ARCHIVE

Default Thumbnail

Seorang anak terlihat murung
Dengan keadaanya dia merenung
Ditepi jurang menara itu, dia menatap seluruh kota
Hingar suara era peradaban dan redup suara hati jiwa

Hingga berakhirnya hari-hari silam, datangnya senja
Anak itu masih bernyanyi menemani malam demi sesuap makan
Dalam hatinya ter-patri untuk membuka lembaran baru
Lalu berkata `Dengan keadaan-ku yang seperti ini, tidak lantaas untuk-ku menyerah untuk terbang menyentuh langit

`Sementara itu

Tidak jauh dari pelataran rumah, aku berandai
Terbentang luas hijau-hijau berbaris
Seraya bernari, berdendang dengan harmoni
Tanpa asap dan tanpa bising

Beberapa saat kemudian, aku memohon
`Tolong tuliskan kembali tinta awal kehidupan kita`
Dimana suara gemercik air menyambut pagi, lantunan burung gorejra bernyanyi
Angin sepoi-sepoi dan hijau-hijau pun bergoyang

Aku sendiri duduk diatas bambu rumahku
Aku mengiringi pagi dengan bambu yang berbunyi mengikuti burung bernyanyi merdu
Aku sendiri menatap ciptamu
Aku hanya ingin dunia seperti harmoni irama bambu



Begitulah kata-kata yang aku tulis dalam sebuah diari untuk hari ini dan menurutku kalau aku memfokuskan diri terhadap lingkungan hidup/semesta alam yang indah ini maka aku akan mendapati banyak tema tentang alam yang akan aku tulis dalam diari. Hal ini terjadi karena banyak hal-hal yang masih belum aku ketahui tentang fenomena yang terjadi. Hakikatnya alam ini adalah untuk mendampingi manusia dalam system kehidupan, oleh karena itu alangkah baiknya alam ini dipelihara oleh manusia-manusia. Dengan itu manusia akan hidup berdampingan dengan lingkungan yang asri dan berseri.

Akan tetapi hal itu bertolak belakang dengan yang terjadi belakangan ini. Meskipun penghijaun santer digembor-gemborkan oleh pemerintah namun tidak sedikit juga lahan-lahan yang pada awalnya alami menjadi kotor ulah besi-besi penghancur. Aku meratapi kota dimana aku dilahirkan, ketika itu terbesit tanya mengapa akhir-akhir ini pohon-pohon rindang yang membuat kita sejuk malah dihancurkan?

Suatu tanda tanya besar yang harus segera diselesaikan oleh kita, sadarkah kita bahwa alam semesta juga adalah sabda-sabda dari tuhan, diciptakan tuhan untuk menaungi manusia dari kelaparan. Apakah kita bisa menerima kalau kita melihat banyaknya gedung-gedung pencakar langit yang tidak menghasilkan apa-apa dibuat sebanyak mungkin? Apakah kita bisa menerima ketika mendapati pohon-pohon yang menjerit ditebang dengan kejinya? Kepekaan kita terhadap lingkungan harusnya dipertanyakan kembali.

Kita tidak bisa mendengar jerit kesakitan lingkungan hidup ini, kita tidak menyadari bahwa mereka menangis untuk kita, karena dengan tidak adanya lingkungan hidup yang berseri dan asri akan menimbulkan bencana bagi kita sendiri. Manusia yang tidak mempunyai etika sering kali melupakan esensi keberadaan lingkungan hidup bagi kehidupan. Yang mereka pikirkan hanyalah sebuah hal nyata untuk kehidupan.

Menurutku bukan hanya dikota saja aku mendapati lingkungan hidup yang seakan terkikis oleh peradaban baru, dikampung-kampung juga sudah nampak terjadi hal yang bertolak belakang dengan penghijauan. Aku sangat murka sekali terhadap diri sendiri karena aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk melestarikan lingkungan ini. Aku berharap lingkungan akan membalas balik perlakuan kita, jangan sampai mereka murka terhadap kita. Jangan sampai mereka meniadakan kita dengan sekejap. Karena semua itu bukti dari kekuatan sabda-sabda tuhan.

