ARCHIVE

Default Thumbnail

School Of Law

Berikut adalah 20 contoh judul skripsi bagi teman-teman yang kuliah di jurusan Ilmu Hukum.


1. "Analisis Konstitusionalitas dan Implikasinya dalam Kasus Perkawinan Sejenis di Indonesia"


2. "Peran Hukum Internasional dalam Menangani Kejahatan Perdagangan Manusia"


3. "Konflik Hak Asuh Anak dalam Kasus Perceraian: Studi Kasus di Pengadilan Keluarga"


4. "Analisis Efektivitas Hukuman Mati dalam Mencegah Kejahatan Berat"


5. "Peran Hak Asasi Manusia dalam Penanganan Kasus Pelanggaran Lingkungan Hidup"


6. "Pemeriksaan Saksi Ahli di Persidangan: Tinjauan Yuridis dan Praktik Forensik"


7. "Tinjauan Hukum terhadap Prinsip Kesetaraan Gender di Tempat Kerja"


8. "Kebijakan Anti-Monopoli dalam Regulasi Pasar: Studi Kasus Indonesia"


9. "Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dalam Era Digital: Tantangan dan Perspektif Hukum"


10. "Upaya Penyelesaian Sengketa Investasi Asing melalui Arbitrase Internasional"


11. "Penerapan Hukuman Tambahan dalam Kasus Korupsi: Efektif atau Tidak?"


12. "Perlindungan Hak Cipta dalam Era Digital: Tinjauan Perkembangan Hukum di Indonesia"


13. "Analisis Yuridis tentang Ancaman Terorisme dan Upaya Hukum dalam Pencegahan dan Penanggulangannya"


14. "Ketidakadilan dalam Sistem Peradilan Pidana: Penanganan Kasus Kriminal Minoritas"


15. "Implementasi Prinsip Good Governance dalam Pengelolaan Sistem Peradilan di Indonesia"


16. "Penerapan Prinsip Kepastian Hukum dalam Penyelesaian Sengketa Bisnis"


17. "Analisis Perbandingan Sistem Hukum Pidana di Negara Civil Law dan Common Law"


18. "Dampak Hukuman Pidana terhadap Rehabilitasi dan Resosialisasi Narapidana"


19. "Perlindungan Anak dalam Konflik Bersenjata: Peran dan Tanggung Jawab Hukum Internasional"


20. "Dampak Hukum dan Etika Penggunaan Teknologi Rekayasa Genetika dalam Pertanian"


Dalam menentukan judul skripsi Ilmu Hukum, penting untuk memilih topik yang aktual, relevan, dan menarik bagi pembaca. Pastikan juga untuk melakukan penelitian literatur yang komprehensif atas topik yang dipilih dan menyediakan analisis hukum yang mendalam dalam artikel. 

Literature

Sastra Inggris merupakan salah satu jurusan yang kerap ada di perguruan tinggi besar di Indonesia. Jurusan ini sangat menganjurkan mahasiswanya untuk memperbanyak literasi.


Karena beberapa mata kuliah yang akan dipelajari tidak akan jauh dari bacaan-bacaan. Begitu juga dengan tugas atau skripsi.


Berikut adalah 20 contoh judul skripsi yang bisa membantu teman-teman dalam mencari inspirasi Skripsi yang mau diajukan.


20 Contoh Judul Skripsi Jurusan Sastra Inggris:


1. "An Analysis of the Cultural Representation in Contemporary English Literature"

2. "The Role of Gender in Jane Austen's Pride and Prejudice"

3. "The Influence of Colonialism in Joseph Conrad's Heart of Darkness"

4. "Exploring the Theme of Identity Crisis in J.D. Salinger's The Catcher in the Rye"

5. "The Use of Symbolism in William Shakespeare's Romeo and Juliet"

6. "A Comparative Study of The Great Gatsby and Death of a Salesman: American Dream and its Disillusionment"

7. "The Portrayal of War in Ernest Hemingway's Novels: A Critical Analysis"

8. "Feminist Perspective in Virginia Woolf's To the Lighthouse"

9. "Exploring Postcolonial Literature: A Study of Chinua Achebe's Things Fall Apart"

10. "The Depiction of Mental Illness in Sylvia Plath's The Bell Jar"

11. "An Analysis of Gothic Elements in Emily Bronte's Wuthering Heights"

12. "The Role of Mythology in T.S. Eliot's The Waste Land"

13. "Narrative Structure and Realism in Charles Dickens' Oliver Twist"

14. "Examining the Theme of Social Class in Oscar Wilde's The Importance of Being Earnest"

15. "The Representation of LGBTQ+ Characters in Contemporary Young Adult Literature"

16. "Literary Devices and Techniques in Harper Lee's To Kill a Mockingbird"

17. "The Impact of World War II on British Literature: A Comparative Study"

18. "A Study of Mythology and Folklore in Neil Gaiman's American Gods"

19. "Psychoanalysis and the Unconscious Mind in D.H. Lawrence's Sons and Lovers"

20. "The Influence of Modernism in T.S. Eliot's The Love Song of J. Alfred Prufrock"


Dalam menentukan judul skripsi sastra Inggris, penting untuk memilih topik yang menarik, relevan, dan dapat memicu minat pada pembaca. 


