ARCHIVE

Default Thumbnail

Hai berjumpa lagi dengan saya - Muhammad Zaki Al-Aziz - sebagai penulis didalam blog Zakii Aydia ini. Saya ucapkan terima kasih sekali kepada seluruh pengunjung blog Zakii Aydia, hal tersebut saya utarakan adalah karena kunjungan anda adalah salah satu pemacu yang memotivasi saya untuk terus menerus menulis. Saya selalu berharap semua tulisan yang tersaji disini akan bermanfaat untuk kalian.

Untuk postingan kali ini saya hanya ingin berbagi cerita dengan kalian, mungkin ceritanya terlalu pribadi namun karena aktivitasnya berkaitan dan dilakukan oleh semua orang maka bersifat universal. Oleh karena itu saya ingin berbagi dengan kalian. Apa yang ingin hendak saya bagikan?

Membaca dan Buku

Membaca itu penting sebagaimana sang baginda Nabi Muhammad yang diperintahkan oleh Jibril untuk membaca ayat Al-Quran. Pun hal itu sangat penting untuk kita saat ini, karena dengan membaca kita secara sangat sederhana sekali akan merasa tahu dan merasa kecil hati karena banyak misteri didunia ini yang belum kita ketahui.

Maka dengan membaca kita pasti akan mempunyai pengalaman yang jauh dari pengalaman sebelum kita membaca. Apapun buku tersebut kalau sudah membaca maka proses transfer suatu ilmu pun sedang terjadi, malahan banyak orang yang mengaku bahwa pembelajaran dikampus itu tidak seperti pengetahuan kita dengan banyaknya bacaan buku yang dibaca.

Bukanlah saya menyalahkan mereka yang hanya bersifat formal tapi mereka juga sangatlah penting buat kita, karena merekalah yang mengarahkan kita untuk mengikuti dan sebagai penunjuk suatu jalan menafsirkan ilmu. Jadi kalau kita memanfaatkan kedua hal tersebut maka kita akan mendapatkan suatu keuntungan lebih dari kedua proses diatas.

Yang pertama kali kita gambarkan ketika mendengar kata membaca adalah pasti buku! Meskipun membaca itu bukan hanya milik mata saja tetapi bisa juga membaca pikiran, pendengaran, karena indera yang didapat pasti bermuara pada pikiran dan hati.

Buku, suatu kotak yang berisikan beberapa ilmu dunia sebagai perlambang pemanjangan sejarah manusia, telah menjadi suatu keharusan yang seharusnya ada. Kalau tidak ada buku maka tidak akan ada pembukuan pun sebaliknya sama. Tidak ada buku maka kita tida bisa mengetahui hal ihwal ilmu, sejarah peradaban yang telah lampau.

Membaca, Membeli dan Mengunduh Buku

Sekarang ini peradaban kita tengah berada pada kegemilangan tekhnologi. Tekhnologi membuat manusia mampu merambah dunia laut, langit, angkasa, hutan dan alam semesta (sebagiannya). Dunia dengan adanya tekhnologi dibuat sempit satu sama lain dan dibuat mudah bertemu - dalam maya - meski jauh satu sama lain.

Dan yang paling penting bisa bermanfaat juga pada proses membaca, apa maksudnya ini? Dunia ini sekarang adalah kampung global seperti tesisnya Marshal M. Tak ada yang tak terjangkau dengan tekhnologi, kampung, pelosok bahkan yang paling dalam dari pelosok pasti setidaknya membutuhkan listrik. 


Orang-orang mampu merembuk satu sama lain dari penjuru dunia yang berbeda hanya pada satu dunia, yakni maya. Dunia maya membuat orang dibius dibuatnya, dibuat diam bila sudah berdiam diri didepan komputer. Tapi sesuai dengan kehadirannya yang membiuskan kehadirannya memang bermanfaat disatu sisi dan disisi lain masih ada sisi kelam yang meraup-raup didalam pikiran.

Dengan kemudahan akses sekarang ini kita juga bisa mencuri-curi loh ~_^ maksudnya mencuri itu adalah mengunduh ebook gratis. Salah satu aspek keuntungan yang bisa kita dapat dari adanya internet dari beberapa ratus keuntungan. Berbagai buku yang susah kita cari di negara sendiri susah maka tidak banyak orang yang termudahkan dengan adanya sistem unduh e-book.

Eits tapi tidak semua buku gratis yang kita cari itu ada didalam server loh. Banyak buku-buku lokal yang masih sulit untuk didapatkan di dunia maya. Oleh karena itu kita diwajibkan untuk membeli buku-buku dinegeri kita sendiri. Membeli dan Mengunduh tidak ada ruginya loh malahan keduanya pada akhirnya menguntungkan kita.

Mengumpulkan Buku dan Membuat Perpustakaan Pribadi

Ketika rasa cinta sudah tumbuh pada kegiatan membaca - untuk itu perlu membeli dan mengunduh - maka seiring itu juga tumbuh rasa keinginan untuk mengoleksi buku-buku; baik itu buku lawas atau buku baru. Hal yang terbenak sesaat adalah membuat perpustakaan pribadi, suatu muara terakhir ketika beberapa hal diatas telah terlaksanakan.

