh karena pada saat kita melawan mereka maka yang akan balik melawan kita terlebih dahulu adalah sebagian orang yang diuntungkan dengan media-media tersebut.

Untuk lebih jelas lagi mengenai seberapa banyak jewish menguasai dunia bisa kalian lihat pada gambar dibawah ini: 


Media pertama yang menjadi sorotan penting adalah Walt Disney Company, yang ketua dan CEO nya, Michael Eisner, adalah seorang Yahudi. Dinasti ini, dipimpin oleh seorang pria yang digambarkan oleh salah satu analis media sebagai "seorang yang gila kuasa", kuasanya, selain Disney, termasuk beberapa perusahaan produksi televisi ( Walt Disney Television , Touchstone Television , Buena Vista Television), yang memiliki jaringan kabel sendiri dengan 14 juta pelanggan, dan dua perusahaan produksi yang bergerak dalam bidang video. 

Adapun beberapa film, Walt Disney Picture Group, yang dipimpin oleh Joe Roth ( juga seorang Yahudi ), meliputi Touchstone Pictures, Hollywood Pictures , dan Caravan Pictures. Disney juga memiliki Miramax Films, yang dijalankan oleh Weinstein bersaudara. 

Ketika Perusahaan Disney dijalankan oleh non Yahudi sebelum akhirnya ada pengambil alihan oleh Eisner pada tahun 1984, apa yang ada dalam tayangan masih  bisa disebutkan sehat, hiburan keluarga. 

Meskipun masih memegang hak untuk Snow White, di bawah Eisner perusahaan Disney, telah berkembang menjadi produksi yang banyak menampilkan adegan seks dan kekerasan. Selain itu, ia memiliki 225 stasiun afiliasi di Amerika Serikat dan merupakan bagian pemilik beberapa perusahaan TV Eropa. Anak perusahaan kabel ABC , ESPN, dipimpin oleh presiden dan CEO Steven Bornstein, seorang Yahudi.

Perusahaan ini juga memiliki saham besar untuk  mengendalikan Lifetime Television dan Jaringan perusahaan kabel Seni & Hiburan. Jaringan radio ABC memiliki sebelas AM dan sepuluh stasiun FM, juga di kota-kota besar seperti New York, Washington, Los Angeles, lebih lanjut ia pun memiliki lebih dari 3.400 afiliasi.

Meskipun pada awalnya hanya sebuah perusahaan telekomunikasi, akan tetapi Modal Kota/ABC yang memperoleh lebih dari $1 Miliar terhitung semenjak penerbitan pada tahun 1994. Dengan kepemilikan tujuh surat kabar harian, Fairchild Publications, Chilton Publikasi, dan Diversifikasi Publishing Group. Time Warner, Inc, adalah yang kedua dari media internasional. 

 End with next → 

Syahdan, keadaan negeri berjuta sejarah, suriah, nampaknya tidak terlalu berbeda ketika pertama kali perang berkecamuk. Konflik awal permasalahan yang terjadi di Suriah, bisa dikatakan sekarang, sudah berada pada tahapan puncak dari bagaimana, konflik tersebut berubah menjadi suatu, ketakutan kondisi perang di abad sekarang.

Gambaran kengerian perang di abad sekarang bisa kita rasakan seiring dengan meningkat pesatnya perkembangan tekhnologi manusia, khususnya pada bidang-bidang tertentu, yang berhubungan dengan stabilias militer, keamanan dan lain-lain.

Manusia, setidaknya, untuk abad sekarang memang telah meraih hal-hal menakjubkan dengan hal-hal yang berbau tekhnologi. Namun pada perkembangannya, ternyata, kesuksesan tersebut tidak serta merta terhindar dari pelbagai hal yang buruk sehingga euforia manusia yang disatu sisi telah mendapati dirinya melampaui batas-batas dunia, disisi lain hal tersebut ternyata bisa berakibat pada kehidupan manusia. Barangkali ini seperti sebuah boomerang.

Beradaptasi yang Seharusnya

Sesuatu yang berada dibumi adalah berubah, ia melingkar, searah bagaimana bumi berputar dan roda kehidupan terus berjalan. Kehidupan yang berulang, sejarah peradaban yang berkembang sampai akhirnya tenggelam binasa diterpa umur, akan senantiasa mewarnai bumbu kehidupan manusia.

Perubahan tersebut sangat terasa kepada kita ketika kita menyadari bahwa zaman sekarang tidak lagi seperti zaman sekarang. Kita, kadang, merindu pada satu keadaan sejarah dimana gambaran-gambaran pencapaian mereka mampu menggetarkan detak jantung. Namun itu semua adalah sejarah, hal mana semua yang berlalu berada tepat ketika seorang sejarawan mampu menuliskan kembali bagaimana gemilangnya mereka yang hidur sebelum kita.