Pastikan juga untuk melakukan penelitian yang mendalam dan menyajikan analisis yang tajam pada karya sastra yang dipilih.


Fernando Mendez Pinto adalah seorang petualang dan penjelajah asal Portugal yang hidup pada abad ke-16. Dia terkenal sebagai salah satu penjelajah paling terkenal di masa penjelajahan dunia pada abad ke-16.

Biografi Fernando Mendez Pinto memberikan cerita tentang keberanian dan petualangan salah satu penjelajah Portugal tersebut.

Kehidupan Awal Fernando Mendez Pinto

Fernando Mendez Pinto lahir pada tanggal 1509 di Porto, Portugal. Dia tumbuh sebagai seorang anak yatim piatu dan sangat ingin menjadi seorang pelaut. Pada usia 14 tahun, dia bergabung dengan armada Portugis dan mulai mengikuti beberapa pelayaran. Dia memulai petualangannya dengan mengikuti pelayaran di pantai barat Afrika dan kemudian beralih ke Amerika Selatan.

Pelayaran ke Asia

Fernando Mendez Pinto memulai pelayaran menuju Asia pada usia 20 tahun. Dia bergabung ke dalam ekspedisi Francisco Xavier dan tiba di Malaka pada tahun 1538. Setelah itu, Mendez Pinto memulai perjalanan seorang diri dan menjelajahi wilayah-wilayah Asia timur seperti Jepang, Tiongkok, India, dan berbagai tempat lainnya.

Selama perjalanannya, ia mengalami berbagai rintangan seperti penyakit, penganiayaan, dan ketidakpercayaan orang-orang terhadapnya. Dalam bukunya yang berjudul "Peregrinacao" atau "Travels of Mendez Pinto", ia mengungkapkan pengalamannya selama perjalanan ke Asia.

Bukunya menjadi sumber informasi utama tentang berbagai kejadian penting di Asia seperti perang antara Tiongkok dan Vietnam, pertempuran antara Portugis dan Mogul di India, dan awal mula Perang Jepang Era Sengoku. Buku ini dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi terpercaya pada masa itu dan memberikan banyak wawasan tentang kehidupan dan masyarakat di Asia timur.

Kesimpulan

Fernando Mendez Pinto merupakan salah satu figur penting dalam sejarah penjelajahan dunia pada abad ke 16. Biografi Fernando Mendez Pinto menunjukkan keberanian dan semangat petualangannya dalam menghadapi berbagai rintangan selama perjalanannya ke Asia. 

Buku "Peregrinacao" menjadi bukti ilmiah penting dari perjalanannya dan memberikan gambaran tentang kejadian penting di Asia timur. Pinto meninggal pada tahun 1583 di kota Goa, India, selepas dari perjalanan hidupnya sebagai salah satu pelaut legendaris di Portugal.

- Muhammad Zaki Al Aziz, M.Hum

ilustrasi Haji

Kiprah organisasi Muhammadiyah dalam mencerahkan bangsa memang banyak meninggalkan jejak. Salah satu contohnya bisa kita lihat dalam usaha perbaikan perjalanan Haji di Indonesia pada zaman hindia belanda.

 

Upaya perbaikan yang dilakukan Muhammadiyah bukanlah tanpa alasan. Tapi dilatarbelakangi oleh realitas yang terjadi pada jama’ah Haji pada saat itu, yang dinilai kurang mendapatkan perhatian. 

 

Baik itu kondisi para jama’ah ketika berada di kapal atau ketika mereka tiba di tanah suci, Arab.

 

Berbagai literatur sejarah banyak menyajikan bagaimana hal tersebut terjadi. Sebagai contoh, pertama, sangat masuk akal bila mengatakan hindia belanda sengaja memberikan pelayanan buruk. 

 

Alasannya agar orang-orang Indonesia enggan melaksanakan ibadah Haji. Terlebih, meskipun secara finansial, mereka untung besar, apalagi dengan adanya hak monopoli Kongsi Tiga, tapi disatu sisi ada ketakutan lain yang dirasakan hindia belanda.