Dengan adanya motivasi membuat perpustakaan pribadi maka hal-hal bermanfaat yang kita miliki sekarang akan bermanfaat pada generasi-generasi selanjutnya dan itulah proses yang berkala dari kehidupan yang bermanfaat.

Membuat perpustakaan pribadi itu sangatlah mudah karena apa yang kita butuhkan adalah ruangan, lemari yang dimodifikasi - sesuai kreatifitas anda - dan ruangan yang memadai untuk dijadikan suasana yang harmonis. Tapi untuk ruangan yang belum ada kita masih bisa menggunakan kamar kita sendiri untuk dijadikan ruangan perpustakaan pribadi.

Penutup

Bagaimana saudara ku penjelasan yang singkat diatas, apakah bermanfaat untuk kalian? Apabila ada suatu kesalahan maka jangan sungkan untuk menegurnya lewat komentar dibawah yah. ~_^ Apabila ada yang ingin menambahkan maka saya sangat hormati untuk ikut serta dengan berkomentar dibawah yah.... 
Siapa sanggup melawan kehendakNya?
Adalah manusia yang tiada berdaya atas kuasaNya
Mengemban misi lawasnya turun ke bumi
Mengisi hari yang bergemuruh tidak abadi

Siapa sanggup melawan dan merebut singgasanaNya?
Adalah manusia yang sombong meski sebentar berjalan dibumi
Dirasanya bumi adalah keindahan tiada tara
Namun congkaklah dia, karena bumi itu seteru dan penggoda jiwa abadi

Dia mentaqdirkan semua hal ihwal kehidupan
Percayalah nasib kita, Dia lah yang maha tahu kita melangkah
Bahkan ketika nanti saat dua tempat abadi yang akan diisi
Kenapa manusia tetap tiada berdaya untuk tunduk kepadaNya

Kapankah kita memulai untuk sedikit saja bertunduk
Bersujud membuka jiwa untukNya
Memelihara setiap anugerah yang diembankan pada manusia
Tanpa meredam anugerah yang berubah menjadi petaka

Peristiwa itu akan tiba waktunya
Kelak kita tiada berdaya, kita kecil hanya secuil nasi disamudera
Kita kocar-kacir mengeluh dan ingin rasanya kembali bertobat
KebesaranNya yang sanggup membuka mata hati manusia... 
Bagaimana pendapat Anda mengenai artis/performer musik di Indonesia saat ini?

Mengapa saya memilih biasa saja dari semua pertanyaan yang disediakan? Itu adalah sebuah jawaban dari seorang individu manusia yang mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan orang. Artinya selain saya, masih banyak orang lain yang akan mengatakan bahwa performer artis musik Indonesia saat ini sedang mengalami sebuah kemajuan.

Suatu hal yang wajar dalam bermusik terdapat perbedaan. Maka dari itu munculah genre-genre musik yang berbeda didunia ini, dengan kata lain mereka mengindikasikan kepada kita bahwa terdapat beberapa pandangan yang berbeda dari selera musik yang ada didunia. Tanpa harus ada sesuatu yang harus mempertanyakan dan mempertahankan ego dalam ideologi. Tapi akhir-akhir ini terdapat sebuah selintingan, kritikan, sindiran yang banyak dilontarkan kepada Boyband/Girlband. Karena memang industri musik Indonesia sekarang ini Boyband dan Girlband sedang naik pamor.  Apakah yang menjadi kendala utama penyebab semua ini?

Untuk itu mari kita bahas dulu sedikit tentang mengapa selera musik berbeda. Saya akan menggunakan teori Ibnu Khaldun sebagai penjelas mengapa selera musik orang berbeda. Ibnu Khaldun mengatakan musik itu adalah menyelaraskan sajak-sajak dengan musik. (1986:511) Lebih lanjut Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa didalam musik itu selalu menimbulkan apa yang namanya kesenangan. Menurutnya “Kesenangan adalah pencapaian hal-hal yang serasi. 

Dalam persepsi sensual hanya dapat dicapai oleh yang merupakan suatu kualitas. Bila suatu kualitas sesuai dan serasi bagi orang yang memiliki persepsi, maka itu akan menyenangkan. Bila kualitas itu menjijikan dan dibenci orang itu, kualitas itu akan menyakitkan. (1986:512) Saya sepakat dengan Ibnu Khaldun, mengenai teori kesenangan yang ditimbulkan atas persepsi yang cocok dan serasi. Namun bila persepsi yang tidak Nampak dalam diri ini, adalah ketika mendengarkan musik-musik selain grunge, saya tidak akan menyukai jenis musik lain. Karena terlebih dahulu selera saya telah ada pada persepsi dan selera Grunge. 