Dari kehidupan primitif dan perkembangannya sampai pada tahapan gemilangnya kehidupan sekarang yang serba tekhnologi adalah bagaimana manusia bisa berhasil menggunakan keutamaan mereka didunia.

Terlepas dari semua itu maka sisi kelam yang selalau melekat pada kehidupan manusia tidaklah bisa kita harap hilang keberadaannya. Ia tetap ada dan mungkin selalu berjalan beriringan dengan kebaikan. Maka tidaklah salah bila dalam suatu proses kehidupan yang berubah itu sisi kelam manusia pun menjadi lebih hebat sebagaimana lawannya.

Dari Hiroshima ke Damaskus  
Gambaran mengerikan dari sisi kelam tekhnologi bisa kita temukan dalam rangkaian sejarah perang-perang dunia, baik itu perang dunia pertama atau sampai pada perang dunia ke dua. Kita bisa melihat, meski lewat sebuah sejarah dan itu pun hanya sebagian, bagaimana deru mesin-mesin yang besarnya tiada tara apabila bersanding dengan sisi kelam manusia maka yang terjadi adalah suatu hal mengerikan.
Manusia terbukti lemah, dan terkungkung merana dengan apa yang telah dicapai mereka sendiri. Ia berhasil tapi sekaligus gagal dalam mengemban misi untuk hidup yang lebih baik bila kenyataannya apa yang diemban mereka terbukti berwajah dua.

Tapi memang itulah satu gambaran bagaimana perang terkadang bisa melucuti mata batin seseorang. Sehingga kebaikan yang ada pada mereka lambat laut dimangsa oleh keberingasan mereka sendiri.

Perang suriah bukan hanya melibatkan antara militer dan oposisi saja melainkan warga pun menjadi sasaran empuk para regim militer untuk menegaskan kepada pihak oposisi untuk tidak main-main dengan mereka.

Didalam kacamata perang, tidak ada hal yang baik atau salah bila ia berbeda maka nyawa adalah taruhannya. Mereka akan melakukan apa saja untuk bisa membinasakan lawan. Maka tak salah bila satu kekejian bermuara pada kekuataan tak terbatas dan dengan keinginan kuat untuk memenangi perang secara mutlak ia akan berakhir dengan ideologi 'apapun itu lakukan'.

Hiroshima dan Nagasaki tercatat sebagai sebuah tempat yang dimana -debu-debu serpihan kota tersebut telah mengukir sejarah kelam manusia. Tentu kita sangat berharap bila apa yang menimpa kedua kota tersebut tidak terulang lagi di Damaskus.

Semoga saja perang lama yang berkecamuk disana tidak seutuhnya menggelapkan bagaimana manusia bisa menulis sejarah indah tentang kehidupan. Kita berharap perang yang terjadi disana bisa cepat berlalu dan juga sedikit berharap tidak ada lagi perang-perang yang akan terjadi kelak.

Semua itu adalah bagaimana jiwa manusia terikat dengan dunia.

Dan semua itu adalah waktu dan kehendak Allah Maha Mulia yang akan menentukannya.
Syahdan, konflik yang terjadi di Timur tengah nampaknya telah membuat beberapa kengerian yang mendalam disatu sisi dan rasa penasaran disisi lainnya. Perang kecil yang besar barangkali bisa kita lekatkan kepada mereka, yang sampai saat ini saya menulis, sedang berseteru pada ranah kekuasaan yang sama.

Bukanlah tanpa alasan bila saya menyebutnya perang kecil yang besar. Melainkan itu adalah sebuah pertanyaan kenapa dalam sebuah kehidupan bernegara, apalagi dengan label dibawah naungan demokrasi ternyata tak menghindarkan negara dikhianati oleh sistem itu sendiri. Apabila melihat pada hakikat sebuah negara, yang didalamnya terhimpun beberapa keluarga yang meluas pada kehidupan sosial, nyatanya, telah cacat dan terbelah, serasa tak ada lagi kehendak yang satu - Gemeinschaft atau memudarnya solidaritas sosial.

Konflik, apapun itu namanya apabila ia menimbulkan korban jiwa yang banyak haruslah kita sebut dengan perang. Walaupun keadaan tak sama dengan, sebut saja contoh, perang dunia, Irak, dan perang besar lainnya akan tetapi dampak konflik di Timur tengah tersebut tak menyurutkan arti dari sebuah perang itu sendiri yang menimbulkan kengerian.

Dengan begitu maka setidaknya kita berpendapat untuk melihat konflik yang sedang terjadi di timur tengah itu tidak terbatas hanya pada urusan perpolitikan negara mereka saja. Melainkan hal yang luas dan terselubung. Dan pada taraf seperti ini maka setidaknya kita lebih satu langkah didepan negara-negara yang mempunyai judul sebagai negara pembawa kedamaian.