 

Pihak hindia belanda mewaspadai munculnya fanatisme Agama dan sebuah pemahaman baru yang bisa mengarahkan jama’ah Haji menjadi tercerahkan. 

 

Kedua, memang para penjajah memandang rendah orang Indonesia, karenanya pelayanan yang diberikan kepada jama’ah Haji sangat buruk. Barangkali buruknya pelayanan haji pada waktu itu adalah karena hindia belanda lebih mementingkan sisi materil ketimbang pelayanan.

 

Mengenai kesan buruk perjalanan haji pada zaman hindia belanda, bisa kita lihat pada tulisan surat kabar Pandji Islam tahun 1940. Dimana ada salah seorang tokoh organisasi Jami’yatul Washliyah di Medan, Rachman Syihab yang menjelaskan bagaimana pelayanan perjalanan Haji waktu itu.

 

Buruknya pelayanan di kapal, seperti ketidaksesuaian antara harga bayaran kapal dengan menu makanan yang diberikan. Meminjam ungkapan Syihab, makanan yang diberikan “tidak berharga sedikitpun”.  

 

Namun yang lebih membuat hati Syihab sakit adalah perlakuan orang Arab terhadap rakyat Indonesia yang sudah terlampaui batas bahkan sempat juga muncul istilah panggilan “Djawa Bagar” yang ditujukan pada jama’ah haji asal Indonesia saat itu.

 

Lantas, keadaan tersebut memicu semangat kebangsaan Syihab untuk membela harkat derajat bangsa Indonesia. Ia pun mengingatkan kembali arti penting pribahasa ini: “Tegak berkampung membela kampung, tegak berbangsa membela bangsa”.

 

Terkait Djawa Bagar. Penulis belum mendapatkan informasi lebih lanjut tentang istilah ini. Namun kalau meminjam arti dari KBBI, kata Bagar mempunyai arti gulai daging tanpa santan. Mungkin konotasi dari Djawa Bagar, kalau melihat pada konteks pada waktu itu yah mungkin, lebih kepada “Jama’ah Haji Indonesia Yang Kurang Gizi”. Wallahualam.

Berangkat dari persoalan-persoalan diatas, khususnya mengenai kondisi mengkhawatirkan yang dialami umat Islam. Maka organisasi Muhammadiyah yang bergerak, bukan hanya dalam rangka memajukan pendidikan saja, merasa terpanggil untuk mengupayakan perubahan atau bahasa sekarang mengorganisir perjalanan haji tersebut.

  

Upaya tersebut bisa dilacak pada waktu pertama kali organisasi ini didirikan, pada tahun 1912, dibawah kepemimpinan, Hoofdbestuur, K.H. Ahmad Dahlan. Organisasi Muhammadiyah telah membentuk satu lembaga bagian yang khusus berkecimpung dalam perbaikan perjalanan haji, yakni Bagian Penolong Haji. Saat itu Muhammad Sudja’ dipercaya menjadi ketua dari BPH tersebut.

 

Akan tetapi peran dari lembaga yang didirikan oleh Muhammadiyah tersebut belum benar-benar terasa atau kongkrit. Dalam usahanya itu, Haji Sudja’ dkk, dalam catatan sejarah tercatat kurang lebih 17 tahun, sebenarnya sudah melakukan beberapa usaha untuk membenahi atau mengorganisir perjalanan Haji namun selalu terbentur kegagalan.

 

Umpamanya ketika ada inisiatif, dari Regent Serang R. A. A. Djadjadiningrat, bagi jama’ah haji untuk menyewa kapal sendiri ketimbang dari penyelenggara waktu itu. Nantinya biaya yang akan digunakan berasal dari para kandidat haji yang akan berangkat. 

 

Sebagai propagandist atau promotor Inisiatif tersebut adalah 2 orang tokoh Muhammadiyah yakni Haji Agus Salim dan Haji Sudja’. Namun usaha tersebut tidak berlangsung lama dan berakhir dengan kegagalan setelah terbentur dengan kekuasaan hak monopoli “Kongsi Tiga” yang memang telah menjadi langganan bagi jama’ah haji Indonesia pada saat itu. 

 

Belajar dari pengalaman, maka pada tahun 1930, setelah kongres Muhammadiyah di MInagkabau. Haji Sudja’, R. Soetomo dan H. A. Kahar Moezakir berencana membuat sebuah organisasi, yang akan menjadi wadah perjuangan usaha mengorganisir perjalanan haji itu, diluar organisasi Muhammadiyah.