Jika bumi masih seperti ini, kita hanya sedang menunggu
Menunggu ketika kita dihempas badai akibat murka, digoyang gempa akibat dusta
Siapa yang mau melihat semua terlihat begitu tidak teratur, mereka marah, murka terhadap kita
Ketika malam mencekam, gemuruh ledakan gunung, benturan air bah, angin kencang menderai kita

Sesuatu yang tidak bisa kita hindarkan namun sering kita anggap tiada akan kebenarannya
Melihat gadag besi berserakan diatas langit, menghancurkan kehidupan
Ketika orang maya berkata demikian rupanya akan datang peradaban baru
Semua adalah peringatan akan kepekaan kita terhadap pembuktian


Hatiku tertegur ketika mendapati semua yang aku lihat akhir-akhir ini, dalam hati ingin rasanya mengembalikan semua keadaan indahnya semesta ini, termasuk dilingkungan dimana tempat aku berlabuh. Masih banyak cara untuk menghijaukan lingkungan. Karena alam selalu setia sampai saatnya nanti tiba akhir dari segalanya.

Ini bermula dari setetes kata durja
Menjadi luka terhadap sesama
Membiarkan persaudaraan terlantar dusta
Memberikan amarah mengembang menjadi juara

Dari segalanya...

Tak bisakah kita duduk diam tersenyum meminum kopi
Menyelesaikannya tanpa ada siratan yang membekas hati
Sulit mungkin, tapi perdamaian itu masa depan, akan terjadi
Kita pudar akan pandangannya, kita hitam untuk melalui

Bercermin

Bukankah kita sudah mengarungi sejarah
Melalui perahu kata kita diberi arah untuk mengubah
Meniru cerita bijak lakon pewayangan pra sejarah
Tak ubahnya seperti kehidupan yang terus berubah

Belajarlah ...

Lalu bekas luka itu bisa kita obati dengan kesadaran
Dengan kecemasan eksistensinya, kita cemas dan kita sadar
Jangan sampai tekad bulat kita terpecah tipu muslihat yang menimpa yudisthira
Terkungkung oleh keegoisan, ketamakan, kekuasaan dan kesemuanya. inilah akhirnya terpecah dalam keadaan
Ilustrasi Kritik Sastra - Zakiiaydia

Bila dilihat dari kacamata diri sendiri, kritik sastra itu diharapkan bisa melahirkan kritikan yang mengandung nilai-nilai baik buruknya, tinggi rendah mutu dari suatu karya sastra. Secara garis besar kritik sastra itu terbagi kedalam 2 kategori yaitu, kategori kritik sastra akademis dan kritik sastra umum. Sebenarnya keduanya sama-sama kritik, akan tetapi perbedaannya terletak pada metodologi-metodologi yang dipakai dari kedua krtik tersebut. Kritik sastra umum adalah kritik yang bersifat public yang bisa diapresiasikan untuk semua khalayak dan masyarakat luas. 

Biasanya kritik ini muncul didalam media-media massa berbentuk resensi, artikel dan yang lain-lain. Semua orang pun bisa menjadi seorang kritikus/para pengapresiasi kalau dilihat dari wilayah kritik sastra umum, meskipun begitu para pengkritik ini juga harus sesuai dengan koridor teori kritik sastra yang bisa membangun, tidak mencaci, dan tidak membaur kedalam hal yang jauh dari yang dikritik, dan juga bisa mengekspresikan tujuan pengarang lewat teks. 

Berbeda dengan kritik sastra akademis yang lebih bersifat kritik alamiah, dengan kata lain setiap kritikan yang dilontarkan kritikus harus disertai dengan alasan pertanggungjawaban. Artinya ia bisa diterima berdasarkan ketentuan ilmiah. Sesuai dengan kerangka teoritis dan metodologi pengungkapan nilai-nilai yang dipakai.