Dua Sama Tapi Beda

Banyak aksi-aksi solidaritas yang dilakukan rakyat, dimanapun mereka berada, terhadap tragedi-tragedi yang sekarang banyak menerpa Negara Timur tengah. Khususnya di Indonesia hal itu adalah keniscayaan karena melihat banyaknya, meskipun tidak semua, umat muslim yang menjadi korban-korban konflik tersebut. Dengan begitu maka hubungan solidaritas antar satu paham agama sedikit demi sedikit terbuka untuk mencuat karena melihat saudara-saudara yang mati berguguran disana.

Sekarang pertanyaannya adalah mengapa terdapat dua hal yang berbeda dalam satu tujuan yang sama? Karena dukungan-dukungan yang muncul di Indonesia pun, pada khususnya, telah mendua. Ada yang berpihak kepada posisi A, yang mana banyak dari mereka memprogandakan fakta-fakta nyata dibalik konflik yang sedang terjadi dan ada pula yang berpihak pada posisi B yang mana mereka juga memberikan satu porsi yang sama dengan pihak pertama.

Salah satu yang menjadi penyebabnya ialah adanya suatu pemikiran dan pemahaman yang berbeda dalam mengartikan islam itu sendiri dan hubungannya dalam kehidupan. Sepengetahuan saya dalam dunia keislaman ada yang mempunyai definisi Sekuler, Liberal, dan juga Fundamental. Ketiga tersebut adalah definisi, artinya ada satu kesenjangan berbeda diantara satu definisi dengan definisi lainnya dalam hal keislaman. Khususnya yang terakhir diatas adalah kosakata yang selalu dibahas oleh sarjana barat dalam memandang dunia Islam.

Fundamentalis Islam menjadi banyak kajian orang barat pada masa-masa terakhir perang dingin. Ketika faham komunisme mulai memudar seiring waktu maka negara-negara jajahan Rusia yang dulu berdekatan dengan Islam mulai menemukan kembali udara segarnya.

Dengan berakhirnya komunisme maka usaha-usaha mereka untuk mendapatkan kemerdekaan ternyata tidak berhenti sampai disitu. Keinginan dari beberapa wilayah yang menginginan negara yang bercirikan Islam ternyata menjadi suatu ketakutan bagi dunia barat atau bahan ejekan. Sehingga sampai saat ini mereka selalu memberikan gambaran dunia Islam dengan kekerasan atau representasi dunia ketiga yang tak elok. (Film Hollywood.)

Kembali lagi kepada konflik yang terjadi di timur tengah. Dengan begitu maka terdapat beberapa perbedaan pendapat diantara mereka dalam menyepakati kehidupan bernegara. Yang terjadi di Suriah adalah perang saudara sesama muslim, namun kenapa menimbulkan konflik yang cukup hebat bahkan senjata kimia, sebagai senjata yang dilarang, ternyata dengan mudahnya dioperasikan disana?

Negara Mesir sama saja. Mereka yang berseteru banyak juga yang muslim versus muslim tapi kenapa konflik tersebut meninggalkan korban jiwa yang banyak bahkan Mesjid, sebagai Rumah Tuhan, tiada bisa menahan nafsu para militer yang dengan keji menembakan beberapa peluru tajam? Begitupun Turki dikala kerusuhan beberapa hari yang lalu, mereka sama saja saling berseteru meski memiliki agama yang sama.

Media dan Oposisi Biner

Perbedaan-perbedaan diatas akan terasa sangat tajam bila ditambahkan atau dibumbui dengan hadirnya media-media yang selalu rajin memperbaharui berita-berita yang berhubungan dengan konflik tersebut. Baik tingkat level internasional, nasional bahkan lokal!

Kenyataannya kehadiran media dirasa bukanlah menjadi penengah antara jurang-jurang yang berbeda diatas. Melainkan kehadiran media pun turut menggiring pendapat-pendapat masyarakat yang berbeda tersebut untuk beropini liar sesuka mereka. Serasa mendapatkan udara segar ketika suatu berita didapat sama dengan yang dirasa maka bagian yang seharusnya dipertanyakan dihilangkan begitu saja, tanpa konfromi.

Adalah media yang membantu intensitas perang yang notabennya terjadi dibelahan dunia sana nampaknya terasa menggelora didunia sini. Pelbagai situs-situs mulai rajin dengan terus mengupdate berita-berita terbaru yang berhubungan dengan konflik tersebut. Suatu keuntungan yang besar bagi sebuah website dengan mengingat banyak umat muslim yang merasa ingin terus mengetahui keadaan perang disana.

Adanya suatu keberpihakan antara media dan kuasa rasanya sama dengan, meminjam istilah Michael Foucalut, yang menjelaskan tentang kuasa dan pengetahuan.