Proses pembentukan keselarasan, selera yang serasi, dan sensasi menurut Ibnu Khaldun terbentuk dari penglihatan dan pendengaran yang serasi ditimbulkan oleh tata harmonis didalam bentuk dan kualitas benda yang dilihat atau didengar. (1986:512) Persepsi telah mengendalikan saya untuk menyebutkan bahwa Grunge adalah genre musik yang tiada tandingnya. Dan persepsi inilah yang menyebabkan selera musik kita berbeda dan pada akhirnya selera ini akan membawa setiap orang menyatakan bahwa musik ini mempunyai nilai seni yang tinggi.

Bagaimana pendapat Anda mengenai peran pelaku/dunia bisnis industry musik terhadap kemajuan musik Indonesia saat ini?

Seorang kritikus musik ternama sekaligus pemikir terkenal Theodor Adorno pernah menulis sebuah esai yang isinya adalah kritik terhadap musik pop pada zamannya. Apa yang terjadi pada Adorno sebenarnya sama dengan penjelasan diatas. Bahwa seleralah yang menyebabkan Adorno mengkritik musik pop pada waktu itu, selain ada pihak lain yang membuat Adorno lebih kecewa yaitu terjadinya suatu Industri Budaya/Budaya Populer.

Menurut nya musik sekarang selain dikatakan telah kehilangan nilainya, mereka telah dinodai oleh kapitalisme dengan segala bentuknya. Kaum kapitalis tidak pernah ingin mengerti para musisi, mereka hanya mengerti dalam logika berpikir pasar.

Begitu juga peran media yang pada saat ini telah menjadi sebuah alat penyebar gurita kekuasaan. Menurut para ahli, media telah menjadi alat kaum atas untuk melancarkan ideologinya. Apa yang ada didalam media di Indonesia saat ini adalah apa yang tengah populer dan digandrungi oleh massa.

Keadaan masyarakat saat ini seperti sebuah partikel partikel yang senantiasa mudah diombang-ambing. Industrialisasi meningkat maka konsekuensinya adalah kita hidup pada zaman yang dikatakan Baudrillard sebagai zaman pencitraan. The end of ideology and the rise of imagology.

Masyarakat akan mengamini apa yang media tawarkan karena masyarakat yang ada pada zaman sekarang adalah masyarakat yang sama/masyarakat yang diam. Kalau kata Herbert Marcuse “Manusia Satu Dimensi” Masyarakat akan berdamai dengan kapitalisme karena kapitalisme memberikan kesenangan yang berhasil membius masyarakat .

Kalau begitu pemerintah apa perannya? Tidak ada.

Saran Anda

Saran saya adalah bagaimana membuat media bisa adil pada genre-genre musik lain-nya. Karena pada akhirnya saya sering merasa bahwa jenis musik-musik yang pernah mewarnai Industri musik Indonesia saat ini hanya akan menjadi sebuah komunitas.

Sementara yang populer adalah apa yang diInginkan Media dan penguasa selalu menjadi hal yang menguntungkan bagi mereka. Jangan hanya karena populer begitu banyak mendatangkan uang dan yang tidak populer tidak mendatangkan uang yang banyak, mereka jadi meminggirkan atau menganak tirikan genre lainnya.

Dalam bermusik yang bermain adalah perasaan, karena musik menimbulkan kesenangan. Dan jika kesenangan dinodai oleh keuntungan semata maka tidak salahlah bila Theodor Adorno mengkritik Musik pop pada zamannya.

Harapan Anda?

Sedikit harapan pastilah selalu ada dengan melihat masih adanya suatu keceriaan dari genre-genre musik yang ada di Indonesia. Ada beberapa dari musisi Indonesia yang ingin mencoba mengCounter Culture hegemoni sifat budaya popular tersebut. Suatu sikap yang kuntowijoyo singgung adalah untuk mengatasi sifat budaya popular, privatisasi. Sebagai salah satu contoh mungkin bisa kita lihat kepada lagunya Tipe X yang berjudul Boyband. Tipe X mempunyai selera tersendiri, karena mereka telah hidup dan jatuh hati pada genre beraliran SKA.

Mereka hidup pada zamannya, zaman ketika mereka belum mengenal Kpop, dan SKA lagi menjadi hits. Ketika mereka muncul kembali dengan lagu yang berjudul Boyband. Maka apa yang terjadi pada Theodor Adorno terjadi pula kepada Tipe X.

Selera dalam bermusik pastilah akan selalu berbeda, karena zamanpun silih berganti. sebelum 1990 masih rock ,1990 zamannya Grunge, 2000 Melodic dan sebagainya. Hal itu mengindikasikan bahwa sangatlah lumrah bila selera dalam bermusik itu berbeda-beda, dan kritik mengkritik itu akan selalu ada sepanjang zaman. 