 

Salah satu usahanya yakni dengan mengumpulkan uang tiket dari kandidat calon haji yang akan berangkat. Namun usaha tersebut kembali mendapat penolakan dari Departement van Marine karena pada waktu itu tidak boleh ada penjualan tiket sebelum seseorang mengeluarkan lisensi sebesar f90.000.

 

Dari kegagalan-kegagalan tersebut, pintu perjuangan tidak pernah surut. Malah kegigihan Haji Sudja’ dalam rangka perbaikan perjalanan Haji semakin berkobar dan membara. Hal ini bisa kita lihat pada ungkapan kalimat yang ia sisipkan ketika berpidato dalam rangka perbaikan perjalanan Haji: 

 

“Apakah soekar mengadakan pelajaran yang baik itoe? Tidak, wangnya ada. Dimana? Ditangan kandidat Hadji! Tjobalah kiranja mereka membeli andeel. Mereka naik hadji, poelangnja nanti mempoenyai andeel poela”.

 

Perjuangan perbaikan perjalanan haji terus berlanjut. Torehan-torehan yang telah dilalui oleh Muhammadiyah atau Haji Sudja’ pada akhirnya berakhir dengan didirikannya N.V. Indonesische Scheepvaart dan Handel My yang pada tahun 1945 kelak menjadi N.V. Pelayaran Haji Indonesia. 

 

Haji Sudja’: The Man from Future 

 

Kiprah Haji Sudja’ dalam bidang kemanusiaan (filantropi) memang bukan kali ini dilakukan, yakni pada usaha membenahi perjalanan haji saja. 

 

Dalam organisasi Muhammadiyah, bisa dikatakan sosok Haji Sudja’ mempunyai ide-ide yang melampaui zaman. Singkatnya, Haji Sudja’ ibarat “the man from future, “ia seolah memiliki ide-ide yang tidak terpikirkan oleh orang-orang pada saat itu. Bahkan kerap kali ditertawakan!

 

Adanya sentuhan sosok Haji Sudja’ bisa kita lihat pada amal usaha Muhammadiyah seperti Rumah Sakit Muhammadiyah yang sekarang sudah berjumlah ratusan, serta MDMC yang pergerakannya makin mendunia, dimana cikal bakal pertamanya adalah Haji Sudja’ ketika membantu korban letusan gunung Kelud lewat “penolong kesengsaraan oemoemnya” (PKU) dan tentu peran Haji Sudja’ dalam sejarah perbaikan perjalanan Haji di Indonesia, yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Direktorat Haji di Indonesia. 

 

Hal tersebut tidak terlepas dari peran Haji Sudja’ dalam tubuh organisasi Muhammadiyah yang mempunyai andil besar dalam mencerdaskan bangsa. Semoga saja kedepan lahir Sudja’ Sudja’ lain yang mempunyai spirit kemanusiaan dan kemajuan.


- Muhammad Zaki Al Aziz, M.Hum


- Muhammad Zaki Al Aziz, M.Hum

Garut menjadi kota pertama di Priangan yang mendirikan organisasi Muhammadiyah di Jawa Barat. Secara resmi, dengan melihat pada ketetapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta No. 18, Muhammadiyah cabang Garut ini sah berdiri pada tanggal 30 Maret 1923.

Ketetapan ini nampaknya hanya penegas dari keberadaan Muhammadiyah yang, secara realitas, sebenarnya sudah dikenal beberapa tahun sebelumnya.

Formasi awal pemimpin Muhammadiyah cabang Garut pada waktu itu adalah sebagai berikut; Djamhari, Wangsa Eri, Masjamah, Sastradipura, Wiriasasmita, H. Saleh dan H.M. Gazali.

Selain menjadi formatur, mereka juga dikenal sebagai para perintis atau orang yang berjasa mengenalkan dan mengembangkan Muhammadiyah di bumi Pasoendan.

Madrasi; Perjalanan Singkatnya di Muhammadiyah

Selain tokoh besar yang kita kenal lewat historiografi Muhammadiyah Jawa Barat itu. Barangkali ada juga tokoh lain yang tidak tampil dalam kronika peristiwa sejarah tadi tapi mempunyai andil yang, katakanlah, tidak kalah penting. 

Biasanya tokoh-tokoh seperti ini terungkap lewat sumber-sumber yang tidak biasa, seperti wawancara atau melalui tulisan testimoni. Seperti halnya seorang tokoh yang akan dipaparkan dalam artikel ini, yakni M Madrasi yang merupakan salah satu tokoh yang berkontribusi dalam mengembangkan keberlangsungan organisasi Muhammadiyah di Garut.