Maka kita harus mempertanyakan kembali bagaimana kemerdekaan, dalam dunia media, apabila berpendapat tentang satu hal dibarengi dengan kehendak kekuasaan? Ketika media dipegang oleh tampuk kekuasaan absolut maka yang terjadi adalah yang berkuasa, meski separah apapun ia bertindak maka akan terlihat menawan dimata pemandang media, yah itu jelas dekat dengan Propaganda. After trias politica?

Media telah memainkan peran penting dalam merangkai oposisi biner diantara pembaca. Wacana-wacana yang mereka tawarkan serasa dentuman bedil bak genderang perang yang harus diselesaikan, oleh mereka yang tak sependapat, dengan opini-opini palsu dari bahan pinjaman yang telah ada.

Oposisi biner ini atau bahasa lainnya ada hitam dan putih, jahat dan baik, dan contoh lainnya sering kita dapatkan dalam gambaran bagaimana satu media memberikan berita-berita yang menyangkut konflik tersebut. Oposisi biner itu menjadikan kita bingung dan ingin selalu bertanya sebetulnya yang benar-benar terjadi disana itu apa sih? Apa perang antara sunni dan syiah sebagaimana yang selalu dikatakan media A, atau perang ini adalah antara perang “Terorisme” melawan pemerintahan atau apakah perang ini adalah akibat geopolitik yang kian berkembang tak terarah alias ada kepentingan dibalik semua itu?

Lantas kebingungan dan tidak adanya pendirian yang kuat dalam menyaring informasi bisa menimbulkan beberapa keberpihakan yang semu. Dengan tidak adanya lagi sikap mempertanyakan kembali atau bahkan meninjau ulang makna yang tersirat dalam media akan menimbulkan suatu tindakan palsu namun dirasa asli.

Sedikit Tentang Televisi & Phobia Mereka

Siapa yang diantara saudara-saudara tepat tiga hari yang lalu menyimak film-film yang ditayangkan disalah satu siaran televisi kenamaan di Indonesia? Yah Trans TV. Nampak kepadanya bahwa ada suatu macam kesetujuan dalam memberikan satu porsi bagaimana mereka memandang permasalahan.

Dalam ruang lingkup ranah kajian budaya dan media, kata Douglas Kelner, kita bisa saja berhenti pada taraf bagaimana teks itu diberikan tapi alangkah luasnya bila kita melihat pada dunia luar yang berada diluar jangkauan teks tersebut.

Adalah gambaran, representasi, dari mereka yang berfaham, kurang lebih, tak setuju dengan gerakan-gerakan ekstrimis Islam atau bisa jadi mereka ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia bahwa gerakan apapun yang terjadi di timur tengah sana maka kita harus menonton terlebih dahulu film tersebut. Sekedar informasi saja, sudah tiga hari yang lalu Trans TV menyuguhkan film-film perang yang didalamnya memuat citraan-citraan tentang pertentangan Islam “Terorisme” dan Amerika “Heroisme” dan sebagainya.

Apapun itu niatnya, saya berharap apa yang kita tonton dalam film tersebut tidak menimbulkan suatu ketakutan - Islamphobia di Negeri sendiri. Karena bila kita melihat kepada sejarah nampak pula pada waktu dahulu terdapat suatu ketakutan Azerbaijan dari berkembangnya blok negara jajahan komunis yang ingin berdiri dengan bendera/unsur-unsur Islam, oleh karenanya disuguhkanlah kepada mereka berbagai film-film, sebagai propaganda, sentimentil tentang Islam dan sebagainya.

Padahal kalau kita mengetahui bahwa realitas dalam media itu adalah hasil cipta kedua dari pada realitas asli, yang mungkin, dihilangkan, dirubah atau diselewengkan. Dizaman sekarang media telah banyak memainkan peranan penting untuk memberikan beberapa pandangan bagi masyarakat.

Prakata Terakhir

Konflik yang sedang terjadi ditimur tengah diharapkan dijadikan suatu pelajaran yang berharga bagi kita. Ia adalah gambaran pelajaran dari bagaimana ketidakharmonisan antara warga - warga dan warga - pemerintah mengakibatkan konflik berdarah yang sangat lama. Apabila sudah seperti itu digoyahkan pun ia akan mudah terombang-ambing.
Syahdan, momen Idul Fitri adalah momen yang selalu didamba sekaligus dirindukan oleh Umat Muslim di seluruh dunia, dimanapun mereka berada. Pada hari Idul Fitri nampak kepada Umat Muslim bahwa terdapat suatu keistimewaan dan hari yang indahnya tiada tara.