░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░

Selain dialog diatas ada tanggapan yang baik sekali oleh admin KMI, saya sangat menghormati karena itu adalah komunikasi yang berjalan. Namun saya tidak menjawabnya disini mungkin suatu waktu nanti saya akan menjawab lagi apa yang ditanggap oleh admin KMI. Berikut adalah tanggapan dari admin;

Catatan Admin:
 Tampaknya saudara NN menekankan pemahaman mengenai perbedaan selera dan pendapat mengenai musik. Blog Kritik Musik tidak mengkritik berdasarkan selera para penulis kritiknya melainkan berdasarkan Teori Musik saja.
 Mengenai pemahaman perbedaan berpendapat mengenai musik telah dijelaskan oleh salah seorang kritikus musik Indonesia, Ronald Hutasuhut. Artikel-nya berjudul "Perdebatan Musik", dapat dilihat di sini.
 Ia menjelaskan bahwa: pendapat berdasarkan 'Selera' melahirkan 'Persepsi', namun Teori Musik adalah ilmu pengetahuan yang sifatnya 'pasti' (ilmu pasti, mengandung unsur Matematika, Fisika, Logika, dsb). Sehingga Persepsi seseorang sifatnya 'belum tentu benar' (seperti filsafat atau ideologi), namun jika menggunakan suatu teori ilmu pasti, maka suatu pendapat dapat langsung diuji kebenarannya.
 Terima kasih sudah ikut berpartisipasi. 

Ya Allah yang maha mulia, maha kuasa bagi yang tak terkuasai manusia. Sungguh aku bersimpuh tuk berdoa kepadaMu. Sebagai rasa ketidaksempurnaan manusia dialam bumi ini. Seperti aku yang sekarang sedang merasa terpukul, tertampar kesedihan melihat saudara-saudaraku di Syria, palestina dan dimanapun itu mengalami ujian yang begitu berat. 

Hanya kepada Engkaulah tempat terakhir manusia menuju, dengan doa yang tulus untuk mereka, aku panjatkan semoga Engkau selalu memberikan ketabahan bagi saudara-saudara hamba disana.

Begitulah doa yang saya ucapkan ketika sudah melaksanakan shalat maghrib tadi. Doa tersebut aku layangkan khususnya kepada saudara-saudaraku di Syria yang sekarang sedang mengalami ujian yang berat. Sebenarnya keadaan ini adalah sama seperti ketika Theodor Adorno tertegun hatinya melihat orang Yahudi mendapatkan perlakuan yang keji oleh Nazi. Namun dengan hal tersebut, saya bukannya malah mengajak anda untuk tidak menulis puisi setelah beberapa pembantaian terhadap saudara-saudara saya. Saya hanya ingin berbicara tentang hal lain yang mungkin anda juga tahu.

Dalam suatu Kesamaan itu ada satu hal penting yang menjadi kunci utama bagaimana bisa saya seorang Indonesia bisa ikut berduka cita yang sangat terhadap mereka? Adalah adanya suatu tali yang mengikat erat hati ini sehingga mampu merasa terpukul meskipun hanya sebatas melihatnya dari gambar-gambar dan video.

Jawabannya sangat mudah untuk ditebak!! Jawabannya adalah karena saya seorang manusia yang tak tega melihat manusia lain dibantai dengan keji. Tak hanya itu pula, yang paling utama dari apa yang ingin saya terangkan adalah rasa kesedihan seorang muslim yang melihat saudara semuslim disana dibantai dengan keji oleh pemerintahan yang banyak digadang bisa menjalin suatu demokrasi!!

Saya pernah menulis bagaimana tingkatan manusia bisa meredakan konflik meskipun secara tidak berkesudahan. Bahwasanya suatu rasa solidaritas yang kuat untuk mewujudkan apa yang dikatakan renan kehendak ingin bersatu, sejatinya adalah sebuah pengkolektivan individu-individu yang mempunyai sifat berubah didalam masyarakat.

Sebagai contoh; Konflik antar supporter yang melibatkan 2 kota berbeda nyatanya bisa bersatu dan berbaur kembali ketika tingkatan solidaritas yang diemban individu berpindah kepada wilayah yang memiliki tataran yang luas, yaitu ketika tim kebanggaan Indonesia bertanding. Sebagai contoh lagi; Konflik kecil antar geng motor yang berada didalam perkotaanpun bisa menjadi kabur ketika tim kesayangan kota mereka bermain. Tidak menutup kemungkinan hal seperti ini terjadi pada konflik-konflik lain yang mempunyai wilayah tertentu.

Dari penjelasan diatas, saya menyimpulkan dari kesimpulan yang telah dikenalkan oleh para pemikir zaman dahulu, terdapat suatu tali pengikat yang ada - menunggu untuk mengikat - dalam tataran kehidupan sosial. Sukarno dengan geopolitik, Renan dengan kehendak bersatu dan ibnu khaldun dengan solidaritas sosial. Walaupun permasalahan-permasalahan selalu terjadi menimbulkan konflik namun dengan sendirinya bisa reda karena ada sebuah pengikat dari rasa hakekat manusia yang sosial itu.