Madrasi merupakan generasi awal yang ikut berkhidmat dan berkecimpung di Muhammadiyah cabang Garut. Hal ini bisa kita lihat dalam sebuah tulisan testimoni yang ditulis oleh tim Muhammadiyah Cabang Garut. Dimana dikatakan bahwa Madrasi menjadi anggota Muhammadiyah  pada tanggal 22 April 1922.

Tidak lama setelah itu, pada tahun 1923, Madrasi dipercayai menjadi anggota bestuur Muhammadiyah, sebagai anggota komisaris, bersama dengan Kasriah, H.M. Amir, Masjamah dan Marsijan (Amirullah: 2001). 

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1927, Madrasi bukan hanya dipercayai menjadi Komisaris saja tapi merangkap juga dengan Voorzitter Muhammadiyah bagian yayasan. Ketika ada sebuah gagasan berkemajuan dari aisyiyah untuk mebangun sebuah mushola tahun 1927, Madrasi juga dipercaya menjadi penningmeester (bendahara) dalam panitia komite pembangunan mushola Asiyiyah. 

Pada tahun 1929, bertepatan dengan tanggal 10 Dzulkaidah 1347 jam ½ 12 malam, Madrasi meninggal dunia. Meski semangat dan pikirannya masih kuat menyertai perkembangan Muhammadiyah, tapi umur memang tidak bisa dipungkiri.

Karena Madrasi bergabung dengan Muhammadiyah di usianya yang sudah senja, maka Allah cukupkan Madrasi hanya dengan beberapa tahun saja. Meskipun begitu dalam waktu yang singkat tersebut, sosok Madrasi di Muhammadiyah, seperti yang telah dikatakan diatas, tidak kalah penting juga dengan tokoh besar lainnya.

Perjuangan Madrasi di Muhammadiyah

“Moehamadijah Sjarikatkoe, Bachtera yang sangat membawa bahagia, akoe tetap ta’kan melepaskan perhoeboenganku sehingga pada adjalkoe ja’ni berpisahnja roch dan jasadkoe”.

Keputusan Madrasi untuk bergabung dengan organisasi Muhammadiyah bukan lantaran alasan ingin terlihat keren atau kekinian. Akan tetapi lebih pada mengikuti suara hati dan luas pikiran beliau. Terlebih Madrasi mempunyai latarbelakang seorang santri yang paham betul mengenai Al-quran dan pengamalannya di masyarakat.

Bisa dikatakan munculnya Muhammadiyah, seakan ia menemukan perahu untuk berlayar, mengarungi setiap nasib yang akan ia hadapi dengan perjuangannya dalam dakwah Islam. Bila kuat maka ia terus berlayar, kalau lemah tentu ia akan karam.

Madrasi tentu berada dalam keadaan berlayar dengan kuat. Kekuatan tersebut ia buktikan di medan laga dalam penyebaran Muhammadiyah. Karena memang sangat tidak mudah untuk menjadi anggota organisasi Muhammadiyah, apalagi masa-masa awal dikenalkannya Muhammadiyah pada masyarakat Garut.

Pada masa awal keberadaannya, Muhammadiyah di Garut ternyata mendapat respon yang kurang mengenakan. Hal ini agaknya berangkat dari karakter organisasi Muhammadiyah yang modern dan mempunyai jalan penyampaian dakwah berbeda dengan organisasi islam lain yang ada di Garut pada waktu itu.

Sehingga sempat pula pada waktu itu muncul fitnah-fitnah bahwa Muhammadiyah adalah oraganisasi sempalan, Islam palsu, beraliran wahabi, mempunyai faham Mu’tazilah dan lain-lain. Faktor lain yang tidak kalah penting nampaknya muncul dari kondisi masyarakat yang pada waktu itu sedang terjangkit seni-seni / budaya yang jauh dari keagamaan, khususnya dari nilai Islam.

Madrasi mengalami betul pahit dan getirnya ber-Muhammadiyah pada waktu itu. Bahkan saking frontalnya para pemaki dan pengolok Muhammadiyah, banyak dari anggota persyarikatan Muhammadiyah yang terpaksa memutuskan untuk keluar.

Namun itu tadi, Madrasi bak batu besar yang kuat dihantam badai. Ia malah memilih untuk berjalan beriringan dengan badai tersebut. Mengutip perkataan Madrasi diatas:

“Moehamadijah Sjarikatkoe, Bachtera yang sangat membawa bahagia, akoe tetap ta’kan melepaskan perhoeboenganku sehingga pada adjalkoe ja’ni berpisahnja roch dan jasadkoe”.

Adanya olokan dan hinaan tersebut justru malah membuat Madrasi semakin rajin pergi ke Surau kecil yang waktu itu dimiliki oleh Muhammadiyah (cikal bakal masjid Lio). Barangkali Madrasi tahu bahwa di surau inilah kelak menjadi titik penyebaran Muhammadiyah ke berbagai tempat.