Namun akhir-akhir ini peran kritik sastra akademis yang diharapkan bisa memberikan angin segar terhadap kritik-kritik yang bersifat objektif, kritikus tidak dari orang yang mendalami bidangnya ataupun dari kritik sastra yang kurang ilmiah. Tenyata masih banyak dikeluhkan.

Menurut Subagio Sastrowardoyo: 

“Tidak sedikit peminat sastra yang merasa kecewa melihat perkembangan kritik sastra dewasa ini, khususnya yang berlaku dan dilakukan di lingkungan akademis. Yang diharapkannya dari kritik sastra adalah suatu kritik, yakni suatu tanggapan yang mengandung penilaian tentang baik-buruk, tinggi-rendah mutu dan berhasil-tidaknya karya sastra yang konkret dihadapi penelaah. Harapan itu tidak terkabul karena yang disibukkan para dosen dan mahasiswa perguruan tinggi adalah pemahaman berbagai teori sastra modern yang kebanyakan bersifat formalitas.”

Polemik tentang peran kritik sastra akademis bukan hanya terjadi sekarang, hal tersebut sudah ada dari sejak berkembangnya sastra Indonesia modern sekitar tahun 1920 khususnya ketika polemik kritik rawamangun versus Ganzheit. Namun hal yang seperti ini menjadi perbincangan hangat lagi bagi para sastrawan untuk mencari tepian perbincangan panjang tentang peran krtik sastra akademis.

Tidak mudah bila saya menjawab pertanyaan mengapa polemik peran kritik sastra akademis terjadi?apa penyebab itu terjadi? Dan kapan hal itu tepatnya terjadi? Saya yakin sekali bahwa untuk menemukan kepuasan atas pertanyaan tadi tidak memerlukan waktu yang singkat untuk mencari jejak awal dari polemik ini terjadi. Oleh karena itu saya hanya membatasi sedikit dari efek munculnya polemik ini dengan mengacu pada referens-referensi yang saya temukan. 

Pada awalnya saya sendiri masih kebingungan ketika salah satu dari teman saya memperkenalkan dan berbicara tentang kritik sastra akademis. Sempat berpikir bahwa yang dimaksud dia adalah kritik yang diajarkan dikampus. Dan memang hal itu benar bila dilihat secara singkat akan tetapi pengertian saya itu hanya sedikit dari banyaknya hamparan-hamparan luas yang belum terjamah oleh saya. Namun yang sedikit saya ingat dari jawaban yang diungkap adalah `selalu berkarya kit`. Betapa jauhnya saya menjawab pertanyaan tersebut. Berangkat dari sana saya mulai mencari tahu tentang kritik sastra akademis, guna mengklarifikasi dan mempertanggungjawabkan kesalahan jawaban yang saya lontarkan. 

Seiring dengan berkembangnya teori-teori yang di import dari barat baik itu teori pengetahuan, alam, bumi, seni, sastra., sedikit telah mempengaruhi pemikiran-pemikiran dalam kemajuan interpretasi kita terhadap objek yang diteliti. Khususnya dalam tulisan ini adalah teori-teori sastra yang terlahir dari pemikiran-pemikiran barat. Bila merujuk pada perkataan A.theuw dalam essainya yang berjudul membaca dan menilai sastra terbitan Penerbit Gramedia, Jakarta, tahun 1983 tertulis disana antara lain:

“Teori sastra telah berkembang pada paruh abad ke 20 ini, sehingga teori-teori lama tidak dapat diandalkan lagi untuk membaca dan memahami karya sastra. diIndonesia teori mutakhir ini jarang dikenal atau hanya sedikit diketahui orang. Akibatnya teori sastra Indonesia sering ketinggalan zaman. Karangan-karangan Teuww dalam buku ini justru memperkenalkan teori sastra Roland Barthes dan Michael rafattele (Francis), Hans Robert Jausz(Jerman barat), Juriz M. Lotman (Rusia), Jan Mukarovosky dan Volic Vodicka (Cekoslovakia), dan lain-lain.”