Di Indonesia, khususnya, bila momen ini sudah semakin dekat dirasa maka terdapat satu tradisi tahunan yang mungkin sudah menjadi satu budaya yang ditunggu-tunggu bagi sebagian orang. Hal itu adalah Mudik. Mudik jika diarti dengan secara biasa maka ia pulang ketempat mereka bernaung pertama kali, yang mana tempat ini ialah tempat yang dirindu ketika mereka jauh pada tempat yang dituju.

Dengan momen Idul Fitri yang penuh dengan keistimewaannya maka makna mudik menjadi penuh arti. Ia melebihi dari pengertian yang pertama. Setelah berkerja keras dan mecari berkah ketika bulan ramadhan maka tibalah waktu untuk mereka berkesempatan untuk bertemu sanak keluarga dikampung tercinta. Sungguh sudah sangat jelaslah bahwa mudik ini merupakan niat baik bagi sebagian orang untuk bersilaturahmi dengan keluarga-keluarga yang tidak ditemuinya selama berbulan-bulan.

Namun tidaklah semua orang, yang merantau, bisa melakukan mudik. Hal ini bisa disebabkan karena beberapa faktor, baik itu mungkin kebijakan kerjaan atau waktu, akan tetapi yang paling banyak diketemui adalah mereka yang berbicara pada ranah kesanggupan pergi ke kampung halaman dan pulang ketempat kerja.

Mungkin ada satu keberatan bagi mereka untuk melakukan mudik yang pastinya akan mengeluarkan biaya tidak kecil. Oleh karena itu banyak juga dari kalangan muslim yang pada waktu Idul fitri memilih untuk tinggal ditempat merantau dan menunggu waktu yang tepat untuk pulang kampung/mudik.

Dua Momen Berbeda yang Nampak Disandingkan

Bak bunga yang layu tersentuh air maka segarlah ia berkembang mengharap cahaya. Momen Idul fitri tahun 2013 sekarang ternyata menjadi tahun yang penuh berkah bagi saudara kita yang mungkin kurang mampu untuk melaksanakan mudik ketempat halamannya. Allah pun mengetahui keinginan hambanya yang merindukan mudik. Maka dihadiahkanlah satu momen lain yang hadir bak seperti air yang menyentuh bunga yang layu itu.

Adalah ada nya orang-orang, yang berdiri, diatas partai politik mengadakan satu kebaikan yang mulia. Mereka mengadakan mudik bareng dengan tema 'Mudik bareng bersama ehm ehm' secara gratis ke beberapa wilayah yang sudah ditentukan.

Disini kita mendapati bahwasanya terdapat satu momen tambahan berbeda yang bila dilihat secara sederhana maka sedikitnya akan didapati bahwa momen yang kedua ini ternyata mengandung beberapa makna yang harus ditafsirkan dengan secara tak sederhana.

Bila yang pertama menyiratkan satu niat, keinginan yang penuh, dari sebagian orang yang merantau untuk pulang kekampung halamannya akan tetapi yang kedua menyiratkan kepada kita bahwa terdapat satu keinginan besar atau mungkin harapan dari orang-orang yang mau memfasilitasi sebagian orang itu untuk mudik.

Apa yang diusung mereka sebenarnya tak harus dipermasalahkan disini karena saya yakin bahwa semua orang yang mendapatkan kesempatan mudik gratis ini akan menganggap program ini adalah program yang sangat membantu mereka. Begitupun bagi mereka yang memberi kesempatan kepada orang yang kurang mampu adalah merupakan hal yang mulia.

Disisi Relung Cahaya

Indonesia pada tahun depan akan menghadapi satu momen yang seharusnya ditunggu oleh kita. Hal itu benar bilamana kita mendapati adanya sesuatu yang kurang pada kinerja pemerintahan dizaman rezim SBY. Hal itu benar bila ada sebagian orang yang merasa tidak puas dengan kinerja pemerintahan SBY dan hal itu benar bilamana Indonesia masih berada pada tahap kehidupan sebagaimana beberapa tahun sebelum Pak SBY menjadi presiden Indonesia.

Adalah kepastian bila Indonesia pada saat ini membutuhkan seseorang pemimpin yang mana karakternya adalah sebaik-baiknya pemimpin. Ia mementingkan kepentingan umat daripada kepentingan pribadi atau secara kelompoknya. Ia mementingkan suara rakyat karena suara rakyat adalah suara tuhan, suara kejujuran yang tertuang akibat beberapa kejanggalan dalam kinerja pemimpin satu negara.

Tahun 2014, tahun depan, akan menjadi satu momen yang menentukan kehidupan masyarakat Indonesia untuk 4 tahun kedepan. Bila salah ia melangkah maka harapan besar akan pudar ia dapati, sebaliknya bila ia benar melangkah Insya Allah semua kelancaran akan diberikan oleh Allah Maha Mulia.