Saking cintanya terhadap surau itu, Madrasi bahkan pernah berpesan sendiri kepada saudaranya bahwa salah satu keinginannya adalah meninggal didalam Surau ketimbang dirumah.  Selain itu dari surau ini pula peran Madrasi bisa kita lihat.

Umpamanya, kalau ada saja kerusakan pada surau maka Madrasi selalu yang terdepan dalam memperbaikinya tanpa harus menunggu perintah dari bestuur. Termasuk juga ketika ada rencana merenovasi surau ini menjadi masjid, Madrasi berperan dalam menyanggupi untuk menambah kesediaan kayu-kayu dan barang-barang lain yang kurang dari begrooting yang sudah ada. 

Sangat jelas hal tersebut merupakan salah satu wujud kecintaan Madrasi terhadap Muhammadiyah. Apalagi pada waktu itu Madrasi menjadi Voorziter yayasan yang mempunyai tanggung jawab besar terhadap amal usaha Muhammadiyah, ditambah peran Madrasi dalam pembangunan Mushola Aisyiyah.

Adapun hal lain yang tak kalah penting, Madrasi selalu memegang prinsip berdakwah dengan cara menggembirakan. Hal ini dibuktikan bilamana waktu itu Muhammadiyah cabang Garut mengadakan pengajian, baik Isra Miraj atau Maulud Nabi, Madrasi mempunyai inisiatif sendiri untuk merias atau mendekor ruangan yang akan dipakai dengan kertas, kain atau daun-daun dan itu semua Madrasi lakukan dengan menggunakan uang sendiri agar suasana pengajian begitu menggembirakan sekaligus mencerahkan.

Lambat laun, dakwah Muhammadiyah di Garut mulai menemui titik terang. Perjuangan para pendiri dan kader yang menyertai, termasuk Madrasi, dalam membesarkan Muhammadiyah mulai terbuka seiring dengan pemahaman masyarakat Garut terhadap Islam yang sudah berkembang. Keanggotaan organisasi ini pun mulai meningkat seiring dengan lahirnya ranting-ranting dibeberapa tempat. 

Kesimpulan

Madrasi adalah sebuah perumpamaan tepat dari apa yang telah diwanti-wanti Ahmad Dahlan dengan pesannya “Hidup-hidupilah Muhammadiyah”. Kesungguhannya dalam menjadi anggota Muhammadiyah ia laksanakan dengan berkerja dan mengamalkan.

Meski torehan Namanya tidak sebesar para tokoh pendiri Muhammadiyah lainnya, tapi itu hanya permasalahan siapa yang ingin menulis dan mengabadikan. Karena penulis yakin bahwa dari banyaknya kader Muhammadiyah di Indonesia, pasti ada jua yang memiliki karakter-karakter seperti yang dimiliki Madrasi.

Daftar Pustaka

Fadjri, Muh. 1968. Sejarah Singkat Muhammadiyah Cabang/Daerah Garut. Garut: Pimpinan Daerah Muhammadiyah Garut.

Amirullah, Sofwan Haris. 2001. Gerakan Muhammadiyah di Garut, 1923-1995; Studi Kasus Tentang Gerakan Pembaruan Pendidikan dan Pemurnian Keagamaan. Skripsi. Jatinangor: Fakultas Sastra Unpad

MPI, PP Muhammadiyah. 2014. 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi. Majlis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.

Pengoereoes Besar Moehammadiyah. 1932/1933. Almanak Moehammadiyah IX. Djokjakarta: Taman Poestaka

Ilustrasi - Al Maoen

Pengantar: Yap A Siong Ke Bandoeng

 

Pada postingan kali ini, dalam sesi seputar Bandung, penulis akan sedikit membahas tentang Yap A Siong, seorang pahlawan dan tokoh Islam yang berasal dari Medan dan merupakan keturunan tionghoa. Ketertarikan penulis terhadap terhadap Yap A siong muncul ketika membaca sebuah surat kabar lawas Al-Maoen yang pernah terbit pada tahun 1930an.

 

Dalam surat kabar tersebut ada sebuah pemberitaan mengenai kedatangan Yap A Siong ke Bandung pada bulan Januari tahun 1939 tepatnya didaerah Cimahi.  Kedatangan Yap A Siong, bila dibaca pada surat kabar tersebut, merupakan perjalanan safari dakwah terhadap muslim Tionghoa yang tinggal di sekitaran Bandung.