A. Theuww berpendapat bahwa teori-teori yang berasal dari barat banyak digunakan dalam mengkritik karya-karya sastra daripada teori-teori sastra Indonesia yang ada, bahkan diatas dikatakan bahwa teori sastra Indonesia sudah ketinggalan zaman, mungkin secara tidak langsung teori sastra Indonesia sudah jarang dipakai dalam dunia pengkritikan. Oleh karena itu dengan adanya teori-teori sastra yang berasal dari barat seakan-akan menjadi suntikan segar bagi dunia kritik sastra di Indonesia. khususnya didunia akademik yang diharapkan akan mencetak seorang kritikus yang handal dan mempunyai interpretasi bagus mengenai pemahaman karya sastra.

Sudah barang tentu bahwa kehadiran kritik sastra akademis diharapkan membawa angin baru dalam meliput perkembangan karya-karya sastra Indonesia. Semakin banyaknya karya-karya yang berkembang di Indonesia tidak sebanding dengan adanya kritikan-kritikan terhadap karya yang berkembang itu. Dunia kritik sastra akademis yang salah satunya berada ditempat-tempat kuliah dituntut untuk bisa menjadi kritikus yang bisa mengapresiasikan pendapat-pendapatnya terhadap khalayak luas, dan tentu harus berdasarkan nalar yang bagus sesuai teori-teori yang telah dikenalkan di akademik dan alasan-alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Namun ada kecenderungan bahwa kritik sastra akademis akhir-akhir ini mulai meredup, bahkan ada yang mengatakan kritik sastra akademis telah mati. Hal itu menjadi sorotan tajam para sastrawan dalam pertemuan ke 3 di riau pada tanggal (31/10). Banyak yang menyorot peran kritik sastra akademis dalam dunia kritik susastra Indonesia masih jauh dari pengharapan. Tidak heran kalau misalnya dalam pertemuan itu Sastrawan dan guru besar sastra Budi Darma mengatakan, mayoritas kritik sastra akademis hanyalah artefak kering, kurang darah, kurang daging, kurang semangat hidup. Mayoritas kritik sastra akademis hanyalah ada demi kepentingan untuk ada belaka, bukanya ada untuk membawa pengaruh dan membawakan dampak.

Beberapa alasan mungkin bisa kita temukan dalam polemik ini, tanpa ada maksud menyalahkan pihak satu dan pihak yang lain-nya. bahwa peran kritik sastra akademis kurang dikenal luas didalam masyarakat, karna yang pertama kritik sastra akademik itu di tulis sebagai bahan formalitas, ketika itu di tulis sebagai formalitas, kesungguhan di dalam penulisan untuk melakukan suatu penemuan yang berguna bagi perkembangan sastra berkurang, hingga kontribusinya ikut berkurang. Ke dua kritik sastra akademik terlalu mengedepankan format, menganggap materi sebagai harga mati, hingga pengunggkapan terhadap kebulatan karya sastra itu berkurang. Ke tiga dalam penyajiannya mengggunakan bahasa baku atau ragam bahasa ilmiah, sehingga kritik sastra itu menjadi kaku, tertutup hingga sulit di terima masyarakat. Ke empat kritik sastra akademik cenderung berada di lingkarannya saja, artinya kurang terpublikasikan secara luas hingga kontribusinya menjadi kurang. (Nensi Suherman)

Tidak terlepas dari itu, permasalahan ini sebaiknya tidak boleh dibiarkan, permasalahan ini harus segera diatasi dan dibenahi umumnya bagi semua orang dan khususnya untuk orang-orang yang berada dalam institusi terkait pembelajaran sastra. Namun disisi lain perlu diperhatikan juga bahwa harus ada pertimbangan untuk ruangan publikasi-publikasi untuk kritik sastra akademis di Indonesia. Karena kritik sastra akademis ini sangat terbatas dalam ruang publikasi nya. Kritik sastra akademik akan tetap mendapat tempat di wilayah ini tanpa harus kehilangan sifat keilmiahannya. Institusi harus berperan dalam mensosialisasikan kritikan-kritikan dari pengaplikasian teori kedalam media massa semisal Koran, majalah, jurnal atau internet.