Mendapati adanya satu momen Mudik di hari raya Idul Fitri ini maka terdapat satu kepentingan yang dirasa telah dijadikan satu momen berharga untuk menarik lini masyarakat dalam rangka sosialisasi mengenal Para calon-calon Presiden Indonesia.

Adalah pencitraan yang dirasa sedang terjadi pada momen sekarang. Menggunakan momen yang tepat untuk menarik satu citra adalah cara kerja bagaimana sesuatu substansi itu terlihat berada diluar pandang mata. Meskipun hal ini tidak berarti salah akan tetapi memberikan kepada kita bahwa satu keputusan penting yang harus diputuskan oleh masyarakat akan terpengaruhi oleh adanya hal ini.

Pencitraan ini terasa kental sekali ketika mendapati adanya simbol-simbol yang setidaknya telah dijadikan satu kekuatan penting untuk mendongkrak dan memberikan racun kepada masyarakat bahwa simbol seperti ini tuh erat dan dekat dengan salah satu orang calon presiden dari bla..bla...Dan itu juga merupakan bagian dari strategi. Apalagi orang-orang yang mendapatkan kesempatan tersebut mendapatkan kaos-kaos calon presiden. Maka hingar bingarlah bus meriah dengan simbol simbol harap.

Nimbrung Dihari Yang Tepat

Harapan besar pasti menjadi prioritas mereka yang mengadakan mudik bareng bersama ehm ehm. Ia sudah barang tentu mempunyai anggaran yang sudah disisihkan dari anggaran strategi politik lain-nya. Disetiap strategi dan anggaran tersebut terdapat beberapa harapan akan sikap mereka memilih calon presiden yang diusung.

Ikut nimbrung citraan pada hari raya Idul Fitri memang sah sah saja. Akan tetapi hal tersebut janganlah dijadikan satu tiang kokoh bahwa masyarakat harus melihat baik, dalam arti kepada pemimpin dalam memimpin satu negara besar, calon presiden karena sikap baiknya memberikan mudik gratis ditahun sekarang. Masyarakat harus digiring kepada kejujuran yang universal ketimbang kebaikan yang datang secara sambil lalu.

Jadikanlah anugerah rezeki mudik gratis ini sebagai bagian dari rezeki Allah, dan berikanlah doa yang mulia kepada mereka yang memberikan dengan garis bawah tanpa menghilangkan satu kekritisan kita untuk melihat seorang pemimpin yang akan memimpin negara selama 4 tahun lamanya.

Pertanyaan harus diajukan kepada diri sendiri. Apakah kebaikan pada momen ini hanyalah semata karena ingin menggeruk suara saja? Kita tahu bawa lantas ketika suara didapat maka harapan besar dari kehidupan bernegara yang kita inginkan adalah lebih besar, tidak sebatas karena ingin Mudik semata, bertanyalah kepada diri sendiri lagi apakah mereka akan mengingat janji-janji manis sebelum mereka terpilih?Apakah yang berkuasa, yang kita pilih tersebut, benar-benar dekat keberadaannya dengan kita?

 Yang Senja Pada Tulisan

Bagaimanapun juga Idul Fitri takan pernah kehilangan maknanya. Meskipun ada satu kepentingan nimbrung kepadanya. Jadikanlah hal tersebut sebagai anugerah dan jangan pernah lupa untuk memastikan diri sendiri bahwasanya jadikan pula tahun depan sebagai suatu yang harus dilihat tidak secara sepintas sambil lalu.

Jangan menjadikan satu kebaikan yang datang secara tepat sebagai satu acuan bagaimana kita memilih seorang pemimpin negara Indonesia untuk 4 tahun lamanya. Percayalah 4 tahun itu lama dan selama prosesnya tersebut bila kita salah melangkah maka penyesalan yang kerap akan selalu menghantui.

Akhir kata, Saya ucapkan selamat hari raya Idul Fitri, semoga saudara seiman dimanapun engkau berada selalu dinaungi keridhaan Allah Maha Mulia. Mintalah petunjuk kepadaNya karena Ia adalah sebaik-baiknya yang maha pemberi petunjuk.
Benarkan kutipanya? :D
Indonesia, di pagi hari, sudah dikejutkan dengan tontonan yang tak biasa dalam sebuah berita. Seorang pembicara dari FPI melakukan siraman air terhadap seorang sosiolog UI, Thamrin Tamagola.

Kejadiannya terjadi saat TVone mengundang kedua pembicara tersebut untuk berdiskusi perihal pelarangan minuman keras, sweeping dan sebagainya pada bulan ramadhan. Kita tahu bahwa tak mungkin kalau TVone, kalau pada acara-acara diskusi yang membicarakan satu problema, mengundang pembicara hanya dalam tataran pada satu pihak saja.