 

Dalam surat kabar tersebut dikatakan:

“Ngawitan taboeh 2 siang Djrg. Hadji Jap A Siong propagandist Islam bangsa Tiong Hoa ti Deli, bade ngajakeun lezing di Tjimahi” 

Propagandist yang dimaksud pada kalimat diatas merupakan kata yang cukup lumayan sering muncul pada surat kabar tahun 1930an. Tapi bila melihat pada konteks kalimat diatas maka propagandist disana mempunyai arti makna penyebar.

 

Ini bisa dilihat dari agenda acara yang telah ditetapkan pada pertemuan tersebut yakni:

  • Islam dan Persatoean 
  • Tarich Islam,
  • Islam di Tiongkok

Kedatangan Yap A Siong ke Bandung pada waktu itu bisa dikatakan merupakan sebuah momen penting. Karena untuk menyambut kedatangannya saja dibentuk sebuah komite atau panitia baik dari orang Islam keturunan Tionghoa dan bahkan penduduk asli Bandung.

 

Malahan kedatangan Yap A Siong sebagai pendakwah itu setidaknya merangsang para juragan Bandung dalam rangka berdakwah. Hal ini dibuktikan dengan dibentuknya sebuah badan yang dinamakan Comite Lezing Islam. Mereka yang pada waktu itu menjadi bagian dari Comite Lezing Islam adalah sebagai berikut:

 

Soetalaksana sebagai Voorzitter. Karim sebagai Secretaris Penningmeester dan Ong Soe An, Tjia Kok Soen, Gan Kok Sin, Setiadarma Nachrawi, Awod Alkasadi sebagai leden.

 

Namun sasaran dengan dibentuknya badan ini tentu adalah orang Tionghoa yang ada di Bandung. Sedangkan tempat yang digunakan mereka adalah di gedung Tjong Hoa Sing Hwee yang terletak di Chinese Voorstraat atau Jalan Pecinan Lama, Bandung saat ini.

Yap A Siong: Pendakwah Islam dan Pahlawan Nasional 

Tentu Yap A Siong itu bukan orang sembarangan. Artinya ia disegani dan dihormati oleh semua orang, khususnya orang Tionghoa. Rekam jejaknya dalam berdakwah dan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia telah berlangsung sebelum ia datang ke Bandung.

 

Jalan juang yang ia lalui dalam membentuk nasionalisme adalah dengan mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Persatuan Islam Tionghoa (PIT) pada tahun 1936 di Medan, Deli Serdang. Kelak organisasi itu menjadi kendaraan yang dipakai Yap A Siong dalam berjuang melawan penjajah.

 

Serangkaian safari dakwah yang Yap A Siong lakukan di Jawa merupakan perjalanan jihad demi menyatukan visi. Terutama kepada orang Tionghoa yang ada didaerah luar Sumatera. Mengingat bahwa terdapat sebuah jurang, atau pemisah, imbas dari hukum yang diterapkan oleh Belanda, antara penduduk pribumi dan etnis Tionghoa. Tugas Yap A Siong itulah untuk mejembatani jarak tersebut.

 

Dalam pembahasan diatas disebutkan bahwa salah satu agenda yang akan dibahas dalam pertemuan Yap A Siong dengan orang Tionghoa di Bandung adalah tentang Islam di Tiongkok. Maka bukan tidak mungkin dalam pembahasannya kelak terdapat rihlah perjalanan Laksamana Cheng Ho yang selama berlayar di Nusantara dipenuhi dengan keharmonisan.


Selain periode Cheng Ho banyak juga argumen sejarah penyebaran agama Islam yang dibangun dalam kerangka peran dari orang-orang Tionghoa. Bahkan salah seorang guru besar di Indonesia ada yang berpendapat bahwa kesembilang wali penyebar agama Islam di Jawa itu adalah orang China (TIonghoa).

 

Dengan dikaji kembali narasi sejarah orang Tionghoa pada masa lalu tersebut setidaknya menjadi sebuah pengingat bahwa sebelum kedatangan Belanda, hubungan diantara penduduk lokal dengan Tionghoa sangatlah baik.


Dengan demikian Yap A Siong menjadi salah satu orang yang berhasil menjaga tradisi diantara orang Tionghoa sebagai pendakwah Islam. Kisah Yap A Siong yang berdakwah tanpa mengenal umur pernah diabadikan oleh salah seorang sejarawan dan budayawan Ridwan Saidi.

"saat ia ceramah Islam di Sawah Besar tahun 1960-an dalam bahasa Tionghoa. Saat itu usianya 70-an. Jap A Siong jarang terlihat ngobrol-ngobrol. Ia bicara seperlunya". 