Dengan begitu hal ini bisa menjadi salah satu solusi dalam polemik ini, meskipun masih banyak kekurangan-kekurangannya. Kalau diibaratkan, ` bagai jarum pentul diluasnya lautan.` akan tetapi mungkin hal ini bisa bermanfaat bagi kalian semua yang menyimak.


Pertentangan antara budaya barat dan timur memang selalu berbentur dengan keadaan sebenarnya, dimana latar belakang keduanya sangat mempengaruhi perkembangan bagi negaranya masing-masing. Khususnya orang-orang barat yang pada dari dulu rajin mencari sumber kekayaan dari dunia timur dan akhirnya menjadi sebuah koloni, kata lain yang bisa dikatakan adalah "menjajah". Akan tetapi kedatangan orang-orang barat ke dunia timur yang pada awalnya untuk menjadi koloni banyak disalah gunakan dengan exploitasi dari mereka sendiri. Lantas keadaan ini sangat merugikan tuan rumah itu sendiri, meskipun tidak disadari secara langsung akan tetapi dampak seperti ini akan terasa setelah paska kolonialisme ada.

Poskolonialisme adalah keadaan paska colonial, dampak yang terlahir sebab colonial dari imperium barat. Dampak ketidaksukaan orang-orang timur akan kewewenangan orang barat dinegerinya sendiri. Orang-orang barat seolah-olah menjadi orang penting dengan perkembangan Negara yang mereka tempati pada waktu itu. Hegel mengatakan dalam bukunya yang berjudul the philosophy history ‘Afrika tidak memiliki sejarah sama sekali, sama juga dengan pernyataan Marx yang mengatakan India juga seperti itu. Ini berarti menunjukan pada kita bahwa adanya ratu andil yang akan membawa Negara tersebut kepada perubahan. Adalah orang-orang barat yang mempunyai power untuk melakukan hal tersebut, bukan hanya menguasai kekayaan dan sumber daya manusia, akan tetapi mereka juga mulai rajin menyebarkan pemikiran mereka secara tidak langsung. 

Meskipun secara tidak langsung dampak ini akan mempengaruhi cara pikir, akan tetapi Edward Said melihat bahwa hal ini bukanlah sebagai suatu hal yang wajar karena pada prosesnya, warga negara yang berada dalam negara poskolonial atau rata-rata berada di timur, memiliki kondisi psikologis yang berbeda pula dari negara-negara dunia pertama.

Kini masih bisa terasa bahwa wacana orang-orang barat selalu dirajakan ketika datang pada Negara yang pernah dijajah oleh negaranya, salah satu contoh yang akan saya analisis yang terdapat dalam acara National Geographic Adventure dengan acara wild Africa. 

National Geographic Adventure adalah salah satu channel tv terkenal di Amerika, yang banyak menyajikan hal-hal yang tidak diketahui kita sebelumnya, dan memberi ilmu-ilmu baru untuk kita semua. Namun yang tidak kita sadari dalam hal ini adalah kita tidak mengetahui bahwa mereka menjadikan kekuasaan mereka untuk pergi semena-mena ke Negara yang mereka tuju, seperti dalam contoh diatas, dalam acara Wild Africa. Acara yang menyajikan dunia binatang yang ada di Africa pada kita, Africa adalah salah satu surganya hutan didunia. Banyak orang-orang barat melakukan penelitian keilmiahan mereka dengan datang secara langsung ke lokasi, menemukan hal-hal baru. 

Dalam wild Africa diceritakan datangnya orang-orang barat berserta senjata-senjatanya yang antara lain, peralatan modern, kamera modern, foto modern, serta pemikiran modern. Bukan tidak mungkin kita berpikir apakah mereka mengetahui jalan-jalan yang harus mereka lewati dan jalan mana yang tidak seharusnya mereka lewati?!. Oleh karena itu mereka membutuhkan orang-orang pribumi yang akan dijadikan guide. Meskipun pada akhirnya mereka mempunyai kompas berjalan, akan tetapi hal lain muncul dan membuat merinding, bahwasanya barang-barang yang merupakan perbekalan mereka selama melakukan penelitian dibawa tangan oleh orang-orang afrika itu sendiri. Beberapa orang afrika dijadikan mobil berjalan yang akan menemani perjalanan orang-orang barat selama penelitian. 