Oleh karena itu dalam sesi Apa Kabar TVone pada pagi tangga 28/6/2013 itu, kedua orang dari kubu yang berbeda diundang untuk menjadi narasumber. Mereka berdua berbicara atas apa yang mereka pikirkan yang jelas tentu berbeda pendapat. Berbeda itu sudah tentu pasti berbeda. Munarman berbicara dari perspektif anu dan Thamrin Tamagola pun begitu demikian, dia berbicara dalam pandangan dirinya sebagai seorang sosiolog dan...

Tapi apa yang terjadi ketika dalam sebuah diskusinya, salah seorang dari kedua pembicara menyiramkan air terhadap thamrin tamagola?

Sejatinya kita, sebagai masyarakat yang berada pada tataran kedua dari sebuah kejadian, harus lebih melihat kejadian itu dengan secara seksama. Artinya kita harus lebih melihat kejadian itu dengan jalan yang tak sempit. Hanya pada perbuatan Munarman saja yang tak sopan terhadap orang tua, perbuatan yang tak dianjurkan agama Islam, dan lain sebagainya sedangkan jalan yang, mungkin, lebih luas kita lupakan.

Tak Mungkin Hanya Karena Sebuah Diskusi

Rasanya tidak percaya kalau hanya sebuah diskusi saja membuat seorang Munarman menyiramkan air terhadap Thamrin Tamagola. Bila dilihat secara gesture awal, yang ada dalam video-video hasil upload para user, sikap Tamagola terlihat agak santai namun terlihat muka tegang atau raut muka ketidakenakan ketika Munarman mengemukakan pendapat.

Sebaliknya Munarman, ia berbicara sesuai apa yang moderator pertanyakan. Dan tentu bila dalam sebuah diskusi saling berbeda pendapat itu adalah hal biasa. Ketika Munarman mengemukakan pendapatnya, terlihat ia menyinggung pendapat Thamrin Tamagola yang katanya bla..bla..bla.

Secara gesture, Munarman terlihat seakan semua biasa aja meskipun tangan dari Munarman-pun terlihat meliuk-liuk kepada thamrin, tapi tidak langsung menuju pada thamrin. Dalam sebuah diskusi semua bisa berbicara, bahkan gerakan tangan pun bisa menjadi simbol bagi lawan bicara.

Saya rasa permasalahan muncul dari sini. Dari ketika raut muka Thamrin terlihat begitu menggebu mendengar apa yang diutarakan oleh Munarman. Ketika tangan menyahut, yang mungkin disangka beliau, tertuju padanya maka marah lah sudah Thamrin meledak dengan kembali menunjuk dan memotong pembicaraan Munarman yang sedang asyik berpendapat.

Alhasil, jeger, air pun meruak tanda Munarman merasa tak enak pada sikap Thamrin yang dirasa tak sopan dan tak beretika. Barangkali acara yang ada di TVone tersebut lebih pada merupakan siraman rohani bukan sebuah berita pagi hari!

Dalam Maya Semua Begejolak Bila Bertemu Semua Gejolak Menjadi Nyata

Akhir-akhir ini saya sering berkunjung kedalam beberapa situs berita online Indonesia yang terkemuka. Apa yang saya ingin ketahui dalam kunjungan tersebut bukan karena saya ingin mencari berita terbaru atau gosip bahkan faktamorgana terbaru. Melainkan saya ingin, beralih, untuk mengetahui bagaimana respon masyarakat dari hari ke hari dalam menanggapi sebuah masalah, khususnya masalah Suriah alias komentarnya.

Meskipun masih dalam wacana spekulatif tapi saya merasa percaya bahwa media telah membagi massa Indonesia menjadi pada kurang lebih 3 dimensi. Mereka yang percaya bahwa tindakan oposisi benar kemudian mereka yang percaya bahwa tindakan rezim Assad benar dan terakhir mereka yang berada pada kegalauan dimensi pertama dan kedua. Semua pembenaran berdasarkan fakta yang beliau suarakan. 

Akibatnya dimana-mana berita tentang suriah dituliskan selalu saja terjadi perang maya, perang kekerasan terhadap simbol yang mereka percaya dan tak percaya, antara mereka yang percaya oposisi dan Rezim Assad. Permasalahannya sekarang adalah kedua dimensi ini sangatlah bersangkut pautan dengan agama Islam itu sendiri.

Yang percaya pada wilayah oposisi Suriah adalah mereka mempunyai pendapat bahwa sebagian besar konflik disana meliputi konflik antara Sunni dan Syiah. Sebaliknya yang lebih memihak pada Rezim Assad adalah mereka mempunyai pendapat bahwa adanya kekuasaan wahabi yang membuat semua menjadi kacau. Wahabi oleh karena mereka disokong oleh Amerika dan Israel dan Syiah oleh karena Iran, Hizbullah membantu Rezim Assad dalam memerangi oposisi. 