Dan begitu juga ketika saya merasakan kesedihan yang perih apabila melihat saudara-saudara di Palestina, Irak, Syria dan Lebanon dibantai dengan keji oleh mereka yang keji. Adalah rasa kesamaan dalam hati sebagai seorang muslim yang membuatku sedih dengan melihat mereka. Pengikat ini benarlah sangat berharga untuk saya dan semua umat muslim didunia. Meskipun seringkali kita dapati bagaimana ketidakadilan menimpa saudara kita tapi hal tersebut bisa dijadikan sebuah pemacu diri kita untuk meningkatkan rasa solidraritas yang kuat.

Bayangkan apabila kita berpikir sama untuk mengambalikan kehendak tujuan yang satu? Adakah suatu kesimpulan yang nantinya akan membuat umat muslim bersatu? Hilangkanlah permusuhan antara Malaysia dan Indonesia (Nyatanya bila berbicara tentang Islam, antara Malaysia dan Indonesia sama saja, tak ada perbedaan, semua membela yang teraniaya!! Dan satukanlah rasa kita dengan melihat pada realita bahwasanya masih banyak saudara kita yang tak semujur dibanding kita. 

Meskipun sulit, minimal kita melangkah kaki selangkah daripada mundur setapak!! Jangan menjadi pengecut!!
Akhir dari buntut kasus pengeroyokan salah seorang supporter yang diantaranya seorang warga Bandung akhirnya berakhir dengan ditangkapnya beberapa orang yang dianggap tersangka oleh polisi. Saya sendiri sudah yakin sekali bahwa mereka-mereka yang terlibat dalam pengeroyokan itu akan tertangkap oleh polisi. Dan kalaupun polisi merasa kesulitan untuk menangkap pelaku pengeroyokan maka hal tersebut patut dipertanyakan dengan tegas!!

Keyakinan saya terhadap suatu keniscayaan tertangkapnya para pelaku pengeroyokan adalah dengan adanya beberapa bukti yang telah tersebar banyak dalam media-media seperti facebook, twitter bahkan youtube. Saya untuk urusan ini ingin mengucapkan terima kasih kepada Media, karenanya memudahkan orang-orang untuk mengenali orang-orang yang terlibat dalam pengeroyokan di GBK pada waktu lalu. dan memudahkan polisi untuk menangkap para pelaku.

Media, bukan hanya seperti yang disebut Ahmed sebagai iblis namun juga sekarang telah berubah menjadi mediasi tempat para iblis yang tidak berpikir mengeluarkan ocehan-ocehannya yang tidak perlu. Ocehan-ocehan itu sangatlah saya tak sangka, mengapa orang bisa sebegitu bersemangatnya setelah menghilangkan nyawa manusia. Dengan rasa bangga ia lantas mengupdate statusnya di facebook, twitter dan youtube.

Mengapa rakyat Indonesia menjadi seperti negeri barbar seperti ini? Bukan jawaban yang sangat mudah untuk dijawab didalam artikel yang singkat ini. Namun yang jelas telah terjadi suatu perubahan-perubahan dalam ranah sosial yang ada didalam masyarakat. Untuk itu saya menganjurkan tuan untuk membuka jawabannya sendiri baik dari segi historis ataupun dari mana.

Konflik dan Fanatisme Yang Akut

Tewasnya Rangga bukanlah satu-satunya korban yang meninggal akibat dari peseturuan dua supporter yang berbeda, Rangga mungkin yang kesepuluh dari banyaknya korban yang meninggal akibat tindakan fanatisme yang akut. Lalu kenapa akut? Karena fanatisme yang tidak diarahkan akan membawa suatu konflik yang menyebabkan fanatisme yang tidak terarah.

Dahulu kala ketika Indonesia dengan semangat para pejuang pemersatunya telah mewanti-wanti untuk bisa mengatasi konflik-konflik yang terjadi secara sentripetal. Karena Indonesia ini adalah negeri yang besar, tuan!! Negeri kaya raya dari pemberian Allah Maha Mulia! Oleh karenanya para pejuang kemerdekaan Indonesia tahu betul bagaimana mereka membuat tali perekat dari perbedaan-perbedaan di Indonesia ini, yaitu Pancasila!!

Yang menjadi indikator pada waktu itu adalah karena beberapa faktor seperti perbedaan agama, budaya dan etnik namun sekarang zamannya sudah beda! Zaman sekarang konflik-konflik baru timbul bukan hanya dari segitiga yang diatas. Namun terjadi juga pada akibat hal-hal yang tidak terlintas dalam benak pikiran. Namun bila saya menggunakan rumus jitu dari kata kunci kebudayaan yakni “deteritorialisasi” mungkin semuanya bisa mengacu kepada hal tersebut.

Sebenarnya konflik antar supporter telah terjadi dikebanyakan klub sepakbola tua yang ada diseluruh dunia. Namun kebanyakan teori atau dari literature yang bisa diakses melalui artikel-artikel, ternyata konflik yang terjadi bisa merujuk pada perbedaan agama, kelas dan bahkan kaum kiri!! Lalu yang terjadi antar supporter Indonesia terjadi akibat apa? Kalau alasan yang tuan berikan adalah semata karena iri, bangga, membela suatu klub maka jawaban tersebut kurang untuk dilontarkan. Karena hal tersebut akan menyebabkan suatu masalah yang tak berkesudahan. Malahan akan terurai terus kepada generasi-generasi berikutnya.