Untuk melengkapi perjalan mereka, orang-orang barat juga meminta ditemani oleh ilmuan setempat untuk penelitiannya. Mungkin kita berpikir bahwa pastilah orang-orang pribumi lebih tahu keadaan dimana mereka tinggal daripada orang-orang barat. Namun kenyataannya orang-orang barat malah menyajikan kepada kita bahwasanya mereka seolah-olah orang pertama yang menemukan gejala-gejala baru yang ada di afrika. Orang-orang pribumi mungkin tidak menyadari hal tersebut secara langsung karena mereka juga merasa diuntungkan dengan kedatangan dan penemuan tersebut. Alih-alih Negara mereka akan terkenal dan begitujuga mereka.

Secara sederhana, studi kolonialisme menggugat kemapanan kekuasaan posisi pusat yang selalu didominasi oleh budaya kulit putih atau orang Eropa. Studi kolonialisme membawa semangat perlawanan kaum marjinal melawan kaum metropolis, kaum pinggiran melawan kaum pusat. Semangat untuk mendekonstruksi "narasi dominan dan hegemonik" dan penciptaan kembali sejarah yang non-repetitif. Semangat yang sama juga ditunjukkan oleh Stuart Hall dan kolega-koleganya di Birmingham Centre. Salah satu tema utama yang kerap mereka eksplorasi adalah kritik terhadap "white racism", yang memandang "blackness" atau kaum kulit hitam sebagai "other". Mereka misalnya menunjukkan konstruksi media terhadap kriminalitas yang dilakukan orang-orang kulit hitam (black criminality) yang akhirnya dijadikan legitimasi oleh negara untuk membuat kebijakan-kebijakan yang merugikan kulit hitam.

Muhammad Zakii Al-Aziz

Apakah anda mempunyai perasaan sama setelah apa yang dilakukan negeri tetangga kita?! kenapa saya tidak menulisnya sebagai negara serumpun lagi?! khusus dari pribadi saya sendiri bahwa sikap yang dilakukan pemerintah malaysia itu telah menyakiti hati orang-orang indonesia. serumpun bagi saya adalah hal yang terikat dan selalu mempunyai ikatan erat. berbeda jauh dengan apa yang terjadi belakangan ini diantara Indonesia dan malaysia. apa yang saya lihat telah terjadi beberapa bulan yang lalu ketika dengan tidak sengaja saya membuka situs yang dimana didalamnya tersebut sangat menghina sekali terhadap indonesia. mengapa terjadi begitu demikian?!

Saya sendiri aja marah besar ketika membacanya, arogansi dan sikap malaysia sangat menyakiti hati saya. suatu contoh aja dulu ketika malaysia ingin menyatukan Brunai, serawak menjadi sebuah persekutuan melayu. sebuah konfrontasi yang sangat ilegal menurut saya. dan mungkin kita masih ingat ketika pengklaiman kepulauan Sipadan dan Ligitan oleh Malaysia sebagai wilayah mereka. tak pelak hal inilah yang membuat hati orang-orang indonesia berang, dan itu wajar sekali. sekarang ini permasalahan baru muncul kembali, dengan ditangkapnya para pelayan yang dituduh melewati batas perairan malaysia.

Kabar terbaru bahwasanya malaysia telah kehilangan kesabaran atas perlakuan orang-orang indonesia yang katanya keterlaluan. mereka tidak tahu bagaimana orang-orang indonesia yang dari dulu telah kehilangan kesabaran dengan sikap malaysia. mungkin karena tidak ada sikap tegas dari pemerintah terhadap perlakukan malaysia, yang menyebabkan malaysia lebih arogan. satu kata dari saya. kecewa.