Media saya rasa turuk serta dalam mengagendakan sesuatu. Meskipun pada prosesnya media tersebut tidak sedang mengagendakan sesuatu tapi efek impolsion, meminjam istilah Baudrillard, pada masyarakat itu yang menjadi sebuah problema. Bila terus menerus hal ini dibiarkan dan berita-berita semakin tak kentara secara tidak sadar kita akan masif.

Kekerasan sudah terjadi dalam cara manusia berpikir, memaknai, menyimbolkan dan menginterpretasikan sesuatu. Kekerasan ini terjadi dalam sesuatu yang berada pada tataran semua bias namun menyebar seiring satu simbol meyakini satu sama lain. Ketika semua sudah membludak memenuhi cara kita berpikir, akibatnya cara kita bertindak pun akan kurang lebih sama dengan cara berpikir.

Didalam media lah semua orang bisa menyalahkan satu sama lain, memberi suatu pengertian satu sama lain mengenai apa yang diideologikan mereka atau apa yang diyakini mereka. Ditambah media adalah tempat yang sekarang menjadi wilayah sosial baru bagi bagaimana masyarakat berinteraksi sehingga sangatlah cepat untuk menyebar kearah manapun.

Di Indonesia juga ada sebuah gerakan maya yang mengatas namakan mereka dengan Indonesia tanpa Liberal dan Indonesia tanpa FPI dan sebagainya. Didalam medialah semua digodog terlebih dahulu sebelum menemukan tempat yang paling pas untuk reaksi.

Terjadi Pada Munarman dan Thamrin Tamagola

Diatas disebutkan bahwa rasanya tidak mungkin kalau misalkan sebuah diskusi sahaja membuat seorang Munarman melakukan penyiraman terhadap thamrin tamagola. Untuk kejadian ini mungkin ada sesuatu yang besar, yang tersimpan kelam dari kedua pihak yang berseteru.

Dalam banyak dunia maya saya banyak mendapati bahwa sosok thamrin tamagola adalah sosok yang pernah menjadi perbincangan massa. Akibat tindakannya yang melecehkan suku dayak perihal hubungan sex. Sementara itu dia juga pernah mempunyai statement luar biasa tentang perang ambon dan poso. Ia mengatakan untuk perang yang pernah terjadi disana itu adalah akibat Umat Muslim. Spontan hal tersebut tidak mengenakan terhadap umat Muslim.

Selain itu juga ada yang mendefinisikan thamrin tamagola sebagai seorang liberalis. Definisi yang terbuat oleh karena sikap dan pandangan seseorang terhadap agama yang sangat berbeda dengan yang lain, yang mungkin lebih banyak mengejutkan. Terkadang banyak orang yang berbicara bahwa yang liberalis itu keras dalam berpikir, keluar dari jalur dan terlalu dekonstruktif beudh - alay dikit pake beudh. he

Dan bukankah kita tahu bahwa sikap FPI, dan beberapa umat Islam terhadap pendefinisian liberal itu sangat tegas. apalagi Munarman, dia seorang yang tegas, yang kita tahu adalah seorang laskar dari front pembela Islam.

Melihat dari jejak kedua belah pihak yang penuh dengan maya yang tak biasa maka tidaklah salah kalau pada akhirnya "yang maya yang bergejolak akan nyata bertindak bila bertemu pada waktu bersama secara berhadap-hadapan."

Kesimpulan yang Pendek

Semua permasalahan Munarman dengan Thamrin bukanlah masalah penyiraman, tindakan sopan santun, tindakan seorang yang mencerminkan organisasi Islami, sahaja. Melainkan banyak hal. Kita sejatinya berada pada tingkat bagaimana kita tidak mengetahui sesuatu yang harus kita ketahui sebagai sebuah pemicunya.

Sehingga, bila berpikir demikian, kalau misal seseorang berbuat salah kita mungkin lebih menjadi seorang yang mutlak yang menguasai tindak hukum sosial bagi siapa saja yang dicap salah. Padahal kita tidak tahu kita sedang berbuat fitnah oleh karena sikap yang hanya terlihat secara sementara bagian.

Tindakan Munarman disatu sisi memang tidak salah bila menjadi permasalahan namun disisi lain tindakan thamrin tamagola yang memotong pembicaraan dan menunjuk setelah mendengar pendapat Munarman pun tidak dapat dibenarkan.

Setelah melihat kepada keduanya marilah kita lebih cermat, ingin mengetahui, sinyal-sinyal besar yang menjadi akibat penyiraman Munarman terhadap Thamrin. Sinyal-sinyal itu adalah apa yang telah tadi dituliskan, yaitu berada pada perang maya bergejolak ketika nyata reaksi terbuai.

Salam.