Bila melihat kepada kejadian GBK itu, saya berpikir inilah rasa fanatisme salah arah, fanatisme kolektif yang berisi puncak kebencian-kebencian individu!! Tuan, fanatisme yang terjadi di GBK itu bisa saja terjadi pada wilayah kecil dari masalah antar supporter! Misalnya gangster, dikota saya seringkali anak-anak yang menjadi beringas bila bertemu dengan salah satu lawan gangsternya, bahkan bisa terjadi pembunuhan!! Karena fanatisme Individu bisa beragam dan tidak harus toh pada satu kesatuan besar (Supporter Klub Kota)

Saya sungguh menyayangkan hal tersebut tuan, bagaimana perasaan orang yang ditinggal Rangga, bagaimana perasaan para pengoroyok pada waktu itu. Sungguh tuan, saya tak bisa membayangkan bagaimana keadaaan keduanya!!

Hilangnya Konflik dan Kebersamaan Dalam Perekat

Tuan, mari kita lihat Pancasila! Apa yang anda bayangkan dan pikirkan ketika mendengar kata pancasila? Bila saya menjawab, maka persilahkan saya untuk menjawab Pancasila adalah keadaan orang-orang Indonesia itu sendiri! Keberbedaan agama, suku, etnik dan budaya menjadi bias dan satu dipersatukan oleh suatu keinginan bersatu.

Kehendak yang satu!! Itu kata Renan bila membicarakan bagaimana seharusnya Negara, dan Solidaritas sosial yang kuat yang dikenalkan Khaldun adalah sama dengan apa yang dikatakan Renan, Itulah inti dasarnya suatu Negara. Dan pahlawan saya, yakni Sukarno telah menambahkan tentang pengertian Geopolitik.

Tuan, seharusnya hal diatas bisa menjadi suatu pembelajaran untuk tuan-tuan sebagai warga Negara. Baik dalam hal supporter atau dalam gangsterpun, pasti mempunyai satu tali perekat persaudaraan. Semisal ketika Tim Indonesia bermain, maka supporter-supporter yang lainnya menjadi lebur dan menjadi satu rasa yaitu kehendak yang satu “Indonesia Menang”!!!

Pun dalam gangster juga pasti akan ada selalu tali perekat untuk meleburkan konflik antar gangster berbeda, yaitu klub kesayangannya dimana mereka tinggal. Ketika persib bermain, maka tak ada lagi yang namanya gangster yang berlawanan, yang ada hanyalah rasa keinginan untuk persib menang!

Nah sekarang bila ditarik suatu hikmahnya maka sudah tentu jelas bahwa saya, kita dan semua orang harus bisa mengamalkan perbedaan-perbedaan yang sekarang ada di Indonesia menjadi suatu pemicu kecintaan yaitu “Untuk memajukan sepak bola Indonesia” bukannya kita lantas memperburuk keadaan atmosfer persepakbolaan kita!! Akhir kata "Tuan, mari kita berdamai"!  
  
Melihat komedi sketsa dengan pandangan sendiri memang sungguh mengasyikan, karena bukan hanya kepuasan diri sendiri sahaja yang akan didapat namun tuan-tuan yang membaca artikel pendek ini mungkin akan setuju atau tidak setuju sekali dengan apa yang akan tuliskan disini. Dan ketika terjadi pergolakan pemikiran yang ditandai dengan komentar-komentar – yang miring atau tidak miring – itulah letak kepuasan kedua yang saya ingin selalu rasakan. Begitulah komunikasi satu sama lain agar bisa saling terjalin, meskipun berbedap opini atau ideologi pemikiran namun saya yakin dengan berkomunikasi lewat komentar akan melahirkan suatu dialog yang tak bosan.

Tuan-tuan tahu betul dan tahu pasti apa itu komedi? Komedi adalah sesuatu hal yang bisa membuat tuan-tuan tertawa dan terhibur, iakan? Itulah hakikatnya komedi yang didalamnya memuat sesuatu yang pasti akan menghibur tuan.

Disini tuan tidak akan menemukan bagaimana saya mengajak anda setuju definisi komedi menurut sang maha guru Aristoteles, namun tuan akan menemukan sedikit perbedaan definisi dari yang dulu pernah tuan agungkan. Karena saya tahu betul kalau membicarakan komedi tanpa batasan tertentu akan menimbulkan suatu kekacauan makna. Oleh karena itu saya ingin membatasinya melalui penelaahan komedi tertentu pada acara tv komedi terbaru di trans tv yaitu sketsa.