Tidak terlepas dari itu, harusnya pemerintah bersikap tegas dan praktis tanpa banyak retorika yang hanya terlontar dari kata-kata. kalau diputusan akhir pertentangan ini berlanjut peperangan. kita siap karena kita punya harga diri bangsa yang bisa menjadi tameng untuk berperang melawan malaysia. tanpa sejata yang mahirpun kita berani melawan malaysia. karena ini menyangkut harga diri bangsa. tentunya dengan bambu runcing. hehew ...save our nation . love indonesia.

Ingatlah apa yang telah soekarno pesankan kepada kita dengan kata-kata yang membuat detik jantung berdetak kencang, dan siap melawan. "GANYANG MALAYSIA"...

Pernahkah terlintas dibenak kalian untuk mengetahui hal-hal menarik yang ada di indonesia, kita ketahui indonesia adalah negara yang kaya akan keaneka ragaman, termasuk didalamnya adalah kebudayaan, baik itu budaya, bahasa ataupun kesenian-kesenian daerah yang sampai saat ini masih terjaga kelestariannya. mungkin sebagian kalian menginginkan untuk mengetahui warisan-warisan budaya indonesia, namun hal utama yang harus ditanamkan dalam diri adalah rasa kecintaan satu terhadap keberagaman yang ada diindonesia. dengan begitu kecintaan akan budaya, seni atau apapun itu yang menyangkut tentang kebudayaan akan terwujudkan dengan baik.

Akhir-akhir ini saya sering melihat kehidupan anak-anak pada zaman sekarang yang sangat berbeda sekali dengan kehidupan masa kecil saya beberapa tahun silam. anak-anak zaman sekarang terkesan lebih modern, salah satu contohnya dengan adanya permainan game, online, ps. seperti apa yang saya lihat sehari-hari, kehidupan anak kecil sekarang jarang bermain hal-hal yang tradisional, mereka lebih tertarik untuk bermain game, internet dan lain-lainya. tidak ada permainan seperti gatrik, engkle atau sondah. siapakah yang harus beperan dalam mewujudkan semua itu kembali dibudidayakan dan dicintai oleh anak-anak penerus bangsa. Ingin rasanya untuk mengembalikan identitas semua itu, akan tetapi hal itu tidak bisa dilakukan dengan semudah membuka telapak tangan. semua itu harus melalui proses. meskipun begitu saya akan tetap berusaha untuk semua itu nyata dan bisa dipertahankan atau lebihnya bisa dikenal luas.

Kekhawatiran saya terhadap kebudayaan bertambah lebih lagi ketika mendengar berita-berita di TV bahwa salah satu musium yang ada di Yogyakarta telah kecolongan beberapa barang penting, yang dilakukan oleh sekelompok orang tak dikenal. terlintas dalam pikiran saya, bahwa dengan motivasi apa para pencuri itu membawa kabur warisan-warisan budaya yang begitu berharga. yang saya takuti dari kejadian ini adalah, rasa takut terhadap siapa para pelaku yang mencuri warisan-warisan budaya yang ada di Jogjakarta. yang saya takuti adalah yang mencurinya adalah anak bangsa indonesia sendiri, bahkan mungkin juga hal yang lebih buruk akan terjadi, salah satunya mereka menjual warisan-warisan budaya tersebut terhadap kolektor asing.

Pentingnya kecintaan kita terhadap kebudayaan akan sedikit mengurangi paceklik semua itu, dengan kecintaan akan tercipta pelestarian, dan dengan pelestarian akan menimbulkan kecintaan terhadap kebudayaan itu sendiri. berharap dengan kecintaan terhadap kebudayaan tersebut, hal-hal seperti pengklaiman budaya, peleburan budaya, tidak akan terjadi. kita wujudkan semuanya dengan cinta dan pelestarian. salam selalu persatuan untuk indonesia.




Bahasa dan masyarakat akan selalu menjadi pasangan yang mengisi satu sama lain, karena adanya interaksi sosial yang menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, sebenarnya masih ada alat lain untuk berkomunikasi akan tetapi bahasa mungkin yang terbaik dalam berkomunikasi. Didalamnya ada penutur dan juga tindak tutur, bahasa yang bersifat arbitrer dan bersifat universal sangat memungkinkan utuk melahirkan kata-kata atau padanan baru dalam bahasa tersebut.