Yap A Siong, Bandung dan Beberapa Pertanyaan 

Kedatangan Yap A Siong ke Bandung menjadi sebuah momentum. Selain berdakwah, ia juga barangkali mengajak orang-orang Tionghoa untuk melek politik. BIla dikatakan demikian apakah kedatangan Yap A Siong ke Bandung mempengaruhi orang Islam Tionghoa di Bandung untuk ikut masuk ke dalam organisasi PIT? Sebuah pertanyaan menarik yang harus dikaji lagi lebih dalam lagi.

 

Selain itu salah satu organisasi yang juga muncul di Bandung pada tahun 1930an adalah Organisasi Muhammadiyah. Pertanyaannya apakah mungkin terdapat hubungan antara organisasi Muhammadiyah dan Yap A Siong. 


Karena salah satu orang yang membawa Muhammadiyah ke tanah Pasundan dan orang yang mendirikan Comite Lezing Islam sebelum kedatangan Yap A Siong ke Bandung adalah seorang juragan dengan nama yang sama, yakni Sutalaksana?


Maka kalau benar, hal tersebut akan menjadi nilai tersendiri bagi organisasi Muhammadiyah di Bandung. Karena organisasi ini terlibat aktfi dalam syiar Dakwah lintas tokoh.

Ilustrasi

Pengantar: Pribumi?

Indonesia ini bukan negara kemarin sore. Ia tidak tercipta dengan sendirinya, melainkan terbentuk oleh kepingan-kepingan sejarah yang beragam dan dengan periode waktu yang panjang. Nantinya kepingan-kepingan tersebut menjadi sebuah pondasi penting dari berdirinya sebuah negara yang kita kenal dengan Indonesia. Yah ibarat sebuah payung, Indonesia mengayomi berbagai suku dan ras yang beragam.

Keberagaman serta kedamaian yang ada di Indonesia setidaknya telah terjalin selama beberapa abad. Sumber-sumber sejarah banyak mencatat adanya suatu kegiatan antara orang-orang yang kelak akan dikategorikan sebagai "pendatang" dengan orang-orang lokal atau kelak akan diistilahkan "pribumi".

Dikotomi Bahasa dan Imbasnya Pada Masyarakat 

Tapi sebetulnya istilah pendatang atau pribumi itu agaknya muncul belakangan. Berbarengan dengan pendudukan Belanda di Indonesia. Tentu hal tersebut menimbulkan sebuah dikotomi yang cukup menganga. 

Kasarnya ada sebuah permainan bahasa yang dilakukan Belanda untuk membuat sebuah klasifikasi sosial di masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari peraturan Belanda tahun 1854 yang membagi penduduk dalam 3 kelas. Dan ini cukup rentan untuk membelah rasa kebersamaan yang sudah terjalin cukup lama diantara penduduk Indonesia.

Apalagi kalau bumbu permasalahan yang melekat pada istilah ini adalah isu rasial. Tentu permasalahan yang lebih serius akan muncul. Mungkin tragedi yang pernah terjadi pada tahun 1998 lalu itu bermula dari adanya kehidupan yang tumpang tindih antara pribumi dan non pribumi. Begitulah kiranya kalau istilah tersebut dikatakan tanpa sebuah kutipan.

Karena itu kita harus mengapresiasi langkah politis yang pernah dilakukan mantan Presiden Republik Indonesia yang ke 3, B.J Habibie. Dengan dikeluarkannya peraturan pemerintah no 26 tahun 1998 maka dikotomi antara istilah pribumi dengan non pribumi itu dilarang.

Permasalahannya adalah apakah dengan adanya peraturan tersebut, maka permasalahan tentang pribumi dan non pribumi itu selesai?

Mencuat Kembali

Ternyata pada pengaplikasiannya istilah pribumi atau non pribumi masih saja ditemukan. Istilah ini kerap kali dipakai baik oleh para pejabat atau masyarakat biasa. Namun hal ini bisa menjadi sebuah permasalahan besar kalau istilah pribumi digunakan untuk menegaskan identitas rasial.

Baru-baru ini ada sebuah berita yang mengabarkan bahwa terdapat kejadian tabrak lari di daerah Bekasi. Pas kejadian tersebut ada sebuah sikap rasial yang dilontarkan oleh pengemudi mobil, yang dikatakan menabrak dengan sengaja. Belakangan banyak beredar bahwa kalimat yang terlontar tersebut adalah "Dasar pribumi miskin".

Sangat disayangkan sekali kalau memang benar hal itu terjadi. Selain melanggar hukum, apa yang diucapkan pengemudi itu bisa saja menyulut sebuah konflik horizontal atau memperjelas kembali isu rasial yang dulu pernah menjadi lembaran kelam. Tentu kita semua tidak mau hal itu terjadi.