Definisi yang ingin saya kenalkan pada tuan adalah bagaimana kita menghancurkan definisi komedi yang pernah tuan tahu dari dulu. Bahwa Komedi adalah peniruan manusia yang lebih buruk dari rata-rata. Buruk (ugly, ridiculous) yaitu kesalahan atau kekurangan yang tidak menimbulkan penderitaan, kesusahan atau melukai hati orang lain, seperti topeng. Topeng adalah sesuatu yang buruk tanpa menimbulkan penderitaan (pain). (Blogspot)

Namun perbedaan yang ingin saya kenalkan pada tuan adalah perbedaan yang bisa benar2 membuat tuan untuk berpikir secara dekonstruktif dan kritis. Saya mengajak tuan untuk sedikit mengamini apa yang saya pikirkan tentang dunia komedi sekarang ini.

Sketsa Komedi dan Ketidak Kentaraan Sang Penonton

Adalah sketsa komedi yang ada di Trans TV yang telah menyita perhatian dan pemikiran saya sekarang ini. Bukannya saya merasa terhibur dengan apa yang mereka tampilkan dalam kotak ajaib yang bisa membuat anda terbius namun yang saya dapatkan kebanyakan mengerutkan bulu mata dan tak habisnya untuk terus bergumam ‘Gak lucu2 amat tapi bisa tertawa yah’ Yah namanya juga komedi pastilah saya dan tuan-tuan pun akan selalu tertawa karena komedi adalah suatu yang bisa menghibur kita.

Dimanapun manusia itu berdiri, duduk atau berbaring ketika mengerutkan alis mata maka yang terjadi selanjutnya adalah bertanya dan membuat pertanyaan yang sangat sederhana tentang sketsa komedi ini. Pertanyaan pertama yang ingin saya lontarkan kepada tuan-tuan adalah;

1.       Adakah suatu efek peralihan cara pandang saya atau tuan2 kepada panggung dari panggung yang ditonton secara langsung dengan panggung melalui media (khusus dalam sketsa)?

Pertanyaan pertama ini rentan terhadap sejarah dan perkembangan dunia pada abad sekarang. Panggung yang saya maksudkan disini adalah bagaimana para lakon atau artis itu berada ketika mereka menjadi seorang penghibur dari zaman romawi sampai zaman globalisasi. Bisa anda bayangkan bagaimana perubahan-perubahan yang mungkin terjadi selama itu?

Jawaban saya adalah banyak terjadi suatu peralihan yang bias dari cara bagaimana para lakon itu menghibur dan menjadi komedian. Tuan apakah setuju bila saya ajukan pertanyaan simple, adakah peran penting media dalam komedi sketsa? Pernahkah tuan mengerti bagaimana media berperan penting dalam komedi sketsa ini?

Jawaban Atas Satu Pertanyaan Mendasar

Maaf tuan sebelumnya bila saya ingin menganjurkan, saya ingin tuan setuju dengan saya. Karena kalau tuan tidak setuju bagaimana tuan membaca dan mengerti apa yang ingin saya sampaikan pada tuan. Tujuan itu sangat penting untuk disamakan tuan, kalau tidak bagaimana mungkin kita akan sampai tempat tujuan.
Tuan, maaf itu hanya bercanda!! Begini tuan, acara komedi sketsa ini memang benar membuat kita tertawa karena itu adalah komedi yang menghibur. Namun dalam proses dari bagaimana mereka ingin membuat anda tersenyum tengah dicampuri oleh media.

Lalu dimana letaknya? Tuan tonton saja sendiri bagaimana kebanyakan acara komedi sketsa syarat diperlihatkan bagaimana sorotan-sorotan kamera dari yang satu kepada yang lain. Ketika mereka sedang berdialog mengenai sesuatu yang sudah dibuat sedemikian rupa, namun pada akhirnya hal yang akan membuat anda tertawa bukanlah dari cara mereka berdialog sahaja. Adalah bagaimana aktor lainnya – yang sudah didandani selucu-lucunya oleh para tukang permak wajah – tengah menunggu disorot kamera oleh cameramen – bener ga saya nulis cameramen- ?

Dengan sedikit hentakan suara yang ditinggikan dan wajah yang sedikit terkejut melihat aktor yang tengah ditunjuknya, maka proses peralihanpun tengah terjadi. Panggung yang dizaman romawi, yunani menghadirkan komedi secara langsung tanpa ada campur media tengah berganti kepada peran media yang banyak pemikir berpendapat bahwa media ini sekarang telah menjadi tambahan tubuh manusia.
Begitulah tuan, bagaimana tuan? Apakah anda setuju atau tidak? 
Ini kali keberapa ketika saya begitu tak ingin menuliskan suatu yang sebetulnya tak perlu untuk saya tulis. Bagaimana tidak? Saya sedikitpun tak mau untuk membicarakan ataupun menuliskan tentang sesuatu masalah pada satu agama yang sama terdapat suatu perpecahan yang keduanya saling mempunyai truth claim nya sendiri. Tak jarang hal tersebutlah yang justru sering menimbulkan konflik yang tak berkesudahan.