Khusus dalam catatan kecil ini aku ingin sedikit menulis tentang fenomena bahasa alay yang ada dinegeri kita ini. Apakah kalian tahu apakah bahasa alay itu? "Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya (baca: Pengguna internet sejati, kayak blogger dan kaskuser). Diharapkan Sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar" ( kuncorodiningrat )

Bahasa alay itu adalah variasi bahasa yang muncul karena adanya komunitas anak-anak remaja/muda, ia logikanya karena orang tua jarang memakai bahasa alay tersebut. Dulu pernah kita tahu adanya bahasa gaul yang digunakan dalam film lupus itu. Kalau definisi alay yang aku temukan dipelabagai media, ada yang menyebutkan bahwa alay itu adalah anak layangan, anak layu dan sebagainya, akan tetapi dalam catatan ini aku hanya membatasi pada bahasa alaynya itu tok.

Dibawah ini adalah jenis-jenis padanan kata yang ada dalam kamus alay:

-barang abal yang dipamerin ketemen terus dia ngaku beli di singapore. amrik . dan sbgainya. "eh liat nih gue beli gelang dijerman gituloh asli kalo ga salah sih dirupiahin 500 ribu ya." padahal dia beli di itc aja!! yang 10 ribu 5 hahaha.
-tulisan gede-kecil. "aLoW kLiAnZ hArUz ADd GwE YaH!!" atau dengan a ngggka "K4Ng3nZ dWEcChh" NNNNNZZZZZ
- minta di add di shotout, "j9n lupa ett ghw"
-gaya dengan bibir monyong, telunjuk nempel bibir, gaya tangan dengan oke dipinggir kepala dan foto dari atas
-.nge post bulbo cuma buat kasih tau dia lagi online & minta comment.

- iya : ia
- kamu: kamuh,kammo,kamoh,kamuwh,kamyu,qamu,etc
- aku : akyu,aq,akko,akkoh,aquwh,etc
- maaf: mu’uph,muphs,maav,etc
- sorry: cowyie,cory,tory(?),etc
- add : ett,etths,aad,edd,etc
- for : vo,fur(zz),pols,etc
- lagi : agi,agy
- makan: mums,mu’umhs,etc
- lucu : lutchuw,uchul,luthu,etc
- siapa: cppa,cp,ciuppu,siappva,etc
- apa : uppu,apva,aps,etc
- narsis: narciezt,narciest,etc
- tulisannya gede kecil dan pake angka (idihh) sebenarnya masih banyak kata-kata atau frase yang belum aku tuliskan, paling tidak contoh diatas itu membuktikan bahwa memang adanya kata-kata alay.

Dari susunan katanya sudah terlihat jelas sekali perbedaan, ada yang menambahkan hurup dari perubahannya seperti lucu menjadi lutchuw ataupun yang dikurangi hurupnya seperti makan menjadi mums. Sekilas memang masih bisa dipahami kalau kita mengamati bahasa tersebut, akan tetapi kalau yang membacanya orang tua kita, bagaimana jadinya?

Uniknya, bahasa pergaulan yang sebenarnya diciptakan untuk kalangan terbatas justru berkembang menjadi bahasa pergaulan yang digunakan bahasa sehari-hari. "Hal itu, karena terjadi kebocoran ragam bahasa. Bocor dari kelompok sosial tertentu ke kelompok sosial lainnya," ujar Andika.

Oleh karena itu perlunya para linguistic atau ahli bahasa yang mampu untuk mengatasi fenomena ini, karena bila semuanya dibiarkan kemungkinan akan terus bertambah para penuturnya, imbasnya seperti sekarang ini, mereka lebih tertarik untuk memakai dan mengikuti hal tersebut ( alay ), kalau sudah menjadi kebiasaan akan berakibat fatal bila kita menggunakan hal tersebut ketika kita sedang ujian disekolah. Semoga bermanfaat .

Muhammad Zakii Al-Aziz