Disatu sisi terdapat beberapa orang yang selalu merasa benar bahwa apa yang dilakukan oleh mereka adalah benar-benar tak dapat disalahkan. Dengan jargon dan kata-kata pamungkasnya “kekerasan” mereka bak Tuhan yang mengadili apa yang dilakukan oleh manusia. Saya sengaja menempatkan jargon-jargon – atau lebih jelasnya kalimat inti - yang sering mereka katakan. Karena menurut saya mereka tengah kebelinger diri sendiri dengan sikap tak legowonya.

Mereka yang seperti itu selalu meneriakan secara frontal atau berupa insuasi terhadap suatu ormas yang selalu dicitrakan dengan penuh kekerasan, atau dengan kalimat-kalimat seperti Tuhan saja maha adil, sejak kapan Tuhan mengajarimu menjadi tentara? Mereka mungkin lupa bahwa semenjak tidak adanya kesusaian pandangan dari kedua belah pihak maka terdapat pula suatu perpecahan umat yang lahir akibat perbedaan pandangan tersebut.

Yang saya maksudkan disini adalah kesalahan mereka adalah mengintimidasi kekerasan dengan kekerasan itu sendiri. Mereka ingin mengakhiri konflik namun dengan melahirkan konflik yang baru. Seperti contoh saja ketika ada salah seorang – ia mungkin tak suka dengan sikap ormas yang dipikirnya selalu berbuat keras tanpa ada suatu setidaknya peringatan atau diskusi – yang berbagi pemikirannya lewat media sosial; facebook, twitter dan lain-lain mengenai tindakan kekerasan ormas terhadap ketidak setujuan seorang pembicara asal kanada akhir-akhir ini.

Apa yang dilakukannya meski niatnya baik namun terkadang tidak menimbulkan rasa kesamaan pendapat, bahkan saya adalah salah seorang dari beberapa teman saya yang lainnya yang tidak setuju dengan apa yang ia lakukan. Karena apa yang dilakukannya itu malahan menimbulkan suatu kekerasan yang ditimbulkan dari kebencian setelah apa yang ditulis dan dipublish.

Kekerasan tersebut bukanlah kekerasan dengan definisi yang sebagaimana petengkaran, adu jotos, adu fisik namun lebih bersifat lembut dan dibiaskan dengan sikap “tapi”, suatu sikap yang tidak konsisten. Kekerasan yang saya singgung disini adalah bermula dari sikap yang dikiranya baik dengan cara mengkritik – tanpa solusi – terhadap ormas tersebut. Bagaimana setelah orang-orang membacanya, tak pelak timbul rasa benci dari apa yang dibacanya, dan dari benci itulah terkadang lahir sebuah konflik yang masih tertanam didalam hati. Dan mungkin akan meledak bila tepat pada waktunya.

Akhir-akhir ini saya mempunyai beberapa teman, bilang saja mereka belum benar-benar bisa mencerna apa yang diberitakan dan dituliskan oleh orang-orang yang dipandangnnya sebagai orang pintar. Teman saya tersebut ketika melihat beberapa orang dengan pakaian mirip dari ormas yang ditenggarai selalu berbuat keras, dengan secara spontan mengajak saya dan beberapa teman saya yang lainnya untuk mendatanginya dan memukulinya. Alhasil saya geleng-geleng kepala dengan sikap yang sebetulnya tidak juga harus seperti itu. Dan hal yang demikian tidak terjadi pada satu orang saja melainkan pada beberapa orang lainnya.

Ketika saya mencoba untuk bertanya kepada dia, dengan alasan apa engkau lantas ingin memukulinya dan menindaknya? Mereka menjawab dengan singkat “Mereka selalu berbuat keras dan melakukan kekerasan”

Kebencian yang seperti ini yang terlahir dari buah kata yang selalu digembor-gemborkan oleh mereka yang mungkin berbeda pendapat dengan ormas tadi. Kekerasan ini meskipun tak nampak namun terasa setelah ada hubungan kausal yang berawal dari suatu pemikiran dan menjalar pada perasaan benci. Bukannya mereka mengajak kepada kita berbuat bijak untuk menyikapinya malahan secara tidak disadari mereka tengah menggiring kita untuk membencinya, dan mungkin saja bertindak keras.

Bayangkan apabila hal ini terjadi pada seluruh warga di Indonesia? Apa yang mungkin terjadi adalah sama, bahwsanya kekerasan yang ditanggapi oleh suatu sikap yang tak tepat akan menimbulkan suatu konflik yang baru dan berketerusan.

Tak pelak aura perpecahan pun menjadi salah satu yang muncul akibat dari perbedaan tersebut. Bukannya perpecahan itu rentan terhadap gelombang yang ingin selalu menghantam? Bukankah perpecahan itu adalah suatu kehilangan rasa kesatuan yang kokoh? Alangkah lebih baiknya bila kita duduk sopan, santai dan bergembira menggapai tujuan. Namun apa daya dalam suatu harmoni kebaikan akan ada selalu setan-setan yang menghampiri.